Disclaimer:

Naruto © Kishimoto Masashi

Kekkon Sagi © Haruno Aoi

Setting: selalu AU

Warning: selalu OOC, fanfic picisan pembangkit mood author, masih berhubungan dengan Cintaku Seperti Hantu dan Mertuaku Seperti Hantu

.

.

.

-x- Kekkon Sagi -x-

~Consummation~

.

.

.

Sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan festival budaya di sekolah, Sasuke malah mendapatkan tawaran menjadi fotomodel dari agency tempat Karin bekerja; Akatsuki Talent Agency. Pihak agensi tertarik kepada Sasuke setelah pemuda itu menggantikan tugas partner Karin untuk sementara waktu. Semenjak majalah yang memuat fotonya diterbitkan, memang banyak request dari para pembaca yang mayoritas remaja putri untuk menjadikan Sasuke sebagai model tetap. Selain itu, Karin juga memberikan informasi kepada agensinya, bahwa Sasuke tidak hanya menawan secara fisik, namun berkepribadian menarik serta memiliki kemampuan otak yang cemerlang. Itu sebabnya mereka semakin yakin kalau Sasuke bisa menggantikan seorang peragawan yang telah keluar dari agensi.

Hinata dan keluarga Uchiha mendukung apapun keputusan Sasuke, asalkan si bungsu itu bisa membagi waktu dengan cermat. Terlebih sebentar lagi ia harus menghadapi ujian akhir semester, ujian kelulusan, dan ujian masuk perguruan tinggi. Tentu saja ia tidak ingin mengulang tahun depan, apalagi jika harus membayar lagi untuk biaya ujian masuk universitas yang dinilainya sangat mahal.

Sasuke sendiri tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kerja yang menghampirinya. Penghasilannya akan jauh lebih besar dibandingkan gajinya sebagai pekerja paruh waktu minimarket di akhir pekan. Dengan menerima tawaran itu, mungkin ia bisa lebih mandiri secara finansial. Apalagi ia memiliki seorang istri yang seharusnya sudah ia nafkahi. Meski keluarga Hyuuga masih akan membiayai segala kebutuhan Hinata sampai usianya dua puluh tahun. Yang sebenarnya, tanggung jawab keluarga Hyuuga terhadap Hinata tidak dibatasi oleh usia. Mungkin jatah uang saku Hinata hanya akan dikurangi jika gadis itu sudah melewati upacara kedewasaan. Hinata pun pasti tidak hanya berpangku tangan saja.

Pihak agensi bersedia memberikan waktu kepada Sasuke untuk mempertimbangkan tawaran menggiurkan tersebut. Sangat jarang agensi itu memberikan tawaran secara langsung, apalagi sampai mau menunggu keputusan calon model yang bersangkutan hingga dua minggu lebih. Biasanya mereka selalu mengadakan casting audisi dalam memilih artis-artisnya. Karin pun harus mengalahkan ratusan peserta audisi agar dapat bergabung dalam agency berlambang awan merah tersebut.

Sasuke butuh waktu yang panjang untuk mengambil keputusan lantaran pikirannya masih terbagi dengan tugasnya menghafalkan naskah drama. Sesuai hasil voting murid satu sekolahnya, ia dipilih menjadi seseorang dengan rutinitas menjemukan yang berpasangan dengan Karin. Hanya dengan membaca naskahnya, ia tahu kalau ceritanya akan sangat crack. Mungkin bisa disebut sebagai drama absurd—drama yang tak berarti, tak berasa, dan tak logis. Bisa-bisanya ia terpilih menjadi salah seorang karakter utama dalam drama yang menurutnya tidak jelas semacam itu. Namun, ia tidak akan lari dari tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya. Walaupun sejatinya ia tidak nyaman menjadi pusat perhatian.

Di sekolahnya, festival budaya digelar pada hari Sabtu minggu kedua di bulan November. Selain drama yang diadakan di aula oleh siswa-siwi kelas tiga, murid kelas satu dan dua juga membuka kedai atau kafe indoor maupun outdoor. Ada juga rumah hantu di kelas, serta konser musik di antara kedai yang didirikan di luar gedung.

Ah, ia harap hari itu lekas terlewati tanpa masalah berarti.

.

.

.

