Disclaimer: Kuroko no Basuke is belong to Tadatoshi Fujimaki, of course

Main Cast: Kuroko Tetsuya, Akashi Seijuro, Kise Ryouta, Aomine Daiki, Murasakibara Atsushi, Midorima Shintarou

Warning: Au, ooc, konsep yang (mungkin) sudah umum

Akira Scarlet present: How to Survive

Chapter 7: Attack!

"Kalian melihat Akashi? Ia tidak ada di kamarnya pagi ini," tanya Tatsuya saat mereka sarapan.

"Tidak ada? Memangnya dia kemana?" Aomine balas bertanya. Saat mereka berpikir, tiba-tiba Midorima berdiri.

"Tunggu sebentar, Kuroko menghubungiku," Midorima keluar dari ruang makan.

Tak lama kemudian Midorima kembali dengan wajah cemas. "Akashi. Dia ditangkap."

"Ditangkap? Aka-chin ditangkap?" tanya Murasakibara tidak percaya.

"Kuroko berkata kalau pagi ini Seirin membicarakan Akashi yang sudah berada di ruang tahanan mereka. Kuroko sendiri baru dapat menemuinya siang ini. Bersama ketua Seirin pula," Jelas Midorima.

"Kalau begitu rencana kita bagaimana?" tanya Kagami.

"Kita harus ubah rencana sepertinya," Jawab Tatsuya.

Siang harinya, mereka akhirnya berhasil menyusun rencana.

"Jadi," Ujar Tatsuya "Karena kita tahu letak markas Seirin di London, kita bisa menyerang. Midorima, kau bertempat di gedung kosong sebelah markas tersebut. Kau sniper kan? Jadi kau butuh tempat yang agak jauh. Kau akan bersama Takao nanti. Aomine dan Murasakibara, kau bertugas menemani Kise mencari batu berlian itu karena Kise yang memegang pedangnya. Aku dan Kagami akan menahan anggota Seirin yang lain. Sedangkan Kuroko akan membebaskan Akashi. Sayang tampaknya Haizaki tidak bisa ikut kali ini."

"Kalau begitu kita bisa menyerang malam ini?" tanya Kagami.

"Tidak. Letak markas Seirin sangat tertutup. Kita harus kesana menggunakan pesawat tempur lalu berjalan menuju markas tersebut."

"Mengapa kita harus naik pesawat tempur?" tanya Midorima.

"Karena didekat markas itu ada landasan yang hanya bisa dipakai oleh pesawat tempur. Sudah kubilang tadi, letak markas Seirin tertutup. Jadi kita tidak bisa menggunakan pesawat biasa lalu naik mobil kesana. Kecuali anggota Seirin tentunya."

"Apa ada solusi untuk masalah ini?"

"Ada. Kalian dan aku kan pergi ke pangkalan militer, meminjam pesawat tempur, lalu berangkat kesana. Masalahnya pesawat itu hanya memuat maksimal 3 orang setiap pesawat. Itu artinya kita butuh 3 pilot."

"Ada yang ingin aku tanyakan. Eropa sedang berselisih dengan Asia dan kita adalah orang Asia. Apa mereka mau meminjamkan pesawat mereka?" Tanya Murasakibara.

"Mau dengar berita bagus?" Tanya Tatsuya, "Kemarin pemerintah Eropa dengan Seirin berdebat, sehingga pemerintah Eropa dengan Asia setuju untuk bekerja sama dalam menangani Seirin dan Niger kesayangan mereka."

"Itu berita bagus," Ujar Aomine. "Kalau begitu kembali ke persoalan. Kita butuh 3 pilot, apa ada yang bisa mengendarai pesawat disini?"

"Aku dan Tatsuya bisa," Jawab Kagami. "Kita butuh satu orang lagi."

"Kalian melupakan aku," Ujar Takao, "Siapa bilang aku tidak bisa menjadi pilot?"

"Kau bisa?" tanya Tatsuya. "Seingatku kau tidak pernah mengatakan apa-apa."

"Aku belajar 2 bulan yang lalu. Jadi pilotnya pas kan?"

