Jemari gadis merah muda itu berhenti bergerak setelah menekan tombol huruf pada keyboard dan manik jamrudnya menatap untaian kata yang membentuk menjadi sebuah kesatuan berupa paragraf serta membaca isinya.

Ia kemudian menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar serta menekan tombol 'delete' hingga seluruh paragraf itu terhapus.

Ia sempat berjanji pada Sasuke kalau ia tidak akan menyerah. Setidaknya ia akan menyelesaikan sebuah novel baru dan mencoba mengirimkannya ke berbagai penerbit sebelum memutuskan untuk menyerah. Namun tak ada satupun inspirasi yang ia miliki untuk dituangkan ke dalam karyanya.

Setelah dibaca kembali, karya yang dibuatnya kali ini hampir sama dengan karya sebelumnya. Ia bahkan merasa bosan dengan diksi yang monoton, juga karakter utama yang berkepribadian hampir serupa.

Entah kenapa, Sakura selalu memasukkan karakter utama lelaki alpha yang dominan dimana digambarkan sebagai sesosok lelaki tampan, kaya raya, memiliki kekuasaan untuk melakukan apapun yang diinginkannya, serta memiliki kepribadian yang tempramental dalam setiap karyanya karena ia pikir seperti itulah karya yang disukai pasar.

Sedangkan untuk karakter utama wanita, selalu ia gambarkan sebagai sosok yang pasrah dan penurut pada sang karakter lelaki. Sosok wanita di setiap karyanya selalu digambarkan sebagai sosok inferior yang lemah meski sejujurnya ia tidak menyukai orang dengan kepribadian seperti itu di kehidupan nyata. Ia bahkan menyebut wanita seperti itu sebagai perempuan tolol yang menjadi budak lelaki meski ia tumbuh besar dan hidup di masyarakat yang cenderung patriarki.

Sakura memijit pelipisnya dan memejamkan mata. Ia benar-benar tak tahu harus membuat karya seperti apa agar karyanya diterima oleh penerbit dan laris di pasaran. Menurutnya kebanyakan perempuan cenderung menyukai kisah cinta yang romantis dan membenci kisah yang menyedihkan namun realistis.

Setiap menulis karya, Sakura tak pernah sekalipun benar-benar menikmatinya. Ia hanya memasukkan adegan-adegan romantis berlebih sesuai permintaan pasar dan ia bahkan tak pernah merasa seolah masuk ke dalam ceritanya sendiri. Dan ia yakin kalau pembacanya pun pasti demikian. Barangkali mereka hanya menikmati karya dengan fan service berlebihan yang diberikan Sakura serta penggambaran detil mengenai adegan ranjang yang jarang ditemui di novel pada umumnya sehingga mereka masih membeli novel Sakura.

Sakura segera melirik ponselnya dan menyadari jika jam telah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia harus segera makan malam sebelum berangkat menuju minimarket tempatnya bekerja sambil dari pukul tujuh malam hingga tiga pagi.

Ia berusaha bangun dari tempat tidurnya dan mengerang serta mengangkat tangannya tinggi-tinggi sebelum menatap wajahnya yang kusut di cermin. Wajahnya masih terlihat kencang tanpa kerutan di usia dua puluhan awal, tetapi tidak lagi dalam waktu sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.

Sakura segera berjalan ke cermin dan menatap wajahnya yang terpantul pada cermin secara detil. Ia tahu jika produk perawatan wajah berkualitas bagus yang diperlukan untuk merawat wajah bukanlah hal yang murah dan ia bahkan hanya memakai krim pelembab dan sabun cuci muka sebagai perawatan wajah karena hanya itulah yang bisa dijangkaunya.

Dan mendadak Sakura merasa ngeri hingga bergidik tanpa sadar. Ia takut jika ia akan berakhir dengan menua dalam kemiskinan setelah gagal meraih mimpinya serta selamanya hidup sebagai benalu bagi kedua orang tuanya.

.

.

'Ada apa denganmu, teme? Sejak tadi kau terlihat seperti menunggu seseorang,' ucap Naruto dengan bahasa isyarat setelah menepuk bahu Sasuke yang sedang gelas yang telah dicuci dan dikeringkan ke dalam lemari.

