One More Chance To Love You

Disclaimer: Don't own Naruto

Warning : Yaoi, Rated M, M-PREG, don't like, don't read!

Pairing: SasuNaru, SaiNaru, SasuIno

.

.

.

CHAPTER 7

Wanita berumur lima puluhan itu mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Dahinya sedikit berkerut, pertanda kalau ia sedang memikirkan sesuatu. Di sampingnya, tampak Shizune yang tengah menggendong babi kecil miliknya.

"Bagaimana Nenek Tsunade? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa aku benar-benar… Hamil?"

Sang hokage kelima itu menghela nafas panjang dan menatap satu per satu shinobi yang ada di hadapannya, membuat pemuda pirang itu semakin kehilangan kesabaran untuk mendengar jawaban dari sang hokage.

"Baa-san! Kenapa kau diam saja! Jawab pertanyaanku!"

"Tenanglah sedikit, bocah! Aku akan menjelaskannya! Pertama-tama, kau memang hamil… dan itu... Karena keberadaan Kyuubi dalam tubuhmu."

"Tapi kenapa…"

"Karena Kyuubi di dalam tubuhmu adalah Kyuubi betina, yang mempunyai kemungkinan memproduksi sel telur saat ada sel sperma yang masuk ke dalam tubuhmu. Sebenarnya hal ini kecil kemungkinannya, tapi… Yah… Kelihatannya gen Uchiha sangat cocok dengan gen yang kau miliki."

Naruto diam, tidak mampu berkata apa-apa lagi. Begitu juga dengan Sakura dan Sai yang berdiri di sampingnya.

"Kusarankan agar kau sering memeriksakan kandunganmu padaku, bocah. Bagaimanapun kehamilan untuk seorang laki-laki bukan hal yang wajar. Aku tidak ingin mengambil resiko jika sampai terjadi sesuatu pada dirimu."

"…."

"Jangan diam saja, bocah! Kau mendengarkan kata-kataku kan!"

"Baa-san, aku punya permintaan…"

Kening Tsunade kembali mengerut, "Apa itu?"

"Tolong… Jangan katakan pada siapapun kalau anak yang aku kandung ini adalah anak Sasuke… Tidak ada yang boleh tahu… Selain kita yang berada di ruangan ini… Aku mohon padamu, baa-san."

Lagi-lagi Tsunade menghela nafas panjang. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pemikiran bocah di hadapannya ini. "Kenapa? Kenapa kau harus melakukan hal itu?"

Dan yang didapat Tsunade hanyalah sebuah senyum yang tidak pernah sekalipun ditunjukkan oleh Naruto disertai jawaban lirih yang keluar dari bibir Naruto.

"Karena aku mencintainya, baa-san… Tapi semua yang sudah terjadi di antara kami… dan kehamilanku… adalah satu kesalahan yang tidak seharusnya terjadi."

.

.

.

Naruto POV

Setelah menyakinkan baa-san dan mendengar berbagai celotehannya agar aku menjaga diri dan kandunganku, akhirnya aku keluar dari ruangan hokage bersama dengan Sakura dan Sai. Begitu aku menutup pintu ruangan, aku berbalik dan menatap mereka berdua.

"Sai, aku ingin bicara berdua saja denganmu. Tidak apa-apa kan, Sakura?"

Sakura tersenyum tipis dan mengangguk. Sepertinya ia mengerti kalau saat ini aku butuh waktu untuk berbicara secara pribadi dengan Sai. Aku pun mengajak Sai ke apartemenku, karena menurutku hanya tempat itu yang paling tepat untuk membicarakan hal yang pribadi seperti ini.

Sesampainya di apartemen, kami langsung duduk berhadapan. Sejenak kami hanya diam. Aku sendiri tidak tahu harus darimana memulai pembicaraan ini. Akhirnya aku mulai bertanya dari hal yang paling ingin aku ketahui.

"Sai…"

"Ya?"

"Kenapa kau mengaku kalau anak yang aku kandung ini adalah anakmu?"

