Pairing: Sebastian x fem Ciel

fem Alois x Claude (maybe?)

Rated: M

Warning: Typo(s), ooc(maybe?), Lemon

lemonan, fem ciel

Kuroshitsuji belong Yana Toboso-sensei.

Happy reading

Don't like don't read

.

.

Chapter 7

Seorang pria dengan tuxedo hitamnya sedang berdiri di depan sebuah cermin. Wajah pria raven itu tampak rupawan, dengan dihiasi sepasang manik crimson yang menyala bagaikan batu permata ruby. Sementara surai raven pria itu tampak rapi, bagaikan seorang pangeran yang akan melamar seorang putri. Walaupun ia tampak sempurna, tapi sudut bibir pria itu tidak menampakan bahwa pria itu senang. Ia justru terlihat sebaliknya. Jika dilihat lebih teliti lagi, tangan pria itu penuh dengan bekas luka yang mengering.

"Sebastian..." panggil seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik dengan gaun berwarna hitamnya. Walaupun umur wanita itu sudah memasuki kepala 4, tapi ia tetap terlihat cantik. Wanita itu menepuk pundak putra semata wayangnya dengan lembut, layaknya seorang ibu. "Apa ada masalah?" Tanya wanita itu lembut. Wanita yang bernama Marry itu hanya diam, menatap putranya yang sebentar lagi akan menikah. Marry tau, bahwa putranya tidak setuju dengan perjodohan ini. Ia tau, jika putranya memiliki gadis lain yang dicintai.

Sebastian hanya menarik nafas dalam-dalam, "Aku akan baik-baik saja" jawabnya tenang. Dari raut wajahnya, Sebastian sama sekali tidak menunjukan ekspresi apapun. Ya, memang, ia tidak setuju dengan perjodohan ini. Lalu apa? apa dia bisa menolak permintaan ayahnya yang sedang sakit karenanya?

Sebastian hanya mencintai Ciel seorang.

"Apa kau masih mengingat gadis itu?" Tanya Marry dengan nada sendu. Ia tau, berat bagi putranya untuk melepas gadis yang ia cintai dan menikah dengan wanita lain. Ia tau bagaimana putranya itu. Selama ini ia tak pernah melihat Sebastian mencintai sesuatu sebesar cintanya pada Ciel. Dan, siapakah ibu yang tega melihat anaknya menderita seperti ini?

"Tentu saja..." jawab Sebastian dengan suara parau, "Aku tidak akan lupa dengannya, sampai aku mati nanti..." mengepalkan tangannya.

Marry tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tak sanggup mengeluarkan air matanya. Sebagai sorang ibu, Marry bisa merasakan bagaimana Sebastian mencintai gadis itu. Tidak hanya Sebastian, ia yakin pasti gadis itu juga tidak sama buruknya dengan keadaan putranya saat ini.

"Jika menangis terus kita akan terlambat" Sebastian mengusap pipi Marry yang basah oleh air mata yang mengalir. Sebastian tampak tersenyum tipis, setipis benang laba-laba. "Lagipula, aku telah janji dengan dia untuk menikahi Hannah..." Sebastian tersenyum, walaupun Marry tau bahwa ia memaksakan diri untuk tersenyum.

"Baiklah..." kata Marry sebelum akhirnya mereka berdua berangkat menuju gereja.

.

.

.

Sebastian dengan tuxedo hitamnya berdiri di depan altar. Ia sedang menunggu mempelai wanita untuk datang. Dapat ia lihat bagaimana senyum kemenangan ayahnya, saat ia berhasil menyuruh putranya untuk mengikuti perjodohan ini. Sementara Marry, ibu Sebastian duduk bersama hadirin tamu yang lain.

Tidak lama setelah itu, pintu gereja terbuka. Semua orang serentak menoleh kearah seorang wanita cantik dengan balutan gaun putih yang dihiasi mutiara dan renda pada bagian lengannya. Wanita itu adalah Hannah, calon istri Sebastian. Ia tampak cantik dalam balutan gaun dan make up wajah. Rambut keperakannya ia sanggul, membuatnya tampak semakin anggun.

