Minna, minna, minna, minnaaaa~~~ Kuro datang lagi! *dilempar sepatu*

Aduh~ Mohon maaf Kuro baru sempet update sekarang!

*natap ripiu* *cengo* Gak nyangka bakalan banyak banget yang ripiu~ T^T Kuro love you all! *meluk-meluk ripiuer*

Nyah! Gak banyak histeria, enjoy!

Disclaimmer

Bleach © Tite Kubo

Winter Disciplin © Kurochi Agitohana

Warning: Full of OOC! Don't like don't read!


Kilas balik chappie 5

Rukia yang sering terlambat berangkat sekolah diberi hukuman neraka oleh Kurosaki Ichigo. Setelah diantar pulang oleh Ichigo, Rukia mendapat berita mengejutkan! Dia akan dititipkan pada salah seorang teman Byakuya selama dua minggu!


Chappie 6

Aku melangkahkan kakiku dengan langkah ringan menjauhi pekarangan rumah yang tertutup salju. Hari ini salju menumpuk, bahkan masih ada yang turun walau dalam jumlah yang sedikit. Salju yang menumpuk itu mencapai mata kakiku. Cukup sulit digunakan untuk berjalan. Tapi untung saja jalan utama tak terlalu tertutup. Kalau tertutup sepenuhnya, bagaimana orang akan beraktifitas?

Aku memasukkan kedua tanganku yang terbalut sarung tangan ke dalam saku mantelku. Berusaha mengusir sedikit rasa dingin yang mengejarku sejak keluar dari rumah tadi.

Srak... Srak... Srak...

Suara langkah kakiku terdengar jelas–gara-gara salju–di jalanan. Satu hal yang membuat aku heran sepanjang pagi ini... Kenapa aku bisa bangun pagi ya? Biasanya aku selalu bangun terlambat dan tak akan bangun walau kau berteriak kencang tepat di telingaku.

Sewaktu turun dari kamar menuju dapur pun, Nee-san terlihat shock. Dia bahkan sampai mengigau kalau aku bukan Rukia. Nii-sama juga sama saja. Dia bahkan sepanjang sarapan memperhatikanku dengan tatapan aku-tak-percaya-hal-ini-bisa-terjadi. Mereka berdua menatapku seakan aku ini adalah makhluk asing yang baru mendarat di bumi.

Aku sampai salah tingkah di hadapan mereka berdua. Memakan sarapan pun jadi tak berselera. Padahal aku sangat lapar. Alhasil, aku hanya makan separuh dari jatah makan pagi. Menyesal aku pergi cepat-cepat, sekarang perutku masih bernyanyi dengan riang gembira.

"Rukia-chan~" Aku menengok ke belakang mendengar seseorang memanggil namaku. Aku melihat Momo berlari ke arahku sambil melambaikan tangannya dengan heboh.

"Mo–" Perkataanku diinterupsi pelukan Momo yang tiba-tiba.

"Rukia-chan~" Dia malah mempererat pelukannya dan juga mengguncang-guncang tubuhku. Aku akan mabuk di pagi hari.

"Momo, lepas. Aku berasa mual~" Aku berusaha melepas pelukan-penyebab-mabuk milik Momo dengan sedikit mendorong tubuhnya dengan tangan mungilku.

"Ahaha... Gomenna Ruki-chan. Aku hanya heran saja denganmu hari ini," dia berbicara seperti itu sambil menggosok belakang lehernya dan menjulurkan lidahnya. Santai sekali sih dia berbicara seperti itu.

"Apa maksudmu?" Aku melipat kedua tanganku serta mengerutkan kedua alisku hingga hampir bertaut satu sama lain. "Yaaah... Biasanya kan Ruki-chan jam segini masih ada di kasur!" Momo meletakkan jari telunjuk kanannya di dagu dan menerawang ke langit sambil mulai berjalan lambat. Aku sweat dropped melihat gayanya yang sama sekali tak mirip detektif itu.

Aku hanya memutar bola mataku mendengar alasannya memelukku pagi-pagi. Kulangkahkan lagi kakiku hingga dapat berjalan sejajar dengan Momo. Aku melirik sedikit ke arahnya. Dari tadi dia tak melepas pose norak itu. Bahkan sekarang ditambah dengan kerutan di dahi. Entah apa yang dipikirkan gadis lugu ini, aku tak mau tahu. Karena hal itu sepertinya mencurigakan dan aku tak mau terlibat di dalamnya.

