"ALMOST" Squel of LISTEN
Naruto belong Masashi Khisimoto
Warning!
DLDR, TYPOS, AU, EYD masih nyelempeng dst.
.
.
.
.
.
"Tadaima!"
"Okaeri—"
Tersentak saat salamnya ada yang menjawab "Ibu?—ibu sudah pulang!" Bolt langsung memeluk Ibunya, Hinata mengelus kepala anaknya sayang, dan tersenyum tulus namun terlihat menyakitkan, Hingga tanpa sadar air mata itu kembali mengalir tanpa ijin dan buru buru Hinata menghapusnya "Tumben ibu pulang cepa—ibu menangis!? ibu kenapa? Apa ada yang sakit?" ucap Bolt panic.
Terdiam sejenak Bolt menatap khawatir Amethyst milik ibunya yang sangat disukainya dan Hinata menatap Shappir anaknnya dengan tatapan sulit "Ibu ingin tanya sesuatu pada Bolt" tiba tiba Hinata menegaskan suaranya dan sukses membuat Bolt merinding. "Kamu dari mana?"
"Da-dari Hu-hutan bu" jawab Bolt gugup karena ekspersi ibunya saat ini sama seperti dirinya melakukan kesalahan dulu, atau bisa dibilang interview kejujuran menurut Hinata.
"Dengan siapa?"
"P-pluto"
"Apakah ada orang lain lagi?"
Bolt terdiam menunduk, dan menunduk pelan
"Siapa dia? Apa ibu mengenalnya?" Hinata semakin was was menanti jawaban dari anaknya 'semoga bukan dia, semoga' gelisah Hinata
Bolt menggeleng pelan "Pa-paman dan Kyuubi"
"Si—siapa nama paman itu? Dan siapa Kyuubi?" Hinata semakin gugup mendengar jawaban akannya
"Paman Naruto dan kudanya—"
Deg.
Jantung Hinata bagaikan berhenti saat itu juga, matanya terbelalak tidak percaya anaknya menyembunyikan hal itu selama ini padanya? dan Bolt akan terus menyembunyikan hal ini padanya kalau dia tidak dipaksa berbicara? Anaknya melakukan hal itu padanya? apakah anaknya sudah berani berbohong padanya. Hinata merasakan jantungnya bagaikan tertusuk ribuan jarum, lebih baik dia tidak di percaya oleh orang satu desa di banding oleh anaknya sendiri karena hal itu sangat menyakitkan. Hinata menutup mulutnya sambil menangis tanpa suara "Kenapa kau melakukan hal ini pada ibu nak? Apa kau tidak menyayangi ibumu ini hingga kau berbohong pada ibu?"
Melihat ibunya yang menangis membuat Bolt semakin merasa bersalah dan sedih hingga dirinya juga ikutan menangis "Huweeee! Maafkan aku ibu, aku sangat sayang ibu! aku tidak ingin membuat ibu khawatir kalau aku bermain dengan orang lain hiks—paman itu orangnya baik bu, dia membelikan aku mainan, bermain denganku dan menceritakan banyak hal padaku huweee maafkan aku ibu—" Bolt memeluk ibunya sambil menangis kejer. "Ibu jangan menangis, hiks—Bolt janji tidak akan bermain dengan paman Naruto lagi, Bolt janji tidak akan bertemu paman Naruto lagi. Bolt janji huweee"
Hinata melepaskan pelukan anakknya dan menangkup kedua wajah anaknnya "Maafkan ibu nak, ibu hanya ingin yang terbaik untukmu" Hinata mencium kening anaknnya dan kembali memeluknya
"hiks i-ibu jangan menangis lagi Hiks" ucap Bolt sambil sesegukan di pelukan ibunya.
Sudah 2 hari Semenjak kejadian itu Bolt sama sekali tidak menemui Naruto yang terus menerus menunggunya, disana Naruto berdiri mondar mandir menunggu Bolt yang tidak kunjung datang, apakah ini karena kemarin dirinya telat datang? Kalau iya dirinya akan mengutuk Sasuke yang memberikan tugas kantor yang begitu banyak padanya yang notebanenya sedang cuti, tidak tahu kah dia kalau Naruto ingin menghabisakan waktunya hanya untuk bermain dengan anaknnya bukan dengan tugasnya!
