PERINGATAN! Di Chapter ini akan dibahas tentang LGBTQ dan istilah-istilah dewasa lainnya.
Jantungku berdebar kencang ketika mobil itu melaju, semua pikiran negatif memenuhi otakku. Semenit berjalan, aku mulai berubah pikiran ketika Orochimaru mengelus lembut rambut Sasuke, dan kedua bodyguard mirip penyanyi Korea bernama PSY itu tersenyum padaku. Mereka menekan pelatuk pistol yang mengeluarkan gelembung sabun, dan aku ikut tertawa sambil memegang moncong pistol yang setelah diperhatikan, bentuknya persis Naruto Junior tapi dengan warna hitam. Ketika kami sampai di halaman hotel Westin, aku melihat lobby hotel dipenuhi para entertainers, yang kalau di Amerika disebut dengan..
Drag Queen.
"So, blondie, have you ever watched a Drag Queen Show?"
Sasuke menoleh padaku, "I'm sorry," bisiknya, lalu tersenyum sungkan padaku.
Plot twist yang luar biasa. Tidak hanya pembaca ceritaku yang kaget, aku pun demikian, tapi ini kaget yang menyenangkan. "Nope. But I would love to!" jawabku dengan senyum lima jari. Dan ketika kami turun, para bodyguard lain memberi kami jalan di karpet merah, dimana Orochimaru disambut oleh para Drag Queen itu dengan ojigi, maupun dengan ciuman pipi ke pipi, selayaknya menyambut seorang Ratu. "Nyonya Orochimaru, dipersilahkan untuk menikmati hidangan di Sky Bar sebelum acara dimulai," kata seorang Event Organizer wanita berambut merah. "Silahkan naik lift yang sebelah sini," katanya lalu memberi isyarat pada bodyguard lain untuk memberi jalan.
Di dalam lift, lelaki feminin itu melingkarkan lengannya ke pinggang Sasuke. "Eum... makin cantik saja Sasuke-ku ini. Ingin rasanya aku masuk ke tubuhnya, dan punya wajah semanis ini." Dicoleknya dagu Sasuke berulang kali. "You are so fucking lucky to have him, Blondie. He is sexy as hell. Aku suka menggodanya, kau tahu? Dia itu terlalu serius!" Orochimaru tertawa. "Dan hey Gayjin, kau tahu dia punya fetish lelaki bule?"
"Gayjin?"
"You're a gay, You are a gaijin. Gay-jin. It's a wordplay, blondie."
"Jadi," Sasuke berdehem. "Alasanmu menculik kami, karena mau memaksa kami nonton Drag Queen yang kau sponsori itu?"
"Awww... sudah manis, cantik, seksi, pintar lagi!" Orochimaru menciumi pipi Sasuke. "Kalau kau kuajak baik-baik, kau tidak pernah membalas emailku. Sekali-sekali nonton acara mantan boss 'kan, tidak apa-apa, cantik!"
"Aku ini tidak cantik, aku ini laki-laki." Sasuke berusaha melepaskan diri dari lelaki itu.
"Tanya pacarmu itu, dia ini cantik tidak? Seksi tidak?"
Aku hanya diam, dan Sasuke memutar bola matanya bosan. "Tuh, dia diam, sayang. Berarti kau itu CAN-TIK!" Lelaki itu menusuk perut Sasuke dari luar bajunya, membuat Sasuke terkejut. "Perutnya masih sensitif seperti dulu. Hehehehe." Kekehan Orochimaru itu semakin meriah dengan gigi putih ber-veneer nya diantara bibirnya yang disulam merah tidak alami.
Ting. Lift berbunyi di lantai Ballroom.
"Makan dulu, darlings! Aku ikut briefing dulu, ya! Aku debut jadi MC malam ini! Bye!" kata lelaki feminim itu lalu memberi kami kiss bye. Sasuke langsung menyeretku menuju meja-meja yang penuh makanan.
Sambil makan beberapa porsi Kobe steak, makan pastry buah, dan minum bergelas-gelas cocktails (serius, semuanya enak!), aku meyakinkan Sasuke kalau Drag Queen Show adalah salah satu pengalaman unik selama travelling di Tokyo, jadi ia tak perlu sungkan padaku. Dan aku semakin terkejut karena Event Organizer mengarahkan kami untuk duduk di barisan show paling depan. Kalau tahu begini, tadi pagi pakai baju yang lebih bagus.
"Orochimaru itu mantan bossku," kata Sasuke, menjelaskan tanpa kutanya. "Dulu aku asisten pribadinya, lalu aku keluar karena ingin jadi tour guide. Setelah itu aku digantikan pria berkacamata tadi bernama Yakushi Kabuto."
"Jadi Orochimaru ini adalah Drag Queen?"
