Sekilas tentang synesthesia :
Para synesthetes biasanya terbagi menjadi dua jenis dalam memproyeksikan kemampuan snynesthesia mereka. Sebagai contoh, untuk grapheme-color synesthesia, ada synesthetes yang hanya 'merasakan' warna di dalam kepalanya ketika melihat huruf dan angka. Mereka tahu dan berpikir huruf/angka yang mereka itu punya warna, tapi secara visual mereka tidak melihat warna. Namun, ada juga yang jelas melihat warna pada huruf/angka secara visual.
Kemampuan synesthesia Eren :
1. Chromesthesia = sound-color synesthesia. Suara memiliki warna.
2. Sentuhan memiliki rasa (taste).
Bersumber dari beberapa peneliti, persepsi synesthesia adalah : (saya nulis yang penting aja buat keperluan cerita, biar readers nanti gak bingung ketika ada kemampuan Eren yang ditampilkan.)
1. Involuntary. Synesthetes tidak perlu memikirkan dahulu persepsi mereka ketika dihadapkan dengan suatu objek, persepsi spesial itu akan terjadi secara otomatis.
2. Projected.
3. Durable and Generic. Persepsi yang dirasakan akan selalu sama. Misalnya, ketika ada orang yang menarik lengan Eren, maka dia akan selalu mencecap rasa apel saat orang melakukan hal itu padanya.
4. Memorable
5.Emotional. The perceptions may cause emotional reactions such as pleasurable feelings. (ingat ketika ada orang yang nyenggol titik ginjalnya Eren?)
Oh satu lagi, apa kalian tahu? Pharrel Williams adalah pengidap chromesthesia.
Terima kasih kepada Andrea Sky, Zaelac, Mas Jaeger, babyberrypie, blue as, Orzz, Rivaille Yuki Gasai 2, Thor MG, kiaara, Horetata, Kazahana Hime, amelia, kierraa, otaku, Fransiska Ruiki dan semua pembaca yang meluangkan waktunya membaca cerita ini. ^-^
.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Cover art is not mine
Rate T for M/M relationship
School-life AU
romance / friendship / slight psychological
O O C, bahasa gado-gado, alur amburadul
Levi ; Eren ; Jean
SYNESTHESIA
.
.
.
Hari ini hari Sabtu. Bulan sabit bertengger manis di beludru hitam, ditemani pendar-pendar cahaya manik yang berkedip genit. Segenit para wanita kesepian di pinggir jalan yang tubuhnya terbalut pakaian minim dan menggoda para pengemudi mobil mewah untuk membawa mereka libur satu malam ke hotel cinta. Malam Mingguan. Malam yang paling ditunggu pasangan muda-mudi untuk merajut tali kasih atau bercumbu di belakang mobil berkaca gelap sepulang kencan.
Ini memang malam minggu, namun hari mana pun tidak pernah berarti apa-apa baginya.
Dia menatap refleksi figurnya di depan pantulan cermin. Merapikan jaket kulit berwarna krem dan kaus putih yang ujungnya keluar dari celana jeans berwarna senada. Wajahnya mendekat, jemari mengelus permukaan kulit untuk meratakan taburan bedak. Ibu jarinya mengusap bibir sewarna persik yang diberi gloss mengkilap. Bentuk matanya yang lembut sekarang nampak tajam, hasil dari goresan eyeliner dan sapuan eyeshadow gelap. Surainya yang pendek tertutupi oleh wig merah gelap dengan panjang sebahu. Sepasang tindik pada daun telinga tak luput dari razia penampilan.
Sempurna. Begitu sempurna sampai orang yang mengenalnya di luar identitasnya yang ini, tak akan mengenalinya.
Tatapannya beralih pada smartphone yang tergeletak di atas ranjang. Ibu jari membuka pola kunci geser dan menyentuh ikon surat.
To: Jean Kirschtein
15: 20 PM - Yesterday
Kenapa tidak jadi datang di kafe aunty Isa? Kau ada di mana, Jean?
Layar message conversation bergeser ke bawah.
From: Jean Kirschtein
16: 05 PM – Yesterday
Aku sedang bersama Eren. Sampaikan maaf untuk yang lain juga ya.
Dahinya mengerenyit. Baru saja ia akan mematikan ponsel, dering singkat tanda pesan masuk berbunyi.
From: F***ing Manager Church
19: 17 – Just now
Cepat datang! Rekaman untuk film terbarumu 30 menit lagi! Direktur mencarimu, Mark!
Benda persegi panjang berwarna hitam itu dilempar kasar ke dalam tas ransel kulitnya. Si pemuda bergegas keluar dan batinnya menyumpahi satu nama.
Eren Jaeger tak akan hidup tenang di sekolah.
.
.
.
Pemuda bersurai amber yang sedang anteng belajar tiba-tiba saja menjatuhkan pensilnya. Ia menghela napas dan merunduk ke bawah meja. Bunyi ponsel yang berdering membuatnya kaget dan kepalanya terbentur kerasnya kayu dari bawah. Bibirnya mengaduh sakit, tangan mengelus belakang kepala. Batin merutuki seseorang yang mengganggu aktivitas belajarnya.
Bola matanya melebar ketika membaca nama yang tertera di layar.
From: Levi-Sensei
19: 19 – Just now
Hei, nak. Kau tahu Mall besar yang berada di persimpangan jalan raya utama? Tunggu aku di sana. Jam 11 kau kujemput. Jangan telat atau kutusuk bokongmu.
Eren tertawa kecil sambil membalas pesan itu cepat.
To: Levi-Sensei
19: 21 – Just now
Baiklah, sensei. Aku tidak akan telat karena aku tahu hukuman tusuk bokong itu mengerikan meskipun aku tidak mengerti memangnya bokongku di tusuk pakai apa.
