Selamat membaca.

Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Kishimoto sensei

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Genre : Hurt comfort, romance, family, friendship, angst

Warnings : Gender switch

My Sister Diary

Chapter 6 : I Hate You

By : Fuyutsuki Hikari

Pertanyaan lemah Naruko seketika membuat tubuh Naruto kaku, wajahnya pucat, dia bingung dengan alasan apa yang harus dia pakai untuk menjelaskan semua yang telah terjadi. Alasan mengapa dirinya mengenakan seragam Naruko saat ini.

"Kaa-san, akan jelaskan tentang ini pada Naruko," jawab Kushina lembut, menyelamatkan Naruto seketika. "Tapi, sekarang Naruko istirahat dulu. Besok, kaa-san dan Naru akan menjelaskan semuanya."

Naruko melirik sekilas pada Naruto, lalu setelahnya menatap Kushina dan tersenyum. "Baik, kaa-san," jawabnya lirih. Setelah itu, Naruko pun tertidur karena pengaruh obat yang beberapa saat lalu disuntikkan ke dalam tubuhnya.

Kushina menatap lembut wajah Naruto, dan memeluknya. "Kaa-san akan menjelaskan pada Naruko, jika Naruto melakukan ini agar Naruko tidak perlu tinggal kelas tahun depan." Kushina mengecup kening Naruto lembut, lalu kembali berkata, "Naruko pasti mengerti." Lanjutnya lirih.

Naruto hanya mengangguk, mengucapkan kata terima kasih tak terucap pada Kushina. Dalam hati, dia menyadari jika hal ini tidak semudah ucapan Kushina. Karena dirinya harus menjelaskan semua hal pada Naruko, dan Naruto pun harus mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan yang selama ini mengganggunya dari Naruko.

Keesokan harinya, Naruto dan Kushina sudah berada di rumah sakit untuk menjaga Naruko. Kurama menolak ikut bersama keduanya, karena ada urusan penting, katanya. Kushina membuka pintu kamar inap Naruko perlahan, dilihatnya Naruko masih tertidur dengan lelap.

Setelah beberapa saat, suster datang ke kamar Naruko untuk mencari Kushina. "Dokter ingin bicara dengan anda, Namikaze-san." Katanya sopan.

Kushina mengangguk, dan mengikuti suster tersebut keluar kamar Naruko setelah sebelumnya menitipkan Naruko pada Naruto.

Naruto menatap keluar jendela, tatapannya kosong. Beberapa kali dia mengambil napas dalam, sambil sesekali melirik ke arah Naruko. Dirinya mengingat semua kejadian selama satu bulan ke belakang. Satu bulan yang penuh kejutan. 'Aku akan merindukan mereka semua,' batin Naruto. "Bahkan aku akan merindukan Karin." Gumamnya lagi, dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Lamunan Naruto buyar saat dia mendengar Naruko bertanya padanya. "Apa yang kamu lakukan di siini?" tanya Naruko.

Naruto memalingkan wajah, menatap lurus Naruko dan tersenyum lembut. "Kamu sudah sadar, imotou. Apa ada yang kamu inginkan?"

"Jangan panggil aku 'imotou', kita hanya berbeda beberapa menit saja, Naruto." Tukas Naruko kesal.

"Dan karena perbedaan beberapa menit itulah, menjadikanmu adikku," jelas Naruto bijak.

Naruko mendengus dan berusaha bangkit untuk duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Naruto berusaha untuk membantunya, tapi tangannya ditolak kasar oleh Naruko. "Aku bisa sendiri, tidak perlu menolongku." Tukasnya dingin.

Naruto menghela napas, dirinya menatap Naruko lekat seakan tidak percaya jika waktu tidak mampu merubah kepribadian seseorang. Beruntung dirinya sudah kebal pada sikap Naruko ini, sifat Naruko lebih sensitif karena penyakit yang dideritanya.

"Aku masih menunggu penjelasan, kenapa kamu memakai seragam milikku kemarin sore?"

"Selama kamu sakit, aku menggantikanmu sekolah," jawab Naruto tenang.

"Untuk apa kamu melakukannya?"

Naruto kembali duduk di bangku sebelah tempat tidur Naruko, sebelum akhirnya kembali menjawab. "Ada beberapa alasan sebenarnya, yang pertama aku melakukannya agar kamu tidak perlu mengulang kelas tahun depan."

"Aku tidak akan berterimakasih karenanya," potong Naruko tajam.

Naruto menggelengkan kepala, "Aku memang tidak mengharapkan ucapan terima kasih darimu, Naruko. Aku melakukannya tulus."

Naruko mendengus. "Benar-benar murah hati, lalu apa alasan lainnya?"

"Aku tidak sengaja membaca buku diary milikmu, aku benar-benar minta maaf karenanya. Jujur saja Naruko, isi diarymu sebenarnya alasan utama kenapa aku menyamar menjadi dirimu satu bulan ini."

