OPERA

.

KYUMIN

HAEHYUK

Other Cast

.

GS/Typo(s)/Membosankan/Pasaran/Tidak sesuai EYD/OOC

.

Rated M

.

Semua Cast milik diri mereka masing-masing, orang tua, dan Tuhan YME.

Saya hanya meminjam nama mereka saja.

.

Don't Like Don't Read

.

Don't Bash The Chara

.

^Happy Reading^

.

.

.

"Hm?"

Eunhyuk mengangkat kedua alisnya. Menggeleng heran melihat sosok lelaki yang tengah tengkurap dan wajah yang sengaja ia tenggelamkan di permukaan bantal.

Perempuan itu tersenyum, melangkah menuju lemari besar sisi kamarnya seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Bukan tanpa alasan ia membasuh tubuhnya semalam ini.

Sepulang kerja, Donghae mengajaknya untuk berbelanja. Tak ada yang aneh memang, namun ini kali pertamanya pria itu mengajak Eunhyuk mengelilingi pusat perbelanjaan, membeli sesuatu yang menurutnya… tak begitu penting. Sebelumnya, Eunhyuklah yang akan membujuk Donghae menemaninya berbelanja. Kekasihnya itu tak begitu menyukai keramaian.

"Kau sudah selesai?" Tanya Donghae. Mengangkat kepalanya menghadap Eunhyuk.

"Eum." Eunhyuk mengangguk. Mengambil kaos longgar putih dan celana pendek hitam miliknya. Ia masih bisa mengenakan celana ketat walau tubuhnya terlihat sedikit berisi. Usia kandungannya saat ini sudah menginjak bulan kedua. "Kau tak pulang?"

"Jika kau pulang bersamaku, aku akan pulang."

Eunhyuk memutar manik matanya, menghela nafasnya bosan. Semenjak bertemu dengan keluarganya tempo lalu. Donghae hanya sesekali mengunjungi rumahnya. Itupun hanya karena ingin bertemu dengan ibunya. Donghae lebih memilih tinggal bersama Eunhyuk. "Ini rumahku."

Donghae berdecak lirih. Mendudukan tubuhnya bersandar dikepala ranjang. "Rumahku juga rumahmu."

"Tapi aku lebih suka berada dirumahku sendiri."

"Apa itu karena appa?"

Eunhyuk menggeleng. "Bukan."

"Lalu?" Donghae memeluk bantalnya. Pandangannya terus tertuju pada Eunhyuk. perempuan itu kembali mengeringkan rambutnya yang basah. Terlihat sangat sexy walau lekuk tubuh Eunhyuk terbalut rapat bathrobe putih. Donghae menarik nafasnya.

Bersabarlah Lee Donghae.

Donghae sudah cukup lama tak menyentuh tubuh Eunhyuk. selain usia kandungan Eunhyuk yang masih terbilang rentan, beberapa masalah yang mereka alami membuat Donghae tak mungkin meminta Eunhyuk melayaninya. Belum lagi Eunhyuk tetap ingin bekerja. Seperti inilah jika memiliki atasan yang tak lain adalah kekasih sendiri. dengan santainya Eunhyuk bisa menolak perintah Donghae.

"Aku tak mungkin membiarkan rumah ini kosong."

"Hanya sesekali saja. tak harus selalu tinggal disana."

Eunhyuk tersenyum. menghampiri Donghae lalu mencium pipi pria itu. "Akan kupikirkan." Ucapnya sebelum melangkah.

"Kau mau kemana?"

"Mengganti pakaianku."

"Kenapa tidak disini?" Donghae menarik lembut tubuh Eunhyuk. memeluk pinggangnya erat. "Jangan ganti pakaianmu. Aku merindukanmu sayang."

"Kita lelah Hae."

"Hanya sebentar. Aku akan melakukannya dengan lembut."

.

.

.

.

.

Terdengar jelas nafas dua makhluk Tuhan itu saling bersautan. Menikmati sisa-sisa orgasme penyatuan tubuh yang melelahkan. Keringat sudah membanjiri tubuh keduanya. Cahaya yang minim menambah kesan erotis setelah mencapai klimaks untuk kedua kalinya.