"Oh iya!" Dia tiba-tiba berhenti dan memukul telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanannya dan timbul bunyi 'plop'. Aku sedikit terlunjak dan menoleh ke arahnya dengan tatapan horor. Tapi apa yang kudapat darinya? Momo malah tersenyum menyeringai ke arahku. Aku bergidik melihatnya seperti itu.

"A-ada apa Momo?" Aku bertanya sedikit gagap karena perubahan sikap Momo yang terlalu 1800, atau mungkin malah lebih dari itu. "Ehehe..." Seringainya malah semakin melebar! Apa Momo kemasukan arwah musim dingin ya?

Aku mengambil tiga langkah mundur dari tempat semula aku berdiri. Di-dia mendekat! Aku jadi semakin merinding. Ketika dia sudah sampai di hadapanku, dia memegang kedua pundakku, membuatku tak bisa lari. "Ruki-chan, aku dengar kemarin Kurosaki-senpai terluka saat di ruang kesehatan?" Aku hanya mengangguk cepat mendengar pertanyaan Momo.

"Lalu, apa benar kau menunggui Kuro-senpai?"

"Err..." Aku mengalihkan pandanganku dari tatapan penuh arti milik Momo. Kenapa aku jadi ingin berlari ya? "Hehehe..." Aku hanya bisa tertawa garing sambil melepas pelan-pelan cengkeraman Momo. Langkah selanjutnya...

Wuuuuushh...

"Ah! Ruki-chan, jangan lari. Jawab dulu pertanyaanku!" Aku melihat ke belakang, kulihat Momo mengejarku sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dan mulutnya komat-kamit memanggil namaku.

"Hahaha... Ayo kejar aku kalau bisa, Momo..." Aku sama sekali tak mengalihkan pandanganku dari Momo yang masih berlari mengejarku.

Bruukk...

"Aduuuhh..."

"Ouchh..."

Aku mendongak ke atas berusaha melihat siapa yang tadi menimbulkan bunyi 'ouchh'. Seketika itu pula, aku hanya bisa jaw dropped. Kenapa harus dia yang aku tabrak?

"Hei kau! Hati-hati kalau jalan!" Dia mengusap dadanya yang tadi terkena hantam kepalaku. Tapi sepertinya dia belum sadar kalau aku yang menabraknya. Dia melihat ke arahku dengan tampang garang. Tapi berubah ketika dia mendapati wajahku masih dengan jaw dropped.

"Hoo~ Ternyata kau ya, Kuchiki?" Dia hanya menatapku yang masih terduduk di jalan dingin penuh salju sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Aduh, Ruki-chan. Larimu kencang sekali. Aku capek pagi-pagi harus terus lari," aku menoleh ke samping kananku dan mendapati Momo ngos-ngosan dengan menumpukan kedua tangannya di lutut.

"Hye? Ruki-chan, kenapa kau duduk di jalan? Bukannya itu dingin?" Momo mengalihkan pandangannya ke arahku dan berjongkok di sebelahku. Apa dia tak sadar ada si jeruk mesum di depannya?

"Ehem!" Aku dan Momo langsung menoleh mendengarnya berdehem. "Ah! Kuro-senpai! Ohayou!" Aku sweat dropped melihat Momo yang langsung melompat berdiri begitu melihat si jeruk.

"O-ohayou!" Ternyata dia juga sweat dropped! "Ah! Kuro-senpai, apa benar kemarin kau terluka di ruang kesehatan? Terus apa Ruki-chan menungguimu?" Momo bertanya kepada Ichigo dengan suara yang menggebu-gebu. Aku berdiri setelah sadar kalau duduk di atas salju itu sama saja dengan tindakan bodoh.

"Oh, soal itu ya?" Kulihat Ichigo menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Momo. Sedangkan Momo malah mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat. "Errr... Itu... Ano..." Ichigo hanya mengusap belakang lehernya. Dia, gugup ya?

"Benar tidak Kuro-senpai?" Momo semakin mendesak Ichigo. Dalam hati aku berbisik, rasakan kau jeruk! Tapi, sepertinya situasi ini juga berbahaya untukku.

"Ruki-chan, tadi kau juga belum menjawab pertanyaanku!" Tuh kan! Momo malah balik bertanya padaku tentang hal itu–lagi.

"Hahaha... Itu..." Aku tertawa keki sambil melihat arah lain.

Wussshh...

"Ah! Ruki-chan~ Kenapa kau lari lagi?" Suara Momo menggema menuju telingaku. Dia sepertinya kesal tak kuhiraukan. Ichigo, kuserahkan masalah Momo yang serba ingin tahu kepadamu! Yang penting, seharian ini aku harus jauh-jauh dari makhluk oren Ichigo dan cewek cepol Momo.


