"Aku tahu Fang tidak sejahat itu untuk tidak mau kau menjaganya. Aku bukan membelanya, Ying. Kau tahu 'kan betapa dia suka mengejekmu?"

"Dia cuma gak mau ntraktir es cendol gegara aku nemenin dia."

Wajah keheranan tercetak dari gadis berhijab serba merah muda itu. Masih dengan duduk menyamping di pinggir ranjangku, dia lalu menggeleng kecil. Keheningan sempat tercipta sementara. Aku memandang sepasang matanya yang kemudian membulat tidak berapa lama. Entah, seperti dapat menebak apa yang ia pikirkan.

"Pelit ya? Wajar sih dia cina asli."

"Aku juga cina kok—"

"Gak," tepis Yaya memotong kalimatku. "Rahasia kenapa keuangan Fang lancar jaya sampai bisa meminjamkan uangnya pada Gopal. Alasan kenapa dia lebih memilih mendiami rumah hantu daripada memilih nge-kost."

Yaya melototiku dengan wajah horor. Aku sempat berkeringat dingin. Aku sudah berpikir bukan-bukan kalau Yaya mengutuki agama kami ini bersekutu dengan setan atau semacamnya. Fang melakukan persugihan gak mungkin ah!

"Juga alasan mengapa dia tidak mau menembakmu secepatnya padahal aku sudah melihat dia menyukaimu."

"Yaya—ayolah hentikan kata-kata menggantungmu itu!"

"Dia keturunan cina asli."

"H—hah?"

Suara Yaya terdengar sangat horor. "Kalau dia menembakmu duluan, artinya dia harus membelikan apa yang kau mau. Dia menunggumu karena dia ... pelit."

.

.

BoBoiBoy fanfiction © Animonsta Studios

Be A Girl, You Tomboish Girl!

Pairing: Ying x Fang

Genre(s): Romance, Humor, Friendship, etc (tergantung chapter selanjutnya)

Warning! Typo dan segala kesalahan ketika mengetik mungkin akan muncul. Mohon segera tekan tombol 'back' jika anda merasa hal tersebut menganggu mata anda.

-oOo-

Chapter VII – I Love Way You Are

"Dia ... pelit."

Mengingat obrolanku bersama Yaya tadi malam., aku jadi merenung itukah alasan dia membelikanku pencukur ketiak daripada membawa lakban super yang mampu mencabut semua bulu yang ditempelnya.

Ying, kamu jangan jorok dulu.

'Idih lah suka cowok pelit. Ntar ceweknya sengsara lagi,' batinku menilai.

"Ying?"

"Oh?"

Yaya memandangku sejenak. "Kamu melamun terus dari tadi."

"Padahal dia yang meminta kita semua berkumpul. Rugi rasanya dari enam menit, dari tadi ketua klub tidak bisa bersuara."

Kami duduk membentuk formasi lingkaran dimana meja adalah intinya. Gopal dan Boboiboy duduk berdua dari depan Yaya yang sendiri. Sedang aku dan Fang saling berhadapan sendiri-sendiri. Laki-laki berambut acak itu melipat tangan di dada saat ia berargumen.

"Sudahlah daripada jadi panas semua anggotanya, aku mau minta pendapat dari kalian semua," Yaya memecah suasana panas antara aku dan Fang yang saling menatap. "Kemarin Ying protes karena Fang dapat tokoh gadis manis."

"Mau bagaimana lagi? Aku 'kan memang manis."

Semua menatap Fang diam. Yang bersangkutan menelan ludah.

"Iya Fang memang manis, kok," Boboiboy menopang dagu dengan cengiran kecil melihat wajah Fang. "Gaya gemulai. Suara manis... "

"Menurutku sih yang suaranya manis itu Boboiboy," celetuk Gopal ketika Boboiboy menggantung kalimatnya. Boboiboy menolehkan kepalanya yang kebetulan duduk di samping Gopal.

Oh tolonglah, bahkan aku sebagai gadis pu sadar Boboiboy sebenarnya menghina Fang sebagai lelaki. Gopal daridulu susah untuk peka soal begituan.

"Gopal, kau di pihak mana sih?! Aku mengejek Fang, tahu!"

"Eh begitu ya?"

Semua pun tertawa. Gopal pun menggaruk keningnya yang tidak gatal, malu.

"Sudah. Aku hanya minta rundingan bagaimana nanti Ying perannya mau apa. Fang, kalau Ying mengambil semua peran gadis... kau mau?" tanya Yaya membuka diskusi. Semua anggota mulai lagi memasang pose serius—termasuk aku tentunya.

