Maaf nih buat Author Note diatas, hanya aja pengen ngingetin, ini. Panjang dan bosenin kamu nggak akan kuat, biar aku aja:v
Adakah yang udah bangun?:v
48++ words. So... Ini yang paling panjangggg... Di respon ya...
Cuma mau ngingetin, baca Author Note saya yang di bawa;). Baca ya... Baca... Siapa tahu kalian terkejut:v
Selamat membaca...
Jaga mata...
Jaga hati...
Jangan nyesel...
Semoga selamat sampai balasan review...
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Like An Ilusion © RiuDarkBlue
Warning: AU, OOC, typo sana-sini, asem, garing, maaf jika ide pasaran, alur kecepetan, yang nggak suka harap tekan back. Saya tekankan kembali! Bahwa ini adalah inspirasi saya! Nggak ngejiplak siapapun kecuali karakternya!
"Percakapan."
'Bicara dalam hati.'
Naruto Namikaze x Hinata Hyuuga
DLDR
.
.
.
Flashback one month ago...
Menurut Kiba, hari ini adalah hari yang paling mengerikkan yang pernah ada. Untuk pertama kalinya, ia melihat Naruto tersenyum lebar sepanjang koridor, bahkan sapaan fansnya di balas dengan ramah.
Lebih baik, pemuda anjing itu melihat wajah kesal, datar, nan menyebalkan milik Naruto Namikaze. Daripada wajahnya yang sangat... Aneh di mata Kiba, dan sangat menawan bagi para fans.
"Oi? Pagi, Kiba."
"Oh!" Mata Kiba membulat. "Sialan kau ya Tuhan!"
"Dasar durhaka. Hari ini kau tidak akan berkah." Sai menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis.
"Kau saja yang tidak berkah!"
"Aku?" Sai tersenyum palsu, jari telunjuknya mengarah pada hidungnya yang mancung. Tak lama kemudian tawa palsunya mengudara. "Tidak mungkin. Lagi pula aku tidak berkata bahwa 'sialan kau ya Tuhan', mau durhaka jangan bawa-bawa aku."
Tangan Kiba mengepal, ia sudah gatal ingin merobek mulut Sai. "Aku kaget!"
"Ya baca do'a."
"Terserah." Kepala coklatnya menoleh ke arah Naruto yang tampak ramah sekaligus aneh. "Ini gara-garamu."
Naruto yang tadinya sibuk dengan ponselnya menoleh ke arah Kiba. "Aku?"
"Ya. Kau Naruto Namikaze, putra pemilik Namikaze Group sekaligus cucu Tsunade-sama."
Mata Naruto memutar malas. "Sudah pidatonya?"
"Sialan! Lagi pula kenapa kau menyapaku?"
"Menyapa bukan berbuat dosa." Sasuke yang tadinya memerhatikan dengan kening berkerut, akhirnya buka suara.
Naruto mengangguk setuju. "Malah nambah pahala."
"Habisnya sih... Biasanya juga kau itu jutek, cuek, mirip bebek. Ini malah..." Kiba menggeser duduknya, tidak peduli jika sekarang ia kehabisan jalan akibat terhimpit tembok. Wajahnya menunjukkan bahwa ia ngeri luar biasa. Telunjuknya yang bergetar menunjuk hidung Naruto. "Jangan-jangan kau kesurupan, oh! Astaga!"
Naruto menggeram. Ia mencengkram jari telunjuk Kiba. "Makan tuh!"
"A-aw! Sialan! Lepaskan!" Rasa sakit akibat jari telunjuk yang Naruto cengkram itu tidak main-main, tulang Kiba serasa patah, serius deh.
"Sarapan rasa sakit Kiba."
Kiba mendelik, ia menatap Sai dengan tatapan membunuh andalannya.
Tanpa memedulikan ekspresi Kiba. Sai malah tersenyum palsu. "Makanya jangan cari mati dengan Ketua Club Karate."
Sasuke mengangguk. "Atau, mau wakilnya turun tangan juga."
"Tidak usah. Nanti merepotkan." Kiba mengalihkan tatapannya pada Naruto. "Lepaskan. Namikaze."
Naruto mengangkat bahunya. "Terserah." Meski begitu, ia melepaskan cengkraman tangannya.
"Argh! Sial." Jari telunjuknya Kiba acungkan, ia bisa melihat bahwa jarinya memerah. "Rasanya mau patah."
"Itu masih nyatu." Namanya juga Sai, bukannya mengasihani malah meledek.
"Mau mencobanya Sai?" Sai menggeleng mendengar tawaran Kiba. "Aku pantasnya di cintai, bukannya di sakiti."
"Jijik."
"Terimakasih." Sai menepuk bahu Shikamaru yang tidur di sampingnya.
"Membuatku mual."
"Mau kuantar ke toilet, Sasuke?"
"Ayo. Pergi, nanti kulemparkan ke kloset."
"Nanti saja, pas istirahat. Sebentar lagi masuk."
"Tepati janjimu."
Sai mengangguk. "Seorang pria sejati, pasti tidak ingkar janji." Selain senyumnya yang aneh, Sai juga punya pola pikir yang lebih aneh.
"Kau sedang apa sih?" Kiba melihat Naruto yang masih sibuk dengan ponselnya. "Hidan-san? Astaga! Kau homo!"
Refleks semua orang menoleh.
Naruto melotot. "Jaga bicaramu."
"Naruto, meskipun tidak ada yang mau denganmu. Jangan menyimpang begini."
