Venus
Original Story by Phoebe
Starring:
Kim Jongin (GS) & Oh Sehun
with Park Chanyeol
Summary:
Jongin adalah sang venus dan Sehun adalah diplomat muda yang brengsek. Sehun yang membenci komitmen dan Jongin yang benci berbagi apa yang telah menjadi miliknya. Dan mereka berdua di satukan oleh sebuah tradisi kolot bernama perjodohan.
.
.
This is remake novel by Phoebe with the same tittle
.
.
~ Previous Chapter ~
.
.
"Kau mengikutiku?" Tanya Jongin di sela senyumnya. "Masih ada yang mau di bicarakan?"
"Aku menolak pemutusan sepihak ini."
Kim Jongin berhenti melangkah. Ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Sehun dan memandangnya dengan pandangan yang penuh tanya.
Menolak? Sehun menolak? Karena apa? Karena dirinya masih menginginkan Jongin? Tidak, Jongin sebaiknya tidak terlalu berharap. "Tapi aku menginginkanya."
"Kau tidak ingin terlibat miai lagi kan? Aku juga mustahil untuk berkomitmen. Tidakkah kau berfikir kalau kita sekarang sangat cocok? Tetaplah bertahan menjadi tunanganku dan kita tidak perlu repot dengan komitmen apapun. Kau bisa tetap bekerja dengan tenang dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Dan sebaiknya kau kenakan kembali cincin ini." Sehun meraih tangan Jongin dan kembali menyelipkan cincin bermata ruby itu ketanganya.
Selain itu Sehun juga meletakkan ponsel miliknya ke genggaman Jongin. "Aku tidak bisa di tolak. Tetaplah jadi tunanganku dan bawa ponsel ini. Aku tidak ingin ada perubahan apa-apa. Tetaplah bersikap seperti biasanya."
"Kau jangan pernah berharap, Oh. Aku tidak akan bersikap seperti biasa karena aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku lagi." Jongin melambaikan tanganya dan sebuah taksi berhenti di dekat mereka, gadis itu membuka pintu taksi, dan masuk dengan anggunnya.
Dalam hitungan detik Jongin sudah menghilang dan Sehun masih termenung. Apa yang terjadi? Jongin menerima tawarannya? Tapi Jongin membiarkan Sehun memakaikan cincin itu dijarinya sekali lagi.
Ya, Jongin menerimanya.
Sehun bersorak, entah mengapa hal ini menjadi hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya saat ini.
Apa arti Jongin untuknya?
Apapun itu Sehun cukup puas karena Jongin tidak benar-benar bermaksud menjauh darinya.
.
.
~ Happy Reading ~
.
.
Bab 21
Every Changing is Distrubbing
.
.
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dan sampai sekarang Jongin bersikap sangat biasa. Ia berusaha untuk tidak begitu sering berinteraksi dengan Sehun kecuali hal itu benar-benar di butuhkan.
Sebisa mungkin Jongin juga menolak setiap kali Sehun ingin mengantarnya ke kantor atau menjemputnya pulang. Tapi Jongin sama sekali tidak bisa menolak jika Sehun berkunjung ke flatnya kecuali saat Baekhyun tidak berada di rumah.
Entah karena hal itu atau bukan, Jongin merasa selera makanya berkurang dan seringkali tidak bersemangat.
Melihat Sehun belakangan ini membuatnya terus terbayang-banyang saat-saat mereka bermesraan, semua adegan itu bermain dengan begitu jelas di kepalanya. Dengan kata lain Jongin merasakan sebuah gairah yang luar biasa dan dirinya harus mederita karenanya.
"Mana mungkin bisa seperti itu tanpa sebab." Ujar Baekhyun saat Jongin bercerita kepadanya mengenai keluhan yang sangat mengganggu.
Hari ini adalah hari minggu dan keduanya sedang tidak bekerja. Mereka baru saja selesai membersihkan flat dan Baekhyun harus mengeluh karena Jongin juga selalu mengeluh kelelahan sehingga menyebabkan pekerjaan mereka jadi lambat.
"Tapi bukan hal yang aneh kalau kau merindukannya. Pengalaman pertamamu sangat luar biasa kan? Karena itu berhentilah untuk berpura-pura tidak peduli padanya. Oppa selalu mengeluh karena dirimu selalu menganggap keberadaanya tidak begitu penting belakangan ini."
"Aku harus begitu untuk menjaga diri." Jongin memijat-mijat lenganya yang terasa sangat lelah.
"Aku ini kenapa? Badanku terlalu mudah untuk merasa lelah. Baekhyun, kau dokter, kan? Seharusnya kau bisa membantuku. Semua obat-obatan dirumah ini sama sekali tidak memberikan efek apa-apa."
"U-huh? Kau fikir aku ini dokter umum? Aku tidak bisa menyembuhkan keluhanmu itu kecuali kalau kau sedang hamil." Baekhyun tertawa, tapi kemudian tawanya sirna karena dirinya sedang terkenang sesuatu.
"Tunggu dulu. Jongin kau tidak sedang hamil kan?"
"Apa? Mana mungkin? Aku sama sekali tidak muntah-muntah kan?"
"Tapi semua ciri-cirinya ada. Kau sangat gampang lelah, tidak suka bau daging padahal daging adalah makanan yang sangat kau sukai. Tidak semua wanita hamil mengalami morning sick yang mengharuskan mereka untuk muntah-muntah."
"Mana mungkin itu terjadi, aku masih menstruasi beberapa hari setelah malam itu." Jongin menggumam dengan suara lemah. Tapi setelah itu Ia tidak mengalami haid lagi sampai sekarang, bulan kedua sudah hampir berakhir.
"Mana mungkin."
"Mana mungkin apanya? Haidmu saat itu cuma berlangsung tiga hari dan sangat sedikit. Aku kira saat itu kau cuma sedang stress, tapi dua minggu setelah itu kau mengaku kalau payudaramu sakit. Aish. Sekarang bagaimana?" Baekhyun kelihatan bingung bahkan Ia lebih bingung di bandingkan Jongin yang mengalaminya.
Secepat mugkin Baekhyun berusaha masuk ke kamarnya dan keluar dengan beberapa peralatan yang asing. "Sekarang kita lakukan tes, sudah dua bulan seharusnya tidak ada keraguan terhadap hasilnya."
"Dengan semua alat aneh ini?" Jongin mendesah. "Test pack saja. Biar ku lakukan sendiri."
