Wah..wah ternyata ff ini banyak followersnya yah ga nyangkaa…tapi tapi tapi kalian kok ga ngasih review sihh *plakk, yasudlah semoga Tuhan berbaik hati membuka hati kalian hahaha *becanda.
Maaf seharusnya ff ini saya post kemarin Cuma, berhubung banyak kerjaan saia jd bolos deh, trus sepertinya saia bakal postnya minggu depan pan besok lebaran, ah ne, Minal Aidzin yaa readers…buat yang merayakan.
Kalau ada yang ga ngerti sama jalan ceritanya, gpp wajar ko hehehe *plakk
Ga usah banyak bacot dah, monggo dibaca…
"Annyeong…Kim Jaejoong, lama tidak bertemu"
Jaejoong mengangkat wajahnya dan ternganga "Kau…"
Chapter 7
Jaejoong sontak berdiri dan menatap wajah tampan dihadapannya, sementara Yoochun tersenyum menyeringai kearahnya, "Yo..Yoochun…"
"Kau ingat?"
"Tentu saja, mana mungkin aku bisa melupakanmu" serunya senang, tangannya melepas genggaman revolver disakunya dan terangkat meraih bahu Yoochun, Jaejoong sama sekali tidak menyangka Yoochunlah orang yang akan ditemuinya, sementara Yoochun melirik dengan sinis kearah Jaejoong yang tengah tertawa.
"Bagaimana kabarmu?"
"Tidak pernah sebaik ini, ah ya Jaejoong-shii, kita bertemu untuk masalah bisnis oke"
Jaejoong terdiam, Yoochun sudah banyak berubah, ia hampir saja lupa kalau laki-laki yang berdiri dihadapannya ini adalah calon pelanggannya, sontak rasa jijik menjalar ditubuhnya, bagaimanapun Yoochun sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri, terkutuk kau Kim Jaejoong kalau kau sampai tidur dengannya' Jaejoong menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pikiran-pikiran yang berkelebatan dikepalanya.
Yoochun menatap Jaejoong sekilas, tidak banyak perubahan yang berarti dari namja-daemul ini, hanya bahasa tubuhnya yang sedikit terlihat berbeda, dalam hati Yoochun mengerang membayangkan Yunho.
flashback
11 Januari 2002
Chungnam, 10.00 pm
"Yunhoo… ti..tidakk, Jung Yunho jeball….hiks..hikss"
Yoochun melotot menyaksikan tubuh Yunho yang bersimbah darah, pelipisnya terluka sementara Kim Jaejoong menatapnya dengan pandangan kosong seakan pemandangan dihadapannya sesuatu yang sangat mengerikan, tubuh Jaejoong bergetar hebat, rambutnya kusut masai dan kedua lututnya gementar sementara bibirnya tidak berhenti menggumam "tidak..tidak..tidak…"ceracaunya kalut, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat seakan semua ini mimpi, sesekali Jaejoong memejamkan matanya kuat-kuat, Yoochun serta merta meraih tubuh Yunho yang sudah kaku, perlahan ia menatap wajah Yunho yang terpejam, bibirnya sedikit berjengit seakan menahan rasa sakit yang begitu hebat, sementara mata elang itu membelalak seolah tidak percaya atas apa yang baru saja ia lihat, sontak amarah dalam dadanya menggelegak keluar, setelah menaruh kepala Yunho, ia menoleh dan menarik kerah Jaejoong
"APA YANG KAU LAKUKAN!"
Jaejoong menatapnya dengan pandangan kosong, perlahan air matanya menetes sementara bibirnya mengatup kencang seakan tidak ada kata-kata yang sanggup ia ucapkan.
"JAWAB AKU! KAU SUDAH MEMBUNUHNYA!"
"tidak…tidak…tidak…tidak…"
"LIHAT DIA!" sentak Yoochun seraya menarik kerah Jaejoong dan menyeretnya, Yoochun dengan kesal melemparkan Jaejoong terduduk dihadapan tubuh Yunho yang terbujur kaku, Jaejoong hanya mematung, sementara Yoochun mengangkat sebelah tangannya hendak memukul kepala Jaejoong, tapi sebuah pukulan benda tumpul menghantam bagian tengkorak belakangnya
BOUGHHH
Yoochun memegangi kepalanya dan merasakan tubuhnya mulai melemas sementara matanya mulai meredup, ia hanya melihat Jaejoong tertawa sinis kepadanya.
end of flashback
"Yoochun-aah…"
"Maaf, panggil saja Park Yoochun, aku tidak biasa disapa seakrab itu oleh seseorang yang baru kukenal"
"Baru? bukankah kita…"
"Langsung saja Tuan Kim, berapa yang harus kubayar pada majikanmu?"
