THE FAMILY
Cast : BTS, BAP, Block B (cast lain akan bermunculan seiring berjalannya waktu)
Main Pairs : NamSeok, TaeKook, 2Jin, BangLo, DaeJae, HimUp, and others
Genre : Romance, Action, Friendship
Rating : M (for some violent scenes, curses words, and maybe NC later)
Warning : Genderswitch, Typo(s)
Disclaimer : The story plot belongs to foxxfang756. I just translate the story from English to Indonesia. You can visit the original story in story/view/791439/the-family-blockb-yoonmin-bap-genderswap-taekook-namseok
* Member Genderswitch : BTS' Jin, J-Hope, Jimin, Jungkook, BAP's Himchan, Youngjae, Junhong, Block B's Kyung, Yukwon
** Hoseok, Jimin dan Jungkook di sini ceritanya saudara kandung (Jung bersaudara)
Balasan Review :
JirinHope : haha iya bener. Yoongi emang wataknya dibikin seperti itu di sini. Apa susahnya coba, Yoon, buat ngakuin perasaan sendiri? *ditimpuk Yoongi* hihi kalo nggak cari-cari kesempatan, nanti pasangan Namseok nggak cepet2 pdkt hehe.. Ne, JirinHope-ssi. Gomawo :)
Guest : hihihi Jimin emang nggemesin sih. Ati-ati di hajar sama Yoongi loh hehe
riani98 : gomawo, saengie, udah suka ceritanya *terharu bareng Hoseok* aku yang nranslet aja nggak berhenti senyum2 sampe sekarang hehe. Hahaha yang kayak Yoongi sama Namjoon Cuma satu di dunia ini dan dua orang itu udah di ambil sama Jimin n Hoseok hihi
nn : ini sudah di lanjut, chingu. Makasih sudah review :)
Linkz account : hihi iya, mereka manis banget. Jadi ngiri huhu
Happy reading~!
.
.
.
.
.
-The Family Cafe-
Seokjin tersenyum sambil melambaikan tangannya pengunjung terakhir yang keluar dari cafe. Gadis dua puluh tahun ini menyandarkan kepalanya pada pintu masuk cafe yang terbuat dari kaca. Gurat-gurat lelah terlihat di wajahnya. Ia tidak menyangka akan terjadi banyak peristiwa di cafenya yang berada di bawah perlindungan BPB ini.
Setelah beberapa saat terdiam di posisinya, ia menoleh untuk melihat Hoseok yang sudah duduk bersama keempat gadis lainnya. Gadis kelahiran Gwangju itu menyandarkan kepalanya di bahu Jimin dengan wajah yang juga terlihat lelah. Seokjin menggelengkan kepalanya melihat Hoseok mengerucutkan bibirnya dan dengan jelas menatap Namjoon. Ia memandang ke seluruh sudut cafenya dan merasa, untuk sekali saja, ia ingin cepat-cepat pulang. Biarlah cafenya yang sedikit berantakan ini dibersihkan besok pagi.
"Kau baik-baik saja, Noona?" Tanya Namjoon, menatap gadis yang lebih tua dua tahun darinya itu yang bersandar pada pintu cafe.
Seokjin tersenyum padanya. "Ne. Aku baik-baik saja. Hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Memikirkan apa, Eonni?" Junhong bertanya. Ia berdiri untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk. "Apa Eonni ingin dibantu bersih-bersih?"
"Ya, kalau kalian mau." Jawab Seokjin dengan senyum lebar di bibirnya. Merasa bersyukur mempunyai dongsaeng yang suka menolong. Mereka semua—kecuali Yoongi dan Namjoon—langsung bangkit dari tempat duduk mereka untuk membantunya. Yah, setidaknya adik-adik perempuannya sangat membantu.
Yoongi tersenyum lebar pada Seokjin, makin menyamankan posisi duduknya sambil memperhatikan gadis-gadis itu bekerja. Banyak hal yang harus mereka bersihkan memang, tapi keenam gadis itu terlihat sudah bisa menanganinya. Jadi, kenapa repot-repot untuk bangkit? Yang ada ia dan Namjoon hanya akan mengganggu pekerjaan mereka.