Dengan hati-hati, Hannah berjalan melewati para tamu yang menatapnya. Tentu saja ia menjadi pusat perhatian, karena ini adalah pernikahannya.

Dengan bimbingan sang ayah, Hannah telah sampai didepan altar walaupun dapat ia rasakan kakinya bergetar. Dan disinilah Hannah saat ini, berdiri disamping Sebastian, yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya. Ia senang, sangat senang malah. Inilah impiannya sejak kecil, yaitu menikah dengan Sebastian. Dari kecil, Hannah memang mengagumi sosok Sebastian. Menurutnya, Sebastian itu dewasa dan tampak seperti gantleman sejati. Tapi apakah ia tau bahwa sebenarnya sosok yang ia kagumi ini sama sekali tidak mencintainya?

Jauh berbeda dengan Hannah, Sebastian tampak tidaj senang. Walaupun saat ini wajahnya datar, tapi tetap saja. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Ciel seorang. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Hannah sedang berdiri disampingnya.

Ia tidak peduli, yang ia pedulikan hanya Ciel, Ciel, Dan Ciel.

Apa Ciel sudah makan? Apa keadaanya baik-baik saja? Apa Ciel bahagia tanpa dirinya? Apa Ciel masih bisa tersenyum seperti dulu lagi?

Hanya itu yang ada dipikiran Sebastian. Ia sama sekali tidak sadar jika saat ini pastor telah memulai sesi pemberkatan. "Aku bersedia..." Sebastian mengucapkannya dengan suara datar, seakan itu hanyalah omong kosong baginya.

"Aku bersedia" kata Hannah dengan nada terharu. Sebastian hanya menatap wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya dengan tatapan datar.

'Seandainya yang ada dihadapanku ini Ciel...'

Hannah menutup matanya, seakan ia telah siap mendapat ciuman pertama dari Sebastian yang sudah resmi menjadi suaminya.

Sebastian mendekat perlahan-lahan, menatap Hannah yang memejamkan kedua matanya. Ia tau, jika wanita itu ingin ia cium. Debgan cepat, Sebastian hanya mencium kening Hannah.

Semua orang, termasuk Hannah sendiri terkejut. Bukankah seharusnya Sebastian mencium Hannah dibibir?

Biarkan Sebastian yang menjawabnya. (Author yakin readers tau alasannya :v)

Hal yang paling ditakuti Sebastian terjadi. Bagaimanapun, saat ini Sebastian dan Hannah telah resmi menjadi suami istri. Membayangkan hidup dengan wanita yang tidak ia cintai sampai akhir nanti saja tidak bisa. Apa Sebastian bisa menjalaninya?

Biarkan waktu yang menentukannya...

.

.

.

Ciel menatap cahaya lampu ruang oprasi. Samar-samar ia melihat sang dokter dan beberapa rekan medis lainnya.

Ia tidak bisa merasakan apapun. Rasanya seperti, tubuhnya sedang melayang saat ini. Tidak ada rasa sakit atau nyeri, seperti yang ia rasakan sebelum ini. Apa ini karena pengaruh obat bius dari dokter?

Sebastian...

Seandainya ia ada disini saat ini...

Walaupun ia tidak ingin bertemu dengan Ciel lagi, setidaknya Sebastian datang untuk anaknya. Ia hanya berharap, jika Sebastian disini. Apakah Sebastian sudah tidak peduli lagi?

Sebuah cairan bening keluar dari pelupuk mata Ciel. Rasanya dadanya terasa lebih sakit, dibanding dengan rasa sakit saat janinnya mulai berkontraksi.

Detik-detik Ciel melahirkan terasa seperti berjam-jam baginya. Rasanya seperti ia dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Kepalanya terasa pusing. Semuanya terlihat buram.

Semakin lama kesadaran Ciel mulai hilang. Sampai akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.