Jaejoong menatap Yoochun dengan pandangan terhina, apa yang sudah terjadi? kenapa Yoochun bersikap seperti ini padanya, seingatnya hubungan mereka dekat, sangat dekat malah.
"Tidak perlu"
"Apa, tenang saja berapapun harganya aku sanggup membayar, kau jangan takut"
"Anggap saja ini hadiah"
"Hadiah?"
Jaejoong mendengus "Hadiah persahabatan"
Yoochun mematung mendengar ucapan Jaejoong, rasa benci kembali menyeruak didadanya, "Seingatku kita tidak pernah menjadi sahabat Jaejoong-shii"
"Park Yoochun, ada apa denganmu? bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja!" sentak Jaejoong tidak sabar.
Yoochun mendengus kecil, perlahan ia meraih saku mantelnya dan mengeluarkan cerutu, sesekali ia mengepulkan asap cerutu itu kelangit berusaha mengimbangi udara dingin yang semakin menggigit, Jaejoong menatapnya tidak sabar
"Semuanya akan baik-baik saja, seandainya hari itu tidak pernah datang"
"Apa maksudmu?"
"Fikirlah sendiri! hari ini kurasa cukup, nanti aku akan mentransfer uangmu, selamat tinggal Kim Jaejoong" Ujarnya seraya berlalu, sebelum kaki Yoochun melangkah Jaejoong mencengkeram bahu mantelnya, Yoochun menatapnya sinis sementara Jaejoong menatapnya semakin tidak mengerti
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku?"
"Justru aku yang seharusnya bertanya, maaf aku ada urusan" tandasnya seraya melepaskan cengkeraman tangan Jaejoong dan berlalu.
Jaejoong melongo melihat sikap dingin Yoochun, perlahan ia mendudukan tubuhnya kembali dikursi taman, udara dingin yang semakin menggigit seolah kontras dengan pikirannya yang tiba-tiba terasa panas.
Yunho terdiam menyaksikan dua orang yang sama-sama berharga baginya berdebat, sang anjing yang tanggap keadaan segera menyalak, Yunho tergagap dan menoleh "Bisakah?"
Sang anjing mengangguk "Jangan sampai ia sadar kau berada didekatnya".
Yunho melangkah dengan hati berdebar, disana! terduduk seorang Kim Jaejoong yang begitu ia rindukan, yang begitu ia sayangi, ia rela menukar apapun yang tersisa dari hidupnya hanya untuk bisa bersamanya walaupun itu hal yang mustahil, Yunho seakan memasuki dunia yang indah saat langkahnya mendekat, jantungnya membuncah bahagia. "Boo-jae…"lirihnya pelan
"Boo-jae…"
Jaejoong tersentak, ia melepaskan kedua tangannya yang terkatup dan berdiri menoleh kesana kemari, tapi hanya kegelapan yang hinggap di retina matanya, suara tadi! tidak mungkin Kim Jaejoong… tapi suara itu, Jaejoong yakin itu suara Yunho, 10 tahun memang bukan waktu yang sebentar tapi selama apapun waktu yang harus ia tempuh ia tidak akan pernah bisa melupakan sedikitpun suara itu. seketika terlintas pikiran aneh dalam benaknya, apa mungkin Yunho berada disini sekarang? mungkinkah arwah Yunho yang membisikkan kata itu?