"Apa saja yang kamu lakukan saat menjadi diriku?" tanya Naruko.

"Aku membalas mereka yang sudah berbuat jahat padamu," jawab Naruto lirih, dalam hati dia merasa senang karena Naruko sama sekali tidak mempermasalahkan dirinya yang dengan tidak sopan membaca diary miliknya.

Naruto sedang menunduk menatap jemarinya yang bertaut, hingga dia tidak melihat seringaian puas pada wajah Naruko saat ini. "Siapa saja yang sudah kamu balas?" tanyanya datar.

Naruto kembali menatap Naruko. "Hampir semuanya. Kiba, Karin, Gaara, juga Sasuke."

"Apa maksudmu dengan Sasuke?" potong Naruko keras.

"Sasuke dalang dibalik semua hal buruk yang terjadi padamu, Naruko. Jadi aku berkewajiban untuk membalasnya. Ya, walaupun aku tidak berhasil menghajarnya tapi-" perkataan Naruto terpotong karena perkataan keras Naruko padanya.

"Kamu gila! Sasuke bisa membenciku karena itu!"

"Aku tidak mengerti, kenapa kamu bersikap seolah-olah ingin melindungi Sasuke? Padahal dia tokoh utama dibalik semuanya, aku juga tidak habis pikir kenapa kamu melakukan hal yang sejahat itu pada Gaara, padahal awalnya Gaara sama sekali tidak berbuat masalah padamu!"

"Aku tidak menyukai perempuan jadi-jadian itu, dan Sasuke, asal kamu tahu Naruto selama dua tahun aku bersabar melakukan semua itu demi dirinya. Dan jika karena ulahmu dia menjadi tambah membenciku, aku pastikan jika aku juga akan membencimu seumur hidupku." Desis Naruko.

Hati Naruto begitu sakit mendengar penuturan Naruko saat ini, mulutnya tiba-tiba menjadi kelu. Awalnya dia ingin mengatakan jika Sasuke saat ini sudah menjadi kekasih Naruko. Tapi, hal itu diurungkannya setelah mendengar perkataan Naruko saat ini. Naruto bengkit dari kursi dan berjalan keluar dari kamar, sebelum keluar sekali lagi dia melemparkan pandangan ke arah Naruko dan berkata. "Jika saja kamu bersikap lebih baik, aku rasa kehidupanmu akan jauh lebih baik, Naruko." Dan setelah berkata seperti itu Naruto pun pergi meninggalkan Naruko, tanpa disadari Naruto sejak awal Kurama mendengarkan pembicaraan mereka dari balik celah pintu yang sedikit terbuka. Kurama segera bersembunyi saat Naruto keluar, lalu setelah yakin Naruto tidak akan kembali dia pun masuk ke kamar Naruko.

Naruko kaget saat Kurama masuk ke dalam kamarnya. "Ku-nii, kau datang untuk menjengukku?" katanya manis.

Kurama menatap sinis pada Naruko dan berkata dengan kasar. "Hentikan berpura-pura manis dihadapanku, kamu benar-benar menjijikan!"

"Aku tidak mengerti, Ku-nii." Kata Naruko, dengan tatapan sayu.

"Aku bukan tou-san atau kaa-san, yang dengan mudah kamu perdaya, Naruko. Aku tahu wajah malaikatmu itu hanya topeng untuk menutupi jati dirimu yang seperti iblis. Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Kamu menjadikan Naruto alat untuk membalas dendam, iyakan?" tanya Kurama kasar.

Naruko menanggalkan topeng dirinya dan menatap Kurama intens. "Benar," jawabnya dingin. "Aku memang menjadikan Naruto alat, dia saja yang bodoh karena masuk ke dalam umpanku." Tukasnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Kurama menggeram kasar. "Jadi isi diarymu itu semua bohong?"

"Tidak semua bohong," kata Naruko sambil mengangkat bahunya. "Aku hanya menambahkan yang menurutku perlu dan mengurangi yang menurutku tidak perlu untuk diketahui. Aku tahu, baik kaa-san maupun tou-san tidak akan masuk ke dalam kamarku selama aku di rumah sakit, para pelayan terlalu takut untuk menyentuh barang-barang pribadiku, jadi-"

"Jadi diary itu memang sengaja kamu siapkan untuk Naruto?" Kurama mendesis marah dengan tangan terkepal.

"Salahkan saja pada sikap ingin tahunya dan sifat naif pada dirinya, Ku-nii." Balas Naruko datar.

"Kenapa kamu melakukan ini pada Naruto?" tanya Kurama lagi.

"Aku ingin membalas dendam pada mereka. Dan dengan kondisiku, aku tahu jika aku tidak bisa melakukannya seorang diri,"

"Dan kau menggunakan Naru!" teriak Kurama kesal.

Wajah Naruko memerah karena marah. "Karena aku juga membencinya, aku sangat membenci Naruto. Diantara kami berdua kenapa harus aku yang sakit seperti ini? Ku-nii juga lebih menyayangi Naru daripada aku, jii-san, baa-san juga sama. Kalian meninggalkanku kesakitan di sini, sementara kalian hidup nyaman di New York!"