Sesekali Kyuhyun mencium pipi Sungmin. beralih mengulum telinga kirinya membuat perempuan itu menggelinjang geli. ini bukan kali pertamannya Kyuhyun melakukannya dengan Sungmin. namun sentuhan pria yang tak memakai apapun itu selalu membuat Sungmin melayang. Hey, bukankah mereka masih pantas dibilang pengantin baru?

"Kau baik-baik saja?" Tanya Kyuhyun.

Sungmin mengangguk. Membuka matanya menatap Kyuhyun. "Hm. Hanya saja ini sangat melelahkan Kyu."

Kyuhyun tersenyum miring. Menyangga tubuhnya dengan siku tangan. "Tapi kau membuatku ingin melakukannya lagi."

Sungmin tersenyum. "Lakukanlah."

Kyuhyun mengangkat tubuh Sungmin. Mendudukan perempuan itu di pangkuannya. Sungmin memeluk erat leher Kyuhyun, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu.

"Bergeraklah. Puaskan aku Min."

Sungmin menggerakan tubuhnya. Meremas pundak Kyuhyun saat milik Kyuhyun menyentuh miliknya. Tangan Kyuhyun membantu tubuh Sungmin. Sesekali memainkan dada Sungmin membuat perempuan itu mendesah keras.

Kyuhyun mendorong tubuh Sungmin. Menindih kembali tubuh mungil itu lalu menggerakan tubuhnya cepat. Menikmati milik masing-masing sampai puncak itu kembali mereka rasakan.

"Terima kasih."

Sungmin mengangguk. Membelai lembut pipi Kyuhyun.

"Tidurlah." Kyuhyun beranjak dari tubuh Sungmin. mendesah lirih saat Kyuhyun mengeluarkan miliknya. "Lebih dari tiga jam kita melakukannya. Kau pasti lelah." Ucapnya setelah berbaring disisi Sungmin.

Sungmin balas tersenyum, memeluk erat tubuh Kyuhyun. Wajahnya memerah. Selain lelah, Sungmin benar-benar malu jika harus bertatapan dengan Kyuhyun. Demi Tuhan, Kyuhyun memperlakukannya sangat lembut. Tak masalah jika Kyuhyun memintanya lagi. Bukankah seorang istri harus memenuhi permintaan sang suami? "Eum. Aku mencintaimu Kyu."

"Aku juga mencintaimu."

"Akhir-akhir ini kau terlihat sangat lelah." Sungmin menggerakan jemarinya didada Kyuhyun. tersenyum saat menyentuh hasil karyanya. Sungmin cukup hebat membuat tanda kemerehan didada Kyuhyun.

"Tak masalah." Ujar Kyuhyun seraya menarik selimut. Menutupi tubuh polos mereka. "Kita tidur?"

Sungmin mengangguk. Mencuri ciuman dibibir Kyuhyun sebelum memejamkan matanya.

.

.

.

.

"Kau jadi pergi hari ini?"

Kyuhyun mengangguk. Menoleh pada Sungmin seraya meneguk susu coklatnya. "Tak apa bukan?"

Sungmin mendudukan tubuhnya di sisi Kyuhyun. memberikan sepiring nasi goreng pada pria itu. Selain membuat sup kimchi dan ramyeon, ia juga bisa membuat nasi goreng. Walau tak seenak nasi goreng yang selalu ibunya buatkan. Ibu? Entah kenapa rasanya ia ingin sekali memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu.

"Sungmin-ah kau marah padaku?"

Sungmin terkesiap. Menoleh cepat pada Kyuhyun. "Tidak."

"Ada yang kau pikirkan?"

"Tak apa." Sungmin mencoba tersenyum. "Jadi mulai sekarang kau bekerja di perusahaan Yesung oppa?"

"Yesung hyung memintaku membantunya." ucap Kyuhyun sebelum menyuap nasi gorengnya. "Tapi aku yakin jika Ryeowook yang memintanya."

Sungmin tersenyum, jemarinya terulur merapikan rambut depan Kyuhyun. "Kau jangan seperti itu. mungkin memang Yesung oppa sedang membutuhkan seseorang untuk membantunya mengurus perusahaan. Dan Ryeowook merekomendasikanmu padanya."