"Ya. Sekarang semuanya beres."

"Baiklah. Kita sekarang hanya harus menghubungi Kuroko," Aomine menyalakan communicatornya.

.

Seirin sedang mengadakan rapat mengenai apa yang akan mereka melakukan pada Akashi ketika communicator Kuroko berbunyi.

Gawat, kenapa sekarang? Pikir Kuroko. Ia berdiri. "Maaf, sepertinya aku harus ke toilet."

"Baiklah, jangan terlalu lama," Kata Hyuga tanpa curiga sedikitpun.

Kuroko segera berlari menuju toilet. Setelah ia yakin tidak ada siapa-siapa, ia baru mengambil communicatornya.

"Aomine-kun? Ada apa? Aku sedang rapat," Ujar Kuroko.

"Dengar Kuroko, kami akan menyerang markas Seirin secepatnya. Begini rencananya," Aomine menjelaskan rencana mereka.

"Aku mengerti. Aku akan bilang pada Akashi," Ujar Kuroko.

"Bilang pada Akashi? Bagaimana caranya?" tanya Aomine.

"Akan aku lakukan dengan caraku sendiri Aomine-kun. Kau tidak perlu khawatir," Jawab Kuroko sebelum mematikan communicatornya.

Saat Kuroko kembali, rapat sudah selesai. Hyuga menghampirinya, "Kuroko. Kau sudah siap untuk bertemu Akashi kan?"

Kuroko mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju ruang tahanan.

.

Ketika Akashi tersadar, ia berada di ruang tahanan. Tangan dan kakinya diikat, sehingga ia tidak bisa kemana-mana. Untung saja mulutnya tidak ditutup dengan kain.

Mungkin ruangan ini kedap suara. Jadi mereka berpikir aku bisa berteriak sepuasnya tanpa ada yang mendengar, Pikir Akashi.

Akashi berusaha mengingat apa yang terjadi malam itu. Dan ia menyadari kalau yang menyerangnya tadi malam adalah Kasuga, saudara sepupunya sendiri.

"Ryuhei, apa yang dia mau?" Gumam Akashi. "Aku harus memberitahu Ryouta kalau saudara kandungnya telah menjadi musuhnya. Tapi bagaimana caranya?"

Tak lama kemudian Akashi mendengar suara pintu dibuka. Ia melihat salah satu anggota Seirin datang bersama Kuroko.

"Akashi Seijuro," Kata anggota Seirin tadi, "Kau sudah terbangun rupanya."

"Kalau iya, memang kenapa?" Balas Akashi. "Kau akan melakukan apa padaku?"

"Kami setuju untuk menginterogasimu besok malam. Sebaiknya kau persiapkan dirimu. Kuroko, apa ada yang ingin kau katakan?"

"Ya," Jawab Kuroko. "Akashi-kun, karenamu semua rencana gagal. Semua temanmu pasti menyerah dan tidak melakukan apa-apa. Dan aku tidak akan membantumu."

Akashi ingat apa yang dikatakan Kuroko kemarin ini. Ia harus membalik semua kata-kata Kuroko untuk mengetahui arti kata yang sesungguhnya. Berarti yang berusaha Tetsuya ucapkan adalah 'Akashi-kun, karenamu semua rencana berhasil. Semua temanmu tidak akan menyerah dan akan menyerang. Dan aku akan membantumu. Pikir Akashi. Tapi apa arti 'karenamu semua rencana berhasil'? Sepertinya itu hanya basa-basi Tetsuya saja.

"Sudah selesai?" Tanya Hyuga. "Kau memang hebat, bisa sebegitu kejamnya pada temanmu sendiri. Tidak, mantan teman lebih tepat."

"Ya. Ayo pergi," Ujar Kuroko berjalan keluar dari ruang tahanan. Hyuga mengikutinya.

.

.

"Kalian cukup diam. Biar aku yang berbicara pada ketua pangkalan ini," Ujar Tatsuya saat mereka sampai di pangkalan militer.