"Dia bukan Drag Queen. Dia lebih suka disebut Josou, yang berarti seorang lelaki yang suka memakai baju perempuan," jelas Sasuke. "Bagaimana pendapatmu tentang Orochimaru?"
"Tidak masalah. Sepertinya dia orang baik."
"Hn. Orangnya baik, tapi mulutnya tidak ada filternya." Sasuke memberiku lightstick berwarna pelangi yang tadinya diletakkan di bawah kursi. "Ini untuk digoyangkan waktu penyanyinya perform."
"Oh."
Dalam hitungan menit, lampu dimatikan dan ruangan gelap gulita. Spotlight mengarah ke Orochimaru yang berdiri di atas panggung, yang telah berganti baju dengan kimono berwarna merah menyala.
"LADIES! READY FOR TONIGHT?!" teriaknya.
"YEAAAAAAAAAA!" teriak para Ladies yang suaranya masih maskulin. Mungkin hanya aku dan Sasuke yang hanya diam saja di kursi kami. Terdengar suara petikan bass dan muncullah bintang tamu berwajah androgyny. "PLEASE WELCOME... AKIRA from DISACODE!"
Suara Sasuke yang berusaha menjelaskan, berlomba dengan musik dan suara para Ladies di belakangku. Penyanyi itu bernama Akira, seorang vokalis wanita tomboy dari band visual kei, kata Sasuke. Lagu yang ia bawakan berjudul 'Sakura Kuroku Kuraku'. Ruangan yang aslinya gelap, pelan-pelan mulai penuh dengan proyeksi laser berbentuk kerangka putih Tokyo Station yang memutari ruangan. Seluruh undangan menggoyangkan rainbow lightstick mereka dengan semangat.
Wow.
'Model' pertama berjalan keluar dengan make-up Geisha yang dibuat dramatis ala Drag Queen. Kimono yang ia pakai bertema musim panas, dengan obi super panjang sampai menyapu lantai. Ditambah dengan hiasan punggung besar berbentuk kipas oogi merah yang berkelip-kelip penuh glitter dan bordiran yang tidak kalah gemerlapnya dengan hiasan punggungnya.
Drag Queen berikutnya berjalan keluar dengan tema 'Pengantin' di mana sang 'model' memakai tudung kimono perak yang membungkus dari kepala sampai dada, dan ada lubang khusus untuk menunjukkan wajahnya yang dimakeup dramatis ala Drag Queen. Kimono itu dipenuhi dengan kristal, dan sang perfomer memakai geta tinggi yang juga dipenuhi kristal berwarna merah.
"TOKYO CITY MAKE SOME NOISE!" teriak Akira yang disambut teriakan undangan. Bintang tamu berikutnya muncul menggunakan stage lift. Akira bertepuk tangan di udara, menyambut bintang tamu selanjutnya. "HARUNA AI EVERYBODY!"
Ruangan menjadi gemerlap dengan adanya disco ball raksasa yang turun dari langit-langit, dan lantai runway menyala seperti panggung permainan Dance Dance Revolution, memberi kesan kembali ke tahun 2000an. Sasuke memberitahuku kalau Haruna Ai adalah seorang wanita transgender yang juga adalah aktivis LGBT, dan lagu yang ia bawakan berjudul " I・U・YO・NE"
Saat acara selesai, para drag queen yang tadi tampil, keluar dan ikut menari mengikuti lagu pop berjudul "Born This Way" dari Lady GaGa. Hujan balon dan confetti berwarna pelangi memenuhi ballroom, dan para tamu undangan berebut untuk berpelukan dan selfie dengan para performers tadi. Sebenarnya masih ada after party, atau acara minum-minum dan ramah tamah, tapi Sasuke sudah tidak sabar untuk menarikku keluar ruangan dan pulang, ia sangat ngantuk katanya. Aku tahu itu cuma alasan untuk menghindar dari Orochimaru, tapi aku menurut saja. Lelaki feminin itu juga masih sibuk dengan ratusan tamu undangan dan para fansnya.
Waktu kami keluar dari hotel, jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, dan tidak ada kereta yang beroperasi pukul segini. Sebuah taxi mendekati kami, dan bertanya dalam bahasa Inggris, "Show guests?"
Kami mengangguk, dan pintu taxi otomatis terbuka. "Free for guests." Katanya. Dalam bahasa Inggris, sang supir menjelaskan kalau semua undangan dapat fasilitas naik taxi satu arah ke Shinjuku, gratis. Sang supir tiba-tiba bertanya apakah kami akan pergi ke daerah Ni-chome atau Kabuki-cho setelah ini. Aku bilang tidak, kami akan pulang.
