Hn
Chapter 7
.
.
.
.
"Walah Min, Ternyata kamu disini! Dicariin dari tadi ternyata malah ngeborong makanan," ucap Yunho sambil menoel-noel bahu si Umin yang sibuk dengan makanannya. Si Ahjussi malah sibuk menutupi mukanya dengan topi yang dipakainya serta sibuk membenahi jaket berbahan jeans-nya. Matanya melirik ke arah 3 orang yang mencurigakan.
Dan 3 orang itu malah sibuk senyum-senyum di balik stan yang menampilkan lukis sketsa wajah.
Jujur, si Ahjussi malah pengen ngulek-ulek 3 orang itu…
"Min,"
Perhatian si ahjussi kembali menuju ke arah si Changmin yang dia ketahui adalah seorang mahasiswa S1 jurusan biologi. Dirinya sendiri sudah S2 dan pernah penelitian di kelasnya Changmin.
Pernah bilang kalau Changmin gampang lupa dengan wajah orang?
Gesture menyapa pun jadi sia-sia karena dirinya dianggap Ahjussi oleh si Umin.
"Cepetan minta maaf ama yang ngantri dan akhirnya enggak kebagian makan gara-gara kamu!" ujar Yunho. Changmin membulatkan kedua matanya. Dia memang suka makan banyak tapi kan enggak segitunya juga!
"Yunho Hyung jahat! Tyrant!" ucap Changmin dengan ekspresi mewek berat. Jujur, si si Ahjussi pengen sekali memeluk Changmin dan bilang 'cup cup anak Appa yang unyu jangan mewek…'
Tapi kan dia masih tahu yang namanya harga diri bro!
"Udah, ayo cepetan pergi. Udah bayar kan?!"
"Hn."
"Kajja!"
"Ahjussi, aku duluan ya!" ucap Changmin sambil membungkuk ke arah si Ahjussi yang segera dibalas dengan anggukan pelan. Ketika Changmin sudah berlalu, muncullah 3 orang yang sedari tadi mengendap-endap tidak jelas di balik stan.
"Wkwkwkwkwkwk…. Hyung…. Ahjussi… muahahahahha!"
"Diem lu!"
"Seuhyun hyung kan emang udah Ahjussi!"
"Jiyong, sekali lagi kau panggil aku Ahjussi, kusuruh kau bersihin WC."
"Muahahahahha! Seorang rapper terkenal yang baru saja menyelesaikan tesisnya dipanggil Ahjussi oleh salah satu mahasiswa penghuni kelas eksperimennya!" ujar si maknae alias Seungri yang terkenal ember. Seuhyun segera menimpuk kepalanya dengan sendok.
"Deasung hyungg… aku diulek sama TOP hyung…." Rengek Seungri dengan sok imutnya. TOP hanya memutar bola matanya. Seimut-imut maknaenya, masih imut si Umin tadi kalo mewek.
Ups.
"Kelihatannya si Ahjussi merasakan aura kebapakan yang begtiu kuat ketika bersandingan dengan si tiang listrik tadi. Cocok dah, bapak ama anak!" ujar Daesung sambil mengibaskan rambutnya yang menutupi matanya. Jujur, aura di sekitar mereka jadi agak sedikit dazzling.
Oh ya?
Apakah ini rasanya pengen menikah dan punya anak?
Tapi dimana dirinya bisa mencari istri yang akhirnya bisa memberikan anak yang serupa dengan Changmin?
Hanya Tuhan yang tahu akan hal itu… =,=!
.
.
.
"Min, kau tahu?"
"Apaan?"
"Akhirnya Minnie mau menerima cintaku!"
Changmin yang sedang minum jus segera tersedak ketika mendengar nama Minnie, pasalnya dia dulu pernah dipanggil Minnie oleh orang yang berada di sebelahnya.
"Minnie yang mana?"
"Si kakak tingkat…"
Hancur sudah hati Changmin ketika mendengar akan hal itu. Namun itu juga salahnya yang tidak segera mengambil langkah untuk mendapatkan teman satu SMA-nya itu.
Namun bukankah sebagai sahabat yang baik dia harus memberikan support hingga si teman bisa move one dulu?
Ini yang salah siapa?
"O-oh…"
"Responmu gimana sih?"
"Chukkae, Kyu-ah…"
"Hey! Gini-gini masih tuaan aku dibandingkan kamu!"
"Cuma beberapa hari doang, kan?" ucap Changmin sambil menatapi rintik-rintik hujan yang jatuh kea tap kantin fakultas. Apakah langit memberikan simpati padanya?
"Oh ya, aku dapet pesan nih! Tinggal dulu ya!"
