Jealousy, turning saints into the sea..
Dunia ini hanya sementara, begitu pula dengan semua yang ada di dalamnya. Sesuatu bisa datang dan pergi diluar kehendakmu. Seberapa keras kau berusaha untuk menahannya, kau takkan bisa. Selamanya kita hanya bisa pasrah, karena pada dasarnya manusia hanyalah makhluk yang tidak berdaya dibandingkan dengan semesta ini.
Woojin sadar, semua yang ia miliki sekarang tidak akan abadi. Ia tahu akan tiba saatnya ketika ia harus melepaskan Jihoon dari pelukannya. Apalagi dengan posisinya sekarang ini, ia tidak pernah memiliki hati pemuda itu sepenuhnya. Woojin memang selalu berjanji untuk mencintainya selamanya, tapi tidak dengan Jihoon. Jihoon mencintainya, tapi tidak tahu sampai kapan. Bisa saja suatu saat nanti orang yang dicintainya itu akan bosan dengannya. Ia bisa saja memilih Jonghyun pada akhirnya, atau bahkan bisa saja orang lain yang akan mengambil Jihoon darinya.
Woojin tidak akan pernah tahu bagaimana kisah cintanya dengan Jihoon akan berakhir. Apakah akan berakhir bahagia? Atau Woojin akan kembali hancur seperti yang sudah-sudah?
Woojin tidak mau membayangkannya.
Sebagai antisipasi, Woojin selama ini sudah berusaha dengan keras membuat dirinya tidak terluka apabila saat itu datang. Woojin memang sangat mencintai Jihoon, tapi seiring berjalannya waktu dan semakin lama mereka bersama, ia sedikit demi sedikit membangun suatu tembok di dalam hatinya. Tembok itu adalah suatu pembatas yang melindungi ruang hatinya yang paling dalam. Ruang itu bagaikan sebuah bunker, yang akan tetap bertahan jika suatu saat hatinya kembali terluka pada saat Jihoon pergi meninggalkannya di kemudian hari.
Tanpa terasa, bertahun-tahun sudah Woojin menjalani hidup seperti ini. Menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain tidak pernah menjadi rencananya sejak awal.
Ia melewati tahun ke tahun menjadi kekasih rahasia Jihoon. Woojin tidak pernah mempunyai sedikitpun keinginan untuk diakui oleh publik, ia hanya ingin mencintai Jihoon dan hidup tenang bersamanya, walaupun ia hanya mendapatkan sebagian dari cinta pemuda itu.
Sekarang ini, mereka sudah lulus dari SMA. Keduanya masing-masing melanjutkan pendidikan di Universitas yang mereka pilih. Tahun ini mereka sama-sama telah memasuki semester terakhir. Walaupun jadwal kuliah mereka semakin lengang,Woojin tetap tidak bisa bertemu dengan Jihoon hampir setiap hari. Walaupun begitu Jihoon tetap selalu mencari waktu barang dua atau tiga hari dalam seminggu untuk menemuinya.
Tiga hari dalam seminggu sebenarnya tidak cukup bagi Woojin. Ada kalanya ketika ia ingin sekali menahan Jihoon untuk tidak pergi, namun ia tidak bisa. Sekali lagi Woojin harus selalu mengingatkan dirinya bahwa ia hanya memiliki sebagian dari hati Jihoon. Selain itu dengan merelakan kekasihnya itu untuk pergi setiap minggu, Woojin dapat mulai belajar hingga ia terbiasa untuk benar-benar melepas Jihoon dari kehidupannya pada saat waktunya tiba.
Biasanya Jihoon lebih memilih untuk menghabiskan waktu di apartemen Woojin. Jelas karena jika keluar rumah, hubungan mereka berisiko untuk diketahui orang lain. Selain itu, Woojin sangat suka saat-saat mereka berbaring malas-malasan di sofa sambil menonton acara televisi ataupun berbaring di ranjang sambil bermain game bersama. Waktu pertemuan mereka sangat singkat, Woojin tidak mau kehilangan sedikit pun waktunya untuk berjauhan dari pemuda berparas manis itu.
Jihoon tidak pernah berubah sejak dulu. Ia selalu bisa membuat Woojin ingin selalu memanjakannya. Sikap manisnya memang tidak pernah dibuat-buat dan apa saja yang dilakukannya selalu membuat Woojin tersenyum, sekalipun ia sedang dalam harinya yang terburuk. Woojin tidak akan pernah bosan dengan senyumannya. Senyuman itu selalu mengingatkan padanya mengapa ia bisa jatuh cinta pada pemuda itu sejak awal.