"Oh Tatsuya, ada apa kau kemari?" Tanya ketua pangkalan tersebut yang tampaknya kenal baik dengan Tatsuya.

"Saya ingin meminjam 3 pesawat AA anda. Apa boleh?" Tanya Tatsuya.

"AA adalah singkatan dari Air Army, nama pesawat tempur saat ini," Jelas Kagami pada Aomine, Midorima, Kise, dan Murasakibara.

"Boleh saja. Tapi untuk apa?"

"Saya ada keperluan. Ini ada hubungannya dengan Seirin."

"Seirin? Oh baiklah baiklah, akan aku siapkan pesawatnya."

"Terima kasih banyak."

Tatsuya tersenyum saat ketua pangkalan itu berjalan pergi. "Beres kan?" Tanyanya.

Kagami mengacungkan kedua ibu jarinya. "Hebat, seperti biasa."

"Baiklah, pembagian pesawatnya. Midorima dengan Takao, Kagami dengan Aomine, sisanya denganku," Ujar Tatsuya.

Setengah jam kemudian mereka sudah naik kedalam pesawat. Saat itu hari masih pagi, tapi cuaca tampak kurang bersahabat.

"Kita akan mengadakan penerbangan pada cuaca buruk, dengan kecepatan penuh pula. Jadi kalian pasang sabuk pengaman kalian yang benar ya," Pesan Tatsuya.

"Memang keamanan nya tidak terjamin ssu?" Tanya Kise.

"Who knows? Bahan bakar habis atau meledak, menabrak sesuatu, atau ada mesin yang tidak berfungsi, semua hal itu tidak bisa tertebak."

"Astaga," Ujar Murasakibara.

"Baiklah. Semuanya siap ya," Tatsuya mulai menyalakan mesinnya.

Penerbangan berjalan secara mulus, untungnya. Tatsuya tampak ahli dalam menangani pesawat AA tersebut. Untunglah jarak antara Paris dengan London cukup dekat.

Saat mereka sampai, hujan mulai turun. Mereka berjalan dengan pakaian yang basah.

"Untung saja senjata kita tahan air ya," Ujar Takao.

"Ya. Sebenarnya aku mengkhawatirkan Midorima. Apa kau bisa membidik dengan cuaca seburuk ini?" tanya Tatsuya.

"Akan kuusahakan," Jawab Midorima.

Takao dan Midorima pergi menuju gedung kosong, sementara yang lain pergi menuju markas Seirin. Mereka berpikir akan mendobrak pintu, tetapi ternyata pintu markas itu tidak dikunci.

"Ini aneh," Ujar Murasakibara. "Apa mereka tahu kalau kita akan menyerang?"

"Bisa iya bisa tidak. Kita hanya harus menyerang," Jawab Tatsuya.

Mereka mulai memasuki gedung yang merupakan markas Seirin tersebut. Sesampainya pada aula gedung itu, mereka berpisah seperti yang direncanakan.

.

"Hyuga, kita diserang," Ujar Kiyoshi. "Bagaimana?"

"Suruh anggota kita untuk menyerang balik. Sayang anggota kita sudah berkurang banyak semenjak perdebatan itu. Aku akan menunggu di ruang rapat. Kalau dugaanku benar, mereka mengincar batu berlian itu."

"Baik."

"Ngomong-ngomong dimana Kuroko?"

"Kuroko? Aku tidak melihatnya. Jika bertemu akan kusuruh dia pergi menemuimu."

Saat yang lain pergi menyerang, Kuroko pergi menuju ruang tahanan. Dalam keadaan seperti ini, tidak akan ada yang memikirkan Akashi.

"Tetsuya?" Tanya Akashi saat Kuroko masuk ke dalam ruang tahanan.

"Aku akan membebaskanmu Akashi-kun. Mereka sudah mulai menyerang," Kuroko mengambil pisau lipat dari sakunya dan membuka ikatan Akashi.

"Terima kasih. Artinya kita juga harus melawan kan?" Tanya Akashi.

Kuroko menyerahkan sebuah pistol kepada Akashi. "Aku masih punya satu rencana untuk kita Akashi-kun."