Dan Changmin pun Cuma bisa menghabiskan jus jeruk yang tinggal separuh di depannya. Rasanya benar-benar asam manis (agak kecut) sesuai dengan keadaan hatinya yang buyar.
'Kok gini sih hidupku?'
'Aku mau pulang…'
'Males kuliah…'
'Tidur,,,, di kasur….'
'Makan….'
Dan begitulah isi gumaman hati si Changmin yang barusan patah hati di kantin fakultas dekat gedung biologi.
.
.
.
"Ahjussi~"
TOP hanya memberikan tatapan tajam setajam pisau bedah(?)
"TOP ahjussi mau kemana? Menemui nak Chwang, ya?" goda Taeyang dengan aura cekikikan di belakangnya.
"Chwang?" Tanya TOP dengan nada penuh alarm. Chwang….chwang!
Dan aura bapak-bapak pun muncul… =,=
"Walah Hyung, lain kali sering-seringlah nge sosmed biar tahu apa-apa yang terjadi di dunia ini…" ujar Daesung sok puitis dengan aura mendayu-dayu. Seungri segera berpose bak orang yang tidak kuat akan silaunya cahaya penuh inspirasi dari Daesung.
"Aku sering sosmed an…" ujar TOP datar. Jiyoung segera menepuk-nepuk bahu TOP.
"Maksudku sering-seringlah cari info mengenai berita yang hot gitu… adik yang pernah kau temui waktu melakukan penelitian tesismu itu sebenarnya terkenal seantero anak teknik…"
"Oooo…"
"Kurasa kita sedang berhadapan dengan sang ayah yang protektif banget ya?" ujar Seungri. Taeyang manggut-manggut sambil nahan tawa.
"Makanya…. Banyak orang yang nge-fans ama Changmin mulai ngejuluki Changmin dengan kata 'Chwang'…."
"oo…"
.
.
.
Perjalanan menuju rumah agak terganggu mengingat tidak adanya angkutan kota yang lewat dari tadi. Jadilah Seuhyun jalan kaki sambil sibuk menyeimbangkan payung yang dibawanya. Jalanan semakin lama semakin sepi.
Ketika melihat siluet manusia setinggi tiang listrik yang jalan dengan posisi mencurigakan, TOP sudah siap dengan kuda-kuda yang baru saja dipelajarinya di kelas bela diri singkat.
Namun semakin diperhatikan kok kayaknya kenal ya?
Sosok berpayung hitam di depannya (dengan jarak 10 meter) itu terlihat begitu pundung (?) sepundung payung hitam yang digunakannya. Seuhyun baru bisa menyadari siapa orang itu ketika si pemilik payung hitam berhenti, melepaskan payung, duduk bersimpuh dan…
"Huweeee…!"
Buset! Si Umin yang baru saja ditemuinya waktu car free day mewek di pinggir jalan dengan kondisi bersimpuh. Seuhyun melirik ke kanan kiri untuk memastikan tidak adanya saksi mata di alam sekitar(?).
Ketika si Umin berniat untuk berguling-guling tidak jelas, sebuah tangan penyentuh bahunya. Secara reflek Changmin menoleh dan menemukan wajah seseorang yang agak buram akibat air hujan (dan air mata =,=)
"Nugu?"
Seuhyun pengen banget kayang di tempat.
"Hei… kenapa kau disini? Dan nangis segala lagi?"
"Bukan urusanmu! Aku pengen mewek!"
Walah….
Dan ketika Seuhyun mengeluarkan sapu tangan dan memayungi Changmin dengan payungnya, changmin tetep saja meneruskan adegan meweknya. Aura protektif pun muncul dan membuat Seuhyun mengusapkan muka Changmin yang tak berbentuk (?) itu dengan sapu tangannya. Changmin masih saja duduk di aspal ketika tangan berlapiskan sapu tangan mengusap kedua pipinya (dan mengelap ingusnya =,=)
"Kajja, kuantar pulang."
"Enggak mau! Bisa pulang sendiri…"
Lah…
Dan ketika pandanganya menjadi cerah, Changmin baru menyadari kalau yang memayunginya adalah orang yang pernah penelitian di kelasnya. Siapa ya namanya?
"Namanya Hyung siapa? Mianhe aku lupa…"
"Kalau kukasih tahu, janji ya mau pulang? Kuantar…"
"Enggak mau…"
Seuhyun menghela napas berat..
.
.
.
"Walah…. Patah hati?" ujar Seuhyun sambil manggut-manggut. Andaikan saja Changmin tahu kalau anak teknik banyak yang naksir dirinya, tentu hidupnya tidak sesengsara begini. Namun Seuhyun tidak berani untuk komen.