"Kib–"
"–kasihan Minato Ji-san dan Kushina Ba-san. Mereka akan kecewa."
Bletak.
"A-aw! Bisa-bisa aku babak belur." Kepalanya yang terasa berdenyut Kiba usap-usap.
"Lagi pula, benar kata Kiba. Siapa Hidan-san?"
Naruto mengalihkan tatapannya. Ia menatap Sasuke dengan sedikit binar di sapphire birunya. Sontak hal tersebut membuat Sasuke tersentak. "Dia Produser Musik terkenal di Jepang."
"Wow!" Sai menepuk bahu Shikamaru dengan keras.
"Sai!" Dan sialnya hal itu membangunkan orang yang sedang tertidur. "Ada apa sih?" Shikamaru mengucek matanya dan memandang ke arah sahabatnya.
"Apa maksudmu?" Ekspresi kepo tampak di wajah Kiba.
Naruto tersenyum. "Ingat audisi yang kuceritakan waktu itu?"
"Yang mana?" Alis Kiba mengernyit, ia tidak ingat apapun.
Tatapan datar Naruto berikan. Ia malas mengulang.
"Ayolah... Yang mana?"
"Bukankah audisi yang menggunakan lagu ciptaanmu sendiri?"
Semua menoleh ke arah Shikamaru.
Naruto mengangguk. "Hm. Yang itu." Ia menarik napas. "Aku daftar satu bulan yang lalu melalui online. Waktu itu aku hanya iseng saja. Dengan aturan si pencipta harus mengirimkan lagu ciptaannya, dalam bentuk rekaman suara."
"Terus-terus?" Kini tangan Sai menarik ujung kameja Naruto.
"Sai. Tanganmu."
"Maaf." Tangan pucatnya Sai angkat, seperti pose saat teroris tertangkap.
"Dan... Kalian tahu?" Sapphire Naruto menatap sahabatnya yang menggelengkan kepalanya. "Tadi pagi, tanpa kusangka, Hidan-san sendiri sebagai jurinya mengabariku. Aku di terima sebab dia tertarik dengan laguku."
"Wow! Selamat Namikaze!" Kiba tertawa, ia menepuk-nepuk pundak Naruto dengan bahagia.
"Selamat Naruto." Senyum palsu Sai berikan.
"Semoga kau beruntung." Sambil menguap, Shikamaru tersenyum. Caranya? Bayangkan sendiri.
"Dobe. Good luck."
Naruto tersenyum, ia sangat bahagia hari ini. Tanpa di sangka, ada kesempatan kedua untuk meraih mimpinya. Meskipun ia tidak bilang kepada keluarganya. Karena satu hal, ia takut di tentang.
"Tapi–"
Kebahagiaan berakhir. Hanya dengan satu kata.
"Ada apa?" Sasuke menatap Naruto heran.
"Audisinya hanya di buka sampai pukul setengah dua siang."
"Apa?!"
Sedikit lesu, Naruto mengangguk. "Aku masih di sekolah."
"Izin saja." Semua menatap Sai. "Tapi nanti, olahraga akan test renang."
"Kau bisa test lebih awal Dobe, saat kami pemanasan kau bisa test dengan Guy Sensei."
Shikamaru mengangguk. "Sasuke benar."
"Memang itu rencanaku."
"Naruto! Kau itu memang sialan ya!"
"Terimakasih."
Kiba mendelik, tepatnya bukan hanya Kiba saja. Tapi semuanya. Naruto itu memang menyebalkan. Baru saja mereka bersikap baik, namun ternyata diruntuhkan oleh satu kalimat.
"Ck." Sasuke berdecak. Ia menatap Naruto dengan kesal.
"Tapi. Terimakasih sudah memberiku saran dan dukungan."
Semuanya tersenyum.
"E-eh! Bukankah nanti disana kau akan menyanyi?"
"Tentu saja, Kiba. Peraturannya mengatakan bahwa, si pencipta lagu harus mengikuti pendaftaran, setelahnya mereka datang–"
"–tunggu." Mata Kiba memicing. "Lalu kapan nyanyinya?"
"Tentu saja setelah sampai." Sasuke memutar bola mata bosan.
"Jika kau menang?" Alis Shikamaru naik, bertanda ia sangat penasaran.
"Tentu saja laguku akan di belinya. Dan bisa jadi aku akan menciptakan lagu dan menjual ke artis-artis terkenal."
"Wow! Hebat! Hebat!"
"Jadi... Kesimpulannya kau ikut audisi untuk pencipta lagu, dan kau di terima?"
Naruto mengangguk, Shikamaru memang genius.
.
.
"Argh! Aku tidak mau jika olahraga disatukan." Ino cemberut, ia melipat tangan di depan dada.
"Aku juga tidak mau." Hinata mengangguk dengan wajah cemberut.
"Katanya anak-anak kelas 12-A jago semua, apa lagi siswanya... Hah, aku malu renang saja masih seperti katak."
"Kau'kan hanya bisa gaya batu."
Ino menoleh, ia menatap Gaara tajam. Entah mengapa Gaara itu sangat sensitif jika Ino yang bicara. "Apa?! Memangnya kau bisa apa? Hah? Memangnya kau itu atlet renang?'
Gaara mengangguk. "Sejak Taman Kanak-Kanak aku memang jago renang."
Hinata tertawa, ia suka melihat interaksi Gaara dan Ino.
"Lucu, ya?" Aquamarine milik Ino menatap Hinata.
Dengan polosnya Hinata mengangguk sambil tertawa kecil, hal itu sontak membuat Gaara yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum tipis.
