Disclaimer : Demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, saya hanya pinjam saja.

.

.

Stop it!

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Stop it! by authors03

Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 7

.

.

.

Pagi seperti biasanya, gadis bersurai indigo yang dikenal bernama Hinata itu melakukan rutinitas pagi. Pergi ke sekolah dan masuk ke dalam kelasnya dengan wajah tanpa ekspresi meski dalam dirinya terdapat amarah.

Sreet!

Braack!

"Kyaah!" pekiknya kaget saat kakinya yang hendak melewati ambang pintu kelas 12-A malah menyenggol isolasi hingga membuatnya tersungkur ke lantai.

"Ya ampun. Siapa yang meletakkan isolasi itu di sana?"

"Jalan itu pakai mata, Hinata. Aduh..."

"Pffft..."

"Hahaha.."

Kepala Hinata terangkat, ia menatap ke depan, tepatnya empat gadis di sekitar meja guru.

.

.

.

Seperti biasanya, lelaki bersurai kuning itu menjauh dari loker setelah mengganti isi buku-buku di ranselnya.

Dia yang bernama Naruto melangkah ke lantai tiga menuju kelasnya.

"Kau jalang sialan!" baru saja tiba di depan ambang pintu tapi ia sudah dihadiahi pemandangan yang buruk.

"Hentikan itu!" perintahnya tapi gadis yang di landa amarah itu tetap menyerang empat gadis di depannya, membuat Naruto tak punya pilihan lain selain menangkapnya.

"Sialan! Lepaskan!" Hinata memberontak ketika Naruto mengunci kedua tangannya ke belakang.

"Hyuuga, tak bisakah kau tak membuat masalah sehari saja?" tanya Naruto.

"Sebelum kau bertanya padaku, sebaiknya kau tanya jalang-jalang itu apa yang telah mereka lakukan padaku!" wajah Hinata memerah karena amarah. Darahnya mendesir hebat. Berani sekali sekumpulan jalang itu melakukan hal ini padanya!

"Na-naruto. Dia ingin mengerjai kami tapi dia malah menyalahkan kami karena terjebak oleh keisengannya sendiri." jelas salah satu gadis bersurai pink yang dikenal bernama Sakura, langsung di setujui oleh orang-orang di sekitarnya.

"Hei! Jaga mulutmu sialan! Jangan berani menuduhku!" emosi Hinata meledak karena tuduhan itu.

"Sakura, kau tak apa-apa'kan?" tanya Naruto khawatir, mengabaikan Hinata.

"Uhm, aku tak apa-apa." jawab Sakura tersenyum tipis.

"Hinata, sebaiknya kau ikut aku ke kantor kepala sekolah."

.

.

.

Di sinilah mereka sekarang, dimana amukan Hinata langsung meledak saat tangannya terlepas.

Braack!

"Cek saja cctv atau apapun! Sampai mati pun kau takkan pernah melihat aku yang melakukan hal sialan itu!" marahnya memukul kasar meja hitam kepala sekolah dan menepis apa yang ada dimeja hingga membuatnya berserakan di lantai.

Braack!

"Dan kau! Kau kira kau siapa?! Berani sekali kau memperlakukanku seperti penjahat!" ia menumbangkan kursi di samping Naruto tapi Naruto hanya berdiri diam tanpa mau memperdulikannya.

"Hyuuga, tak bisakah kau duduk dulu dengan tenang?" tanya sang kepala sekolah di balik meja kerja, berusaha tak terpancing karena kelakuan bar-bar siswi ini.

Braack!

"Jalang-jalang dan sialan ini menuduhku dan kau menyuruhku untuk tenang?!" ia menendang kursi di belakangnya yang seharusnya ia duduki.

"Dengar Hyuuga, kamera di kelasmu telah dirusak semalam siang dan pada saat itu kau berada di sekolah yang sudah kosong itu bukan? Apa yang kau lakukan di sini semalam siang?" tanya Tsunade memastikan.

"Kau menuduhku sekarang?!" tanya Hinata tak terima. "Aku memang datang ke sini tapi itu untuk mengambil tasku yang tak aku ambil. Kau tahu aku tak masuk kelas semalam." jelasnya apa adanya.

"Kebetulan sekali kau ke kelas." sela Naruto berniat memojokan Hinata.