"Yu..Yu…Yunho…"ucapnya pelan, seolah ia sendiri tidak yakin mengucapkan kalimat itu, Yunho menatapnya seraya tersenyum melihat kebingungan melanda Jaejoong, dengan langkah pasti ia mendekat dan duduk dikursi taman sementara Jaejoong masih berdiri menoleh kesana kemari memastikan Yunho-lah yang mengucapkan kalimat tadi. Sadar itu hal yang tidak mungkin terjadi, ia kembali mendudukan tubuhnya persis disebelah Yunho tanpa ia sadari, Jaejoong kembali mengatupkan kedua tangannya dan menempelkannya ke hidung, berusaha memaksa otaknya untuk berfikiran secara rasional. Yunho hanya diam tanpa bisa bersikap lebih lanjut, berada didekatnya seperti ini selalu membuatnya serba salah, walaupun Jaejoong tidak menyadarinya, perlahan ia memajukan tubuhnya sehingga jarak keduanya hanya berkisar 5 centi. Dengan sedikit gugup Yunho mengangkat tangannya menyentuh tangan Jaejoong.
Sang anjing hanya bisa mendesah menyaksikan pemandangan yang memuakkan baginya, 'cinta selalu membawa masalah'keluhnya, ia kembali memperhatikan ulah Yunho yang mulai membelai rambut halus Jaejoong tanpa Jaejoong sadari. Tiba-tiba ia menoleh dan menyalak, Yunho yang sibuk dengan perasaannya sendiri tidak memperhatikan sang anjing yang mencoba memberikan teguran padanya. perlahan ia mendekatkan bibirnya mencoba mendekati wajah Jaejoong, tapi gerakannya terhenti saat sebuah teguran mengusiknya
"Boo-jae…"
Jaejoong dan Yunho menoleh bersamaan, walaupun Yunho sadar sang pengganggu tidak akan menyadari kehadirannya. Jaejoong mendongak dan berharap angannya benar tapi ia kembali harus menelan ludah saat melihat Siwon berdiri didepannya dengan mantel tebal yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
"Siwonie…"
Siwon mendudukkan tubuhnya disebelah Jaejoong yang lain. Yunho yang merasa sebal tiba-tiba merebahkan tubuhnya. Ia selalu merasa tidak nyaman melihat Siwon bersama Jaejoong, bahkan saat ia sudah menjadi mahluk seperti inipun ia masih merasa gamang melihat Siwon, entah kenapa.
"Apa yang terjadi?" Tanya Siwon memecah kebisuan yang melanda, Jaejoong hanya menggeleng lemah tidak percaya atas kenyataan yang ada.
"Jae…"
"Tadi aku bertemu dengan Yoochun"
Siwon membelalakan matanya tanpa menoleh kearah Jaejoong, rasa cemas menyergapnya seketika, bertahun-tahun ia berusaha menjauhkan Jaejoong dari semua yang berhubungan dengan Yunho tapi…
"Sepertinya ia sangat membenciku Wonie-aah… aku tidak habis fikir, ada apa dengan anak itu?"
"Lalu?"
"Sikapnya itu…seolah aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal yang tidak bisa dimaafkan"
Siwon menatap bahu Jaejoong dan menepuknya pelan, "Sudahlah jangan difikirkan"
Jaejoong menggeleng, ini tidak bisa dibiarkan! bagaimana bisa Yoochun bersikap sesinis itu padanya, padahal ia sudah menganggapnya seperti saudara, Jaejoong kembali memeras otaknya berusaha mengingat semua kenangan yang berhubungan dengan Yoochun, tapi semua terasa tidak ada yang mengecewakan.
Siwon menghela nafasnya pelan, perlahan ia melirik kearah pergelangan tangannya dan kembali menoleh kearah Jaejoong yang masih sibuk dengan fikirannya sendiri, 'Park Yoochun! untuk apa kau menemui Boo-Jaeku!'
"Wonie-aah…"
"Ya…Waeyo?"
"Apa kau tidak merasa ada yang aneh?"
"Hmm..Apanya?"
Jaejoong kembali terdiam, ia ragu mengatakan hal ini pada Siwon, bisa jadi ini merupakan salah satu fikirannya yang paling absurd dan aneh, tapi Jaejoong tidak merasa nyaman atas kelebatan bayangan-bayangan aneh diotaknya.
"Sudahlah Jae, ayo pulang, kajja"
Siwon berdiri dan mulai melangkah, sementara Jaejoong kembali menoleh kearah tiang lampu yang mulai meredup, terasa desiran halus lewat ditelinganya, seketika ia bergidik dan berdiri merapatkan scraft tebal kelehernya, dengan sedikit takut ia bergegas mengejar Siwon yang sudah menjauh.
