CERITA INI HANYALAH FIKSI BELAKA. APABILA TERDAPAT KESAMAAN JUDUL, CAST, ATAU ALUR CERITA DENGAN FF LAIN DILUAR SANA, MAKA ITU HANYALAH SEBUAH KETIDAK-SENGAJAAN KARNA FF INI MURNI HASIL PEMIKIRAN SAYA SENDIRI. TERIMA KASIH *bow*
Chapter 7 : Anathema (Special)
Aku terpaku di suatu tempat yang entah ada dimana. Semuanya berwarna hitam.
Hitam pekat.
Hanya ada aku disini. Sendirian. Apakah ini mimpi?
Aku mendengar sebuah suara di samping kanan ku.
Aku melihat, seorang anak kecil berkisar umur 3 tahun dan seorang wanita cantik muda bersurai ke-emasan tengah memangku anak tadi. Wanita itu, memiliki sayap yang sangat lebar, seperti malaikat.
"Ibu." Kata sang anak kecil.
"Ya, sayangku?" jawab dia yang bersurai ke-emasan.
"Kalau aku nanti sudah besar, aku ingin menjadi seorang penulis!"
Wanita cantik itu tertawa geli, "Kenapa penulis? Hm?"
"Aku tidak tahu, Ibu. Hanya saja, kufikir menulis itu, menyenangkan!"
Surai kehitaman sang anak kecil tadi kemudian di acak lembut oleh si Ibu. Merasa lucu sekaligus gemas melihat tingkah anak nya. "Bagus sekali, anakku! Kau memang hebat!"
Tiba-tiba, tubuh sang wanita bersayap tadi mengabur begitupula anak kecil tadi. Mengabur, hingga menghilang. Dan untuk beberapa saat, aku kembali sendirian di ruangan hitam ini hingga akhirnya aku mendengar sebuah suara di samping kiri ku.
Aku pun menoleh dan mendapati seorang Pria muda dan seorang anak laki-laki berkisar umur 3 tahun duduk disamping nya membelakangi ku. Pria itu juga memiliki dua buah sayap besar warna putih bercahaya di punggung nya.
"Ayah," Kata si anak.
Pria itu menoleh kesamping menghadap anak nya. Dan tiba-tiba nafasku memberat. Seolah-olah oksigen yang kuhirup hanya sepersekian sedikit.
"Kalau nanti aku besar, aku ingin menjadi seperti ayah!"
Pria itu tertawa geli dan mengacak rambut anak lelaki nya, "Kenapa kau ingin seperti ku, nak?"
Anak kecil itu mengerdikkan bahu nya, "Aku hanya ingin menjadi seperti Ayah yang sangat jenius dan…Kaya Raya!"
Kali ini tawa Pria tersebut lepas. Lega. Aku yang mendengar nya entah kenapa salah satu organ didalam dada ku menghangat. Seperti, sebuah kebanggaan melihat pria tua itu tertawa begitu lepas nya. Entahlah, aku pun tidak mengerti.
"Bagus nak! Teruslah bermimpi! Karena mimpi itu tidak berbatas, nak. Mimpi itu tidak memiliki batas. Bermimpi lah setinggi-tinggi nya! Itu namanya anak ayah!"
Kini sang anak pun ikut tertawa. Dan aku tersenyum senang melihat nya. Melihat mereka berdua yang tengah tertawa lepas.
Sayangnya, tubuh kedua orang itu pun mulai mengabur sama seperti hal pertama yang kulihat tadi. Mereka terus mengabur hingga menyisakan partikel-partikel piksel yang sangat kecil sampai akhirnya mereka berdua benar-benar menghilang.
Kini aku kembali sendirian. Merutuki kenapa aku bisa berada ditempat entah berantah ini. Aku memikirkan nasib anak tadi. Apakah keinginan nya terwujud seperti apa yang di inginkan nya?
Sungguh. Aku begitu ingin melihat perkembangan anak kecil tadi. Melihatnya dari kecil berjuang sampai mewujudkan mimpi nya.