Dengan berat hati Baekhyun meraih test pack yang juga berada dalam tas kerjanya dan memberikannya kepada Jongin. Baekhyun khawatir, tentu saja. Gadis itu bukan orang asli Eropa meskipun Jongin memiliki darah Eropa. Kim Jongin dididik dengan cara timur, dan hal seperti ini bisa membuat Eommanya jantungan.
Baekhyun khawatir karena Kim Jongin harus mendapat cobaan seberat ini sebagai akibat dari pengalaman seks pertamanya dengan laki-laki paling brengsek sedunia.
Astaga, bagaimana Jongin bisa menjalani semuanya sendiri kalau Ia benar-benar sedang hamil? Tunggu dulu, semoga hasilnya negatif. Negatif, negatif, negatif, negatif…
Jongin membuka pintu kamar mandi dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya.
Apa hasilnya? Pasti negatif, meskipun belum pasti Baekhyun merasa lega.
"Bagaimana hasilnya?"
Jongin angkat bahu. "Sepertinya positif."
"Astaga. Sekarang kau harus bagaimana? Kau harus mengatakan hal ini kepada Oppa dan memaksanya bertanggungjawab secepatnya. Usia kandunganmu sudah dua bulan, sebulan berikutnya perutmu sudah membesar."
Jongin termenung. Bagaimana perasaanya sekarang? Tidak sedih, tidak juga senang. Semuanya terasa kosong dan hampa. Sekarang apa yang harus di lakukanya?
Benarkah dirinya harus mengatakan semuanya kepada Oh Sehun? Kalau harus mengikuti kata hati, Ia sesungguhnya sangat ingin segera menemui lak-laki itu dan memohon pertanggungjawabanya.
Tapi Oh Sehun bukan orang yang suka dengan komitmen dan kehadiran seorang anak akan mengancam prinsipnya.
Jongin harus menyembunyikan perasaanya selama ini karena tidak ingin berada jauh dari Sehun. Sepertinya hal ini harus disembunyikan juga, Sehun akan benar-benar menjauhinya kalau mengetahui kehamilannya.
"Cepat telpon dia." Baekhyun menyodorkan ponselnya.
"Tidak. Aku harap kau bisa membantuku merahasiakan semuanya. Aku tidak ingin ada seorangpun yang tau tentang ini. Siapapun kecuali dirimu. Soal kehamilanku, aku akan cari jalan keluarnya."
"Tunggu dulu, kau akan menggugurkanya?"
Jongin terdiam lama. Menggugurkanya? Ia bahkan tidak terpikir untuk melakukan hal seperti itu? Apakah menggugurkan kandungannya adalah ide yang bagus?
Jongin tidak mungkin melakukan hal yang bodoh untuk saat ini. Yang pasti di lakukannya dalam waktu dekat adalah memastikan kehamilannya sekali lagi untuk meyakinkan apa yang harus di lakukanya setelah ini.
.
.
Bab 22
Best Advisor is Mark.
.
.
Jongin berjalan di sepanjang koridor rumah sakit lalu masuk kesebuah ruangan dokter.
Ternyata semuanya sama sekali bukan mimpi belaka, sebuah janin sedang berusaha untuk terus tumbuh dalam rahimnya dan itu sangat mengejutkan sekali. Dua bulan terlalu cepat untuk USG, tapi Ia sudah mencobanya.
Dokter Mark yang menyarankannya untuk melihat janinnya saat Jongin mengatakan keinginannya untuk menggugurkan kandungannya.
Satu minggu yang lalu setelah USG itu, Jongin terus memikirkan ulang niatnya untuk menggugurkan kandungannya dan akhirnya pilihannya jatuh kepada niat untuk melahirkannya.
"Walau bagaimanapun, pilihanmu untuk melahirkannya adalah pilihan yang paling bijaksana. Walaupun dirimu belum siap, tapi tidak ada alasan yang tepat untukmu menggugurkannya. Jujur sekali aku sangat kecewa saat kau mengatakan kalau kau memiliki keinginan untuk menggugurkannya. Usiamu memang masih muda, tapi percayalah usiamu itu adalah usia yang tepat untuk melahirkan bayi yang sehat." Dokter Mark kembali menceramahinya.
Laki-laki ini adalah dokter yang di sarankan oleh Baekhyun untuk memeriksanya dan selama dirumah sakit ini, Baekhyun selalu bertindak sebagai asistennya.
"Aku menanyakan masalahmu kepada Baekhyun tapi Ia tidak mau mengatakannya, apakah kau mau bercerita tentang alasanmu untuk menghilangkan calon bayimu minggu lalu?"
"Mungkin alasannya terlalu sepele, tidak ada yang akan bertanggung jawab terhadap anak ini." Jongin tertawa getir.
Dokter Mark terkekeh. Pria itu membuat Jongin merasakan kembali kehadiran seorang Appa meskipun dokter Mark mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dibandingkan dengan Jongjun kakak sulungnya.
"Memang sangat sepele untuk seorang wanita brilian sepertimu." Katanya. "Kau sudah bukan anak kecil lagi untuk melakukan perbuatan yang sangat disayangkan seperti menggugurkan kandungan. Sedangkan diluar sana, tidak sedikit orang yang siap melakukan berbagai cara dengan harapan dirinya bisa memiliki buah hati."
"Aku sangat khawatir. Aku sangat meragukan Appanya, orang tuaku juga pasti tidak bisa menerima begitu saja jika tau kalau Appanya tidak akan mau bertanggung jawab. Jadi kufikir, aku harus memilih antara anak ini dan keluargaku, makanya aku memilih menyingkirkannya selagi belum terlambat. Tapi melihatnya kemarin tiba-tiba saja aku merasa sangat jahat." Jongin menunduk.
Memilih untuk melahirkan janin yang dikandungnya adalah hal yang sangat sulit untuknya. Semalaman Jongin bahkan memandangi buku tabunganya dan berfikir akan dibawa kemana calon anaknya ini.
"Aku akan terus berusaha menyembunyikannya karena akan sangat banyak yang menentangnya. Tapi aku akan tetap berusaha untuk melahirkannya."
Kali ini sebuah senyum penuh kasih terulas di bibir dokter Mark, Ia memandang Jongin dengan iba. "Kelak, kalau kau sudah sangat kesulitan untuk menyembunyikannya, kau bisa ikut aku ke Dalas, istriku pasti senang kalau kau ikut dengan kami."