"Bogoshippo Jae…"
Yunho mematung menatap kepergian Jaejoong, terasa sedikit sesak diulu hatinya, melihat Jaejoong berjalan bersama Siwon. Sang anjing memutar melewati kedua kakinya, Yunho melepaskan sandaran kepalanya di tiang lampu dan berjalan menjauh.
"Sepertinya ini tidak semudah yang kubayangkan"
"Memang"
"Apa yang sebenarnya terjadi, aku merasa, Yoochun akan membuka semuanya"
Sang anjing terdiam, sementara Yunho kembali sibuk dengan fikirannya sendiri. Tiba-tiba sang anjing menyalak pelan dan berlari mendahului Yunho, Yunho terdiam saat sang anjing berhenti tepat di sebuah pemakaman kumuh, disekeliling pemakaman itu hanya terlihat ilalang dan semak-semak yang tidak terawat, jantung Yunho berdegup kencang melihat sebuah pohon elk berukuran sedang, sontak tubuhnya bergetar hebat, Yunho merasa otaknya berputar kencang seakan seluruh isi dari otaknya memaksa untuk berhamburan keluar. Sejenak ia terdiam memegangi kepalanya, dan memejamkan matanya, saat itulah sebuah kilasan terlihat dibenaknya.
Flashback
"Apa yang kau lakukan!"
"Aku..aku hanya berusaha jujur"
BOUGHH
Yunho terlempar dengan kepala tersungkur ketanah, terasa sedikit asin dibibirnya. Yunho meraba bibirnya, terasa sedikit perih dan ia yakin terkoyak oleh pukulan tadi. Dengan paksa ia membalikan wajahnya menatap Jaejoong yang sedang emosi.
"Aku tidak bisa memaafkanmu, Jung Yunho!"
"Semua itu bohong Jae,,, aku bisa menjelaskannya…"
"Tidak perlu! Aku benci pembohong"
BOUGHHH
Jaejoong kembali melayangkan tendangan keperut Yunho, ia terus saja memukuli Yunho tanpa sempat memberikannya kesempatan untuk berdiri, amarah Jaejoong terlihat begitu memuncak hingga ia kalap memukul dan menendang Yunho yang sudah semakin lemah.
"Bangun brengsek!"
Yunho menyipitkan matanya berusaha membuka paksa mata yang semakin sayu, Jaejoong menatapnya dengan muak, dengan sedikit memaksa ia menarik kerah dan bahu Yunho memaksa laki-laki yang sudah payah itu berdiri, ia menyenderkan tubuh Yunho dipohon elk yang lembab. Jaejoong mencengkeram leher Yunho dan menendang perutnya berkali-kali, setelah kalap menendangi perut Yunho, Jaejoong melemparkan tubuh lemah penuh luka itu.
BAAGHHH
Terdengar bunyi berdebam saat tubuh lemah itu menabrak pohon elk yang menjadi saksi bisu kebuasan seorang Kim Jaejoong yang tengah murka. Jaejoong memandangi hasil perbuatannya dan merogoh sakunya.
Yunho mencoba menggapaikan tangannya "Jae…Jeball semua itu bohong, kau percaya padaku kan…bukan aku yang melakukannya…sungguh…percayalah"
"DIAM!" Sentak Jaejoong kesal, Yunho berusaha berdiri dengan susah payah, sementara Jaejoong semakin erat mencengkeram saku celananya. Yunho semakin mendekat kearah Jaejoong, sementara Jaejoong membatu ditempat.
"Siapapun boleh tidak percaya padaku…tapi kau harus percaya Jae…" ucap Yunho disela airmata yang mulai turun dari mata elang yang membengkak, Jaejoong terus saja mematung, otaknya seakan sudah dipenuhi oleh amarah sehingga tidak ada sedikitpun keinginan dalam dirinya untuk mendengarkan ucapan Yunho. Yunho semakin mendekat dan meraih bahu Jaejoong, tepat sebelum Yunho mendekatkan wajahnya, tangan Jaejoong melayang tanpa kontrol dan…
DOORRR
Yunho mematung menatap Jaejoong yang melotot, Jaejoong ternganga melihat Yunho yang terdiam sementara Yunho merasa matanya seakan berkabut dan gelap.
end of flashback
Yunho membuka matanya dan menatap sang ajing yang melotot kearahnya, "Sudah kembali rupanya"
nafas Yunho memburu mendengar ucapan sang anjing, dengan sedikit tergesa ia berdiri dan menghampiri sang anjing yang tengah berdiri diatas sebuah pusara kusam
"Apa itu benar? Semua yang kulihat itu nyata?"