Festival budaya kurang meninggalkan kesan bagi Sasuke. Ia hanya ingat kalau ia gugup sebelum naik pentas, hingga ia beberapa kali menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Lalu, di pentas pun ia masih merasakan kegugupan yang sama lantaran berpuluh-puluh pasang mata yang menjadikannya sebagai fokus perhatian. Hanya saja debaran jantungnya tidak segaduh sebelum ia meniti tangga panggung. Terlebih setelah melihat Hinata menyalurkan semangat untuknya dari samping panggung. Ia memang tidak bisa mendengar teriakan Hinata yang penuh semangat, karena istrinya itu memang tidak melakukannya. Hinata sebagai bagian dari tim penata panggung hanya mengepalkan tangannya dan berbisik dengan mata berbinar penuh rasa percaya padanya.

"Kamu pasti bisa." Kira-kira rangkaian kata itulah yang mampu ia baca dari gerakan bibir Hinata. Tetapi, hal itu sudah mampu mengurangi ketegangan yang dirasakannya.

Ia juga sempat terpikir kalau suaranya akan bergetar jika ia berbicara dalam keadaan gugup. Belum lagi kesangsiannya pada hafalan dialognya. Oleh karena itu, seminggu sebelum pementasan, ia mengusulkan untuk melakukan dubbing. Beruntung usulnya disetujui, dan namanya semakin dielu-elukan oleh para siswi yang menjadi rekan sepentasnya. Namun, bukan berarti dengan adanya dubbing mereka tidak menghafalkan dialog serta jalan ceritanya secara sungguh-sungguh.

Sebenarnya Sasuke sendiri tidak mengerti akan maksud dari drama yang dipentaskannya. Ia hanya mengikuti alur dan tahu-tahu sudah terdengar riuhnya tepuk tangan penonton yang menandakan bahwa drama telah usai.

Kejadian yang paling mengesankan dalam hari itu adalah saat ia mencium Hinata di ruang ganti yang kebetulan sedang sepi.

.

.

.

Sasuke menerima tawaran dari agensi Akatsuki setelah memikirkannya secara matang. Ia ingin menjadi seorang apoteker yang memiliki apotek sendiri. Tidak ada salahnya jika ia membiayai sendiri biaya kuliahnya yang selangit sekaligus menabung untuk apotek impiannya sejak kini. Malah lebih baik daripada ia terus bergantung pada kedua orang tuanya, yang mana ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga tanpa penghasilan. Ayahnya sendiri hampir pensiun dari pekerjaan sebagai seorang karyawan di kantor pajak.

Pemotretan dimulai dengan tema musim dingin. Sasuke harus beberapa kali berganti pakaian—dari seragam sekolah musim dingin yang dilengkapi sweater, pakaian formal untuk pesta natal, setelan untuk mengunjungi kuil di tahun baru, sampai hakama yang dikenakan pada upacara kedewasaan. Sasuke mendapatkan porsi halaman yang cukup banyak dalam debutnya sebagai fotomodel.

Dan hampir di setiap pengambilan gambar, ia harus berpasangan dengan Karin. Terlebih untuk pemotretan majalah edisi Valentine's Day dan White Day.

Di dunia kerjanya yang baru ini, ia juga dituntut untuk lebih ekspresif. Untuk majalah edisi Hari Putih, ia dipotret beberapa kali sebagai pemuda dengan berbagai karakter dan gaya berpakaian yang berbeda. Pertama kali ia harus berpose sebagai pemuda berpakaian warna cerah. Ia terlihat genit dan mempunyai senyum lucu. Ia duduk bersila memeluk boneka kelinci putih yang gemuk dan menggemaskan, serta dikelilingi marshmallow merah jambu berbentuk bulat. Jujur ia kesulitan untuk menyunggingkan senyum semacam itu walaupun sudah beberapa kali mendapatkan arahan ekspresi. Ia pun kurang nyaman dengan gaya berpakaian yang terlalu berwarna-warna.

Selanjutnya ia difoto sebagai pemuda kaya bak pangeran, berpakaian jas formal warna putih dan hanya tersenyum tipis ke arah kamera. Sebuket mawar merah dalam genggaman tangan kanannya, sementara tangannya yang lain dimasukkan ke saku celana panjangnya. Pemuda itu seperti menjanjikan makan malam romantis untuk perempuan yang memberinya cokelat manis di Hari Valentine.