"Awas kau teme—" ancam Naruto dengan aura yang sangat gelap.
Sedankan disana Sasuke mengusap tengkuknya yang tiba tiba merinding dan merasakan perasaan yang tidak enak "Ada apa ini?" ucapnya yang bingung karena tiba tiba merasakan hawa yang sepertinya ingin membunuhnya.
Sudah 3 jam Naruto masih setia menunggu namun sepertinya tidak ada tanda tanda bahwa orang yang di tunggunya datang, Naruto menjadi teringat kembali perbincangan dengan Jiraya kemarin malam.
Flashback
Naruto pulang dengan keadaan hampa karena Bolt tidak datang seperti biasanya, entah karena apa. Berjalan dengan malas melewati Jiraya yang melihatnya sedari tadi dengan tatapan bingung. Selesai mandi Naruto duduk di teras belakang Villa yang pandangannya langsung mengarah ke perkebunan luas Villa tersebut. Beberapa kali menghela nafas kasar dan bertarung dengan pikiranya yang tidak kunjung mendapat penyelesaian.
"Angin malam kurang bagus Naruto" ucap Jiraya tiba tiba yang duduk di sebelah Naruto.
Naruto tersadar dari lamunannya lalu menoleh pada Jiraya yang menatap ke depan, lalu dirinya ikutan menatap ke depan juga dan tersenyum kecut "Tidak masalah untukku paman"
"Kau menjadi murung, ada apa? Biasanya kau akan sibuk di jam segini?" Jiraya mengatahui semua kegiatan Naruto, karena hanya dirinya yang mengurus Naruto disini dan dirinya juga sudah menganggap Naruto sebagai cucuknya.
"Tidak apa paman—"
"Kau tidak bisa berbohong padaku, walaupun kita baru kenal beberapa hari lalu tapi aku sudah biasa dengan sikapmu sehari hari, kalau kau tidak keberatan kau bisa menceritakan padaku masalahmu, aku akan selalu mendengarkanmu dan membantumu sebisaku karena kau sudah seperti cucu ku sendiri" tutur Jiraya
Naruto menatap Jiraya yang juga menatapnya dengan senyuman, jujur beberapa hari ini Naruto dan Jiraya cukup dekat, mereka banyak berbincang bincang tentang berbagai hal dan sifat Jiraya yang sangat terbuka dan menyenangkan. Jiraya sudah seperti pamannya sendiri, mungkin dengan bercerita padanya beban Naruto akan sedikit berkurang. Tidak ada salahnya terbuka pada seseorang kan? Naruto sudah lelah selalu menyimpan semua ini sendirian, lagi pula menurut Naruto Jiraya adalah orang yang cukup bisa di percaya.
"Ya, aku memang memiliki banyak masalah paman—masalah yang sudah bertahun tahun ku rasakan dan tidak pernah menemukan jalan keluarnya—" Naruto menatap kosong kearah depan "—aku sebenarnya sudah memiliki anak namun karena kebodohan yang ku lakukan 6 tahun yang lalu membuat mereka yang begitu berarti bagiku pergi— meninggalkanku dalam perasaan bersalah dan kesepian yang tidak berujung—aku begitu berengsek" Naruto meremas tangannya hingga kuku jarinya memutih "Mungkin ceritaku ini terdengar terlalu mendramatisir ya? Tapi memang itulah yang kurasakan selam ini—" Naruto tertawa pahit dan Jiraya hanya memandang sedih Naruto " kulakukan berbagai cara untuk terus mencarinya, bahkan aku tidak pernah berada di apartementku seharian penuh karena aku selalu menyibukan diriku dengan perkerjaan kantor hingga menjadi workaholic, hal itu terpaksa kulakukan agar diriku bisa melupakannya barang sejenak tapi tidak bisa" Naruto meremas rambutnya geram "aku begitu frustasi paman, kalau bukan karena kehadiran anakku mungkin aku tidak akan bisa hidup sampai sekarang ini—" ucapnya pilu sambil menahan matanya yang sudah memanas ingin mengeluarkan cairan bening.