Sepuluh menit. Eren sabar menunggu balasan sambil melanjutkan mengisi otak berlatih dengan kumpulan soal kalkulus. Ponselnya berdering lagi. Eren mengambilnya cepat. Senyuman di wajahnya meluntur.
From: Mikasa
19: 32 – secs ago
Hai, Eren. Sedang apa?
Pemuda itu tidak membalas.
From: Mikasa
19: 34 – secs ago
Kau sudah makan, belum?
Eren melirik sekilas.
From: Mikasa
19: 35 – secs ago
Kau sedang belajar, ya?
Kesal, Eren menyetel ponselnya silent.
From: Mikasa
19: 37 – secs ago
Maaf kalau aku mengganggumu, Eren. :'(
Eren Jaeger mematikan ponselnya.
.
.
.
Sepatu pantofel hitam mengetuk-ngetuk lantai marmer putih bersih sepanjang koridor berdinding kaca. Jejeran ruang rekaman dan editing audio dilewatinya sampai ke ujung. Pria bersurai eboni yang sebagian wajahnya tertutup kacamata hitam itu mengetuk pintu ruang rekaman terakhir, sebuah plat kayu kecil bertengger manis di dinding. Recording room 3.
"Astaga! Kemana saja kau?" todong seorang pria hampir paruh baya. Membuka lebar pintu yang menjadi sekat badan antar keduanya agar si pria di hadapan bisa masuk ke dalam.
"Akhir-akhir ini aku sibuk. Ujian mendekat, dan aku sibuk mempersiapkan soal." Yang ditanya menjawab tak acuh, tangan menyikat lembaran kertas dari genggaman pria tua yang ternyata manajernya, lalu segera memposisikan diri di depan sebuah stand mic.
"Kau tidak lelah hidup di dua dunia yang menuntutmu jam kerja padat, Rivaille?"
Pria bernama Rivaille itu melirik pada wanita di sebelahnya. Dia memiliki rambut panjang berwarna merah gelap, wajah yang cantik dan bermata hijau terang—warna yang sama dengan si bocah nakal. Tangannya menurunkan mikrofon yang semula menjulang agar sejajar dengan mulutnya. "Tidak juga. Pekerjaan yang ini hanya sampingan."
Si wanita tertawa pelan, "Sampingan atau tidak, tetap saja menuntut profesionalitas. Kau harus pilih salah satu, Rivaille."
Sudut bibir si pria tertarik satu mili ke atas, "Akan kupikirkan itu lain kali. Sekarang lebih baik kita rekaman. Jangan membahas hal lain, Isabel."
Isabel Magnolia melirik sambil tersenyum pada kawan lama yang sudah dianggap abangnya sendiri, "Aku merasa abang sedang senang hari ini. Ada kejadian baik apa yang terjadi—uhh, oke, aku tidak akan bertanya lebih jauh jadi jangan menatapku dengan pandangan seram begitu, abang—iya iya aku mengerti jangan memanggilmu abang saat kita sedang kerja! Oh baiklah aku diam, Rivaille!"
Levi mendengus, mengalihkan pandangan kembali pada layar monitor besar di hadapan mereka berdua. Wanita di sebelahnya menghela napas. Sound Director yang sejak tadi cuma bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan keduanya memberi isyarat hitung mundur dengan jemari, dan layar menyala menampilkan adegan hujan rintik berlatar taman malam hari. Seorang gadis berpakaian kimono berdiri dalam derai gerimis dengan tangannya menggenggam kain pada lengan pemuda yang memunggunginya. Mereka berada di tengah rumah besar khas jepang. Musik biola mengalun sebagai latar belakang, bercampur dengan suara pecah air yang menyentuh bumi.
"Kakanda! Jangan tinggalkan aku—!" teriak wanita di sebelahnya, fokus menatap layar di depan.
Ini adalah adegan paling mellow nan dramatis yang pernah dilihat Rivaille. Batinnya mendesis jijik.
Selama beberapa belas detik si pria tak menjawab.
"Rivaille, mulai narasimu." Titah sang direktor dari balik kaca di belakang mereka.
"Maaf, tapi aku harus." suaranya serak karena kedinginan, namun tetap dalam dan bernada rendah, "Maafkan aku, adinda." dan genggaman si gadis terlepas. Si pemuda berjalan menjauh di jalanan kosong, si gadis menatap figurnya hingga sosok kekasihnya menghilang.
Melankolis abis.
Rivaille mulai bertanya mengapa dia bisa masuk dalam dunia seperti ini.
.
.
.
Bunyi keras dari bola basket yang memantul-mantul pada semen berbaur dengan desau napas tak teratur. Benda bundar itu digiring tanpa arah jelas, memutari hampir setengah lapangan lalu dilempar melayang dan masuk ke dalam jaring. Kembali ditangkap sepasang tangan panjang yang selalu memainkannya hampir setiap hari, demi mengusir perasaan suntuk dalam hati.
Jean Kirschtein membanting bola, tak perduli untuk mengambilnya lagi, lalu jatuh tepar di atas lantai semen. Lelah luar biasa. Dada naik turun cepat dan mulut terbuka mencari pasokan oksigen. Pikirannya melayang pada sebuah kejadian di masa kecil yang mengubah seluruh hidupnya—dan mungkin juga, hidup dia.
Punggung tangan Jean mengusap peluh pada kening, berada di sana selama beberapa saat. Mata memandang jauh pada beludru malam tanpa hiasan manik-manik yang biasa berkerlip jenaka.
"Seandainya—" napas Jean tercekat, "saat itu aku tidak berbuat usil padamu. Mungkin saja kau akan terus berada di sini dan aku tak perlu kembali pada keluargaku—pada ayahku. Mungkin saja aku—kau, tak akan hidup membawa trauma selama-lamanya gara-gara aku."
