x
x
Arti dari Sosokmu
Chapter 6: Jeon Jungkook
(BTS Fict, OOC, little bit canon but not really, friendship, super cheesy, non-pair, hinted BxB. An indiviual project for Jimin's birthday.)
Happy reading!
x
x
Jimin tengah menonton televisi di kamarnya. Malam ini Hoseok tengah sibuk di studionya, maka ia berakhir dengan menonton televisi sendirian. Taehyung dan Jungkook mungkin saja terlalu sibuk bermain game di kamar mereka masing-masing, sedangkan Seokjin pasti sudah tidur. Seokjin bukanlah orang yang senang terjaga hingga larut.
Sebenarnya jika Jimin sedang dalam kondisi mood yang bagus, mungkin ia akan mengiyakan ajakan Jungkook berlatih koreo hingga larut. Sayangnya ia terlalu lelah, moodnya terjun bebas dan ia menggeleng sebelum pergi tanpa mengindahkan panggilan Taehyung yang dilewatinya begitu saja di pintu keluar practice room. Mungkin hal itu pula yang membuat Jungkook dan Taehyung urung menambah waktu latihan mereka. Melihat Jimin yang biasanya berlatih paling keras menjadi Jimin yang paling malas membuat mereka berpikir untuk pulang dan menemaninya. Mereka sadar, Jimin butuh teman.
Dengan malas Jimin membiarkan dirinya tergeletak begitu saja di atas kasur, dengan kaki berada di atas bantal sedangkan kepalanya menghadap posisi layar televisi dengan tidak menyenangkan. Benar, ia terlalu malas untuk sekedar menarik bantal untuk menyangga kepalanya atau selimut untuk menghangatkan tubuhnya yang nyaris melingkar menahan dingin.
Jimin tidak mempunyai kebiasaan mengunci pintu dan biasanya anggota yang lain akan mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarnya dan Hoseok. Kecuali dua orang, alien aneh dan maknae tidak tahu aturan itu. Tentu saja.
"Jimine Hyung?"
Nah benar 'kan. Belum apa-apa, kepalanya sudah menyembul di pintu dengan mata bulat mengerjap lucu.
Jimin tidak menjawab namun tangannya membuat gestur melambai, menyuruh Jungkook untuk masuk.
Dan Jungkook tidak perlu disuruh untuk masuk sebenarnya, ia hanya berbasa-basi saja. Mengecek kalau-kalau Hyungnya sudah tidur, "Aku bosan." Terangnya tanpa ditanya.
Jimin mengiyakan dalam hati, ia pun sama bosannya, "Memang tidak main game?" Namun justru pertanyaan semacam itu yang keluar dari mulutnya.
Jungkook menggeleng, "Dan Tae Hyung sudah tidur makanya aku ke sini. Bahkan ia tidur tanpa mematikan laptopnya."
Jimin diam. Tidak berniat membalas. Sudah biasa jika maknae berperilaku seperti itu padanya. Memang kapan sih seorang Jeon Jungkook bersikap baik padanya? Atau menjadikannya pilihan pertama untuk ditemui kala bosan.
Tunggu, apa yang baru saja Jimin pikirkan?
"Hyung terlihat banyak pikiran." Ucap Jungkook, jemarinya meraih remote dan mulai mengganti saluran televisi.
Jimin diam lagi dan memejamkan mata. Ia sedang tidak ingin meladeni Jungkook dan ocehannya yang seringkali membuatnya sebal karena; kapan sih Jungkook tidak membuat anggota yang lain sebal—ugh mungkin gemas dengan tingkah dan komentarnya. Dan kapan pula Jungkook tidak menggodanya, sayangnya saat ini Jimin sedang malas untuk menjadi bahan lelucon Jungkook.
"Hyung." Dan Jungkook tidak menyerah. Ia duduk di sisi kepala Jimin, mengamati wajah Hyungnya yang terpejam dengan kening berkerut. Terlihat tidak ingin diganggu, tetapi bukan Jungkook namanya jika ia membiarkan hidup Jimin tenang tanpa gangguannya. Jangan salahkan dia, Jimin terlalu menyenangkan untuk diabaikan.