Kyuhyun ikut tersenyum. menyentil dahi Sungmin lalu mengecup singkat pipi putih itu. "Aku sudah menjadi kepala keluarga sekarang. jadi kau sudah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Walau penghasilanku belum seberapa, tapi jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja padaku. Kau mengerti?"

"Eum." Sungmin mengangguk. "Aku mengerti. Dan aku akan menjadi isti yang baik untuk suamiku yang tampan ini."

"Kau benar. Termasuk melayaniku setiap malam bukan?"

Kepalan tangan Sungmin mendarat bebas di bahu Kyuhyun. membuat pria itu mengaduh sakit. "Bicara apa kau!" Ucapnya kesal. Kyuhyun terkekeh geli mendapati wajah Sungmin yang memerah. Kepuasan tesendiri jika menggoda Sungmin dengan cara seperti itu.

Dengan telaten Kyuhyun menyisihkan potongan sayur yang sengaja Sungmin campurkan di menu sarapannya pagi ini. Bibir Sungmin mencebik kesal. Ia heran, bagaimana bisa suaminya itu sangat membenci sayuran. Selain kimchi, Sungmin tak pernah melihat Kyuhyun memakan sayur.

"Kyu."

"Hm?"

"Bukankah Yesung oppa adalah pengusaha kaya. Mengapa Yesung oppa dan Ryeowook memilih tinggal disini?"

Kyuhyun menelan makanannya. Meneguk susu coklatnya sebelum menjawab. "Memangnya ada apa?"

"Tak apa." Sungmin menggeleng, mengelap sudut bibir Kyuhyun dengan ibu jarinya. "Hanya saja terlihat aneh."

Kyuhyun hanya tersenyum. tak menanggapi kembali ucapan Sungmin.

.

.

.

.

.

.

Cuaca cerah begitu menguntungkan untuk Sungmin dan Ryeowook siang ini. Menghilangkan rasa bosan dengan berbelanja bahan masakan untuk makan malam nanti. Sungmin ingin banyak belajar dari Ryeowook. Istri Yesung itu sangat pintar memasak.

"Tapi Kyuhyun tak suka sayur. ketika aku memasukan sayur kedalam mie, dia akan menaruhnya di mangkuk ku."

Ryeowook mengambil wortel yang sedari tadi Sungmin pandangi. Memasukannya kedalam keranjang belanjaan Sungmin. "Kau bisa mencampurkannnya kedalam isi pangsit atau yang lainnya."

"Pangsit?"

Ryeowook tersenyum. kini mengambil seikat daun bawang dan beberapa tomat. "Memotongnya kecil-kecil."

Sungmin menghela nafasnya, menatap sedih sayuran di keranjangnya. "Tapi aku tak bisa membuat pangsit."

"Tenang saja. aku akan mengajarkanmu nanti." Ucap Ryeowook menepuk bahu Sungmin. Mereka kembali memilih-milih sayuran. Ryeowook menggeleng heran saat melihat harga lobak yang melonjak dari harga sebelumnya.

"Terima kasih Ryeowook-ah." Sungmin tersenyum lebar. Ia melirik isi keranjang belanjaan Ryeowook. "Kau hanya ingin membeli itu?"

Tak banyak bahan masakan yang Ryeowook ambil. Hanya satu kotak telur dan sekotak kimchi siap saji. "Yesung oppa tak pulang hari ini. jadi aku tak membeli banyak. Dirumah masih tersisa beberapa sayuran."

"Apa Kyuhyun juga tak pulang?"

Ryeowook tersenyum. menghentikan langkahnya saat melewati barisan buah-buahan. Mengambil beberapa apel dan menimbangnya. "Hanya Yesung oppa saja."

Sungmin mengangguk paham. mengambil buah pisang yang tampak sangat menggodanya. "Kau tau Min?"

"Apa?"

"Aku adalah simpanan Yesung oppa. Jadi tak setiap hari Yesung oppa berada dirumah."

Sungmin terdiam. "Kau bercanda?"

"Tentu saja tidak. Aku serius."

