Gadis merah muda itu menekan tuts terakhir sebelum menyelesaikan latihan piano yang telah dilakukannya selama tiga jam terakhir. Ia segera menutup pianonya setelah selesai dan mengulurkan tangan untuk meraih tongkat yang ia letakkan di samping pianonya.
Sakura merasa dirinya begitu dungu. Seharusnya bagiannya tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan Sasuke, tetapi ia tak bisa menghafal seluruh lagu itu meski sudah berlatih keras.
Setetes air mata mengalir membasahi wajah Sakura dan tak lama kemudian isakan mulai terdengar. Ia merasa dirinya begitu egois karena telah menerima tawaran untuk tampil di konser dan kini ia hanya bisa mengacaukan konser itu. Semakin keras ia memaksakan diri untuk berlatih dan menghafal lagu, semakin banyak kesalahan yang ia buat dalam permainannya.
Seandainya ia memang berbakat dalam permainan piano, seharusnya ia sudah bisa menghafal seluruh lagu yang akan ditampilkan, setidaknya begitulah menurut pemikiran Sakura. Tetapi ia tak kunjung menghafal lagu yang seharusnya ia mainkan meski konser hanya tinggal sepuluh hari lagi.
Sakura semakin yakin jika sesungguhnya dirinya sama sekali tak berbakat dalam piano. Jika ada seseorang yang mendengarkan permainan pianonya dan bahkan memintanya untuk tampil di konser, pasti karena mereka iba padanya yang tak bisa melihat, bukan karena kemampuannya yang memang menakjubkan.
Tak peduli seberapa keras usaha gadis itu untuk menghindari realita, ia mengerti jika ia harus menghadapi realita cepat atau lambat. Barangkali konser yang akan dilaksanakan sepuluh hari lagi merupakan konser terakhir bagi Sasuke sehingga seharusnya konser itu merupakan sebuah konser yang berkesan bagi lelaki itu, juga bagi setiap pendengar. Tetapi kekacauan dalam permainan Sakura malah akan mengacaukan konser tersebut.
Air mata kembali menetes semakn deras. Ia meremas kelopas matanya yang terpejam dan tak bisa melihat apapun. Ia merasa marah pada dirinya sendiri, juga pada Tuhan yang seolah tak adil.
Di keluarganya tak ada seorangpun yang mengalami kanker mata, lantas mengapa dirinya begitu sial karena mendapatkan penyakit ini, hingga harus ikut menyusahkan orang-orang di sekelilingnya?
Seandainya saja ia bertemu dengan Sasuke di saat yang tepat, ketika ia sudah mendapat donor mata, pasti akan lebih mudah baginya untuk berlatih memainkan piano. Ia hanya perlu melihat sheet tanpa harus menghafal keseluruhan lagu yang kebanyakan memiliki durasi lebih dari lima menit. Ia tak perlu mengacau terus menerus di konser dan membuat stok kesabaran pemain orkestra lainnya menipis karena terkadang ia salah menekan tuts.
Terdengar suara ketukan di pintu dan Sakura segera mengusap air matanya. Ia tak ingin keluarganya melihatnya menangis dan membebani mereka dengan kefrustasian yang bahkan sulit ia jelaskan kepada orang lain.
"Sakura?"
"Oh, Kak Sasori?"
Sasori, kakak laki-laki Sakura yang berusia lima tahun lebih tua darinya segera mendekati sang adik dan mengelus kepala gadis itu. Ia menyadari sisa air mata yang tak terhapus dengan benar dan ia segera mengusap air mata di wajah gadis itu.
"Kau habis menangis?"
Sakura segera berpura-pura menguap, "Tidak. Mataku basah karena mengantuk."
Sasori mengacak rambut merah muda sang adik dan menggelengkan kepala meski ia tahu bahwa sang adik tak bisa melihatnya, "Bagaimana bisa kau membohongi kakakmu yang sudah mengenalmu sejak kau lahir?"
"Ah," ucap Sakura dengan pelan. Bagaimanapun juga ia tak bisa membohongi kakak lelakinya meski ia berusaha keras untuk melakukannya.
Sebetulnya hubungan mereka cukup akrab. Sasori sering menghabiskan waktu bersama Sakura, dulu bahkan lelaki itu menyempatkan diri untuk mengantarnya ke tempat kursus bela diri serta membanggakan sang adik yang berkali-kali memenangkan kompetisi bela diri. Ketika menyadari Sakura adalah seorang pecinta kue dan berniat belajar membuat kue, Sasori bahkan meluangkan waktu untuk mengajari Sakura membuat kue, atau mengikuti kursus membuat kue bersama sesekali.
"Rasanya aku ingin mengundurkan diri dari konser. Tetapi aku tak bisa melakukannya. Bagaimana bisa mereka mencari pengganti dalam sepuluh hari?"