Dan dari serentetan gambar yang diambil, ia paling nyaman ketika mengenakan pakaian hangat yang dilengkapi mantel abu-abu terang dan syal biru tua. Dalam gambar itu, ia membawa sekeranjang permen berbungkus warna-warni—yang meskipun terkesan manis namun tetap menunjukkan sisi cool dalam dirinya. Ia juga bisa menikmati pose pemuda cuek berpakaian kasual yang seolah malas memberikan kotak pink kecil berpita merah yang ada di atas telapak tangannya.

"Kalau kamu membaca kolom wawancara, jangan kaget kalau menemukan statusku ditulis single," kata Sasuke saat Hinata mulai membuka majalah edisi White Day yang dibawakannya. "Katanya untuk meningkatkan popularitas di awal debut."

"Aku mengerti," balas Hinata disertai senyum manis meskipun matanya menangkap gambar perempuan lain di samping Sasuke dan hatinya seolah diremas. Ia terus membolak-balikkan halaman majalah yang ia letakkan di atas kotatsu. Sedangkan suaminya itu tiduran berbantalkan pangkuannya dan memasukkan kedua kakinya di bawah kotatsu yang memberikan kehangatan di musim ini.

Rumah sedang sepi karena Fugaku mengantarkan Mikoto berbelanja, jadi mereka merasa bebas bermesraan di ruang keluarga. Televisi yang menyala jadi terabaikan. Sesekali Hinata terlihat menahan tawa, dan Sasuke tahu penyebabnya. Pasti fotonya yang menampilkan tampang cueknya. Padahal Hinata tampak terpesona dengan rona tipis di pipi begitu melihatnya menjadi pemuda imut-imut, terlebih ketika mendapati gambarnya sebagai remaja putra bak pangeran.

Meskipun ia tidak pernah bercita-cita menjadi fotomodel, mulai sekarang ia harus memupuk kecintaan pada profesi tersebut guna memotivasi dirinya sendiri untuk menjadi model profesional. Dan ia belum melepaskan pekerjaan paruh waktunya di minimarket Kakek Orochimaru, karena ia tidak harus bekerja setiap hari untuk agensi Akatsuki. Jadwal pemotretannya juga tidak tentu. Ia akan dipanggil hanya ketika ada job untuknya. Mereka juga mengerti bahwa ia adalah seorang pelajar yang tengah menghadapi berangkai-rangkai ujian. Ia bisa melakukan banyak pemotretan di musim dingin lantaran ada libur seusai ujian akhir semester.

Melihat hadiah-hadiah yang dibawa Sasuke dalam gambar, Hinata jadi teringat tahun baru tempo hari. Sasuke mengajaknya ke kuil setelah memberinya furisode berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga merah muda di bagian sekitar kaki, lengkap dengan zouri berhak tinggi yang warnanya senada. Kata Sasuke, sebagai hadiah ulang tahunnya. Ia pun menggembungkan pipi begitu ingatannya beralih ke saat ia menerima hadiah tahun baru dari Sasuke.

"Key…"

"Hm?"

"Kenapa waktu tahun baru kamu hanya memberiku angpau? Amplopnya bergambar Doraemon lagi. Memangnya aku anak kecil?" Hinata cemberut. Pura-pura merajuk, lalu menutup majalahnya dengan cepat. "Padahal kamu bisa mendapatkan banyak inspirasi dengan melakukan pemotretan ini…"

"Bukannya kamu suka kucing?" Memang benar istrinya itu sangat menyukai kucing. Sekarang saja di kamar mereka banyak benda-benda berbentuk maupun bermotif kucing; boneka, jam, bantal, seprai, sampai gelas sikat giginya. Ia lalu sedikit mendongak untuk mengintip wajah Hinata. Ia jadi terkekeh pelan mendapati Hinata dengan bibir sedikit mengerucut dan pipi yang tampak lebih tembam. "Lagian, yang penting kan isinya…"

Ia masih menikmati wajah menggemaskan Hinata sembari tersenyum tipis hingga terdengar suara deru mobil yang mulai diparkirkan di halaman samping. Cepat-cepat ia bangun sampai puncak kepalanya tak sengaja membentur dagu Hinata.

Serta merta mata bulat Hinata tampak berembun. Ia tidak ingin menangis, namun air matanya menetes begitu saja. Sasuke gelagapan penuh rasa bersalah. Sedangkan ibunya yang baru masuk lewat pintu geser yang terhubung dengan halaman samping, terlihat begitu terkejut melihat Hinata terisak lirih. Wanita paruh baya itu segera meletakkan belanjaannya di atas kotatsu, kemudian duduk bersimpuh di sebelah Hinata.