Sekarang hanya kegelapan yang menyelimutinya. Samar-samar dapat ia dengar suara tangisan bayi.

Apakah itu anak ku?

Ciel tersenyum tipis. Walaupun rasa sakit akibat operasi mulai terasa akibat obat bius yang mulai hilang, Ciel sungguh bahagia. Ia bahagia karena bayinya, darah daging darinya dapat lahir dengan selamat.

Apakah ia mulai memiliki naluri sebagai ibu?

.

.

Entah berapa lama Ciel tidak sadarkan diri akibat obat bius. Perlahan-lahan Ciel mulai membuka matanya. Rasa nyeri pada perutnya akibat operasi mulai terasa lagi.

"ngh..." gumam Ciel saat ia mulai membuka matanya.

Seberkas cahaya menerpa kedua sapphire yang sudah tidak bercahaya lagi. Awalnya pandangan Ciel agak buram, tapi setelah beberapa menit kemudian, Ciel dapat melihat ia sedang terbaring lemah didalam ruangan serba putih. Kedua manik sapphire itu membulat saat melihat sosok wanita yang sangat ia kenal, dengan rambut dan pakaian serba merah, Bibinya menggendong seorang bayi.

Mungkinkah itu anak Ciel?

Madam Red jalan mendekati Ciel. Membiarkan sang ibu menggendong anak yang baru saja ia lahirkan.

Kedua manik Ciel terlihat lebih hidup saat melihat bayi perempuan yang baru saja ia lahirkan. Ia menatap sang bayi dengan tatapan kasih sayang, selayaknya seoranf ibu menatap anaknya. "Ah, lihatlah bi, ia sedang mendengkur" Ciel berbisik sambil mengusap bayi perempuannya didalam pelukan hangatnya.

"Aku benar-benar ingin memiliki keponakan perempuan~" Madam Red tersenyum sambil menatap lembut kearah bayi perempuan Ciel. Tanpa sadar, wanita yang menggemari warna merah itu menangis karena terharu. "Aku sangat lega, kau dan bayi ini dapat selamat" Madam Red tersenyum sambil berusaha mengusap air matanya yang mengalir.

"Hahaha, seandainya dia ada disini..." Ciel tertawa hambar. Tanpa sadar air matanya mengalir deras. Ia mengusap wajah malaikat kecilnya, "Sofia... bagaimana menurut bibi?" Tanya Ciel berusaha tersenyum. walaupun hatinya masih sakit karena ia harus mengingat Sebastian.

"Nama yang bagus..." Madam Red tersenyum kearah keponakannya.

Sofia... aku yakin 'dia' menyukai nama itu...

-Flashback-

"Oi Sebastian..." panggil Ciel malas. Ia menopang dagunya, menatap pria raven yang sedang bermain dengan seekor kucing berbulu hitam.

"Ya honey?" Tanya Sebastian tersenyum menatap Cielnya -yang lebih imut dari kucing manapun.

"Bodoh! jangan panggil aku dengan panggilan menjijikan begitu!" bentak Ciel dengan wajah semerah kepiting rebus atau tomat.

"Lalu Mau aku panggil apa? My dear? Sweetheart? Lady? Dan..." sebelum Sebastian melanjutkan kata-katanya, Ciel telah mendaratkan kamus di mulut Sebastian, membuat pria raven itu berhenti mengoceh. Simpang segi empat tampak disudut kepala Ciel, "Menyebalkan!" gerutu Ciel.

Sebastian menyeringai, melihat betapa imutnya Ciel saat ini. Menurutnya, Ciel itu sama seperti kucing. Kucing itu tsundere, sama seperti Ciel. Yah, walaupun Ciel alergi dengan bulu kucing. Tapi sungguh, Ciel benar-bemar mirip dengan kucing. Itulah kenapa Sebastian suka menggoda Ciel. Rasanya seperti hiburan tersendiri bagi Sebastian saat menggoda Cielnya.

"Jadi kau Mau Tanya apa Dear?" Sebastian tersenyum -mesum, menurut Ciel.