Jean menggigit bibir, "Tatapanmu yang sangat ketakutan saat itu benar-benar membuatku merasa bersalah. Aku merasa cemas ketika kau mencoba datang ke taman belakang panti karena mungkin kau akan mengingat kejadian itu—tapi seandainya kau tahu, yang hidup traumatis selama ini bukan hanya kau saja."
Awan hitam berarak di atas kepala, tertiup angin sepoi yang desirnya membelai paras. Dingin merayap sampai ke dalam tulang.
"Sejak itu, setiap harinya aku terus meminta maaf padamu. Berdoa di depan jendela kamar rumah sakit dan kamar panti, sampai kamar besar rumah baruku, tiap malam membisikkan namamu. Berdoa agar kau melupakan kejadian itu—bahkan melupakan aku saja sekalian, asal itu bisa menghilangkan trauma yang kusebabkan."
Ada bekas luka pada hati yang menyisakan lubang besar menganga. Jantungnya berdenyut perih dan sangat panas. Hangat pada kulit pipi yang basah tak bisa menutupi dingin malam.
Jean mengusap sisa-sisa tangisan hingga kering dan berjalan pelan ke depan bola basket yang sudah berwarna kusam. Menatap benda bundar itu getir lalu mengusapnya perlahan. Kulit membentur serat-serat kasar yang sebagian sudah robek.
"Maafkan aku, Eren."
Bisikkan kecilnya ditelan bumi ketika Jean membanting bola dan berlari pergi.
Bola itu memantul, bergulir, dan berhenti tepat di bawah kaki seseorang.
.
.
.
Eren Jaeger berdiri sendirian di depan bangunan mall, celingak-celinguk mencari sosok pria kurang kalsium yang telat datang. Sulit menemukan figur sang guru diantara manusia-manusia yang berlalu lalang. Ini hari Minggu, sebuah hari bebas untuk melepas penat setelah bekerja keras di hari-hari sebelumnya. Benar saja, tempat rekreasi untuk para warga kota ini banyak dikunjungi, mulai dari keluarga, sepasang sejoli, gerombolan anak muda, dan sisanya jones kesepian.
Berdiri sendiri mirip patung selamat datang di sini, Eren mulai resah ditatapi. Dibawanya lengan kiri ke hadapan wajah dan menatap cemas pada jam kulit coklatnya, apakah dia datang terlambat?
Telat? Tunggu dulu. Ini masih setengah jam lebih awal. Eren datang terlalu dini. Mungkin karena ia tak mau bokongnya ditusuk—walau entah ditusuk benda apa, yang jelas pasti akan sakit rasanya. Prosesi penyembelihan kuda waktu itu sudah cukup membuatnya trauma sampai pingsan. Jangan sampai dia datang telat lalu bokongnya ditusuk langsung di depan mall—'kan, tidak lucu lagi.
Lima belas menit. Eren mulai bosan menunggu. Ia baru saja hendak masuk ke dalam mall untuk menghabiskan waktu melihat barang jualan saat lengannya ditarik. Eren menoleh.
"Levi-sen—" dahi Eren mengkerut, "—sei?"
Siapa ini? Gurunya tidak bisa tiba-tiba tinggi melebihi tingginya. Gurunya juga tidak berkumis, tidak berkulit wajah penuh jerawat, tidak juga berambut panjang mirip rocker tahun 90'an. Pria asing di hadapannya ini mengenakan setelan jas putih dengan kemeja hitam, sebuah kalung panjang terlihat dari kancing yang tidak terpasang sampai dada. Dandanannya necis sekali, tapi sayang itu tak menutupi wajahnya yang seburuk titan. Eren seketika melepas lengannya yang masih digenggam agak kasar.
Penampilannya mencurigakan, dan Eren ambil sikap waspada. Teringat pembicaraan Jean yang bilang ada om-om yang suka melakukan pelecehan seksual dan mengincar anak muda. "Om ini siapa? Penyanyi dangdut apa rocker? Mau apa sama saya? Penculik ya?"
Pria yang dituduh banyak pertanyaan itu awalnya terkejut, namun langsung tertawa pelan. "Saya bukan om-om, saya juga bukan penculik. Ehem, kamu sendirian saja di sini? Mau kutemani?" bujuknya ditambah dengan kedipan genit dan senyuman menggoda.
Eren bergidik, mukanya langsung berubah jijik. Rupanya benar apa yang dibilang Jean. Setidaknya yang datang lebih ganteng sedikit kenapa? Mungkin ia juga tidak terlalu ambil sikap waspada begini. "Saya lagi menunggu orang lain, jadi jawabanku tidak." Jawabnya tegas, segera berbalik dan berjalan menjauh.
Tapi tas hijau kesayangannya ditarik ke belakang. Sial, apa sih mau om-om jelek ini! Eren pasang wajah galak yang tak dibuat-buat, mulut sudah siap menyumpahi pria yang lebih tinggi darinya.
"Dik, tunggu sebentar. Aku hanya ingin mengajakmu minum teh. Bukankah anak muda seharusnya lebih sopan pada orang yang lebih tua? Sudah ditawari hal yang baik, tidak bisa ditolak kasar begitu saja, bukan?" tangan pria sok ganteng itu mencengkram bahu Eren, mencegahnya untuk kabur.
Yasudah, kalau memang pria itu mencegah dirinya supaya tak bisa kabur, Eren ladeni saja. Ladeni dengan makian, tentu. "Om ini penculik, kan?! Om tak sadar ya, mukanya om tuh jelek! Jerawatan! Kalau mau mengajak orang kencan, urusi dulu mukanya! Orang jadi takut duluan melihat wajah om! Siapa yang mau sama orang jelek kayak om! Dasar mesum!" bertubi-tubi Eren melontarkan makian kejamnya dengan lancar. Peduli amat aksinya barusan menjadi pusat perhatian. Biar saja, biar om ini malu kemudian hilang muka.