"Kau kalau tak tahu apapun, diam saja. Jangan membela jalang itu hanya karena perasaan sialanmu padanya." tanpa perlu bertanya pada dukunpun, Hinata yakin 100% lelaki ini jatuh hati pada gadis itu. Itu sebabnya dia sangat baik padanya.

"Ka"

"Hentikan." sela sang kepsek. "Kau punya bukti kalau bukan kau yang melakukan semua itu?" tanyanya.

"Harusnya kau yang mencari buk"

...

Hinata terdiam, berpikir.

...

"Aku tahu! Saat itu ada seseorang di sana dan dia melihatku." ucap Hinata mengingat.

"Dengar kau dan kau. Akan aku seret manusia itu ke sini dan kalian berdua akan mendapat masalah besar karena telah berani menuduhku." Hinata berlalu keluar dari ruangan setelah ucapannya.

Blaaam!!

Sang kepsek tersentak saat pintu ruangannya di tutup dengan sangat kasar. Mungkin pintu itu akan rusak dua kali hempas lagi.

"Ya ampun..." ia memijit-mijit pangkal hidungnya, frustasi. "Naruto, tolong panggilkan orang-orang yang bersangkutan ke sini."

"Ha'i Tsunade-sama."

.

.

.

Blaaam!!

Pintu kelas 12-D di buka dengan kasar dari luar, membuat manusia yang tengah sibuk belajar dan mengajar tersentak kaget.

"Sia" sang guru ingin bertanya tapi gadis itu menyela.

"Dimana lelaki berambut perak, putih, tinggi yang selalu membuat kacau itu?" tanya sang pembuka pintu cepat.

"Mungkinkah maksudmu Toneri?" tanya seorang siswi.

"Aku tak tahu siapa namanya. Intinya di mana dia?!"

"Dia absen. Mungkin dia ada di rumahnya sekarang."

"Kamu, bisakah kamu lebih so" lagi-lagi ucapan sang guru di sela oleh Hinata.

"Dimana rumahnya?" tanya Hinata.

"Ee di..."

.

.

.

Brrrrummmmm

Mobil Hinata melaju dan berhenti di depan pagar rumah besar berwarna biru langit.

Brack

Ia keluar dari mobil dengan menghempas kuat pintu mobil.

"Hei, buka pagarnya." perintahnya pada lelaki berpakaian security di balik pagar.

"Maaf, anda si"

"Aku bilang buka." sela Hinata.

"Anda tak diijinkan masuk kal"

"F*k!" mengabaikan lelaki tadi, Hinata memanjat pagar di depannya. Persetan dengan rok yang ia kenakan karena ia pakai celana di dalamnya, cih!

"Hei! Apa yang kau lakukan?"

Tap

Kaki Hinata mendarat sempurna ke tanah saat ia meloncat dari atas pagar besar itu.

"Tolong kelu"

Puk!

Bogem Hinata hadiahkan, langsung membuatnya terjatuh pingsan.

Pak!

"Brengsek!" ia menendang security tadi sebelum melangkah pergi.

.

.

Blaam!

Ia membuka pintu rumah yang tak terkunci dan masuk ke dalamnya dengan memanggil "Woi! Toneri! Keluar kau! Woi!"

Tanpa basa-basi, ia membuka semua pintu yang ia jumpai bahkan tanpa segan, naik ke lantai dua dan melakukan hal yang sama. Rumah ini sepi sekali. Apakah ada penghuninya?

Blam!!

"Woi!" ia masuk ke ruangan lumayan gelap di ujung lantai dua dan akhirnya menemukan apa yang ia cari di balik selimut besar di atas ranjang.

"Bangun! Woi! Bangun!" Hinata menyibak selimut itu dan membiarkannya terjauh ke lantai.

"Bangun!"

Plak plak plak

Tamparan ia berikan saat lelaki yang ia panggil tak kunjung bangun.

"Nggghhh..." Toneri yang masih dalam keadaan tertidur menepis tangan di wajahnya. Manusia mana yang menggangunya ini?

"Bangun! Bangun sialan!"

.

.

.

"Itu benar Tsunade-sama. Kami sudah pulang ke rumah saat pelajaran selesai dan kami tak ke sini lagi." jelas Karin.

"Kami tak menuduh Hinata yang merusak kamera itu tapi bukan tak mungkin dia mengerjai kami karena dia memang tak suka pada kami." sambung seseorang gadis di sebelah Karin.