"Kamu apakan Hinata, Sasuke?"

"Sasuke nakal, Bu…" rengek Hinata yang tangisannya semakin deras saat ibu mertuanya menyeka air matanya. Sasuke akan mengeluarkan suara, tetapi ia kembali menyela, "Kalau ingin ku maafkan, bawakan aku marshmallow…"

Hinata bangkit dan berjalan cepat menuju kamar. Sasuke langsung gusar. Belakangan ini ia sedikit malas keluar rumah lantaran tatapan genit kaum hawa yang sepertinya sudah melihatnya di majalah.

Sedangkan Mikoto jadi berpikir yang tidak-tidak setelah mendengar permintaan Hinata. "Istrimu ngidam?"

Sasuke mendecak sebal. Alisnya seakan-akan nyaris menyatu.

Mikoto tersenyum menenangkan sebelum menambahkan, "Tidak apa-apa, Sasuke. Jangan memasang wajah seperti itu. Sebentar lagi kan kalian lulus…"

Memang benar kalau upacara kelulusan sudah dijadwalkan bulan depan. Ujian akhir pun hanya tinggal menghitung hari. Ia dan Hinata juga sudah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi pada akhir bulan Februari. Masalahnya, ibunya itu salah paham!

"Bu—"

"Tapi … berapa usia kandungannya? Kira-kira sudah berapa minggu?" Mikoto berbisik, "Ibu hanya khawatir kalau dia jadi malu jika perutnya sudah membesar sebelum kalian diwisuda…"

Sasuke kesal karena ibunya menyela terus.

"Bagaimana bisa Hinata hamil kalau itu saja belum pernah, Bu…?" Suaranya pun jadi meninggi.

Sesaat kemudian hanya terdengar suara pelan dari televisi. Sadar akan maksud dari ucapannya yang keluar dengan setengah sadar, ia mengumpat lirih. Pipi ibunya tampak bersemu merah. Sementara ayahnya yang baru masuk ke ruangan itu hanya terdiam. Sepertinya Hinata yang berada di lantai dua juga bisa mendengar suaranya.

Wajahnya sedikit merona tatkala ia keluar rumah untuk menuju toko swalayan terdekat dengan mengayuh sepedanya. Di tengah perjalanan, ia teringat kalau ia tidak membawa dompet. Ia pun memutar balik untuk meminjam uang pada ibunya, karena pasti Hinata belum mengizinkannya masuk kamar.

.

.

.

Akhirnya hari ini datang juga. Hari yang begitu dinantikan sekaligus ditakutkan oleh Hinata. Tadi pagi ia dan Sasuke datang ke sekolah untuk melihat pengumuman hasil ujian akhir. Syukurlah peserta ujian di sekolahnya dinyatakan lulus seratus persen. Hanya tinggal menunggu pemberitahuan dari perguruan tinggi mengenai hasil entrance exam.

Sesuai kesepakatan yang dibuat berdua, ia akan menjadi seorang istri yang sesungguhnya pada hari ini—sebagai penyempurnaan pernikahannya dengan Sasuke.

Jika biasanya ia mengenakan piama untuk tidur, malam ini tubuhnya dibalut gaun tidur terusan selutut yang manis. Ia menduduki tepi ranjang sementara Sasuke masih berada di dalam kamar mandi. Jantungnya berdebar-debar tidak keruan. Apalagi setelah suara shower berhenti, dan selang beberapa menit pintu kamar mandi dibuka lalu menampakkan Sasuke yang berbalut jubah mandi. Kelihatannya Sasuke juga segugup dirinya. Bahkan suaminya itu seperti menghindari kontak mata dengannya.

Ia malah menunduk tatkala Sasuke berjalan menghampirinya. Kedua tangannya yang berada di atas pangkuannya saling meremas dengan kikuk. Jantungnya seolah berada di leher ketika Sasuke duduk di sebelahnya dan mematikan lampu kamar tanpa menggantinya dengan lampu tidur.

Ia merasa seperti bermimpi saat Sasuke memagut bibirnya dan perlahan merebahkannya. Ia lalu melingkarkan kedua lengannya di tubuh Sasuke dan tidak lama untuk membuatnya semakin mengeratkan dekapannya.

"Daijoubu?" bisik Sasuke yang sudah memberikan jarak di antara wajah keduanya.

