0.5

.

.

December28

.

Cast: Jung Daehyun – Choi Junhong

Moon Jongup – Yoo Youngjae

Bang Yongguk – Kim Himchan

Others

-Perhatian! Ada beberapa marga member yang harus saya ganti untuk kepentingan cerita-

Ini hanya FANFICTION, yang tidak suka harap langsung klik close tanpa basa basi.

.

Warning: YAOI, Not EYD, OOC, Typo, Don't like don't read.

This is Daelo, Moonjae, Banghim Fanfiction

.

Lets Start

.

'Jika angka untuk kematian adalah 0, dan angka kehidupan adalah 1. Maka kau berada diangka 0.5, karena faktanya kau tidak hidup dan juga tidak mati'

..

Himchan membuka matanya dan sedetik kemudian merasakan nyeri dan pusing disaat yang bersamaan, ia mengusap mukanya dan sadar ia berada di mana saat melihat Yongguk duduk tenang memperhatikannya dari kursi di sisi ranjang.

"Minumlah"

Yongguk melemparkan sebotol obat penghilang rasa mabuk dan pergi meninggalkan Himchan yang memejamkan matanya merasa menyesal karena hilang control dan banyak bercerita tadi malam.

"Yongguk-shi"

Yongguk yang irit berbicara hanya mengangkat alisnya dan menatap Himchan seakan menyuruhnya untuk berbicara dengan cepat.

"Tentang semalam-.."

"Aku bekerja untukmu karena uang, apapun alasan kau melakukan semua hal itu, jujur saja bukan urusanku"

Himchan menghela nafasnya karena tau Yongguk tidak bermaksud untuk memperpanjang cerita tadi malam.

"Kau akan ke rumah sakit?"

Yongguk mengangguk, kembali melangkah pergi meninggalkan Himchan yang meneguk cepat obat yang diberikan Yongguk.

…..

…..

Youngjae hanya duduk diam tak bergerak, hanya mata beningnya yang perlahan memerah dan air mata mengalir cepat seiring dengan deru nafasnya yang cepat.

Ia menundukkan kepalanya dan menangis saat melihat tubuh Junhong yang terluka diam bergerak tak bisa melawan.

Jujur saja, saat masih hidup sekalipun Junhong memang tidak pernah melawan.

Kepala Junhong dibalut tebal dan sekujur tubuhnya penuh dengan luka.

Pemuda ini bahkan kesulitan untuk bernafas dan detak jantungnya di control setiap detiknya.

Youngjae mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh tangan Junhong dan mengusap lebam di pergelangan tangannya.

Air matanya mengalir cepat dan menggenggam tangan Junhong erat-erat karena tidak tau apa yang sekarang harus dilakukannya.

'Aku percaya padamu, kau tidak akan menyakitiku lebih dari ini. Aku baik-baik saja~ jadi ku mohon…..hentikan'

Jongup memintanya dengan jelas untuk berhenti di dalam mimpi itu, Jongup mengulurkan tangannya dan mengatakan ia menyayanginya.

Bagaimana jika semua yang dilakukannya adalah kesalahan?

Bagaimana jika ia terus mengikuti rencana Himchan untuk menghabisi Junhong demi kepentingan dan kebahagiaannya?

Karena Youngjae tau, ia tidak akan pernah bahagia dengan kehidupan ataupun kematian Junhong.

Ia tidak akan pernah bahagia karena membuat Jongup menghilang dari dunia ini demi keegoisannya.

…..

Flash Back.

"Aku..tidak ingin kehilangan Jongup, hyung.."

Jongup berhenti melangkah masuk ke dalam kamar Youngjae, ia melihat pemuda manis itu berdiri di dalam dengan kemeja hitam longgar dan terlihat menggigit kukunya panik. Semula Jongup memilih mengabaikannya dan merapikan ruang keluarga Youngjae yang berantakan karena pertengkaran meraka, tapi saat mendengar namanya disebutkan dengan jelas, Jongup memilih berbalik dan mendengarkan dalam diam.

"Jongup sudah mengetahui semuanya hyung.."

Ya, Jongup sudah mengetahui segalanya dan ia memilih untuk tetap berada di sisi Youngjae, tidak ada yang bisa memperbaiki masa lalu seseorang sepahit apapun itu.

"Dia mungkin akan meninggalkanku jika Junhong tetap berada dekat dengannya"

Jongup menggeleng tak setuju, ia tidak pernah berniat untuk meninggalkan Youngjae sedetikpun terlebih setelah ia mengetahui segalanya.

