Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke & Sakura
Genre : Horror, Mystery, little romance (maybe)
.
.
.
Enjoy With This Story
.
.
.
Kejarlah aku sampai kau tak mampu lagi mengejarku,
Satu nyawa akan pergi jika kau tak mampu menemukanku,
Raga tanpa jiwa, berjalan dalam kegelapan malam,
Senandung sedih selalu ku lantunkan…
Temukanlah aku maka aku akan menemukanmu,
Mawar berdarah akan selalu menuntunmu,
Jerit kesakitan akan terngiang di kepalamu,
Jangan lari atau kau tak akan kembali,
Pilihan adalah salah satu kunci hidupmu,
Pilih satu atau kau akan terjebak disini bersamaku selamanya….
.
.
.
Chapter 7
'Tik Tik Tik'
Suara seseorang mengetik terdengar. Terlihat seorang wanita berusia 20-an tengah terduduk di kursi kerjanya. Bola mata yang berwarna merah kehitaman miliknya menatap lurus pada layar laptopnya. Sesekali jemari wanita cantik itu terhenti sejenak dan mulai mengetik lagi. Pandangannya hanya beralih pada secarik kertas lalu memfokuskan lagi kearah pekerjaan yang terpampang di depannya. Segelas kopi hangat menemani pekerjaannya di sore hari ini.
Hal ini sudah biasa ia –Mitarashi Anko- lakukan. Guru yang mengajar mata pelajaran Fisika di TSHS itu sudah sering lembur untuk menyelesaikan laporan nilai dari siswa-siswinya. Guru cantik itu sesekali mengurut dahinya lelah dan penat. Tentu saja lelah, ia sudah berada di depan layar laptopnya sejak 3 jam terakhir ini. Walaupun matanya dilindungi oleh sebuah kacamata, tapi tetap saja cahaya dari layar laptopnya membuat matanya sedikit sakit. Dia sedikit merutuki dirinya yang lambat akan laporan ini. Biasanya dia hanya memerlukan waktu 2 jam untuk memasukkan data-data nilai siswa kedalam laptopnya. Tapi kali ini entah mengapa sedikit lebih lama dari biasanya. Tak lupa juga, bahwa guru cantik ini melupakan fakta bahwa tempat dia mengajar ini adalah tempat yang menjadi tempat pembunuhan siswanya.
'Tik Tok Tik Tok'
Sepi. Tak ada siapa pun. Hanya suara jarum jam berdetak yang menjadi backsound diruangannya. Awalnya memang ia tidak sendiri. Ada 3 guru lagi yang sama-sama lembur seperti dirinya. Memang ia sedang sial mungkin, ke-3 rekan gurunya malah pergi menghilang entah kemana. Alhasil hanya dirinya saja yang tersisa. Sendirian di ruang guru mengerjakan laporannya ditemani secangkir kopi hangat yang tinggal seperempat gelas saja. Tangan lentiknya masih dengan lincah menari diatas keyboard. Waktu terus berlalu dalam keheningan.
'Drrttt Drttttt Drrrrrtttttt'
Suara getaran ponsel miliknya mengalihkan perhatian guru cantik itu. Tanpa melihat nama sang penelpon, ia langsung mendekatkan ponselnya kearah telinganya setelah menekan tombol 'answer' tentunya.
"Moshi-moshi…"
"….."
"Halooo…dengan siapa disana?"
"….." tak ada jawaban. Mitarashi Anko mengerutkan dahinya bingung karena tak mendengar suara apapun dari seberang telepon. Memandang layar ponselnya guna melihat siapa yang menelpon, namun tak tertera nama maupun nomor dari sang penelpon.
"Hei, siapapun itu aku tak suka jika kau menggangguku. Apalagi disaat aku sedang lembur !"
'KLIKK'
Anko mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia kesal. Benar-benar kesal. Tak suka acara lemburnya diganggu oleh orang yang tak jelas.