Pemuda sembilan belas tahun itu menatap mereka satu persatu. Mulai dari Youngjae dan Seokjin yang bergosip tentang Daehyun dan Kidoh sambil mencuci semua peralatan dapur. Jungkook dan Junhong yang terkikik geli karena hal-hal manis yang dilakukan Taehyung dan Yongguk sambil membungkus makanan yang masih tersisa, membaginya menjadi dua kotak—satu untuk dibawa pulang ke Cottage dan yang satu lagi Jung bersaudara. Jimin dan Hoseok yang tertawa sambil bermain dengan sapu yang seharusnya mereka gunakan untuk menyapu lantai.
"Bagi orang-orang di luar sana, gadis-gadis ini seperti tidak mempunyai masalah sama sekali kalau dilihat dari cara mereka tertawa dan tersenyum saat ini." Perkataan Namjoon mengejutkan Yoongi yang merasa tertangkap basah sedang mengamati mereka.
Yoongi menoleh padanya dengan pandangan bertanya. Namjoon menjawabnya sambil mengarahkan tangannya ke arah para gadis.
"Well, kita tidak tahu cerita tiga bersaudara itu, tapi kita tahu cerita tiga gadis lainnya. Kita juga tahu mereka berasal dari mana. Kau ingat apa yang dikatakan Yongguk-hyung? Mereka terlihat kuat di luar, tapi sebenarnya mereka seperti gelas. Rapuh dan juga sudah retak. Mereka saling membantu satu sama lain untuk menyembuhkan luka mereka."
Yoongi kembali menatap gadis-gadis yang menyebar ke seluruh sudut cafe. Senyum kecil tersungging di bibirnya ketika ia melihat wajah dan rambut Youngjae serta Seokjin dihiasi busa. Saling tersenyum lebar satu sama lain. Saat ia melihat Jungkook dan Junhong diam-diam memakan beberapa kue dan makanan lainnya, terkikik sendiri karena tidak ketahuan oleh keempat gadis yang lebih tua dari mereka. Lalu, ia beralih pada Jimin dan Hoseok yang saat ini sudah berbaring di salah satu kursi panjang dengan Hosoek berada di atas Jimin dan menggelitikinya. Terkekeh mendengar suara tawa dengan nada tinggi dan wajah merah yang ia dapat sebagai respon dari Jimin. "Yeah..."
.
.
.
.
.
"Noona, apa kau ingin kami mengantar kalian dulu?" Tawar Namjoon ketika Seokjin mengunci pintu depan cafe. "Oh ya, dimana Jung bersaudara tinggal?"
Hoseok melirik Seokjin dan Junhong yang kemudian mengangguk padanya. "Yudog Han."
Namjoon menatapnya dengan mata yang melebar, lalu beralih pada Junhong untuk meminta konfirmasi. "Jinjja? Kami bertugas di daerah itu hampir setiap hari. Tempat itu bukan lingkungan yang baik—"
"Aku tahu, Namjoon-ssi. Tapi kami baik-baik saja tinggal di sana. Orang-orang di sana sepertinya lebih takut pada "The Family" daripada mengurusi tiga gadis yatim piatu seperti kami." Potong Hoseok sambil tersenyum lebar. Namjoon jadi merasa bersalah atas responnya tadi.
"Tidak heran Taehyung bersikeras agar kami mengantar kekasihnya pulang." Gumam Yoongi pada diri sendiri, namun cukup keras hingga yang lain mendengar gumamannya.
Wajah Jungkook memerah mendengarnya. "K-kami tidak... Aku bukan... Uh, Taehyung-oppa bukan..."
"Mereka tidak berpacaran." Kata Junhong sambil tersenyum lebar. Ia menepuk pelan puncak kepala Jungkook saat gadis itu menutup wajah merahnya dengan kedua tangan dan menenggelamkan kepalanya di bahu Junhong. "Setidaknya belum berpacaran."
Jungkook mencubit pinggang Junhong karena perkataannya itu.