Time skip

Istirahat siang

Koridor lantai tiga gedung utama tampak penuh dengan murid-murid yang ingin beristirahat. Aku juga termasuk di dalamnya, tapi tempat yang ingin kutuju bukan atap sekolah maupun halaman belakang sekolah seperti biasa dimana aku selalu menghabiskan makan siang dengan yang lainnya. Tentu saja hanya pada saat musim semi, panas atau gugur. Memangnya siapa yang mau makan siang di luar jika ada banyak salju?

Kali ini aku melangkah sendirian menyusuri koridor dengan langkah lebar. Tujuanku, toilet wanita. Terima kasih kepada Mayuri-sensei yang sama sekali tak mengijinkan seorang murid pun untuk keluar dari pelajarannya walau hanya sekadar ingin buang air kecil.

Yang benar saja! Aku sudah menahan hasrat ingin buang air kecil sejak tadi. Kalau bukan karena ancaman 'akan-kujadikan-kalian-bahan-percobaanku-jika-ada-salah-satu-dari-kalian-yang-tak-mengikuti-pelajaranku,' aku pasti sudah melarikan diri dari sana.

Ah! Surga di depan mata! Itu dia toiletnya.

"Hei, kau midget! Berhenti di situ!" Langkahku berhenti seketika. Suara ini. Mendengarnya saja sudah membuatku kesal. Aku segera membalikkan badanku–bertemu pandang dengannya. Benar kan! Ternyata Ichigo yang menginterupsi angan-angan indahku tentang toilet.

"Mau apa kau?" Aku hanya menanggapi dirinya dengan ketus. "Ck! Kasar sekali. Kau seperti bukan wanita saja."

"Apa kau bilang?" Ternyata dia mau mengajak berkelahi ya? Ayo saja! Akan kuladeni kau. "Sudahlah lupakan! Aku hanya ingin berbicara denganmu," dia hanya melipat kedua tangannya dan bersandar di tembok koridor.

Aku menaikkan sebelah alisku. Heran dengan sikapnya kali ini, "mau bicara apa?" Dia menghela nafasnya sebentar sebelum memulai berbicara.

"Karena hukumanmu harus dilaksanakan di bawah pengawasanku langsung, hari ini kau tak usah kerja rodi," dia berhenti sejenak. He? Apa? Kerja rodi? Seenaknya. Sebenarnya siapa yang memberikan hukuman itu? Baka!

"Lalu?" Aku bertanya dengan nada tak berminat sambil berusaha menahan hasratku sedari tadi. "Lalu? Kau bertanya lalu? Tak kusangka otakmu juga sependek badanmu!" Dia mengejekku sambil mengembangkan smirk! Sial!

"Tak usah mengalihkan pembicaraan jeruk!" Aku yang semakin kesal dengan tingkahnya kini menunjuk-nunjuk wajahnya dengan jari telunjukku. "Hhhh... Ya, ya... Tak usah marah-marah seperti itu. Seperti yang kubilang tadi, hari ini kau tak perlu menjalani hukumanmu. Aku ada urusan penting!"

"Yaaaaayy..." Aku menaikkan kedua tanganku sambil berputar-putar tak jelas. "Baguslah! Karena aku juga punya janji dengan seseorang," aku berhenti berputar-putar dan merapikan rambutku yang berantakan.

"Buh! Haha..." Aku melihat Ichigo tertawa pelan. Sepertinya baru kali ini dia tertawa seperti itu, bukan tertawa mengejek seperti kemarin. "A-apa yang lucu jeruk?" Kenapa aku tiba-tiba gagap?

"Hmph... Bukan apa-apa. Sudah, aku pergi. Kau juga. Aku tahu kau ingin pergi ke toilet tadi," Ichigo berbalik dan berjalan. Dia melambaikan tangan kanannya sebagai pertanda sampai jumpa. Huh! Aku berharap itu sebagai lambaian selamat-tinggal-aku-tak-akan-kembali-lagi.

"Baka!" Aku mengumpat dengan suara kecil dan berbalik berjalan menuju toilet.


Teng... Teng... Teng...

Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi juga. Aku tak sabar siapa anak teman Nii-sama yang satu sekolah denganku. Kenapa Nii-sama tak pernah cerita ya?

Aku membereskan buku-buku pelajaranku yang berantakan di atas meja. Di sisi kiriku terpampang jelas suasana sore musim dengin. Seperti biasa, awan tampaknya masih betah bertengger di atas sana.