"Kenapa tidak aku saja yang jadi cewek jeleknya? Katanya kelebihan anggota kan?" sahut Fang.

"Bukan begitu. Seharusnya kita perlu satu orang untuk mengurus segala keperluan peran. Fang dan Ying bisa bergantian untuk mengurus properti," ucap Boboiboy mewakili Yaya. "Mengamankan properti. Menyiapkan latar sementara para peran berganti kostum. Yah, menurutku sih begitu. Benar 'kan, Yaya?"

"Oh aku setuju untuk itu!" seruku. Yaya mengangguk.

"Jadi peran masih tetap?"

"Tetap, Gopal. Kau setuju?"

Anggukan akhir dari Gopal. Yaya menutup diskusi kami dengan nada suara tinggi.

"Keputusan sudah bulat!"

-oOo-

"M—makasih, tapi aku bisa sendiri. Aku tidak mau wajah buruk rupaku membuatmu dijauhi seluruh anak-anak di kelas ini..."

"Tidak apa. Aku tidak pernah berpikir kalau kau akan menyusahkanmu. Mereka terlalu terbuai dengan penampilan."

Aku dan Gopal kini tengah berlatih drama pada kelas. Kini buku bertumpuk kupeluk demi menghayati peran sang buruk rupa. Kebetulan aku memang sejak dulu hobi memakai kacamata. Jadi peran culun bisa kubuat secara instan dan tidak bersusah payah mengubak-abiknya.

"Dia adalah anakku."

"Tanpanya, mungkin kami tidak akan mendapat dua keberuntungan sekaligus."

Di tempat lain, sisa anggota berperan untuk skenario yang lain. Fang yang di make over sedemikian rupa sehingga—menurutku—dia menjadi benar-benar manis. Yaya duduk di suat kursi tunggal dimana ada Boboiboy memegang kedua bahunya. Mereka menghayati sebagai peran orangtua angkat Fang sendiri begitu baik.

"Terimakasih, ayah...ibu... saya begitu senang mendapat hadiah dari kalian ini."

Fang tersenyum tulus sambil mendongakkan lehernya pada wajah Yaya. Dia tidak mungkin akan memakai kacamata, jadi kami patungan untuk membelinya kontak lensa jika gladi bersih sudah dalam waktu dekat. Sementara, ia masih memakai kacamata kebanggaannya itu.

"Ying, kamu melihat latihan mereka terus. Ada apa?" tanya Gopal.

Aku segera menggeleng, "Aku senang melihat drama ini. Rasanya... kalian melakukan ini sengaja demiku. Itu saja."

"Ying terlalu jujur," ujar Gopal sembari tertawa geli walau sebentar. "Jika drama ini dibuat sengaja, kau pasti akan merasa janggal mengapa peran Fang menjadi gadis manis."

"Eh? Maksudnya?"

"Ying, aku coba menyadarkanmu sesuatu. Fang menjadi anak Yaya. Dalam skenario, hubungan anak-ibu angkat itu lumayan banyak loh."

Kuingat-ingat cerita ini. Ada tiga fokus cerita denga adegan banyak. Pertama bagian gadis buruk rupa bersama laki-laki idamannya. Kedua gadis buruk rupa yang menjelma menjadi manis bersama ibu angkatnya. Dan ketiga, gadis manis bersama si laki-laki yang akan mejauhinya kelak.

"Aku yang mengambil peran laki-lakinya saja sadar ada yang janggal dari aturan drama ini," Gopal masih melanjutkan argumennya. Yah, Gopal memang paling jago dalam membaca skenario kehidupan. Dia sebenarnya paling dewasa diantara kami, cobalah lihat umurnya.

"Maksudmu Gopal?" aku tertarik mendengar kelanjutan perkiraannya..

"Jika Yaya menyukai Boboiboy, dia pasti akan membuat peraturan dimana Yaya sendiri si gadis buruk rupa plus cantik sedang Boboiboy adalah lawan mainnya. Aku mungkin akan disuruh jadi pemain belakang yang seharusnya mengambil peran kalian—kau dan Fang—mengurusi segala properti. Tapi lihat, kau dan Fang malah tukaran peran. Kau tidak merasa janggal dengan itu?"

"Aku percaya dengan pilihan Yaya," dan suaraku terdengar agak ragu—dimana yang awalnya kami saling bersuara kecil semakin tidak terdengar.

"Yaya menyukai Fang."