"Tentu saja, pada akhirnya aku akan mencarimu untuk membantu." Jongin tersenyum nakal membuat seluruh rasa kasihan yang di rasakan dokter Mark sirna begitu saja.
Jongin memang bukan seseorang yang suka menyimpan beban dihatinya berlama-lama.
"Kapan kau akan pindah, ku dengar dari Baekhyun-"
"Secepatnya, Baekhyun akan dipromosikan untuk menggantikanku. Tapi aku pastikan sebelum aku berangkat, kau harus sudah melewati trimester pertamamu dengan baik. Kapan-kapan berkunjunglah ke flatku, istriku sangat antusias mendengar cerita tentang dirimu."
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu." Jongin berdiri dari tempat duduknya dengan hati-hati, Ia selalu berusaha untuk tidak sembarangan lagi dalam setiap gerakannya karena didalam dirinya sudah ada sesuatu yang sangat berharga. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaganya.
Sebelum membuka pintu, Jongin memandangi Dokter Mark lagi dengan tatapan ragu. "Dokter, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja."
"Ini agak memalukan, tapi gairahku sangat menggebu-gebu selama kehamilanku. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan pada saat bercinta yang mengakibatkan kehamilanku yang sekarang. Apakah hal itu normal?"
"Ya, sangat normal. Biasanya hal seperti itu sangat mengganggu pada trimester awal karena semua gejala kehamilan yang menyakitkan, tapi karena gejala yang kau tunjukkan tidak semenderita wanita hamil lainnya aku rasa gairah yang menggebu-gebu bukan masalah yang signifikan selagi kau tau bagaimana cara mengatasinya. Untuk lebih lanjutnya, akan lebih baik bila kau bertanya pada Baekhyun sebagai sesama wanita."
Jongin mengangguk mengerti. "Terimakasih, Dokter."
"Jaga Kandunganmu."
"Baiklah." Jongin membuka pintu ruang dokter dan hampir saja keluar saat Mark memanggil namanya.
"Jongin, hentikan ke biasaanmu menggunakan high heels, untuk berjaga-jaga saja karena kandunganmu tidak begitu kuat."
Untuk kesekian kalinya Jongin mengucapkan terima kasih. Sangat banyak terimakasih untuk Mark yang bukan hanya memeriksa kandunganya, tapi juga menyadarkannya betapa pentingnya untuk anak itu tetap bertahan hingga Ia dilahirkan, menyadarkan kalau Jongin seharusnya bahagia menjadi seorang Eomma sedangkan tidak sedikit orang diluar sana tidak bisa merasakan hal yang sama.
Ia membungkuk sebagai penghormatan yang biasa dilakukannya dan akhinya benar-benar keluar dari tempat itu. Kembali menyusuri loridor rumah sakit seorang diri dengan langkah pelan membuat Jongin membayangkan betapa bahagianya bila Sehun menemaninya. Betapa bahagianya bila rasa ketakutan dan kebingungan yang dirasakannya menemukan tempat untuk berbagi.
Tapi Jongin tidak mendapatkan itu dari Appa janin yang di kandungnya dan dirinya sama sekali tidak boleh kecewa. Semua ini adalah pilihannya, pilihan untuk tidak memberi tahu Sehun keadaan yang sebenarnya karena Sehun pasti akan pergi jauh-jauh darinya.
Atau lebih buruk lagi, Laki-laki itu mungkin akan memaksanya untuk menggugurkan kandungannya.
Jongin tau dalam waktu dua atau tiga bulan lagi perut besarnya tidak bisa disembunyikan, maka mulai saat ini sampai hari itu tiba Ia akan berusaha menikmati keberadaan Sehun disampingnya. Meskipun begitu Ia tidak akan membiarkan Sehun menyentuhnya meskipun Jongin sangat menginginkanya.
"Kau sedang apa disini?"
Jongin terbelalak, Oh Sehun berdiri dihadapannya secara mendadak, kedatangannya sangat tidak bisa diduga dan ini cukup membuat gadis itu kehabisan kata-kata.
"Aku? Baru mengunjungi Baekhyun, Ia meninggalkan sesuatu dan aku harus mengantarkannya. Kau sendiri sedang apa disini?"
"Menjenguk seseorang. Karena ini rumah sakit." Sehun tersenyum.
Ya, ini adalah rumah sakit dan orang bisa datang kemari dengan berbagai alasan. Apa yang sedang Jongin fikirkan sehingga dalam otaknya semua orang yang datang kemari dengan tujuan yang sama dengannya.
"Oke, baiklah. Sampai jumpa kalau begitu."
"Tunggu dulu." Sehun mengagkat kedua tangannya ke depan dada saat melihat Jongin hendak melangkah. "Kau mau kemana lagi setelah ini?"
"Aku mau, belanja?" Jongin kemudian mengangkat bahunya karena Ia sendiri sedang meragukan tujuannya. Mungkin Ia hanya ingin pergi membeli sepatu yang bisa membuatnya merasa nyaman untuk menggantikan high heelnya. Yang pasti Ia ingin pulang dan segera beristirahat untuk besok.
"Mau ku antar? Aku sudah selesai menjenguk temanku jadi ku fikir, tidak ada salahnya jika kita pergi bersama."
Tentu saja. Jongin berteriak dalam hati. Dirinya sangat ingin bersama dengan Sehun tapi egonya melarang. Sehun boleh berada didekatnya tapi hanya sebagai orang yang biasa, cukup untuk sekedar bisa dilihat sebelum Ia pergi bersembunyi. Jongin tidak akan membiarkan dirinya hanya berdua dengan laki-laki itu karena terakhir kali Ia melakukannya, Ia mendapatkan akibat yang cukup membuat dadanya sesak.
"Aku bisa pergi sendiri. Sampai jumpa."
"Aku juga perlu membicarakan sesuatu denganmu."
"Sekarang aku sedang tidak ingin di ganggu. Bagaimana dengan besok malam? Kau boleh datang ke flatku besok."
"Aku tidak yakin." Sehun terlihat sedih. "Minggu depan adalah natal dan aku ingin mengajakmu ke Korea. Eommaku memintaku untuk pulang dan membawamu kesana. Bisakah kau ikut?"
"Kau tidak akan memaksaku kan?"
Sehun menggeleng. Bagaimana bisa Ia memaksa Jongin seperti sebelumnya sedangkan Jongin selalu menjaga jarak dengan dirinya. Sehun selalu berusaha mendekatinya dengan susah payah, Ia merindukan Jongin dengan sangat dan kerinduan itu sepertinya tidak akan terlarung dalam waktu dekat ini.