Serbuan angin dingin menerpaku dari belakang. Rasanya mencekik ku juga menusuk. Dingin sekali hingga aku menggigil karena nya. Aku ingin sekali melihat apa yang terjadi di belakang ku. Tapi aku takut. Untuk hal yang satu ini, aku takut. Aku selalu takut jika disuruh menoleh kebelakang.
"Sehun."
Ada suara menggema disekeliling ku.
"Sehun."
Suara itu berkata dua kali namun kali ini lebih terdengar keras.
"Sehun!"
Aku menutup kedua telingaku akibat suara bising yang bergema diseluruh penjuru. Seperti menekan ku. Menekan ku untuk menoleh kebelakang. Aku ingin melihat apa yang terjadi disana, tapi aku takut.
Ketakutan tidak akan membuat mu maju. Ya, aku tau kata-kata itu. Tapi yang satu ini kumohon janganlah paksa aku. Hati kecil ku terus berteriak meminta ku untuk melihat kebelakang. Aku memutar tubuhku pelan, pelan sekali. Rasa penasaran ku memenangkan segala ketakutan ku.
Pupil hitamku berada di ujung mataku. Keringat ku mengucur deras. Ketakutan ku semakin meriak. Aku ingin berhenti tapi aku tidak bisa. Seharusnya aku tau aku tidak usah melakukan ini sebelum nya.
Dan aku akhirnya benar-benar menoleh kebelakang.
Menatap seorang wanita dewasa dengan balutan sensual dress tipis sepaha berwarna merah serta rambut panjang yang di semir kecoklatan. Lapisan lipstick merah tebal yang berada dibibir nya. Juga sepuntung rokok yang bertengger disana.
Aku. Aku mengenal nya.
Untuk yang satu ini aku mengenal nya.
"Ketika kau besar nanti, kau akan menikah dengan Tiffany, sayangku."
Aku terkejut. Wanita ini berada didepan ku. Apakah dia sedang berbicara padaku? Namun, setelah aku lihat kembali dia sama sekali tidak memandangku.
Dia memandang ke arah belakang ku. Seperti bicara pada seseorang yang ada dibelakang ku.
"Tidak akan!"
Suara nyaring kembali bergema. Aku yakin ini suara anak kecil tadi hanya saja suara nya mulai bertambah berat. Derap langkah seseorang berlari hinggap di pendengaran ku.
Seseorang berlari lalu menembus tubuhku.
Bisakah kalian membayangkan nya? Aku transparant. Aku tidak terlihat dan aku dapat di tembus oleh siapa saja. Aku rasa, ini cukup keren.
"Aku tidak akan menikah dengan kakak ku sendiri!" teriak sang anak lelaki yang kini sudah tumbuh cukup tinggi. Aku rasa umur nya sekitar 10 atau 12 tahun. "Kau tidak bisa seenaknya menginginkan aku untuk menikah dengan Tiffany! Aku memiliki mimpi! Aku memiliki mimpi ku sendiri!"
"Apa kau membantahku, bocah?"
Aku bisa melihat dengan jelas aura mengerikan keluar dari tubuh wanita tadi. Baiklah, aku mulai kesal dengan sikap wanita ini, dia begitu egois. Sampai akhinya aku melihat pergerakkan pelan wanita tadi. Pelan ia mendekati anak lelaki tadi.
"Kau membantahku! Dasar kau sialan!"
Aku terbangun dengan keringat bercucuran. Piyama yang kupakai juga sudah basah. Ini hanya karena mimpi yang kurasakan barusan.
Aku memimpikan hal yang menyakitkan. Sungguh.
Aku bermimpi tentang Ibuku, Ayahku, serta Wanita yang pernah menjadi ibu tiri ku selama sesaat.
Juga 'aku' yang menjadi seorang anak kecil polos.
Mimpiku terhenti ketika si wanita berkata begitu kasar padaku dan berakhir dengan menamparku dengan begitu kencang.
Semua hal yang terjadi di mimpi ku barusan adalah kenyataan yang pernah ku alami pada masa lampau.
Ya.