Jantungku kurasakan berderup cukup keras. Wajah Gopal memang lumayan serius kupandang.

"Dan ia sengaja menyuruh Fang menjadi peran cewek manis, untuk bisa bermain peran berdua. Dia memonopoli rancangan drama ini sejak awal."

-oOo-

Jam lima sore kami semua baru bisa pulang. Lumayan dua jam kami bisa latihan bersama.

Jujur, aku masih memikirkan apa yang dikatakan Gopal waktu itu. Dia mengatakannya tanpa ada beban. Biasanya jika ia bercanda, wajahnya akan terlihat lain. Tapi ini lain.

Ketika ia menuduh Yaya sebagai pemimpin yang memonopoli peran drama sejak awal, aku jadi bertanya-tanya apa benar yang dikatakan laki-laki yang mampu membuat makanan dengan sentuhan tangan jika menyentuh material ini benar? Tapi kalau diingat-ingat lagi bagaimana dia memasang ekspresi wajah dan suaranya, ah aku saja langsung tersadar dia laki-laki palin dewasa diantara kami. Suaranya...

"Maaf Fang, aku sebenarnya mau merobohkan Ying dari posisi si gadis. Sebenarnya yang cocok berperan itu kau sendiri."

Aku bersembunyi dari balik dinding reflek. Suara wanita yang barusan berbicara. Aku kenal pita suara itu.

Kuintip sedikit dinding penghubung dua lorong pada lantai dasar. Yaya dan Fang berbincang diam-diam di depan majalah dinding umum? Aku tidak salah lihat? Tapi seberapa aku mengucek mata, yang kulihat sama.

"Tidak apa. Asal dia menikmati perannya. Aku percaya padanya."

"Bukan itu... hanya saja, Ying memang pantas pada bagian belakang layar. Dia tidak mungkin cocok pada posisi sebagai perempuan itu."

Yaya memelankan suaranya. Fang menghela napas sementara, kemudian kembali menatap Yaya.

"Apa hakmu membuat sahabatmu sendiri ada dalam posisi bawah?"

Untuk bisa bermain berdua, tentunya. Batinku ikut bicara.

Kuremas tanganku. Pendapat Gopal memang selalu benar ketika serius.

"Kau tidak sadar akan sesuatu? Misal tentang pandanganku padamu?"

Ah sial. Aku terlalu berani melihat hal pahit ini. Fang adalah laki-laki narsis yang peka. Ia pasti tahu apa yang akan dikatakan Yaya kepadanya!

"Yaya, aku hargai keberanianmu..."

Senyuman lembut dari laki-laki berambuut acak itu. Tanga bersarung tanpa jari itu naik, ingin menjamah wajah Yaya dengan tangannya sendiri. Khayalku.

Aku berlari langsung, tidak tahan melihat sandiwara yang tampak nyata dari mataku.

-oOo-

"Ah... aku memang gadis menyedihkan..."

Sepulang sekolah aku langsung merebahkan tubuhku pada ranjang. Pandanganku menerawang menatap langit-langit rumah. Ah, aku bahkan merasa tidak punya nyawa kali ini.

Fang yang menyambut perasaan Yaya. Yaya yang menembak dengan menggunakan kiasan. Ah maklumlah, level Yaya itu tinggi. Dia memang pintar bermain perumpamaan.

Aku melamun. Kenapa saat itu Yaya sempat mengatakan pendapatnya kalau Fang menyukaiku, tapi sebenarnya dia juga suka dengan Fang? Gopal yang bahkan bisa membaca hubungan rumit hanya dengan satu kedipan mata? Boboiboy yang berusaha agresif mendekati Yaya, namun jarang dibalas tulus setulus saat Yaya menembak Fang secara berani.

Kenapa aku begitu idiotnya, baru sadar ada drama aneh dalam siklus hubunganku dan sahabatku.

Aku dan Gopal akan jomblo selama-lamanya, pasti. Ah, aku akan melamar Gopal kalau hal itu terjadi. Eh masih ada Boboiboy. Terlalu jijik punya laki-laki idiot dengan tubuh besar namun penakut. Mending dengan pemimpin geng kebenaran—maksudku, pemimpin pahlawan super.

Tapi aku yakin Boboiboy akan sedikit takut denganku. Mencoba berani dengan menembak duluan. Aku akan berhasil jadian lalu menikah dengannya. Kalau Fang dan Yaya akan ikut salah satu pasangannya dalam agama apa, aku pasti akan memilih islam. Kemudian aku membayangkan diriku yang sudah besar memakai hijab berukuran sampai menutup dada. Punya anak minta ASI aku beri dengan terlebih dahulu menaikkan hijabku.