"Aku salah apa? Aku enggak jelek-jelek amat kan?" ujar Changmin dengan aura biru-biru gloomy . Seuhyun menghela napas panjang.
"Good looking itu relative…"
"Dan jelek itu mutlak! Huweee!"
Dan Changmin kembali mewek dengan Seuhyun yang sibuk membantu dirinya untuk bangun dari posisi bersimpuh. Siapa sih yang bilang Changmin itu jelek? Duh, anak ini….
"Apakah ini yang namanya kualat?!" ratap Changmin sambil mengingat-ingat waktu dirinya yang begitu tidak percaya kalau Yunho itu termasuk ganteng. Apakah ini adalah sebuah karma karena menghina Yunho bak pemain ketoprak? Ya Tuhan…. Tolong bantu si Umin… =,=
Seuhyun sama sekali tidak mengerti, lebih baik Tuhan membantu Seuhyun timbang membantu si Umin…
Dan pandangan Changmin yang tiba-tiba teralih ke arah seseorang berpakaian jas hujan yang sibuk membuang sampah membuat Seuhyun membelalakkan matanya. Karena di detik selanjutnya Changmin berlari dan memeluk orang itu.
"Yunho hyung…! Huwe…. Mianhe….!" Ucap Changmin sambil memeluk sosok berjas hujan yang kelabakan karena hoodie miliknya yang menutupi mukanya. Seuhyun dengan tenang melerai dan membukakan hoodie jas hujan yang menutupi penglihatannya. Setelah Yunho sudah mampu memahami keadaan sekitar, akhirnya Changmin kembali memeluknya…
Bau bedak bayi…
Itulah yang terlintas di pikiran Yunho ketika hidungnya tidak sengaja menghirup aroma leher si Umin. Namun pandangan laser dari Seuhyun pun mengalihkan dunianya(?)
'Kuserahkan dia padamu… dada…'
Setidaknya itulah gesture Seuhyun sebelum dia menghilang ditelan bumi. Meninggalkan Yunho yang masih bingung dengan Changmin mengenai mau diapakan nih anak orang.
"Min… sudah… cup cup.. ada apa kok nangis segala?" ujar Yunho sekenanya. Dia yakin Jae bakalan panik bukan kepalang saat ini.
"Yunho hyung… mianhae sudah menghina hyung kaya pemain ketoprak… mianhae sudah bilang hyung kaya beruang kutub… huweee…"
Yunho malah makin tidak mengerti.
Well, setidaknya dengan secangkir coklat panas dan piyama lama Yunho di tubuhnya akhirnya Changmin mau cerita masalah kehidupan cintanya yang 'ngenes' pada Yunho. Sebagai sosok kakak yang baik, Yunho manggut-manggut tanda mengerti.
"Kau kurang cepat, min."
"Tuh kan! Tapi gimana mau bilang kalau dia masih proses move on?"
"…"
"Yunho hyung jelek! Beruang kutub bulukan!"
"Ap- aish! Apa hubungannya aku sama gebetanmu anak fisika itu!"
Changmin hanya manyun sambil menenggak coklat panas buatan Yunho yang ala kadarnya. Keadaan rumah Yunho terlihat sepi mengingat keluarga besarnya sedang berlibur dan Yunho terpaksa tinggal demi skripsinya.
Hingga tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon yang mengagetkan keduanya. Yunho segera bangkit dan mengangkat gagang telepon rumahnya.
"Annyeong, Yun!"
"Ya, aku tahu. Changmin ada di rumahku…" ujar Yunho sambil menoleh ke arah Changmin yang sibuk geleng-geleng dan tangannya membentuk tanda silang ke arahnya.
"Niatannya minjem payung kesini gara-gara hujan… eh malah merem…" ujar Yunho sekenanya.
"Sudah lama ya meremnya tuh anak?" Tanya Jae penasaran. Yunho menoleh lagi ke arah Changmin yang sibuk menggoyang-goyang cangkir berisi seperempat coklatnya.
"Agak lama… aku tidak bisa membangunkannya."
"Chwang kalo tidur memang kaya koala. Nanti kalau hujannya reda biar kujemput.," ujar Jae. Yunho mengangguk dan memutuskan hubungan telepon.
Namun hujan terus menerus turun hingga Jae harus merelakan kalau Umin bakalan 'dikembalikan' oleh Yunho esok paginya. Yunho pun dengan susah payah mengangkat tubuh Changmin ke tempat tidur di kamar tamu dan beralih menuju ke kamarnya sendiri.