Aku pernah berkata pada ibuku bahwa aku ingin menjadi seorang penulis. Aku pernah berkata pada ayahku bahwa aku ingin menjadi seorang yang jenius dan kaya raya seperti dirinya. Dan aku juga pernah diminta untuk menikahi kakak tiriku sendiri di masa depan nanti.
Itu semua nyata terjadi pada masa lalu ku. Kelam. Menyakitkan. Begitu gelap. Namun hebat nya aku bertahan.
Suara alarm menghentikan aktifitas lamunanku. Rupanya aku bangun lebih cepat dari waktu yang ku-set di jam weker milikku. Dan waktu menunjukkan pukul 6 pagi.
Teman sekamarku, kalian bisa menyebutnya Kai, tidak mungkin dapat bangun sepagi ini. Dia merupakan tipe orang cool yang hanya akan bangun sekitar jam 7 atau setengah 8. Sangat mepet dengan waktu dimana lonceng sekolah akan dibunyikan.
Aku menyibak selimut ku pelan. Takut membangunkan kerbau yang tidur mendengkur disamping ku. Untung nya ini liburan musim panas. Dia dapat seenaknya tidur dan bangun jam berapa pun dia mau.
Aku berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelan piyama yang kupakai, kulepas satu persatu. Keran pun kuputar perlahan hingga mengeluarkan bulir-bulir air di atasku.
Sekarang, aku kembali teringat mimpi tadi. Seolah-olah mengingat kanku. Aku masih ingat, tentu saja. Tapi aku berusaha untuk melupakan nya. Dan kini kenangan itu kembali merayapi kepala ku.
Apa maksudnya? Apakah aku harus kembali mengenang masa-masa kelam itu? I'm already move on, bro.
Selesai membersihkan diri, aku pun mencari sepotong roti dan sebotol selai, setelah sebelumnya mencari baju untuk kukenakan tentu saja. Dengkuran nyaring milik Kai, terdengar sampai ke ruang makan. Wajar sih, kami berdua hanya tinggal di apartemen yang cukup kecil yang setidaknya mampu untuk menampung Kai dan aku juga barang-barang kami.
Keputusan kami untuk memiliki apartemen juga tidak buruk. Ibu Kai juga selalu mampir setiap minggu nya. Ini semua karena rumah tempat tinggal Kai sangat jauh dari SMA kami. Untungnya beliau membelikan kami sebuah apartemen hangat didekat SMA.
Aku menyayangi beliau layaknya ibu ku sendiri.
Mengingat aku sudah hidup dengan beliau selama 5 tahun dari umurku 13 tahun.
Dan besok adalah hari dimana aku akan pergi meninggalkan semuanya.
Korea, Ibu Kai, Kai, juga kekasihku Luhan.
Aku ingat pertemuan pertama ku dengan Luhan. Dia seseorang yang sangat ceroboh tapi juga manis. Itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Rasanya, aku seperti jatuh cinta beratus-ratus kali setiap melihatnya jatuh akibat kecorobohan nya. Tidak, maksudku aku menyukai tingkah nya yang lucu.
Awalnya hanya dari Kai yang coba-coba ikut blind date.
Dia dengan Naeun sedangkan aku dengan Eunji. Tapi aku malah jatuh cinta dengan seorang Luhan yang tiba-tiba duduk diantara kami berempat lalu memesan milkshake.
Kai lebih lucu lagi. Ia jatuh cinta dengan pemilik café yang kami tempati sebagai tempat acara blind date kami. Naeun dan Eunji langsung meninggalkan kami karena tak kami hiraukan.
Aku tertawa geli mengingat kejadian lucu waktu itu.
Dan kini aku pun masih bersama dengan Luhan-ku, namun Kai, dia masih berusaha mengejar pemilik café tersebut. Kalau tidak salah namanya, Kyungsoo. Cukup manis, yeah.
Erangan milik Kai terdengar olehku. Ia meracau tidak jelas. Dasar, manusia seperti itu bisa-bisanya menjadi laki-laki terpopuler di sekolah. Kalian para fans nya belum tau wangi nafas nya saja sih.
"Sehun~" racau Kai yang masih betah diatas kasur nya. "Ini jam berapa..?"
"sekitar jam setengah 7."