Sekarang ini, Woojin sedang dalam keadaan yang benar-benar tertekan. Ia takut proyek rancangan untuk tugas akhir kuliahnya tidak selesai. Salahnya memang yang terlalu ambisius. Alih-alih mengembangkan penemuan yang sudah ada, ia malah memaksakan dirinya membuat program baru yang belum pernah dibuat sebelumnya. Woojin tidak mau jika ia harus mengulang semester akhirnya hanya karena tugas akhirnya yang tidak selesai ini, namun idenya sudah benar-benar buntu sekarang.
"Woojin, kau tidak apa-apa?"
Jihoon ada di apartemennya sekarang. Hari ini adalah jadwal bagi Jihoon untuk menemuinya, dan Woojin benar-benar merasa tidak enak padanya. Woojin tidak bermaksud untuk mengabaikannya seperti ini, tapi banyak sekali yang ada di pikirannya saat ini.
Woojin menggeleng, ia pun memberikan senyuman hanya untuk menenangkan Jihoon yang sekarang sedang menatapnya dengan begitu khawatir.
Jihoon menghela nafasnya melihat kekasihnya itu terlihat begitu memaksakan senyumannya. Menghabiskan waktu yang lama bersama Woojin, membuat Jihoon bisa membaca raut wajahnya. Seberapa keras ia berusaha menyembunyikan perasaannya, Jihoon tetap tahu Woojin sedang merasa tertekan saat ini.
"Woojin.."
Jihoon duduk di pangkuan Woojin sambil menghadapnya. Ia lalu menatap langsung ke matanya dan mengusap dahi pemuda busan itu, meluruskan keningnya yang berkerut sambil memberikan senyuman padanya.
"Aku mungkin gak bisa membantumu. Tapi aku akan selalu mendukungmu Woojin.."
"Kau sudah melakukan ini sejak lama, aku yakin kau pasti bisa menyelesaikan tugas akhirmu ini dan mendapatkan hasil yang terbaik."
"Kau pasti bisa, harus semangat ya.."
Jihoon menyelesaikan kata-kata penyemangatnya dengan ciuman di bibir Woojin. Sikapnya ini membuat segala kerisauan yang Woojin rasakan saat ini hilang dalam sesaat. Woojin memang beruntung, karena ia mempunyai orang seperti Jihoon yang memang selalu bisa membuatnya merasa lebih baik.
"Terima kasih sayang, aku akan terus berusaha.."
Woojin memeluk tubuh mungil lelaki manis yang masih duduk di pangkuannya itu dan menyenderkan dirinya di dadanya hangat.
"Oh Jihoon, aku gak tau apa jadinya aku tanpa mu.."
Tubuh Jihoon bergetar karena terkekeh mendengar perkataan Woojin. "Kau ngomong apa sih, tiba-tiba saja. Dasar aneh."
Woojin mendongakkan kepalanya dan mencuri beberapa ciuman lagi di bibir manis Jihoon yang selalu membuatnya kecanduan. "Jihoon, bisakah kau tinggal disini sampai akhir minggu?"
"Aku benar-benar membutuhkanmu.."
Woojin tahu ini egois, tapi ia benar-benar menginginkan Jihoon untuk dirinya sendiri saat ini.
Jihoon menghela nafasnya. Ia pun terlihat ragu untuk berbicara. Woojin sudah mulai mempersiapkan dirinya untuk sebuah penolakan. Bagaimanapun yang dimintanya saat ini memang sudah terlewat batas, disini ia memohon pada Jihoon untuk memberikan waktu yang merupakan hak Jonghyun—kekasih resmi Jihoon.
"Baiklah aku akan tinggal disini sampai hari senin.."
Woojin tersenyum lega mendengar jawaban Jihoon.
"Aku akan bilang pada Jonghyun hyung kalau aku pergi ke rumah orang tuaku.."
"Semoga dengan keberadaanku disini, aku bisa lebih menyemangatimu lagi, oke.."
Woojin mengangguk, ia membelai pipi Jihoon dengan lembut dan mengecupnya. "Terima kasih Jihoon. Aku mencintaimu.."
Jihoon tersenyum. "Aku juga mencintaimu Woojin.."