Eren mendengus, bersidekap. Mata membuka lebar-lebar saking kesalnya.
Tapi namanya om-om yang mukanya sudah jelek, ya sudah jelek tambahin buruk saja sekalian. "Bocah kurang ajar—" geramnya, lalu mencengkram kerah kemeja Eren tanpa peringatan, "apa kau bilang? Kau tidak tahu aku ini siapa, ha? Berani-beraninya—jangan pikir aku tidak bisa membuatmu malu saat ini juga, bocah tengik!"
Eren melotot ketika wajah jelek itu semakin maju mendekati wajahnya—tunggu! MAJU?! Eren langsung melayangkan tinju pada bibir monyong yang hampir mencium pipinya itu. Sang om-om mesum terjungkang ke belakang dengan tak elit, terpeleset lalu jatuh di atas semen. Si pemuda yang nyaris jadi korban bergidik sambil menatap pria yang sedang meringis di bawah itu. Nyaris dicium saja sudah jijik rasanya, apalagi kalau bibirnya tadi berhasil dijarah? Bibirnya 'kan masih perawan!
Om-om mesum itu berdiri, meludah sembarangan lalu pergi. Kerumunan orang yang memperhatikan mereka mulai membubarkan diri. Masih kesal, Eren berbalik hendak pindah tempat dengan sedikit menghentak—tapi memang dasarnya sial—ada apa sih dengan nasib mukanya yang suka sekali menubruk dada seseorang?
"Aduh!" Eren meringis sambil menunduk, jemari memijit hidung yang rasanya tadi tulang lunaknya kempes sebentar. Siapa sih yang tiba-tiba berdiri di belakangnya? Karena suasana hatinya sedang tak baik, Eren mendongak dan melirik ganas mata emas itu—lalu lirikannya berubah membola, "Jean?!"
Payung kulit yang melindungi manik emas itu ikut membola sesaat, "Eren? Ternyata benar itu kau! Tadi aku lihat keributan di sini, karena penasaran makanya aku lihat kemari. Eh, ternyata kau penyebab keributan ini, ya?" melihat ekspresi terkejut campur bingung di manik hijau terang di bawahnya, dan tangan Eren yang sedang mengurut hidung mancungnya membuat Jean terkekeh pelan, "Maaf, apa hidungmu sakit? Dadaku keras, sih. Habisnya berotot—ow!"
Eren menyikut keras perut teman meja sebelahnya ini, bisa-bisanya dia narsis. "Kenapa kau mendadak berdiri di belakangku, sih? Kenapa juga kau ada di sini?" bisiknya, merasa risih dengan kehadiran si kuda.
Jean mengelus dadanya sambil meringis, "Sepatu olahragaku perlu diganti. Kau sendiri?"
Eren menarik napas, "Aku ada janji."
Jean merasa perlu kepo, "Dengan siapa? Kalau kau janjian dengan teman yang lain, kenapa tidak mengajakku? Kau tega sekali—" tangannya gemas mencubit dua pipi Eren, menggoyangkan ke kiri dan ke kanan.
Eren merengut sambil berusaha melepaskan diri, manis rasa coklat menari di lidah. "Lepas, umh!"
Jean tersenyum lebar, makin gencar menggoyangkan wajah Eren—yang luar biasa manisnya. Ia heran kenapa dengan ekspresi jelek begini, si badak masih tetap terlihat sangat manis? Ada apa ini—ada rasa senang dalam dadanya yang menyebar cepat ke seluruh badan. Apa tubuhnya sedang bernostalgia karena dulu dia juga suka memperlakukan Eren seperti ini?
"Puas bermesraan dengan muridku, Jean Kirschtein?"
Senyum lebar Jean seketika pudar. Kepala menoleh ke samping menatap horror pada mahluk kerdil yang entah kapan ada di sana. Jean meneguk ludah, takut sekaligus heran, "Levi-sensei?"
Eren, yang wajahnya masih tertahan, hanya bisa melirik sekaligus melotot ke sebelah. Ya ampun, kenapa gurunya ini datang di saat yang tak tepat—setidaknya sampai Jean berhenti mencubit pipinya! Rasanya seperti wanita yang kepergok sedang selingkuh oleh pacarnya saja! Eren menggigit bibir saat manik kelam itu menyorot wajahnya. Tak berani bersuara.
Manik kelam Levi kembali berperang sengit dengan manik emas di atasnya. Aura membunuh kental menguar, "Kau masih belum mau melepas tangan kotormu itu?"
"O-oh!" Jean reflek melepas cubitan gemasnya di pipi Eren. Tangan berpindah ke pinggang dan satu lagi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bermaksud mencairkan suasana, Jean berdeham, "Err, kenapa sensei bisa ada di si—"
Levi menarik Eren yang sedang mengusap-usap kedua pipinya untuk pergi menjauh.
"—ni."
Ah, kacang.
Sebenarnya ia sudah biasa dikacangi, namun ini ada hubungannya dengan Eren—dan apapun yang berhubungan dengan pemuda manis itu, ia tidak bisa tinggal diam. Merasa gebetannya dicuri, Jean membuang rasa takutnya pada sang guru dan berlari mengejar dua sosok itu. Eren nyaris saja akan masuk ke dalam mobil hitam milik Levi, kalau saja lengannya tak ditahan oleh Jean.
Manik cerah keduanya bertemu sekali lagi. Mengirim getar aneh yang menelusup ke dalam dada Eren, ketika manik emas yang berjarak beberapa senti di atasnya terlihat sedikit meredup.