"Ruki-chan, ayo pulang sama-sama!" Aku menengadah menghadap Momo yang sudah berdiri di sisi kananku sambil tersenyum lebar. Seharian ini aku benar-benar trauma dengan Momo. Bayangkan saja kau ditanyai hal yang membuat keringat dinginmu tak berhenti mengucur! Untung saja dengan semua tipu muslihat yang kumiliki, aku berhasil mengelabuinya.

Terima kasih sekali lagi kepada Ichigo yang sepertinya tak memberikan penjelasan apa-apa pada Momo pagi tadi. Sehingga aku yang terus-terusan diberondongi pertanyaan Momo yang jelas-jelas membuatku salah tingkah dengan pertanyaannya.

"Apa kau tidak pulang bersama Kira-kun?" Aku bertanya padanya sambil memasang tampang bingung. "Ah! Izu-kun hari ini ada kegiatan klub. Jadinnya tak bisa pulang bersama," aku hanya merespon dengan membulatkan mulutku sambil meneruskan memasukkan buku ke dalam tas.

"Tapi Momo, maaf. Aku tak bisa pulang bersamamu. Aku sudah ada janji dengan seseorang," aku berkata sambil tersenyum manis kepada Momo dengan harapan semoga dia tak berpikiran yang aneh-aneh dengan kata 'janji' yang kuucapkan.

"He? Ruki-chan mau kencan ya? Kenapa kau tak bilang padaku kalau kau mau kencan?" Momo menggembungkan pipinya. "A-aku tidak mau kencan Momo! Lagipula apa kata Nii-sama nanti kalau tahu aku berkencan?" Aku panik dengan pernyataan Momo. Dia ini selalu saja menyimpulkan sesuatu yang tidak masuk akal.

"Lalu kalau bukan kencan, apa dong?" Momo sedikit terkejut mendengar aku tak berkencan. "Hari ini aku akan menemui anak teman Nii-sama. Kata Nii-sama sih dia satu sekolah tapi satu tingkat di atas kita."

"Untuk apa Nii-samamu menyuruhmu menemui anak temannya? Apa kalian mau dijodohkan?" Momo bertanya padaku dengan tatapan berbinar-binar. Dia pasti kebanyakan baca komik! "Bukan dijodohkan Momo! Mana ada perjodohan yang dilakukan di sekolah?"

"Ah iya! Benar juga. Hehe..." Dia hanya tertawa sambil menjulurkan lidahnya. "Lalu Ruki-chan. Namanya siapa?" Aku dan Momo mulai berjalan keluar kelas melewati koridor yang masih terdapat siswa-siswa yang berlalu-lalang.

"Eh? Nama?" Aku berpikir sambil menaruh telunjuk kananku di dagu. "Iya! Siapa nama anak teman Nii-samamu itu?

"Ah... Uh... Hmm... Jangankan namanya, laki-laki atau perempuan saja aku tak tahu!" Dengan wajah innocent, aku menjawab pertanyaan Momo yang terdengar biasa saja. Setelah beberapa langkah, aku menyadari kalau Momo tak berjalan di sampingku lagi.

"He? Momo?" Aku menghadap ke belakang. Ternyata dia membeku sambil jaw dropped! Sedangkan aku? Hanya sweat dropped melihat Momo.

"Mo–"

"Apa kau serius Ruki-chan?" Momo berteriak padaku sambil kembali berjalan mendekatiku dan mencengkeram erat kedua bahuku.

"Hnn... Ya... Begitulah," aku hanya bisa tersenyum kaku mengahadapi Momo. "Kau ini..." Momo sekarang malah mengguncang-guncang badanku ke depan dan ke belakang.

"Mo-Momo... Hentikaaann..." Aku merasa sesak nafas akibat guncangan Momo. "Hehe... Gomen Ruki-chan!" Momo tiba-tiba melepas kedua tangannya dan mengakibatkan aku agak terhuyung ke belakang. Uhh... Kepalaku berputar-putar.

Kami berdua melanjutkan berjalan ke arah gerbang untuk menemui anak teman Nii-sama yang sama sekali tak kuketahui identitasnya.

"Oh ya Ruki-chan, untuk apa kau menemuinya?" Saat ini kami sudah ada di loker untuk mengganti sepatu.

Cklik...

Aku mengunci lokerku dan menghadap Momo yang sedang mengganti sepatunya tak jauh dari loker milikku. "Aku belum bilang ya? Selama dua minggu ke depan, aku akan tinggal di rumahnya karena Nii-sama dan Nee-san pergi ke Tokyo," aku menjelaskan ke arah Momo yang manggut-manggut mendengarkan.