"Hinata, bukankah seharusnya kau membersihkan kolam renang?"
Alis Hinata mengernyit, ia masih memikirkan apa yang dikatakan Gaara. Memang ada apa sehingga Hinata harus membersihkan kolam renang? Tega sekali Gaara menyuruhnya menguras kolam.
"Maksud Gaara-kun apa?"
"Bukankah bagi orang yang tidak bisa berenang, diwajibkan membersihkan pinggiran kolam, selain kotor, juga licin habis di pakai kelas yang lain."
Hinata ingat, untuk itulah dia menepuk dahinya dengan keras. "A-aduh!" Ia berdiri dengan mengigit bibir bawahnya panik. "Bagaimana ini?"
Ino mendorong bahu Hinata. "Cepat, nanti Guy Sensei marah. Kami juga mau pemanasan."
Hinata mengangguk. Ia berlari ke arah kolam indoor. Bagaimana Hinata bisa melupakan hal ini.
Ia memang tidak bisa berenang, Hinata punya masa lalu yang buruk mengenai urusan air saat masih kecil. Hinata takut berenang. Untungnya ia menceritakan bahwa dirinya tidak bisa berenang. Hal itu mendapat keringanan dari Guy, mengganti nilai renang dengan membersihkan tepian kolam sebelum diadakan olahraga.
Hinata menarik napasnya panjang, biasa ia bayangkan saat ini tepian kolam renang sedang licin, akibat di pakai kelas lain. Pastinya, hal itu adalah tanggung jawab Hinata sebagai siswa yang tidak bisa berenang.
'Ya Tuhan, aku sial sekali.'
.
.
"Ya Tuhan. Aku senang sekali."
Naruto tersenyum lebar, tenang saja. Tidak akan ada yang melihatnya. Toh sekarang ia sedang berada di kolam renang indoor Konoha Gakuen.
Ya, Naruto sudah minta izin pada Guy dan juga piket sekolah. Pukul 12.00 ia bisa berangkat audisi, lagi pula sekarang masih pukul 11.20. Waktu untuk sampai ke tempat audisi sekitar 20 menit, untung saja nomor antrian Naruto agak akhir.
Huft.
Rasanya tidak sabar lagi, bayangkan saja. Hal yang kau mimpi-mimpikan akan terwujud sebentar lagi. Rasanya Naruto ingin meledak akibat terlalu bahagia.
Persetan dengan perkataan Sai yang mengatakan bahwa jangan terlalu bahagia, katanya kita akan kesal, marah, menangis, entah esoknya atau kapan, atau yang paling parah bisa terjadi hari ini juga.
Naruto menggeleng. Tidak! Ia tidak mau hal itu terjadi padanya.
Tangannya merogoh saku celananya, Naruto memang belum mengganti bajunya, bahkan ponselnya saja masih di bawa. Ia mengklik salah satu aplikasi chat. Satu senyuman terukir di wajahnya, melihat Hidan menghubunginya.
Ah. Menyenangkan sekali. Kaki kanan Naruto mengetuk-ngetuk pinggiran kolam. Ia memang sedang berada di tepian kolam. Tepatnya Naruto berdiri pas membelakangi pintu masuk. Memang ia belum melakukan apa-apa sesudah masuk kolam, malah tersenyum bodoh.
Katanya juga Guy akan datang pukul 11.30, Sensei berambut mangkuk itu memang berjanji akan mengadakan test untuk Naruto terlebih dahulu, dan membiarkan murid yang lainnya pemanasan.
Biarlah–
Brak!
Naruto yang kaget menoleh ke arah pintu masuk, sapphire birunya melotot. "Hati-hati lantainya lic–"
Byuurr.
Blank. Pikiran Naruto kosong, ia masih kaget, tentu saja. Apa yang terjadi? Kepalanya berusaha mengingat kejadian 5 detik yang lalu. Naruto bahagia–berdiri ditepian kolam –kepala Naruto menoleh ke arah pintu–dan yang membukanya seorang gadis–gadis itu terpeleset–dan terjatuh ke kol–
Tunggu!
Jatuh?!
Naruto melotot.
Tanpa sadar ia masih melamun di dalam air. Pantas saja napasnya sesak. Dengan mudahnya Naruto berenang ke atas. Ia ambil sebanyak-banyaknya oksigen.
Sial. Siapa gadis yang mendorongnya masuk ke dalam kolam?!
"Shit! Ponselku!" Naruto merogoh saku celananya. Lalu mengangkat ponselnya ke atas. Dan– "Shit! Mati."
Gertakkan gigi yang saling beradu terdengar. Naruto marah. Ponselnya mati dan tubuhnya basah. Sial pangkat dua!
"Uhuk!"
Naruto menoleh, ia melihat tangan seseorang di atas kolam. Juga rambut panjang yang berwarna gelap.
"Hoi!" Naruto mendekat. Bukan berniat menolong, ia akan mengomel. "Sialan." Umpatnya pelan.
"Uhuk!"
Hinata gadis itu, masih berusaha bernapas. Tingginya yang tak seberapa dan ia yang tidak bisa berenang, membuat Hinata seperti akan mati di kolam renang di ketinggian 180 cm.
"To-long."
Naruto mengernyit, apa gadis ceroboh itu tidak bisa berenang?
"Hoi!"
Hinata yang melihat sebuah tangan terulur, refleks menggenggamnya. Bukan hanya itu saja, ia menarik Naruto dan bahkan memeluk lehernya dengan erat. Kaki pemuda itu sengaja di injaknya.