Eren menatap lengannya, Jean terkesiap melepaskan. Ketua basket SMA Sina itu menatap sang gebetan dengan tampang sangsi, "Kau janjian dengan Levi, kenapa tidak memberitahuku? Kau mau kemana bersamanya?"
Sebelum Eren menjawab, debum pintu mobil terdengar, Levi keluar dari dalam kendaraan dan kembali berdiri di sebelah mereka. Sorot matanya ke arah (mantan) murid paling bebalnya lebih tajam dari biasa, sampai yang ditatapi meneguk ludah. "Kau masih di sini, Kirschtein?"
Ketajaman itu membuat nyali Jean sedikit menciut, "Ehh, aku hanya punya urusan dengan Eren, sensei."
"Katakan urusanmu di sini. Sebaiknya kau cepat, karena Eren akan pergi denganku."
Pemuda yang berada di antara mereka terlihat panik, "Levi-sensei, aku yang akan mengurus dia, jadi—uhh, sensei tunggu saja di dalam." Eren menarik kain baju pada lengan Jean, lalu sedikit menjauh dari gurunya. Pria kurang tinggi itu tidak masuk ke dalam, ia bersandar pada badan mobil sambil mengawasi dua anak muridnya.
Eren memperhatikan wajah Jean yang merah entah karena apa—lagipula ia tak ingin tahu. "Aku punya janji dengan sensei itu bukan urusanmu, Jean. Kenapa kau ini suka sekali mengurusi urusan orang?"
Jean menarik napas. Tiba-tiba ada angin topan melilit dada, "Bukan urusanku, memang—tapi aku hanya ingin tahu untuk apa kau janjian dengannya? Bukankah aku sudah memberitahumu dia itu mesum tingkat dewa? Astaga, Eren—" jemarinya mencengkram bahu Eren agak keras, "jangan pergi dengannya. Aku sangat khawatir kalau dia akan—"
"Apa?" Eren menyela. Kelereng matanya menyalak nyaris sempurna, "Sensei akan apa, hah? Kau yang selama ini berpikir buruk tentangnya! Tapi dia sebenarnya tidak seperti yang kau katakan, Jean! Jangan menghasutku." Eren mendengus keras, "Apa tujuanmu sebenarnya?"
Ditanya seperti itu membuat Jean mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Eren menepis kasar dua tangan yang memegang bahunya, "Kau ingat tantangan yang ada diantara kita? Aku belajar matematika pada sensei agar bisa melampauimu. Melihatmu bisa mengerjakan soal rumit begitu hanya dalam sehari setelah deklarasi perang membuatku—"
"Kau merasa kalah?" tidak ada nada meremehkan dari mulut Jean. Eren diam saja. "Baik. Aku dengan senang hati mengaku kalah darimu asal kau tak lagi membuat janji aneh dengannya. Aku khawatir padamu!"
"Sensei adalah orang yang baik! Berapa kali aku harus bilang sampai kau mau percaya?" Eren mendecak sebal, "Dan aku tidak suka menerima kemenangan yang diperoleh dari cara seperti itu. Aku tidak menyangka kau mudah sekali menyerah, Jean."
Melihat senyum sinis yang tersungging di wajah Eren dan mendengar kalimatnya barusan, Jean merasa kejantanannya dipertanyakan. "Terserah kau mau bilang aku ini apa. Tapi Eren—" sekali lagi Jean memegang bahu pemuda di depannya. Manik emasnya redup karena rasa cemas, "kumohon turuti aku."
Eren menghela napas. Memandang sepasang batuan sewarna mentari yang semakin berkilau dijamah sinar. Pandangan mata hijaunya melunak, "Walau kau membatalkan sepihak tantangan itu, aku tetap akan belajar bersamanya. Ini yang terakhir kukatakan padamu—"
Pelan tangannya menepis tangan lain pada bahu. Eren melirik gurunya yang masih mengobservasi sambil bersandar pada mobil, lalu kembali menatap Jean.
"—berhenti mencampuri urusanku, Jean Kirschtein."
Eren berlalu dan masuk ke dalam mobil. Bugatti hitam itu menderum halus di sepanjang bekuan semen lapangan parkir.
Kelereng topaz memaku jalannya mobil sampai hilang tertelan padatnya traffic.
Jean tak jadi membeli sepatu. Lantas ia berbalik dan memacu motor besarnya, menerobos badan-badan mesin dan berhenti di depan sebuah bangunan bergaya retro. Papan nama raksasa menjulang, kayu bercat magenta terpatri susunan huruf besar dilengkapi lampu-lampu kecil yang menyala kelap-kelip laksana bintang.
Pemuda bersurai coklat abu-abu itu memarkir kendaraan di depan bangunan bernama 'Trance Lounge & Bar'.
.
.
.
"Duduklah."
Perintah dari sang guru tak bisa dibantah. Eren duduk di atas sofa gelap dalam ruang tamu apartemen Levi. Suasana ruangannya sangat klasik dan simpel, didominasi oleh warna-warna monokrom dan netral. Dinding dari susunan kaca besar memberi pencahayaan maksimal dan menyuguhkan pemandangan kota Sina dari lantai kamar yang cukup tinggi.
Eren menekan-nekan buntalan busa di sisi kanan paha dengan ibu jari. Gugup. Kalimat wanti-wanti dari Jean sayup menggema.
Tubuh si pemuda reflek menegang ketika gurunya sudah kembali dari pantry sambil membawa secangkir teh hangat, lalu duduk di sebelahnya. Eren memperhatikan uap mengepul dari keramik porselen bermotif daun-daunan. Jantung sudah tak karuan—kenapa jantungnya berdentum tak beraturan begini?!
Levi bersandar lalu melipat tangan di depan dada. Tanpa menoleh pun Eren bisa merasakan lirikan maut dari arah sebelah kanan.