Kurama menatap Naruko tak percaya dan berkata lirih. "Kamu benar-benar egois, kamu tidak sadar akan apa yang terjadi di sekelilingmu. Kamu terlalu fokus pada dirimu sendiri, kamu benar-benar menyedihkan!" Naruko diam mendengar kata-kata Kurama, dadanya terasa sesak tapi dia tahan sekuat tenaga, karena emosinya saat ini sudah tidak bisa dia tahan lagi.

"Asal kamu tahu, Naruko. Kami pergi ke New York juga bukan karena keinginan kami. Keadaan saat itu yang memaksa jii-san dan baa-san membawa kami bersama mereka. Jika aku terus berada di sini, mungkin sekarang aku hanya seorang pencandu, pemakai atau bahkan mendekam di penjara karena membunuh. Dan Naruto, aku tidak tahu hal buruk apa yang akan terjadi padanya jika kami tidak pergi. Karena itu, aku sangat bersyukur karena jii-san dan baa-san mengambil keputusan yang tepat pada diri kami."

"Ya, dan kalian meninggalkanku sendiri!" tukas Naruko tajam.

"Oh Tuhan, kenapa kamu belum mengerti juga jika kami pergi karena sifat egoismu. Kamu selalu memonopoli tou-san dan kaa-san untuk dirimu sendiri. Tou-san dan kaa-san sama sekali tidak memperhatikan kami. Aku melakukan hal buruk untuk mengambil perhatian mereka, dan hal itu masih kusesali hingga saat ini. Karena korban akibat dari semua itu adalah Naruto." Kurama mengambil napas dalam sebelum melanjutkan dengan tenang. "Naruto sangat menyayangimu, tiap hari dia selalu menanyakan keadaanmu pada orang rumah, dia bahkan selalu mengirimimu email, walaupun kamu tidak pernah membalasnya. Pernahkah kamu berpikir bagaimana perasaannya? Pernahkah kamu berpikir jika ada orang lain selain dirimu? Pernahkah kamu berpikir jika ada kehidupan lain di luar duniamu?" Kurama berhenti sejenak lalu melanjutkan. "Melihat sifatmu, sepertinya kamu tidak akan pernah berpikir hingga kesana." Setelah itu, Kurama pun pergi meninggalkan Naruko seorang diri yang masih diam membisu tanpa mengatakan apapun.

Beberapa saat kemudian Kushina masuk, dan bertanya. "Sudah bangun, Naruko. Lalu, Narutomana?"

Naruko tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa beberapa saat sebelumnya dan menjawab. "Naru pulang, ada urusan."

"Dasar, padahal kaa-san menitipkanmu padanya. Biar kaa-san tegur Naru nanti. Oh ya, kaa-san ada kabar gembira." Seru Kushina sambil membetulkan letak selimut Naruko.

"Berita apa, kaa-san?" tanya Naruko.

"Besok sore Naruko sudah boleh pulang," kata Kushina bersemangat. Dan Naruko hanya tersenyum mendengarnya.

Sementara itu Naruto terus berjalan tak tentu arah. Pikirannya sangat kacau saat ini, Naruto meraih telepon genggamnya saat dia dengar ada telepon masuk. Dilihatnya layar handpone miliknya, yang menampilkan nomor handphone Sasuke. Naruto menimang-nimang untuk sesaat, hingga akhirnya sambungan telepon itu dia jawab.

"Moshi-moshi?"

"Kenapa kamu tidak masuk sekolah, Dobe? Kamu sakit?" tanya Sasuke, Naruto bisa mendengar nada cemas dari suara Sasuke.

"Sedikit," jawab Naruto. Saat ini dia memang sakit, sakit hati tepatnya.

"Kamu dirumah?"

"Iie, aku sedang di luar." Tukas Naruto.

"Kamu sedang sakit, dan malah berada di luar. Bagaimana kalau tambah parah?" kata Sasuke dengan nada suara yang agak naik.

"Teme, maukah kamu menemaniku?" tanya Naruto, menghiraukan ucapan Sasuke.

"Kemana?" Sasuke balik bertanya sambil mendengus kesal.

"Taman bermain," jawab Naruto.

"Kamu sakit, dan malah mau ke taman bermain." Gumam Sasuke tak percaya.

Naruto menggerutu dan berkata tajam. "Kalau kamu tidak mau, aku bisa pergi sendiri kok!"

"Jangan macam-macam, Dobe. Tunggu aku di pintu masuk taman bermain. Aku akan segera menyusulmu." Setelah itu Sasuke menutup hubungan telponenya.

