Lucy bangkit dari tempat tidurnya dengan perasaan riang. Gadis itu merenggangkan tubuhnya dan berlari kecil menuju kamar mandi. Dan tidak lama kemudian, terdengarlah senandung riang dari dalam kamar mandi tersebut.

Hmm… mungkin kalian bertanya-tanya apa yang terjadi pada Lucy sehingga gadis cantik itu sangat gembira sekarang.

Sekarang adalah tanggal 1 Juli. Dan itu berarti, gadis itu berulang tahun sekarang.

Lucy tersenyum riang. Dia ingat kalau jam 00.01 pagi tadi, orang tuanya yang sedang berada di London meneleponnya dan mengucapkan selamat kepada anak tunggal mereka itu. Tentu saja Lucy merasa bahagia, terutama kepada ayahnya, Jude Heartfilia, yang mau repot-repot memberinya berbagai macam petuah sebagai pengganti ucapan selamat ulang tahun.

Gadis bermarga Heartfilia itu keluar dari kamar mandi dan memakai seragamnya dengan hati yang berbunga-bunga. Tidak lupa juga dia berdandan lebih cantik dari biasanya. Kenapa? Karena tentu saja sekarang hari spesialnya.

Saking bersemangatnya, Lucy hampir terpeleset saat akan menuruni tangga. Dia segera berlari secepat kilat dan berjalan dengan senyum manis terukir di bibirnya. Dia sangat tidak sabar menanti ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya. Pasti akan sangat menyenangkan.

"Ohayou, minna!" sapa Lucy dengan bersemangat.

"Ohayou, Lucy!"

"Lu-chan, kau sangat bersemangat hari ini. Apakah kemarin terjadi sesuatu?" tanya Levy.

"Tidak. Tidak terjadi apa-apa kemarin. Oh iya, Levy-chan, kau ingat sekarang hari apa?"

"Hari Selasa, kan?" Levy mengerenyitkan dahinya bingung. "Kenapa?"

"Oh, hahaha… tidak apa-apa," jujur Lucy sedikit kecewa dengan reaksi sahabatnya itu.

"Levy, kemarilah! Lihat, baju ini sangat cantik, lho! Menurutku ini sangat cocok untukmu!" Mirajane melambai-lambaikan tangan kearah Levy dengan majalah di tangan kirinya.

"Mana? Coba lihat!" Levy berlari meninggalkan Lucy dan pergi ke meja Mirajane.

Lucy menghela nafas dan menaruh tasnya di bangkunya. Dia mengeluarkan sebuah buku cetak Sejarah dan membolak-balikkan halamannya dengan malas.

"Tumben pagi-pagi baca buku. Biasanya ngegosip."

Lucy tersentak begitu sebuah tangan menepuk pundaknya. "Natsu! Kau mengejutkanku!"

"Ohayou, Luce!"

"Ohayou gozaimasu," Lucy kembali membaca bukunya dengan malas.

"Luce, kau kenapa?" Natsu mengerenyitkan keningnya. "Oh iya, Luce. Karena sekarang tanggal 1 Juli, aku ingin mengucapkan-"

"Natsu! Kau nyaris membuat kepalaku meleleh akibat batu bara panasmu, Kapten Api sialan!"

"Enak saja! Jangan asal menuduh, Pangeran Boxer brengsek!"

"Kau mengajakku bertengkar, hah?! Sini aku ladeni!"

"Kau pikir aku takut, hah?!"

Natsu berlari meninggalkan Lucy yang beberapa detik yang lalu menatapnya dengan penuh harap dan mencengkram kerah baju Gray. Lucy menghela nafas dan kembali membolak-balikkan buku Sejarah dengan malas.

Pintu kelas terbuka. Seorang kakek tua dengan kumis yang unik memasuki kelas dengan langkah pelan. Erza selaku ketua kelas memberi aba-aba untuk berdiri, memberi hormat, dan duduk kembali. Guru sekaligus pendeta yang sangat dihormati di gereja setempat, Crux, sedikit bercerita kalau Makarov yang harusnya mengajar sedang ada pertemuan yang sangat penting. Dan kakek dengan aksesori salib di seluruh bagian tubuhnya itu memberitahu kalau dia yang akan menggantikan Makarov. Semua bersorak senang. Crux menghantamkan penghapus papan tulis dengan pelan, memberi aba-aba untuk tenang. Dan jam pelajaran sejarah pun dimulai.