"Kenapa aku bisa bangun sepagi itu?"
Aku tersenyum kecil mendengar perkataan Kai. Cukup bodoh untuk orang populer seperti dia. Aroma teh yang baru saja kuseduh tercium seketika. Menambah hangat suasana pagi ku.
Aku tidak lagi mendengar pergerakan Kai, mungkin dia kembali tidur. Menekuni profesinya sebagai pacar Kyungsoo hyung lewat mimpi. Yah, dari mimpi bisa jadi kenyataan. Siapa tau.
Ponselku berdering sesaat setelah ku menyesap teh ku. Rupanya dari Luhan, kekasihku tercinta. Ia mengirimiku pesan yang berbunyi, 'Sehunnie~ seharian ini aku ingin bersamamu~'
Dasar manja kau Luhan. Tapi, aku meng-iyakan pemintaan nya.
'Baiklah, sayangku. Kita kencan hari ini.'
Dan pesanku terkirim.
Aku berani taruhan kalau Luhan sekarang sedang melompat kegirangan di atas kasur nya.
Aku membawa teh ku kedekat jendela apartement. Dari sana aku dapat melihat suasana kota Seoul di pagi hari. Tetap sibuk dan dipenuhi oleh polusi. Aku tersenyum melihatnya. Sudah sekitar 5 tahun aku berada disini dan besok-
-adalah hari dimana aku akan meninggalkan kota ini.
Luhan memandangku dengan mata yang berbinar.
"Ada apa?"
Dia menggeleng pelan. Namun tetap dengan ekspresi yang membuat ku penasaran. "Kau terlihat sangat menakjubkan, sayang."
Kufikir dia terlalu hiperbola. Dia selalu menunjukkan ekspresi seperti itu ketika kami akan berkencan atau pergi ke suatu tempat. Dia memang sangat jarang melihat ku memakai pakaian biasa selain seragam sekolah. Dan menurutnya, aku sangat keren jika memakai kemeja yang sengaja di buka.
Seperti yang saat ini kukenakkan.
"Oh, ayolah sayang. Ini biasa saja."
Dia menggeleng lucu sambil tersenyum. "Tidak. Kau sangat keren. Sangaaaat keren." Jawabnya sambil memeragakan nya dengan merentangkan kedua tangan nya.
Aku membalasnya dengan tawa. Hari ini kami akan pergi berbelanja ke daerah Hongdae dan mengunjungi Hanok Village. Luhan terlihat sangat antusias. Ia banyak sekali berkata padaku bahwa ia ingin berfoto 101 kali denganku dan makan 101 makanan. Juga tentunya denganku.
Dia bertanya soal Kai. Kubilang saja bahwa Kai sekarang sedang berada di café milik Kyungsoo hyung. Luhan mengangguk mengerti.
"Aku ingin makan ddeokbokki itu."
"Tentu, sayang."
Akhirnya kami berdua sampai di Hanok Village.
Aku ingat saat pertama kali pindah ke Korea, ayah membawaku beserta Chanyeol hyung ke tempat ini. Inilah wisata pertama yang kami kunjungi. Waktu itu kami sempat berfoto bersama dan sekarang entahlah foto itu berada dimana.
Aku juga ingat.
Saat aku berada di Jepang, ibu tiri ku suka membawa laki-laki kedalam rumah (well, kurasa kalian tahu itu) dan ada seorang laki-laki Korea membawa oleh-oleh yang berasal dari Hanok Village ini. Aku tahu karna aku pernah diberi 1 keychain oleh Tiff-nuna pemberian dari laki-laki tadi untuknya.
Ngomong-ngomong soal Tiff-nuna.
Kubilang saja, Tiff-nuna sudah wafat.
Bunuh diri.
Sebenarnya aku tidak ingin mengingat kejadian ini lagi mengingat aku sedang menghabiskan waktu kencan yang bahagia bersama dengan kekasihku. Tapi, karena kalian penasaran.
Okelah, dispensasi.
Sambil menunggu Luhan yang masih asyik menunggu Dalgona miliknya, aku akan bercerita sedikit mengenai kehidupan ku saat berada di Jepang.