Jongup memegang kenop pintu itu dan berjalan masuk diiringi dengan suara parau Youngjae yang gemetar ragu-ragu.

"Bisa kau…menyingkirkan dia untukku? Aku, tidak ingin dia ada diantara kami. Aku- aku takut Jongup akan bersamanya"

Dan Jongup tau, masalah mungkin akan bertambah besar jika ia menghalangi Youngjae saat ini. Youngjae tidak dalam keadaan stabil untuk mendengarkannya dan Jongup tidak ingin kesalahan sekecil apapun terjadi.

….

Jongup menarik nafasnya dan menoleh untuk tersenyum pada Junhong yang bersembunyi di luar gudang.

Wajah pucat Junhong sudah sepenuhnya layu dan putus asa, sahabatnya jelas ketakutan dan hanya dirinya yang bisa menghentikan semuanya.

Jongup tidak takut.

Youngjae akan mempercayainya.

Dengan langkah yang ia buat tegap Jongup masuk ke dalam gudang dan tersenyum kecil kearah Youngjae yang kaget.

Youngjae melebarkan matanya saat melihat sosok Jongup yang berdiri di depan pintu gudang tua itu dengan wajah tenang.

Mata Jongup hanya mengarah pada Youngjae, mata indah itu menatapnya dengan pandangan lembut dan berharap.

"Dimana Junhong?"

Youngjae bisa mendengar suara Himchan yang berdesis sinis dan berjalan mendekat kearah Jongup.

Tapi Jongup tak menjawab, Jongup masih diam dengan tatapan mata yang belum bergeser dari Youngjae sedikitpun.

"Aku bertanya padamu dimana Junhong!"

"Apa yang akan kalian lakukan jika aku menolak memberitahu?"

Bugh!

Youngjae refleks maju selangkah saat melihat Jongup dipukul telak pada rahangnya, menggelengkan kepalanya memberitahu pada Jongup untuk berhenti bersikap keras kepala.

Jongup hanya perlu memberitahukan mereka dimana keberadaan Junhong.

"Kalian akan membunuh Junhong?"

Himchan tertawa mendengar seruan Jongup ditengah ringisannya, Himchan melirik Youngjae yang matanya mulai bergetar ketakutan.

"Kau..kekasih Junhong atau Youngjae?"

Youngjae merasakan nafasnya putus tak teratur, ia takut Jongup lebih mementingkan Junhong dibandingkan dirinya.

Jongup mungkin lebih menyayangi Junhong dibandingkan dirinya.

"Apa kalian akan membunuh Junhong?" Jongup enggan menjawab pertanyaan Himchan, memilih mengulangi pertanyaannya dan menatap tak takut pada Himchan yang menatapnya bengis dengan matanya yang tajam.

"Jangan ikut campur, katakana saja dimana Junhong-"

"Youngjae hyung.." Jongup mengusap ujung bibirnya dan berjalan mendekat kearah Youngjae "kau tidak akan membunuhnya kan?"

Youngjae menundukkan kepalanya, menolak menatap mata Jongup yang bertanya padanya.

Youngjae tak tau harus menjelaskannya dengan cara seperti apa. Youngjae tak tau harus memulai dari mana.

"Aku…ingin kita kembali, mari bicarakan baik-baik dan jangan gegabah hyung"

Youngjae menggeleng tak percaya. "Kau menyukainya kan? Kau akan meninggalkanku karena tau bahwa aku tidak sebaik fikiranmu selama ini, begitu bukan?"

Jongup menggeleng, melangkah maju semakin dekat kearah Youngjae sebelum Youngjae berteriak padanya untuk berhenti.

"Jangan bohong! Kau- kau akan pergi dengan Junhong dan meninggalkanku sendiri, begitukan!"

Jongup kembali menggeleng dan mengusap kasar air matanya saat melihat keadaan Youngjae yang nampak kacau dan tak terkendali, kembali menggelengkan kepalanya dan berusaha menjelaskan pada Youngjae bahwa ia salah paham.

"Aku- hanya menyukaimu.."

Himchan hanya memperhatikan mereka dalam diam, jika pemuda ini benar-benar menyukai Youngjae harusnya ia berada di pihak mereka dan membiarkan mereka menyelesaikan rencana mereka.

"Hyung, aku mohon. Kita pergi dari sini dan-"

"Katakan dimana Junhong jika kau benar-benar menyukaiku"

Jongup membatu, menggeleng tak percaya pada Youngjae yang menatapnya menantang dengan mata dan hidung yang memerah karena tangis.