Mata Sungmin membulat mendengar ucapan Ryeowook. Mulutnya menganga tak percaya mengetahui apa yang baru saja ia dengar. "Bagaimana bisa?"

Ryeowook terkekeh geli. "Kami saling mencintai, namun Tuhan mempertemukan kami setelah Yesung oppa dijodohkan dengan putri rekan bisnis ayahnya."

Sungmin ingin mendengarkan lebih dari Ryeowook. Masih tak percaya dengan apa yang dikatakan perempuan itu. Walau terlihat seperti keluarga yang sempurna. Bohong jika Sungmin tak merasa aneh dengan Yesung yang terlalu sering meninggalkan Ryeowook, namun tak menyangka jika seperti itulah kenyataan.

"Kami memberitahu keluarga Yesung oppa setelah kami menikah tiga bulan. Dan sekarang Yesung oppa sedang mengurus perceraian dengan istrinya."

"Bagaimana dengan istrinya. Maksudku istri…"

Ryeowook tertawa. "Tentu saja dia menamparku, memakiku habis-habisan, dan mengancam akan membunuhku."

Sungmin menganga lebar. "Seperti itukah? Lalu bagaimana dengan keluarga Yesung oppa dengan keluargamu?"

"Aku tak tau dimana orang tuaku. Sedari kecil aku tinggal bersama bibiku, dan bibiku sudah meninggal satu tahun yang lalu." Ryeowook kembali tesenyum. "Awalnya orang tua Yesung oppa sangat marah pada kami. Mereka tak merestui kami. Namun karena kami terus bertahan, akhirnya mereka memberi restu. Ya walau sikap mereka masih dingin padaku."

Sungmin tak tahu harus bagaimana menanggapi cerita Ryeowook. Sedikit banyak mirip dengannya.

"Tapi satu-satunya orang yang sangat kecewa adalah Istrinya bukan? tiba-tiba aku merusak semuanya. Aku sudah berusaha menjauhi Yesung oppa. Tapi tak bisa Min. Aku benar-benar jahat."

Sungmin menggapit lengan Ryeowook. Bibir perempuan bermarga Kim itu sedikit bergetar. "Kau jangan bicara seperti itu. mungkin Yesung oppa memang tak nyaman dijodohkan. dan Tuhan mempertemukannya dengan mu. Tuhan jauh lebih mengerti umatnya." Sungmin tersenyum. Ia teringat saat Kyuhyun mengatakan hal yang sama padanya.

"Kau benar. Dan sekarang semua sudah baik-baik saja. walau istrinya sedikit mempersulit perceraian mereka."

"Tapi, bagaimana jika perempuan itu benar-benar akan membunuhmu?"

Ryeowook tertawa. "Aku cukup mengenalnya dari cerita Yesung oppa. Jadi kupikir dia tak mungkin segila itu." Ryeowook menatap Sungmin. "Jika itu benar. Tentu saja Yesung oppa tak akan membiarkannya menyentuhku sedikitpun Min."

Mereka tertawa, kembali melangkah menuju kasir membayar belanjaan yang mereka beli.

"Ryeowook-ah."

"Ya?"

"Aku melupakan sesuatu. Siang ini aku berjanji bertemu dengan teman kuliahku. Bisa kita menunda membuat pangsitnya? Kau tak keberatan?"

"Tentu saja tidak."

.

.

.

.

.

"Kau yang memasaknya?"

Heechul mengangguk. Membuka kotak bekal yang ia bawa dari rumah. Sudah sangat lama Heechul tak mengantar bekal makan siang untuk suaminya sepeti ini. Hangeng lebih sering mengisi jam makan siangnya direstoran. Atau tidak, ia memilih pulang untuk makan masakan sang istri.

"Aku sedang bosan, jadi tak ada salahnya bukan aku memasak dan mengantarkanmu bekal seperti ini."

Hangeng tersenyum, menyumpit udang tepung lalu melahapnya. "Tentu saja tidak. Aku merasa seperti muda kembali."

Heechul tersenyum tipis. Meletakan air mineral di sisi depan Hangeng. "Hannie~."