Sasuke menoleh dan mengernyitkan dahi. Naruto pasti sedang berhalusinasi karena ia tak sedang menunggu siapapun. Lagipula hari ini ia juga tak membuat janji dengan siapapun, jadi siapa yang ia tunggu?

Sai yang kebetulan memperhatikan Sasuke dan Naruto segera mendekat dan menggerakkan tangan.

'Kau sedang menunggu gadis yang selalu pesan kue earl grey itu, Sasuke-san?'

Ucapan Sai membuat Sasuke terkesiap untuk sesaat hingga tak menyadari bahwa bibirnya sedikit terbuka tanpa ia sadari.

Baik Sai maupun Naruto sama sekali tak menyangka jika Sasuke akan membuat reaksi seperti itu. Padahal mereka pikir Sasuke akan langsung menggelengkan kepala seraya menatap tajam, atau bahkan menjawab dengan sinis.

'Untuk apa?'

Naruto bertukar pandang dengan Sai sebelum menggerakkan tangan, memberi jawaban pada Sasuke.

'Mana kutahu. Mungkin kau tertarik padanya? Buktinya kau bahkan memberikan kue gratis padanya ketika kau bahkan tak pernah melakukannya pada pelanggan lain.'

Sasuke baru saja akan menjawab, namun Naruto menjentikkan jari tanpa sadar dan teringat sesuatu.

'Ah! Kau bahkan sempat bertukar pesan dengannya beberapa kali hingga berniat mengantar pesanan ketika kau tidak begitu suka berinteraksi dengan pelanggan. Lalu kau juga sampai meminjamkan coat mahalmu padanya.'

Sasuke mengernyitkan dahi untuk sesaat. Coat mahal? Rasanya semua pakaiannya biasa-biasa saja. Namun ia teringat jika apa yang diangapnya biasa saja bisa berarti mahal atau bahkan sangat mahal bagi orang lain.

Sebetulnya Sasuke tak begitu nyaman membahas kehidupan pribadinya pada orang lain. Itachi adalah satu-satunya orang yang bisa diajak berbincang secara mendalam meski ia juga menyembunyikan hal-hal tertentu dari lelaki itu. Namun ia merasa harus memberi penjelasan dan meluruskan persepsi Naruto yang berbeda dengan fakta.

Sepertinya kini Sasuke menyadari kenapa reaksi teman-temannya berbeda setiap Sakura datang. Mereka secera otomatis akan melirik Sasuke dan berpura-pura sibuk dengan pelanggan lain sehingga meminta Sasuke mengantar pesanan.

Sasuke mengeluarkan suara decakan yang setidaknya masih bisa terdengar bagi Naruto meski tak terdengar bagi Sai dan menampilkan raut wajah sinis serta menggerakkan tangannya.

'Kalian salah paham, Bodoh. Aku cuma bertemu gadis itu di supermarket dan meminjamkan coat karena dia terus diperhatikan setelah bersin terus-menerus. Lalu dia memberikan biskuit saat mengembalikan coat-ku dan aku memberinya kue gratis.'

Naruto tak percaya begitu saja meski Sasuke bahkan sampai memberikan penjelasan panjang lebar. Ia tahu kalau sahabatnya adalah orang yang baik sesunguhnya, tetapi lelaki itu cenderung menjaga jarak pada lawan jenis, entah apa sebabnya.

Kiba, salah seorang karyawan bagian dapur, bahkan sampai berpikir kalau Sasuke adalah seorang pecinta sesama jenis. Bahkan ia sendiri sempat mencurigai hal tersebut, terlebih setelah teringat bahwa ia sendiri adalah ciuman pertama lelaki itu meski dilakukan tanpa sengaja semasa sekolah.

Namun kini Sasuke terlihat berbeda saat berhadapan dengan gadis merah muda itu. Tatapan Sasuke terlihat sedikit lebih lembut dan lelaki itu bahkan selalu membuat latte pesanan Sakura dengan gambar tertentu

'Kalau kau suka padanya juga tidak apa-apa.'

Sai menggerakkan tangannya dan menepuk bahu Sasuke dengan perlahan.

Sasuke menggelengkan kepala. Menyukai seseorang bukanlah sebuah masalah yang besar, tetapi tidak bagi dirinya.