'Drrttt Drttttt Drrrrrtttttt'
Lagi. Ponselnya lagi-lagi bergetar. Dengan sedikit emosi, Anko memencet tombol jawab dengan kasar dan mendengus tak suka.
"Hei…! Siapa kau?! Jangan coba-coba mengerjaiku ya…!"
"….." masih sama. Tak ada jawaban sama sekali.
"Hei, dasar penge-"
Kata-kata Anko terputus kala telinganya menangkap sebuah suara serak dari seberang telepon. Suara yang mampu membuat siapa saja merinding takut. Tanpa berkata-kata lagi, Anko mematikan sambungan teleponnya secara sepihak lagi. Sekarang terliht jelas raut terkejut dan ketakutan pada wajah cantiknya.
'SREKK SREKK'
Terdengar suara berisik dari balik rak buku yang ada di ruang guru. Anko menajamkan indera pendengarannya guna menangkap suara itu lagi.
'SREKK SREKK'
Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seperti benda-benda bergesekan. Meneguk kopinya yang terakhir dan menutup laptopnya, Anko lalu bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan perlahan kearah sumber suara. Jantungnya berdetak lebih cepat kali ini. Dia takut tentu saja. Sendirian di ruang guru atau mungkin ia sudah benar-benar sendirian di sekolah ini. Memberanikan diri, kepala guru cantik itu mengintip dari balik rak buku. Tapi kemudian helaan nafas lega ia hembuskan.
"Hahh, ku pikir apa…ternyata buku yang terbuka terkena angin. Huh, tak ada hantu apapun disini. Ya tidak ada, semuanya akan baik-baik saja…" gumam Anko kepada dirinya sendiri.
"Fiiuuuuhhhh~….."
'DEG'
Tubuh Anko seketika menegang. Matanya terbelalak. Bulu kuduknya meremang seketika. Ia merasakan ada hembusan nafas seseorang yang menerpa leher jenjangnya. 'Dingin' hembusan nafas itu terasa sangat dingin. Dengan gerakan patah-patah, Anko berusaha membalikan tubuhnya kearah belakang.
'DEGG DEGG'
Wajahnya yang pucat semakin bertambah pucat. Raut ketakutan jelas semakin terlihat di wajah cantiknya. Lidahnya kelu tak bisa bicara. Bahkan tubuhnya serasa dilem. Sama sekali tak bisa bergerak. Kini di hadapannya, tepat di depan wajahnya terlihat sesosok makhluk bergaun putih panjang. Wajah sosok itu memandang lurus kearah Anko. Namun rambut panjang sosok itu menjuntai menutupi wajahnya.
'BRAKKK'
Ia –Anko tak merasakan apapun saat tubuhnya tiba-tiba melayang dengan cepat dan membentur pintu ruang guru sehingga terbuka. Tubuhnya serasa remuk kala menghantam dinding koridor di depan pintu ruang guru.
"Ughh…" lenguhan kesakitan keluar dari bibir tipis Anko. Dia yakin kalau tulang punggungnya kini benar-benar patah. Belum sempat mengambil nafas banyak, tubuh sintalnya tiba-tiba terangkat diudara dengan sebuah tangan pucat yang mencekik lehernya.
"Aa.. " rintihan sesak jelas ia suarakan dengan sekuat tenaga. Rontaan pun tak luput ia lakukan.
"Kau sendiri dan jiwamu akan pergi…."
"Kepura-puraan dan keberanianmu akan terkuak dan terbuang sia-sia…"
Sosok itu berucap dengan dingin dan menyeramkan. Anko yang mendengarnya semakin memberontak keras. Kedua kakinya menendang-nendang udara. Kedua tangannya berusaha melepaskan cekikan kuat dari sosok yang menyeramkan. Anko tahu apa maksud perkataan sosok itu. Ia bukan orang bodoh tentu saja. Guru cantik lulusan Universitas terkenal di Amerika ini paham betul bahwa dirinya tak bisa berbuat apa-apa akan sosok itu. Ia menyesal dan pasrah akan keadaannya saat ini. Kilasan kisah masa lalu tiba-tiba menyeruak di ingatannya. Ingatan yang tak terkendali layaknya rol film yang telah rusak. Tak terasa air mata mengalir dengan deras melewati pipi mulusnya, dagu dan menetes di tangan dingin nan pucat sosok yang mencekiknya.