Hangeng mendongak. Kini potongan telur gulung memenuhi mulutnya. Ia terkekeh sebentar. Ayah Lee Donghae itu merasa seperti siswa sekolah yang dibuatkan bekal oleh kekasihnya. Telur gulung, udang tepung, dan sosis goreng.

"Aku tau ucapanmu pada Donghae tak serius?"

Hangeng menghentikan pergerakan tangannya. "Kau bicara apa?"

"Donghae tak mencintai Sungmin. Begitu juga dengan Sungmin. Aku tau kau kesal, tapi kau juga harus memikirkan perasaan Eunhyuk. anakmu sudah menghamilinya."

Hangeng meletakan sumpitnya. Menghela nafasnya kasar. "Kau ingin aku merestuinya? Bahkan mereka membohongi kita."

"Cobalah untuk merestui mereka. Aku yakin Donghae akan bahagia dengan Eunhyuk. Batalnya perjodohan Donghae dan Sungmin juga tak memutuskan pertemananmu dengan Kangin bukan?"

Hangeng tak menanggapi. Memilih menyulut puntung rokoknya. Membahas kelakuan Donghae membuat nafsu makannya menguap entah kemana.

"Apa kau sedang melampiaskan kekesalanmu pada Donghae?" tanya Heechul.

"Apa maksudmu?"

Heechul menarik nafasnya dalam-dalam. menatap lekat Hangeng. "Aku tahu kau terpaksa menikahiku karena perjodohan bodoh kita bukan? kau sangat mencintai kekasihmu itu. kau benci dengan perjodohan kita. tapi seharusnya kau tak membiarkan Donghae mengalami hal yang sama denganmu."

"Chul-ah." Suara Hangeng melembut. "Itu hanya masa lalu. kau tak perlu membicarakannya lagi. Kita sudah bahagia sekarang. tak usah mengingatnya lagi."

Dulu, Heechul harus bertahan dengan sikap dingin Hangeng setelah mereka menikah. Selain karena orang tuanya, ia yakin Hangeng memiliki sisi lembut. Mereka hanya perlu belajar lebih untuk saling mencintai. Ayolah, pria mana yang bahagia dijodohkan jika dia memiliki seorang kekasih.

Butuh waktu bertahun-tahun hingga Hangeng menyadari jika Tuhan sudah menakdirkannya untuk bahagia bersama Heechul. Dan kesabaran Heechul tak sia-sia. Usia pernikahan mereka kini mendekati kepala tiga.

"Sayang."

"Jangan memanggilku seperti itu jika kau tak ingin anakmu bahagia dengan pilihannya."

"Ya!"

"Cukup diamkan aku saja jika kau belum bisa merestui Eunhyuk dan Donghae. aku sudah terbiasa kau diamkan dulu."

"Chul-ah~."

.

.

.

.

.

"Apa kau bilang?"

Kangin menatap Yunho penuh tanya. Tak membuang nada wibawanya meski ia sangat terkejut mendengar ucapan orang yang sudah ia percaya sebagai tangan kanannya itu.

"Menurut informasi yang kami terima, ada warga baru yang menyewa rumah di daerah yang saya katakan tadi. Mereka sepasang suami istri."

"Kau yakin itu putriku?"

Yunho mengangguk. "Orang suruhan kami sudah memastikannya sendiri."

Kangin mengepalkan tangannya. Menghela nafasnya kesal. "Jadi dia sudah menikahi putriku?"

Yunho hanya mengangguk.

"Berani sekali dia!" Lanjut Kangin. "Mengapa kau tak mencoba menggagalkan pernikahan mereka?"

"Maaf tuan. Kami terlambat mengetahui informasi ini."

Kangin berdecak. Menghela nafasnya panjang. "Baiklah. sudah cukup aku bermain-main, sepertinya aku akan menjemputnya sendiri."

"Permisi tuan." Serempak Kangin dan Yunho menoleh kearah pintu saat seseorang mengetuknya. Membuka pintu itu kemudian. "Ada apa Luna-ssi?" Tanya Kangin.

"Maaf tuan. Saya hanya ingin mengingatkan kembali jika jam sebelas nanti, tuan ada pertemuan dengan tuan Kim."