"Kau suka kucing?"

"Tentu saja dear~"

"Tapi aku... aku alergi dengan kucing" Ciel memainkan jarinya. Kedua sapphire miliknya tidak lagi menatap Sebastian. "Apa tidak apa-apa jika kau tidak bisa bersama kucingmu karena aku alergi dengan bulu kucing?" Tanya Ciel dengan nada sedikit ragu.

"Tentu saja tidak apa-apa" dengan santainya Sebastian menjawab pertanyaan Ciel, membuat gadis berambut kelabu itu mendongak. Ia terkejut.

Bukankah Sebastian sangat mencintai kucing? Bahkan kau bisa menyebut pria itu freak terhadap kucing.

"Hah?! Bukankah kau sangat suka kucing?!" Tanya Ciel terkejut.

"Itu karena kau seperti kucing~" sekali lagi, Sebastian mendapat lemparan alkitab."Ah sakit tau..." adu Sebastian sambil mengusap wajahnya yang tampak merah, bekas lenparan Ciel.

"Kau yang menyebalkan!" Ciel mendecih lalu membuang mukanya kearah lain, tidak ingin Sebastian tau jika wajahnya merona.

Setelah beberapa menit hening, karena Sebastian lanjut bermain dengan kucingnya, Ciel kembali menatap pria raven itu. "Hey Sebastian..." Ciel kembali memanggil sang raven yang tampak asik memberi makanan pada kucing berbulu hitam itu.

"Kenapa?" Tanya Sebastian tanpa menoleh. Mungkin Ciel bosan hanya melihatnya bermain dengan kucing, pikir Sebastian.

"Kucing itu... apa kau memberinya nama?"

"Ya, namanya Sofia" jawab Sebastian masih asik memberi makan kucing bernama Sofia itu.

"Kenapa kau memberi nama Sofia?" tanya Ciel. (Ah, sepertinya Ciel kurang kerjaan banget sampe kepo kayak gini #plak)

"Menurutku, Sofia itu nama yang sederhana. Tidak terlalu rumit, tapi indah" Ciel hanya mengerjapkan matanya berkali-kali.

Benar-benar alasan yang sangat simple, batin Ciel.

-end of flashback-

.

.

.

Disebuah ruangan dengan dihiasi lilin-lilin kecil dan taburan bunga diatas sebuah kasur ukurang king-size, terdapat dua sosok yang -seharusnya bahagia malam ini karena ini adalah malam pertama mereka. Tapi entah kenapa suasana menjadi awkward.

"Sebastian..." panggil wanita berambut keperakan. Ia duduk diatas kasur king-size. menatap suaminya yang hanya memakai kemeja hitamnya.

"hn?" gumam pria bernama Sebastian itu tanpa menoleh ke belakang, seakan-akan ia memang tidak peduli.

"Kenapa kau begini? Apa kau tidak ingin tidur dengan istrimu sendiri?" tanya wanita yang diketahui bernama Hannah itu. Hannah hanya menatap suaminya yang lebih memilih tidur di sofa malas yang ada dikamar hotel mereka, dibanding tidur dengan istrinya sendiri.

"Aku hanya tidak terbiasa tidur dengan wanita lain" jawab Sebastian dengan santainya. "Aku minta maaf, jika memang aku seperti ini" Sebastian menghela nafasnya, "Tapi aku berjanji dengan diriku sendiri sebelum kita menikah, bahwa aku tidak akan menyentuhmu walaupun kita sudah menikah" lanjut Sebastian. Ia mengambil bantal, lalu ia taruh di sofa malas sebagai sandaran untuk kepalanya.

"T-tapi, aku menunggumu Sebastian... tidakah kau sadar jika aku menyukaimu sejak kita masih kecil?" Tanya Hannah dengan mata berkaca-kaca. "Kau tau, aku sangat bahagia dapat menikah denganmu... Dan sekarang?" Hannah mencengkram sprei berwarna gold itu.

