Disclaimer in chapter one
Tale 7 : Home Is Where The Heart Is
Governor menghela napas saat mendengar kabar kalau Na-Nal baru saja lepas dari tangan mereka. Padahal Kooluk belum begitu lama menguasai pulau tersebut.
"Cepat atau lambat, Sir Troy akan mengetahui mengenai hal ini."
"Kita harus sudah mengerahkan pasukan ke Na-Nal sebelum Troy tahu." Governor menatap Colton yang berdiri di depan pintu. "Apa yang dia lakukan di Obel?"
"Dia sedang mencari informasi mengenai True Rune yang pernah bersemayam di sana." jawab Colton tegas. Sebetulnya dia tidak mengerti kenapa sang tuan muda harus berada di sana setiap saat, sementara wilayah lain masih membutuhkannya. Seperti Na-Nal. Atau setidaknya begitu sebelum Na-Nal berhasil direbut.
"Kita harus mempersiapkan pasukan kita."
.
.
.
.
.
Troy tidak paham kenapa dia suka berdiri di tempat ini, di luar kuil tempat True Rune. Angin laut menyapu wajahnya yang putih dan sedikit tenang. Hanya di tempat ini dia bisa merasa tenang, tidak terganggu oleh apapun atau siapapun. Di sini dia tidak harus menjadi Troy yang diagungkan, Troy yang melegenda. Dia hanya Troy. Hanya seorang manusia yang sedang menikmati alam.
Dia juga tidak paham dengan penduduk Obel. Mereka sangat yakin kalau raja mereka akan kembali suatu saat nanti. Terlebih lagi sang tuan putri, Flare en Kuldes. Dia yang paling berapi-api setiap kali mengatakan kalau suatu hari nanti, Obel akan terbebas dari kuasa Kooluk, dan Troy akan dikalahkan oleh Lazlo.
Troy pernah berhadapan dengan Lazlo, dia tidak sekuat yang diumbar-umbarkan oleh Flare. Atau apakah waktu itu Lazlo menahan diri? Atau dia sudah tambah kuat sekarang? Setahu Troy, True Rune yang berada di tangan Lazlo tidaklah memberikan kekuatan, dia malah menyerap kehidupan si pemilik Rune. Tapi mungkin itu harga yang harus dibayar oleh si pengguna, setiap kali dia menggunakan Rune tersebut.
"Apa yang kau lakukan di sini?" bentak Flare.
Troy membuang napas. Flare memang menjadi tahanannya, tetapi Troy masih mengizinkan Flare untuk berkeliling pulau dengan bebas. Jika dia ditemani oleh tiga prajurit Kooluk. Seharusnya Troy mengurung Flare dari awal. Itu ide yang bagus. Supaya membuat penduduk Obel tunduk kepadanya. Tapi dia membutuhkan informasi mengenai True Rune, bukannya ingin menjajah Obel.
"Jika aku menjadi dirimu, aku akan mulai menjaga mulutku." Troy menatap Flare dengan dingin dan tajam, seperti biasanya. "Mungkin orang yang menawanku akan berubah pikiran, dan dia bisa menyiksaku."
Troy bisa melihat kalau Flare berusaha sekuat tenaga untuk tidak membalas ucapan Troy atau dia berusaha menutupi rasa takutnya dengan amarah. Troy sudah sering melihat Flare melakukan itu. Tidak mendapat reaksi apa-apa dari sang tuan putri, Troy berjalan pergi meninggalkan Flare dan tiga orang prajurit Kooluk.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Lazlo menelan ludah, tangannya tiba-tiba basah karena keringat. Padahal ini bukan pertama kali dia memimpin perang. Tetapi sekarang, ketika kapal-kapal di bawah kepemimpinannya sedang beryalar dengan kecepatan penuh menuju Razril, dia panik.
"Kau takut kalau kau tidak bisa merebut Razril dari tangan Kooluk?" tanya Jewel yang berdiri di sebelah Lazlo.
"Ya, aku takut kalau kita gagal dan..." Lazlo tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
"Kita tidak akan gagal, Lazlo." Keneth menepuk punggung Lazlo dengan keras.
Lazlo menoleh ke belakang, dia melihat teman-temannya, orang-orang yang bersatu dibawah kepemimpinannya. Orang-orang yang membenci Kooluk, mereka yang ingin mengusir penjajah itu dari tanah air mereka. Lazlo tersenyum saat melihat Lino mengangkat tinjunya ke udara, Elenor menggeleng saat melihat Lino melakukannya.
Dan Kika.
Kika yang menatapnya dengan tegas dan penuh kepercayaan.
Kika dengan rambut merah mudanya yang tertiup angin.
Kika yang sanggup membunuhmu jika kau macam-macam dengannya.
Kika yang selalu muncul dalam benak Lazlo belakangan ini.
Lazlo menelan ludah sekali lagi sebelum memberikan komando kepada awak kapalnya untuk bersiap-siap menghadapi perang.
.
.
.
.
.
Pertempuran sangat sengit, terlebih lagi dengan jumlah pasukan Kooluk yang jauh lebih banyak dari pasukan Lazlo. Semua orang kewalahan, Jane nyaris pingsan karena dia menggunakan Rune terlalu berlebihan.