Tolong kenapa imajinasiku sampai ke masa tua sih—

"Emak... uhh, aku suka sama Fang..."

Entah kenapa kurasakan sensasi lain setelah mengutarakan jujur seperti tadi. Kurang puas, aku sekali lagi menyebutkan nama pemuda berkacamata itu.

"Aku suka Fang..."

Lagi.

"... Aku suka dengan Fang..."

Terus menerus. Kedua mataku begitu perih terasa. Ada yang melewati batas pelupuk mata lalu menyelimuti irisku menatap langit-langit kamar. Ia mengalir, dan aku merasakan itu.

Airmata mengalir kemudian jattuh pada bantal yang kubaringi.

"Aku gak rela Fang pergi—hiks..."

Pilihan sulit; apakah harus bersaing seperti biasa kami memperebutkan peringkat satu, atau membiarkan Yaya mendapatkan Fang karena dia lebih berani dan lebih dulu dariku...

"Tapi aku suka sama Fang... gimana ini... hiks, aku suka sama dia..."

Kuhabiskan waktu seusai pulang sekolah itu, dengan terus meratapi nasib pahitku.

"Gimana ini hiks—aku—aku pengen dia—aku suka..."

Terus menyerukan perasaanku, yang mungkin atau tidak pernah tersampaikan sampai kapanpun.

-oOo-

Rutinitasku adalah sekolah baik-baik. Karena itu satu-satunya target yang mungkin bisa kuraih, dan aku optimis untuk mencapainya. Peluangnya bagiku sudah 80 banding 100. Tidak seperti satu keinginan hinaku itu.

"Ying, matamu kok bengkak?"

Buruk sekali hari ini. Aku habis galau memikirkan cowok yang gak bakal mikirin aku, aku yang hari ini ditegur karena yang menegur melihat keadaan aneh dari fisikku, sekarang si penanya itu adalah—

"Aku gakpapa kok, Yaya."

Orang yang membuatku sampai menangis lima jam dalam kamar tanpa sempat makan malam. Yaya dengan polosnya menanyakan kabar tersebut padaku.

"Oh ya sudah deh. Nanti lambat laun juga ilang pastinya kok."

Tertawa kecil. Itu responku.

Yah sejak itu aku semakin giat memainkan peranku sebagai gadis buruk rupa. Aku tahu ini hanya permainan monopoli yang diciptakan sahabatku sendiri. Aku tahu kak Nico padahal sudah tahu belang Fang, makanya beberapa kali menembakku—dan akuu selalu menolaknya. Tapi aku harus sanggup menerima segala keputusanku. Aku yang menjadi tokoh utama dalam hidupku.

Berhari-hari, berganti menjadi berminggu-minggu, dan berakhir menjadi detik-detik sebelum pelaksanaan drama dari tugas guru seni kami. Deg-degan, pasti. Aku sedikit takut kalau drama kami bakal jelek nantinya. Tapi aku harus bisa menerima segala resikonya.

Tiba hari pelaksanaan. Dua kelompok sudah maju dengan memainkan peran masing-masing begitu baik. Dan disini aku, mengintip permainan mereka yang begitu 'wah'.

"Wah~ Saingan kita berat-berat, ya?"

Pemuda berkacamata tengah menyiapkan wignya sambil menonton drama dari balik pintu kelas. Aku hanya menanggapinya dengan tertawa.

"Aku akan berusaha melampaui mereka."

"Memang bisa? Wahaha, kau memang selalu optimis melulu."

"...," aku hanya diam, tidak ada rasa ingin merespon. Luka hatiku masih ada. Aku ingin hubungan kami kembali menjadi teman, namun aku benci ketika aku digombal laki-laki yang sudah punya. Aku tidak mau punya apa-apa dengannya. Memang teman, tapi aku tidak mau tampak spesial lagi.

"Yah, tapi aku akan kalahkan semua pesona perempuan penjilat itu dengan pesonaku."

"Kau memang dari dulu kuanggap perempuan, makanya aku gak pernah melirikmu."

Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba berkata seperti itu. Rasanya aku tiba-tiba saja merasa kesal dengan kesombongannya yang sekian banyak, dan ini puncaknya.

"Kau menganggapku perempuan? Menggelikan."

Kadang aku tidak suka mulut blak-blakkan dia.