Bahkan Naruto saja sampai berkedip heran, mendapat tarikkan yang kuat.
"H-hoi! Kau ini kenapa? Lepaskan!" Dengan sekuat tenaga, Naruto melepaskan pelukkan Hinata.
"Ti-tidak!" Sekarang tangannya malah mempererat pelukkannya di leher Naruto. Bahkan Hinata juga sudah menangis. "A-aku ta-takut."
Sial pangkat tiga!
Ini benar-benar gila.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan, bodoh. Kau ini kenapa?"
Jika begini jadinya, Naruto seperti akan melakukan pelecehan terhadap Hinata.
"Lepaskan!"
"Ti-tidak!"
"Dengar, siapapun kau aku tidak peduli. Lepaskan pokoknya! Aku ada acara penting, dan kau lihat. Aku basah. Dan semuanya gara-gara kau!"
Hinata makin menangis. Ia takut air dan takut pemuda ini.
"Ma-maaf."
"Lepaskan."
"Ti-tidak."
"Lepas."
"Ti-tidak."
Naruto menarik napas pelan. Air yang dingin dan hatinya yang panas sungguh berbanding terbalik. Gadis ceroboh ini sungguh menyebalkan. "Baik. Aku tahu kau takut air. Lebih baik lepaskan dulu, biar aku mudah membawamu ke tepi."
Hinata masih menggeleng tegas. Ia takut ditinggalkan.
"Lepaskan. Agar mu–"
Ceklek.
"Nah. Ini adalah kolam renang indoor, biasanya siswa ak– astaga!"
Naruto melotot.
Dan Hinata masih menangis sambil memeluk Naruto.
"Apa yang kalian lakukan?! Naruto Namikaze! Hinata Hyuuga!"
Refleks Hinata berhenti menangis, ia menoleh ke arah pintu masuk.
Disana dengan wajah marah nan mengerikan, Ibiki si Killer Konoha Gakuen tengah berdiri dengan beberapa orang berpakaian rapi, tentu saja Hinata tidak kenal mereka. Ah, disana juga ada Kakashi yang matanya hampir keluar.
"Sen–" Meski masih blank, Naruto buka suara.
"Kutunggu kalian di ruanganku! Kakashi. Lanjutkan tour-nya." Ibiki menoleh ke arah Kakashi. Ia berbalik menghadap ke arah tamunya. Tubuhnya membungkuk sembilan puluh derajat. "Maafkan kami atas ketidaksopanan yang terjadi, sekali lagi atas nama sekolah, saya minta maaf."
Salah satu dari gerombolan rapi itu menyahut, ia tertawa canggung. "A-ah, tidak apa-apa."
Ibiki tersenyum. "Terimakasih." Ia kembali membungkuk. Tubuhnya menegak dan langsung menoleh ke arah Kakashi. "Lanjutkan, Kakashi."
Kakashi mengangguk. "Hai." Ia membungkuk. Sebelum berbalik Kakashi menyempatkan untuk memberikan seringai mengejek pada Naruto. Dan wajah menahan tawa.
Akhirnya, murid sombongnya itu dapat karma.
Naruto berdecih. Sensei sialan! Awas saja nanti!
"Naruto Namikaze! Hinata Hyuuga! Kutunggu kalian lima menit lagi!"
"Shit."
.
.
Sialan pangkat seribu!
Ini adalah moment paling sial yang pernah Naruto alami, ia tarik kata-katanya tentang umpatan persetan mengenai perkataan Sai.
Benar kata si Pucat, kita jangan terlalu bahagia. Gila! Bahkan Naruto kena karmanya dalam kurun waktu lima menit, hebat. Jika ada kompetisi siapa yang paling cepat dapat karma, Naruto akan ikut kali ini.
Belum lagi ini sudah pukul 11.45, ia bolos pelajaran olahraga. Bagaimana dengan audisinya? Bagaimana jika Naruto terlambat?
Ini semua terjadi karena gadis ceroboh yang katanya namanya Hinata Hyuuga. Tsch, Naruto tidak peduli. Pokoknya semuanya hancur gara-gara dia!
Argh! Belum lagi ponsel mahalnya yang mati, shit. Pasti Hidan akan menghubunginya. Triple shit untuk hari ini.
Tanpa sadar Naruto mengeraskan rahangnya.
"Dimana kekasihmu?"
Naruto mendongak, ia menatap Ibiki. Kekasih? Kekasih dari Hongkong? "Aku tidak punya kekasih, Sensei."
Kini Naruto memang berada di ruangan Kesiswaan. Bukan lagi ruang Bimbingan Kesiswaan. Bahkan sahabatnya heran, saat ia membanting pintu loker untuk mengambil pakaian olahraga.
Sahabatnya yang saat itu sudah berada di kolam renang mengangkat alis, pasalnya ia belum memakai pakaian olahraga, namun sudah basah duluan. Dan Naruto mengatakan–
"Aku ke Kesiswaan dulu."
Dan. Barulah disana semua ribut, Naruto sendiri tidak mau menjawab malah pergi dengan rahang mengeras.
Oh, ya. Dan gadis itu belum datang. Entah kemana, jadi untuk itulah Naruto semakin marah pada Hinata.
"Lalu?" Bisa Naruto rasakan setiap kata yang Ibiki berikan penuh penekanan. "Kau melakukan pelecehan terhadap orang lain, begitu?"
Astaga. Meskipun Naruto punya kekasih, ia tidak akan melecehkannya, malah akan menjaganya. Pegang janji Naruto!