-0-
Woojin sangat menyukai saat-saat ini. Ia sama sekali tidak menyesal telah menahan Jihoon untuk tinggal dengannya lebih lama lagi, karenanya ia bisa melihat orang yang dicintainya ini setiap pagi, pertama kali, saat ia baru membuka matanya. Walaupun di pagi hari waktu akan terasa sangat sempit, Woojin tetap meluangkan waktunya untuk memandangi keindahan yang tidak pernah gagal membuatnya terpukau. Jihoon yang tertidur itu benar-benar cantik di mata Woojin. Woojin sangat menyukai bulu matanya yang panjang dan hampir menyentuh pipinya. Bibirnya yang setengah terbuka malah membuatnya terlihat lebih innocent dan menggemaskan.
Jika sudah puas memandanginya, Woojin suka sekali menciumi Jihoon di sekujur wajahnya sampai pemuda itu terbangun. Jihoon akan memberikan senyuman termanisnya sesaat ia melihat Woojin di hadapannya. Sungguh, Jihoon adalah anugerah terindah dalam hidup seorang Park Woojin. Dan betapa Woojin sangat berharap saat-saat ini tidak akan berakhir selamanya.
Walaupun begitu, ia tetap harus menghadapi kenyataan. Karena hari ini adalah waktu dimana akhirnya ia harus melepaskan Jihoon, dan membiarkannya kembali pada kekasihnya.
"Pagi Woojin.."
Jihoon akhirnya terbangun, Woojin tidak dapat menahan rasa bahagianya saat Jihoon langsung memberikannya senyuman termanis untuknya. Ia terlihat begitu menggemaskan dengan matanya yang setengah terbuka dan rambutnya yang masih acak-acakan.
"Selamat pagi baby.."
Jihoon terkekeh mendengar Woojin memanggilnya dengan panggilan yang tidak biasa seperti itu. Ia kemudian menutupi wajahnya memerah karena malu. "Kau sudah bangun dari tadi?"
Woojin mengangguk.
"Sudah jam berapa sekarang?"
Jihoon yang kelihatan masih mengantuk semakin melesakkan kepalanya dalam pelukan Woojin.
"Jam 10.15.."
Jihoon merengek dalam pelukannya. "Kok sudah jam segini saja.."
Woojin tertawa. Bukannya bangun dan bersiap-siap, Jihoon malah kembali menutup mata dan melanjutkan tidurnya. Woojin pun memutuskan untuk membiarkannya tidur lagi untuk sesaat. Ia tidak tega membangunkan kekasihnya, selain itu Woojin pun bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali mengagumi keindahannya sebelum Jihoon benar-benar pergi.
Jihoon sebenarnya telah memberikan lebih dari yang seharusnya Woojin dapatkan. Tapi tetap saja rasanya ia tidak rela untuk melepaskannya.
Mengapa waktu ini begitu cepat berlalu? Rasanya Woojin ingin sekali menciptakan suatu mesin yang bisa menghentikan waktu, sehingga Jihoon bisa tinggal dengannya lebih lama lagi.
Woojin kembali mencium Jihoon yang masih tertidur di dalam pelukannya itu, menikmati manis dan lembut bibir merah mudanya. Woojin memang benar-benar kecanduan dengan nikmat duniawi itu.
Jihoon pun akhirnya terbangun. Ketika membuka matanya, ia langsung terduduk dan menatap Woojin dengan ekspresi yang terkejut. "Astaga Woojin jam berapa sekarang?!"
Mereka bersama-sama melihat ke arah jam dinding. "Ya ampun sudah jam sebelas!"
Jihoon segera beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi, meninggalkan Woojin yang menghela nafasnya dengan kecewa. Woojin benar-benar tidak rela membiarkan Jihoon pergi. Apa perlu ia kunci pintu kamar mandinya agar Jihoon tidak bisa keluar dan akhirnya terlambat bertemu Jonghyun?
Tapi itu sangat kekanakan. Woojin juga tidak berhak melakukan hal itu. Bagaimanapun Woojin hanyalah orang ketiga dalam hubungan mereka. Ia tidak berhak meminta lebih dari apa yang telah diberikan padanya
Akhirnya Jihoon pun sudah selesai mandi. Ia kemudian terburu-buru untuk mengeringkan rambutnya. Woojin masih terdiam, ia hanya bisa memperhatikannya dari tempat tidur.