Ketika ia menyukai seseorang, akan timbul perasaan ingin memiliki. Dan perasaan ingin memiliki adalah suatu hal yang tak seharusnya dimiliki olehnya, tak peduli terhadap sesama jenis atau lawan jenis.

'Aku tidak akan menyukai siapapun,' jelas Sasuke dengan menggerakkan tangan.

Sesudahnya lelaki itu segera berpaling, meninggalkan kedua temannya yang saling bertatapan dalam diam, seolah pesan dapat tersampaikan hanya melalui tatapan.

.

.

"Selamat datang," ucap Sakura pada seorang lelaki paruh baya yang tampaknya sedang mabuk.

Lelaki itu berjalan sempoyongan dan berjalan menuju lemari pendingin serta mengambil dua botol bir sebelum berjalan menuju kasir.

Sakura menahan nafas ketika lelaki itu berjalan mendekatinya dengan aroma alkohol yang menyeruak dari tubuh lelaki itu. Ia berharap agar lelaki itu segera pergi sehingga ia berusaha melayani lelaki itu secepat mungkin. Setidaknya ia beruntung karena minimarket sedang sepi pada pukul setengah dua belas malam.

Namun nasib baik seolah tak berpihak pad Sakura ketika lelaki itu mendadak berkata dengan suara meninggi, "Apa-apaan kau, Jalang? Kau pikir aku menjijikan?"

Sakura merasa tidak suka dengan lelaki paruh baya itu, tetapi ia memutuskan untuk diam dan meraih botol bir yang diletakkan di atas meja kasir serta berusaha meng-scan barcode yang tertera.

Belum sempat Sakura meraih botol itu, lelaki mabuk itu segera meraih botol itu dan mengenggam kepala botol dengan erat.

"Sial! Kau tahu kalau pelanggan adalah raja, 'kan? Jawab aku, Pelacur!"

Sakura menatap lelaki paruh baya itu dengan nanar sebelum mengalihkan pandangan pada salah seorang rekan kerjanya yang juga sesama wanita. Malam ini mereka sedang kurang beruntung karena pegawai pria yang seharusnya datang untuk shift malam sedang sakit, sedangkan yang lainnya sedang bertukar shift dengan pegawai wanita yang bekerja di siang hari.

Sakura berada di posisi yang tidak menguntungkan saat ini. Sebetulnya ia bisa saja berusaha melawan lelaki itu, namun entah kenapa ia merasa ketakutan karena kini lelaki itu sedang memegang botol bir. Bisa saja lelaki itu menyerangnya dengan botol tersebut. Lagipula ia juga tidak bisa bersikap seenaknya pada pelanggan.

Tatapan Sakura tertuju pada dua pegawai wanita yang berada di toko dan mereka berdua bahkan mematung karena terkejut dan ketakutan ketika sebetunya ia berusaha meminta bantuan mereka untuk menghubungi polisi melalui tatapan yang mengisyaratkan permintaan bantuan.

Pada akhirnya ia memutuskan untuk menjawab lelaki itu, "Tolong berikan botol bir anda. Saya harus meng-scan barcode ke scanner."

Lelaki paruh baya yang sudah mabuk dan kehilangan kewarasannya itu menyahut, "Sial! Kau menginginkan barangku? Dasar perempuan materialistis."

Sesudahnya, lelaki itu membenturkan botol bir dengan keras ke permukaan meja kasir hingga botol itu pecah dan cairan bir segera membasahi meja kasir dan beberapa kemasan produk di bawah meja kasir.

Pecahan kaca botol itu berhamburan dan salah satu dari botol itu yang tanpa sengaja terhempas menggores lengan kiri Sakura hingga berdarah sebelum jatuh ke bawah meja kasir.

"Hey! Anda harus mengganti kerugian!" seru Sakura dengan suara meninggi seraya memegang lengannya yang berdarah secara refleks menggunakan telapak tangan kanannya. Ia bahkan tak peduli dengan darah yang mengotori telapak tangannya.

"Berisik! Mau kupukul?" bentak lelaki itu seraya mengangkat pecahan botol bir di tangannya dan berniat memukul Sakura.

Lelaki itu segera menghampiri Sakura dan mengulurkan tangan serta meremas payudara Sakura dengan satu tangan hingga gadis itu terkejut, sedangkan dua pegawai wanita lainnya hanya bisa menangis ketakutan serta menjerit.