'Akhirnya merem juga…' ujarnya dalam hati dengan aura bunga-bunga…
.
.
.
"Hyungg…."
"…."
"Yunho-hyung…"
"…."
Changmin ingin sekali memasukkan boneka tokek untuk menyumpal mulut Yunho yang menganga ketika tidur. Dirinya yang mendatangi Yunho sempat berjingkat ketika melihat 'penampakan' yunho ketika tidur. Ditambah dengan efek kilat yang sejak tadi muncul, muka tidur yunho yang mulutnya terbuka plus mata yang tinggal putihnya doang cukup membuat suasana bak di rumah hantu kelas bisnis(?).
"Hyungg…." Ujar changmin sambil menoel-noel lengan atas yunho. Namun tetap saja tidak ada respon yang berarti.
Dan Changmin pun membekap wajah Yunho dengan selimut tebalnya. Seketika Yunho terbangun dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Didapatilah rolade ala Umin yang duduk di lantai sambil sibuk memainkan jarinya.
"Ada apa, Min? Mau ke kamar mandi?" Tanya Yunho. Changmin segera melemparkan boneka bambi yang duduk manis di sebelahnya ke arah Yunho. Yunho untuk yang kedua kalinya kelabakan.
"Mintak obat…"
"?"
"Hyung punya paracetamol?"
Mata Yunho memicing ke arah Changmin yang cemberut. Lalu tangannya melayang ke arah dahi Changmin dan akhirnya menemukan inti dari permasalahan.
"Kau demam, Min!"
Changmin memutar bola matanya.
"Iya…Yunho-hyungg…." Ujar Changmin sambil memasang wajah sinis. Namun tiba-tiba dirinya diangkat ke udara dan bertemu dengan empuknya ranjang king size dengan posisi muka duluan. Di sebelahnya terlihat Yunho yang sibuk dengan kotak obat.
"Kau alergi apa?"
"Hyung punya paracetamol?"
"Hm…"
Changmin akhirnya memberanikan diri untuk ikut-ikutan nimbrung dan mengecek kandungan obat-obatan sachet yang tertera disana. Namun tidak satupun yang mencantumkan kandungan paracematol. Jujur, Changmin agak kesal.
Hingga tiba-tiba matanya beralih pada botol sirup yang terlihat mencurigakan. Dan benar saja, isinya ada paracetamolnya.
"Aku minum ini saja, Hyung."
Mata Yunho membulat.
"Itu obat penurun demam buat anak 10 tahunan, Min!"
"Daripada yang begituan! Ini ada kandungan paracetamolnya, Hyung!" ujar Changmin yang membuat Yunho sadar kalau Changmin lebih mengerti dibandingkan dirinya mengingat jurusan yang diambil Changmin.
"Baiklah, terserah saja…:"
Changmin pun segera teler karena efek samping obat yang seharusnya untuk anak-anak itu. Untuk mengurangi kekhwatiran, Yunho menempelkan kompres kool-aid di dahi Umin dan menahan tawa ketika melihat wajah konyol Changmin yang berduet dengan kompres tempel yang biasanya dipakai anak-anak SD.
Dua jam kemudian, Yunho kembali di toel-toel oleh Changmin. Dengan perlahan dia bangkit dari tepat tidur dan menemukan Changmin dengan posisi yang sama waktu membangunkannya di awal tadi.
"Kenapa Min?"
"Hyung… tolong antar aku ke rumah sakit…."
Yunho langsung sibuk memegang-megang bahu, lengan dan bagian tubuh lainnya. Changmin hanya diam sambil meringis.
"Kenapa?"
"Aku barusan muntah… ini sudah 3 kalinya Hyung… aku mau ke rumah sakit…" rengek Changmin sambil memegangi perutnya.
"Mungkin itu efek sampingnya kamu demam,Min."
"Perutku sakit…"
"Aku punya obat untuk itu… ayo sekarang ke kamar."
Jujur, Changmin merasa takut mengingat gejala yang dia alami sangatlah berbeda dengan yang biasanya. Apalagi sakitnya kini berpusat di daerah bagian atas pinggul kanannya. Yunho tidak bisa diajak kompromi untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
"Hyung…"
"Hm?"
"Ayok ke rumah sakit… aku takut…"
"Kenapa?"
"Rasanya beda Hyung… sama demam biasa… aku tahu tubuhku sendiri, Hyung…"
Yunho hanya bisa mengasumsikan kalau Changmin terlalu parno terhadap penyakitnya. Namun mengingat Changmin lebih tahu keadaan tubuhnya sendiri cukup membuatnya ikut khawatir.
.
.
.
Tbc