Sasori memusatkan seluruh atensinya pada adik perempuannya dan ia merasa heran dengan gadis itu. Ia tahu kalau Sakura telah menemukan kecintaan terhadap piano yang membuatnya berhasil bangkit dari keterpurukannya. Lantas mengapa sang adik malah berubah pikiran?
"Konser kali ini mungkin akan menjadi konser yang terakhir untuk seseorang sehingga seharusnya konser itu adalah konser yang sempurna. Tetapi aku malah tak bisa menghafal bagianku dan terus mengacau meski sudah berusaha menghafalnya mati-matian. Aku akan merasa sangat bersalah seandainya konser kali ini gagal dan membuatnya kecewa."
Pada akhirnya Sasori memutuskan untuk membuka mulutnya dan berkata, "Seseorang? Maksudmu Uchiha Sasuke?"
Kini giliran Sakura yang merasa terkejut. Ia berkata, "Lho? Tahu darimana?"
Sasori tersenyum dan menepuk kepala sang adik dengan lembut, "Ibu bercerita padaku. Kebetulan aku satu SMP dengan kakaknya. Belum lama ini aku bertemu dengannya di reuni dan kami mulai akrab."
"Astaga. Dunia sempit sekali," ujar Sakura.
Sasori menganggukan kepala, "Memang. Katanya Itachi belajar piano sejak kecil dan cukup ahli. Mau kumintai bantuan padanya untuk mengajarimu? Kurasa dia pasti mau, toh demi adiknya juga."
Sakura cepat-cepat menggelengkan kepala. Ia merasa tak enak merepotkan orang yang bahkan tidak dikenalnya, "Tidak usah. Aku akan berusaha untuk berlatih lebih keras."
Sasori mengerti jika Sakura tak ingin merepotkan orang yang bahkan tak dikenalnya. Tetapi sejujurnya ia merasa khawatir kalau gadis itu akan merasa terluka jika berusaha keras untuk tampil sempurna.
Sebetulnya ia sendiri sudah mendengar seperti apa kondisi Sasuke dari Itachi yang terlihat sangat frustasi hingga menceritakan segala hal padanya ketika lelaki itu mengajaknya untuk minum bersama di salah satu kedai sake pinggir jalan. Semula ia merasa kaget karena tak mengira kalau lelaki yang diingatnya sebagai murid teladan di sekolahnya malah mengajaknya pergi minum hingga mabuk di tempat yang sangat tidak elit untuk ukuran seorang Uchiha, tetapi setelah mendengar seluruh cerita lelaki itu, ia memahami keputusasaan Itachi.
Kondisi Sasuke benar-benar tak tersembuhkan. Dokter bahkan sudah menyerah dan lelaki itu hanya perlu menunggu waktu hingga ajal menjemput, entah malam ini, lusa, atau minggu depan. Bahkan dokter berani memprediksi jika Sasuke tak akan berhasil melewati tahun ini.
"Kau sudah tahu soal kondisi Sasuke?" Tanya Sasori pada sang adik.
Sakura menganggukan kepala, "Ya. Katanya penyakit terminal."
"Leukimia," ujar Sasori tanpa berbasa-basi. "Stadium empat."
Sakura mengerjap tak percaya. Ia tak bisa melihat secara langsung seperti apa kondisi Sasuke, tetapi ia pernah mendengar seperti apa penyakit itu. Seharusnya kondsi Sasuke sudah sangat lemah dan Sakura merasa bersalah karena meminta banyak hal yang mungkin tak akan bisa dipenuhi sekalipun lelaki itu ingin memenuhinya.
"Aku … " Sakura mengambil jeda sejenak. Emosinya membuncah dengan perasaan bersalah sekaligus menyesal dan kecewa. Ia merasa dirinya begitu egois dan kecewa karena Sasuke tak memberitahu detilnya sama sekali sehingga Sakura tak tahu bagaimana harus bertindak.
" … tidak tahu. Dia sama sekali tidak pernah mengatakannya padaku," ujar Sakura.
"Karena itulah aku memberitahumu. Kuharap kau tidak berencana melakukan terlalu banyak hal padanya. Aku tak ingin kau kecewa dan membebaninya di hari-hari terakhirnya," ujar Sasori.
Sasori merasa sedikit bersalah karena berbicara dengan terus terang pada adik perempuannya. Barangkali ucapannya akan menyakiti hati gadis itu, tetapi ia seolah dikejar oleh waktu dan ia akan jauh lebih menyesal seandainya terlambat mengatakannya dan sang adik berharap terlalu banyak pada Sasuke.
Sakura sama sekali tak merasa sakit hati meski Sasori telah menamparnya dengan realita. Sebaliknya, ia malah berterima kasih pada sang kakak sehingga kini ia tahu apa yang harus ia lakukan.