Kangin mengangguk. Melihat jam tangannya sekilas. "Baiklah."

.

.

.

.

.

"Hah?"

"Ada apa?"

"Kau yakin hyung?"

Yesung tersenyum. Melambatkan laju mobilnya saat memasuki area parkir salah satu restoran jepang di Seoul. Perjalanan Busan-Seoul agaknya sedikit melelahkan.

"Tentu saja aku yakin."

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Kau sudah gila? menyerahkan urusan ini padaku hyung? Aku belum memiliki pengalaman sedikitpun."

"Kau bisa Kyuhyun-ah, aku percaya padamu." Yesung mematikan mesin mobilnya. "Ayolah~ kau harus membantuku. Aku sedang fokus pada perceraianku, mereka mempersulitnya. Aku tak bisa menghandle keduanya secara bersamaan. Dan aku mempercayakan ini semua padamu."

"Apa yang harus aku lakukan? Aku fikir kau akan menempatkanku disebuah ruangan dan aku hanya berkutat dengan banyak dokumen dan grafik-grafik."

Yesung tertawa. "Itu terlalu mudah untukmu. Jadi aku memberimu pekerjaan yang lebih menantang."

Kyuhyun berdecih. Melepas seatbelt yang masih menghalangi tubuh depannya. "Jika sudah terbiasa, kau akan mengerti apa yang harus kau lakukan. Sekarang kau akan kukenalkan dengan direktur yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita. Aku sudah membuat janji bertemu dengannya disini." Lanjut Yesung.

Pelayan dengan balutan pakaian khas jepang menyambut saat mereka memasuki gedung bernuansa negeri sakura itu. mengantar mereka keruangan VIP yang sebelumnya sudah dipesan oleh sekretaris Yesung.

Setelah memesan minuman, tak lama orang yang dimaksud memasuki ruangan tempat Kyuhyun dan Yesung berada. Demi Tuhan, Kyuhyun tak menyangka jika sosok yang memasuki ruangan itu adalah…

"Anyeong haseyo." Yesung membungkukkan badannya. memberi salam pada pria paruh baya didepannya. Kyuhyun menarik nafasnya. Ikut memberi salam pada pria itu.

"Anyeong haseyo Yesung-ssi. Lama tak berjumpa denganmu."

Yesung tersenyum, mempersilahkan pria itu mengisi bangku kosong didepannya. "Kyuhyun-ssi, perkenalkan ini Kangin ahjussi yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita. Ia sudah seperti pamanku sendiri."

Kyuhyun tersenyum. berusaha bersikap setenang mungkin. Tak masalah jika ia memang harus bertemu dengan Kangin. Hanya saja ini bukan saat yang tepat.

"Anyeong haseyo tuan. Saya Kyuhyun, senang bertemu dengan anda." Kyuhyun membungkuk. Memperkenalkan dirinya sesopan mungkin.

Kangin tersenyum membalas salam Kyuhyun. "Senang juga bertemu denganmu Kyuhyun-ssi."

Tak banyak hal yang mereka bicarakan. Selain menanyakan kabar orang tua Yesung, Kangin lebih banyak membahas masalah kerjasama mereka nanti. Dan Kyuhyun menyimak semua itu baik-baik.

"Ahjussi. Aku benar-benar minta maaf. Ada urusan lain yang harus aku selesaikan."

Kangin mengangguk. Ia mengerti jika Yesung sedang mengurus perceraian dengan istrinya. "Aku mempercayai Kyuhyun untuk ini. jadi Ahjussi bisa membicarakan kerjasama kita dengan Kyuhyun."

Lagi-lagi Kangin hanya tersenyum. menganggukan kepalanya saat Yesung berpamitan pergi. Setelah Yesung benar-benar menghilang dibalik pintu. Kangin menyesap kopinya, menatap Kyuhyun angkuh.

"Aku tahu kau bukan orang bodoh Kyuhyun-ssi." Ucap Kangin membuka obrolan dingin mereka. "Aku tahu jika kau yang membawa putriku pergi. Kau tahu itu bukan?" Sungguh, tak ada basa-basi diantara mereka.

"Anda benar. Anda bahkan menyuruh orang untuk mengintai kami."