"Kalau begitu, bisakah aku minta tolong satu hal?" tanyanya dalam bahasa Inggris. "Putraku kabur dari rumah seminggu yang lalu, dan setahuku dia suka berkeliaran di sekitar Ni-chome atau Kabuki-cho." Lelaki itu memberikan selembar kertas bertuliskan Have you seen my son? Dan tulisan katakana dengan arti yang sama. Di bawah tulisan itu tertera nomor telepon yang bisa dihubungi dan foto sang putra yang bernama Nara Shikadai, berdiri di depan pagar rumah dengan membawa gitar. Tertulis juga informasinya, berambut hitam dikuncir, umur 17 tahun, tinggi 170 cm, terakhir kali terlihat memakai jaket hitam dan celana army, membawa gitar, dan nama panggilan Dai-kun. "Kalau kalian sempat, bisakah kalian lihat-lihat apakah ada anak laki-laki yang mirip seperti di foto?"
"Mungkin kami tidak bisa menjanjikan banyak, Nara-san." Kata Sasuke. "Naruto ini adalah turis, dan aku adalah tour guide, kami pergi keluar seharian, dan hampir tidak pernah jalan-jalan di area Ni-chome dan Kabuki-cho di malam hari." Sasuke melirikku.
"Begitukah?" tanya lelaki itu, lalu batuk-batuk. Aku melirik kartu tanda pengenal di atas radionya, namanya Nara Shikamaru. "Nara-san, bolehkah aku tanya sesuatu?" tanyaku.
"Sure," Jawab lelaki itu.
"Kenapa... Shikadai kabur dari rumah?"
Lelaki itu batuk lagi, lalu menghela napas panjang. "Dai-kun mengaku dirinya gay seminggu yang lalu, dan aku sangat marah lalu mengusirnya." Ia diam sebentar. "Dai-kun dulu adalah bayi yang dibuang ibunya, seorang hostess yang naik taksiku. Waktu taksiku jalan satu blok, aku mendengar tangisan bayi dan putar balik untuk mengembalikannya. Tapi hostess itu bilang kalau... buang saja bayi itu di sampah kalau aku tidak mau merawatnya. Aku... aku kasihan dengan bayi kecil itu. Aku merawatnya, memberinya nama Shikadai, menyekolahkannya. Aku bangga, Shikadai sangat pintar, ia dapat beasiswa." Suara lelaki itu mulai tersendat. "Aku menyesal mengusirnya, aku ingin Dai-kun pulang."
"Aku dan Sasuke adalah gay, apakah anda baik-baik saja?" tanyaku.
"Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung soal gay, tapi-."
"Aku akan membantu anda hari ini." Jawabku. "Aku akan menemukan Shikadai." Hal itu membuat Sasuke melotot dan langsung mencubit bahuku, yang langsung aku tepis. "Anda hanya emosi saat mengusir putra anda, dan aku akan menemukannya. Percayalah padaku."
Sasuke mencubit bahuku lagi, dan aku balas memelototinya. "Aku. Tidak. Akan. Menarik. Kembali. Janjiku."
"Terimakasih," kata lelaki itu ketika kami sudah sampai di dekat Kabuki-cho. "Ngomong-ngomong... apakah semua orang gay tinggal di Shinjuku?" tanyanya.
"Tidak, apatoku kebetulan ada di Shinjuku." Aku tersenyum, lalu melirik Sasuke. "Baiklah, Nara-san, bisa kami turun di sini saja?"
"Hm? Anda tidak keberatan?" tanyanya, masih tidak yakin dengan keseriusanku.
"Tidak sama sekali," jawabku. "Ayo, Sasuke, kita turun."
Setelah turun dari taxi, Sasuke yang mengaku sudah capek, mulai mengajakku berdebat. Dia mengatakan kalau Kabuki-cho dan Ni-chome ini terlihat kecil, tapi untuk menemukan Shikadai, tidak semudah yang aku pikirkan. "Seharusnya kita sudah kembali ke apato, lalu tidur dalam selimut hangat." Gerutunya. "Belum lagi mencari di bagian Ni-chome yang penuh dengan gay bar dan sudut-sudut gelap. Apa iya kita harus masuk ke semua bar itu? Kau berjanji yang muluk-muluk."
"Hey, hey, hey." Aku mencengkeram lengan Sasuke, memaksanya menatapku. "Aku ini seme mu, Sasuke. Kau harus dengarkan aku. Apa kau tidak punya empati? Kalau kita mengusahakan mencari Shikadai, setidaknya Nara-san tidak merasa sendirian mencari putranya. Kau tidak dengar betapa putus asanya dia?"
Sasuke terdiam.
"Maaf, maaf, sayang." Aku memeluknya, lalu mencium bibirnya. "Aku hanya ingin membantunya."
Sasuke mengangguk. "Tidak apa. Aku hanya... maksudku, kau ini turis. Kau membayarku untuk membawamu ke tempat yang menarik, dan bukannya menunjukkan sisi gelap Tokyo seperti ini."