"Sakura?" panggil sang kepsek ingin tahu apa yang sang wakil osis pikirkan.

"Aah... Tsunade-sama, meskipun benar Hinata yang melakukannya, mungkin dia tak berniat jahat. Mungkin dia hanya ingin bercanda."

"Merusak fasilitas sekolah adalah kejahatan."

.

.

.

"Lepaskan! Kemana kau mau membawaku?!" tanya Toneri yang masih loading. Baru saja matanya terbuka tapi gadis yang pernah ia lihat beberapa kali ini malah menyeretnya keluar dari kamar dengan menarik rambutnya. Ia bahkan belum memakai baju! Hanya celana boxer yang menutupi badan bagian bawahnya.

"Kau!" Hinata melepaskan rambut Toneri sebelum menatapnya tajam. "Semalam siang kau..."

.

.

.

Flashback...

14.34

"Mengapa kau ke sini? Kelas sudah bubar." Hinata mengabaikan lelaki yang muncul dari tangga menuju atap sambil terus melangkah pergi menuju kelasnya di ujung lantai tiga.

"Kau mengabaikanku?" Toneri mengekori Hinata. Ia sudah baik hati karena mau melupakan sikap buruk Hinata padanya tapi dia...?

Tap

Masih mengabaikan Toneri, Hinata mengambil tasnya di atas meja dan melangkah keluar.

"Oh, kau datang hanya untuk mengambil tas?" tanya Toneri mensejajarkan langkahnya dengan langkah Hinata di sebelahnya.

Hinata tak menjawab dan juga tak memperdulikan hingga mereka tiba di parkiran.

Tap

Toneri menahan pintu mobil Hinata yang hendak dia tutup setelah masuk ke dalam.

"Aaaa... Sebenarnya mobilku tak bisa menyala. Aku butuh bantuanmu untuk mengantarku pulang." ucapnya. Yah, anggap saja ini alasan mengapa ia melupakan segala keburukan Hinata padanya.

"Singkirkan tanganmu." perintah Hinata sambil menarik pintu mobil untuk menutupnya.

Taap

Dan ia berlalu begitu saja, meninggalkan Toneri.

"Woi! Manusia apa kau?! Jahat sekali!"

.

.

Flashback end

"Hah?" Toneri menatap terkejut Hinata yang baru saja selesai menceritakan mengapa ia mencari Toneri. Dia butuh Toneri menjadi saksi kalau dia tak pernah memasang jebakan untuk mengerjai beberapa perempuan apalagi menyentuh kamera di kelasnya.

"Hahahaha," bukannya menjawab, Toneri malah tertawa terbahak-bahak.

"Jadi kau, maksudnya kau berani memintaku begitu setelah meninggalkanku semalam siang? Hahahaha.." tawanya tak percaya sebelum

"Tidak." mamasang wajah seriusnya. Berani sekali dia meminta bantuan setelah mengabaikannya seperti itu semalam.

"Hanya kau satu-satunya orang yang melihatku semalam. Jadi kau harus menjadi saksiku."

"Itu bukan urusanku." jawabnya acuh. "Dan kau sudah mendobrak masuk rumahku, masuk kamarku, mengangguku lagi tidur dan menyeretku dengan menarik rambutku, pengianayaan. Apa kau sadar apa yang akan kau dapatkan kalau saja aku melaporkanmu ke polisi?"

...

Hinata terdiam beberapa menit sebelum mengatakan. "Apa salahnya membantuku? Kau hanya perlu ke kantor kepsek dan katakan apa yang kau lihat semalam siang."

"Masalahnya terdapat pada 'aku membantumu'" jawab Toneri tak terima.

"Oh, tapi aku tiba-tiba mendapat ide bagus." Toneri menyeringai penuh rencana.

"Mungkin aku akan ke kantor kepsek dan mengatakan kalau apa yang dituduhkan padamu benar." jelasnya. Anggap saja ia tengah balas dendam.

"Kau." Hinata menggeram.

"Apa? Kau mau apa hah?! Hanya aku satu-satunya saksi yang bisa membantumu'kan?" seringai melebar karena ia merasa berada di atas angin.

"Kau dalam bahaya kalau kau memilih untuk menjadi musuhku." tambahnya mengancam.

...