"Begitu ya? Tapi kenapa kau sama sekali tak membawa baju ganti Ruki-chan?" Momo berdiri tegak dan memasukkan sepatunya dalam loker kemudian menguncinya.

"Soal baju, Nii-sama bilang sudah mengantarnya ke sana. Jadi aku hanya tinggal menemui anaknya saja," aku berjalan ke arah Momo dan kami berdua keluar gedung utama.

Saat sampai di gerbang, aku celingukan mencari siapa anak teman Nii-sama. Aku dan Momo agak bingung juga. Ralat. Bukan agak bingung, melainkan bingung sekali. Aku sama sekali tak ada petunjuk mengenai siapa anak teman Nii-sama itu.

"Ruki-chan, coba kau tanya Nii-samamu siapa nama anak temannya. Mungkin akan sedikit membantu daripada kita berdua celingukan seperti maling ayam," Momo mencucutkan bibirnya setelah sedari tadi bercelingukan ria bersamaku.

"Sepertinya memang harus seperti itu," aku segera mengaduk-aduk tas ranselku dan mengeluarkan ponsel putih bergaris violet untuk menghubungi Nii-sama.

Tuuut... Tuuut... Tuuut...

"Moshi-moshi..." Suara berat Nii-sama terdengar dari ujung sambungan.

"Mo–"

Srett...

"Akh! Apa yang kau lakukan? Kembalikan ponselku!" Aku kaget sekali saat seseorang tiba-tiba merebut ponselku dan memutus sambunganku dengan ponsel Nii-sama.

"Baka jeruk, cepat kembalikan!" Aku berusaha meraih ponselku yang diangkat tinggi-tinggi oleh sang tersangka, Kurosaki Ichigo.

"Coba saja kalau kau bisa, pendek!"

DUAKK...

"Ouchh..." Dia mengaduh kesakitan setelah aku menendang tulang keringnya lumayan kuat. "Rasakan itu mikan head!" Aku kembali merebut ponselku yang tentu saja sudah bisa kujangkau karena dia berjongkok mengelus tulang keringnya yang malang.

Dan ternyata dia merebutnya lagi. Kali ini dia tak mengangkatnya tinggi-tinggi, tapi malah dia masukkan ke saku dalam mantel hitamnya.

"Hei! Kenapa kau merebutnya lagi?" Aku sudah bersiap dengan ancang-ancang tendangan ke arah tulang keringnya, tapi dia malah menarik pinggangku dan menggendongku di pundaknya.

"Tu-turunkan aku!" Aku mulai meronta sekuat tenaga–menendang dan memukul. Antara sadar dan tak sadar, daritadi pertengkaran kami menjadi tontonan panas nan gratis di sore hari musim dingin.

"Tak akan kuturunkan, Midget! Baiklah. Sampai besok Hinamori-san. Teman pendekmu ini kan pulang bersamaku," Ichigo mulai berjalan menjauhi lingkungan sekolah, masih diiringi dengan aku yang menendang dan memukul.

"Momo tolong aku!" Aku meminta tolong kepada Momo setelah kurasa usahaku–menendang dan memukul–sia-sia. Tapi sama sekali tak kuduga! Momo malah tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arahku yang sedang sweat dropped.

"Sampai besok Ruki-chan~ Kuro-senpai jangan kasar-kasar padanya ya~ Jaa~" Tak kusangka Momo akan berkata seperti itu! Sedangkan Ichigo hanya melambaikan sebelah tangannya yang bebas ke arah Momo.

Sudah sepuluh menit kami berjalan dalam diam. Lebih tepatnya dia yang berjalan karena aku masih ada di pundaknya. Di sepanjang jalan, orang-orang yang kami lewati hanya tersenyum geli melihatku. Ugghh... Menyebalkan!

"Hei, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri tahu," setelah kupikir-pikir menendang dan memukul maupun berteriak ke arahnya sama sekali tak mempan, kali ini kucoba mengubah strategi dengan bicara baik-baik ala Rukia.

"Tidak," otoriter! Aku benci orang seperti dia!

"Turunkan aku sekarang juga!" Aku menaikkan satu tingkat nada suaraku.

"Tidak!"

"Tu-run-kan!"

"Ti-dak!"

"BAKA JERUK! TURUNKAN AKU!" Setelah semakin kesal dengan jawabannya yang teramat sangat hemat sekali, emosiku meledak. Inilah yang dinamakan bicara baik-baik ala Rukia.

"Sekali tidak tetap tidak! Kalau kuturunkan kau pasti akan lari."

"Turunkan! Aku malu bodoh!"

"Ck! Sebentar lagi sampai. Tak usah berteriak lagi. Telingaku berdenging!" Dia hanya menutup sebelah telinganya.