"Kau memang bukan orang bodoh." Kangin tersenyum sinis. "Aku yakin kau memiliki alasan, oh bukan! tepatnya rencana mengapa kau membawa lari putriku ke Busan. Bahkan kau sangat mengerti betapa mudahnya aku akan menemukan keberadaan kalian."

Kyuhyun tersenyum. Kangin benar, memang bukan tanpa alasan ia membawa pergi Sungmin ke Busan. Kyuhyun sudah menduga jika Kangin akan menemukan keberadaan mereka. Seorang Kangin bisa dengan mudahnya mendapatkan informasi apapun jika sudah bermain dengan kekuasaan dan harta miliknya, dan Kyuhyun tau itu. Namun Kyuhyun tak menyangka jika suruhan Kangin tak melakukan apapun, hanya mengintai mereka saja. Kyuhyun harap itu akan berdampak positif untuk mereka.

"Aku seperti menemukan harta karun Kyuhyun-ssi."

Alis Kyuhyun mengerut. Berhadapan dengan Kangin seperti ini memang diluar rencana Kyuhyun. memikirkannya pun tidak sama sekali. "Kau sudah berani menikahi putriku. Dan sekarang aku minta kau ceraikan dia. Atau… aku membatalkan kerjasama ini secara sepihak."

.

.

.

.

.

.

Sungmin melihat kearah pintu café dimana ia berada sekarang. Setelah pulang berbelanja dengan Ryeowook, ia langsung mengambil perjalanan kereta menuju Seoul tanpa memberi tau Kyuhyun terlebih dahulu. Bahkan ia juga berbohong pada Ryeowook.

Sudah lebih dari lima belas menit ia menunggu Donghae disana. Hanya pria itu yang bisa ia harapkan sekarang.

Sungmin tersenyum lebar saat melihat Donghae memasuki café itu. melambai kecil seraya berjalan kearahnya. "Oppa." Sapa Sungmin.

Donghae tersenyum, memeluk Sungmin lama. "Kau kemana saja Min. kami menghawatirkanmu." Ucapnya setelah melepas pelukan mereka.

"Akan aku ceritakan nanti. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu sekarang."

"Tidak Min. beri tahu padaku dimana kau tinggal sekarang? Dengan siapa? Kau mengganti nomor ponselmu. Dan mengapa kau pergi dari rumah begitu saja? Pulanglah Min. Leeteuk ahjumma benar-benar mencemaskanmu."

"Aku tak akan kembali sekarang Oppa. Aku akan menceritakannya nanti."

Donghae menghela nafasnya. ia tak mungkin memaksa Sungmin. "Baiklah." Donghae mengangguk.

"Ku dengar kau akan menikah. Apa benar?"

"Ya. hanya saja kami belum menentukan kapan kami akan menikah."

Sungmin tersenyum lembut. senang mendengar jawaban Donghae. "Aku senang mendengarnya. Apa aku mengenal perempuan itu?" Tanya Sungmin.

"Dia sedang dalam perjalanan kemari. Kau akan mengetahuinya nanti. Jadi apa yang bisa ku bantu?"

Sungmin mengigit kecil bibir bawahnya. Meremas jemarinya kuat. "Aku ingin bertemu dengan Eunhyuk eonni. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya. Tapi aku butuh kau membantuku memberinya penjelasan, oppa."

"Eunhyuk? penjelasan apa? aku tak mengerti."

Sungmin terdiam, ia kembali teringat ucapan Ryeowook. Jika Ryeowook merasa satu-satunya orang yang paling kecewa adalah istri Yesung. Sungmin merasa satu-satunya orang yang paling ia sakiti adalah Eunhyuk. Bagaimanapun Eunhyuk harus tahu yang sebenarnya. Tak perduli jika kakak perempuan Kyuhyun itu akan menampar dan memakinya nanti.

"Ini juga tentang Kyuhyun."

Donghae makin tak mengerti apa yang Sungmin katakan. Ia menggaruk kepalanya sebentar, kembali menatap Sungmin penuh tanya. "Sebenarnya ada apa Min?"