"Tidak, Namjoon. Kami akan menemani kalian mengantar mereka bertiga pulang. Orang-orang di sana akan lebih waspada ketika mereka melihat Junhong." Ucap Youngjae, menjawab pertanyaan Namjoon yang sedari tadi tidak dijawab.
"Baiklah kalau itu yang kalian mau." Kata Yoongi. Ia tidak ingin membahas hal ini lagi, apalagi melihat tiga kakak-adik itu yang mulai gelisah. "Kajja."
"Eum, apa mobilmu muat untuk kita semua, Namjoon-ssi?" Tanya Hoseok ragu saat mereka berjalan menuju mobil Namjoon. Ia tidak yakin jika delapan orang akan muat di dalam mobil yang didesain untuk lima orang itu.
Namjoon mengernyit tidak suka. "Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu? Embel-embel –ssi itu terdengar aneh di telingaku. Hanya orang-orang yang berurusan dengan BPB yang memanggilku seperti itu."
"Um... Bagaimana kalau Namjoon-ah? Tadi aku dengar Youngjae memanggilmu seperti itu. Aku dan Youngjae seumuran." Kata Hoseok sambil menatapnya sedikit penasaran. Sementara itu, Namjoon jadi sedikit merona mendengar Hoseok mengucapkan namanya dengan akrab.
Namjoon berdeham, memalingkan wajahnya dari Hoseok. "Yeah. Namjoon-ah juga tidak apa-apa.
Hoseok tersenyum padanya sebelum kembali menatap mobil milik pemuda itu. Ia bergumam, "Apa kita duduk berpangku-pangkuan saja, ya?"
Baik Yoongi maupun Namjoon dengan cepat menoleh padanya. wajah kedua pemuda itu memerah malu dengan mata yang melebar. Mengabaikan kekehan kedua gadis anggota "The Family". Sedangkan Jung bersaudara hanya menatap mobil Namjoon dengan ragu-ragu.
"A-apa kau bilang tadi?" Tanya Yoongi dan Namjoon bersamaan.
"Wae? Duduk berpangku-pangkuan adalah cara termudah agar kita semua bisa masuk ke dala mobil itu. Kau dan Yoongi-ssi bisa duduk di kursi depan dan kami berenam bisa saling memangku di kursi belakang. Jimin bisa duduk di pangkuan Youngjae, Kookie di pangkuanku dan Junhong di pangkuan Seokjin-eonni. Beres, 'kan?" Kata Hoseok sambil menatap yang lainnya, meminta persetujuan dari mereka. Ia tersenyum saat para gadis mengangguk padanya.
"Youngjae dan Jimin duduk di tengah karena kalian yang paling kecil di antara kami dan tidak butuh ruang yang banyak untuk menyelonjorkan kaki kalian." Lanjutnya.
Youngjae mengedipkan sebelah matanya pada Hoseok saat ia masuk ke dalam mobil. Jimin menjulurkan lidahnya sebelum ikut masuk ke dalam mobil. Seokjin berjalan mengitari mobil menuju pintu di sisi lain mobil. Ia membuka pintu tersebut dan segera masuk ke dalam, Junhong mengikuti setelahnya. Hoseok dan Jungkook mengulang apa yang mereka lakukan dari pintu satunya. Mereka semua menatap dua pemuda yang masih saja berdiri di samping mobil.
Namjoon mengedikkan bahunya lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. Memasukkan kunci mobil ke dalam lubangnya dan sebisa mungkin tidak menatap Hoseok dari kaca spion.
Yoongi bahkan tidak bisa menghentikan matanya untuk berpetualang. Ia menoleh ke belakang dan melihat celana Jimin yang sedikit naik seiring pergerakan gadis itu untuk menyamankan duduknya di pangkuan Youngjae. Paha putihnya terlihat karena pergerakannya itu. Yoongi cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah Namjoon ketika mobil yang mereka kendarai tidak juga menyala. Dapat ia lihat, Namjoon mengernyit heran dan kembali memutar kunci mobil, namun mobil itu tidak kunjung menyala.