"Oh, dan apa rencana itu?"

.

.

Aomine, Kise, dan Murasakibara berlari menyusuri lorong markas Seirin.

"Menurut perkiraan Tatsuya, seharusnya berlian itu berada di sekitar sini," Ujar Murasakibara.

"Tapi di ruangan yang mana?"

Saat mereka hendak melangkah lebih jauh, mereka melihat dua orang lelaki berdiri dihadapan mereka. Tampaknya kedua lelaki itu ingin menghadang mereka.

"Kalian pergi duluan, biar aku yang mengurus mereka," Ujar Aomine.

"Tapi," Kise ingin membantah, tapi Murasakibara sudah menariknya, "Ayo."

Mereka berdua segera berlari, meninggalkan Aomine dengan kedua lelaki tadi.

"Dua lawan satu?" Tanya Aomine.

"Tampaknya lawan kita ini sangat lemah," Ujar salah satu lelaki itu. "Namaku Kotaro Hayama dan ini Chihiro Mayuzumi. Kami yang akan menjadi lawanmu."

"Aomine Daiki," Jawab Aomine, "Dan aku yang akan menghancurkan kalian yang sudah meremehkanku."

.

Murasakibara dan Kise masih mencari berlian itu, mereka akhirnya masuk kedalam salah ruangan yang besar.

"Dimana kita?" Tanya Murasakibara.

"Menurut peta, kita harus melewati ruangan ini. Lalu ada ruangan satu lagi. Setelah itu baru ruangan tempat berlian itu. Sepertinya ssu," Jawab Kise.

"Aku sudah menunggu kalian."

Mereka berdua menoleh, tampak seorang lelaki berdiri dihadapan mereka.

"Lagi?" Ujar Murasakibara. "Kau pergi duluan saja, aku akan mengurus yang satu ini."

Kise mengangguk, "Baiklah. Semoga beruntung!"

"Baik sekali kau," Kata lelaki itu.

"Begitukah? Sayangnya aku tidak akan baik padamu," Jawab Murasakibara.

"Terserah kau saja. Kensuke Fusui."

"Murasakibara Atsushi."

.

Kise berlari menuju ruangan berikutnya. Tinggal satu ruangan lagi, Pikir Kise. Ia membuka pintu ruangan tersebut.

Sayangnya, seseorang telah menunggunya. Kise mengambil pedangnya – yang merupakan pedang Gris-, bersiap melawan.

Seseorang itu mendekati Kise, dan perlahan Kise bisa melihat wajahnya.

"Kasuga-nii?" Tanya Kise tidak percaya.

"Lama tidak bertemu, Kise," Jawab Kasuga. "Kau sudah besar rupanya."

"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau..Berada di pihak Seirin?"

"Sayangnya ya. Dan aku yang akan menjadi lawanmu sekarang," Kasuga mengambil long sword-nya.

Kasuga langsung menyerang, dan Kise sebisa mungkin menangkis serangannya. Tapi Kasuga lebih cepat, sehingga Kise agak kewalahan.

"Jangan menahan dirimu. Lawan saja aku sekuat tenaga," Ujar Kasuga. Ia melanjutkan ucapannya, "Ngomong-ngomong Kise, kau tahu hari ini tanggal berapa?"

"Tanggal.. 15 Februari," Jawab Kise. Ia bisa mendengar suara hujan yang turun dengan derasnya diluar. Dan ia tersentak saat menyadari hari apa sebenarnya hari itu.

"15 Februari ya," Ujar Kasuga. "Apa kau ingat hari ini 7 tahun yang lalu?"

"Ya," Jawab Kise. Hari yang tidak akan dilupakannya, hari yang mengubah seluruh hidupnya…


Chapter seven... Seirin sudah mulai diserang, dan mereka memiliki lawan masing-masing. Akan seperti apa kelanjutannya? ^^

Anyway, Akira mau berterima kasih untuk yang sudah mereview, fave, dan follow.

Untuk yang mereview, terima kasih ya karena sudah mengingatkan Akira mengenai kesalahan-kesalahan pada fic ini. Thank you so much!