"Ya sudah kalau begitu, kau peranin semua dramaku! Biar dari awal semua orang suka pesonamu yang sok-sok ditebarin itu!"

"Kenapa main kesal begitu sih?" Fang nyengir melawak.

Plak!

Aku menampar wajahnya cepat. Dia memegangi pipinya yang terasa panas. Aku menarik-hembuskan napas dengan bersuara, lelah melihat semua kesombongannya itu. Atau... aku memag telah berada di puncak risih bertatap dengan wajahnya.

"Hei jangan bertengkar disini! Nanti dipergoki guru loh."

"Persetan."

Dia tertawa. Ya, Fang tertawa di depanku.

"Ahaha, aku bahkan ingat dialogmu. Oke, aku terima tantanganmu."

Kami saling bertatapan kesal. Boboiboy yang awalnya penengah kami, tidak mampu lagi melerai untuk kedua kalinya.

=oOo=

Kini kelompok kami maju. Sebagai awal cerita dimana pangeran dan gadis buruk rupa paling pertama, Fang yang mengenakan wig juga Gopal sebagai pangeran bermain paling pertama.

Aku mengatur belakang panggung. Menata wajah Yaya, menyediakan properti drama, dan aku akan jadi karakter sampingan yang tidak berat-berat perannya.

"Kukira kau benar-benar niat main drama, kau enak sekali menyuruh Fang menggantikan peranmu."

Pembukaan, Yaya mengomeliku saat aku sibuk menonton drama dari belakang panggung. Sarapan pagiku runyam sekali.

"Bukannya bakalan bagus kalau peran gadisnya cantik dari awal? Dia juga menantangku kok."

"Ying, kamu gak kasihan sama dia?"

"Dia pasti berperan baik. Lihat tuh," Ying menunjuk adegan dimana Fang terjatuh dengan kedua lututnya, dari balik lubang tirai yang ia buka sedikit.

"Katanya beberapa hari sibuk begadang buat properti loh," Boboiboy ikut menimpali. "Dia agak tekun sih."

"Persetan."

Dalam hati aku merasa gelisah. Masa' Fang bisa semaso itu kalau kerja? Lagian dia orangnya gampang bentar-bentar protes, kok.

"Eh Fang, kau gakpapa?"

Sampai guru penilaiku menegur Fang sendiri. Ajaib, beliau tahu nama Fang.

...engh, saya tahu saya salah fokus.

"Gakpapa bu, itu tadi cuma drama."

DRAMA. Setelah wajahnya yang kelihatan pucat itu tampak mencolok, dan semua itu ia katakan d-r-a-m-a. Tapi dia kembali memainkan perannya.

Entah mengapa kedua kakiku bergerak sendiri. Keluar dari belakang panggung dan segera menarig wig yang melekat pada rambut si pemilik kuasa bayang. Aneh, memang. Dengan kespontananku yang masih mau peduli dengan orang yang pernah membuatku menangis lima jam.

"...seharusnya kau katakan, kalau kau kurang tidur."

Itu kataku pada awalnya. Dia menanggapi reaksiku dengan terdiam saking terkejutnya. Tidak lama ia berdecak.

"Sengaja biar aku kalah taruhan denganmu, ya?"

"Ini tugasku..."

Rambut palsu dalam genggamanku. Dan kuharap, dia tidak mencoba untuk menarik apa yang ada di tanganku ini.

Aku katakan, aku juga tidak tahu apa alasanku untuk peduli denganmu. Tuturmu pedas. Kau brengsek.

"Seharusnya.. ini tugasku..."

Fang yang tidak mau jujur dengan perasaan sendiri. Fang yang baik. Fang yang peduli. Fang yang peka.

Namamu selalu teringat dalam benakku, setiap kali aku bertanya siapa yang akan menolongku saat kesusahan. Kau yang berusaha membuatku teguh punya pendirian untuk menjadi manis. Kau yang hobi membangunkan lamunanku.

"Terimakasih buat menganggapku masih ada. Kau terus menyapa gadis yang tomboi ini."

Entah sejak kapan, aku sudah menganggapmu 'laki-laki'. Kau adalah penopang hidupku saat ini. Aku tidak berharap banyak kau akan menjadi milikku, tapi aku ingin kau selalu peduli dengan keegoisanku.

Aku suka padamu, Fang.

"Yah, Ying... kau memang selalu menawan sampai kapanpun. Aku tidak bisa menahannya lagi."