"KATAKAN DIMANA JUNHONG JIKA KAU MEMANG MENYUKAIKU!"

Youngjae-nya yang berubah? Atau memang Youngjae selalu seperti ini?

Tatapan matanya tajam dan menyedihkan, Youngjae berkali-kali menggenggam erat kedua tangannya dan bibirnya gemetar menahan tangis.

"Hyung.."

"Jika kau menyukaiku, kau akan mengutamakan kepentinganku bukan? Iya kan?"

"Hyung, mengertilah.. Junhong tidak pernah membencimu"

Youngjae melebarkan matanya kaget mendengar seruan Jongup, pemuda itu memejamkan matanya dan berusaha setenang mungkin menjelaskan semuanya.

"Junhong menyayangimu seperti dia menyayangi hyung kandungnya sendiri, dia membanggakanmu dan selalu bercerita yang baik tentangmu dan hyungmu"

"Benar..Junhong akan selalu menjadi anak baik dan aku-"

"Berhenti membedakan dirimu dan Junhong, aku mohon..Aku menyayangimu"

Jongup mengulurkan tangannya meminta Youngjae meraih genggaman tangan itu, sedangkan Himchan hanya menunggu keputusan Youngjae.

Dia melakukan semua ini untuk Youngjae, untuk kebahagiaan adiknya.

Keputusan berada mutlak di tangan Youngjae.

"Aku memberimu kesempatan terakhir, beritahu dimana Junhong sekarang?"

Jongup tersenyum sendu melihat Youngjae, mata pemuda manis itu terlihat cekung dan lingkarnya menghitam.

Youngjae tidak berhenti menggigit bibirnya dan terlihat sangat berusaha menjaga keputusannya.

"Kalau begitu…bunuh saja aku"

Youngjae mendongak, air matanya meluncur cepat saat melihat Jongup berlutut dan menundukkan kepalanya pasrah.

Youngjae mungkin berfikir Jongup melakukan ini untuk Junhong, tapi nyatanya..Jongup melakukan ini semua untuk Youngjae.

Jongup tau jika Youngjae melakukan sesuatu pada Junhong saat ini, dimasa depan Youngjae akan merasa bersalah dan menyesal karena sudah melakukannya pada Junhong yang tidak sedikitpun membencinya..

Dan saat masa depan datang nanti, Jongup ingin Youngjae hidup tanpa penyesalan dan rasa bersalah pada Junhong.

Jongup mendongak sejenak dan tersenyum pada Youngjae yang menangis karena kecewa padanya, ia berbisik rendah dan merelakan dirinya untuk masa depan Youngjae yang lebih baik tanpa kerendahan diri dan penyesalan.

"Aku mencintaimu..hyung"

Bugh!

Bugh!

Youngjae menangis dalam diam, terus menatap tubuh Jongup yang diam dan sesekali mencuri lirik kearahnya.

Tangan Jongup terulur bukan untuk meminta pertolongan, ia seakan mengatakan bahwa Youngjae masih bisa berhenti dan Jongup akan melupakan segalanya.

Tapi Youngjae diam tak bergeming, fikirannya menyalahkan Jongup yang selama ini ia anggap berpura-pura menyayanginya.

Di dunia ini Youngjae benar-benar hanya memiliki Himchan.

Youngjae hanya akan mempercayai Himchan mulai saat ini.

"Kita pergi Youngjae-ya"

Youngjae menggeleng belum bisa melepaskan Jongup, ia menatap iba kearah Jongup yang sudah tidak bisa bangkit karena dipukul habis-habisan.

"Hyung-"

"Itu pilihannya"

Youngjae memejamkan matanya dan merasakan tangan dingin Himchan menutup telinganya.

"Lupakan, jangan dengarkan"

Suara raungan sepeda motor terdengar mendekat, Youngjae berbalik dan memejamkan matanya semakin erat dan menangis saat tau sepeda motor itu dengan cepat menggilas tubuh Jongup dan membiarkannya meregang nyawa dalam kesakitan.

"Hyung..hiks"

Himchan menakup pipi Youngjae, seakan meyakinkan adiknya bahwa dirinya yang akan bertanggung jawab.

"Istirahatlah..kau harus datang dipemakamannya nanti"

Youngjae menangis keras dan memeluk tubuh Himchan erat berusaha mengusir sakit dan sesak di dadanya.

Atas kematian Jongup.

…..

….