Mungkin Jihoon sadar Woojin kecewa, atau mungkin ia sudah tidak bisa mengontrol raut wajahnya lagi, karena akhirnya Jihoon pun mendatanginya dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Woojin. Ia pun memberikan senyuman bersalah padanya.
"Maaf ya Woojin aku harus pulang. Aku sudah janji akan menemui Jonghyun hyung dan makan siang dengannya hari ini.."
Woojin senyum dengan sangat terpaksa. Ia mengerti, namun kenapa ia malah semakin kesal ketika Jihoon menjelaskan ini semua padanya. Woojin merajuk. Tapi ini benar-benar di luar kendalinya. Bukan maunya untuk bersikap kekanakan seperti ini. Biasanya Woojin memang selalu bisa mengalah, tapi entah kenapa saat ini dirinya ingin egois.
"Kau sudah tidak apa-apa kan Woojin.."
Woojin masih diam, ia lalu menarik lengan Jihoon dan memeluk pinggangnya, menyenderkan kepalanya di perut pemuda berparas manis itu.
Jihoon tersenyum, ia pun menepuk-nepuk kepala Woojin dengan lembut.
"Woojin, maafkan aku ya, aku janji aku pasti kesini lagi nanti.."
"Tapi hari ini aku sudah janji.. "
Jihoon melepas pelukan Woojin dan menundukkan badannya sampai saling bertatap muka dengan Woojin. "Aku mencintaimu oke?"
Woojin memaksakan senyumnya sekali lagi, Jihoon sadar akan hal itu dan ia pun kembali memberikan tatapan yang merasa bersalah. "Aku pergi dulu ya.."
Jihoon mengecup bibir Woojin dengan lembut sebelum akhirnya melepaskan dirinya dari pelukan Woojin.
"Aku antar.."
Jihoon menggeleng. "Tidak usah.. Aku sudah pesan taksi kok.."
"Ini aku mau langsung ketemu Jonghyun Hyung dulu di kantornya.."
Woojin hanya mengangguk. Jihoon menghela nafasnya melihat Woojin yang bertingkah seperti itu. Selama mereka bersama, Jihoon sama sekali belum pernah melihat sisi lain darinya yang terkesan kekanakan seperti ini. Jihoon ingin tertawa sebenarnya, karena Woojin yang seperti ini benar-benar menggemaskan seperti anak kecil. Tapi ia menahannya karena jika ia melakukannya, Woojin pasti akan semakin merajuk yang akan membuatnya semakin sulit untuk pergi dari sini.
Jihoon menundukkan badannya sampai ia berlutut di lantai dan berhadapan dengan Woojin. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipi kekasihnya itu dan menatapnya langsung ke matanya.
"Kau tahu kan kalau aku akan selalu mencintaimu Woojin?"
Jihoon mengecup bibir Woojin dengan perlahan dan lembut. Woojin tersenyum dalam ciumannya, setidaknya perlakuan dari pemuda manis itu sedikit membuatnya merasa lebih baik dari sebelumnya.
-0-
Woojin membaca kembali email yang dikirim oleh Donghyun padanya. Sudah kesekian kalinya seniornya itu mengirimi pesan yang sama padanya. Yaitu, tawaran untuk bekerja di perusahaannya di Jepang.
Ya, Donghyun dan Youngmin sekarang tinggal di Negara itu, bersama merintis usaha mereka di sana. Mereka membuat perusahaan software gaming yang awalnya memang kecil, namun sekarang sudah semakin berkembang. Prospek perusahaan mereka sangat bagus, oleh karena itu mereka membutuhkan beberapa tenaga baru untuk membantunya.
Woojin sudah beberapa kali menolak tawaran itu dengan alasan ia belum menyelesaikan kuliahnya. Sebenarnya tawaran itu masih akan berlaku sampai Woojin lulus nanti, tapi ada hal yang memberatkannya untuk pergi dari Korea.
Apalagi jika bukan karena Jihoon.
Woojin sudah berjanji untuk tidak meninggalkannya.
Setidaknya sampai tiba saatnya ketika Jihoon sendiri yang memintanya untuk pergi.
Dan untuk saat ini atau beberapa tahun ke depan Woojin masih yakin kalau Jihoon tetap akan membutuhkan dirinya untuk tetap berada di sisinya, sama seperti Woojin yang akan tetap membutuhkannya.