Jiraya miris melihat Naruto yang ternyata selama ini memiliki beban yang begitu berat, membayangkan Naruto melewati hari harinya dengan perasaan bersalah yang terus menerus menghantuinya tentulah tidak mudah. Mereka terdiam beberapa menit, bukan karena Jiraya bungkam namun membiarkan Naruto menenangkan dirinya sejenak.
"—hingga akhirnya aku bisa menemukan mereka, disini—" lanjut Naruto
Jiraya menaikan alisnya 'mereka disini?' batin Jiraya "Jadi itu alasanmu selalu memesan mainan dari kota?" tanya Jiraya,
"—iya, itu kulakukan untuk anakku—" Naruto tersenyum tulus mengingat reaksi anaknnya saat menerima mainan darinya "—aku sangat menyayanginya. Aku ingin sekali melindungi mereka, tapi –" Naruto terdiam sambil mengigit bibirnya hingga berdarah "—aku begitu pengecut paman. A-aku tidak mempunyai muka bila bertemu dengan Hinata nanti –a-aku tidak tahu apa yang harus ku perbuat saat bertemu dengannya lagi pertemuan kami yang terakhir begitu menyakitkan baginya aku tahu itu, dia pasti membenciku sekarang, aku sudah tidak punya harapan paman! A-aku takut mereka membenciku" Naruto menjadi hilang kendali, perasaan bersalah yang menyakitkan dan negative thinkingnya mulai kambuh. Naruto menangis dalam diam sambil meringkuk ketakutan mecengkaram dirinya sendiri dengan keras terlihat dari kuku jarinya memutih dan bajunya hampir robek karena remasan tangan Naruto.
Jiraya kaget saat melihat Naruto, sepertinya sudah Naruto mengalami depresi berat karena beban yang di timpanya selama ini hingga berpengaruh pada mentalnya, ini bisa bahaya kalau di biarkan terus menerus.
"Na-naruto tenanglah—" Jiraya menghampiri Naruto yang meringkuk ketakutan dan memegang bahunya "Naruto lihat aku!" perintah Jiraya namun Naruto tidak mendengarnya "Naruto!" bentak Jiraya, akhirnya Naruto menatap kosong Jiraya. Jiraya menatap shappir kosong yang penuh dengan kesakitan itu dengan khawatir "Tenang lah semua akan baik baik saja—kau harus kendalikan dirimu. Ingat anakkmu Naruto, kau harus tenang" ucap Jiraya melembut. Naruto mulai melemaskan remasannya pada dirinya sendiri dan menunduk lamas
"Maaafkan aku paman—" ucap pelan Naruto dengan pilu "A-aku memang orang yang tidak berguna"
"Tidak, itu tidak benar. Kau sudah melakukan yang terbaik" Jiraya mengelus kepala Naruto pelan. Setelah Naruto lebih tenangan Jiraya menegakan dirinya dan menatap Naruto yang berada di bawahnya "Tapi aku cukup kecewa denganmu Naruto—"
Naruto mendongak menatap Jiraya pandangan sulit di artikan diartikan "Maafkan ak—" Naruto kembali menunduk.
"—Aku kecewa dengan sikapmu yang sudah mundur sebelum bertarung" potong Jiraya "—kau ingin kembali pada mereka, tapi kau tidak meneruskan jalanmu untuk kembali. Kau mala berhenti di tengah jalan saat melihat mereka, kau tidak melihat pandangan mereka 'Aku ada disini dan kemarilah', tapi kau mala berhenti dengan beribu alasan hingga mereka kembali pergi meninggalkan kau lagi. Kau sudah dewasa Naruto, jangan bersikap seperti anak remaja yang masih mencari jati dirinya."
Flashback and
Naruto termenung mengingat perkataan Jiraya kemarin, saat itu dirinya bagai di tampar keras oleh kenyataan, jadi selama ini dirinya hanya diam di tempat dan tidak berani melangkah karena alasan yang belum tentu benar kan?. Naruto bangkit dari posisinya dengan tekat yang sudah amat kuat dia ingin mengakhiri semua ini "Aku akan menemui Hinata" ucapnya dengan tegas.
Srek
Naruto segera menoleh ke belakang saat ada suara, dan jantungnya berdegum begitu kencang saat itu juga "Hi-hinata?"
.
.
.
.
tbc
DON'T LIKE DON'T READ ! BE PATIENT.