Pemimpin pasukan musuh, Helmut, menyerah. Setelah dia meminta kepada Lazlo untuk menjaga anak buahnya, dia rela dan siap untuk menemui ajalnya. Tetapi Lazlo tidak tega membunuh Helmut. Sehingga dia mengajak Helmut untuk bergabung. Awalnya Lazlo ragu kalau Helmut mau menerima tawarannya, namun beberapa prajurit yang mengabdi di bawah Helmut menatap pria itu dan berkata. "Bergabunglah dengan kami, Sir Helmut. Tidak ada gunanya jika kami hidup tetapi Anda tidak."
Helmut menghela napas sebelum bertanya. "Apakah Anda benar-benar ingin saya bergabung dengan pasukan Anda?"
Lazlo memiringkan kepala. "Tentu saja. Aku membutuhkan banyak orang untuk mengalahkan Kooluk. Harusnya aku yang bertanya, apakah kau mau bergabung dengan kami untuk mengalahkan Kooluk?"
"Bukan Kooluk, tapi Troy." Helmut mengkoreksi. "Troy yang memimpin pasukan yang menyerang wilayah ini. Dialah yang harus kita kalahkan."
Lazlo mengangguk paham. "Oke. Kalau begitu, apakah kau mau bergabung dengan kami untuk mengalahkan Troy?"
"Tentu saja."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Rasanya sangat aneh, berdiri di Port of Razril lagi seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah dirinya tidak pernah dituduh membunuh Komandan Glen. Seolah waktu itu bergerak.
"Lazlo..."
Suara Tal membuat senyum Lazlo berkembang. Tidak jauh dari Tal, Paula berdiri. Dia terlihat bingung, sedangkan Tal. Dia hanya seperti Tal yang biasanya. Dia terlihat ramah, tetapi Lazlo tahu kalau Tal siap untuk membunuhnya.
"Tal, Paulaaaaa!" pekik Jewel bahagia. Dia hendak berlari memeluk Paula saat Keneth menghentikannya, bersamaan dengan Tal dan Paula yang mengeluarkan pedang mereka.
"Hei, ada apa ini?" tanya Jewel bingung. Kenapa dua sahabatnya malah menghunuskan pedang? Padahal mereka tadi tidak terlibat dalam pertempuran di laut.
"Apakah kau membunuh Komandan Glen?" tanya Tal dengan suara lantang. "Jawab aku, Lazlo!"
Jewel hendak bicara saat Lazlo menggeleng."Aku tidak membunuh Komandan Glen."
"Lalu bagaimana beliau tewas?" tanya Paula. "Kami tidak menemukan," Paula terdiam beberapa saat, "kami tidak menemukan mayat Komandan Glen. Bagaimana kau menjelaskan hal itu, Lazlo?"
Lazlo ingin mengatakan kalau sesungguhnya Komandan Glen pura-pura mati, bahwa sesungguhnya sang komandan sekarang sedang memancing di pulau terpencil. Tetapi bukan itu yang terjadi. "Rune of Punishment." kata Lazlo lirih sambil membuka sarung tangannya.
"Lazlo, apa yang kau lakukan?!" Chiepoo menatap Lazlo dengan mata membesar.
Semua orang tersentak saat Lazlo menggunakan Rune di tangan kanannya tersebut.
Disaat yang bersamaan di ruang aula, Lino, Elenor dan Kika yang sedang mengumpulkan prajurit musuh langsung menghentikan kegiatan mereka saat melihat dan merasakan Rune of Punishment digunakan.
"Lazlo!" tanpa pikir panjang, Kika langsung berlari ke luar dari ruang aula. Hervey dan Sigurd saling tatap beberapa detik sebelum berlari untuk menyusul Kika.
"Sial, siapa lagi yang menyerang kita?" Lino terlihat lelah.
Elenor hanya menggeleng. "Kita hanya bisa menunggu Kika dan Lazlo kembali. Sampai saat itu, kita harus mempersiapkan diri. Siapa tahu akan ada orang yang menyerang kita nanti."
Napas Lazlo sedikit terengah-engah setelah memakai Rune of Punishment. Dia melihat Tal dan Paula menatapnya dengan wajah kagum, kemudian ngeri dan bingung.
"Apa kau berusaha mengatakan kalau..."
"Tubuh Komandan Glen dihisap oleh Rune itu?" tanya Paula bingung.
Lazlo menggeleng. "Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Yang aku tahu setelah Rune itu pindah ke tanganku, tubuh Komandan Glen perlahan menghilang. Berubah menjadi debu." Lazlo menahan diri untuk tidak menangis.
"Oh, Lazlo." Paula langsung berlari ke arah Lazlo yang nyaris ambruk. Dia memeluk sahabatnya dengan erat. "Aku tidak tahu kalau kau harus melihat itu."
"Aku mempercayaimu." kata Tal pelan.
"Sungguh, Tal? Hanya itu yang kau ucapkan setelah..." Jewel hendak menghajar Tal jika saja dia tidak melihat sosok Kika berlari mendekati mereka. Sigurd dan Hervey menyusul.