Woojin sebenarnya adalah seseorang yang sangat posesif. Jika mencintai seseorang ia ingin semua perhatian orang itu hanya ditujukan padanya. Namun cintanya pada Jihoon sekarang membuatnya berubah. Jihoon membuatnya menjadi orang yang lebih sabar dan menerima. Hanya karena Jihoon, Woojin rela berbagi cinta dengan orang lain.
Kadang sempat terbesit dalam pikiran Woojin, mengapa ia bisa menjalani hidup seperti ini?
Mengapa ia tidak bisa lepas dari Jihoon? Bukankah banyak orang lain di sekitarnya yang bisa ia cintai? Seseorang yang pastinya hanya akan memberikan cinta sepenuhnya hanya untuk dirinya, bukan seperti Jihoon.
Sahabat-sahabatnya sudah berkali-kali mengatainya bodoh, sampai akhirnya mereka tidak peduli lagi dengannya karena terlalu bosan untuk mengingatkan dirinya yang begitu keras kepala.
Tapi mau bagaimana lagi, Woojin memang begitu mencintai Jihoon.
Saking cintanya ia pada Jihoon, Woojin bahkan sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya sampai ia tidak lagi bisa mengendalikan dirinya.
Semakin lama, Woojin merasa ia tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, ia bahkan tidak punya bayangan akan tujuan hidupnya di masa nanti. Ia tidak tahu kelak akan menjadi apa dirinya dan apa yang harus ia lakukan untuk mengejar target itu.
Ambisinya hanya Jihoon.
Jihoon akan selamanya menjadi prioritas utama baginya.
Hari sudah larut malam tapi Woojin sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Rasanya ada yang hilang dari dirinya. Hari ini seharusnya jadwal Jihoon untuk menemuinya, namun sampai sekarang, ia masih belum datang juga.
Woojin tidak menghubunginya, tapi Jihoon juga tidak ada memberikannya kabar sama sekali.
Woojin khawatir, namun kemudian ia menyadari bahwa masih ada tempat lain yang nyaman untuk Jihoon datangi selain dirinya. Sekali lagi Woojin tidak punya hak untuk menuntut lebih dari Jihoon. Walaupun ia sangat menginginkannya, Woojin tidak bisa memintanya untuk selalu mengunjunginya. Walaupun Jihoon adalah prioritas utamanya, Woojin tetap bukan yang utama bagi Jihoon.
-0-
Akhirnya, sudah hampir seminggu Jihoon tidak datang untuk menemuinya. Ia bahkan tidak menelponnya sama sekali, hanya 1-2 pesan yang ia kirimkan setiap harinya hanya untuk menanyakan kabar Woojin atau mengatakan bahwa ia sangat merindukannya.
Woojin sudah mulai merasa gelisah. Dadanyà terasa sesak setiap kali terbayang di pikirannya bahwa Jihoon sedang bersama Jonghyun. Woojin semakin tidak rela, ia ingin perhatian Jihoon hanya untuk dirinya saja.
Woojin dulu berusaha untuk tidak menuntut lebih, tapi sekarang ia tidak bisa. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang egois dan mementingkan dirinya sendiri. Sudah hal yang wajar jika akhirnya Woojin semakin tidak bisa mengendalikan hatinya.
Ia benci Jonghyun. Ia berharap Jonghyun tidak ada. Jihoon hanyalah miliknya. Tidak ada oramg lain yang boleh menyentuhnya selain dirinya.
Woojin berjalan mondar mandir di ruang tamunya. Ia benar-benar merasa gelisah. Woojin ternyata memang sangat membutuhkan Jihoon.
Karena tanpanya, ia menjadi seperti orang gila.
Akhirnya bel apartemen Woojin berbunyi. Woojin langsung berlari menuju pintu depan dan membukanya dengan tergesa-gesa. Akhirnya segala kegelisahannya pun mulai menghilang saat melihat orang yang ia tunggu berdiri di depan pintunya sambil tersenyum.
Seperti anak kecil yang melihat gula-gula kesukaannya, ekspresi Woojin langsung berubah menjadi cerah saat melihat senyuman yang sangat ia rindukan itu. Hatinya menjadi semakin hangat saat pemuda di hadapannya itu langsung memberikannya pelukan yang erat. Woojin memanfaatkan momen ini untuk menghirup aroma yang menguar dari tubuhnya. Rasanya begitu menenangkan baginya.
"Aku kangen banget denganmu Woojin.."