"Sampai di mana?" Aku baru sadar kemana dia mau membawaku.

"Tentu saja sampai ke rumahku midget!"

"A–"

"Tak usah banyak tanya! Kakakmu menitipkanmu di rumahku selama mereka–Byakuya dan Hisana–pergi. Tapi lebih tepat dibilang kalau oya-jii yang sangat ingin kau menginap di rumah."

Setelah berjalan dua blok, belok kiri dan berjalan tiga blok lagi, dia menurunkanku tepat di sebuah rumah dengan tulisan besar KUROSAKI CLINIC. Ternyata rumahnya berfungsi sebagai klinik juga ya?

"Ayo!" Ichigo berjalan memasuki halaman depan dan menuju pintu depan. Letak pintu depannya terdapat di sebelah kiri pintu klinik.

Cklek...

"Tadaima~" Ichigo masuk ke dalam dan aku mengikutinya. "Selamat sore!" Aku hanya mengucapkan salam dengan suara yang tenggelam gara-gara terinterupsi suara langkah kaki yang sepertinya berlari menuju kami.

"WELCOME BAAACK~ MY SOOOONNN~~~" Aku melihat sekelebat bayangan tak jelas terbang ke arah Ichigo yang berada tepat di depanku.

Srett... Gabrukk... Bruakk...

"Oya-jii! Apa yang kau lakukan? Kalau Rukia terluka bagaimana?" Ichigo berteriak ke arah seseorang yang dia panggil Oya-jii yang sekarang terkapar tak berdaya di dekat pintu masuk. Tapi tunggu! Rukia? Yang benar saja! Tadi Ichigo memanggilku Rukia? Bohoooong...

"Ayah, Onii-chan, ada apa ribut-ribut?" Aku mendengar suara lembut seorang gadis yang baru muncul. "Ah! Ichi-nii, siapa gadis yang kau peluk itu?" Aku kembali mendengar suara seorang gadis. Tapi kali ini suaranya agak jutek. Hue? Peluk? Aku membuka mataku setelah tadi kututup karena melihat bayangan aneh terbang.

Yang pertama kulihat, hitam dan putih! Yang pertama kucium, parfum lelaki dengan bau citrus dan mint! Yang pertama kupegang, dada bidang berotot yang tersembunyi di balik mantel hitam!

A-apa maksudnya ini? Kemudian aku mendongakkan kepalaku. Dan yang aku lihat selanjutnya, mata musim gugur dengan kerutan permanen di dahi yang amat sangat dekat dengan wajahku!

Yang pertama kurasakan? Deru nafasnya menyapu wajahku yang kusadari memerah karena wajahnya yang dekat! Terlalu dekat malah!

"Te-terlalu dekaaaaat!" Aku mendorong dadanya sekuat tenaga untuk segera menjauh dariku. "Go-gomen!" Akhirnya dia melepaskanku juga.

"OH MY SOOONN! Kau sudah dewasa ternyata! Masaki~~ Kita akan segera mem–"

Sratt...

"Jangan bicara aneh-aneh, baka Oya-jii," aku melihat Ichigo yang dengan santainya men-tackle–sepertinya sih–ayahnya dari belakang. Dan seketika itu pula, orang yang dipanggil Ichigo 'Oya-jii' pingsan dengan hidung mimisan karena terbentur sofa.

"Hohoho~ Ichi-nii, tampaknya ini memang sudah waktumu ya?" Aku mengalihkan pandanganku ke arah gadis kecil berambut hitam pendek yang sedang memasang pose ala detektif, menginterogasi Ichigo.

"Apa maksudmu Karin?" Ichigo hanya melempar death glarenya ke arah gadis yang bernama Karin. "Karin-chan, apa maksudmu dengan sudah waktunya?" Gadis berambut karamel bertanya pada Karin dengan spatula di tangan kanannya dan memakai celemek berenda berwarna kuning dengan motif bunga-bunga kecil.

"Hohoho~" Karin hanya melanjutkan tawanya dan berbalik ke dalam. "Karin-chan~" Gadis berambut karamel hanya terlihat bingung dengan tingkah laku Karin. Tapi dia tak menyusul Karin. Dia hanya berdiri di sana dengan pipi menggembung dan kemudian menatapku dengan mata berbinar-binar.

"Ikut aku midget! Kutunjukkan kamarmu!" Ichigo berjalan masuk ke dalam. Sedangkan aku hanya terpaku melihat gadis berambut karamel yang masih saja menatapku berbinar-binar.