Aku tersenyum. "Aku mengerti. Kau kekasihku, sekaligus tour guide ku yang profesional. Hanya saja, aku kasihan pada Nara-san, dan juga... ini termasuk travelling! Aku akan bangga menceritakan kalau aku pernah menemukan seorang putra yang hilang, tau!"
Sasuke menepuk-nepuk dadaku, dan menggambar huruf S dengan telunjuknya. "Kau hanya kurang memakai logo Superman di dadamu." Aku tertawa.
Sasuke melihat ke arah belakang kepalaku. "Hey, bukankah itu.. Nara-san?"
Lelaki itu berjalan dengan mengenakan dua buah papan besar berwarna kuning di lehernya, yang kalau di Amerika bernama Sandwich Board, dan sudah berganti baju dengan mantel tebal. Di bagian depan tulisan itu, ada kalimat Have you seen my son? Dengan foto Shikadai. Dan di bagian punggungnya ada tulisan katakana dengan arti yang sama dan foto yang sama. Dengan wajah memelas, Shikamaru berdiri membagikan brosur di bawah banner neon Kabuki-cho, dan berdiri di sana ditemani termos ukuran satu liter dan sebungkus rokok di atas sebuah meja kecil. Tidak semua orang mau menerima brosur informasi putranya yang hilang, sebagian besar hanya mengacuhkannya.
"Sekarang, kau masih tidak kasihan melihatnya?" tanyaku. Sasuke hanya diam, lalu menghela napas panjang."Baiklah, baiklah. Kita mulai darimana?" tanyanya.
Setelah berunding, kami memutuskan berjalan ke tempat yang jauh dulu, yaitu ke Ni-chome. Jujur saja, aku harus mengakui... Sasuke benar. Tanpa Sasuke mungkin aku akan hilang di sini. Dengan banyaknya bar di jalan ini, sangat mudah bagiku untuk lupa arah kembali. Namun Sasuke bilang, ia hanya perlu mengingat satu nama bar kecil yang paling dekat dengan jalan raya, dan kami akan menemukan arah baliknya.
Dengan tangannya yang masih kugenggam erat, aku bertanya apakah ia pernah pergi ke tempat-tempat ini. Sasuke menggeleng.
"Aku Closeted gay, ingat?"
Benar juga. Selain itu, Sasuke juga tidak kuat minum, untuk apa dia ke sini?
Selagi kami berjalan, aku membayangkan orang-orang yang mendengar ceritaku mungkin berpikir kalau aku sudah gila. Aku menawarkan bantuan pada seorang lelaki yang baru kami kenal dua puluh menit yang lalu. Bisa jadi lelaki itu hanya meminta tolong untuk 'melihat-lihat' tanpa mengharap kami benar benar menjelajah Ni-chome pukul dua dini hari. Kami bahkan tidak mengenal lelaki ini dan putranya. Bagaimana kalau lelaki itu berbohong? Aku bahkan tidak tahu apakah Shikadai masih hidup atau mungkin... ehm. Amit-amit. Namun aku tidak mengurungkan niatku karena aku percaya kalau aku sudah berusaha berbuat baik, maka kebaikan juga akan datang padaku dengan cara yang tidak terduga pula.
Dini hari ini, aku beruntung karena aku pergi ke Ni-chome bersama Sasuke. Dia membuat Ni-chome cukup mudah untuk dijalani, karena dia mengerti bahasanya dan bisa membaca semua huruf-huruf yang tertulis di banner nya. Maaf, otakku sedang error berat sekarang karena excitement menemukan Shikadai, dan masih terbayang euforia menonton show tadi. Jujur saja, sekadar untuk mencari jalan di Google Maps saja, mungkin tidak bisa.
Aku menawarkan Sasuke untuk bar-hopping atau mengunjungi beberapa bar sekaligus. Sasuke menolak, dan mengingatkan untuk tidak minum terlalu banyak, karena berbahaya untuk liverku. Namun aku menyakinkannya kalau satu gelas saja tidak akan berpengaruh apa-apa.
"Lagipula aku minum untuk mencari teman baru. Teman baru berarti informasi baru soal Shikadai."
Setelah berputar-putar sebentar (dan berdebat lagi), akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke sebuah gay bar bernama Eagle Tokyo. "Dan hanya satu bar saja," perintah Sasuke mutlak. Waktu kami masuk, Sasuke mengulangi kalau dia tidak kuat minum, jadi dia akan pesan mocktail saja.
"Shirley Temple," kata Sasuke pada sang bartender.
"What's the special here?" tanyaku.