"Aku hanya berharap kau bisa ikut bersamaku. Kau dan aku bertunangan kan?"
"Ya, sampai aku menemukan orang lain untuk menggantikanmu." Jongin mendesah. "Aku tidak bisa. Aku juga punya keluarga disini, kapan kau akan berangkat?"
"Besok pagi, bersama Chanyeol."
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa lagi tahun depan, Marry cristmas." Jongin meninggalkan Sehun sambil melambaikan tangannya.
"Aku harap kau segera berubah fikiran." Bisik Sehun lirih.
Selalu ada perasaan yang seperti ini setiap kali Jongin bertindak seakan-akan Ia sedang tidak peduli. Sehun tidak mengerti kesalahan seperti apa yang sudah dilakukannya. Semenjak kejadian itu, Jongin bersikap antipati meskipun tidak seratus persen.
.
.
Bab 23
Good Bye Days
.
.
Jongin bersandar didinding yang berada diantara pintu flatnya dan flat Sehun. Tangannya menenteng sebuah tas kertas ukuran kecil berwarna biru langit.
Ia sedang menunggu Sehun pulang dan seharusnya sekarang laki-laki itu sudah berada di flatnya bila besok pagi dirinya benar-benar akan pergi.
Suara langkah demi langkah menaiki anak tangga membuat jantung Jongin berdetak dalam ritme yang sangat cepat. Ia tau itu adalah Sehun, Jongin bisa melihat kepalanya dan perlahan-lahan semakin menjelas, wajah, leher, dada, pinggang, dan kaki. Oh Sehun sudah berada di hadapannya sekarang.
Wajahnya yang semula terlihat lesu menjadi bersemangat saat melihat Jongin berada di hadapannya.
"Kau sedang apa disini?" Tanya Sehun antusias.
"Besok jadi berangkat?"
"Kau mau ikut? Apakah kau berubah fikiran?"
Jongin menggeleng. Ia telihat manis dengan gaun tidurnya dan Ia memakainya untuk Sehun karena Sehun tidak akan pernah melihatnya seperti ini lagi. Begitu Sehun pulang setelah tahun baru, maka waktu mereka bertemu hanya tersisa beberapa minggu. Setelah trimester pertama kehamilannya berlalu, Ia akan ikut keluarga dokter Mark ke Dalas, setidaknya sampai bayinya lahir.
Semuanya sudah difikirkannya masak-masak. Dan disisa-sisa pertemuan mereka, Jongin akan sangat sibuk meskipun hanya untuk menggunakan gaun tidur.
Jongin memang tidak mungkin menggunakannya lagi karena perutnya akan membesar. Gadis itu menyentuh perutnya, untuk sekarang penampilannya belum banyak berubah tapi Ia tidak akan menjamin ini akan terus bertahan sampai tahun baru.
"Aku minta maaf, tidak bisa memberi jawaban yang positif. Aku mau menitipkan ini untuk Appa dan Eommamu" Jongin memberikan tas kertas yang berada digenggamannya kepada Sehun.
Sehun meraihnya dan melihat isinya. "Biskuit. Kau buat sendiri?"
Jongin mengangguk. "Sore ini aku berusaha membuatnya. Sampaikan salamku kepada mereka, katakan kepada orang tuamu aku sudah menganggap mereka sebagai orang tuaku sendiri. Aku juga minta maaf tidak bisa mengunjungi mereka lagi."
"Tidak, jangan begitu. Mereka pasti bisa mengerti. Lalu apakah kau membuatkannya juga untukku?"
"Tentu saja, juga ada disana." Jongin tersenyum. "Aku masuk dulu."
"Kau tidak ingin mengobrol lebih lama? Masuklah ke flatku."
Jongin menggeleng sambil mengucapkan maaf. Sejurus kemudian Ia berbalik dan meninggalkan Sehun seorang diri.
Sehun nyaris saja terjatuh lemas dilantai. Kenapa interaksi mereka menjadi sekaku ini?
Jongin tadi sangat cantik dan alangkah indahnya bila dengan kecantikanya Jongin bisa menemaninya semalaman ini. Andai saja Jongin bisa ikut dengannya ke Seoul.
Sehun membuka pintu dan masuk ke flatnya dengan perasaan kecewa. Sedangkan Jongin, perlahan-lahan Ia membuka pintu lagi dan memastikan bahwa Sehun benar-benar masuk ke flatnya.
Setelah memastikannya, Ia kembali masuk kedalam flatnya dan bersandar dibalik pintu sambil memegangi perutnya. Ia sangat merindukan Sehun dan itu nyaris saja tidak bisa dibendung lagi. Perasaan yang bisa saja semakin kuat karena Sehun akan benar-benar jauh dari pandangan matanya selama dua minggu atau lebih.
Seandainya bisa, Ia sangat ingin berada didalam flat Sehun dan memeluknya, meciumnya-
"Mau sampai kapan kau disana?" Baekhyun berteriak dari ruang tengah sambil memandangnya.
Gadis itu meletakkan segelas susu diatas meja. Jongin berjalan perlahan mendekati Baekhyun yang kembali sibuk dengan televisi. Untuk seorang dokter, Baekhyun terlalu santai dan Ia selalu menghabiskan waktu senggangnya untuk menghibur diri, sangat berbanding terbalik dengan Jongin yang selalu membawa pekerjaan kerumah.
"Ini susu untukmu. Mulai malam ini rajin-rajinlah minum susu ini untuk kesehatanmu dan juga calon bayimu itu. Kalau aku tidak ada, kau bisa buat sendiri kan? Aturan pakai bisa kau baca di kalengnya dan kaleng itu aku letakkan dilemari dapur."
Jongin mengangguk. Ia mengambil gelas dan meminumnya pelan-pelan. Memang cukup memakan waktu, tapi Jongin bisa menghabiskannya. Hal yang terbilang luar biasa untuk seseorang yang tidak begitu menyukai susu.
"Wah, kalau begini berat badanku dengan gampangnya bisa naik."
"Kalau berat badanmu tidak naik itu artinya bahaya. Seorang Eomma harus memaklumi peningkatan berat badan yang akan terus bertambah sesuai dengan usia kandungannya." Gumam Baekhyun.
"Kau tadi berbicara dengan Oppa? Kenapa tidak kau katakan saja kepadanya kalau kau sedang hamil?"