Lagi-lagi Hinata terdiam. Ia baru saja membuat kesalahan. "Aku tak perlu bantuanmu." Hinata membalikkan badannya dan melangkah pergi tapi Toneri menahan tangannya, membuat Hinata kembali menatapnya.

"Hah~ tapi karena aku sedang baik hati, aku akan ikut denganmu ke kantor kepsek." tanpa sadar, Hinata tersenyum lebar. Setelah semuanya jelas. Para manusia sialan yang bersangkut paut dalam masalah ini akan tahu apa akibatnya. Tak si jalang itu maupun Naruto ataupun Kepala sekolah. Mereka akan menyesal karena telah berani melakukan hal ini padanya.

.

.

.

Kantor kepsek.

"Aku akan katakan semua yang aku lihat setelah kau menghukum Hinata yang sudah berani mengangguku." senyuman tersembunyi Hinata pudar berlawanan dengan empat gadis di sebelahnya yang malah menyeringai.

"Kau..." giginya terkatup erat. Berani sekali manusia ini...

"Apa? Aku bilang akan ikut denganmu bukan melakukan apa yang kau suruh." Toneri menatap Hinata dengan senyuman.

"Aku akan menghajarmu, si"

Braack!

Semua di dalam ruangan sontak terdiam saat sang kepsek memukul meja kerjanya.

"Diam kalian semua!" amarahnya meledak pada tingkah beberapa murid di hadapannya sejak tadi. Ia kepala sekolah! Apakah mereka tak bisa lebih sopan?

"Kalian bergita saya hukum dan kalian berempat kembali ke kelas kalian. Sekarang!"

"Mengapa saya juga, Tsunade-sama?" tanya Naruto tak percaya dirinya turut terhukum.

"Kau, karena telah menyeret seorang siswi seperti penjahat." jawabnnya kesal.

"Kau!" ia menunjuk Hinata. "Karena berani bersikap bar-bar di kantorku."

"Kalau begitu kau juga harus di hukum karena menuduh seorang siswi tanpa bukti." jawab Hinata sinis.

"Diam kau!" marahnya sebelum menunjuk Toneri. "Dan kau, karena berani bernegosiasi denganku!"

"Lah?" kejut Toneri.

"Bersihkan ruang peralatan olahraga sekarang! sebelum saya memberi kalian surat pemanggilan orang tua!!"

.

.

.

Ruang peralatan olahraga.

"Kau membuatku terkena sial." Toneri yang sibuk mengelap bola basket dengan kain mengeluh.

Braack!

"Iittai!"

Bola yang di lempar ke wajahnya menjadi jawaban atas ucapannya.

"Hyuuga, sampai kapan kau hanya akan duduk dan mengamati kami?" sang ketua osis membuka suara, muak akan Hinata yang hanya duduk dan tak membantu apapun.

"Kau, sebaiknya kau katakan pada dia kalau aku tak melakukan apa yang dia tuduhkan." perintah Hinata untuk Toneri tapi Toneri berpura-pura tuli dengan semakin bersemangat membersihkan bola-bola basket di dekatnya.

Braacckk!

Sebuah bola kembali menabrak kepala Toneri. "Iittaaaii!! Sakit bodoh!"

"Jawab aku!"

"Ketua osis, kau mau tahu? Sebenarnya memang Hinata yang melakukan semua itu." jelasnya asal membuat Hinata menatapnya terkejut sekaligus marah.

"Kau sialan! Mungkin aku harus menghajarmu agar kau bisa menjelaskan dengan benar." Hinata berlari mendekati Toneri tapi Toneri malah berlari mengelilingi ruangan yang di penuhi alat-alat olahraga itu.

"Aku sudah katakan yang kau mau!" Toneri membela dirinya tapi Hinata malah semakin menggeram padanya.

"Kesini kau sialan!"

"Hentikan kalian dua." Naruto melerai tapi dua manusia masih sibuk berlari tanpa menghiraukannya.

Tap

Toneri menendang bola basket layaknya bola kaki yang hampir ia lewati.

"Berani sekali kau!" geram Hinata yang berhasil menghindari bola itu dengan cara menunduk tapi...

Braacckk!

Bola itu malah mendarat ke punggung Naruto.

"Kalian..." ia menggeram kesal. Ia sudah sangat kesal karena reputasinya tercoreng lagi tapi dua makhluk itu malah bermain like nothing happend.

Plak!!