"Eagle Blackout,"
"Oke, itu satu,"
Ngomong-ngomong, tips untuk yang ingin pergi ke bar tapi tidak kuat minum, pesanlah Shirley Temple, minuman non-alkohol yang terbuat dari Sprite, sirup grenadine, dan jus jeruk. Sedangkan yang kupesan tadi, yaitu Eagle Blackout, adalah minuman racikan spesial -yang berwarna hitam- dari bar ini. Dan satu hal yang baru kusadari saat berada di sini: Semua orang di sini saling kenal, sepertinya Ni-chome ini sebuah lingkungan gay yang cukup friendly. Itulah mengapa, ketika aku dan Sasuke masuk, beberapa orang memperhatikan kami, atau lebih tepatnya...memperhatikanku.
"So, where are you from?" tanya sang bartender Jepang yang cukup tampan yang memakai turtleneck ketat dan kumis tipis. "America, I guess?"
"Yeah, I am American."
"Are you, by any chance, single?"
"Nope. Taken," jawabku lalu merangkul Sasuke dan menciumnya tepat di bibir. Lelaki itu tertawa. "Aww... what a cute couple," katanya.
Saat minuman kami disajikan, aku memutuskan untuk bertanya apakah lelaki itu tahu dimana biasanya anak-anak muda gay mencari tempat tinggal atau bekerja.
"Hm... remaja gay yah. Sudah coba cari di Kabuki-cho? Di sini lebih banyak orang gay dewasa seumuran kalian berdua." Aku menunjukkan brosur Shikadai padanya. Lelaki itu berpikir sebentar. "Kalau masih muda begini, coba saja cari di Kabuki-cho. Dia belum berumur 18 tahun, pasti tidak boleh kerja di tempat begini."
"Kalau di kafe?"
"Setauku boleh, asalkan kafenya tidak menyajikan alkohol." Lelaki itu mengambil brosur Shikadai dari tanganku dan menunjukkannya pada teman bartendernya. Mereka bicara dalam bahasa Jepang, kemudian lelaki itu kembali ke hadapanku. "Kalau aku boleh beri saran, kalian tidak masuk ke tempat host saja? Wajah seperti ini biasanya laku dijadikan host. Apalagi umurnya masih sangat muda."
Aku mengernyit. "Tapi dia 'kan gay!"
"Menjadi host tidak ditanya gay atau tidak, you know. Pokoknya tampan dan menjual, bisa jadi host." Lelaki itu menunjuk Sasuke. "Nah, nah, seperti pacarmu ini, kalau jadi host mungkin bisa dapat satu juta yen semalam dengan mudah."
Sasuke mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya. "Aku pernah berminat jadi host, tapi aku urungkan."
Lelaki itu tertawa. "Kenapa? Menjaga diri untuk si blondie?"
"Dia menjagaku lebih ketat dari diriku sendiri." kata Sasuke, lalu terkekeh. Bartender itu tertawa ramah. "Okay, enjoy your drink!" katanya lalu berlalu.
Setelah menghabiskan minuman kami, Sasuke dan aku mulai berpikir keras dari mana kami akan mulai mencari Shikadai. Aku benar-benar merasakan berada di posisi Shikamaru. Hal ini memberiku sedikit pencerahan bagaimana pentingnya anggota keluarga di Jepang, dan rasa kosong di hati ketika kehilangan seorang anggota keluarga.
"Hey, Sasuke, apakah kau ingin membawaku kembali ke Kabuki-cho, sekarang?" tanyaku memastikan.
"Tidak sekarang," jawabnya.
Aku sudah hampir kecewa ketika dia menjawab dengan terkekeh, "Tapi mungkin lima menit lagi?"
Jadi, aku masih tidak percaya, pukul tiga dini hari ini, aku kembali berada di daerah hiburan malam yang terkenal itu.
Diantara aktivitas "melihat-lihat satu host club ke host club yang lain", kami berjalan-jalan sambil menanyai beberapa orang. Dan akhirnya kami duduk di pinggir jalan sambil menonton para host dan hostess yang menawarkan jasanya, dan pasangan sesama jenis yang berciuman.
Dini hari itu, sudah dua kali aku dan Sasuke melihat host yang naik ke sedan mewah bermerk BMW dan Jaguar. Aku bertanya pada Sasuke apakah para host mendapat bayaran lebih kalau mereka tidur dengan kliennya.
"Mereka tidak diharuskan dapat bayaran setelah seks," jawab Sasuke. "Tapi setidaknya layanan seks membuat klien mereka tidak lari ke club lain. Kau lihat di sepanjang jalan ini? Penuh club host dan mereka semua bersaing."
Setelah berjalan lagi, dan berkali-kali memperhatikan pasangan sesama jenis yang berumur sekitar tujuh belas tahun, kami menyerah. Sepertinya wajah seperti Shikadai ini cukup pasaran. Lagipula, bisa jadi Shikadai sudah mengganti gaya rambutnya, atau memakai lensa kontak, entahlah.
Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi ketika kami kembali ke tempat Shikamaru duduk. "Maaf," kataku. "Kami sudah berusaha." Aku sungguh malu kembali dengan tangan kosong setelah begitu bersemangat membantunya.
"Tidak masalah," jawab Shikamaru. Ia memaksakan tersenyum dengan nada sedih di suaranya yang serak. Dihisapnya rokok di tangannya dalam-dalam. "Kalian sudah sangat membantu. Terima kasih."
"Nara-san, tidakkah sebaiknya kau berhenti merokok?" tanyaku. "Merokok akan memperparah batuk mu. Lagipula tidakkah Shikadai akan senang kalau ayahnya sudah berhenti merokok saat dia pulang ke rumah?"
Shikamaru memandang kosong pada Sasuke. "Aku tidak bisa berhenti secepat itu. Aku perokok berat sejak usiaku 20 tahun," katanya. Lalu melempar puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya. "Tapi aku bersumpah untuk berhenti merokok kalau Shikadai mau pulang ke rumah." Lelaki itu membereskan bawaannya. "Kalau besok kalian tidak sempat membantu, tidak apa-apa."
"Jangan kuatir! Aku akan tetap membantu Anda, Nara-san! Pegang janjiku ya!" kataku, lalu menyodorkan tanganku untuk menyalaminya.
Lelaki itu menyalamiku balik. "Panggil aku Shikamaru. Umurku masih tiga puluh dua tahun walaupun wajahku terlihat sedikit tua," katanya sambil tersenyum. "Dan siapa nama kalian?"
"Sasuke, desu," kata Sasuke, "Dan ini Naruto." Sasuke tersenyum. "Sekarang anda pulang dulu. Anda harus siap-siap bekerja lagi besok." Lelaki itu mengangguk, dan membereskan barang-barangnya, lalu pergi.
Sepanjang jalan pulang, Sasuke dan aku bertemu lelaki dan perempuan, dan okama yang memakai wig pirang panjang dengan makeup menor dan rok mini, tapi dengan kaki berbulu. Tiba-tiba mata biruku menangkap sebuah minibus pink dengan kanopi berwarna sama bertuliskan "Tsubomi Cafe" yang sedang parkir di dekat jalan utama Kabuki-cho. Beberapa anak perempuan dengan dandanan punk duduk di sana dengan smartphone dan gelas-gelas kertas berisi minuman di meja mereka.
"Sasuke, Cafe itu sepertinya unik. Mau coba lihat isinya?" tanyaku bersemangat. "Banyak anak-anak muda di sana. Siapa tahu mereka kenal Shikadai."
"Eh? Aku bahkan tidak tahu itu cafe apa. Tapi... boleh, ayo kita ke sana."
Namun sesampainya di sana, beberapa staff wanita mencegahku dan Sasuke duduk di kursi yang disediakan. Sasuke mencoba bertanya dalam bahasa Jepang, kurang lebih seperti "Kenapa kami tidak boleh duduk di sini?"
Dan staff itu menjawab, "Hanya anak-anak perempuan yang boleh duduk di sini, laki-laki tidak boleh."
Sasuke menerjemahkan jawaban staff itu padaku. Lalu aku mengeluarkan foto Shikadai dari kantongku. Sasuke mengatakan bahwa kami ini sedang mencari seseorang, dan menanyakan apakah wanita itu pernah melihat keponakannya yang bernama Shikadai. Wanita itu menggeleng, tapi ia mengijinkan kami bertanya pada anak-anak perempuan yang duduk di sana. Sasuke menerjemahkan penjelasan wanita itu padaku, kalau Tsubomi Cafe ini ditujukan untuk anak-anak perempuan yang kabur dari rumah karena kekerasan dalam keluarga dan butuh tempat untuk beristirahat. Mereka menyediakan wi-fi, makanan hangat, kopi, dan tempat duduk yang nyaman. Memang sebenarnya cafe ini dibuka untuk umum dan tidak ada ketentuan khusus untuk boleh duduk di sini, tapi laki-laki tidak boleh berada di cafe ini untuk mencegah eksploitasi gadis di bawah umur. Para laki-laki muda yang masuk ke sini juga dicurigai diam-diam merekrut gadis-gadis ini untuk praktek Joshi Kosei.
Kami menanyai beberapa gadis yang ada di sana, apakah pernah melihat seorang pemuda berumur 17 tahun bernama Shikadai, dan menunjukkan brosur itu pada mereka. Para gadis itu menggeleng, dan tidak ada yang memberikan informasi berarti. Sasuke tersenyum maklum dan berterima kasih pada mereka, lalu mengajakku pergi. Wanita tadi menawarkan dua gelas kopi, tapi kami menolaknya dengan halus, dan pergi dari sana.