"Percuma. Ia tidak akan peduli. Begitu Ia tau aku sedang mengandung, Ia akan pergi meninggalkanku."
"Karena itu kau berfikir untuk meninggalkannya lebih dulu? Bagaimana dengan Eommamu? Keluargamu? Pekerjaanmu?"
Jongin menghela nafas. "Semuanya akan ku tinggalkan. Keluargaku, kurasa tidak akan ku beri tau sampai anakku cukup kuat untuk kubawa kembali ke London. Kalau aku datang kesana dalam keadaan hamil, Eommaku pasti memaksaku untuk menggugurkannya. Aku sudah bilang kepada mereka kalau aku akan melakukan perjalanan kerja ke Dalas. Soal pekerjaan, aku masih memikirkannya."
Baekhyun mematikan televisinya lalu memandang Jongin dengan pandangan yang sangat iba. Gadis itu tidak pernah suka menunjukkan kesedihannya, Baekhyun tidak pernah melihat Jongin bersedih kecuali hari itu saat dirinya pulang kerumah dan menangis sampai pagi. Kejadian itu bahkan lebih memilukan bila di bandingkan dengan saat-saat Ia tau kalau ada sebuah nyawa dalam perutnya.
"Coba ceritakan padaku. Kau mencintai Sehun?"
Jongin angkat bahu. "Aku kira aku memang menyukainya, tapi tidak cukup kuat untuk dinamai cinta."
"Lalu kenapa kau menangis pada malam kalian bercinta? Setidaknya kau bercinta dengan orang yang kau suka, seharusnya itu bukanlah hal yang menyedihkan."
"Aku bahagia, demi Tuhan. Pada awalnya aku sangat bahagia, aku berusaha melakukan yang terbaik meskipun saat itu aku kesakitan dan dalam keadaan tidak sehat. Tapi ada satu hal yang membuatku kecewa, Ia memintaku meminum kapsul, sejenis obat perangsang. Pada awalnya aku melakukannya karena ku fikir, Ia hanya takut aku jatuh sakit atau malah pingsan saat Ia sedang menikmati semuanya. Tapi saat Ia memintaku melakukannya lagi untuk yang kedua kalinya, rasa kecewa muncul. Semalaman, aku mengira kalau Ia benar-benar menginginkanku, tapi saat itu semuanya runtuh, sangat sakit saat menyadari hanya tubuhnya yang menginginkan aku."
"Kau yakin akan melahirkan anaknya? Anak itu pada akhirnya akan selalu mengingatkanmu kepada Appanya."
"Aku juga berfikir begitu. Kekecewaanku karena menyadari hanya tubuhnya yang menginginkan aku, juga hanya tubuhku yang menarik untuknya membuatku melawan kata hati untuk berdekatan dengannya, aku selalu menjauhinya tanpa sadar dan aku juga takut itu akan terjadi kepada anaknya. Aku takut kalau nantinya kekecewaan kepada Appanya berlanjut dan membuat bayiku menderita karena tersakiti oleh Eommanya sendiri. Tapi hari itu, saat Mark menyarankan aku untuk melihat bayiku, saat aku bisa memandangnya meskipun hanya gumpalan belaka, aku merasa Ia hidup. Setiap aku menyentuh perutku, aku merasa Ia begerak." Jongin menitikkan air mata, Ia tau kalau ucapannya terdengar sangat mengada-ngada.
Janin itu tidak mungkin bergerak di usia kandungan yang baru dua bulan. Tapi Ia benar-benar merasakannya, benar benar merasakan keharuan seorang Eomma karena ada keajaiban tumbuh dalam dirinya.
Baekhyun menghapus air mata Jongin dengan lembut. Jongin tidak sedang bersedih, gadis itu sedang bahagia dan Baekhyun juga sangat bahagia mendengar ucapannya.
"Dia adalah hadiah natal untukmu. Karena kau sudah bersikap sebagai anak yang baik selama ini."
"Ya, hadiah yang sangat luar biasa." Jongin menyentuh perutnya kembali dan membelainya lembut.
"Kau akan datang ke Dalas untuk menjengukku, kan?"
"Pasti. Aku akan ada disaat kelahirannya. Anak pertamamu, hanya aku yang boleh menyambutnya, aku akan mengucapkan 'welcome dear' kepadanya. Suaraku adalah satu-satunya suara pertama yang boleh didengarnya."
"Oke, Baiklah kalau begitu." Jongin menyeka pipinya lagi meskipun Baekhyun sudah menghapus airmatanya. Ia hanya memastikan bahwa wajahnya tidak basah.
"Sekarang kau harus tidur. Tidak ada lagi kata bergadang karena itu bisa mengganggu kesehatan bayimu. Kalau tidak kau lakukan sekarang, aku pastikan insomnia akan mengganggumu selama berbulan-bulan kedepan."
.
.
Bab 24
Sweet Biscuit, Sweet Expectation
.
.
Sehun menanti dengan sabar pengumuman keberangkatan pesawat yang akan di tumpanginya sampai ke Korea. Lagi-lagi Ia berharap kalau Jongin hadir utuk menyertainya menemui keluarga besarnya di Busan.
Ia mengambil sebuah kotak plastik berwarna merah dengan tulisan Marry Cristmas diiringi dengan namanya, Oh Sehun.
Natal masih beberapa hari lagi, tapi Sehun sudah sangat tidak sabar untuk membukanya. Ia menarik pita merah yang mengikat kuat lalu membuka tutupnya. Beberapa buah biskuit coklat berbentuk kaki-kaki bayi membuat Sehun tersenyum kecut. Ia tidak akan tega untuk menyantap ini.
"Astaga, lucunya." Chanyeol ikut memandangi biskuit itu dengan senyum gemas. "Ini apa?"
"Biskuit natal dari Jongin."
"Dia membuat ini? Ia seperti sedang mengatakan kepadamu kalau seorang bayi lucu akan menyatukan kalian berdua."
Sehun tidak yakin. Seorang bayi kecil? "Dia bahkan selalu menjauh dariku. Bagaimana mungkin kami bisa punya bayi kecil?"
"Siapa yang mengatakan kalau itu bayi kalian. Bodoh." Ujar Chanyeol kesal.
"Katakan padaku, apakah kau dan Ia sudah melakukan sesuatu? Kenapa Ia bisa berfikir seperti ini?"
"Kau ingin tau? Kau jangan cemburu ya? Aku sudah bercinta dengannya dan malam itu akan jadi malam yang tidak terlupakan seumur hidupku."