Aku dibawa ke Jepang saat umurku 7 tahun, masih sangat kecil kurasa. Ibu tiri ku membawa ku dengan alasan mengambil harta kekayaan milik ayah beserta meninggalkan Chanyeol hyung yang tidak menyukai nya. Padahal aku juga tidak menyukai nya, hanya saja bagaimana ekspresi seorang anak kecil umur tahun sedang marah. Justru cute.
Kami tinggal dikota Tokyo. Membeli sebuah rumah mewah di perumahan elit beserta menyewakan beberapa maid. Uang yang dia miliki adalah uang milik keluarga Park.
Ia menyembunyikan ku sebagai harta karun nya yang paling berharga. Aku sempat bersekolah sampai kelas 4 sekolah dasar swasta dan berakhir dengan homeschooling. Kata tutor ku, aku merupakan anak yang jenius untuk anak-anak seusiaku. Aku dapat menguasai secara gamblang bahasa Jepang beserta tulisan nya dalam waktu 20 hari.
Tutor ku kemudian jatuh cinta dengan ibu tiriku. Mereka sempat bercinta beberapa kali, tentu saja aku tidak melihatnya karena Tiff-nuna suka membawa ku menjauh ketika mereka berdua mulai mengeluarkan 'tanda-tanda'.
Tapi pada akhirnya tutor ku berhenti menjadi guru homeschooling dan juga putus dari ibu tiriku karena dia akan bertunangan. Wanita ini sempat depresi. Namun, hanya sesaat. Sejak saat itu ia sering membawa laki-laki dewasa masuk kerumah dan bermesraan dengan mereka.
Ibu tiriku tidak perduli lagi soal harga dirinya. Asalkan nafsu nya terpuaskan, menurutnya itu sudah cukup membuatnya merasa hidup. Aku sering sekali, sangat, mendengar rintihan nya saat melakukan seks. Well saat itu umurku 10 tahun. Aku merasa aku sudah kotor sebelum waktunya.
Suatu hari aku ditemani oleh Tiff-nuna pergi ke Festival harajuku. Tentunya yang tidak diketahui oleh ibu kami. Tiff-nuna bertemu seorang teman nya disana, namanya Taeyeon, untuk membantu kami mengunjungi toko hewan peliharaan. Aku ikut saja karena menurutku ini sepertinya akan menyenangkan.
Tiff-nuna membeli 2 ekor kelinci. Satu betina yang berwarna putih dan yang satulagi jantan berwarna hitam. Keduanya sama-sama menggemaskan. Aku pernah bertanya untuk apa kelinci-kelinci tersebut, dan dia hanya tersenyum misterius padaku.
Lalu kami bertiga pun larut dalam asyiknya festival Harajuku.
Saat kami pulang rupanya ibu kami sudah berada dirumah. Dengan ekspresi nya yang sangat marah ia memukuli kami berdua. Kami tidak boleh keluar rumah selama 1 bulan. Namun para maid suka membukakan pintu kamar kami ketika wanita itu sedang keluar rumah atau keluar kota agar membiarkan kami makan. Para maid sendiri kadang merasa sangat jengkel melihat tingkah nyonya besar nya.
Waktu itu hari senin bulan Mei, aku sudah lupa tanggal berapa. Pihak sekolah dari SMA Kaime, sekolahnya Tiff-nuna, memberikan teguran pada nya mengenai absen tanpa kabarnya selama 1 bulan. Saat itu kami sudah boleh keluar kamar, namun tidak untuk keluar rumah.
Wanita itu masuk kedalam kamar Tiff-nuna dan melemparkan kertas teguran tadi ke kepala Tiff-nuna. Tepat ketika Tiff-nuna sedang mengerjakan sesuatu. Tiff-nuna terlihat terkejut sekaligus gemetaran, ia takut apa yang ia kerjakan saat itu diketahui oleh ibu nya. Sayangnya, ketakutan nya itu nyata.
Ibunya mengambil paksa sebuah buku nota berisi tulisan mengenai uang dan barang-barang yang dikirim ke Korea. Wanita itu sangat marah, sangat. Ia memukuli anak kandungnya sendiri sampai memar dan tidak memperbolehkannya keluar kamar selama 1 tahun.