Sesaat Sai hanya diam sebelum berucap, "Aku hanya membantumu agar dapat lepas dari Sasuke"

Alisku bertaut, "Maksudmu?"

"Sudahlah, Naruto-kun. Aku bisa tahu dari wajahmu. Saat itu kau berusaha mati-matian mencari alasan untuk menutupi kenyataan dari Sasuke, kan?"

Aku terdiam. Kuakui Sai memang benar. Saat itu aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya untuk menutupi kenyataan ini dari Sasuke.

Flashback

"Anak yang dikandung Naruto… adalah anakku, Uchiha!"

Aku tersentak mendengar kata-kata Sai. Mata hitamnya bertemu dengan mataku, seakan menyiratkan sesuatu yang ingin ia sampaikan melalui tatapan matanya.

Sekarang, aku benar-benar semakin tidak mengerti dengan semua ini. Kepalaku mulai terasa sakit. Kenapa… Kenapa Sai mengatakan hal seperti itu? Kenapa dia mengaku kalau aku mengandung anaknya?

Sontak Sasuke melepaskan genggamannya di lenganku dan ia langsung memukul Sai tepat di wajahnya.

"Sasuke! Apa yang kau lakukan!" Sakura berusaha menolong Sai, tapi Sasuke langsung menatapnya tajam, membuat Sakura menghentikan langkahnya dan kembali mundur. Sai berusaha bangkit, namun Sasuke lebih dulu membanting tubuh Sai ke lantai.

"KAU JANGAN BERCANDA, SAI! TIDAK MUNGKIN NARUTO MENGANDUNG ANAKMU! KAU PASTI BOHONG! IYA KAN, SAI? KAU PASTI BERBOHONG!"

Sai hanya tersenyum meremehkan sambil menghapus darah di sudut bibirnya.

"Kalau kau tidak percaya, kenapa kau tidak tanyakan sendiri saja pada Naruto?"

Sasuke menggeram dan menoleh ke arahku, membuatku kembali memalingkan wajah. Sungguh, aku benar-benar tidak mengerti apa maksud semua ini. Kami-sama, apa yang harus aku lakukan sekarang?

Sasuke kembali mendekat ke arahku. Jari-jari tangannya terulur dan mengangkat daguku. Aku meneguk ludah melihat mata Sasuke yang entah sejak kapan sudah berubah warna menjadi merah, pertanda kalau ia sudah berada di puncak amarahnya. Kemudian ia kembali mendorong tubuhku ke dinding yang ada di belakangku.

"Katakan kalau itu tidak benar, Naruto! Tidak mungkin kau mengandung anak Sai! Anak itu pasti anakku! IYA KAN, NARUTO?"

Aku terdiam dan menatap Sai melalui sudut mataku. Aku tahu… Aku sudah tidak mempunyai pilihan lain sekarang…

"TATAP MATAKU DAN JAWAB AKU, NARUTO!"

Perlahan kualihkan pandanganku, mencoba mengeluarkan seluruh keberanianku untuk menatap matanya.

"Ya… Itu benar… Aku mengandung anak Sai…"

Detik berikutnya aku dapat merasakan hantaman yang sangat keras tepat di samping wajahku hingga menyebabkan dinding tersebut benar-benar retak dan hancur. Aku meneguk ludah, kali ini aku benar-benar tidak berani menatap wajahnya.

"Hei, kenapa kalian semua ada di si-… UCHIHA! APA YANG KAU LAKUKAN? KAU MAU MENGHANCURKAN RUANGANKU?"

Dan Sasuke segera menghilang melalui jendela ruangan sebelum aku sempat melihat ekspresi seperti apa yang kini terlihat dari wajahnya…

end flashback.

"Tapi saat itu… Bagaimana kau bisa tahu kalau aku mengandung anak Sasuke?" tanpa sadar pertanyaan itu terlontar pelan dari bibirku, nyaris seperti bisikan.

Kudengar Sai sedikit terkekeh, "Aku mungkin tidak peka, tapi aku bukan orang bodoh untuk menyadari benih siapa yang ada di kandunganmu itu, Naruto-kun."