Helaan napas berat mengisi hening sebelum sang guru bersabda, "Apa hubunganmu dengan Kirschtein. Kalian terlihat akrab sampai bertengkar begitu."
Oranye gelap berputar dalam kepala Eren. Jantungnya makin terpacu, "Ehm, hanya teman sekelas saja. Tidak ada hal yang khusus, jadi sensei tak perlu khawatir—" mulutnya berhenti. Tunggu, kenapa dia seperti wanita yang ketahuan selingkuh lalu sedang di interogasi? "Eh, kenapa sensei menanyakan hal itu?"
"Tak ada alasan, hanya bertanya saja. Kau sudah lama mengenalnya?"
Eren memperhatikan batu-batuan cantik dalam meja transparan yang pinggiran kacanya menyentuh lutut, "Aku tidak tahu."
Levi mengerenyit, "Apa maksudmu tidak tahu?"
Giliran sang murid yang menghela napas, "Entahlah. Aku yakin aku belum pernah bertemu dengannya sebelum pindah ke sini, tapi entah kenapa—" pemuda itu diam sebentar, melirik kelereng obsidian yang tengah menatapnya intens. Eren menelan ludah, "dia sepertinya…telah mengenalku sejak lama."
"Jadi Jean mengenalmu sedangkan kau tidak mengenalnya. Aneh."
Eren mengiyakan, "Mungkin kita berdua pernah bertemu. Waktu kecil aku tinggal dekat sini. Mungkin dulu dia temanku saat masih kanak-kanak, tapi aku tidak mengingatnya."
Levi berganti posisi duduk menjadi membungkuk. Kedua tangan mengepal di atas paha. Kepala tertoleh menatap wajah Eren yang gelisah, "Dia mengingatmu sejak masih kanak-kanak sampai besar seperti sekarang. Aneh."
Kedikkan bahu singkat sebelum Eren melanjutkan, "Terkadang aku juga merasa mengenalnya. Seperti aku kenal dia, tapi aku tidak tahu dia siapa. Entahlah, sensei. Rasanya sulit sekali untuk dijelaskan."
"Nak, dengar." Levi menegakkan badan, mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Eren. Pemuda itu makin gelagapan saat wajah gurunya mendekat. Levi menyadari muridnya merasa takut dan mundur seketika. Ia berdeham pelan, manik gelapnya menyorot tajam pada hijau terang di hadapan, "Tak ada kejadian apapun yang terlupakan, bahkan walaupun kau tak bisa mengingatnya."
Eren mengangguk sambil menelan ludah, "Kalau begitu, berarti benar Jean adalah teman masa kecilku, tapi aku tak mengingatnya." tangannya yang mulai berkeringat mengambil cangkir teh supaya tak terlihat terlalu gugup. Eren meletakkan minumannya di atas paha, belum mau mencicip rasanya, "Sebenarnya itu tak terlalu penting. Ada atau tidaknya dia di masa laluku, tak ada hubungannya dengan yang sekarang."
Levi menghela napas, sebuah seulas senyum tipis sempat menghias wajah, tapi sayang Eren tak melihat. Pria itu bangkit lalu bersidekap, mata merendah menyapa wajah pemuda semanis madu, "Tunggu di sini. Buka buku pelajaranmu dan belajar sendiri untuk sementara. Aku akan kembali sebentar lagi."
Hijau gelap menari bersama biru muda dalam kepala, Eren mengangguk singkat dengan senyum sedikit terpaksa. "Baik, sensei."
Levi berlalu ke dalam kamar. Bunyi pelan pintu mahogani yang ditutup sempat mengisi telinga. Eren menghela napas lega. Ada apa dengannya barusan? Kenapa dia sangat gugup, padahal tujuannya datang kemari hanya untuk belajar? Eren teringat lagi kata-kata Jean sebelumnya. Pemuda itu menggeleng cepat.
Tidak. Tidak. Tidak. Levi-sensei bukan orang yang seperti itu. Sadarkan dirimu, Eren Jaeger! Kau akan baik-baik saja!
Mulut Eren membentuk bola, udara dihembuskannya berulang kali dari sana. Tak mau larut dalam kegugupan sekaligus kekhawatirannya yang berlebihan, Eren mengeluarkan buku pelajarannya dari dalam tas hijau kesayangan. Lima belas menit berkutat dengan rumus-rumus matematika yang entah kenapa—rasanya minta dibuang ke dalam tong sampah. Ia tak bisa fokus pada angka yang tertera di atas kertas. Buku tebalnya ia dekap di dada.
"Ugh," Eren mengeluh, "kenapa aku tak bisa mengerjakan soal semudah ini? Kemarin aku sudah mempelajarinya."
Kepala Eren rasanya pening. Pemuda itu memutuskan untuk mengecap rasa teh hijau yang sudah dingin. Berharap zat kimia pada cairan itu bisa menenangkan, tapi hasilnya nihil. Eren mendecak, punggung bersandar pada bantalan sofa. Belakang leher bertumpu pada busa empuk. Merasa nyaman, pelupuk matanya jadi terasa berat. Perlahan ia menyerah pada keinginan untuk memejamkan mata.
Eren mendengar suara langkah kaki, sayup menyapa telinga seakan tak mau disadari. Hidung samar-samar mencium wangi sabun bercampur harum parfum maskulin. Tanpa sadar Eren menarik napas dalam, ingin mencium lagi wangi maskulin itu lebih dalam—lebih dirasakan. Rasanya seperti kecanduan. Hidungnya mengendus. Payung kulitnya masih menutup ketika kepalanya menoleh ke samping, mengikuti insting wanginya menajam dari sebelah kanan. Ada wangi baru yang membaur dalam penciumannya sekarang—wangi apa ini? Ini bau segar mint, seperti…
…seperti wangi mulut sehabis gosok gigi!