"Masa lalu yang terus terbayang akan membawamu dalam kesengsaraan. Dirimu tak sadar akan sesuatu yang telah menjadi sebuah rahasia…." Sosok itu terus berucap. Cekikan pada leher Anko semakin mengencang.
"Hikss, hikss…Akk-aku…akhh" dadanya kini benar-benar terasa sangat sesak. Ia sudah tak mampu meronta lagi. Tubuhnya lemas bukan main. Kini yang ia lakukan hanyalah memandang sendu sosok yang sebentar lagi mungkin akan mengambil nyawanya. Senyum miris tersungging di bibir merahnya.
"….ak-akkuh…kh-khh.."
"Simpan semua omongan pedihmu, simpan semua segala bentuk penghianatanmu. Kau sampah, tak berguna…jiwamu kotor dalam kegelapan." Tanpa ampun sosok itu semakin mencekik leher Anko. Wajah cantiknya kini telah basah okeh air mata yang sedari tadi terus mengalir. Dia benar-benar sangat ketakutan terhadap sosok yang mencekiknya. Walaupun tubuhnya lemas bukan main, namun tubuhnya tetap tak berhenti bergetar. Satu lagi tangan pucat sosok itu terangkat menyentuh perut bagian atas Anko tepat dimana hatinya berada. Kuku-kuku tajam sosok itu menembus perutnya. Kelima jari sosok itu masuk kedalam perutnya lalu keluar lagi dan menggenggam sesuatu sekepalan tangan yang berwarna merah darah. Tak elak darah sedar merembas membasahi baju putih Anko dan menetes diatas keramik putih.
"Akhh, khehh…" rintih Anko kesakitan.
Dalam sisa-sisa kesadarannya, Anko melihat langsung kedalam bola mata tanpa pupil sosok itu. Untuk terakhir kalinya Anko tersenyum sendu kearaah sosok itu. Ia benar-benar ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Sesuatu yang mungkin tak berarti apa-apa bagi sosok itu namun sangat berarti baginya.
"Akhh…go-gomennh,. Nne…Ku-…khhh"
"Ku…"
"ri…"
"me…"
"-chan…"
'BRUKK'
Tubuh tak bernyawa Anko terjatuh membentur lantai setelah bersusah payah mengatakan kata-kata terakhirnya. Darah segar segera saja membanjiri lantai keramik. Sosok itu tak bergeming dari tempatnya semula. Masih berdiri tegak dengan menggenggam sesuatu ditangannya. Mata tanpa pupilnya menatap wajah Anko. Tiba-tiba darah segar mengalir dari kedua bola mata tanpa pupilnya. Darah itu menetes membasahi wajah Anko. Kemudian sosok itu menghilang dalam kegelapan malam. Tubuh sosok itu telah menghilang namun suara samar-samar sosok itu masih terdengar menggema disepanjang lorong sekolah.
"Hatiku yang kini kelam tak akan bercahaya terang seperti kau menemukanku dulu. Dan aku membawa hatimu untukku…"
"Hahh…Hahhh, hahh"
"Anko-sensei…"
Sakura terbangun dari tidurnya dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Dadanya naik turun tidak teratur. Ia mengusap wajahnya kasar dan menyambar segelas air putih di atas nakas. Menenggaknya hingga habis tak tersisa.