"Siapa yang menyerang kita?" tanya Kika sambil menarik pedangnya.
"Uuuuh, tidak ada yang menyerang kita." jawab Chiepoo setengah bingung dan setengah heran. Bingung melihat Kika di sini dan heran kenapa Kika mengira kalau ada–oh ya, Lazlo baru saja menggunakan Rune miliknya.
"Tapi tadi kami melihat Rune of Punishment." kata Hervey bingung.
Lazlo tertawa lemah. "Maaf, aku terpaksa menggunakannya. Tetapi bukan untuk melawan musuh, tetapi untuk mendapatkan teman."
Kika akhirnya melihat dua orang asing, mungkin itu sahabat Lazlo. Kika mengangguk. "Elenor dan Lino sudah menunggumu di ruang aula."
"Oke, kami akan ke sana nanti." Lazlo melambaikan tangan dengan lesu. Masih dalam pelukan Paula.
.
.
.
.
.
Lazlo tidak percaya saat melihat hampir semua penduduk Razlir berada di dalam aula. Lautan manusia itu langsung terbelah untuk memberikan jalan bagi Lazlo. Pria itu langsung merasa kikuk, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini sebelumnya. Biasanya dia hanya berjalan di belakang Snowe. Orang-orang membuka jalan untuk Snowe, bukan untuk dirinya.
Keneth menepuk pundak Lazlo. "Semua orang tidak sabar untuk mendengar pidatomu, pemimpin." ucapnya sambil tersenyum lebar. Jewel dan Chiepoo juga melakukan hal yang sama, tersenyum sangat lebar dan bahagia.
Seperti biasa, Kika, Lino dan Elenor berdiri menunggu Lazlo. Mereka berdiri di panggung. Di tempat Komandan Glen biasa memberikan pidatonya. Di tempat Komandan Glen memberikan selamat kepada mereka karena telah resmi menjadi Knight of Gaien. Lazlo mengangkat dagu dan berjalan dengan penuh kepercayaan diri. Dia tidak boleh mengecewakan para penduduk Razril, teman-temannya, orang-orang yang telah mempercayainya dari awal.
Lazlo menarik napas panjang sebelum berjalan menuju ke panggung. Seluruh pasang mata tertuju kepadanya. Dia tidak mengerti kenapa Snowe sangat senang menjadi pusat perhatian. Semua ini terasa sangat mencekik sampai-sampai Lazlo tidak bisa bernapas. Ah, mungkin karena Snowe berasal dari keluarga bangsawan sehingga dari dulu dia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.
"Tenang Kid, kau pasti bisa melakukan ini." kata Lino yang mengulurkan tangan kepada Lazlo. Elenor yang berdiri di sebelahnya mengangguk. Kika yang tengah bersandar tidak bergerak tetapi matanya terfokus kepada sosok Lazlo yang sudah berdiri di tengah panggung.
Lazlo menghela napas sebelum menatap lautan manusia yang tengah menantinya memberikan pidato terhebat sepanjang masa atau sejenisnya. Dia hanya seorang anak yatim piatu yang bekerja sebagai pengawal pribadi Snowe Vingerhut. Apalah yangg dia tahu mengenai pidato untuk mempersatukan orang?
Ditengah kebingungannya, dia melihat Jewel dan Keneth juga Chiepoo. Tiga sahabatnya yang telah menemaninya dari awal hingga sekarang, bahkan mungkin sampai pertempuran ini selesai. Kemudian Lazlo melihat para bajak laut, Sigurd dan Hervey yang memberi Lazlo satu anggukan kepala dan satu acungan jempol. Dario yang merangkul Nalleo.
Lino menatapnya seperti seorang ayah tengah menatap anak laki-lakinya dengan penuh rasa bangga dan terharu, Elenor menatapnya seperti seorang ibu yang merindukannya anaknya yang pergi terlalu lama tetapi dia bahagia karena dia tahu kalau anaknya pergi untuk menjalankan panggilan jiwa.
Kika. Kika yang selalu menatapnya tanpa ekspresi, Kika yang selalu membantunya dalam pertempuran. Kika yang menolongnya saat Lazlo mabuk. Kika yang kuat dan tangguh namun lembut disaat yang bersamaan. Kika tengah menatap Lazlo seperti seseorang yang siap dan rela berkorban untuknya, dan percaya kalau Lazlo akan melakukan hal yang sama untuknya.
Dan Lazlo memang siap untuk berkorban demi Kika.
Lazlo tersenyum sebelum kembali menatap lautan manusia di hadapannya. "Aku bukan orang yang bisa memberikan pidato panjang lebar," katanya gugup. "aku dibesarkan dibalik gemerlap cahaya lampu sorot, jadi aku tidak tahu apa yang harus lakukan ketika aku diberikan kesempatan untuk berdiri di bawah lampu sorot. Ketika aku diusir dari Razril, tidak pernah terlintas dalam benakku kalau aku bisa kembali lagi ke sini. Apalagi kembali sebagai orang yang membebaskan Razril dari tangan Kooluk."