Now

Junhong melihat Daehyun sedang berbicara di sambungan telepon, wajahnya terlihat serius dengan alis bertautan.

"Teman Jongup?"

Junhong menoleh saat mendengar Daehyun menyebutkan nama adiknya, berjalan mendekat kearah Daehyun dan mencuri dengar sampai Daehyun menutup sambungan telepon itu.

"Apa terjadi sesuatu hyung?"

"Polisi mengatakan bahwa terjadi kecelakaan tak jauh dari tempat Jongup di temukan"

Junhong diam, tersenyum kaku dan berusaha mengendalikan raut wajahnya.

Tenang Junhong.

Daehyun tidak akan tau secepat itu, kau masih memiliki waktu untuk menjelaskannya sendiri nanti.

"Tapi ada yang aneh, kecelakaan itu tidak terlacak dan berkas perkaranya tidak sampai pada pihak kepolisian"

Tentu saja.

Kecelakaan itu mempertaruhkan nama baik keluarganya, jika satu informasi saja terbongkar maka informasi penting lainnya pun akan terbongkar, dan Junhong tau itu yang keluarganya hindari.

"Benarkah?"

Junhong berpura-pura bingung, ia menggaruk rambutnya dan melirik takut kearah Daehyun.

"Junhong-ah"

"H-hm?"

"Heeh, tidak. Aku sedang berfikiran aneh bahwa mungkin saja kau teman adikku"

Junhong melebarkan matanya dan menggeleng cepat, ia menelan liurnya kasar dan tertawa kaku menatap Daehyun yang juga tertawa kecil melihat tingkah Junhong.

"Ti-tidak mungkin hyung he..he..he"

"Aku mengerti, lagi pula adikku tidak mungkin berteman dengan pemuda cengeng seperti mu"

Daehyun mengulurkan tangannya dan menyentuh hembusan dingin di sekitar pipi Junhong.

Ia menatap Junhong dan mengusap kepalanya perlahan, tangan Daehyun tidak sepenuhnya menyentuh Junhong, Daehyun hanya merasakan hebusan dingin saat kulitnya hampir mendekat dengan raga Junhong.

"Ini..aneh bukan?"

Junhong mendongak saat mendengar seruan Daehyun, ia menautkan alisnya bingung saat melihat Daehyun menggigit bibirnya mencoba untuk bicara walau ragu-ragu.

"Kau..datang entah dari mana, kau datang dan mengatakan bahwa hanya aku yang bisa melihatmu dan menyelamatkanmu"

Junhong tersenyum kecil dan mengangguk membenarkan.

Ia menarik nafasnya dan mengedipkan matanya yang perih, ia ingin menangis jika mengingat kemungkinan bahwa Jongup lah yang membuat jalan ini.

Jongup mengingatkannya untuk menghafal nomor Daehyun dan meminta pertolongan, Jongup bahkan menyelamatkan Junhong melalui kakaknya.

"Andai aku juga bisa bertemu Jongup"

Daehyun tersenyum miris dan memalingkan wajahnya, bibir tebalnya ia katup rapat dan mata tajamnya memerah karena tangis.

Junhong dengan ragu mengangkat tangannya untuk meraih Daehyun, ia perlahan menyentuh pipi Daehyun yang berpaling menatapnya.

"Aku minta maaf hyung.."

Junhong menangis dan mengusapnya kasar, ia memaksakan senyumnya saat melihat Daehyun melakukan hal yang sama.

Daehyun berusaha tertawa dan membelai tangan Junhong yang berada di pipinya.

"Untuk apa meminta maaf? Karena merepotkanku?"

"Maaf karena aku membuat adikmu pergi"

Junhong tidak bisa mengatakan itu, maka ia hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menangis di dalam pelukan Daehyun.

"Aku bertambah yakin sekarang, Jongup tidak mungkin mau berteman dengan orang sepertimu"

Junhong memejamkan matanya dan menangis semakin keras.

"Aku minta maaf hyung, maafkan aku.."

Daehyun tersenyum melihat tingkah Junhong yang melompat-lompat di koridor rumah sakit, mungkin menyenangkan jika ia tidak bisa terlihat oleh orang lain.

Pemuda polos itu membungkuk hormat saat melihat seorang kakek yang berjalan tergopoh di hadapannya, ia menatap kakek itu khawatir dan tersenyum lebar saat sadar Daehyun memperhatikannya.

"Jika kau bicara denganku sekarang, orang-orang akan bilang kau orang gila kan hyung?"