Gadis-gadis di kursi belakang saling memandang satu sama lain sebelum memutuskan untuk keluar dari mobil. Yoongi dan Namjoon menatap mereka, lalu ikut keluar dari sana.
Yoongi menghela nafasnya. "Sepertinya kita harus berjalan. Hah, dasar mobil sialan. Perjalanannya sekitar tiga puluh menit dari sini."
"Kami selalu berjalan setiap hari, Yoongi-oppa. Terbiasalah dengan hal itu dan jangan mengeluh." Kata Junhong sambil memutar bola matanya.
"Jimin-ah, dimana seragam sekolahmu?" Tanya Hoseok tiba-tiba. Ia baru sadar Jimin hanya mengenakan satu tank-top nya.
Jimin mengedikkan bahunya sambil tersenyum malu. Ia mengusap-usap lengannya yang terekspos saat angin bertiup di jalanan yang mereka lewati sekarang. "Sepertinya tertinggal di loker."
Hoseok dan Seokjin mengernyitkan alis mereka, lalu saling menatap satu sama lain. Sedangkan Jungkook memutar matanya malas, kakaknya yang satu ini memang terkadang pelupa. Ia pun merapatkan jaket milik Taehyung yang ia pakai sejak tadi pagi. gadis itu pun menyeringai senang ketika melihat Yoongi juga merapatkan jaketnya.
"Kenapa kau tidak meminjam jaket Yoongi-ssi saja? Seingatku Yoongi-ssi memakai kaos lengan panjang di balik jaketnya itu." Kata Jungkook memprovokasi.
Jimin cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Shireo! Aku baik-baik saja kok." Ia berbalik pada Yoongi yang mentap Jungkook dengan pandangan bertanya.
Jimin tersenyum pada Yoongi sebelum kembali berkata, "Gwaenchana, Oppa. Oppa tidak perlu melakukan itu. Aku tidak ingin Oppa sampai kedinginan juga."
Jungkook dan Youngjae menaikkan alis mereka saat mendengar Jimin memanggil pemuda itu dengan sebutan 'Oppa', sedangkan Seokjin dan Hoseok hanya terkekeh mendengarnya. Mereka tidak menyangka Yoongi memperbolehkan Jimin memanggilnya dengan panggilan akrab itu, padahal Hoseok dan Jungkook memanggilnya dengan embel-embel '-ssi'.
Junhong berjalan ke arah Yoongi ketika keempat gadis lainnya mulai menggoda Jimin. Ia membisikkan sesuatu ke telinga pemuda Daegu itu. "Tidak apa-apa kalau mau menolak, Oppa. Kookie melihat Oppa menatap Jimin terus-menerus sejak tadi, dia hanya berniat membantu dengan caranya sendiri. Yah, walaupun tadi terdengar tidak seperti itu."
Yoongi tidak menjawab. Ia hanya terdiam sambil terus menatap Junhong hingga gadis itu kembali berjalan menuju teman-temannya dan memeluk Jimin dari belakang. Yoongi menghela nafasnya sedikit jengkel. "Kita harus cepat. Semakin lama kita di sini akan semakin lama kita sampai. Kajja."
Semua orang menurutinya. Mereka berjalan menyusuri jalanan sempit menuju flat Jung bersaudara sambil berbincang-bincang tentang sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Yoongi memperhatikan mereka dari belakang, mengabaikan tatapan tidak suka yang diberikan Namjoon padanya ketika angin lagi-lagi menyapu permukaan kulit mereka.
Saat gadis-gadis itu asyik berbicara, Yoongi melepas jaketnya, berjalan sedikit cepat dan menyampirkannya ke pundak Jimin. Bersyukur Jimin dan Junhong berjalan paling akhir, jadi tidak ada yang akan melihat wajah merahnya—kecuali mereka berdua—saat ia melakukan hal itu. Ia memalingkan wajahnya setelah Jimin menatapnya dengan terkejut.
"Kau akan lebih kedinginan daripada aku, pabbo. Kau satu-satunya orang yang mengenakan tank-top saat cuaca dingin seperti ini." Katanya pelan.