Tangan Naruto mengepal. "Aku terpeleset, Sensei–"
"Oh, ya. Lalu kau bilang 'lepaskan agar lebih mudah' itu apa? Belum lagi Hinata yang menangis."
Kenapa jadi begini? Gadis itu benar-benar pembawa sial.
"Maksudku yang di lepas–."
Ceklek.
"Pe-permisi."
Hinata menelan ludahnya, ia tahu terlambat. Jika saja demamnya tidak kambuh, Hinata tidak akan terlambat, ini saja suhu tubuhnya naik. Bahkan Ino mengomel pada Hinata yang keluar UKS dan malah nekat pergi menemui Ibiki.
Hinata makin ingin menangis. Saat melihat tatapan sapphire Naruto yang seakan sanggup menelannya hidup-hidup.
"Duduk."
Mendengar itu, Hinata melangkah dengar pelan dan duduk perlahan di samping si pemuda pirang. Jantungnya semakin berdegup kencang. Ia takut sekali.
"Apa yang kalian lakukan di kolam renang?"
"Sensei aku terpele–"
"–Sensei bertanya pada Hinata, apakah kau tidak melihat mata Sensei?"
Naruto hanya menatapnya malas. Lalu untuk apa kata 'kalian' disertakan? Ia mulai meragukan otak Ibiki yang katanya genius.
"A-aku terpeleset."
Ibiki tersenyum miring. "Terpeleset? Bukankah seharusnya kalian berada di lapangan untuk pemanasan?"
Hinata meremas tangannya, ini semua gara-gara dia yang ceroboh dan takut air. "A-aku tidak bisa berenang, aku di suruh untuk membersihkan pinggiran kolam, aku yang tidak hati-hati akhirnya... Aku terpeleset lalu menimpa Naruto-san. Dan terjatuh ke dalam kolam."
Naruto memutar bola matanya malas, meskipun ia keturunan Jiraiya yang mesum, tapi percayalah. Meskipun ia normal tapi Naruto sangat menghormati wanita.
Ibiki mengangguk. Ia alihkan pandangan tajamnya pada Naruto. "Lalu, apa yang kau lakukan di kolam renang?"
"Aku renang lebih awal karena izin."
"Kenapa tidak membawa Hinata ke tepi?"
"Aku akan melakukannya Sensei. Namun aku kaget karena Sensei datang mendadak. Dan–" Sapphire Naruto melirik ke arah Hinata. "–dia malah memelukku erat."
"A-aku tidak bisa berenang." Hinata menundukkan kepalanya.
Ibiki menghela napas. Jadi ini kesalahpahaman? "Kalian akan di hukum."
"Apa?!"
"A-apa?"
"Jaga sopan santunmu, Naruto Namikaze."
Naruto menunduk dengan tangan mengepal. "Maafkan aku." Ia mendongak menatap Ibiki. "Bukankah sudah jelas ini kesalahpahaman? Kenapa Sensei menghukum kami?"
Hinata mengangguk setuju.
"Kalian telah memalukan nama sekolah kita, tadi itu adalah orang dari Dinas Pendidikan yang sedang melakukan survei sekolah terbaik. Namun kalian telah mencorengnya."
Rahang Naruto mengeras. Rasanya ia ingin menelepon Baa-sannya agar dibebaskan dari hukuman, namun itu mustahil. Tsunade sedang berada di London, entah ada urusan apa.
Meskipun ia menghubungi Tsunade, bukannya di bela pasti akan di omeli. Mengingat Naruto akan izin untuk audisi. Naruto sudah bilang, kan, tidak ada yang tahu mengenai audisi selain sahabatnya.
"Bersihkan semua toilet lantai satu. Sekarang!"
"Apa?!"
Hinata menelan ludahnya, toilet lantai satu itu tempat siswa, dan pastinya sangat kotor dan bau, belum lagi jumlahnya yang banyak.
"Naruto Namikaze! Pelankan suaramu!"
"Cepat berangkat."
Hinata bangkit, ia menunduk. "H-hai."
"Shit." Akhirnya, umpatan yang Naruto tahan keluar juga.
"Naruto Namikaze! Bersihkan taman belakang juga!"
.
.
Untuk pertama kalinya, selama 18 tahun hidupnya Naruto memegang yang namanya lap pel. Dan parahnya, pertama kali mengepel ia harus membersihkan toilet.
Brak!
Ia melemparnya, persetan jika rusak. Rusaknya lap pel dorong tidak sebanding dengan rusaknya impiannya.
Ia menyeka keringat di dahinya, lalu melirik jam tangan yang melingkar rapi di pergelangan tangan kirinya. 13.00. Waktu audisi tinggal setengah jam lagi, dan Naruto masih membersihkan toilet?
"Sialan!"
Hatinya makin kesal saja, apa lagi tadi bertemu Kakashi yang langsung mengejeknya. Dan lagi, kenapa Tsunade menyerahkan tugas sementara Kepala Sekolah pada Ibiki? Jadilah si Botak itu semena-mena.
Naruto mengambil kembali lap pelnya, ia mendorongnya dengan kekuatan penuh. Masih ada 15 toilet yang harus Naruto bersihkan. Dan ia baru menyelesaikan 5 bilik toilet.
Mungkin jika sahabatnya membantunya, Naruto tidak akan kerepotan seperti ini. Namun Naruto larang, setelah olahraga kan pelajaran fisika yang notabene gurunya adalah Ibiki. Bisa habis Naruto jika itu terjadi.