"Mau pulang, Naruto?" Aku melihat kedua mata Sasuke yang mulai memerah, tanda dia mulai mengantuk. Wajar, sekarang sudah hampir pukul lima pagi dan kami belum tidur sama sekali. Aku mengangguk dan merangkulnya. Sepanjang jalan, Sasuke menguap berkali-kali, dan menepuk-nepuk wajahnya agar tidak tertidur. "Sasuke, mau kugendong?" tanyaku. "Aku masih kuat kok."
"Tidak usah," jawabnya. "Aku masih kuat jalan sampai apato, tapi tidak kuat berjalan berputar-putar lagi."
Kucium bibirnya lembut dan kurangkul pinggangnya. "Aku memaksa." Sasuke mendesah pasrah, dan mengangguk. Aku langsung berjongkok, dan Sasuke menaiki punggungku. Ternyata Sasuke ternyata tidak seberat yang kubayangkan, dan aku sangat senang merasakan kehangatan dari dadanya mengalir ke punggungku dan sampai ke dadaku juga.
"Bangunkan aku kalau sudah sampai ke apato, blondie," katanya. "Maaf, aku ngantuk sekali."
"Kita bangun pukul dua belas saja, Sasuke. Kita butuh banyak tidur."
"Roger."
Dalam perjalanan kembali ke apato, aku beberapa kali berjumpa dengan para tunawisma yang tidur di jalanan Shinjuku, dan beberapa bahkan tidur di dekat stasiun. Kukira hanya New York saja yang punya masalah dengan tunawisma, ternyata Tokyo pun tidak terkecuali. Mereka tidur dengan kardus dan selimut seadanya di jalan dan emperan butik-butik bermerk, sungguh kontras.
Sebenarnya aku ingin berhenti dan memberi sedikit uang, tapi mengingat aku sedang menggendong kekasihku, aku terpaksa mengacuhkan mereka semua, dan fokus untuk segera pulang.
Jujur saja, meski belum sempat tidur sama sekali, aku tidak merasakan lelah sedikit pun. Entah karena aku merasa bahagia sedang menggendong kekasihku, atau karena aku merasakan sebuah kebebasan yang mungkin tidak akan aku dapatkan di New York. Tidak ada satu pun orang yang memandangku aneh ketika menggendong seorang lelaki di punggungku, dan itu menyenangkan.
Sesekali aku melirik lelaki manis itu, dan tersenyum sendiri melihat wajahnya yang tenang ketika tertidur. Setelah sekitar lima belas menit berjalan, kami pun sampai di apato.
"Wake up, Sleeping Beauty," bisikku. Sasuke perlahan bangun dan mengerjapkan matanya. "Trims, sudah menggendongku," Sasuke mencium bibirku ketika aku sedang membuka pintu. Aku memeluknya, dan menautkan lenganku di punggungnya ketika kami berdiri di lorong. Sasuke mengalungkan lengannya di leherku dan menciumku dalam-dalam.
Aku menggendong lelaki itu dengan dua tangan, dan menghempaskannya ke ranjang. Kami melanjutkan ciuman panas kami sampai kami sama-sama kehabisan nafas.
"Upah gendongnya sangat manis sekali," aku terkekeh, lalu mencuri sebuah ciuman singkat dari bibirnya.
Sasuke terkekeh dan menepuk dadaku. Aku tertawa sambil menyingkap sweaternya dan mengusap-usap perutnya "Jujur, kau seksi sekali. Aku suka. Aku akan kangen dirimu waktu kembali ke New York."
"Kau kangen tubuhku, atau aku?"
"Kangen Sasuke dan tubuhnya yang super seksi."
"Apakah itu termasuk kekuatan super?"
"Ya! Aku adalah Super Naruto spesialis menemukan anak hilang, dan kau adalah Sasuke the Super Sexy Sidekick, yang membakar semua penjahat di dunia dengan tatapan tajamnya."
Sasuke mengernyit. "Apakah semua orang Amerika sekonyol ini?" tanyanya.
"Sepertinya hanya aku saja. Tapi konyol begini, aku setia padamu loh!" Sasuke mendengus. Aku tertawa lagi. "Pagi ini, kita tidur dulu, lalu malam ini kita akan melanjutkan Shikadai Rescue Mission!" kataku dengan mengacungkan tinjuku di udara. Sasuke terkekeh melihatku.
Hari ini, misi pertama kami gagal, tapi kami akan mencoba di hari berikutnya. Super Naruto dan Sasuke tidak akan menyerah!
Mendadak sebuah ide muncul di kepalaku. "Hey! Aku punya ide!" Aku meloncat dari ranjang dan membongkar segala lemari untuk mencari kertas yang bisa ditulisi, dan aku mencari spidol yang selalu kubawa di dalam tasku. "INI PASTI BERHASIL!" pekikku, membuat Sasuke ikut bangun dari ranjang.