Sakura merasa begitu marah dan ingin menghajar lelaki itu, tetapi nyalinya segera ciut ketika melihat potongan botol kaca yang tajam di tangan lelaki itu.

Waktu seolah berlalu begitu lama meski faktanya beberapa detik telah berlalu. Sakura menahan diri untuk tak mengeluarkan air mata dan menatap lelaki itu dengan jijik.

Hingga Tuhan seolah menyelamatkannya ketika pintu minimarket terbuka dan tampaknya seorang pelanggan masuk ke dalam minimarket.

Sakura bahkan tak sempat memperhatikan orang yang datang secara detil ketika pelanggan itu dengan cepat menyadari apa yang terjadi dan segera menghampiri meja kasir serta menendang tubuh lelaki paruh baya itu dengan keras hingga tersungkur.

"Bangsat! Siapa kau?" seru lelaki paruh baya itu dengan suara meninggi.

Namun pelanggan itu tak menjawab dan ia menginjak tubuh lelaki paruh baya itu hingga dada lelaki itu kembali menghantam keramik dengan keras ketika hendak bangun.

Lelaki paruh baya itu mengenggam botol bir di tangannya dan berniat melukai kaki Sakura yang berada di dekatnya, namun sebelum ia sempat melakukannya, pelanggan itu sudah menarik tangan lelaki itu ke belakang dengan keras dan merebutnya.

Sang pelanggan yang merupakan seorang lelaki muda jelas memiliki tenaga yang jauh lebih besar dibanding seorang lelaki paruh baya berusia pertengahan empat puluhan. Dan lelaki muda itu kini menyeret kaki pelanggan itu dengan kasar.

"Bangsat! Dasar putra pelacur!" seru lelaki paruh baya itu. Ia berusaha bangkit berdiri dengan telapak tangannya, tetapi kini Sakura mulai kehilangan rasa takut sehingga ia menendang dagu lelaki itu dengan keras menggunakan hak sepatu.

"Cepat hubungi polisi!" seru Sakura pada salah seorang rekan kerjanya.

Hinata, gadis berambut ungu yang tampak ketakutan itu segera mengeluarkan ponsel dengan tangan bergetar dan segera menghubungi polisi, sedangkan kini sang pelanggan yang baru datang itu berusaha menahan tubuh lelaki paruh baya itu dengan cara mendudukinya dan kedua kakinya menginjak betis lelaki paruh baya itu agar tak bisa bergerak.

Tatapan lelaki muda itu tertuju pada Sakura dan ia terkejut untuk sesaat, ia baru menyadari jika gadis kasir itu adalah seseorang yang dikenalinya. Sebelumnya ia tak begitu memperhatikan wajah gadis kasir itu dan langsung bergegas saat melihat seorang lelaki mabuk mengarahkan pecahan botol bir dan tampaknya berniat melukai seseorang.

Dan Sakura tak kalah terkejut saat menyadari kalau ia mengenali pelanggan itu. Untuk sesaat ia terdiam sebelum akhirnya berkata, "Sasuke?"

Sasuke hanya menganggukan kepala sebagai respon pada gadis merah muda itu. Tatapan yang tertuju pada gadis itu seolah bertanya 'kau baik-baik saja?'.

-TBC-


Author's Note :


Berbeda dengan beberapa karya sebelumnya, konflik di cerita ini terletak pada perasaan dan pemikiran tokoh utama dalam realita yang mereka hadapi.

Di sini, aku berusaha menggambarkan Sasuke yang hidup dengan ekonomi berkecukupan, namun merasa ragu memiliki hubungan dengan lawan jenis karena menyadari dirinya cacat dan menganggap dia beban bagi orang lain.

Sedangkan Sakura berasal dari keluarga biasa & memiliki kesulitan ekonomi karena memutuskan untuk berusaha meraih impiannya sesudah lulus kuliah. Namun meraih impian nggak semudah yang terlihat sehingga Sakura berusaha berpikir realistis dan menyerah.

Sama seperti di kehidupan nyata dimana setiap orang memiliki kesulitan masing-masing, aku pun berusaha memasukkan konsep seperti itu di fanfict ini.