"Se-selamat sore," aku berusaha memecahkan suasana yang menurutku aneh karena terus diperhatikan seperti itu. "Selamat sore onee-chan~~"

Gabrukk...

Gadis kecil ini tiba-tiba saja menubrukku. Aku tentu saja kaget dengan perlakuannya. "Hyaaa~ Senang sekali onee-chan menginap di sini~" Gadis kecil ini semakin mempererat pelukannya kepadaku. Aku? Aku senang-senang saja tuh dipeluk olehnya!

"Ahaha..." Aku hanya tertawa dan mengusap kepalanya. "Nee-chan, kalau boleh tahu, nama Nee-chan siapa?" Gadis berambut karamel ini melepas pelukannya dan bertanya padaku.

"Namaku Rukia. Rukia Kuchiki. Salam kenal!" Aku menjawab pertanyaannya dengan menundukkan sedikit badanku diiringi dengan senyuman lebarku. Senang sekali ada gadis kecil semanis ini.

"Hehe... Aku Yuzu. Salam kenal," dia juga menundukkan badannya sedikit. "Yang berambut hitam tadi Karin-chan, dia saudara kembarku. Dan di sana yang sedang terbaring, ayah. dan tentunya Rukia-nee sudah bertemu dengan Onii-chan!" Yuzu memperkenalkan semua anggota keluarganya padaku. Tak kusangka dia dengan gadis berambut hitam tadi kembar.

"Ah iya! Rukia-nee, aku ke dapur dulu ya!" Yuzu berlari ke arah dapur setelah mencium sesuatu yang tak enak. "Hei! Rupanya kau ada di sana! Kupikir kau tersesat! Cepat ikut aku!" Ichigo tiba-tiba nongol dari tempat di mana dia tadi sempat menghilang.

"Aku tidak tersesat jeruk!" Kemudian aku melangkahkan kakiku–yang sudah berganti dengan sandal rumah–masuk ke dalam mengekori Ichigo.

TBC


HEHEHE... *nyengir gaje* Selesai juga! Setelah kubaca ulang, ternyata tak jauh beda dengan data yang sempat hilang. Ingatanku oke juga setelah berbulan-bulan tak dibuat berpikir! *gak nyambung* *abaikan*

Balas ripiu~~

SoraHinase: Yup! Yup! Ruki-nee mau tinggal bareng Ichi! Bahkan sudah sampai di rumahnya! Bakalan heboh nih ntar. R&R lagii~

Divinne Oxalyth: Vinne-chan~ Haha... Apa kali ini juga panjang ya chapternya? Dah lama gak update sie~ R&R lagi~

Arlheaa: Haha~ Kissunya ditambahin cabe ya biar tambah hot! *ditendang Arlheaa dijitak IchiRuki* Dah ketebak jalan ceritanya ya! Aku gak bisa buat yang bikin penasaran sie~ R&R!

bl3achtou4ro: Naoto-chan suka scene itu ya? Hoho~ Padahal itu tiba-tiba terlintas di pikiran kotor saya tentang IchiRuki! *digaplok* Weeeeyy... Ketebak lagi! Emang jalan ceritanya mudah ditebak ya! ==" Yosh! R&R!

Aika Ray Kuroba: Ichi jadi korban KDLS-Kekerasan Dalam Lingkungan Sekolah- *dikemplang Ichi* Hohoho~ Chap-chap selanjutnya bakalan kubuat makin seru! Nantikan saja! R&R~

Jeanne Jeagerjaques San: Jeanne, Jeanne, dirimu menghilang kemana? *celingukan nyari Jeanne di kamar mandi* *ditendang Jeanne* Si baboon bisa jadian ama Tatsu gara-gara kecelakaan. Mungkin ntar bisa jadi side storynya! Hehehe... Ruki-nee bakalan gelagepan ngadepin Ichi! Jangan mikir mesum ya! *dijitak Jeanne* R&R~~

Sakura D. San: Ahai! Sankyuu dibilang bagus! Hoho~ Kali ini tak ada perpindahan POV. Gak bisa update kilat. Gomen. Aku sama sekali gak bisa janji bakal update kilat karena aku nie plin-plan and sifat malasku sering menguasai.*halah* *abaikan* Nishishishi~ R&R lagi~

Aizawa Ayumu: Haha~ Kali ini sudah seatap tapi belum ada kejadian hebohnya! Chap depan, mungkin! Yosh! Request ditampung dan akan diproses untuk kemudian dijadikan jalan cerita jika memungkinkan! Sankyu requestnya! ^-^d R&R!