Dari sudut matanya dia bisa melihat Katarina menundukkan wajah. "Banyak hal yang telah terjadi. Hal-hal yang kita pikir tidak akan pernah terjadi." Lazlo berhenti bicara, ia menyapu seluruh sudut aula yang berada di dalam kastil. "Tapi sekarang, sekarang waktunya kita tunjukkan kepada Kooluk, kalau Knights of Gaien masih ada. Kita akan mengalahkan Kooluk, dan mengusir mereka dari perairan kita!"
"Razril sudah kembali menjadi milik kalian semua!"
Semuanya berteriak sambil mengangkat kepalan tangan mereka ke atas.
.
.
.
.
.
"Pidato yang cukup bagus," Lino menepuk punggung Lazlo terlalu keras sampai-sampai orang itu nyaris terjatuh.
Belum sempat Lazlo membalas, dia mendengar keributan dari luar kastil. Lazlo dan Lino saling lempar pandang sebelum berlari ke luar untuk melihat apa yang terjadi. Tidak terbayangkan kalau suatu saat nanti Lazlo akan melihat Lord Vingerhut, ayahnya Snowe, akan memimpin prajurit Kooluk.
"Jika kau masih ingin hidup, lebih baik kau pergi sekarang." kata Hervey bosan. Dia tidak paham dengan keluarga Vingerhut. Apakah mereka tidak tahu kalau penduduk Razril membenci mereka?
"DIAM KAU BAJAK LAUT!" teriak Lord Vingerhut. Dia tidak menghiraukan teriakan 'booo' dari penduduk Razril, atau dia mengira kalau teriakan itu ditunjukkan untuk para bajak laut yang dengan sombongnya mengatakan kalau mereka telah membebaskan Razril dari Kooluk. Hah, mereka tidak mengerti apa-apa. Apanya yang mau dibebaskan jika Lord Vingerhut sudah menjual Razril kepada Kooluk?
Semua orang berhenti bersuara dan bergerak saat sosok Lazlo dan Lino keluar dari dalam kastil. Pria berbandana merah itu menahan napas. "Lord Vingerhut. Apa kabar Anda?"
Lino mendengus. Hanya Lazlo yang bisa menyapa orang yang hendak membunuhnya.
"KAU! KAU PENGKHIANAT!" teriak Lord Vingerhut keras. "PERGI KALIAN DARI TANAHKU!"
"Maaf, tapi Anda telah menjual tanah ini kepada Kooluk." Sigurd menoleh ke arah Helmut yang mengangguk, "dan kami telah mengalahkan Kooluk. Jadi sekarang tanah ini milik kami." Dario menyikut perut Sigurd. "Uh, maksudku, tanah ini sudah kembali menjadi milik penduduk Razril lagi."
"SERANG MEREKA! AKU INGIN MEREKA PERGI DARI TANAHKU!" Lord Vingerhut memberikan perintah dengan lantang.
Para bajak laut menghela napas sebelum menoleh ke arah Kika yang hanya mengangkat bahu, kemudian menatap Lazlo. "Apa perintahmu, kapten?" tanya Hervey dengan tatapan bahagia.
"Tidak boleh ada yang tewas." kata Lazlo pelan. Sebetulnya dia berharap kalau dia bisa mengajak Lord Vingerhut bicara, tetapi nampaknya orang yang pernah dia anggap sebagai ayah sendiri ini tidak mau mendengar apapun yang hendak diucapkan oleh Lazlo.
Bahkan setelah Lord Vingerhut kalah, orang itu masih bertingkah seolah-olah dialah penguasa sah di Razril. Dia mengatakan kepada Lazlo kalau dia rela memberikan Razril kepada Lazlo selama harga yang diberikan sepadan. Apakah ini yang terjadi ketika Kooluk menyerang? Mereka kalah hanya karena uang? Lazlo menggeleng sedih. Dia tidak menghentikan saat penduduk Razril melempari Lord Vingerhut dengan bebatuan.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Troy tahu kenapa dirinya dipanggil ke El-Eal, hanya saja dia masih tidak percaya kalau Helmut dapat dikalahkan oleh pasukan itu. Pasukan yang dibentuk oleh Obel. Apakah Helmut kalah karena True Rune? Atau memang pasukan tersebut sangat kuat sampai-sampai Helmut bisa kalah?
Graham Cray terus menerus mengatakan kalau tugas utama Troy adalah menemukan True Rune tersebut. Troy tidak habis pikir, kenapa Cray sangat terobsesi dengan True Rune itu? Sebetulnya apa kekuatan True Rune itu? Selama ini yang Troy tahu, True Rune itu hanya akan berakhir mengambil nama pemiliknya. Kenapa Cray ingin mendapatkan True Rune itu? Ingin membahayakan dirinya sendiri? Cray mengatakan kalau Yang Mulia Kooluk ingin mempersembahkan True Rune itu untuk Kerajaan Harmonia, sebagai ganti dukungan militer. Apakah benar begitu?
Terlebih lagi Governor tidak muncul dalam pertemuan ini, hal itu membuat Troy tambah bingung. Namun ketika Graham mengatakan kalau Governor sakit, satu alis Troy langsung naik ke atas. Jika memang benar, seharusnya seisi kastil El-Eal akan langsung panik. Tetapi tidak ada yang berubah.