Tadi saja pas masuk kelas tidak ada yang berani buka suara, Kiba saja yang cerewet jadi bungkam akibat melihat wajahnya yang mengeras. Sepertinya Kiba akan menarik kata-katanya tentang Naruto ceria yang tak enak di lihat, Naruto yang marah lebih-lebih tidak enak di lihat.
"Semua gara-gara dia! Tunggu saja hari besok. Tsch, aku tidak peduli dia seorang wanita!"
.
.
"Gaara-kun harus masuk kelas."
"Berisik. Pel saja bilik yang itu." Gaara mendorong Hinata ke bilik sebelahnya, sedangkan yang di dorong hanya berwajah pasrah saja.
Hinata mencelupkan lap pel dorongnya ke dalam air, ia memerasnya. "Nanti Kurenai Sensei marah."
"Marah pun aku tidak akan di makannya."
Bibir Hinata mengerucut, Gaara itu jika bicara tidak pernah di filter. "Iya... Iya... Tapi–"
"–hm?"
"Masih ada 12 toilet lagi."
"No problem." Gaara keluar dari bilik toiletnya. "Kemari." Ia melambaikan tangannya pada Hinata.
Hinata berbalik. "Apa?"
"Cepat."
Hinata mengangguk. Ia sampai dihadapan Gaara. Tubuh Hinata menegang saat tangan Gaara yang dingin menyingkap poninya dan menyentuh keningnya.
"Panas." Gumamnya. "Setelah ini minum paracetamol."
Hinata mengangguk.
"Lagi pula kenapa bisa jatuh, sih?" Pemuda berambut merah itu menuju bilik toilet yang belum dibersihkan.
"A-aku terpeleset."
Gaara mengangguk meski tidak bisa di lihat Hinata. "Lalu, kenapa di hukum." Bukankah orang yang jatuh harus ke UKS?
"Aku... Jatuhnya dengan Naruto-san."
"Apa?!"
"I-iya, dan Gaara-kun tahu, tadi ada survei Dinas Pendidikan dan mereka yang melihat aku dan Naruto-san di kolam renang."
"Hah?" Gaara tidak mengerti, melihat apa coba? "Bukankah kau hanya membersihkan kolam?"
"Ma-masalahnya–" Hinata menggigit bibir bawahnya. "Aku jatuh ke kolam bersama Naruto-san. Dan karena takut, aku me-memeluknya. Ja-jadi mereka salah paham."
Gaara menghela napas. Ia sering mendengar Naruto. Tapi tidak mengenalnya begitu dekat, dua tahun lebih disini, belum sekalipun Gaara sekelas dengannya.
Tapi, ia pernah dengar. Bahwa Naruto adalah orang yang kejam. Waktu itu saja, kepala orang di lempar pot bunga. Hanya karena orang itu membuat hati Naruto kesal, ini Hinata sahabat manisnya membuatnya jatuh ke kolam renang, katanya ponselnya juga rusak.
"Oh. Shit!" Umpat Gaara saat air kotor toilet mengenai lengannya.
.
.
Tenggorokan Hinata terasa kering, tangannya bergetar dengan keringat dingin. Apa lagi hati Hinata yang ketakutan setengah mati.
Ini kelasnya? Kan? Hinata tidak pernah salah masuk kelas, ia juga tadi sudah melihatnya di pintu sebelum masuk. 12-C, ya ini memang kelasnya.
Lalu, untuk apa Naruto Namikaze siswa kelas 12-A ada disini. Duduk sambil memainkan ponsel di kursi Hinata.
Pantas saja banyak pasang mata yang memandang ke arahnya tanpa berkedip.
Naruto sendiri, malah asyik dengan game-nya. Tidak peduli dengan sekitar. Ia memang benci menunggu, Naruto sudah menunggu gadis yang sudah menghancurkan mimpinya dari kemarin.
Ya, Naruto tidak audisi. Ia datang ke tempat audisi pukul lima sore, sudah tahu tutup setengah dua. Belum lagi ponselnya yang harus di service, untung langsung selesai kemarin.
Namun si gadis berambut gelap itu tidak sekolah, katanya sakit. Jadilah Naruto masuk ke kelasnya, duduk di bangkunya dan main game dengan santai.
Naruto mendongak. Seringai di bibirnya makin melebar. Ia suka melihat ekspresi tegang gadis di hadapannya. 'Ah, sudah datang rupanya.'
"Hallo, peliharaanku."
Alis Hinata mengernyit, ia tidak mengerti. "A-apa?"
Naruto mendekat, sampai jaraknya dan wajah Hinata hanya satu jengkal. Ekspresinya berubah datar. "Ikut aku."
...
"Kau menghancurkan mimpiku."
"..."
"Kau membuatku gagal audisi, kau membuatku jatuh ke kolam renang, kau merusak ponselku, kau membuatku membersihkan toilet."
"Ma-maafkan aku." Hinata menunduk, ia meremas ujung seragamnya.
"Tidak."
"A-aku tahu aku salah. Aku ti-tidak sengaja."
"Bagus."
"La-lalu–" Hinata mendongak. "–aku harus ba-bagaimana?"
Naruto menyeringai, ia jilat bibir atasnya secara sensual. Kakinya melangkah mendekat ke arah Hinata. "Kau tahu, bagaimana sulitnya aku mengejar mimpiku?"
Hinata menggeleng.
"Tsch, aku mati-matian menciptakan lagu agar di akui. Aku berhasil, dan kemarin. Adalah kesempatan terbaikku untuk mencapai mimpiku."
"Ma-maaf."