"Ini tidak mungkin, Anko-sensei pasti akan baik-baik saja. Ya, itu hanya mimpi Sakura…tenanglah. Hanya mimpi….mungkin kau bermimpi buruk tentangnya karena kemarin dihukum olehnya…" kata Sakura kepada dirinya sendiri. Gadis itu takut tentu saja. Ini yang kedua kalinya ia memimpikan tentang pembunuhan itu. Ia khawatir mimpinya benar-benar terjadi. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Anko-sensei akan terbunuh. Ia pasti akan sangat merasa bersalah pada dirinya sendiri.
"Arrrgghhhh…" Sakura mengacak-acak rambut merah mudanya frustasi. Melihat jam dinding sejenak, kekasih Uchiha Sasuke itu langsung bangkit dari tempat tidur dan bergegas menyambar jaketnya dan tak lupa ia membawa tas selempang miliknya. Untungnya kedua orang tua Sakura sedang dinas keluar kota sehingga dia dapat keluar dari rumah malam-malam tanpa mendapat sebuah omelan.
Sakura menaiki sebuah Taxi. Di dalam Taxi, jemari lentiknya dengan lincah mengetikkan beberapa kata untuk ia kirim kepada seseorang. Setelah pesan terkirim, Taxi yang ditumpangi Sakura segera melesat menuju gedung tempat ia bersekolah. 10 menit perjalanan, Taxi yang ditumpangi Sakura akhirnya berhenti tepat di depan gerbang sekolahnya. Setelah membayar uang Taxi, Sakura lalu berdiri memegang gerbang bercat coklat emas itu.
"Ck, terkunci…"
Gerbang sekolah Sakura terkunci. Tak hilang akal, tubuh ramping Sakura lalu memanjat gerbang yang ada di hadannya. Untunglah dia saat ini memakai celana pendek sehingga tidak terlalu kesusahan untuk memanjatnya.
'HUPP'
Tubuh Sakura mendarat dengan mulus diatas tanah berkabin halaman sekolahnya. mengingat keadaan sekolahnya yang gelap, Sakura lalu mengeluarkan sebuah senter dari tas selempangnya dan dengan perasaan khawatir dan was-was, kaki jenjangnya mulai membawanya memasuki gedung sekolahnya yang sangat sepi. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Tentu saja tak ada seorangpun yang ada di sini. Hanya ada kelelawar dan hewan malam lainnya yangterbang memasuki gedung sekolahnya. Sekilas, gedung sekolahnya terlihat seperti sebuah bangunan tua.
'DRAPP DRAPP DRAPP'
Langkah kakinya terdengar menggema memantul dinding koridor. Kedua tangannya mencengkeram erat tas selempang miliknya. Bola mata emeraldnya selalu awas dengan keadaan sekitar.
"Anko-sensei…apa kau disini?" panggil Sakura dengan suara yang agak keras. Namun nihil, tak ada jawaban. Hanya gema suaranya saja yang menyahuti panggilannya. Angin dingin berhembus menerpa tubuh mungilnya. Sakura semakin merapatkan jaket putihnya. Semakin masuk ke dalam gedung sekolahnya, Sakura merasa langkah kakinya terasa semakin berat. Hawa mencekam pun tak elak ia rasakan.
'WUSHH'
Sakura membalikkan tubuhnya cepat kala merasakan ada sebuah pergerakan di belakangnya. Tapi nihil, tak ada apapun. Mencoba menghiraukan perasaan yang mengganggunya, Sakura mulai melangkahkan kakinya kembali menyusuri koridor yang gelap. Sesekali ia berhenti melangkah dan menengok ke dalam ruang kelas untuk memastikan keadaan gurunya.
Tak terasa, dia sekarang sudah berada di lantai 3. Keadaan di lantai 3 malah semakin menyeramkan.
"Kyaaaaaa…."
'BRUKK'
Sakura jatuh terduduk di lantai keramik yang dingin. Sakura lalu berdiri sembari mengusap-usap pantatnya yang terasa nyeri.