"Tentu saja, apa kau fikir itu mimpi"
"Benarkah Jaejoong melakukannya?"
"Nanti kau akan mengetahui semuanya, bersabarlah"
Yunho terdiam mendengar ucapan pendek sang anjing, kegamangan melandanya, bagaimanapun ia memang tidak mampu mempercayai semua yang ia lihat, tapi kenapa bayangan itu ada dalam otaknya seolah baru saja terjadi, Yunho meremas kepalanya bingung sedangkan sang anjing hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Seoul
06 Januari 2011
10.30 am
Siwon menatap lembaran foto buram yang hampir 10 tahun tidak dibukanya, ia tidak mempunyai keberanian untuk sekedar menatap foto itu, sekalipun rasa rindu membuncah begitu menggelora didadanya, perlahan tangannya mengusap foto yang terasa kasar ditangannya, jantung Siwon berdegup kencang saat air mata menggenang dipelupuk matanya yang kelam.
"Sudahlah Hyung…"
Siwon mengusap matanya dan membalikkan tubuhnya seraya tersenyum menatap Kibum yang memperhatikannya sedari tadi, Kibum meremas tangan Siwon memberikan namja tampan itu sedikit kekuatan.
"Aku rindu padanya"
"Dia pasti bangga mempunyai kakak sepertimu"
"Aku bukan kakak yang baik, aku tidak pernah membuatnya bahagia sedikitpun"
Kibum merenggangkan tangannya dan memeluk Siwon dari belakang, Siwon melepaskan foto itu dan memegang erat tangan Kibum, matanya menengadah menatap jendela yang terbuka lebar menampakkan langit Seoul yang kelabu dengan suara lirih ia berbisik "Saengil Chukkahamnida Choi Miharu…"
Flashback
Chungnam, 06 Januari 2002
08.00 pm
Siwon menatap Miharu yang tengah sibuk dengan pakaiannya, beberapa gaun tercecer diatas King size bednya, sesekali gadis muda itu meraih gaun dengan paksa dari dalam lemari, memasangkannya ditubuhnya dan mematut diri didepan cermin, setelah menimang sebentar gaun itu dilempar dengan sedikit kesal, hal itu terjadi sampai lemari itu hampir kosong.
"Yang ini bagaimana…" tanyanya entah pada siapa, Siwon yang memang berada disana dengan cepat berdiri dan menghampiri adik semata wayangnya itu. Dengan sedikit kesabaran Siwon membetulkan bunga mawar hiasan yang tersemat di bahu kanan Miharu, Mawar merah muda itu kontras sekali dengan gaun miharu yang berwarna senada.
"Semua yang kaupakai selalu terlihat sempurna dimataku Mii-chan…"ucapnya lembut, Miharu menatap kakak laki-laki satu-satunya ini, Siwon balas menatapnya memastikan bahwa ucapannya tadi adalah tulus. Miharu membalikkan tubuhnya kembali menatap cermin, ia tersenyum menyeringai, 'Siwon-oppa benar, apapun yang kupakai akan selalu sempurna'. Dengan senyum merekah ia menatap Siwon kembali "Jaejoong-oppa akan datang kan?"
Siwon mengangguk pasti, Jaejoong sudah berjanji padanya sekalipun ia terlihat terpaksa saat mengatakannya.
10.00 pm
Beberapa pasang muda mudi berkumpul dengan sedikit mencolok, terlihat sekali mereka saling mencari muka disana sini, beberapa gadis malah lebih terang-terangan menggoda para laki-laki kaya, relasi keluarga Choi yang terpandang. Yunho yang datang terpaksa malam itu hanya bisa terdiam menyendiri disudut ruangan, dengan wajah bosan ia mengedarkan pandang kesegala arah mencoba mencari orang yang ia kenali, coba ia mengajak Yoochun tadi, mungkin ia tidak terlalu bosan dan kesepian disini. Yunho merasa tersesat didunia lain melihat pemandangan didepannya, orang-orang yang kaya yang arogan dan orang-orang yang seperti dirinya yang berusaha membaurkan diri dengan cara-cara yang menjijikan dimatanya.