Jangan-jangan... Gigi Troy bergemeletuk.
Troy hanya bisa melihat kapal Colton berlayar menjauh darinya. Setelah percakapan di lorong, Troy merasa kalau dia harus lebih berhati-hati dibandingkan sebelumnya. Sekarang Colton sudah pergi, ada orang yang kemungkinan mengikuti dirinya, Graham Cray tidak akan pandang bulu terhadap siapa yang akan dia bunuh. Troy menghela napas panjang. Tiba-tiba dia lelah, sangat lelah. Dia hanya ingin beristirahat. Tetapi bukan di El-Eal, bukan di kastil yang gelap dan penuh rahasia.
Tiba-tiba dia merindukan Obel.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Lazlo menghirup udara sore Razril yang dia rindukan. Gemuruh ombak, suara burung terbang bebas di langit, teriakan anak-anak yang sedang bermain dengan kucing. Dia merindukan Razril. Razril yang tenang dan damai. Namun sekarang sudah berbeda. Dia bukan lagi sekedar pengawal pribadi Snowe. Dia adalah pahlawan. Banyak orang yang datang kepadanya dan mengatakan kalau mereka tidak percaya kalau Lazlo yang membunuh Komandan Glen. Lazlo mengucapkan terima kasih.
"Lucu huh, kemarin kita memikirkan bagaimana caranya membersihkan namamu." Jewel memulai percakapan.
"Sekarang kau sudah kembali dan menjadi pemimpin yang hebat." tambah Keneth dengan bangga.
"Saat kalian tidak ada, banyak ksatria yang membicarakan kalian diam-diam, apalagi saat ada rumor mengatakan kalau kalian menjadi bajak laut." Paula melirik ke arah Tal. Dia ingat bahwa sahabatnya yang satu ini bersikeras mengatakan kalau tidak mungkin Lazlo, Jewel dan Keneth menjadi bajak laut. "Tetapi kemudian Snowe melarang kami untuk membicarakan kalian, bahkan menyebut nama kalian saja bisa membuat kami mendapatkan hukuman."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang, Lazlo?" Tal bertanya tanpa melepaskan pandangan dari permukaan air.
Lazlo terdiam. Ya, apa yang akan dia lakukan sekarang? Dulu tujuannya adalah kembali ke Razril dan membersihkan namanya. Tetapi kemudian Obel direbut oleh Kooluk, dan dia menjadi pemimpin pasukan pembebasan. Razril sudah bebas, tetapi Obel masih dalam cengkraman Kooluk.
"Membebaskan Obel." jawab Lazlo tegas. "Kemudian mengusir Kooluk dari perarian kita."
"Setelah itu?"
Lazlo menatap Tal yang sudah terlebih dulu menatap mantan Knight tersebut. Lazlo hanya mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Mungkin aku akan mencoba menjadi nelayan. Aku cukup ahli menangkap ikan."
Semua orang tertawa, mereka tidak bisa membayangkan Lazlo menjadi seorang nelayan.
.
.
.
.
.
Lazlo berjalan dengan santai menuju ke kastil, dia ingin tidur setelah melewati hari yang melelahkan ini. Padahal teman-temannya mengajak Lazlo untuk merayakan bebasnya Razril, namun dengan sopan Lazlo menolak. Jewel mengatakan kalau itu hal yang bagus, sebab seorang pemimpin harus banyak beristirahat. Namun Chiepoo mengatakan kalau pemimpin yang baik juga harus sering terlibat dalam kegiatan masyarakatnya. Lazlo nyaris mengubah pikiran dan setuju untuk ikut jika saja Tal mengatakan kalau itu tidak perlu. Semua orang tahu betapa lelahnya Lazlo, ditambah dengan adanya Rune of Punishment dalam tubuh Lazlo.
"Miauuuuwwww," kucing yang sedang dalam pelukan Lazlo terdengar sangat bahagia. Lazlo tertawa sambil mengelus-elus kepala kucing itu. Dia menemukan kucing ini di pelabuhan. Dan entah kenapa kucing berwarna putih cokelat ini selalu mengikutinya. Akhirnya Lazlo memutuskan untuk membawa kucing ini ke kapal nanti. Dia harap kucing ini tidak akan mabuk laut. Sebentar, apakah hewan bisa mabuk laut?
Langkahnya terhenti saat melihat Katarina berdiri di depan kastil. Lazlo hendak berlari pergi sebelum Katarina melihatnya–entah kenapa Lazlo merasa kalau dia baru saja melihat sesuatu yang sangat privat–namun terlambat. Sang mantan Wakil Komandan sudah melihatnya, bahkan dia sedang tersenyum ke arah Lazlo. Dengan mata berkaca-kaca, dia mengatakan.
"Komandan Glen akan sangat bangga kepadamu."
Lazlo tersenyum sedih. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Selain menangis dalam hati.
.
.
.
.
.