"Ughh, dasar kelelawar sialan. Mengagetkanku saja…" maki Sakura kepada kelelawar yang tiba-tiba saja terbang kearahnya dan membuatnya terjatuh kaget. Walaupun Sakura berucap lirih, namun suaranya tetap terdengar keras menggema.
Bermenit-menit sudah Sakura mencari Anko-sensei namun tak juga ia temukan. Hari semakin beranjak malam, suasana di gedung TSHS semakin terasa menyeramkan.
"Sensei…apa kau disin !"
'KRIEETT'
Suara berderit pintu terdengar kala Sakura membuka sebuah ruangan dengan tulisan Lab Biologi. Diarahkannya lampu senter yang ia pegang ke segala penjuru ruangan. Tak ada siapapun kecuali kegelapan. Barang-barang untuk praktek biologi masih tersusun rapi.
'SREKK SREKK'
Jantung Sakura terlonjak kaget medengar sebuah suara dari bawah meja praktek yang berada paling pojok. Dengan langkah berat, Sakura menuju sumber suara.
"Anko-sensei…kau kah itu?" tanya Sakura lirih. Tak ada jawaban tentu saja. Hanya ada suara tadi yang tedengar. Sakura semakin mendekat. Ia semakin menggenggam erat lampu senter yang dibawanya. Tepat berada di samping meja, kepala merah muda Sakura menunduk guna melihat ke bawah meja.
"Kyaaa…" teriak Sakura kaget karena ada sesuatu yang melewati kakinya.
"Cittt…cit cit cit…"
"Hahh, ternyata hanya tikus…"
'WUSSHH'
Belum sempat bernafas lega, Sakura dikejutkan lagi dengan sebuah pergerakan yang lewat di belakangnya.
"Siapa disana…?" tanya Sakura seraya mengarahkan lampu senternya untuk memudahkannya melihat.
'SETTT'
Lagi. Kali ini dari samping kirinya. Tapi nihil. Tak ada seorangpun. Tak ada kelelawar atau bahkan tikus. Meneguk ludahnya takut, Sakura mencoba menelusuri setiap sudut ruangan.
'SETTT'
Lagi. Tapi tak ada siapapun.
"Larilah…pergi.."
'DEGG'
Tubuh Sakura menegang. Sebuah suara seorang laki-laki terdengar oleh Sakura. bulu kuduknya meremang mendengar suara itu. Suara yang lirih dan dalam. Suara yang serak namun terkesan sedih dan tersiksa. Emerald Sakura membelalak tak percaya. Disana, di pojok kanan belakang cahaya senter Sakura menemukan siluet seorang laki-laki tengah meringkuk membenamkan kepalanya diantara lututnya yang ia tekuk. Laki-laki yang menurut Sakura berperawakan kurus itu terus saja menggumamkan kata-kata untuk menyuruhnya pergi. Rambut hitam bergaya bobnya menutupi seluruh wajahnya yang bersembunyi.
"He-heii…se-sedang apa kau didini…?" tanya Sakura terbata sembari langkahnya semakin mendekat.
"Lari…pergi…"
"He-heii.." Sakura membungkukkan tubuhnya sedikit dan menjulurkan tangannya untuk menyentuh lengan laki-laki itu.
'GREPP'
Tangannya semakin mendekat dan hampir menyentuh lengan laki-laki itu sebelum sebuah tangan lain yang menggenggam pergelangan tangannya. Dingin. Telapak tangan yang mencengkeram erat pergelangan tangan Sakura terasa dingin di kulitnya. Tubuh Sakura bergetar, wajahnya menjadi pucat dan berkeringat dingin. Sekarang ia sangsi apakah laki-laki dihadapannya adalah manusia atau bukan.
"Kubilang pergi…kau lari dan pergi…" ucap laki-laki itu dengan sedikit menggeram. Cengkeraman di tangan Sakura tak mengendur. Malah semakin erat dan terasa sakit bagi Sakura.