.
.
Sakura duduk di salah satu kedai kopi terdekat bersama Sasuke. Ia tak bisa melihat seperti apa tempat yang mereka kunjungi, tetapi ia langsung tahu bahwa tempat itu adalah kedai kopi hanya dengan mencium aromanya.
Gadis itu menyadari jika Sasuke terasa berbeda dibanding kali pertama mereka bertemu. Entah karena terpengaruh ucapan Sasori atau ia sungguh bisa merasakannya, ia merasakan aura keberadaan Sasuke seolah menipis. Ia merasa jika sosok lelaki itu terasa semakin ringkih, bagaikan sebuah bangunan tua yang hendak roboh.
Wajah Sasuke semakin memucat dan ia berkeringat dingin sekalipun telah meminum obat yang ia konsumsi hanya untuk mengontrol kondisinya. Ia pikir, ia tak ingin mengalami hal yang tak diinginkan ketika bersama dengan Sakura. Setidaknya ia ingin tampil untuk kali yang terakhir di atas panggung dan memenuhi janjinya pada gadis itu.
"Sasuke."
"Hn?"
Sakura terdiam sejenak. Otak dan bibirnya seolah memiliki pusat kendali yang berbeda ketika otaknya terus memerintahkannya untuk berkata, tetapi ia sama sekali tak bisa mengatakannya. Pada akhirnya ia berusaha meraih gelasnya dan menenggak iced latte untuk membasahi tenggorokannya.
"Aku sudah tahu soal kondisimu."
Sasuke hanya diam dan menatap gadis yang duduk di hadapannya. Ia menunggu Sakura melanjutkan ucapannya.
"Leukimia, stadium empat, 'kan?"
"Ya," sahut Sasuke tanpa membiarkan Sakura menunggu sedetikpun. Ia sama sekali tak merasakan apapun meski ucapan Sakura terkesan tidak sopan. Ia memang akan mati sebentar lagi, dan bagaimanapun juga ia tak bisa menyembunyikannya dari siapapun.
"Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku?"
"Haruskah?" Tanya Sasuke dengan raut wajah datar tanpa berekspresi apapun.
Sakura menganggukan kepala dan berusaha menahan air matanya agar tak terjatuh, "Maafkan aku, Sasuke. Aku tak tahu kondisimu seburuk itu. Seandainya aku tahu, aku tak akan memintamu untuk duet dan mengajakmu menghabiskan waktu di hari ulang tahunku. Aku …"
Ucapan Sakura terhenti. Ia tak bisa melanjutkan ucapannya dan ia segera menundukkan kepala serta meletakkan kedua telapak tangan di matanya. Ia berusaha menyembunyikan air mata yang telah mengalir dan berpura-pura mengucek mata.
Sasuke menyadari jika Sakura berusaha keras menyembunyikan air matanya. Gadis itu terlihat sangat bersalah hingga tak bisa menatapnya.
"Maafkan aku. Aku begitu egois, maaf," ucap Sakura pada akhirnya ketika ia berhasil menenangkan diri lebih dari dua puluh detik kemudian.
Sakura mengucapkan kata 'maaf' berulang kali seolah kata 'maaf' adalah sebuah kalimat afirmasi untuk memotivasi diri sendiri. Ia menyadari jika kata maaf yang telah diucapkannya sebanyak tiga kali sama sekali tak berguna untuk mengubah keadaan.
Sasuke meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di kening Sakura dengan jemarinya yang mendingin, seolah berusaha menyedot kehangatan dari tubuh Sakura meski ia berusaha untuk menunjukkan sedikit afeksi pada gadis itu.
"Bukan salahmu. Aku memang ingin tampil di konser," ujar Sasuke seraya menjauhkan jemarinya yang menyentuh Sakura serta menepuk kepala gadis itu dengan lembut.
Air mata Sakura mengalir semakin deras. Ia merasa takut karena merasa nyaman dengan sentuhan Sasuke padanya saat ini. Ia takut kalau ia kembali menginginkannya suatu saat nanti dan merasa kecewa karena tak bisa lagi mendapatkannya.
"Maafkan aku. Kurasa aku juga akan mengacaukan konser pertamamu. Permainan pianoku sangat kacau. Aku bahkan tak bisa menghafal seluruh lagu itu meski konser tinggal sembilan hari lagi."
"Idiot," ucap Sasuke sambil menepuk-nepuk kepala gadis itu dengan lembut, "Aku tak pernah bilang kalau konser pertamaku harus sempurna."
"Tidak. Konser itu mungkin yang terakhir untukmu. Jadi aku harus berusaha sebaik mungkin."