Sebastian mulai memejamkan matanya, "Sayangnya tidak" jawabnya santai. Ia bahkan tidak peduli jika saat ini Hannah sedang menangis. "Maaf Hannah, mungkin aku memang pria yang tidak pantas bagimu..." gumam Sebastian membuka matanya. Ia menatap wanita yang baru saja menjadi istrinya itu dengan tatapan datar, "Karena itulah aku tidak ingin menyentuhmu" lanjut Sebastian.

Melihat Hannah yang terus menangis, Sebastian bangkit berdiri dari sofa malasnya. Ia berjalan, lalu duduk di samping Hannah yang sedang menangis.

Tangan besar itu mengusap kepala Hannah lembut. Kedua crimson Sebastian menatapnya datar, "Aku hanya menganggapmu sebagai adik ku... Aku tidak bisa mencintaimu..." kata Sebastian dengan nada sendu. Mungkinkah Sebastian mengatakan bahwa ia mencintai gadis lain?

"Aku minta maaf..."

Dan malam pertama itu berakhir dengan Sebastian yang tidur di sofa malas, sementara Hannah di kasur king-size nya.

.

.

.

"Jadi Ciel, kenapa kau memberi nama Sofia?" tanya Madam Red seraya menggendong Ciel versi kecil -alias Sofia- dalam dekapannya. Ciel tersenyum melihat bagaimana bibinya begitu senang terhadap Sofia.

"Yah, nama itu sederhana... tapi juga indah..." gumam Ciel. Sapphire nya menatap ke jendela, menatap pagi cerah di kota kecil tempat Ciel pindah. Ia tidak ingin mengingat tentang pria raven itu lagi, tapi ia juga tidak bisa menghapus jejak sang raven kepadanya. Bagaimanapun, Sofia adalah anak kandungnya.

"Wahh~ lihatlah Ciel! Sofia memiliki mata yang sama denganmu!" seru Madam Red antusias saat Sofia membuka matanya.

Ciel tersenyum, "Biarkan aku menggendongnya, Bi" kata Ciel sambil membawa si kecil Sofia dalam dekapannya. Entah kenapa, saat bersama Sofia membuat Ciel sedikit melupakan tentangnya.

Beberapa hari kemudian, Ciel dan Sofia di perbolehkan untuk pulang.

Sesampainya Di rumah kecil yang Ciel beli, Madam Red membawa beberapa barang yang Ciel bawa sewaktu rawat inap dirumah sakit. Walaupun sedikit lemas, Ciel dapat berjalan sendiri sambil menggendong buah hatinya.

"Ahh~ padahal aku ingin tinggal bersama kalian~" rengek Madam Red saat ia mendapat telepon dari rumah sakit yang ada di London. Sepertinya wanita serba merah itu mendapat panggilan.

Ciel hanya tersenyum, "Bibi tidak perlu khawatir dengan keadaanku dan Sofia... Lagipula, jika pekerjaan Bibi sudah selesai, Bibi bisa datang berkunjung lagi" Ciel tersenyum.

"Kau yakin tidak apa-apa? Lalu kau mau bekerja lagi? Siapa yang akan merawat Sofia?" cerocos Madam Red membuat Ciel speechless.

"Aku tak apa Bi, sungguh. Lagipula aku tidak akan bekerja sampai Sofia cukup besar untuk bisa dititipkan" Ciel berusaha agar Bibi nya itu tidak terlalu khawatir.

Dengan enggan, Madam Red mengiyakan perkataan Ciel. "Jika kau perlu untuk menitipkan Sofia, lebih baik kau titipkan padaku. Aku bisa menjaganya" kata Madam Red sebelum akhirnya ia meninggalkan Ciel dan si kecil sendirian.

Ciel membuka pintu rumah kecilnya. Ia menghela nafas, "Mulai hari ini, kita akan memulai hidup baru" Gumam Ciel sambil menatap Sofia yang sedang tertidur didalam pelukannya.

.

.

TBC

RnR