Mimpi buruk itu semakin menjadi. Kucing yang tadi sore dia bawa pulang terbangun karena teriakan Lazlo. Ia mengeong simpatik, Lazlo tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Maaf aku membangunkanmu, kawan." Lazo menepuk-nepuk kepala kucing itu sampai dia kembali tertidur. Sekarang giliran dirinya yang tidak bisa tertidur.
Oleh sebab itu sekarang Lazlo sedang berjalan-jalan mengelilingi Razril. Dia belum pernah berjalan-jalan semalam ini di Razril, bahkan saat dia dan Snowe mendapatkan giliran untuk patroli malam. Mereka selau sudah kembali ke kastil jam dua belas malam tepat.
Beberapa ksatria Razril sempat menyapanya dan bertanya kenapa dia belum tidur padahal hari sudah sangat larut. Lazlo hanya mengatakan kalau dia tidak bisa tidur, sebab dia sudah terbiasa tidur di atas kapal. Para ksatria tertawa. Mereka tidak perlu tahu mengenai mimpi buruk yang dilihat Lazlo.
Hanya saja Lazlo tahu kalau itu bukan mimpi buruk. Itu adalah ingatan dari pemilik Rune of Punishment sebelum dirinya.
"Aku kira tidurmu akan nyenyak di darat."
Lazlo tersenyum tipis saat mendengar suara perempuan dari belakang. "Aku kira juga begitu," ia menoleh ke samping untuk melihat Kika sudah berdiri di sebelahnya. Menatap permukaan laut yang gelap. "Tidak bisa tidur juga?"
Kika menunjuk ke belakang menggunakan jempolnya. "Aku baru saja kembali dari pesta. Harus ada yang menjaga Elenor dan Lino supaya mereka tidak minum seperti anak remaja."
Lazlo tertawa. Terkadang lucu melihat bagaimana Kika berperan sebagai seorang ibu untuk mereka semua. Padahal jelas-jelas usia Elenor jauh lebih tua dibandingkan sang kapten. Setelah Lazlo berhenti tertawa, dia berdahem. "Lalu sekarang mereka di mana?"
"Akaghi dan Mizuki sedang memapah mereka berdua." Benar saja, dari kejauhan Lazlo bisa melihat Akaghi dan Mizuki tengah memapah Elenor dan Lino. Lazlo sudah memberikan kamar di kastil untuk semua orang, bahkan dia menggunakan rumah keluarga Vingerhut. Meski dia merasa kalau dia tidak pantas berada di rumah itu, oleh sebab itu dia kembali tidur di kamar lamanya di kastil.
"Mimpi buruk?"
"Huh?" Lazlo langsung menatap Kika dengan bingung.
"Alasan kenapa kau susah tidur."
Lazlo menghela napas panjang sebelum mengangguk. "Ya. Aku, aku bisa melihat ingatan orang-orang yang pernah menjadi pemilik Rune ini."
"Apa kau..." Kika berhenti bicara. Namun Lazlo tahu apa yang hendak ditanyakan oleh Kika.
"Sesekali. Tetapi setiap kali aku melihat Brandeu, dia sendirian. Atau baru saja," Lazlo menelan ludah. "baru saja membunuh orang."
Kika menyembunyikan wajahnya dibalik rambut merah mudanya yang panjang. Akaghi dan Mizuki berkata kalau mereka akan membawa Lino dan Elenor ke kamar yang telah disediakan.
"Aku merasa bersalah." bisik Kika lirih. "Karena aku tidak ada di sana saat Brandeu membutuhkan teman."
Lazlo terdiam beberapa saat. "Itu bukan salahmu, Kika. Dia sendiri yang memilih untuk pergi."
"Jika kau diberikan pilihan, apakah kau juga akan pergi?" tanya Kika dengan suara serak.
"Aku tidak tahu," jawab Lazlo dengan hati pedih dan mata panas. Setiap keputusan yang dia ambil, telah membawanya hingga ke titik ini. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja dia memilih pilihan yang lain. Apakah dia akan berakhir seperti Brandeu?
"Tapi aku rasa, teman-temanku tidak akan membiarkanku pergi sendirian. Mereka pasti akan mencariku hingga ketemu." Lazlo tersenyum simpul.
Tanpa ia sadari, Kika juga melakukan hal yang sama.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Flare menggeram marah saat melihat kapal Kooluk menepi di pelabuhan Obel. Dia ingin menghajar Troy karena pria itu sudah melarang Flare untuk masuk ke dalam kuil tempat Rune of Punishment pernah bersemayam. Itu adalah satu-satunya tempat di mana Flare bisa menumpahkan seluruh perasaannya. Tempat di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri, bukan tuan putri yang harus tegar dan percaya kalau suatu hari nanti dia akan diselamatkan. Bahwa ayahnya akan kembali dan merebut kekuasan Obel dari tangan Kooluk.
Dia sedikit bingung saat Colton turun sendirian dari kapal. Dan kapal ini, ini bukan kapal yang biasa dinaiki oleh Troy. Ini kapal Colton.
"Ke mana Troy?" tanya Flare tanpa basa-basi.
"Ada keperluan apa dengan Sir Troy?" tanya Colton. Pria tua itu selalu menatap Flare dengan tatapan tidak senang.