"Hyungieee."
Berhasil. Jimin membuka mata dan memicing ke arah Jungkook yang kini sedikit menunduk, mungkin wajahnya terlalu dekat, "Apa sih, Kook? Aku sedang tidak mau main."
Dan Jungkook yang biasanya akan mencecar Jimin dengan komentar aneh kini justru mengerutkan kening, itu bukan gayanya, "Hyung marah padaku?"
Pada akhirnya membuat Jimin mendengus keras sembari merotasikan bola mata, Jungkook terlalu bodoh entah tidak mau mengerti dengan maksud omongannya sesungguhnya, "Tidak."
Hanya saja, ini Jungkook. Jeon Jungkook yang sedari remaja melihat tumbuh kembang Hyungnya satu persatu dan ia jelas paham meski Jimin memang pemarah, Jimin bukan tipe orang yang bisa marah padanya. Tidak pernah meski hanya satu kali. Namun Jimin kali ini menjawabnya dengan ketus dan menolaknya dengan halus. Jungkook sangat tidak suka itu.
"Ya, Hyung sedang marah." Putus Jungkook.
Jimin memutuskan untuk tidak peduli. Ia kembali memejamkan mata dan membiarkan suasana menjadi hening tanpa obrolan di antara mereka. Mungkin suara salah satu tayangan televisi dan dengung mesin pendingin udara turut andil menjadi latar suara untuk mereka.
"Jiminie Hyung," Jungkook memanggil, "Hyung tahu aku tidak bisa berkata-kata dengan baik dan manis, Hyung tahu aku tidak bisa membuat Hyung merasa lebih baik atau bangkit dari rasa tidak percaya diri itu," Jungkook mengembuskan napas panjang, "aku juga tidak paham tindakan atau obrolanku yang mana yang bisa membuat Hyung merasa kesal atau mungkin merasa seolah aku tidak peduli pada Hyung. Tapi ini aku, Hyung. Hyung tahu aku sama halnya memperlakukan Hyung dengan Hyungdeul."
Ucapan Jungkook membuat telinga Jimin berkedut, "Yeah. Mungkin pengecualian untuk Taehyung, dia 'kan Hyung favoritmu." Ujarnya sembari membuka sebelah matanya.
Jungkook tergelak setelahnya. Seolah tidak terganggu dengan nada bicara Jimin yang sedikit naik.
"Tae Hyung memang menyenangkan, kita punya banyak hobi yang mirip," ucap Jungkook, "makanya menyenangkan sekali saat bersamanya. Tapi Hyung juga menyenangkan. Makanya aku paling suka mengejek Hyung."
Jimin semakin tidak peduli. Sungguh, lebih baik Jungkook pergi dan berhenti mengoceh tentang hal-hal yang lain yang membuatnya kesal. Sudah cukup ia ditegur habis-habisan oleh pelatih koreonya karena berkali-kali lupa gerakan dan tidak fokus dengan latihan mereka siang tadi. Comeback sudah di depan mata tetapi Jimin masih merasa ia tidak bisa melakukan apa-apa dan semakin tidak bisa melakukan apa-apa.
"Hyung sudah melakukan yang terbaik." Ujar Jungkook sembari tersenyum. Mengamati wajah Jimin yang sama kerasnya dengan beberapa menit sebelumnya. Sesungguhnya Jungkook tidak terbiasa dengan sentuhan, namun ia menarik kepala Jimin ke pangkuannya dan membiarkan telapak tangannya berada di sisi leher Jimin begitu saja. Membiarkan kulit punggung tangannya bersentuhan dengan kulit leher Jimin yang halus dan hangat. Jungkook baru tahu ada orang yang memiliki leher selembut dan sehangat ini di dunia, rasanya seperti tengah membenamkan jemari di sela-sela rambut anjing peliharaannya di Busan sana.
"Hyung yang terbaik." Ulangnya sekali lagi.