Chanyeol tercekat. Kapan? Kenapa Jongin tidak pernah bercerita apaapa? Gadis itu bahkan tidak pernah menunjukkan keanehan apa-apa selama di kantor. Ia kecewa, tapi Jongin mungkin tidak merasa kecewa dengan itu. Buktinya Kim Jongin tidak pernah menganggap itu sebagai masalah dan tidak menceritakan masalah itu kepadanya.
"Benarkah? Apa ada kemungkinan Ia hamil waktu itu?"
Sehun angkat bahu. "Aku tidak menggunakan kontrasepsi dan malam itu kami mengulanginya berkali-kali. Saat itu aku berharap tidak terjadi apa-apa dengannya. Beberapa hari kemudian Ia bilang kalau dirinya tidak mungkin hamil karena Jongin datang bulan dan aku lega. Tapi sekarang aku menyesali itu, seandainya bisa aku ingin Ia tidak pernah datang bulan dan benar-benar mengandung anakku. Tapi sejak malam itu, Ia bahkan tidak suka berbicara lama denganku."
"Dia kecewa?"
"Chanyeol, Ia bahkan tidak memperlihatkan kekecewaan apa-apa. Ia bertindak seolah-olah sudah bosan dengan keberadaanku, bosan melihatku, bosan mendengar suaraku."
"Kalau begitu kenapa Ia tidak memutuskan pertunangan kalian saja? Kau terlalu pesimis."
"Aku belum menceritakannya padamu?"
Chanyeol tersentak, megatakan apa?
"Kim Jongin sudah memutuskan pertunangannya denganku, tapi aku menolak. Ia menerima penolakanku dan mengikuti ideku untuk tetap bertunangan agar Ia tidak perlu takut menjalani miai dan agar aku tidak perlu menjalin komitmen dengan siapa-siapa. Tapi pertunangan itu akan putus jika Ia menemukan laki-laki lain. Itu katanya."
Chanyeol memegang kepalanya. Ternyata Ia sangat banyak ketinggalan berita dan tidak ada seorangpun di antara keduanya yang menceritakan hal itu kepadanya? Chanyeol sangat kecewa benar-benar kecewa.
"Lalu apa yang terjadi bila seandainya, Jongin memang benar-benar mengandung bayimu? Tadi kau bilang dirimu sangat berharap kalau memang terjadi sesuatu padanya setelah malam itu kan?"
Sehun mematung. Apa yang akan Ia lakukan? Mengapa Sehun mengatakan hal seperti itu?
"Entahlah, Lupakan saja kata-kataku yang itu. Kalaupun Ia memang sedang mengandung anakku, aku tidak akan tau harus melakukan hal yang seperti apa. Aku belum siap."
.
.
Bab 25
Fish 'n Chips, Saint James, Oh Sehun and Park Chanyeol
.
.
Seharusnya Sehun sudah kembali dari Korea, tapi Chanyeol yang datang lebih dulu dan mengatakan kalau Sehun memperpanjang liburnya beberapa hari lagi.
Jongin berusaha untuk tidak kecewa meskipun pada kenyataanya Ia sangat kecewa karena Sehun mengurangi frekwensi pertemuan mereka. Tapi Sehun tidak bisa disalahkan karena Ia sama sekali tidak tau apa-apa.
Dalam beberapa hari ini, Jongin akan segera mengajukkan surat pengunduran diri karena Ia akan segera pergi. Tuan Tatou juga sudah mengetahui rencananya beberapa hari yang lalu dan masih tidak menyetujui keinginannya hingga sekarang, bosnya itu malah lebih setuju untuk memberikan waktu istirahat yang cukup selama sebulan.
Seandainya sebulan saja cukup, Jongin tidak akan meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya itu. Tapi muncul kembali setelah satu bulan dengan perut yang membesar malah akan memancing keributan.
Jongin mendesah, seandainya tuan Tatou masih ngotot untuk menolak pengunduran dirinya, Ia akan memilih untuk melarikan diri tanpa kabar apa-apa.
Belakangan Jongin bahkan praktis tidak pernah berlari dan berjalan cepat seperti yang biasa di lakukannya. Sebisa mungkin Ia menghindari gerakan-gerakan berbahaya, melepaskan high heels yang sangat disukainya dan juga berhenti menggunakan padu padan Camisole dan blazer, Jongin lebih suka menggunakan kemeja untuk pegi bekerja dan kemeja itu dibiarkan keluar untuk menyembunyikan sesuatu dimana hanya segelintir orang yang mengetahuinya.
Jam makan siang sudah lama lewat, tapi jam pulang kerja juga belum datang. Kantor sudah sangat membosankan dan melelahkan untuk hari ini, terlebih setelah mendapat penolakan dari tuan Tatou untuk kedua kalinya. Rasanya ingin lari saja dan tidak datang lagi.
Jongin berdehem, Ia pasti akan melakukannya cepat atau lambat.
"Kau sedang menghitung langkah? Kenapa jalanmu lamban sekali belakangan ini?" Chanyeol mensejajarkan diri dengan Jongin, Ia berhasil membuat Jongin tersenyum karena berusaha mengikuti langkahlangkah lambatnya.
"Aku sedang ada masalah, jadi harus jaga kesehatan."
"Kau sedang sakit?"
"Sakit?" Jongin tidak yakin. Ia sangat bahagia dengan semua yang didapatnya meskipun Baekhyun selalu menganggapnya menyembunyikan tekanan-tekanan yang mungkin dimilikinya.
Tapi Ia juga tidak bisa di bilang sehat karena kehamilannya membuat tubuhnya lebih lemah dan sangat mudah merasa lelah. "Mungkin seperti itulah. Aku mudah lelah, jadi Mark melarangku untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat."
"Mark? Siapa Mark?"
"Kau fikir siapa lagi orang yang bisa mengatur tindakanku kecuali dokter? Mark adalah dokter yang selalu peduli denganku."
"Sepeduli apa? Hati-hati dengan laki-laki. Ia berbuat baik bisa jadi karena ada maunya. Mungkin Ia menyukaimu?"
Jongin tertawa. Jelas saja Mark tidak begitu, Mark hanya hidup berdua dengan istrinya dan istrinya juga sama baiknya dengan laki-laki itu. Beberapa kali, Jongin berkunjung ke tempat tinggalnya di Waterloo. Mark peduli pada Jongin karena Ia sedang mengkonselingi seorang Eomma muda yang pernah memiliki keinginan besar untuk menyingkirkan janin dalam kandungannya. Sedangkan istrinya belum juga dikaruniai seorang anak setelah lima belas tahun menikah.