"Jika saja kau tidak mendorongku jatuh ke kolam dan memelukku. Aku pasti sudah di akui Produser Musik terkenal."
Naruto makin mendekat, sedangkan Hinata sendiri makin mundur ke belakang.
"Ja-jangan begini." Tangannya mencoba mendorong dada Naruto, agar tidak terlalu menghimpitnya.
Naruto tidak tergeming, ia malah memainkan anak rambut Hinata. "Kau pernah mendengar gosip tentangku yang melempar pot bunga ke kepala orang."
Gadis yang tengah terintimidasi itu meneguk ludahnya, ia takut. Apa Naruto akan melakukan hal itu padanya, atau yang paling parah lagi ia akan di– tidak! Batin Hinata berteriak.
"A-aku tahu." Siapa yang tidak pernah mendengar gosip itu di Konoha Gakuen coba.
"Kepala orang itu–" Naruto membelai bagian samping kepala Hinata. Hinata sendiri makin was-was. "–di perban sampai satu minggu."
Mata Hinata memerah, ia takut saat ini. "Ma–"
"–kau pikir, dengan kata maaf hari kemarin bisa di ulang?"
Hinata menggeleng.
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya mulai sekarang kau jadi peliharaanku. Kau harus menuruti apa mauku, ini semua untuk menebus dosamu."
Hinata tidak punya pilihan lain selain mengangguk patuh. Ia takut.
"Bagus, sekarang. Bawa tasku." Naruto menyerahkan tasnya.
Bahkan Hinata baru sadar, jika dari tadi Naruto menyampirkan tas hitamnya di bahunya.
"Makan siang nanti, belikan aku burger."
"I-iya."
Dari sanalah kehidupan sekolah Hinata yang damai menjadi mengerikan.
Flashback End
.
.
.
.
Tangan kanannya sibuk menulis di atas buku, sedangkan tangan kirinya mengelus bulu putih bersih milik anjing lucu yang di beri nama Vio. Tak ayal hal itu membuat si anjing nyaman dan akan tertidur.
"Vio-chan ngantuk ya?"
Jika saja Naruto mendengar panggilan itu, mungkin Hinata tidak akan aman. Tapi tenang saja, pemuda itu kini tengah berada di Naruto's Studio sejak satu jam yang lalu.
Vio hanya menggerakkan tubuhnya.
"Baiklah..." Seakan mengerti, Hinata mengangguk. Ia kembali fokus pada soal kimia yang diingatkan Gaara dua hari yang lalu.
Bibir Hinata mencebik. "Susah sekali. Kenapa sih harus belajar kimia?"
"Biar kau pintar."
Hinata menoleh. Ia melihat Naruto keluar dari studionya dengan tangan yang sibuk menulis di buku sambil berjalan.
"Tapi sayang, kau sama sekali tidak pintar." Lanjutnya, ia mendudukkan diri di samping Hinata yang kini tengah duduk di depan televisi, tepatnya di karpet tebal berbulu abu-abu. Dihadapannya ada meja rendah dan beberapa buku berserakkan.
"U-untuk itulah aku belajar."
Naruto mengangkat bahunya cuek. Ia kembali fokus pada soal matematikanya, meskipun Senin ulangan matematikanya, tapi Naruto harus belajar awal agar nilai matematikanya sempurna. "Ah, mudah sekali."
Hinata melirik, ia mengerucutkan sedikit bibirnya. Entah kenapa orang yang sombong di sampingnya ini sangat susah dapat karma.
Hinata akui, soal matematika Naruto memang susah jika Hinata yang mengerjakan.
"Aduh. Siapa yang buat soal yang mudah begini sih? Kurang kerjaan sekali."
Jika berani, rambut pirang Naruto sangat menggoda untuk Hinata jambak.
Tanpa memedulikan Naruto yang mulai narsis dan sombong, Hinata kembali mengisi soalnya. Namun semakin ia lihat, soal kimia di hadapannya semakin membuatnya pusing.
"Ah! Selesai." Naruto menggeser bukunya. Ia melirik ke arah Hinata. "Bodoh. Sini aku bantu."
"A-apa?"
Naruto melotot, entah apa yang ia katakan sebelumnya. Naruto juga tidak sadar apa yang ia katakan. Ia merubah air mukanya dalam sekejap. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya tidak mau punya istri bodoh."
"Baiklah." Hinata pasrah, ia sudah melihat soal kimia sejak satu jam tadi. Matanya sudah kabur melihat soal yang entah apa maksudnya, terserahlah jika ia di katai.
"Eh?" Hanya itu yang keluar dari mulut Hinata. Ia membiarkan Naruto menggeser duduknya sehingga mendekatinya, tangan Naruto merangkul bahu Hinata dan mengambil pensil yang sedari tadi digunakan gadis itu. Jadilah posisi Hinata seperti di peluk Naruto dari samping.
"Bagaimana masih banyak yang salah? Kau ini bodoh sekali. Ini bukan negatif, seharusnya positif."
"..."
"Jumlah molnya hitung dulu."
"..."
"Kenapa jumlah atomnya segini? Dasar bodoh."
"..."
Hinata membiarkan Naruto menggerutu sendirian, ini lebih baik dari pada menyuruh Hinata ini itu.
"Selesai."
"A-arigatou." Naruto bergeser, Hinata merasa ada yang hilang.
'Apa yang kupikirkan.' Kepalanya menggeleng.
"Ma-mau apa?" Hinata mundur saat melihat Naruto perlahan maju.
"Kau pikir, gratis kubantu?"