Sungmin kembali menggigit kecil bibir bawahnya. Membuang mukanya sejenak. "Aku… aku sudah menikah."

Sukses ucapan Sungmin membuat mata Donghae membulat sempurna. Baiklah, Donghae cukup terbiasa dengan Sungmin yang selalu bertindak secara tiba-tiba. Namun ia tak percaya jika Sungmin mengambil keputusan menikah diam-diam seperti ini. Donghae yakin jika Sungmin tak memberi tahu Kangin tentang pernikahannnya.

"Kau menikah dengan siapa? Apa Kangin ahjussi tahu tentang hal ini?"

Sungmin menggeleng pelan. "Aku menikah tanpa restu appa dan eomma."

"Astaga Min. sebenarnya siapa pria yang menikahimu? Lalu apa hubungannya kau mencari Eunhyuk?" Donghae mengusap wajahnya kasar.

"Aku…." Sungmin menarik nafasnya. "Aku menikah dengan Kyuhyun."

"Hah!" Donghae setengah berteriak. Membuat beberapa pengunjung menatap aneh mereka berdua. "Kyuhyun?"

Sungmin mengangguk ragu. Perempuan itu sudah ingin menangis. "Ini tak lucu Min. yang aku tau Kyuhyun sedang melanjutkan kuliahnya di Inggris."

"Tidak Oppa. Kyuhyun tidak di Inggris. Kami menikah dan sekarang kami tinggal di –." Sungmin tak melanjutkan kalimatnya. Tak ingin memberi tahu dimana mereka tinggal.

"Sungmin-ah."

Serempak Donghae dan Sungmin menoleh kearah pintu café. Sungmin terdiam, terkejut melihat sosok perempuan yang kini berjalan kearahnya. Sekilas Sungmin menatap Donghae. pria itu hanya menunduk seraya memijat pelipisnya.

"Eonni." Sungmin beranjak dari duduknya. Tersenyum kaku pada Eunhyuk.

"Ya Tuhan, kau kemana saja Min. kami semua mencarimu." Eunhyuk memeluk erat Sungmin. begitu khawatir dengan perempuan yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

"Maaf membuat kalian khawatir." Sungmin membalas pelukan Eunhyuk. melepasnya kemudian. "Bagaimana Eonni bisa tau aku ada disini?"

Eunhyuk tersenyum tipis. Ia menoleh pada Donghae, pria itu mengangguk kecil. Paham dengan maksud tatapannya. "Donghae memberi tahuku."

Sungmin mengangguk paham. Pria bermarga Lee itu menarik bangku kosong disisinya. Mempersilahkan Eunhyuk mengisi bangku itu.

"Eonni, kau sudah tahu bukan jika aku dan Donghae oppa membatalkan perjodohan kami?" Sungmin memulai obrolan mereka. tak ingin langsung menyampaikan tujuannya.

Eunhyuk tersenyum kaku. Hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan Sungmin. "Donghae oppa sudah menemukan pasangan yang tepat." Sungmin menoleh pada Donghae, menampakan senyum manisnya pada pria itu. "Apa eonni sudah tahu siapa perempuan itu? Donghae oppa bilang dia sedang perjalanan kemari."

Donghae menggenggam erat tangan Eunhyuk. Beruntung tangan mereka terhalang meja, dan Sungmin tak melihatnya.

Dahi Sungmin mengerut bingung melihat Eunhyuk yang menegang. Sungmin merasa Eunhyuk sedang menyembunyikan sesuatu. Ah tidak, bukan hanya Eunhyuk, bahkan Sungmin merasa Donghae juga menyembunyikan sesuatu darinya.

"Atau sebenarnya…."

.

.

.

.

.

.

T.B.C

Hay saya kembali. apa kabar?

Terima kasih buat yang baca, review, ngikutin, dan udah nunggu fic ini.

Saya sayang kalian.

Sesuai janji saya. saya bakal update setiap hari. Fic ini selesai di chapter 11. itu berarti kurang 4 chapter dari sekarang.

Mudah-mudahan ngga ada halangan apapun biar saya bisa update setiap hari. tenang... fic ini sudah selesai kok di folder saya.

Cukup sampai disini.

Terima kasih.

See you next chapter.