Aku menundukkan wajah. Seharusnya aku sadar kalau sejak awal, Sai sudah menyadari apa yang Sasuke lakukan padaku malam itu.

"Semua sudah terjadi, Naruto-kun. Kita sudah tidak mungkin mundur lagi. Mulai sekarang, aku yang akan menjagamu dan juga anakmu… Dan aku bersedia menjadi ayah dari anakmu, walaupun harus berpura-pura di depan semua orang…"

.

.

.

Ino menatap tunangannya itu dari sela-sela pintu kamarnya. Ia ingin sekali masuk dan mencoba menghibur hati pemuda Uchiha itu. Dengan ragu-ragu ia membuka pintu kamar dan mengambil tempat di samping Sasuke.

Berawal dari niatnya untuk memberikan sekeranjang tomat segar pada tunangannya, hingga ia datang ke mansion Uchiha ini. Namun sejak kedatangannya satu jam yang lalu sampai detik ini, Sasuke sama sekali tidak menegur atau mengajaknya berbicara. Ia terus berdiam diri di kamar dan membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya. Dengan lembut, Ino menyentuh pundaknya dan memanggilnya pelan

"Sasuke…"

"…"

"Sasuke…"

"…"

"Ayolah Sasuke, jangan berdiam diri seperti ini Seperti bukan dirimu saja. Apa ada yang menganggu pikiranmu?"

"…."

"Sasu-"

"Pulanglah, Ino. Aku sedang ingin sendiri."

Ino tertegun sejenak. Hatinya meringis kecil. Ternyata sampai saat ini, Sasuke masih belum benar-benar menerima kehadirannya dalam kehidupannya. Apakah ini artinya ia masih harus menunggu lebih lama lagi?

"Baiklah aku pulang dulu Sasuke. Kalau kau membutuhkan sesuatu, segera kabari aku ya."

"…"

Ino berusaha tersenyum kemudian ia berdiri dan melangkah menuju pintu dan keluar dari kamar Sasuke dan menutup pintunya.

Blam.

Perlahan Ino menyentuh cincin yang melingkar manis di jari kanannya. Ditatapnya cincin itu dengan lembut hingga senyum tipis terukir di wajahnya.

"Sebentar lagi… Aku akan menunggu sebentar lagi… Sasuke…"

.

.

.

"Ada urusan apa lagi kau datang ke ruanganku, Uchiha Sasuke?"

Sasuke menatap datar wajah Tsunade yang ada di hadapannya, "Bukankah kau sedang mencari shinobi untuk menjalankan misi ke Iwagakure, Hokage-sama?"

Kedua alis Tsunade terangkat, "Ha? Oh soal itu, tidak masalah. Neji sudah sembuh total setelah misinya sebulan yang lalu, aku bisa memintanya-"

"Aku akan menjalankan misi itu, Hokage-sama" potong Sasuke sebelum Tsunade sempat menyelesaikan kata-katanya, membuat Tsunade terbelalak mendengar kata-kata Sasuke.

"Apa kau yakin Sasuke? Kau tahu kan misi ini akan sangat lama dan memakan waktu hampir setengah tahun? Bukankah bulan depan kau akan menikah dengan Ino?"

"Aku bisa menundanya." jawab Sasuke singkat, "Kalau begitu aku berangkat besok pagi. Aku akan kembali setengah tahun lagi, Hokage-sama."

"Hei tung-"

WHUSSHH

Belum sempat Tsunade mengatakan apa-apa, Sasuke sudah menghilang dari hadapannya. Tidak sedikitpun memberi waktu bagi Tsunade untuk menolak keinginannya.

"Hah, dasar bocah Uchiha!" desis Tsunade sambil kembali meneguk teh yang ada di depannya.

"Nona Tsunade… Apa semua akan baik-baik saja?"

Tsunade mengalihkan pandangan ke arah Shizune yang menatapnya dengan tatapan cemas. Tsunade menghela nafas dan tersenyum kecil

"Tidak apa-apa… Mereka itu jauh lebih kuat dari apa yang kita bayangkan, Shizune…"

.

.

.

To be Continued