"Kenapa kau malah balik bertanya. Aku hanya ingin tahu ke mana dia. Apakah dia sudah bosan menjajah Obel?" Flare berkacak pinggang.
Colton menghela napas. "Tidak. Dia sudah dipindahkan ke El-Eal. Sekarang saya yang berkuasa di Obel."
"Dipindahkan?" Flare mengeritkan kening.
Colton sudah berjalan pergi sebelum memberi penjelasan lebih lanjut.
"Hei, kenapa dia dipindahkan dari Obel?!" tanya Flare sambil berlari menyusul Colton.
Colton berhenti mendadak, membuat Flare nyaris menabrak orang tua itu. "Aku rasa itu tidak ada hubungannya denganmu." Ucapnya dingin. "Lebih baik kau segera kembali ke istana, atau kau akan menghabiskan sisa hidupmu di dalam penjara."
Flare tidak membalasakalimat Colton, dia bahkan tidak mengejar pria itu untuk menuntut penjelasan lebih lanjut mengenai kepindahan Troy.
Seharusnya dia senang karena Troy tidak akan mengganggunya lagi.
Iya kan?
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Ketika dia tiba di Dauntless, Lazlo tidak percaya kumpulan orang-orang yang berdiri menyambutnya. Orang-orang yang bergabung dengannya untuk mengalahkan Kooluk. Lazlo tersenyum lebar. Sekarang mereka bisa membebaskan Obel dari tangan Kooluk. Ya, mereka bisa.
"ADA KAPAL YANG DATANG DENGAN KECEPATAN PENUH!"Nico berteriak dari menara pengawas.
Lazlo menatap Elenor dengan bingung. Siapa yang menyerang mereka sekarang? Pasukan Kooluk yang berusaha merebut kembali Razril? Elenor menggeleng. "Semua, bersiap-siap untuk berperang!" teriak Elenor. Membuat semua orang langsung pergi dan bersiap-siap untuk menghadapi musuh misterius ini.
"Huh, aku tidak tahu kalau ada bajak laut baru." Dario memincingkan matanya saat dua kapal asing sudah mulai terlihat dengan dekat. Mereka sedang menghemat Rune Canon, oleh sebab itu sekarang mereka lebih mengandalkan pertarungan langsung dibandingkan pertempuran menggunakan Rune Canon.
"Mungkin itu hanya anak orang kaya yang ingin membuktikan diri bahwa dia lebih hebat dari bajak laut asli." kata Sigurd sinis. Kika mendengus mendengar komentar Sigurd, tetapi itu ada benarnya juga. Sebab Kika tidak ingat kapan terakhir kali dia melihat bendera bajak laut yang tidak dia kenal.
"Itu Snowe." kata Lazlo pucat saat melihat sosok Snowe memimpin pasukan bajak laut.
"Hah! Bocah itu tidak tahu kapan harus menyerah yah?" Cibir Hervey.
.
.
.
.
.
Pertarungan yang terjadi antara pasukan pembebasan dengan pasukan bajak laut dibawah kepemimpinan Snowe tidak berlangsung begitu lama. Rata-rata karena para bajak laut tersebut langsung menyerah begitu melihat Kika, Sigurd, Hervey dan Dario berdiri di atas kapal milik mereka. Meski masih ada yang tetap menyerang kuartet bajak laut itu.
Lazlo menghela napas saat dia melihat Snowe jatuh tersungkur. Bahkan setelah selama ini, Snowe belum bisa mengalahkan Lazlo dalam duel. Ya, selama ini Lazlo selalu pura-pura kalah dari Snowe. Tapi sekarang dia tidak bisa melakukannya. Tidak ketika Snowe menyerangnya dengan penuh benci dan hawa membunuh yang tinggi.
Beberapa prajurit langsung mengamankan Snowe. Sudah dua kali Lazlo berhasil mengalahkan pasukan Snowe. Entah sudah berapa kali Lazlo mempertegas kalau dirinya adalah pemimpin yang jauh lebih baik dari Snowe.
"Snowe, kau sekarang menjadi bajak laut?" tanya Tal kaget.
"Diam! Aku bebas menjadi apapun yang aku mau!" bentak Snowe.
"Lazlo, apa yang harus kita lakukan?" Jewel berbisik.
Lazlo menatap Snowe yang masih menatap dirinya seperti ingin mencabik-cabik. "Snowe, apa kau ingin bergabung dengan kami?"
"Aku," Snowe menatap langit biru yang terbentang di atas. "aku tidak bisa bekerja denganmu. Untukmu. Tidak. Aku..."
"Kau tahu, kami baru saja membebaskan Razril dari tangan Kooluk," kata Paula pelan. "Apa kau tidak mau melihat Razril yang bebas?"
Snowe mendelik marah. "Razril tidak akan bebas. Tidak sebelum kalian berhasil mengalahkan Kooluk."
"Oh tenang, kami akan melakukannya." kata Keneth dengan penuh percaya diri.
Lazlo memberikan Snowe makanan secukupnya dan melepaskan Snowe. Dua kali dia melihat sahabatnya terombang-ambing di lautan.