Naruto menyimpan kembali handpone miliknya ke dalam tas tangan yang dibawanya. Dia menarik napas dalam, di dalam hati dia bertanya. 'Apa yang baru saja aku lakukan? Mengapa aku malah meminta Sasuke menemaniku ke taman bermain? Pasti ada yang salah dengan otakku.' Pikirnya miris. Dia pun segera naik bus menuju taman bermain dan menunggu Sasuke tepat di pintu masuk taman bermain.

Di sekolah, Sasuke meminta izin pulang dengan alasan sakit. Tentu saja tidak ada yang percaya pada alasannya, tapi siapa juga yang berani melawannya. Dia pun segera mengendarai mobilnya menuju taman bermain untuk menemui Naruto.

"Kamu lama sekali, Teme, dan kenapa masih pakai seragam?" tukas Naruto kesal.

Sasuke mendelik dan menjawab datar. "Bagus aku bisa sampai secepat ini, dan sekarang masih jam sekolah, Dobe. Kamu lupa?" katanya sambil meletakkan tangan kanannya pada dahi Naruto. "Kamu yakin sakit, Dobe? Badanmu tidak panas."

"Aku sakit," jawab Naruto sekenanya.

Sasuke menyeringai dan berkata. "Kalau memang ingin pergi kencan tinggal bilang saja, tidak perlu memakai alasan sakit sampai bolos segala." Katanya santai.

Naruto memutar kedua bola matanya dan membalas dengan malas. "Terserah, sekarang aku mau main." Katanya seraya berjalan masuk ke taman bermain meninggalkan Sasuke yang masih tersenyum di belakangnya.

Sore itu, entah kenapa perasaan Naruto sedikit terobati. Saat ini Sasuke menampilkan sisi lain dari dirinya, dia memperlakukan Naruto dengan lembut dan perhatian. Menyebabkan Naruto merasa bersalah karena telah membohonginya. Tapi bukan Sasuke rasanya jika tidak posesif, dia melemparkan tatapan tajam pada tiap pemuda yang dengan berani menatap kagum pada Naruto.

"Pakai ini!" seru Sasuke sambil memakaikan topi yang baru saja dibelinya pada kepala Naruto.

"Tapi sekarang sudah sore, lagipula tidak panas. Kenapa aku harus memakai topi?" protes Naruto.

"Untuk menyembunyikan wajahmu," balas Sasuke dan menggandeng tangan Naruto serta membawanya pergi keluar dari taman bermain. "Sudah sore, aku antar kamu pulang." Tukas Sasuke.

Naruto hanya mengangguk dan mengikuti Sasuke yang mulai berjalan menuju mobilnya diparkir.

Sesampainya dirumah, Naruto disambut Kurama yang sangat cemas menunggu kedatangannya. "Kamu darimana? Aku cemas menunggumu. Lalu kenapa handponemu mati?"

"Maaf, aku jalan-jalan sebentar. Handpone Naru juga habis baterai," jawab Naruto.

"Naru, sekarang Naruko sudah sadar. Kita harus kembali ke New York," tukas Kurama.

Naruto tersenyum dan berkata. "Kalau begitu, tolong nii-san siapkan semuanya. Kita pulang Senin pagi, karena Sabtu malam Naru ada konser amal untuk anak-anak berkebutuhan khusus."

"Konser amal?" tanya Kurama.

Naruto mengangguk dan menghempaskan diri pada sofa nyaman yang ada diruang keluarga. "Hai, beberapa minggu yang lalu Naru bertemu dengan Shion-nee. Dia akan mengadakan konser amal untuk anak-anak berkebutuhan khusus, dan Naru setuju untuk ikut serta. Acaranya Sabtu malam besok di Konoha Center Building. Naru akan meminta tou-san, kaa-san dan Naruko untuk hadir."

"Kenapa Naruko juga harus datang, itu tidak perlu." Decak Kurama.

"Perlu nii-san, karena Naruko adalah bagian dari keluarga Namikaze." Jawab Naruto bijaksana.

"Lalu kapan Shion kembali ke Konoha? Kukira dia masih di New York," kata Kurama lagi.

Naruto tersenyum melihat perubahan pada nada suara Kurama. "Kenapa, nii-san rindu pada Shion-nee?" tanya Naruto menggoda Kurama.

"Siapa juga yang rindu perempuan jutek itu. Aku sarankan, kamu jauh-jauh darinya, nanti kamu ketularan jutek!" sembur Kurama, sambil pergi meninggalkan Naruto yang saat ini tertawa renyah menanggapi kelakuan Nii-sannya. "Nii-san benar-benar menggemaskan jika sedang gugup," gumamnya senang.

.

Keesokan harinya Naruto masuk sekolah untuk terakhir kalinya, saat ini dia masuk sekolah dengan alasan yang berbeda, dia ingin mengucapkan selamat tinggal.

Gaara menghampiri Naruto dan bertanya dengan cemas. "Kudengar kamu sakit, kenapa sudah masuk lagi?"

"Karena aku merindukan kalian, jadi aku segera masuk sekolah lagi." Jawab Naruto.