Jimin tersadar dari lamunannya, lalu tersenyum bahagia pada Yoongi. Gadis itu segera memakai jaket miliknya. "Gomawo, Yoongi-oppa."
Yoongi bergumam sebelum kembali berjalan di sisi Namjoon. Menatapnya tajam saat Namjoon memandanginya dengan kagum. "Jangan berkomentar, dongsaeng."
Namjoon mengangkat tangannya, membuat gerakan menyerah. Dimplenya terlihat saat ia tersenyum sambil menatap ke depan—ke arah Junhong dan Jimin sebenarnya. Di depan sana, Jimin menutup wajahnya yang sangat memerah dengan lengan jaket yang menutupi tangannya.
"Jimin terlihat cute memakai pakaianmu, Hyung. Kalian berdua memiliki tubuh yang sama-sama kecil, tapi karena kau menyukai pakaian yang longgar. Saat jaketmu dipakai Jimin, gadis itu jadi kelihatan seperti memakai dress." Komentar Namjoon.
Yoongi mengerang mendengarnya. Oke, ia akui jika Jimin memang terlihat sangat cute memakai jaketnya itu. Dan hal ini membuatnya gila karena ia juga memikirkan Busan_Girl-nya. "Shut up, Namjoon!"
"Aku hanya berkomentar, Hyung. Oh, Junhong memotretnya." Kata Namjoon. Membuat Yoongi kembali melihat ke depan.
Junhong memang mengarahkan ponselnya ke arah Jimin yang menatapnya tidak percaya. Begitu ia tersadar, gadis itu segera mengambil ponsel Junhong, namun Junhong menghindarinya. Gadis berambut pink itu berlari mengitari kelompok mereka. Jimin yang tidak mau mengalah, mengejarnya.
Semua orang menggelengkan kepala melihat aksi kekanakan Junhong dan Jimin itu. Junhong merasa diuntungkan dengan kaki panjangnya yang bisa membuatnya berlari lebih cepat. Sedangkan Jimin berusaha menangkapnya dengan menyelip di antara teman-temannya.
Jungkook menoleh ke belakang, menyeringai pada Yoongi saat Jimin berlari di antara ia dan Seokjin. Jaket pemuda itu melekat di tubuh Jimin. Junhong berhenti tiba-tiba dan berbalik pada Jimin. Ia tersenyum lebar. Membiarkan Jimin mengambil ponselnya.
"Kau bisa menghapus foto itu kalau kau mau." Kata Junhong. Membuat semua orang berhenti dan menatapnya.
"Wae?" Tanya Jimin was-was. Jari-jarinya sudah akan menghapus foto itu kalau saja tidak ada pesan masuk dari Himchan yang membuatnya berhenti. Ia menatap Junhong horor. "Kau... tidak mungkin!"
"Tidak mungkin apa, Eonni?" Tanya Junhong. Ia memandang Jimin dengan tatapan polosnya. Terkekeh pelan saat Jimin membuka pesan itu kemudian mengerang frustasi. Gadis itu mengembalikan ponsel yang ia pegang pada pemiliknya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Apa yang kau lakukan, Junhong-eonni?" Tanya Jungkook sambil melihat isi pesan di ponsel Junhong. Ia menganggukan kepalanya mengerti dan mengalihkan tatapannya pada Jimin. "Ah... Biarkan Himchan-eonni tahu jaket siapa yang kau pakai. Lagipula kau terlihat cute di foto itu, Jimin."
"Yah! Jimin-eonni, Jungkook!" Pekik Jimin. Ia menjambak rambutnya frustasi karena tingkah kurang ajar adiknya ini. "Lagipula aku tidak terlihat—"
JDER!
Suara petir yang diiringi dengan turunnya hujan memotong perkataan Jimin. Membuat mereka semua membeku di tempat dan saling memandang satu sama lain. Mereka pun berlari ke tempat teduh.
"Kalian tidak boleh pulang dalam keadaan hujan seperti ini. Kalian bisa menginap di rumah kami malam ini. Rumah kami lebih dekat daripada rumah kalian." Ujar Junhong menawarkan solusi.