"Aku tidak mengerti, kenapa orang dengan mudahnya berkumpul di sekelilingmu?" Snowe menatap Lazlo yang berdiri di Dauntless. "Padahal dulu, kau bukan siapa-siapa."
Lazlo menelan ludah. "Ya, dulu aku bukan siapa-siapa." ucapnya lirih sambil melihat tangan kirinya yang terbungkus sarung tangan hitam.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Mereka memutuskan untuk kembali ke Nest of Pirate sebelum menyerang Obel. Meski pertempuran sebelumnya memang tidak begitu sengit, kapal mereka sedikit rusak. Mereka tidak bisa pergi ke medan perang dengan kondisi seperti ini.
Elenor, Kika, Lino dan Lazlo tengah duduk di bar. Tidak ada orang selain mereka.
Elenor mencibir setelah Kika menyuruhnya untuk minum. "Setelah semalam kau melarangku untuk minum, sekarang kau menyuruhku untuk minum. Aku tidak pernah mengerti jalan pikiranmu, Kika."
"Semalam aku melarangmu untuk minum sampai mabuk." Kika mengambil minuman dari atas meja. "Tapi jika kau memang tidak ingin minum."
Elenor menghentikan Kika. "Siapa yang bilang kalau aku tidak mau minum?"
Lino tertawa pelan sebelum menatap Lazlo. "Sudah waktunya, Lazlo. Sudah waktunya bagi kita untuk merebut kembali Obel." Lazlo mengangguk. "Kita sudah mengumpulkan orang cukup banyak. Sekarang kita memiliki kesempatan untuk bisa menang melawan pasukan yang menguasai Obel."
"Jika kita berhasil mengalahkan pasukan Kooluk yang ada di Obel, kita akan maju satu langkah untuk mengalahkan Kooluk. Tetapi perjuangan kita masih panjang untuk mengusir mereka dari perairan ini," kata Elenor setelah minum satu gelas. "Nah, apakah kau bisa mengembalikan Golden Seal yang sebelumnya kami percayakan kepadamu?"
Lazlo mengangguk, dia berjalan ke arah Elenor dan memberikan benda yang diminta. Ketika pertama kali dia menyentuh benda itu, tangannya gemetaran. Dai takut kalau dia menjatuhkan benda itu, kemudian rusak. Dia takut kalau orang tidak akan percaya jika Raja Obel mau menyerahkan kekuasannya kepada seorang anak kecil yang tidak jelas asal-usulnya.
Sekarang, saat menyerahkan kembali Golden Seal itu ke tangan Elenor. Dia masih gemetaran. Dia takut kalau orang-orang tidak akan melihatnya sebagai seorang pemimpin karena dia tidak memiliki benda itu. Dia takut kalau apa yang telah dia lakukan hingga saat ini tidak cukup untuk memenuhi ekspetasi Lino. Dia takut kalau dia sudah mengecewakan semua orang.
Namun saat mendengar pujian dari Lino, Elenor dan Kika, kalau dirinya adalah pemimpin yang hebat, dia tahu kalau dirinya tidak mengecewakan orang lain. Dia sudah memenuhi ekspetasi semua orang.
"Tenang, tanpa benda itu kau sudah menjadi pemimpin yang hebat."
Lazlo menunduk. Dia belum terbiasa dengan pujian-pujian ini.
"Aku setuju." Mau tidak mau Lazlo mengangkat wajahnya saat mendengar pujian itu keluar dari mulut Kika.
"Sungguh?" tanya Lazlo tidak percaya.
"Ya, sungguh. Kau sudah menjadi pemimpin yang hebat." Kika tersenyum. "Aku tidak mau menjadi musuhmu suatu hari nanti."
Lazlo ikut tersenyum. "Aku juga tidak mau menjadi musuhmu suatu hari nanti." ucapnya dengan sedih.
Sebab akan tiba hari di mana Lazlo dan Kika berada di sisi yang berlawanan. Sama seperti saat pertama kali mereka berjumpa.
Ya Tuhan, udah dua tahun lebih! Semalam ketika saya sedang membuka youtube tiba-tiba teringat fic ini. Yup,karena PS2 saia rusak, alhasil saia harus nonton gameplay Suikoden IV di youtube. But hei, its fun. Mungkin juga karena belakangan Konami sedang melakukan perubahan besar-besaran terhadap video game mereka. Saia berharap suatu hari nanti Konami akan melirik Suikoden. Game ini layak untuk mendapatkan spot light
Plus, saia berencana untuk berpisah dari dunia menulis karena harus fokus mengerjakan skripsi. Jadi sekarang saia sedang melanjutkan beberapa fanfiction yang sempat terbengkalai.
Saia merasa kalau Helmut terlalu mudah untuk menyerah. Untuk itu saia membuat versi ini. Juga buat pertemuan Lazlo dengan dua sahabtny, kurang emosional. Dan entah kenapa saia ngerasa kalau saia jadi bikin TroyXFlare dalam fic ini, hahahaha. Mohon maaf jika ada beberapa yang melenceng dari canon
Well, I guess this is it. Sampai jumpa di update selanjutny, yang entah kapan itu akan terjadi, saia tidak tahu *bows down*