Hinata mengangguk cepat. Bibirnya yang basah tampak bergetar pelan.

"Aku hanya sedikit takut," lirihnya.

Sasuke mengusap pipinya untuk menenangkannya. Ia pun masih bisa melihat senyum tipis Sasuke dalam keadaan kamar yang remang-remang.

"Daisuki da," bisik Sasuke.

"Daisuki," balasnya pelan.

"Aishiteru."

"Aishiteru…"

Hinata memejamkan matanya saat Sasuke tidak hanya menciumi wajahnya. Ini pun yang pertama bagi Sasuke. Ia bisa merasakan debaran jantung Sasuke di atas dadanya sendiri, berpacu dengan detak jantungnya yang menggila.

"Sa-Sasu—"

Tok! Tok! Tok!

Keduanya mencoba mengabaikan suara ketukan di pintu. Napas mereka sama-sama memburu. Peluh mulai membasahi wajah mereka. Suhu tubuh Sasuke pun perlahan meningkat.

Tok! Tok! Tok!

"Sasuke…" Kali ini ketukan pintu kamar mereka dibarengi suara Mikoto.

Sasuke menggeram karena ketukan yang bersahutan dengan suara ibunya semakin kerap. Mengapa ibunya tidak berpikir kalau ia sudah tidur lantaran tidak mendengar sahutan?

Pelan-pelan ia memisahkan diri dari Hinata. Ia menuruni tempat tidur sembari membetulkan ikatan jubah mandinya dengan asal-asalan. Tanpa menyalakan lampu kamarnya, ia berjalan cepat ke arah pintu. Ia masih bermuka masam tatkala lampu redup dari koridor menyorotnya begitu pintu ia buka.

"Ada apa, Bu?" tanyanya dongkol.

"Tiba-tiba saja lampu dapur kedap-kedip, padahal Ibu masih akan mencuci piring. Ayah sudah tidur, Ibu tidak tega membangunkannya…"

Malam ini memang giliran ibunya untuk membersihkan peralatan bekas makan malam. Mungkin karena keranjingan menonton drama, ibunya baru akan memulai pekerjaannya pada jam ini. Dan ibunya bisa kasihan pada ayahnya, tetapi tidak kepadanya yang sedang memperjuangkan haknya sekaligus menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.

"Tolong gantikan dengan yang baru." Berikutnya perhatian Mikoto teralih pada kamar Sasuke yang gelap. "Apa lampu di kamar kalian juga rusak? Masih ada persediaan lampu baru kalau kamu mau menggantinya."

Sasuke semakin mendongkol. "Kami sedang itu, Bu…" desisnya tajam seraya keluar kamar untuk memenuhi perintah ibunya. Ia menutup pintu kamarnya perlahan, meninggalkan Hinata yang masih membenamkan diri di bawah selimut.

"Itu apa…?"

"Membakar kalori." Sasuke menjawab tak acuh.

Mikoto menelan kembali pertanyaan selanjutnya begitu ia menangkap maksud Sasuke. Ia jadi merasa tidak enak hati. "Se-sebaiknya kamu kembali saja. Ibu bisa mencuci piring besok pagi…"

"Aku sudah tidak mood." Sasuke bergegas menuruni tangga dan menuju ke dapur.

Mikoto masih terpaku di puncak tangga. Ia lalu menoleh dan memandang pintu kamar anak-anaknya dengan penuh rasa bersalah. Kira-kira sedang apa Hinata sekarang? Kecewa pada Sasuke yang lebih memilih membantunya? Atau mungkin sedang menggerutu dan menganggapnya sebagai pengganggu? Jangan-jangan malah memaki-maki dirinya? Ah, tetapi Hinata kan bukan orang seperti itu.

Ibu beranak dua itu merutuki kebodohannya. Ia telah menyela salah satu kegiatan penting dalam rumah tangga anak-anaknya. Seharusnya ia tidak mengetuk pintu itu lagi setelah tiga kali ketukan namun tidak ada balasan. Tetapi, penyesalan tiada guna.

.

.

.

Hinata merasa ingin menangis melihat Universitas Suna bersisian dengan namanya. Padahal pilihan utamanya adalah Universitas Konoha. Sasuke sendiri diterima di dua perguruan tinggi terkemuka sekaligus. Namun tidak ada Universitas Suna dalam pilihan Sasuke, dan ia yakin kalau suaminya itu akan lebih memilih Universitas Konoha. Apalagi jika mengingat kalau Sasuke masih ada pekerjaan di Konoha.