"Dia sudah berkeluarga. Jadi jangan mengatakan hal buruk tentangnya. Aku akan membencimu dengan mudah." Kali ini giliran Chanyeol yang tertawa.
"Kau mau kemana? Ada janji dengan Klien?"
"Aku mau membeli fish 'n chips lalu berjalan santai di saint James Park."
"Kau mau bolos kerja? Sekarang bukan jam pulang kantor."
"Kau mau ikut?" Jongin menghentikan langkahnya. Lalu memutar wajahnya menghadap Chanyeol yang tampak sedang memikirkan tawaran Jongin.
"Aku akan mentraktirmu fish 'n chips. Kita sudah lama tidak ngobrol."
Chanyeol memandangi jam tangannya lama, lalu mengangkat wajahnya. "Baiklah. Tapi aku tidak bisa lama menemanimu. Kalau begitu kau tunggu disini, aku akan jemput mobilku."
"Jalan kaki saja."
"Apa?"
"Jalan kaki. Saint James tidak jauh kan? Kita bisa jalan kaki dengan santai menuju kesana."
"Tapi katanya Mark melarangmu mengerjakan hal yang beratberat."
"Iya, Mark juga tidak melarangku untuk olah raga, Ia menyaranku jalan kaki sebagai pilihan olahraga yang harus ku jalani. Kau tau, kan? Aku ini tidak suka olah raga."
"Baiklah." Chanyeol menyetujuinya. Ia agak kecewa karena tidak bisa menggunakan mobil. Tapi setidaknya bisa memiliki kesempatan yang cukup untuk menemani Jongin sudah membuatnya gembira.
Sepanjang perjalanan menuju Saint James, Chanyeol tidak henti-hentinya tertawa melihat kelakuan anehnya, Jongin berubah menjadi seorang yang periang dan keceriaanya merasuki siapa saja yang ada disekitarnya.
Bahkan gadis itu beberapa kali menyapa Ibu-ibu yang membawa anaknya jalan-jalan. Ia sedang menyukai anak-anak.
"Kau ingin punya anak?" Tanya Chanyeol. "Kau senang sekali melihat anak kecil."
"Perempuan mana yang tidak ingin memiliki anak?"
"Kau akan punya anak dari Sehun."
Chanyeol berhenti bergerak saat Jongin menghentikan langkahnya dan memandang Chanyeol heran. Chanyeol terkejut dengan reaksi yang di berikannya. "Kenapa? Ada yang salah dengan kata-kataku?"
Jongin menggeleng. "Kenapa kau tidak bilang kalau toko fish 'n chips sudah lewat? Kau tunggu disini, biar aku kembali lagi." Jongin berbalik berjalan menuju toko yang khusus menjual Fish 'n Chips yang tidak begitu jauh terlewat di belakang mereka.
Chanyeol hanya tersenyum. Semula Ia mengira Jongin terkejut mendengar kata-katanya tapi ternyata gadis itu lebih terkejut karena menyadari toko fish 'n chips sudah terlewati. Ia sangat ingin makan Fish 'n Chips? Bisik Chanyeol kepada dirinya sendiri.
Bunyi dering ponsel mengejutkan Chanyeol. Ia mengankat ponsel yang diraih dari saku jasnya, dari Sehun. "Yeoboseyo, ada apa?" Tanya Chanyeol galak.
"Kau kenapa? Aku mengganggu? Aku sedang berada di kantormu dan kau tidak ada. Kau kemana?"
"Aku sedang berkencan, makan Fish 'n Chips sambil mengelilingi Saint James Park dengan seorang gadis. Kau sangat mengganggu kencan romantisku."
Sehun tertawa keras. "Tinggalkan gadis itu, segeralah kesini. Aku mau masuk ke flatku dan kuncinya tergantung dikunci mobilmu, kan?"
"Tinggalkan?" Chanyeol mendesis. "Enak saja sembarangan bicara. Kau seperti tidak kenal Kim Jongin saja, Ia akan marah besar kalau aku melakukan hal gila seperti itu."
"Jongin? Maksudmu Venusku? Ia sedang bersamamu? Bagaimana bisa kau berkhianat dengan mengencani calon adik iparmu. Kau tunggu disana, aku akan menyusul." Sehun menutup telponnya.
Chanyeol tertawa. Ia tau kalau Sehun sangat ingin bertemu dengan Jongin, laki-laki itu bahkan melarang siapun menyentuh biskuit pemberian Jongin dan biskuit itu hanya akan dipandanginya selama seharian.
Kakak perempuannya mengeluhkan tingkah Sehun yang tak biasa tapi menyenangkan orang tuanya. Merindukan Jongin berarti mengharapkannya. Meskipun berat, Chanyeol juga senang melihat Sehun bahagia.
"Kau menertawakan apa?"
Chanyeol mengangkat kepalanya dan menatap Jongin yang menyodorkan sebungkus fish 'n chips kepadanya. Ia meraihnya dengan senang hati. "Tidak, bukan sesuatu yang penting. Kita akan makan ini sambil berjalan?"
Jongin menggeleng. "Aku sudah lelah, kalau kesana bagaimana?"
Chanyeol memandang lokasi yang di tunjuk oleh Jongin, sebuah tanah yang dipenuhi dengan salju putih yang mulai menipis. Hari ini cukup kering dan duduk diatas bangku taman itu mungkin akan lebih nyaman dibandingkan berjalan kaki diudara dingin.
Setelah memberi anggukan, Chanyeol mengikuti Jongin yang berjalan kearah yang di inginkannya dan duduk dibangku taman yang kosong. Mereka mulai membuka Fish 'n chipsnya dan Jongin makan dengan sangat lahap.
Ia menghabiskan Fish 'n chips miliknya dalam sekejap.
"Lihatlah, kau seperti orang yang sangat kelaparan." Suara Chanyeol terdengar agak mengejek.
Tapi sepertinya, Jongin tidak terpengaruh sama sekali. Ia mengusap mulutnya yang agak berminyak dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan bahagia. "Aku semalaman memikirkan ini. Duduk disini sambil makan fish 'n chips. Aku kira aku akan melakukannya sendirian. Terima kasih sudah mau menemani."
Chanyeol tersenyum lagi, lalu menyodorkan fish 'n chipsnya. "Kau mau lagi?"