Gaara berdecak dan duduk dihadapan Naruto. "Kamu yakin kamu sudah sembuh? Mendengar jawabanmu, sepertinya ada yang salah dengan otakmu." Tukas Gaara lagi.

Naruto tidak menjawab, dia merogoh ke dalam tasnya untuk mencari sesuatu.

"Kamu cari apa?" tanya Gaara.

Naruto tersenyum saat berhasil menemukan barang yang dicarinya dan menyodorkannya ke hadapan Gaara. "Untukmu," kata Naruto.

Gaara terkejut, dan membuka kotak beledu berwarna merah yang ada di hadapannya saat ini. Ternyata isi kotak tersebut adalah jepit rambut, bermatakan sebulir ruby kecil yang sangat cantik. "Ya Tuhan, Naru ini cantik sekali." Gumam Gaara lirih.

"Aku harap bisa melihatmu memakainya suatu hari nanti," kata Naruto lembut. Sebenarnya Naruto juga menyiapkan jepit rambut yang sama untuk Hinata, hanya saja untuk Hinata jepit rambutnya berhiaskan aqua marine kecil.

"Aku pasti memakainya," jawab Gaara dengan mata berkaca-kaca. Naruto kembali tersenyum dan meremas tangan Gaara halus. "Gaara, boleh aku meminta satu hal darimu?" tanya Naruto dan dijawab anggukan dari Gaara. "Apapun yang terjadi nanti, tetaplah percaya padaku." Kata Naruto.

Gaara terhenyak. "Kenapa aku merasa jika kamu akan pergi jauh, Naru?" tanya Gaara, sementara Naruto hanya menepuk-nepuk tangan Gaara untuk menenangkannya.

Beberapa saat kemudian Hinata bergabung dengan mereka, dan Naruto pun menyerahkan kotak yang berwarna biru elektrik pada Hinata. Hinata terpekik senang, dan mengucapkan terima kasih pada Naruto. Dalam hati, Naruto sangat sedih. Sebenarnya benda itu adalah hadiah selamat tinggal darinya pada mereka.

"Hari ini Naruko sangat aneh," tukas Shikamaru pada Sasuke. Sasuke sama sekali tidak berkomentar pada apa yang dikatakan Shikamaru, karena dia juga merasa jika Naruko sangat aneh, bahkan Sasuke sudah merasakan keanehan tersebut dari kemarin.

Setelah jam makan siang berakhir, para siswa kelas 2A memiliki waktu sekitar lima belas menit untuk mempersiapkan bahan pelajaran mereka dan pergi menuju ruang musik. Di sana Kurenai sensei sudah menunggu dengan santai.

"Hari ini sensei ingin menguji keterampilan bermain piano kalian, jadi untuk yang dipanggil namanya silahkan maju dan mainkan piano untuk kita semua." Seru Kurenai tegas, yang disambut desahan panjang para murid, berharap bukan nama mereka yang akan dipanggil oleh Kurenai.

Kurenai memanggil nama murid secara acak, hingga akhirnya nama Naruko pun dipanggilnya. "Namikaze Naruko," panggil Kurenai.

"Ha'i," jawab Naruto seraya berdiri dan berjalan ke depan untuk duduk di bangku piano.

"Baiklah, apa yang akan kamu mainkan Naruko?" tanya Kurenai.

Naruto berpikir sejenak, lalu menjawab. "Naru akan mainkan karya Michael Ortega."

"Apa judulnya?"

Naruto menelan ludah, seakan sulit untuk berkata. "It's hard to say goodbye," katanya lirih.

Kurenai menatap Naruto. "Lagu yang sangat dalam, baik kalau begitu mainkan untuk kami."

Naruto mengangguk, sesaat matanya terpejam, lalu mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Jari-jari lentiknya sudah berada di atas tuts piano, siap untuk memainkan nada yang dia inginkan. Setelah merasa siap, Naruto pun mulai memainkan tiap nada hingga membentuk satu kesatuan melodi yang indah, tapi juga menyedihkan. Saat ini emosi Naruto ikut ambil bagian dalam menciptakan nuansa yang mampu menusuk emosi tiap orang yang mendengar permainannya saat ini.

Sasuke mendengarkan permainan piano Naruto dengan khidmat, dia tidak tahu kenapa hatinya terasa sakit saat mendengar melodi dari tuts yang dimainkan oleh Naruto saat ini. 'Kenapa aku merasa, kamu akan meninggalkanku, Dobe?' tanya Sasuke dalam hati.

Hinata tidak sanggup menahan air matanya, air matanya terus mengalir dari kedua sudut matanya yang indah. Sesekali Kiba mengelus punggung Hinata lembut untuk menenangkannya.

Dan permainan piano Naruto pun usai, menciptakan keheningan berat setelahnya. Naruto memandang Kurenai dan bertanya. "Apa permainan saya begitu buruk sensei?"

Kurenai mengerjap, dia menatap Naruto dengan lembut dan bertepuk tangan. "Permainanmu indah sekali Naruko, benar-benar cantik. Sensei tidak tahu jika kamu bisa bermain seindah itu."