Padahal ia dan Sasuke pernah merencanakan untuk tinggal di apartemen sederhana dekat kampus jika sama-sama kuliah di Universitas Konoha. Memang, manusia hanya bisa berencana…

Ia pun tidak mau lebih membebani orang tuanya dengan melepaskan kesempatan kuliah tahun ini dan mengikuti ujian lagi tahun depan. Sedangkan biaya ujian masuk perguruan tinggi sungguh mencekek leher.

"Yang penting bukanlah dari mana kamu dapat pengetahuan, tapi di mana kamu bisa menerapkannya," bisik Sasuke yang beberapa saat lalu juga sempat termenung.

Bukan itu masalahnya! Hinata mengerang frustrasi dalam hati. Jarak antara Konoha-Suna tidaklah dekat. Butuh waktu hampir setengah hari jika menempuh perjalanan dengan shinkansen. Naik pesawat memang lebih cepat. Tetapi, harga tiket shinkansen jauh lebih murah dibandingkan tiket pesawat. Sedangkan ia kurang yakin akan langsung mendapatkan pekerjaan paruh waktu di kota yang terkenal panas tersebut. Terlebih belum tentu ia dan Sasuke sama-sama memiliki waktu luang di hari yang sama. Ia pun tidak mesti bisa pulang ke Konoha secara rutin di akhir pekan.

Ah, Sasuke baru ingat kalau di Suna ada Sasori! Bagaimana kalau Hinata dan cowok sok imut itu satu perguruan tinggi? Bisa-bisa Sasori merasa bebas melakukan pendekatan pada Hinata, karena ia berada jauh di Konoha! Belum lagi saudara Sasori yang sok cool itu!

AAARGH! SH*T!

.

.

.

End of Chapter 7: Consummation

Friday, August 10, 2012

Mind to CnC or RnR?

Thank You

Kaget sendiri lihat tanggal apdetan terakhir fic ini; Maret. Padahal sekarang sudah Agustus, tidak terasa, hoho. Wah, Doraemonnya Fujiko Fujio nyempil di fic ini. Chapter ini semi M ya? Atau jangan-jangan memang sudah M ya? Haha.

"Yang penting bukanlah dari mana kamu dapat pengetahuan, tapi di mana kamu bisa menerapkannya." (Ai Haibara)

Maaf lama untuk yang masih setia, dan terima kasih banyak untuk para pembaca dan pereview chapter sebelumnya:

Aiiko Aiiyhumi, Zae-Hime, sasuhina-caem (benar sekali, si admirer itu memang Konohamaru :D), SuHi-18, Jimi-li, Adele-theblackjack (sama-sama, terima kasih banyak telah bersedia membaca fic-fic saya, saya amat sangat berterima kasih sekali :D), Yamanaka Emo (tidak apa-apa, yang betul Konohamaru :D), Miya-hime Nakashinki (Konohamaru :D), Fullmoon (kalau untuk arti bahasa Jepang di chapter kemarin, intinya pernyataan cinta kalau yang SasuHina, kalau pas ItaSasu cuma olok-olokan :D), Hoshi Yukinua, Suzu Aizawa (tidak apa-apa, bersedia baca saja sudah seneng :D), Hyou Hyouichiffer (saran diterima, terima kasih :D), Yukio Hisa (hehe, tidak disebutin karena biar pembaca bisa nebak siapa si penggemar Hinata, dan ternyata ada yang benar tebakannya :D), widiwMin, KarinHyuuga, lavender hime chan, blue night-chan (yang betul Konohamaru, Kiba kan beda sekolah, seangkatan sama SasuHina juga dan dia tahu status pernikahan mereka karena kakaknya nikah sama Itachi :D), Ayuzawa Shia (tidak apa-apa :D), n, Meiru Uchiffer (sama-sama, hehe, Konohamaru, waktu kisu di koridor itu kan sudah jam pulang setelah piket, jadi sepi banget, haha :D), RitsuYuki (terima kasih :D), haruna chan muach (kalau dibunuh ya tidak jadi apdet, haha :D), yessy (saya juga suka naruhina :D), Takoyaki (tidak apa-apa :D), ck mendokusei, Eilla 'qina (ayo menghayal bersama, hehe :D)

Sekali lagi terima kasih banyak dan sampai jumpa… ^^