"K-kka-kau…lep-lepasskan…" ucap Sakura seraya mencoba melepaskan diri dari cekalan tangan lelaki di depannya. Rontaannya semakin kuat kala tiba-tiba mengalir darah segar keluar dari balik lengan panjang laki-laki itu.
"ti-tiddakkk…lep-paskan aku…!"
"Pergiiiii~…."
Sakura jatuh terduduk kala tarikan tangannya terlepas dari genggaman lelaki itu. Sakura menyeret tubuhnya sedikit menjauh. Lelaki misterius itu lalu mendongakkan wajahnya melihat kearah Sakura yang tengah ketakutan. Mata emerald Sakura membelalak ngeri. Tangan kanannya menutup mulutnya terkejut akan apa yang ia lihat. Dia, Sakura tahu siapa laki-laki itu. Laki-laki yang seringkali ia tolak cintanya. Laki-laki dengan semangat yang terus membara mengejarnya. Laki-laki dengan bola mata bulat serta rambut mangkoknya yang mirip dengan salah satu guru olahraganya. Dan laki-laki yang tewas terbunuh seminggu lalu. Dan kini laki-laki itu ada dihadapannya dengan keadaan yang mengerikan ditambah lagi ada seutas rantai yang mengikat lehernya.
"L-L-Lee…!" ucap Sakura tak percaya. Kini di hadapannya terlihat sosok Lee yang telah terbunuh. Wajah bulat Lee sangat pucat. Wajahnya tidak menghadap lurus karena lehernya yang patah kesamping. Bola mata bulatnya yang mengeluarkan darah menatap kosong Sakura. Mulutnya terus menyuarakan kata-kata untuk menyuruh Sakura pergi.
"Pergi….lari darinya, dan pergilah…pergi pergi PERGIIII…!"
Teriakan terakhir dari sosok Lee membuat Sakura tersentak. Wajah Lee yang semakin banyak mengeluarkan darah membuat Sakura semakin ketakutan dan bergetar hebat. Entah mendapat dorongan darimana, tubuh Sakura langsung berdiri dan berlari meninggalkan sosok hantu yang kini menatapnya dengan sebuah senyuman mengerikan.
"Ya, pergilah…seperti, itu…."
'DRAPP DRAPP DRAPP'
Suara langkah kaki cepat Sakura menggema. Gadis merah muda itu berlari dari ruangan Lab Biologi yang ada di lantai 3 menuju lantai 2.
"Hahh…hahhh…hahh" suara deru nafas lelah Sakura terdengar sangat jelas. Setiap ia melangkah. Sakura merasa ada sepasang mata yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. Langkah kaki Sakura terhenti di pertigaan koridor. Nafasnya masih terengah-engah. Sakura membungkukkan badannya dan menyender pada dinding koridor. Tangan kanannya terangkat menyentuh dadanya yang terasa sesak.
"Jangan kemari….lari dari sini dan kembalilah…"
Jantung Sakura kembali berdetak tak beraturan. Suara itu, suara yang sama seperti suara Lee yang menyuruhnya untuk pergi namun ini bukan Lee. Suara yang Sakura dengar merupakan suara seorang perempuan. Sakura sempat menahan nafas sejenak kala indera penglihatannya menangkap seosok gadis yang berdiri di tengah koridor. Sosok itu memakai seragam sekolahnya. Wajah sosok itu tertutupi surai pirangnya yang lusuh. Dari jarak sekitar 5 meter ini, Sakura masih bisa melihat dengan jelas darah yang mengelir deras dari tangan gadis itu hingga menetes membasahi lantai. Sama seperti keadaan Lee sebelumnya, ada seutas rantai panjang yang menembus dadanya. Rantai yang menjulur dari lorong yang gelap sehingga rantai itu tak terlihat ujungnya.