"Arigatou, sensei." Naruto sedikit menundukkan kepala pada Kurenai. Dan setelahnya segera duduk disamping Gaara yang saat ini duduk diam menatap Naruto. "Apa?" tanya Naruto pada Gaara. Sedangkan yang ditanya hanya menggeleng dan menjawab. "Tidak apa-apa."

Jam pelajaran pun berakhir dengan tenang, seperti biasa Naruto pulang dengan dijemput oleh Kurama. "Ini hari terakhirmu sekolahkan, Naru." Kata Kurama memulai pembicaraan."

"Ha'i, ini hari terakhirku, nii-san." Jawab Naruto lirih.

Kurama benci melihat kesedihan pada Naruto saat ini, Naruto terlalu memakai perasaannya hingga dia terluka harus meninggalkan teman-teman barunya dengan segala kebohongan yang dia ciptakan pada permainannya. Kurama juga mengutuk dalam hati akan rencana busuk Naruko. Ingin rasanya Kurama menceritakan hal yang sebenarnya pada Naruto, tapi dia takut jika hal itu menambah luka hati Naruto yang sudah ada saat ini.

Pada saat menjelang pukul lima sore, Naruko akhirnya sampai di rumah bersama Minato dan Kushina. Kedatangannya disambut dingin oleh Kurama, sementara Naruto hanya tersenyum kecil melihatnya.

Akhirnya malam ini, keluarga Namikaze makan malam dengan formasi lengkap. Mereka makan dengan tenang, hingga akhirnya Naruko bicara. "Besok Naruko akan mulai sekolah lagi."

Pernyataan Naruko kontan membuat Minato dan Kushina berhenti menyantap hidangan makan malamnya. "Kamu baru sembuh sayang, kalau mau sekolah, hari Senin depan saja." Tukas Kushina lembut.

"Tidak kaa-san, Naruko takut jika nantinya sulit mengejar ketertinggalan. Jadi besok Naruko akan masuk sekolah. Lagipula, Naruko tidak mungkin terus menerus meminta Naruto untuk menggantikanku." Sahut Naruko.

Kurama benar-benar ingin mencekik leher Naruko saat ini, dia tahu dibalik suara manis Naruko ada kebencian yang begitu besar pada Naruto.

"Baiklah, tapi jika kamu tidak kuat, hubungi tou-san atau kaa-san agar kami bisa menjemputmu pulang!" seru Minato.

"Ha'i," jawab Naruko lalu memalingkan wajahnya untuk menatap Naruto. "Ngomong-ngomong, Naruto. Kapan kamu kembali ke New York?"

Pertanyaan Naruko menyulut emosi Kurama. "Kenapa, Naruko, tidak suka kami lama-lama di sini?" desisnya tajam.

Naruto menepuk tangan Kurama dan menjawab pertanyaan Naruko datar. "Kami akan pulang Senin besok, karena Sabtu malam aku ada konser amal yang harus aku ikuti. Kalau tou-san dan kaa-san ada waktu, Naru harap kalian bersama Naruko bisa datang."

"Tentu saja kami akan datang, sayang." Kata Minato semangat. "Sudah lama tou-san ingin melihat perfomamu." Katanya lagi.

"Benar, kaa-san juga ingin pergi. Naruko juga pasti ikut bersama kami. Iya kan, Naruko?" tanya Kushina pada Naruko.

Naruko berusaha menyembunyikan kekesalannya dengan tersenyum dan menjawab. "Tentu saja kaa-san, Naruko pasti ikut serta."

Kurama menyeringai melihat suasana hati Naruko. Dia senang karena untuk pertama kali, kedua orang tuanya mengabulkan keinginan Naruto.

Keesokan harinya Naruko pergi sekolah seperti keinginannya kemarin malam, dengan dandanan seperti Naruto tentu saja. Dia agak terkejut dengan perlakuan murid lain padanya yang berubah menjadi baik. Naruko menatap Gaara heran saat Gaara tersenyum padanya. Naruko sama sekali tidak membalas senyuman Gaara dan langsung duduk di kursinya. Naruko pun tidak mengidahkan sapaan Hinata padanya, dan hal itu membuat Hinata terkejut.

Perubahan sikap pada Naruko tentu saja mengganggu Sasuke, hatinya mengatakan jika orang yang berada dihadapannya saat ini bukanlah wanita yang sama yang dimintanya untuk menjadi kekasihnya. Sasuke merasa dia sudah gila karena hal ini, tapi pernyataannya dijawab dengan hal sama oleh Shikamaru, Neji juga Gaara. Mereka pun mengatakan jika Naruko yang saat ini adalah orang lain.

Sore ini, Sasuke pulang dengan suasana hati yang cukup buruk. Dihempaskannya tubuhnya ke sofa dengan kasar.

"Kamu sudah pulang, Sasuke?" tanya Itachi.