Woojin tersenyum. "Aku juga Jihoon.."
"Aku sangat merindukanmu.."
Tanpa melepas pelukan Jihoon, Woojin pun menutup pintu apartemennya. Ia tahu Jihoon bahkan belum sempat untuk melepas sepatunya, tapi Woojin sudah benar-benar rindu dengan hangat ciumannya. Akhirnya ia pun memojokkan pemuda berparas manis itu dengan menyenderkan punggungnya di pintu yang baru saja ia tutup itu. Tanpa berkata apa-apa, ia pun segera mengklaim bibir yang manis itu.
Woojin menciuminya dengan tergesa-gesa. Jihoon hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Woojin padanya. Woojin seperti ingin memakannya bulat-bulat. Ia bahkan sudah tidak bisa mengimbangi lidah kekasihnya yang bergerak begitu agresif di dalam mulutnya. Lama kelamaan kakinya pun mulai lemas, beruntung masih ada lengan Woojin yang menyokong pinggangnya.
Setelah puas mencium bibirnya, Woojin pun bergerak ke selatan untuk memberikan beberapa ciuman ringan di lehernya. Jihoon benar-benar lemah dengan sentuhan di bagian yang sensitif ini, ia pun mulai kehilangan nafasnya dan tanpa sengaja melenguh pelan.
Mendengar respon dari Jihoon, Woojin pun menjadi semakin agresif. Tangannya mulai bergerak menggerayangi seluruh tubuh Jihoon.
Jihoon tahu kalau ia harus menghentikan ini semua saat Woojin mulai membuka beberapa kancing kemeja yang ia pakai sekarang dan menciumi kulit halus yang baru terekspos itu dengan begitu rakusnya.
"Woojin, sebentar.."
Woojin menatap Jihoon kebingungan.
"Jangan disini.. dan setidaknya biarkan aku melepas sepatuku terlebih dahulu, oke?"
Woojin mengangguk. Walaupun ia masih begitu bergairah, ia menyetujui apa yang Jihoon katakan dan membiarkannya menyelesaikan semua urusannya. Akhirnya Jihoon sudah selesai, ia pun duduk di sofa ruang tamunya sambil tersenyum padanya. Woojin sudah tidak mau lagi menyiakan waktunya. Ia pun segera menghampiri Jihoon dan kembali mengklaim bibir merah yang adiktif itu.
Jihoon meresponnya dengan sangat baik, ia membalas ciumannya dan berusaha untuk mengimbangi dirinya. Woojin kembali bergerak menuju lehernya yang sudah setengah terekspos dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Woo.. Woojin.." Jihoon berbicara diantara nafasnya yang terengah-engah.
"Kenapa kau begitu terburu-bu..ru..?"
Woojin sesaat menghentikan apa yang ia lakukan. "Karena aku begitu merindukanmu.."
Jihoon tersenyum. "Aku juga.. aku sangat merindukanmu Woojin.."
Woojin mengecup dahi Jihoon dan menatapnya. Jihoon tersenyum, membuat Woojin seketika diam dan terpaku karena begitu terpesona dengan keindahannya. Jihoon terlihat semakin cantik dengan pipinya yang merah, bibir yang merekah dan mata yang sedikit berair dan memantulkan refleksi yang sempurna akan dirinya.
"Kau sangat cantik Jihoon.."
Woojin mengucapkan segala pujian tentang pemuda itu pada setiap kecupan yang ia berikan di sekujur tubuhnya. Woojin dengan perlahan membuka pakaian Jihoon dan melemparnya ke lantai. Sekarang Jihoon sudah benar-benar terekspos. Woojin tertawa saat Jihoon menutupi wajahnya karena malu. Ia kemudian dengan perlahan mengambil tangan pemuda manis itu dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Jangan ditutupi sayang, kau sangat indah saat ini.."
Woojin mulai menciumi lehernya lagi dan sedikit demi sedikit bergerak sampai ke dadanya. Woojin terhenti saat ia melihat beberapa tanda cinta berwarna merah keunguan yang jelas-jelas bukan dibuat olehnya. Dan sesaat ia tersadar bahwa tubuh indah ini bukan hanya miliknya.
Semua bagian dari Jihoon juga dimiliki oleh Jonghyun. Setiap jengkal kulit yang Woojin sentuh pasti sudah pernah dijelajahi oleh Jonghyun.