Zamrudnya terbuka. Eren terbelalak.
Lajur dunia sedang berbaik hati untuk berhenti kali ini.
Eren tak dapat mengalihkan pandangan pada kelamnya lubang hitam tepat di hadapan. Porosnya menarik seluruh atensi yang ia miliki. Hitam pada permata obsidian itu menyorot hijau cerah sangat tajam, seperti ingin memangsa—ingin menerkam, memakan. Desau napas berat membelai kulit, membuat pipi Eren menjadi panas. Bulu mata tipis menghias sepanjang lengkungan mata sipit. Bibir penuh si pemuda terbuka karena keterpanaan. Tenggorokan tercekat—aksaranya hilang. Detik tak lagi ada ketika Eren mematri wajah dingin itu pada otak. Rasa takut belum sempat menjamah indra sebelum bibir lain yang lebih tebal tiba-tiba sudah menempel pada miliknya. Menyentuh lembut dan diam di sana selama beberapa saat seolah sedang memberi salam.
Eren terkesiap sadar, namun terlambat. Dunia sudah berputar kembali tanpa ampunan.
Sang murid hendak mendorong gurunya menjauh, namun Levi sudah melumat bibirnya rakus, membuat Eren sukar bernapas. Hisapan dan gigitan kecil pria itu berikan—Eren menggeliat tak nyaman—karena ia tak mengerti tubuhnya sedang dilanda kenikmatan. Tangan meremas bajunya sendiri, tak berani menjambak surai eboni gurunya. Lidah Levi menelusup masuk, pria itu melompati sofa masih dengan kedua bibir bertaut, hingga tubuhnya menindih Eren. Tangan sudah menjelajahi daerah di balik kemeja si murid. Eren merintih, matanya buram karena genangan air. Tanpa sadar kedua tangan Eren melingkari punggung Levi, menariknya mendekat. Eren meremas lemah fabrik kain di punggung berotot sang pria ketika napasnya nyaris habis. Levi mengabulkan.
Rona sakura menjalar ke seluruh wajah. Eren berusaha mengatur napas sebelum bersuara, manik terpaku pada legam di atasnya. "Kenapa sensei," dadanya naik turun. Eren masih tersengal, "melakukan itu? Aku tidak suka."
Levi tak merubah posisi. Dingin menyoroti kecerahan mata koala yang kini redup. Ia tak membalas.
Eren menggigit bibir, tak tahu harus melakukan apa. Ia menelan ludahnya sendiri karena tak percaya dengan kata-kata Jean.
"Ini pelecehan, " bisik si pemuda, lemah dan kecil. Eren memalingkan wajah dari sorotan tajam Levi, "aku tidak menyangka sensei akan melakukan hal yang sangat tak pantas—mmh!"
Kalimatnya terinterupsi karena Levi menutup mulutnya dengan bibirnya sendiri. Kembali larut dalam ciuman dalam yang membuat kepala Eren serasa pening, seperti sedang melayang-layang dan berputar dengan kecepatan tinggi. Tak perlu usaha keras untuk membuka dua bibir yang tertutup rapat, Levi hanya perlu menjamahi bagian dada murid polos kesukaannya. Akses lebih yang diberikan Eren membuat lidahnya leluasa menari di dalam, menyapa sudut-sudut dan gigi-gigi kecil nan rapi, juga memberi salam pada bagian atas dan bawah lidah. Levi melumat habis segala sudut dalam mulut Eren, membuat pemuda itu mengerang hebat dalam setiap sentuhan. Tubuhnya membusur, memberikan friksi lebih, membuat dada mereka saling melekat. Eren dapat merasakan desau napas miliknya dan Levi melebur, asin peluh mereka bercampur, dan saliva keduanya lengket menyatu dalam mulut—sebagian tumpah ruah mengaliri dagu sampai banjir membasahi sofa berbulu.
"Mmngh!" Eren mencakari punggung Levi ketika lutut pria itu menekan celah diantara pahanya. Mengirim geletar-geletar asing yang menjalar cepat menuju selangkangan.
"Lev—sen—"
Eren kesulitan bernapas, susah payah memanggil nama gurunya setiap kali rasa aneh menyetrum seluruh tubuh. Gerakan Levi makin beringas, kedua bibirnya sudah berada di celah leher sang murid, menarikan lidahnya di sana, menyisakan jejak-jejak kemerahan pada kulit. Levi menjilat bibir sambil menatap wajah malu dan takut Eren. Rasa Eren manis seperti krim vanilla bercampur madu, yang lembut dan mudah lumer di dalam mulut.
Wajah Levi merendah, hidung keduanya hanya terpaut jarak lima senti. Desau napas memburu membelai pori-pori pipi. Eren memejamkan mata, tak berani menatap hitam tepat di hadapan.
"Eren," Levi memanggil. Suaranya sangat berat dan dalam, membuat Eren sampai tak fokus karena jutaan warna suara Levi mengisi pikiran. "bangun, bocah."
Apa?
Eren mengerjap. Kemudian mendengus keras karena air dingin masuk ke dalam hidung. Wajahnya basah karena cipratan air. Eren tersentak bangun, mata melebar sempurna. Melotot menatap obsidian Levi yang menatap dingin ditambah dahinya yang berkerut.
"Kau tertidur setelah lima belas menit kutinggalkan, selonjoran di sofa sambil mengigau dengan tubuh keringatan. Kutebak kau sedang mimpi basah."
Eren langsung sadar. Sekarang ia sedang terduduk dengan posisi memalukan di atas sofa biru gelap. Levi berdiri di depannya dengan segelas air dingin. Bibir tak bisa berkata apapun, bahkan untuk bertanya apa yang terjadi sebagai basa-basi belaka.