PLUKK
Yunho menoleh dan memasang ekspresi antara senang dan tidak perduli ketika Jaejoong menepuk pundaknya dan duduk disebelahnya, beberapa gadis melihat kearah mereka berdua, Yunho merasa sedikit risih dengan tatapan para gadis yang mencoba mencuri perhatian seorang Kim Jaejoong, dalam hati ia mengeluh pesona Jaejoong memang tidak bisa disembunyikan, sekalipun ia seorang begundal. Jaejoong terlihat menikmati rasa penasaran para gadis itu dengan bersikap seolah-olah ia pemuda tampan dan berkharisma, dan Yunho sangat membenci hal itu. Seandainya ia juga seorang Tuan Muda, ia pasti sudah menarik Jaejoong keluar dan mengacungkan jari tengahnya pada gadis-gadis norak itu.
"Kau sepertinya senang berada ditempat-tempat seperti ini" tuduhnya sebal. Jaejoong meliriknya sekilas dan kembali membalas sapaan beberapa gadis yang entah tidak tahu malu atau tidak punya wajah.
"Waeyo? kau iri, atau cemburu"
Yunho merasakan wajahnya memanas, Jaejoong meliriknya dan tersenyum dikulum, rona merah dipipi Yunho tadi tidak bisa tidak membuatnya senang, akhirnya laki-laki ini cemburu juga'batinnya.
"Tidak, aku hanya merasa kasihan pada mereka"
"Mereka sepertinya senang"
"Kau memang tidak bisa membaca pribadi para gadis"
"Memangnya kau tahu, kau sendiri, apa yang kau lakukan, seorang murid pintar sepertimu malah duduk sendirian dan terlihat kesepian dipojok seperti ini, memuakkan" balas Jaejoong tidak mau kalah.
"Tidak, aku tidak kesepian" sergah Yunho cepat
"Lalu…"
"Aku menunggumu Boo…"
"Sialan kau…" Ucap Jaejoong malu, ia menunduk menyembunyikan rona merah yang menjalar dipipinya, Yunho menggeser tubuhnya dan mendekat kearah Jaejoong,
CHUU~
Jaejoong sontak menoleh dan menatap Yunho dengan pandangan serba salah, dengan cepat ia memalingkan wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, Yunho yang sadar keadaanpun segera membalikan tubuhnya dan mengambil gelas minumannya.
Miharu meremas ujung gaunnya sebal, para tamu rupanya sibuk dengan urusannya masing-masing tapi ia melihatnya, ia melihat apa yang sudah Jung Yunho lakukan pada Jaejoong-nya, sontak kemarahan menjalar ditubuhnya, ini adalah hari ulang tahunnya, tapi kedua laki-laki itu memberikannya sebuah kado yang sanggup membuat amarahnya meledak. Dengan sedikit marah ia bergegas menuju kedua orang tuanya dan Tuan Kim berkumpul.
Siwon menatap Yunho seksama, ia tidak sengaja melihatnya tadi, dengan hati gamang ia berjalan mendekati keduanya,
"Kim Jaejoong…sudah lama?"
Jaejoong dan Yunho membalikkan tubuhnya bersamaan, Yunho menatap laki-laki jangkung dihadapannya dengan tatapan tidak nyaman, ia merasakan firasat tidak enak dari laki-laki ini.
"Choi Siwon imnida…" ujar Siwon seraya mengangsurkan tangannya kearah Yunho yang segera disambut Yunho dengan senyum tipis "Jung Yunho imnida…"
Jaejoong menatap kedua lelaki muda yang sedang berkenalan dihadapannya dengan pandangan sulit ditebak, ia kembali menoleh kearah Siwon yang mencoba membuka percakapan dengan Yunho, dalam hati Jaejoong kembali bertanya-tanya apa maksud Siwon sebenarnya, lelah berspekulasi Jaejoong memilih untuk tidak ikut dalam pembicaraan ini, ia tidak begitu tertarik melihat Yunho berbincang dengan namja lain selain dirinya, dengan cepat ia meraih gelas minumannya dan mendekatkannya kemulutnya, tapi sebuah tepukan halus mengusiknya, Jaejoong menoleh dan terdiam…
tbc again…*plokkk
see you next chapter…jangan lupa tinggalkan jejak anda