Aku menulis sesuatu dalam bahasa Inggris, dan di bawahnya aku beri tempat untuk diterjemahkan ke Bahasa Jepang.
"Nah, Sasuke, kau terjemahkan."
Sasuke mengangguk, dan menulis huruf-huruf hiragana dan kanji tanpa bertanya apapun lagi.
"Ide bagus kan?" tanyaku, lalu mencium pipinya.
"Boleh juga."
"BESOK KITA SEBARKAN!"
Sasuke menguap lebar dan berjalan masuk kamar mandi. "Ya. Sekarang sikat gigi, lalu tidur."
"Ngomong-ngomong, Sasuke," tanyaku ketika Sasuke mengoleskan pasta gigi ke sikat gigi kami.
"Ya?"
"Apakah kau pernah coming out ke orangtuamu?"
"Maksudmu mengakui kalau aku gay? Orangtuaku mungkin tidak begitu peduli dengan orientasi seksualku, tapi entahlah. Kami tidak pernah membahasnya sama sekali. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga tidak pernah mengatakannya pada mereka," kataku, bersiap sikat gigi. "Tapi mereka bisa berhubungan baik dengan teman-teman gay mereka, jadi kurasa aku akan baik-baik saja waktu mengenalkanmu pada mereka."
"Mengenalkanku sebagai apa? Pacar?"
"Tentu saja! Kalau tidak ada restu mereka, bagaimana kita bisa menikah?"
Sasuke yang mau menyikat gigi mendadak berhenti. "Kau ini gila? Kita belum genap dua minggu resmi berpacaran dan sudah mengajakku menikah?"
"Kalau tidak mau, katakan tidak mau," Tegasku.
Sasuke diam sejenak, lalu menyikat gigi dan berkumur cepat-cepat, dan berbaring di ranjang. Aku buru-buru menyelesaikan sikat gigiku dan menyusulnya ke ranjang. "Kau tidak mau?" tanyaku. "Kau ingin kita cukup berpacaran saja tanpa ada kejelasan?"
"Kau... sungguh serius, Naruto?" tanyanya, menatap lurus ke mataku.
"Ya. I'm dead serious."
Sasuke menghela napas panjang, dan menatap langit-langit."Kau tahu kisah Yokohama Mary?"
"Tidak," jawabku. "Siapa itu?"
"Seorang wanita penghibur di masa Perang Dunia Kedua. Seorang prajurit Amerika memberinya cincin dan berjanji akan kembali ke Jepang, lalu menikahinya. Pada akhirnya prajurit Amerika itu pulang ke negaranya, dan meninggalkannya tanpa kabar. Wanita itu terlunta-lunta menunggu lelakinya, menua di jalanan Yokohama sampai ia meninggal." Sasuke sedikit berkaca-kaca saat menceritakan kisah itu. Aku menghapus air matanya dan mencium bibirnya.
"Kau berpikir kau akan berakhir seperti Yokohama Mary, Sasuke?" tanyaku. Sasuke tidak menjawab. "Sasuke, apa kau lupa kita hidup di jaman modern? Kita punya LINE, Whatsapp, Skype, email, bahkan aku akan memberi alamat kantor dan apartemenku di New York kalau kau mau. Aku juga punya instagram dan Facebook. Kenapa kau harus takut, hm? Kau tidak percaya padaku?" Kupeluk erat lelaki Jepang itu. "Kau harus percaya padaku, aku tidak tahu bagaimana caranya meyakinkanmu, tapi aku berharap kau mau hidup bersamaku. New York dan Tokyo hanya berjarak satu video call."
Sasuke masih diam di pelukanku. "Kau tahu?" tanyaku. "Sebenarnya bukan jarak yang membuat Long Distance Relationship itu menyulitkan."
"Lalu apa?" tanyanya
"Keragu-raguan," jawabku, lalu mencium puncak kepalanya. "Entah kenapa aku bisa merasakan keragu-raguanmu itu sampai ke lidahku."
"Rasanya bagaimana?"
"Sangat pahit," kekehku. "Wajahmu sangat manis, tapi keragu-raguanmu itu pahit, Sasuke." Lelaki manis itu mendongak dan tersenyum. "Kau sungguh serius?" tanyanya lirih.
"Serius." Kucium lembut bibirnya. "Sekarang, ayo kita tidur."
"Baiklah."
Aku melihat ke jendela yang mulai terang. Sepertinya kami akan tidur sampai siang, dan melewatkan satu hari dengan istirahat. Namun, aku tidak masalah dengan itu. Aku akan mempermasalahkan kalau kehilangan satu hari di mana Sasuke tidak ada di dalam pelukanku.
Liburanku akan usai, dan hari-hari tanpa Sasuke akan datang, di mana kehangatannya hanya bisa kurasakan melalui video call.
Dan inilah kali pertama aku mensyukuri aku hidup di jaman World Wide Web.