Dan Jimin mendengus geli. Mana bisa ia mengabaikan Jungkook lama-lama, "Hentikan itu." Ucapnya diakhiri dengan tawa dan jemari menutupi mulut, gestur refleksnya saat ia tertawa menahan malu.
"Tapi Hyung memang yang terbaik, Hyung adalah orang yang paling tepat untuk mengisi anggota ketujuh Bangtan. Sudah begitu dan memang akan selalu seperti itu. Pokoknya bagiku, Jiminie Hyung yang terbaik, tidak peduli apa kata orang di luar sana." Dan bukan Jungkook namanya jika tidak menggoda Jimin satu hari saja. Bukan Jungkook namanya jika tidak membuat Jimin tidak merasa gemas barang satu hari saja.
"Hentikan, Kook."
"Kita 'kan dua pria tampan kebanggaan Busan."
Ucapan Jungkook selanjutnya membuat Jimin tergelak. Benar, Jungkook tidak bisa ia abaikan begitu saja, "Aku lahir di Busan lebih dulu, Kook. Kalau saja kau lupa."
Jungkook membalas, "Hyungku lebih tua daripada Hyung."
"Terserah," Jimin mengulum tawa, "kalau kujawab lagi kau akan terus membandingkannya dengan seluruh keluarga Jeon."
"Itu Hyung tahu," Jungkook membalas, menarik selimut di sisi betis Jimin dengan tangannya yang panjang, "Hyung kalau lelah tidurlah. Biar aku yang matikan televisi nanti."
Jimin tidak menjawab. Namun ia membiarkan Jungkook menyelimutnya. Ia mempertimbangkan untuk meminta Jungkook menjadikan bantal sebagai alas kepalanya terbaring, tetapi entah mengapa membaringkan kepalanya di atas pangkuan Jungkook terasa lebih nyaman dari bantal bulu angsanya. Maka ia mengabaikan pilihan yang tadi ia pertimbangkan. Mengembuskan napas pelan dan mencoba terlelap. Jungkook sedikit baik padanya malam ini, rasanya jadi seperti Adikmu telah menjadi dewasa dan memperlakukanmu seperti ialah Kakaknya.
Tidak apa, Jimin tidak pernah merasa terganggu dengan siapa yang berprilaku seperti kakak atau adik di antara mereka. Mungkin jika ia boleh jujur, ia sedikit terganggu dengan Jungkook yang seringkali meniru gayanya, atau mungkin ia yang meniru gaya Jungkook. Entahlah, intinya ia lahir di Busan lebih dulu daripada Jungkook. Maka otomatis Jungkooklah yang menjadi peniru, dalam anggapan sepihaknya tentu saja.
Sedangkan dalam hati Jungkook mempertimbangkan untuk menulis di kertas berwarna merah atau putih setelah Jimin tidur nantinya.
Lihat, sekarang bahkan ia sudah menguap berkali-kali dan mengusakkan kepalanya lebih dalam ke pangkuan Jungkook. Jungkook tertawa kecil, dengan jahil ia sengaja mengeraskan volume televisi dan membuat Jimin yang nyaris tertidur mengerutkan keningnya hingga banyak lipatan.
"Kecilkan volumenya, Kook. Aku mengantuk." Erang Jimin.
Ah, bagaimana bisa Jimin berpikiran Jungkook lebih memfavoritkan Taehyung jika kenyataannya setiap hari ia selalu merecoki Jimin seperti ini?
x
Jeon Jungkook: End
x
Besok 13 Oktober chapter terakhir, aaaaa!
Senang ternyata ff ini bisa berjalan sejauh ini. Anyway maafkan chapter Jungkook ini, aku tidak bisa mendeskripsikan JiKook tanpa embel-embel romance. Maka kubuat ch ini singkat sekali dan minim adegan. Kalau diteruskan, bisa-bisa kubuat mereka pelukan terus kissu di akhir chapter, ho ho
Hug and kisses,
December D.
ps. Happy birthday, Kim Namjoon. I love you.