"Hn," jawab Sasuke singkat.

Itachi mengelus dada melihat kelakuan adik semata wayangnya ini. "Kamu ada waktu tidak Sabtu malam nanti?"

"Memangnya kenapa?" tanya Sasuke datar.

"Bisa tolong gantikan aku ke konser amal?" tanya Itachi penuh harap.

Sasuke melempar tatapan tajam pada Itachi. "Memangnya aniki mau kemana?"

"Aku mau pergi ke Otto bersama Dei, liburan beberapa hari. Jadi aku harap kamu bisa menggantikanku, aku juga punya empat tiket lagi jika kamu mau membawa teman-temanmu yang lain." Tukas Itachi.

"Kenapa membeli tiket sebanyak itu aniki?" tanya Sasuke heran.

"Ini acara amal, setiap hasil pembelian tiket akan disumbangkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus." Jawab Itachi.

"Baiklah, mungkin aku bisa pergi."

Itachi tersenyum mendengar jawaban Sasuke. "Kalau begitu nanti aku akan berikan tiket itu padamu."

"Hn," jawab Sasuke datar.

.

Keesokan harinya Sasuke bertanya pada Shikamaru, dkk apa mereka memiliki waktu Sabtu malam besok untuk datang ke konser amal bersamanya.

"Sebenarnya aku malas, tapi untukmu aku akan ikut pergi." Kata Shikamaru.

"Aku akan ajak Hinata, bolehkan?" tanya Kiba antusias dan dijawab anggukan oleh Sasuke. Sementara Neji dan Gaara juga mengangguk dan setuju untuk ikut pergi.

"Kamu tidak mengajak Naruko, Sas?" tanya Neji.

"Tidak," jawab Sasuke datar. Teman-temannya mengerti akan sikap Sasuke dan tidak bertanya lebih lanjut lagi.

.

Pukul tujuh Sabtu malam Sasuke dkk sudah berkumpul di depan pintu masuk Konoha Building Center, malam ini mereka berpakaian formal. Sasuke memandang sekeliling, ternyata peminat konser amal ini begitu banyak.

Dari tadi Sasuke bersembunyi, dia takut bertemu dengan orang tuanya. Fugaku dan Mikoto mengatakan jika mereka juga akan datang ke konser amal ini, tapi Sasuke tidak bilang jika dia juga akan datang. Sasuke tahu, jika orang tuanya mengetahui hal ini maka mereka akan menyeret Sasuke datang bersama dengan mereka, dan akan ikut dalam pembicaraan membosankan diantara orang tuanya dan rekan-rekan bisnis Uchiha corp.

Lamunan Sasuke terganggu dengan sikutan Kiba pada perutnya. "Ada apa Kiba?" tanya Sasuke.

"Bukankah itu Naruko?" kata Kiba sambil menunjuk ke arah kedatangan Naruko.

Sasuke mengikuti arah telunjuk Kiba dan melihat jika Naruko datang bersama kedua orangtuanya dan juga Kurama. Sasuke melihat jika Kurama berwajah masam pada Naruko. 'Tumben dia bersikap acuh pada Naruko, biasanya dia mengikuti Naruko seperti bayangan.' Kata Sasuke dalam hati.

"Ayo kita masuk, aku sedang tidak mood bertemu dengannya." Sasuke segera beranjak dari tempatnya berdiri menuju aula tempat konser itu dilangsungkan, dan duduk di kursi sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket yang dipegangnya.

Tepat pukul delapan malam, konser pun dimulai. Diawali dengan paduan suara anak-anak berkebutuhan khusus yang menyanyikan lagu 'Que Sera Sera' dengan syahdu dan diiringi oleh dentingan piano. Para penonton terhenyak mendengarkan suara yang begitu murni yang dihasilkan anak-anak yang saat ini berada di atas panggung.

Konser berjalan begitu memikat, hingga tiba di akhir penghujung acara. Mc mengumumkan jika acara selanjutnya adalah penampilan spesial dari Naru dan Shion yang akan membawakan lagu berjudul 'Mirai'.

Sasuke langsung duduk tegak saat mendengar nama Naru disebut. Matanya mencari-cari sosok Naruko yang saat ini duduk di kursi VVIP, dan ternyata dia masih ada di sana. 'Mungkin Naru yang lain,' pikir Sasuke. Dan tirai pun diangkat, sementara lampu panggung dimatikan.

Lampu panggung menyorot satu sosok berambut pirang dengan gaun selutut berwarna putih, yang saat ini berdiri di tengah panggung dan mulai bernyanyi.

Hora, ashimoto o mite goran

Kore ga anata no ayumu michi

Hora, mae o mite goran

Are ga anata no mirai

Sasuke menatap horor pada sosok yang sedang bernyanyi di panggung saat ini. Jelas-jelas itu Naruko, tapi Naruko masih duduk di kursinya. Jadi kalau begitu Naruko benar-benar ada dua orang?