Sasuke terdiam sesaat. Sebetulnya ia sendiri tak yakin jika ia bisa bermain sebaik biasanya dengan staminanya yang semakin memburuk. Ia sangat ingin tampil di konser, tetapi jika ia tak bisa melakukannya, ia ingin agar duet tetap bisa terlaksana. Setidaknya, ia akan mencoba merekam permainannya dan memutarnya di konser jika ia sampai tidak bisa hadir agar tak mengecewakan Sakura yang telah berusaha begitu keras.
"Kau hebat."
Kalimat pujian terlontar begitu saja dari mulut Sasuke bahkan tanpa ia sadari. Mulutnya seolah bergerak begitu saja hingga ia sendiri terkejut karena mendadak menyuarakan pikirannya.
"Kau bahkan tak bisa melihat apapun dan masih bisa bermain piano. Aku tak bisa bermain biola dengan mata tertutup. Bukankah itu hebat, hn?"
Sakura mengerti maksud Sasuke, tetapi ia yakin jika Sasuke hanya berusaha menghiburnya. Di dunia ini, ada pula pianis-pianis dengan kondisi seperti Sakura yang bermain piano dengan jauh lebih baik serta memiliki bakat musik yang menakjubkan.
"Tidak juga. Di dunia ini, begitu banyak pianis buta yang bisa memainkan lagu tanpa kesalahan sedikitpun."
"Kau begitu ingin bermain dengan sempurna, hn?"
Sakura mengangguk, "Tentu saja. Kau pasti juga begitu, 'kan?"
"Kalau begitu, tunjukkan kalau kau juga bisa bermain piano dengan sempurna suatu saat nanti."
Sakura terdiam. Kata 'suatu saat nanti' yang diucapkan Sasuke tak akan dapat terlaksana dalam waktu satu atau dua minggu. Ketika hal itu terlaksana, Sasuke tak dapat lagi menyaksikan hal itu.
"Tapi, kau … " Sakura memutus ucapannya, ia merasa tak sanggup untuk melanjutkannya.
Sasuke mengerti maksud Sakura sekalipun gadis itu tidak mengutarakannya secara eksplisit. Ia segera berkata, "Bukan padaku. Tunjukkan pada dunia kalau kau bisa melakukannya."
Sakura sedikit terkejut dengan ucapan Sasuke. Sampai saat ini ia bahkan tak tahu apa impiannya meski ia terus menekuni piano. Ia juga menyukai bela diri, namun ia tak mungkin bisa melakukannya dengan kondisinya saat ini, begitupun dengan membuat kue.
"Itu … " Sakura terdiam sesaat, "Impian yang terlalu besar untukku. Aku tak begitu yakin bisa melakukannya."
"Sejauh ini penilaianku tak pernah salah. Kau pasti bisa melakukannya."
"Kau percaya padaku?" Tanya Sakura dengan hati-hati.
"Hn."
"Eh? Kau serius? Maksudku, aku bahkan baru mendalami piano sejak kehilangan penglihatanku dua tahun yang lalu, lho. Saat kecil, aku bahkan hanya pernah kursus satu bulan karena merasa bosan," ucap Sakura sambil mengakhirinya dengan senyum kikuk.
"Masalahnya dimana?"
Sakura mengernyitkan dahi, apakah lelaki itu sama sekali tidak mendengarkan ucapannya? Atau mungkin ucapannya sulit dipahami?
"Iya. Tadi kubilang-"
Sasuke memutus ucapan Sakura dan ia berkata, "Itu bukan masalah."
Sakura tak mengerti kenapa lelaki itu begitu percaya pada kemampuannya dan bahkan berharap banyak padanya. Berbeda dengan Sakura yang cenderung egois dan mengharapkan Sasuke melakukan sesuatu untuknya, lelaki itu malah mengharapkan Sakura untuk melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri.
Sakura berpikir untuk memenuhi harapan Sasuke padanya, tak peduli minggu depan, tahun depan, atau bahkan dua puluh tahun lagi. Sekalipun lelaki itu tak lagi berada di dunia yang sama dengannya, tak peduli dimanapun lelaki itu berada, ia ingin menunjukkan bahwa ia juga bisa melakukannya.
-TBC-
Author's Note :
Sejak awal aku ragu menuliskan pair SasuSaku sekalipun Sakura dan Sasuke merupakan karakter utama di fanfict ini.
Kemungkinan besar, fanfict ini nggak ada romance sama sekali. Maksudku, mereka belum tentu saling jatuh cinta, menyatakan perasaan, jadian dan nikah layaknya pasangan pada umumnya sehingga genre fanfict ini lebih cocok ke drama atau friendship sebetulnya.
Trims buat kalian yang baca & vote cerita ini meskipun tema cerita ini terkesan lebih 'suram' dibandingkan cerita-cerita sebelumnya dan mungkin bukan cerita yang sesuai dengan selera umum.