Tidak memandang guru penilai ada di depan. Tidak ingat teman-teman menonton drama kami saat itu. Dia mengecup dahiku lembut. Aku memejamkan mataku, terjatuh dalam pesonanya yang indah dari mataku.

Fang yang memang selalu sempurna dan akan selalu indah, dari pandanganku.

"Aku suka padamu."

Satu kalimat dari bibir pria keturunan sama denganku, membuat seluruh gadis dari tempat duduknya histeris.

"Hah?! Kenapa dramanya begitu nyata?!"

"Tenang bu, itu drama kami. Plottwistnya banyak."

=oOo=

Selesai ulangan praktek itu, kami semua membersikna perabotan dan kostum kami tanggal. Menyiapkan tas, menyusun semua barang. Kami akan pulang bersama setelah ini.

"CIEH YANG SUDAH PACARAN CIEH!"

"KAK NICOOOOOO!"

Aku menjerit panas. Nyaris aku akan menabok wajah cantik dari pemimpin klub basket.

"Drama kalian sweet banget tau! Aku sampai jerit cantik disini!"

"Alay."

Fang melingkarkan tangannya pada leherku. Disana, Yaya langsung menghampiri kami untuk memberi selamat.

"Hehe, kaget aku malah rancangan Yaya sukses."

"Rancangan?" aku memiringkan kepalaku sedikit, heran.

"Loh kau gak tau, kalo Yaya waktu itu gak bisa menipu Fang?"

"Aku memang belum ada selera sama Yaya. Ya, setelah aku menolak tegas baru deh Yaya ngaku," Fang menimbrung obrolan kak Nico dan Yaya.

"Jadi, Fang gak suka sama Yaya?"

"Yap begitulah," jawab Yaya sekenanya. "Dan tunggu, kau tahu kalau aku suka sama Fang secara pua-pura?"

"Eh..."

Kak Nico menatapku fokus. "Oh mungkin itu yang buat Ying maanya sembab waktu itu."

"KALIAN AHHHHHH! JANGAN MEGGODAKU!"

"Siapa yang menggooda? Kami mengejek kok," balas kak Nico gamblang.

"NICOOOOO... KAU JUGA MENYUSAHKANKU, KAU TAHU?"

Kak Tina juga hadir kemudian merangkul kak Nico.

"Traktir makan mi."

"Gak mau kalau buat kamu."

"Hutang kamu masih banyak, loh. Kukuras nih uang rekeningmu."

"Ampun mbah dukun, jangan korupsi—"

"Disini ribut. Aku permisi dulu, ya," Fang menarikku dengan masih posisi merangkul.

"AIH! YAYA, KAPAN KITA DEWASA YA? AKU JUGA MAU SENTUH-SENTUH KAMU—"

"BOBOIBOY, TAHAN NAPSUMU."

"Lebih baik kita bicara soal kesalahpahaman secara privasi. Kau percaya denganku 'kan, Ying?"

"Emang ada orang yang percaya, saat dikasi pencukur ketiak dihari ulangtahunnya?"

"Engh... aku akan ceritakan hal itu lain waktu. Itu hanya salah paham, asal kau tahu—"

"Ahaha, aku suka Fang apa adanya. Walau kau pelit, cina kek, playboy kek."

Lagi-lagi kurasakan bibir tipisnya menempel pada dahiku. Menciumku begitu lembut.

-End-

A/N: Unggak 4 bulan—aku keren... #dilempar Fang sama Ying

In sebenarnya birthday gift buat adek Aruka. Tapi biar adil, semuanya deh diapperciate. Makasih buat Bernadetta, Namemeyx, , Rin-chan 2930, D. 'Gee-eun' oktaviani, Rhein98, Vio Ritsu, Yamashita Aruka, Furusawa Aika, Shrnn, Veni Lorensa, nezlarena, safiira999, Guest, Mugipyon, NameYaoigirl, , Fannychan Acodeva, ainast ru, Amagi, ZawNoyuhuu, Chocolate Bubbletea, Nanas Rabbitfox, QuillAsh, Kedebong Ares, Ranifk, Kanyaazizah13, Lamiela 'Aiko' Lila, joonyi, Fujihiroriin, Azruel, Yuriko-chan, NaiiLavigne, AqariFiaFRs, Elin, yuka, nuradinda, Guest, YingLovatic025, himitsu-chan, Erry-kun, Hamano SeLrin, dan Dearest Sweetness! Juga faves, followers, apalagi buat silent reader x3

Happy birthday buat siapapun yang ultah hari ini~ khususnya buat dedek 83

Oct 26, 2015