Astaga! Hinata lupa, tidak ada kata gratis dalam kamus Naruto Namikaze.
Hinata makin takut saat seringai Naruto melebar. "A-aku–"
"–tentu saja bayar." Naruto mengangkat sebelah alisnya, ia mengambil buku Hinata. "Satu, dua, ti– oh! Salah tiga. Jadi imbalannya harus dapat tiga."
"Aku harus bayar berapa?"
Naruto ingin tertawa. Ia suka ekspresi bingung Hinata.
Jadi, besok uang jajan Hinata berkurang, ya?
"Cukup dengan–"
Cup.
Cup.
Dan–
"A-aw!"
Hinata mengusap hidungnya, apa tidak salah? Baru saja Naruto mengecup kening, hidung dan tidak lupa menggigitnya. Tunggu! Kenapa Hinata berdebar?
Naruto tertawa. "Kuharap kau tidak pesek."
Boleh pukul Naruto sekarang?
Tawa Naruto terhenti saar suara bel apartemen berbunyi.
"Buka."
Hinata cemberut, ia melangkah dengan hati gemas ingin menjambak rambut Naruto.
Ceklek.
"Kau?! Peliharaannya Naruto?!"
Hinata melotot, ia menatap Kiba yang hampir mengeluarkan bola matanya, namun bukan itu saja yang membuat Hinata terkejut, tapi tiga teman Naruto yang lain ada disini.
.
.
.
.
To Be Continued
A/N
Udah panjang nih, udah flashback, udah ketauan nih, gimana nanti nasib rumah tangga mereka?:( kasian... Habisnya:( sayanya lagi galau T_T, tolong hibur diriku;( T_T
Udah ngerti kenapa Naruto gini dan Hinata gitu? Saya harap udah. Saya harap kalian nggak bosen bacanya, soalnya ini chapter terpanjanggggg. Ini juga saya udah up cepet:) meski saya sakit saya berusaha buat up cepet. Di tunggu responnya, ayo respon saya makin semangat kalo banyak yang respon. Maafkan daku tentang typo dan adegan hambar lainnya:(
Oh, ya. Ada yang mau kenalan lebih dekat sama saya ciee:v, yu follow ig saya, saya lagi cari temen. Nanti DM aja ya, kita temenan:) seneng saya kalo punya temen:) user namenya ddya21. Di follow ya... Di respon lagi fic nya. Nanti foll back lah.
Saya buat saembara nih, 1 review + 1 follow = 2 word kwkwkw
Makasih sama yang udah review, fav, follow, and silent reader, yu respon yu ngobrol.
Saatnya balas review:
antiy3629: kasian Naruto panas butuh air:v
rifkiabadi99: iya up juga;) ini saya up cepat, nggak papa kok:) aminnn semoga urusan saya cepet kelar:) makasih dah nunggu
cecepantonii: iya up juga;) ini nggak lama, semoga rasa penasarannya terbayar;)
666-avange: pertanyaan bagus: v, sekarang mereka tahu
anirahani: wah hebat, sini peluk:v:'v
hyuga hirata: udah:)
NameNNY: sayang banget:( satu sekolah yu:v, ini udah panjang
AtagoChan: ikutan minum aja sama kaya Naruto: v
Rq: iya sini dong:v, ada idenya, asa gimana gitu, agak aneh dan rumit:v iya takut stuck si tengah: (
narusmahto: udah adeeek:v
aoi: oke:)
key: iya up juga:) makasih dah nunggu:) makasih:) iya Vio anjing:( semangat! Iya Naruto cemburu:v
nawaha: i miss you too:v makasih, makasih dah nunggu juga:) hehehe bisa aja
nawaha: makasih dah nungguin, ini udah di ceritain kenapa Naruto kesel sama Hinata:) ini juga up cepet
lavender chan: iya lanjut juga;) makasih dah nunggu:) makasih semangat!
Megahinata: perasaan Naruto, sadarkan?:v liat dulu aja ya, oke ini juga cepet
Hinari chan: aaa makasih:), ada juga liat Naruto seneng saat cemburu, kegiatan rutin tuh gigit-gigit:v semangat! :v, saya cewek kok:)
Kurotsuki Makito: sayangnya di kantin nggak ada air buat mandi:v, ini udah
Guest: iya anjingnya Naruto:)
Nana: makasih, udah:)
alvkwan: gengsi Naruto, tuh:v aminnn semoga aja kehidupan Naruto sama Hinata kaya gitu:v, oke. Semangat!
Guest: aaa makasih banget inget sama ditungguin:)
Guest: udah sis!
kizukahyuga: semoga sabar nunggunya:). Wow kolaborasi fanfic? Kaya menarik:)
mawarjingga: semangat! Ini di percepat:) dan panjanggg sangat, komen apapun boleh:) bisa aja, tapi makasih:) makasih dah nunggu
Guest: ini udah panjang:)
Rael Taehyung: makasih:) ini udah lanjut dan udah cepet:v, iya nggak papa Tae-ssi:)
uzunami28: ini udah, makasih dah nunggu:)
uzunami28: saya di rumah:) nggak up karena belum selesei:v
Hinari chan: ini udah:) semoga kangennya terobati:) kita liat aja nanti:)
Guest: sekarang saya lanjut:)
Nana: ini... Udah:)
Borutouzumaki10: iya sayang;) sekarang udah up, semoga tambah gemes:)
Sampai jumpa di chapter depan... 👋
Mind to RnR?
Arigatou minna-san.
~Peluk cium RiuDarkBlue~
.
.
.
08 April 2018