yuuna hihara: Nyahaha~ Emang udah ketebak itu fotonya siapa! Oki doki! Mungkin chap depan atau depannya atau depannya lagi kubuat full IchiRuki! Nya! Kalo Ruki-nee tidur di lemarinya Ichi, ntar Byakuya ngamuk-ngamuk! R&R~

Yupi Akayuki Kurosaki: Hoho~ Terserah Yupi-san mau manggil apaan. Kan orangnya sama XDD Gak papa kok kalo baru ripiu. Ahaha~ Pastinya bakalan ada kejadian heboh nan gaje! R&R~

Shinigami Yui Kurosaki: Yui-chan~ Kita mesti pede tingkat tinggi ama fic buatan sendiri! *semangat 45* Hu'u. ruki-nee dititipin Byakuya di rumahnya Ichi. Oke! Saran ditampung dan akan diproses untuk kemudian dijadikan jalan cerita jika memungkinkan! Sankyu sarannya! R&R~

erikyonkichi: Hoho~ Semua orang pasti punya sisi hentai! *ditendang rame-rame* Kalo Ichi yang buka bajunya Ruki-nee, ratenya berubah dong! Nyaha! R&R~

dorami fil: Ehehe~ Mungkin chap ini belum terlalu seru! Tapi chap depan bakalan seru! Kayaknya sie~ ==" *dikemplang gara-gara plin-plan* R&R~

Seiichiro Raika queen of MM2: Haha~ Tenang saja, Ruki-nee bakalan diawasin empat mata sama Ichi! *Ichi: Kok empat mata? Kuro: Kan Ichi pake kacamata! Ichi: Oh iya!* *Kuro sweat dropped* R&R~

minami kyookai: Ya! Itu foto ibunya Ichi! Yang sudah lama suka cuma Ichi. Ruki-nee sie masih bingung antara suka atau benci. Hehe~ Hu'u! Ruki-nee dititipin di rumahnya Ichi. Kalo Ruki-nee tidur di lemarinya Ichi, Kuro bakal babak belur dihajar Byakuya. R&R~

greenmidori: Ichi kan emang hentai kalo deket-deket Ruki-nee! *ditebas Zangetsu* Nyaa~ IchiRukinya belum muncul! Gomen! R&R~

Jee-ya Zettyra: Biar tambah seru kupikir bagus juga kalo Ichi yang suka Ruki-nee duluan. Hehe~ Updated! R&R~

Ruki Yagami: Yaa~ Isshin yang minta ama Byakuya biar Ruki-nee dititipin di rumahnya! R&R~

aieanEzHaQee: Yoyoi~ Salam kenal juga! Gak papa kalo baru ripiu~ Bagus deh kalo ada yang suka ama fict satu ini! R&R~

ChikyuLupHJJ: Huoo~ Jangan gigit aku gara-gara chappie kali ini tak bisa update kilat and IchiRuki yang Cuma di akhir cerita! *lari-lari gaje* Haha~ Terlalu panjang ya? Yang ini juga panjang! Habis nie tangan suka gak nyadar kalo udah ngetik cerita! R&R~

Meyrin Mikazuki: Yesss! You're right! *thumbs up* She'll stay in Kurosaki House! Weeeyyy... That'll be fun! Hohoho~ Yaa~ Berhenti yang bicara gaje. Suka Hisana yang OOC? Kayaknya di sini OOC semua deh! ==" Soal Hisana, aku gak tega buat dia menderita. T^T R&R~

Rio-Lucario: Kalo IchiRuki hanimun, ratenya udah kuganti M~ XDD Gomen apdetnya lama. Yohoho~ R&R~

aRaRaNcHa: Haha~ Gak tahu kenapa dapet mimpi flame. X33 Ichi jadi cowok gengsinya tinggi sie! Tinggal bilang 'I love You' ma Ruki-nee aja takut! *Kuro dibankai* R&R~

ruki mikan head: Sankyuu dibilang keren~ Gomen apdetnya kelamaan. T^T R&R lagi~

2Phoenix7: Yosh! Gak papa baru ripiu. Hehe~ Kalo bikin 'itu'... Lain kali aja deh! XDD *ditimpuk* Ya~ mungkin gara-gara dua kejadian sial yang ditimbulkan selimut, Ichi bakal truma ama yang namanya selimut. *dijambak Ichi* R&R~


YAAAA~~ Begitulah yang membalas ripiu~ Mohon ripiunya lagi minna~ *puppy eyes* *dijitak rame-rame*

Huaaa~ gomen saya jadi jarang muncul di kotak review~ T.T entah kenapa penyakit lama saya kambuh. Gomen! Gomen! Sekali lagi gomen!