"Mwo? Aniya, Junhong-ah. Kami tidak ingin membebani kalian." Tolak Hoseok. Ia menggigit bibir bawahnya dengan resah, lalu memandang titik-titik air hujan. "Semoga saja hujannya cepat berhenti."
Seokjin memandang ke arah yang sama dengan wajah datar. "Terus saja berpikir seperti itu. Jeongmal. Rumah yang kami tempati sangat besar, Hoseok-ah. Tidak akan ada yang merasa terbebani karena kehadiran kalian."
Hoseok menatap tajam Seokjin. "Bagaimana dengan pakaian kami?"
"Aku bisa meminjam pakaian milik Taehyung-oppa." Jungkook tersenyum lebar. Senyumnya berubah jahil beberapa saat kemudian. "Dan mungkin kita bisa mencari pakaian Yoongi-ssi yang pantas dipakai Jimin."
"KOOKIE!" Pekik Jimin. Gadis itu menutupi wajahnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memukul Jungkook.
Youngjae tertawa pelan. "Kami punya banyak pakaian, Hoseok-ah. Ada empat gadis di rumah kami dan salah satunya adalah model. Apa kau berpikir kami tidak mempunyai pakaian ganti untuk kalian? Oh, right, kecuali kau, Kookie. Taehyung akan sangat senang kalau kau memakai pakaiannya. Kirimkan fotomu padanya, dia pasti akan senang sekali berbagi denganmu."
Junhong mengengguk setuju, lalu tersenyum lebar. "Masalahnya beres, 'kan? Kalian menginap malam ini. Aku akan menghubungi Gukkie."
Hoseok menatap hujan sekali lagi sebelum memandang kedua adiknya yang menatap dengan pandangan memohon. Melirik Namjoon sebentar, merasa pipinya kembali memanas karena tatapan Namjoon padanya. gadis itu pun menghembuskan nafas pasrah. "Baiklah. Kita menginap."
"Yeay! Menginap!" Jimin dan Jungkook memekik senang bersamaan. Mereka berdua memeluk Junhong dan tertawa bersama.
"Ayo, kita pulang. Kita harus segera sampai di rumah sebelum hujannya semakin deras." Kata Namjoon dengan senyuman lebarnya. Membuat dimple-nya semakin terlihat dan menambah kadar ketampanannya. Ia menuntun mereka berjalan menuju rumah.
Hoseok tersenyum malu-malu padanya, rasa panas di pipinya kini menjalar ke telinganya ketika tangan Namjoon dengan lembut mendorongnya tepat di punggung bagian bawahnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sambil menatap pemuda di sampingnya. "Terima kasih telah mengantar kami pulang. Yah, walaupun tidak sampai rumah."
Lagi-lagi Namjoon tersenyum lebar. Tangannya bergerak ke depan wajah Hoseok. Meraih helaian rambut cokelat yang terlepas dari ikatannya dan menyelipkannya ke balik telinga gadis itu. Tangannya berhenti di sana selama beberapa saat sebelum ia kembali menarik tangannya. Namjoon sedikit berlari di bawah hujan untuk menyusul yang lainnya setelah memberikan senyuman terbaiknya pada Hoseok.
Hoseok di lain sisi, menatapnya lebih lama. Rona merah masih menghiasi kedua pipi sedikit chubby-nya. Menggelengkan kepala, ia berlari mengikuti pemuda itu. Berharap air hujan dapat meredakan rasa panas di wajahnya.
-TBC-
Author's Note: OMG! Namseoooook...! Sumpah aku sampe merinding sendiri waktu ngetik momen Namseok yang satu ini. Ya ampuuuuuun, aku nggak tahan bayanginnya *I'm dying* hahaha. Aku memutuskan untuk update kilat nih, chingu. Menyingkirkan tugas-tugas akhirku dulu buat nyelesein chapter ini. Gimana? Ada yang kurang kah? Oh ya, sedikit bocoran, chapter depan bakal ada skinship dari couple lain. Soooo, stay tune di ff ini ya. Hehe.
Terima kasih yang udah sempet mampir buat baca, review, follow sama favorite ff ini.
With Love,
Aiko