"Kyyaaah!" Hinata tersungkur karena bola tiba-tiba menabrak kuat punggungnya.

"Hei! Mengapa aku?!" marahnya melempar kembali bola yang ia punggut ke arah sang pelempar tapi berhasil di hindari mudah oleh Naruto.

"Kalian berd"

Braack!

Ucapan Naruto di sela oleh bola yang menabrak kepala bagian belakangnya.

"Bwuaahahaha!!" sang pelempar yang adalah Toneri tertawa girang dan lempar-melempar pun terjadi.

.

"Sakit bodoh!"

Braack!

"Hentikan!"

Wush!

"Tak kena! Ngahahaha!"

Braaack!

Bracck!

"Kyaaah!"

Banyaknya keringat yang memenuhi wajah maupun badan mereka tak berhasil menghentikan aksi mereka. Banyaknya bola berserakan di lantai juga tak berhasil membuat tiga manusia itu menghentikan aksi mereka.

Meski alat-alat olahraga di ruangan yang awalnya rapi telah kacau dsn berserakan tetap tak menghentikan aksi mereka.

Braackk!!

Brack

Brack

"Auch! Hah! ampun hah! hah!" Toneri tertimpa tak berdaya saat bola Hinata mengenai kardus-kardus kosong di atas lemari di samping dirinya, membuatnya memilih tetap terbaring lemah dalam posisi tertimpa. Ia lelah dan merasa mengantuk.

"Hahahaha.." Hinata tak kuasa menahan tawanya pada Toneri yang terlihat sangat tak berdaya di bawah tumpukan kardus-kardus itu.

"Hinata awas!" teriak Naruto saat punggung Hinata bersandar kasar di lemari di belakangnya hingga membuat corong-corong yang tertumpukan di atas lemari bergoyang.

Greep!

Ccit

"Kyaah!" Ia segera mendekati Hinata, niat menariknya menjauh tapi ia malah terpeleset, menyebabkan sebuah dorongan untuk Hinata hingga membuat mereka sama-sama terjatuh dalam posisi Naruto menindih Hinata.

Brack

Brack

Brack

Alhasil corong-corong itu mengenai punggung Naruto tapi ia lupa merasakan sakitnya karena...

Deg!

Mata Hinata melebar begitu juga dengan mata Naruto di depannya dalam jarak 3cm.

Deg!

Badan Naruto berhenti bergerak, ia baru menyadari kalau ada telapak tangan? yang menempel di kedua pipinya?

Mengapa ia merasa ada sedikit demi sedikit oksigen masuk ke dalam mulutnya?Perlahan, ia membuka matanya...Dan ia melihat mata terpejam Hinata dengan jarak kurang dari satu jengkal di wajahnya.Deg!

Mengapa kejadian yang 10000000% tak mereka ingat, tiba-tiba muncul di otak mereka?!!!!

"Kyaaaammmpphh!!!" Hinata memekik histeris setelah mendorong Naruto dan mendudukan dirinya tapi Naruto membekap mulutnya dengan satu telapak tangannya. Gila gila gila! yang benar saja!? meski waktu itu ia memberi Naruto oksigen, tetap saja ia memcium Naruto! Astaga! memalukan sekali!! Bagaimana mungkin ia melakukan hal seperti itu?!

"Sssstttt... suaramu." bisik Naruto terkejut. Akan jadi masalah kalau sampai Toneri di sana kepo pada teriakan Hinata.

"Kau sialan! Berani sekali mau membuatku menciummu!" marah Hinata setelah Naruto menjauhkan telapak tangannya dari bibir Hinata.

"Men"

PLAAKK

Naruto membeku, terkejut karena Hinata menampar keras pipi kanannya.

.

.

.

"Sakura! Sakura!! Aku punya berita untukmu!" pekik seorang gadis menghampiri teman-temannya di salah satu bangku panjang di kantin.

"Apa itu?" tanya yang diajak bicara penasaran.

"Tadi aku lewat ruang peralatan olahraga dan aku dengar gadis itu berkata dia mencium Naruto?!"

"Kyaaahh!!"

"What?!" dua manusia lain di dekat Sakura turut terkejut akan kabar itu.

Deg

Tangan Sakura terkepal erat. Sungguhkah...?

"Berani sekali jalang itu."

.

.

.

To be continue...

.

.

.

Semoga suka, maaf kalau gak bagus

Bye