Lalu lampu panggung kembali menyorot sosok yang ada di balik piano, dan mulai memainkannya dengan indah. Setelah piano dimainkan, Naruto pun kembali bernyanyi.

Haha ga kureta takusan no yasashisa

Ai o idaite ayume to kurikaeshita

Anotoki wa mada osanakute, imi nado shiranai

Sonna watashi no te o nigiri

Issho ni ayunde kita

Sono yasahsisa o tokiniwa iyagari

Hanareta haha e sunao ni narezu

Hora, ashimoto o mite goran

Kore ga anata no ayumu michi

Hora, mae o mite goran

Are ga anata no mirai

Mirai e mukatte

Yukkuri to aruite ikou

(Lagu by Kiroro : Mirai)

Naruto tersenyum saat audience terus bertepuk tangan, sesekali di dengarnya kata 'Bravo'.

Sebagai penutup konser, Naruto dan Shion memainkan 'Mozart Sonata For Two Piano', mereka memainkannya dengan sempurna dan menutup konser tersebut dengan gemuruh tepuk tangan bagi keduanya.

Sasuke masih duduk membeku di kursinya, sementara keempat temannya yang lain sama kagetnya dengan dirinya. Tidak ada satu pun yang bersuara, hingga akhirnya Neji berkata. "Dia," tunjuk Neji pada Naruto yang masih ada di atas panggung. "Dia sosok yang sama dengan Naruko yang memainkan piano tempo hari. Aku yakin, gaya permainanya sama."

"Maksudmu, yang duduk di sana Naruko asli, sedangkan yang di atas panggung adalah orang yang menyamar menjadi Naruko?" tanya Shikamaru sambil menunjuk kursi VVIP.

"Ya, aku yakin. Pendengaranku tidak mungkin salah." Kata Neji yakin.

"Kalau begitu, yang beberapa minggu terakhir ini, bukanlah Naruko yang asli?" tanya Kiba tak percaya.

"Sepertinya begitu," tukas Shikamaru lirih. Mereka berempat terlalu sibuk menerima semua ini, hingga tidak sadar jika Sasuke sudah tidak ada di kursinya.

Sasuke terus berjalan menuju belakang panggung, untuk mencari ruang ganti Naruto. Dibacanya satu persatu tulisan yang tertera di pintu, hingga akhirnya dia membaca tulisan 'Naru Room'. Sasuke segera masuk ke dalam dan menunggu si pemilik ruang ganti ini.

Langkah Naruto terus terganggu dengan banyaknya permintaan untuk photo bersama ataupun beberapa penonton yang memberikan karangan bunga padanya. Akhirnya Naruto berhasil masuk ke dalam ruang gantinya, dan terkejut saat mendapati Sasuke ada di sana.

"Terkejut melihatku, Dobe?" tanya Sasuke dingin.

Naruto mengerjap, dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat ini pada Sasuke. Sementara Sasuke terus melangkah dan berjalan mendekati Naruto yang saat ini ketakutan karena melihat kemarahan pada sorot mata Sasuke. Akhirnya Naruto berhasil mengendalikan diri, dan berkata setenang mungkin. "Maaf, anda siapa?"

"Jangan pura-pura tidak mengenalku," bentak Sasuke sambil memukul pintu ruang ganti dengan keras.

"Aku memang tidak mengenal anda, anda siapa?" kata Naruto lagi.

"Kamu masih pura-pura tidak mengenalku, Dobe? Kalau begitu hanya ada satu cara untuk memastikannya!" Sasuke menangkup wajah Naruto dan mencium bibirnya dengan keras. Naruto mencoba untuk berontak, tapi hal itu malah menambah emosi Sasuke naik. Sasuke terus mencium Naruto dengan kasar, lidahnya mendesak masuk untuk mencicipi rasa dari Naruto. Setelah puas, Sasuke melepaskan bibir Naruto dengan kasar.

"Bahkan rasamu masih sama, Dobe. Jadi berhenti berpura-pura tidak mengenalku!" tukas Sasuke dengan tatapan tajam menusuk. "Aku pernah katakan, jika aku benci dibohongi. Dan kamu, kamu memperdayaku, mempermainkan perasaanku, dan berbohong padaku." Desis Sasuke, Naruto hanya diam. Memalingkan wajahnya dari Sasuke.

"Pernahkah kamu mencintaiku?" tanya Sasuke. "Pernahkah kamu mencintaiku?" teriaknya lagi, sambil mengguncang tubuh mungil Naruto.

Sasuke menunggu jawaban yang tidak kunjung datang dari Naruto. "Aku sangat membencimu saat ini, jadi aku sarankan, jangan pernah perlihatkan sosokmu lagi dihadapanku!" kata Sasuke keras, dan keluar dari ruangan tersebut dengan membanting pintu.

"Aku memang akan pergi, jadi kamu boleh tenang karenanya." Gumam Naruto lirih setelah kepergian Sasuke.

.

.

.

TBC