"Tidak. Itu untukmu, makanlah. Aku tidak begitu suka fish 'n chips. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya makan fish 'n chips di tempat seperti ini."
"Kau tidak sedang merindukan Sehun kan?" Chanyeol mulai menyantap fish 'n chipsnya perlahan-lahan. "Aku tau kau sangat merindukannya, kenapa tidak temui saja dia?"
"Kenapa kau bilang begitu? Tidak ada hubungannya antara Saint James, fish 'n chips dan Oh Sehun."
"Memang. Tapi kau berusaha menghindari semua pembicaraan tentangnya. Beberapa hari ini, tadi juga saat kita melewati toko fish 'n chips. Kalian berdua kelihatannya saling menginginkan. Aku fikir aku akan cemburu, tapi ternyata tidak. Kalian berdua sangat serasi dan aku berharap kau tidak akan pernah memutuskan pertunangan kalian lagi."
Jongin mendesah wajahnya yang kemerahan mendadak kehilangan keceriaanya. "Bisakah kita tidak membicarakan hal-hal seperti itu? Aku fikir pembicaraan tentang musim semi yang akan segera datang lebih menarik."
"Baiklah, pembicaraan tentang musim semi yang seperti apa?"
"Jika aku ingin menyambut kedatangan musim semi di suatu tempat. Dimana tempat yang bagus ya? Udara musim semi konon bisa menghilangkan stress."
"Memangnya kau sedang stress?"
"Tidak, tapi siapa yang tau itu akan segera terjadi. Botany Bay bagus tidak? Musim semi di daerah pertanian pasti lebih indah."
"Bagaimana kalau di Costwold, disana juga ada pertanian kan? Kalau kau ingin liburan, disana pilihan yang tepat, sarana umum cukup lengkap jadi kalau kekurangan sesuatu, tidak perlu mencari terlalu jauh. Sewa vila di Dust Stable juga tidak begitu mahal. Tapi demi kepuasan mahal juga bukan masalah." Chanyeol menoleh tanpa sengaja kepada Jongin dan ternyata gadis itu sedang menatapnya.
"Kenapa?"
"Kau makan saja dulu baru bicara."
Chanyeol melirik Fish 'n chipsnya yang masih sangat banyak. Padahal Ia merasa sudah makan cukup banyak.
Makanan ini akan segera dingin jika tidak segera dihabiskan. Jadi, Chanyeol setuju untuk menghabiskan Fish 'n chipsnya tanpa bicara. Sesekali Ia memandangi beberapa orang yang berlalu lalang di depan mereka sambil terus menyantap fish 'n chipsnya hingga benar-benar habis.
Chanyeol memutar kepalanya mencari tong sampah dan tanpa disengaja matanya melihat Jongin duduk dengan khusuk. Kedua kakinya menekuk dan wajahnya tenggelam disana. Ia membuat kepalanya nyaman dengan kedua lengannya. Tidur?
"Jongin, kau sedang tidur? Kalau begitu kita pulang saja" Chanyeol berujar lirih.
"Tidak, aku tidak tidur. Kau pulang saja duluan. Tadi kau bilang tidak bisa menemaniku berlama-lama. Aku masih akan terus disini dalam waktu yang lama." Jongin bicara tanpa mengangkat kepalanya.
Suaranya terdengar seperti orang yang baru bangun tidur. Mungkin Jongin tadi memang tertidur lalu terbangun oleh suara Chanyeol.
Jika saja Ia tidak melihat Sehun dari kejauhan, Chanyeol tidak akan beranjak pergi meninggalkan Jongin begitu saja. Tapi keberadaan Sehun bisa membuatnya kembali kekantor dengan tenang.
"Baiklah. Aku pulang dulu ya?"
Jongin tidak menjawab. Pasti sudah kembali tidur.
Chanyeol berdiri dan berjalan menyongsong Sehun. Laki-laki itu memasang wajah kesal untuk menyerangnya, tapi hal itu malah membuat Chanyeol ingin tertawa sekuat yang Ia bisa.
Sehun tidak pernah merasa cemburu seumur hidupnya. Ini pasti kali pertama. "Kau jangan marah padaku. Ia yang memaksaku menemaninya makan fish 'n chips di Saint James." Chanyeol membela diri sebelum Sehun menghajarnya. "Pergilah kesana, temani dia. Venusmu sedang tidur. Ia bilang, belakangan ini Ia sangat mudah merasa lelah."
Chanyeol pergi tanpa memberi kesempatan kepada Sehun untuk membalas semua ucapannya.
Sehun menatap Jongin yang meringkuk diatas bangku taman dari kejauhan. Melihat Jongin yang seperti itu, etah mengapa Sehun dirasuki rasa sepi yang dahsyat. Siapa yang kesepian? Dirinya? Atau Kim Jongin yang sedang terlelap disana? Sehun melangkah perlahan-lahan dan duduk di sebelah tunangannya. Ia melihat jari Jongin yang masih menggunakan cincin pemberiannya dan hatinya bersorak.
Sehun mendekatkan tangannya ke kepala Jongin dan membelainya beberapa kali. Gadis itu mengangkat kepalanya dan membuka mata sehingga Sehun dengan cepat menarik tangannya dan menyembunyikannya kedalam saku celana.
Sedetik mata mereka beradu pandang tapi Jongin segera membuang wajahnya kearah lain.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Jongin dengan suara sengit.
"Kau ini kenapa? Kenapa setiap kali melihatku selalu naik darah? Salahku apa?"
Jongin menghela nafas dan mengatur suaranya agar lebih pelan dan sopan. "Suasana hatiku sedang buruk. Maaf kalau kau tersinggung."
"Aku baru saja pulang. Seharusnya disambut dengan senyum." Sehun masih kesal dengan respon yang didapatnya dari Jongin. "Eommaku sangat senang dengan biskuitmu. Ia bilang rasanya enak."
Wajah penuh kekesalan Jongin tiba-tiba di hiasi senyum senang. "Menurutmu bagaimana?"
"Lumayan." Sehun berbohong. Ia bahkan belum memakannya sampai saat ini. Sulit bagi Sehun untuk menyembunyikan kegugupannya. Tapi Ia tidak perlu melakukannya karena Kim Jongin sudah pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa.
Sehun benar-benar terpaku. Apakah Ia harus mengejarnya? Tapi kenapa tubuhnya tidak bergerak seincipun?
.
.
To be continued
.
.