"Pergi sebelum dia datang dan mengambilmu…"
Sosok itu berucap seraya memiringkan kepalanya. Wajah pucat serta senyum mengerikan terpampang diwajah sosok itu. Sakura melotot kaget melihat sosok itu. Wajah itu….Sakura tahu siapa dia.
"Sh-Shi-Shion-san…."
…..Secret Ghost…
To Be Continued….
Halo minnaaaaaa~ (tebar kisseu XD)…. Jumpa lagi dengan author, hehehe. ini hari apa? rabu? lebih cepet satu hari ne author updetnya, gpp deh soalnya besok kamis author kayaknya gak bisa. dari pada di mundurin updetny, mending author majuin...wkwkwk (author seenaknya sendiri XD). Btw, Adakah yang nunggu author? (readers : enggakkkkkkk) huwaaaa, kejam~…*pundung di pojokan*. Ya udah deh, dari pada para readers muntah liat tingkah alay author, mending sekarang author balas review aja kali yeeee… cekidot :
Kimura Megumi : hehhe, iya…J beneran suka sama diksi yang aku pakai? Arigatou… sebenernya itu kata-kata langsung nyeplos(?) aja di pikiran, gak niat buat bikin kata-kata yang rada kek gitu lah…(helehhhhh, lagi-lagi gak niat…-_-). Dan soal Naruto KW, silahkan coba tebak sendiri…:D hohoho, ini juga udah tepat waktu updetnya kok, jadi author gak jahat kan? XD terimakasih sekali lagi karena sudah mau review chap 6, semoga chap 7 ini tidak terlalu mengecewakan ne…
Eysha CherryBlossom : yupp, betul banget…:D karena author orangnya sok misterius, jadi author kasih aja misteri-misteri yang banyak di situ…hehe semoga gak membosankan ne…J review again?
meme chua.3 : salam kenal juga meme-san or chua-san? Bingung…:D ya udah deh pokoknya manggilnya itu…:P. Pertanyaan kamu banyak banget., *garukKepala*. Hmmm… Megumi? Boleh lah, boleh lah..kekeke. tamatnya berapa chapter? Author juga belum tau.. yang jelas 10 chapter keatas lah. Kenapa megumi bisa muncul? Tentu bisa dong, kan author yang munculin..:D. karena apa megumi muncul? Ya karena author yang manggil…hahaha #plakkk, kalo author jawab pasti nanti gak penasaran lagi,.. jadi biar jadi misteri dulu ne. endingnya happy? Iya author penginnya sih happy ending, dan yang pastinya SasuSaku…hehhe Megumi punya dua sifat? Iya deh, 100 buat kamu… kalo soal romancenya yang ditambah, nanti pasti bakal ada romance kok, tenang aja…belum waktunya muncul,hehehe. Kamu tanya umur? Uhh, kasih tau gak ya…hehe, kasih tau deh, umur saya 17 tahun…masih tergolong unyu2 lah..:D emang umur kamu berapa? Sama?. Hiiiiii, kok Chara and pair kesukaannya sama ? takdir kah? Weeeee, #abaikan#. Hmmm, saya usahain updetnya 1 minggu sekali dan tiap hari kamis…:D gpp kok review panjang, author seneng banget dapet review yang panjang kek gini, lanjutkan reviewmu lagi dan semoga suka dengan chapter 7 ini ne… Arigatou~
Ana Megumi : halo Ana-san…J cerita saya gak sekeren itu kok, masih banyak kekurangan…hehehe syukur deh kalo bisa buat kamu penasaran plus mrinding disco…:D ini juga udah lanjut kok…semoga suka ne, review again?
Yoshh, terimakasih buat para reviewer 'secret ghost'. Dan jujur kenapa review menurun….T.T (hiksss…*elap ingus* #abaikan). Tapi gpp kok, author masih tetep semangat buat menyelesaikan cerita author… tapi kalau boleh, setelah membaca silahkan tinggalkan jejak kalian mau?…wkwkwk
Akhir Kata, Thanks and Review please….