Aku sempat membaca apa isi buku nota nya. Ternyata isinya merupakan uang bernilai won yang dikirim dalam jumlah banyak perminggu nya untuk seseorang di Korea sana. Juga barang-barang yang tidak terhitung berapa banyak nya yang sudah ia kirim ke Korea sana.
Namun mataku menemukan suatu nama disana.
Park Chanyeol.
Akhir bulan Mei. Para maid digegerkan dengan bau busuk yang menyebar diseluruh rumah. Aku pun sama menyadarinya. Lalu ibu tiriku menyuruh pak Satoshi, tukang kebun kami, untuk mencari darimana bau busuk tersebut berasal.
Dan kami menemukan hal yang sangat mengejutkan.
Tiff-nuna bunuh diri dengan gantung diri di kamar nya. Ibu tiriku kemudian berteriak histeris sambil menangis. Ia berulang kali mengucapkan kata maaf untuk anaknya yang sudat wafat. Aku sendiri saat itu tengah menangis melihat satu-satunya orang yang peduli denganku, meninggalkan ku begitu saja.
Hal yang sama terjadi 2 minggu kemudian. Ibu tiriku meninggal akibat HIV/AIDS yang diderita nya. Ia meninggal didalam kamar Tiff-nuna.
Aku tidak begitu menangisi kepergian nya. Ia di makam kan tepat disebelah makam Tiff-nuna.
Aku pun sendirian. Para maid masih menemaniku. Saat itu umurku sudah 13 tahun. Lalu aku memutuskan untuk kembali ke Korea dengan menjual rumah mewah ini di situs online. Aku sudah menyebutkan aku jenius untuk anak-anak seusiaku kan?
Para maid dan pekerja lain kuberi hasil dari uang penjualan rumah tersebut. Semua kubagi sama rata. Dan aku pun terbang ke Korea dengan sisa uang yang kupunya.
Oh, mungkin aku melewatkan satu kejadian dimana aku diminta untuk menjadi suami Tiff-nuna ketika aku besar nanti. Dasar, seperti incest saja. Aku mana sudi. Sepertinya, aku tidak akan membahas soal yang satu ini karena menurutku ini memalukan. Yeah, berakhir dengan pukulan. Seperti biasa.
.
.
.
"Sehunnie!"
Luhan memanggilku nyaring seraya menyuruhku untuk mendekatinya.
Aku pun mengikuti arah jalan nya. Sambil tersenyum melihat punggung mungilnya yang berada didepan ku. Aku berfikir bahwa aku tidak akan pernah berhenti mencintainya dan tidak akan pernah meninggalkan nya.
Namun, esok. Hanya saja esok. Aku harus pergi meninggalkan dia, Kai, juga Korea. Dan berjanji untuk kembali menjadi seorang Sehun yang baru dengan marga Park nya yang keren.
Aku akan cepat kembali. Aku akan menghentikan kenyataan hidup yang pahit ini. Aku akan merubah semua nya. Akan ku hentikan semua derita yang kualami bersama Chanyeol hyung. Dan besok, kami berdua akan menemukan apa yang selama ini kami idamkan.
Bertemu keluarga besar. Berkumpulnya seluruh keluarga Park.
Dan derita ini akan terhenti oleh ku seperti seperti sebuah kutukan yang dipatahkan oleh seorang pangeran. Oke, kalian boleh tertawa.
"Sehunnie! Kenapa kau lambat sekali? Aku mau naik Namsan Tower, sayang!"
Dasar Luhan. Seperti istri yang sedang hamil saja.
"Baiklah, sayangku!"
ALL POV SEHUN!
Oke biarkan chan bernafas dulu sejenak. Gimana? Ini chapter special dengan all point of view dari jeng jeng jeng.. SEHUN kitaaaa.
Oke, chan bingung musti bilang apa lagi. Pokoknya, makasih banyak buat yang masih mantengin a beast from empty house. Ini bukan the end. Dan ini mulai mendekati konflik nya bby. Jadi stay tune teyus okey~