Daehyun melotot sebal kearah Junhong yang tertawa lebar dan menjulurkan lidahnya meledek Daehyun.

"Hyung, Daehyun hyung"

Daehyun diam tak menanggapi, Daehyun hanya sesekali membungkuk membalas sapaan beberapa perawat yang berpapasan dengannya.

"Hyung, daehyuuun hyuuung~"

Daehyun melirik Junhong memperingati, ia mengepalkan tangannya berusaha mengancam Junhong yang tertawa lebar karena senang mengerjai Daehyun.

"Sombong sekali tidak menjawab panggilanku"

Daehyun diam.

"Pantas kau tidak punya pacar"

Daehyun tetap diam dengan senyum kaku yang ia paksakan.

"Kau akan melajang sampai tua"

Daehyun menghela nafasnya kesal dan melirik Junhong yang menantang Daehyun.

"Hentikan Choi Junhong.."

Beberapa orang di koridor melirik bingung kearah Daehyun yang berbicara dengan tembok kosong di sisinya.

Junhong bahkan melebarkan matanya karena kaget Daehyun berani bicara dengannya di depan banyak orang.

"Aku akan memukulmu begitu sampai di rumah nanti Junhong-ah"

Orang-orang mulai berbisik dan menatap takut kearah Daehyun yang tertawa bersama Junhong dan tidak perduli dengan sekitarnya.

…..

"Hentikan Choi Junhong.."

Yongguk menoleh dan menatap heran kearah seorang pemuda yang berdiri tenang dan berbicara seorang diri.

"Aku akan memukulmu begitu sampai di rumah nanti Junhong-ah"

Yongguk diam tak bersuara dan membuka kacamatanya, memperhatikan penampilan pemuda itu –Daehyun yang tertawa lebar dan akhirnya berjalan melewati lorong dengan pandangan takut dan heran dari beberapa orang.

Yongguk memijit daerah hidung bekas kacamatanya, menghela nafas karena lelah berurusan dengan sekumpulan orang aneh yang berhubungan dengan Choi Junhong.

….

Junhong melompat-lompat tak sabar saat berdiri di depan pintu ruang perawatannya, ia meminta pada Daehyun untuk melihat keadaannya hari ini.

Daehyun saat ini sedang berbicara serius dengan penjaga dan meminta izin untuk masuk ke dalam.

"Sedang ada tamu, anda bisa kembali beberapa jam lagi"

Junhong mengerut kesal mendengarnya.

Kenapa ia harus menunggu beberapa jam hanya untuk melihat tubuhnya sendiri!

Melihat Junhong yang mendelik kesal dan menghentakkan kakinya Daehyun kembali bicara dengan penjaga di depan pintu ruang perawatan Junhong.

"Apa aku harus meminta izin kepada kepala pelayan? Aku sibuk dan terburu-buru"

Junhong tertawa senang melihat Daehyun yang diam-diam tersenyum bangga melihat penjaga di depan pintu itu kebingungan.

"B-baiklah, saya akan bicara dengan tamu di dalam"

"Hng, jangan terlalu lama"

Daehyun melipat tangannya di dada dan terkekeh lebar saat melihat penjaga itu bergegas masuk ke dalam kamar.

"Woah, Daehyun hyung~"

"Aku pengusaha, jika negosiasi gagal kau bisa memulai dengan ancaman kecil. itu yang aku pelajari"

Junhong tertawa senang dan merangkul lengan Daehyun yang tersenyum tak menghindar.

Beberapa menit kemudian pintu ruang perawatan Junhong terbuka dan seorang pemuda keluar dengan mata beningnya yang membengkak.

"Tolong jaga Junhong baik-baik"

Junhong dan Daehyun mendongak saat mendengar suara lain muncul dan sedang berbicara dengan penjaga disana.

"Baik tuan"

Saat pemuda itu berbalik ia melebarkan matanya kaget tak berkedip.

"Dae-daehyun.."

"A-apa yang kau lakukan disini? Youngjae-ya?"

WUSH~~

Daehyun menoleh cepat dan sadar, Junhong sudah tidak ada disisinya.

….

TO BE CONTINUE

….

MAAF.. INI LAMA BANGET DI UPDATE HIHIHIHI..

Aku suka ilang mood dan males ngetik padahal ide udah ada.

Mohon maaf lahir dan batin yaa ^^

Makasih buat yang masih mau baca dan review.

Ff lain menyusul satu-satu kalo masih ada yang mau baca hehe..

Thank you again, pyooong~~