Mati kutu rasanya.
"Puas kau menyebut namaku dalam mimpimu?"
Eren menggigit bibir, mata tak berani memandang sang pria. Ia menyisir bagian pahanya sendiri sampai baru sadar kalau celananya—basah.
Mati kutu dua kali lipat.
"Aku tidak menyangka bocah ingusan sepertimu baru mengalami mimpi basah—di ruang tamu seorang pria dewasa, dan apalagi, memakai namaku dalam fantasimu. Katakan padaku, apa yang aku lakukan padamu dalam mimpi basahmu itu, bocah?"
Hitam, merah, pink, dan abu-abu berputar seperti gasing dalam kepala Eren. Visualnya mulai memekat. Eren takut sekaligus malu, ia jadi panik dan sulit mengendalikan reaksi tubuh. "Ak—aku tidak tahu! Aku baru mengalami mimpi yang seperti itu—meski aku pernah menanyakan hal itu pada ayahku sebelumnya dan katanya itu wajar untuk remaja laki-laki tapi, tapi—" kata-kata Eren meluncur keluar dengan kecepatan menyaingi kereta tercepat, "aku tidak tahu kalau sensei yang akan muncul dalam mimpiku! Aku tidak pernah mengalami hal itu sebelumnya—uhh…" Eren berhenti. Ia semakin panik saat Levi memerangkap tubuhnya dengan menumpu kedua tangan di sisi kepalanya.
Desau napas yang menerpa wajah Eren terasa seperti uap neraka. Membuat pipi sehalus pantat bayinya menjadi sewarna kepiting rebus siap santap. Eren memilih memandang ke luar jendela.
"Kau baru mengalami mimpi basah dan berfantasi dengan gurumu sendiri. Kau nakal sekali." Beratnya suara Levi membuat pemuda di bawahnya bergidik. "Nak, apa kau tahu, ada penelitian yang menyatakan bahwa orang yang hadir dalam mimpi basah adalah orang yang kau sukai. Apa kau diam-diam menyukaiku?"
"Aku…tidak tahu." Rasanya Eren sudah siap menangis, suara dan sikap gurunya ini benar-benar membuatnya ketakutan. "Tapi…aku tahu sensei menyukaiku."
Ah, Eren gali lobang kubur.
Eren pikir Levi akan menyangkal atau berubah beringas seperti dalam mimpinya, namun ternyata pria itu diam selama beberapa detik sebelum berganti posisi menjadi duduk di sebelahnya. Levi menghujam lagi manik zamrud itu tajam, "Ya, aku menyukaimu. Aku tahu aku seorang guru dan tidak seharusnya menyukai muridku sendiri apalagi—kita sama-sama laki-laki. Kau tahu nak, dunia ini cukup keras bagi kaum homoseksual. Aku tidak mengkhawatirkan diriku, tapi aku khawatir padamu. Kau masih punya kesempatan untuk mencari gadis baik dan mempunyai keturunan dengannya."
Di luar dugaan, Eren melihat biru laut secara visual. Levi mengatakannya dengan ketulusan. Rasa takut Eren lenyap, "Aku tidak masalah akan berakhir dengan sesama laki-laki atau perempuan. Orangtuaku membebaskanku soal mencari pasangan, tinggal masalah restu saja."
"Apakah itu berarti kau tak masalah berpacaran denganku, bocah."
Eren reflek menggeleng cepat, "Te—tentu saja tidak. Seperti yang sensei katakan, kau adalah guru dan aku adalah murid. Meskipun misalnya aku menyukai sensei—ehm, misalnya." Eren menekan kata terakhir itu sambil mendelik, "Banyak orang yang akan menentang. Aku tidak mau mencari masalah dengan sekolah."
"Kita bisa berhubungan diam-diam."
Kenapa pria ini ngotot sekali? Eren merutuk dalam hati. "Tidak, sensei. Aku tidak menyukai sensei secara romantis, dan walaupun sensei hadir dalam mimpi—" tenggorokan Eren tercekat sebentar, "basah itu, aku akan dengan cepat melupakannya. Anggap saja aku tidak pernah mengalaminya dan sensei tak pernah melihat kejadian tadi. Aku hanya tidak ingin merusak hubungan guru-murid ini."
Eren menghela napas. Lega rasanya, namun ada juga keraguan dan rasa bersalah pada Levi yang seketika jadi jauh lebih suram.
"Keras kepala dan naif. Aku menyukai kedua hal itu. Baik, kau menginginkan sebatas hubungan guru-murid denganku. Aku hargai itu. Jadi bisakah kau bereskan celanamu lalu duduk di sini untuk memulai les privat?"
Ah, mati kutu season tiga.
"Ma—maaf, toiletnya sebelah mana, sensei?"
Levi cuma perlu mengarahkan pucuk dagu ke arah yang dituju. Eren langsung mengacir dan saking malunya sampai membanting pintu.
Eren tidak tahu kalau gurunya sedang tertawa di ruang tamu.
.
.
Maaf karena chapter ini lama sekali update, saya sudah mulai kerja dan setiap minggunya pasti ada hari-hari lemburan. Saya juga gak punya fasilitas laptop untuk mengetik cerita di rumah sementara saya, jadi saya hanya bisa mengetik pada saat mencuri waktu saat kerja atau ketika saya sudah pulang di rumah tinggal.
Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan, dan bagi pendukung JeanEren, chapter ini mesti yang sabar ya.
Saya gak bisa bilang kapan bisa update lagi, saya ga mau deh nentuin dedlen, kapok hehehe.
Oh ya satu lagi, cuman mau bilang kalau Eren itu memang polos, tapi gak inosen. Beda lho.
Next chapter : Big Shot