Pemikiran ini menimbulkan amarah di dalam dirinya. Rasanya ia benar-benar kesal, ia kesal dengan dirinya sendiri. Ia benci dirinya yang tak kuasa mengontrol apa yang terjadi, akan dirinya yang terlalu takut merebut Jihoon dari pelukan Jonghyun.
Woojin pun mulai menyesali sikapnya yang begitu menerima keadaan ini. Seharusnya sejak awal ia berontak. Ia bisa saja menyusun cara untuk merebut Jihoon. Ia bisa mendatangi Jonghyun dan menceritakan tentang keberadaan dirinya di dalam kisah cinta mereka.
Dengan demikian, Woojin yakin hubungan yang sudah terjalin di antara keduanya akan hancur berantakan.
Woojin menciumi Jihoon pada bagian tubuh dimana Jonghyun menyentuhnya sebelumnya dan berusaha untuk membuat tanda baru disana. Ia tidak mau melihatnya lagi, setidaknya menutupinya dengan miliknya membuatnya lupa akan kegelisahan yang ia rasakan sekarang.
"Woojin, hentikan!"
Woojin terdiam saat Jihoon mendorong wajahnya. Ia mundur dan menjauhkan dirinya dari Woojin sambil menatapnya dengan penuh kekecewaan.
"Apa yang kau lakukan Woojin?"
Tatapan itu membuatnya sadar dengan apa yang ia lakukan. Woojin salah.
"Ma.. maafkan aku Jihoon, aku..aku hanya.."
Woojin tidak bisa meneruskan kata-katanya. Ia tidak bisa mengatakan semua yang membebani pikirannya saat ini pada Jihoon. Ia tidak mungkin menceritakan Jihoon perihal rasa cemburunya pada Jonghyun, betapa ia iri pada Jonghyun yang bisa memiliki Jihoon sepenuhnya dan bisa berbuat apapun yang ia mau padanya.
Woojin sebenarnya merasa semakin kecewa dengan sikap Jihoon yang seperti ini, sungguh terlihat jelas kalau bagaimanapun Jonghyun akan tetap menjadi prioritas utama baginya.
"Woojin.."
Jihoon mendekati Woojin dan memeluknya. Ia kemudian memegang pipi Woojin dan menatapnya dengan penuh simpati seakan ia tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran Woojin saat ini.
"Maaf jika aku membuatmu tersinggung.."
"Sungguh aku mengerti perasaanmu Woojin.. tapi.."
"Bukankah kita sudah berjanji sebelumnya? Hubungan ini hanya rahasia kita berdua.."
"Aku takut jika Jonghyun hyung tahu, kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi.. jadi aku mohon padamu untuk tetap bersabar ya.."
Jihoon mengecup bibir Woojin dengan lembut, sesuatu yang biasanya bisa menenangkan suasana hati Woojin namun sekarang anehnya tetap tidak dapat membuat kegalauannya sirna. Walaupun Woojin mengerti dan berusaha menerima, tetap saja rasanya menyesakkan untuk menahan semua rasa cemburu di hatinya seperti ini.
"Aku mencintaimu Woojin, percayalah sampai kapanpun kau akan tetap ada di hatiku.."
Woojin menganggukkan kepalanya diantara ciuman yang diberikan Jihoon padanya.
Woojin memang harus bersabar, tapi sampai kapan?
Apakah ia harus mengalah selamanya?
Jika memang Jonghyun selalu akan menjadi prioritasnya, lalu kapan semuanya akan berubah? Apakah akan ada hari disaat Woojin bisa memiliki Jihoon sepenuhnya?
Woojin merasa putus asa. Perasaan ini begitu menyiksanya. Ia benci dirinya yang menjadi semakin tamak dan posesif akan Jihoon. Ia ingin merebut Jihoon dari kekasihnya, namun dirinya lah sendiri yang tak bisa melawan keadaan ini.
Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus menyerah?
-0-
Akhirnya bisa update juga chapter ini, maaf ya bikin kalian menunggu..
Tadinya aku kira chapter selanjutnya bakal finish, tapi ternyata aku nulis chapter ini nya kebanyakan jadi kalau jadi satu chapter bakal panjang banget.. jadi mungkin dua chapter sampe cerita ini selesai.
Masih ngelanjutin ceritanya, semoga bisa cepet update ya..
Terimakasih buat reviewnya di chapter-chapter sebelumnya..
Selamat membaca dan jangan lupa reviewnya yaa :')