.

.

"Pssst! Mirajane!"

Erza memberikan sebuah buku baru berwarna pink dengan gambar anak kucing lucu berwarna hitam yang sudah terlihat sedikit lusuh kepada Mirajane. Mirajane tersenyum lebar dan mulai membolak-balikkan halaman buku lusuh dan buku pink tersebut. Tangannya mengambil pena dan mulai menuliskan sesuatu, lalu mengoper buku itu kepada Juvia. Juvia juga membaca buku itu, lalu melakukan hal yang sama seperti Mirajane. Dia mengopernya kepada Freed yang berada di sebelah kanannya. Freed melakukan hal yang sama dengan Mirajane dan Juvia sebelumnya, lalu mengoper buku itu kepada Bickslow. Dan begitu seterusnya.

Lucy penasaran dengan isi buku yang terus dioper itu. Dia heran kenapa teman-temannya ada yang terkikik, bahkan tertawa terbahak-bahak. Untung saja Crux sedang tertidur saat sedang menuliskan pelajaran di papan tulis, sehingga Crux tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan anak didiknya dibalik punggung rentanya.

Sebentar lagi buku itu akan datang kepada Lucy karena terus dioper-oper oleh teman-temannya. Tampaknya Wendy yang berada di sebelah kanannya sudah selesai menulis. Sesuai aturan tidak tertulis yang dia lihat tadi, buku pink itu akan sampai di-

"Lucy-san, tolong berikan buku ini pada Levy-san."

-tangannya.

Lucy melongo. Dengan bodohnya dia menerima buku itu dan mengopernya kepada Levy yang tertawa geli membaca isi buku lusuh itu.

Tunggu, buku itu memang sampai ke tangannya. Tapi, kenapa Wendy malah menyuruhnya memberikan buku itu kepada Levy? Apakah ini berarti dia tidak boleh membacanya?

Lucy sangat kesal. Teman-temannya ini tidak mau membagi tawa serta rahasia buku ini kepadanya. Dia menatap kedua buku yang sekarang sudah dioper Levy ke Gajeel itu dengan sebal.

Sebuah ide terbersit di otaknya. Kedua buku itu sudah berpindah tangan ke Natsu yang duduk di belakangnya. Dia berbalik ke belakang dan berpura-pura meminjam penghapus.

Rasanya Lucy ingin menjerit begitu kedua buku itu terlindungi oleh kedua lengan kekar Natsu, sehingga dia tidak bisa membacanya. Jangankan membaca, mengintip sedikit pun tidak bisa. Natsu sendiri masih asyik menulis sambil mengeluarkan seringaiannya. Matanya berkilat-kilat jenaka saat tangannya menari-nari diatas helaian kertas itu.

Rencana meminjam penghapus: GAGAL.

.

.

Bel istirahat berbunyi. Lucy yang sedang merasakan panas di hatinya segera berlari kearah perpustakaan dan menenangkan diri disana. Dia meminjam beberapa buku begitu bel istirahat akan berbunyi 20 menit lagi. Dengan tumpukan buku di tangannya, dia kembali ke kelas dan menenggelamkan mukanya di dalam lembaran buku mengenai Perang Dunia II.

Sejujurnya dia tidak begitu konsen membaca. Teman-temannya sedang berkumpul di meja Jet yang berada di pojok kanan belakang sambil tertawa-tawa. Hanya dia sendiri yang tidak bergabung dengan mereka. Diam-diam, Lucy mengusap matanya yang berair dan kembali memfokuskan dirinya kepada rangkaian kata-kata di hadapannya.

.

.

Tukk.

Lucy menoleh kearah belakangnya dengan kesal dan mengelus-elus helaian pirangnya.

"Kau melempariku apa?" tanyanya dengan tajam.

"Tidak ada," Natsu memamerkan cengirannya. Lucy mendengus dan melihat lurus kearah papan tulis, mencatat pelajaran yang sedang dituliskan Mirajane selagi Scorpio-sensei keluar. Lucy kembali mendengus. Alasan Scorpio-sensei sih ke toilet. Tapi Lucy yakin pasti sensei nyentrik itu bukan pergi ke toilet, melainkan berpacaran dengan Aquarius-sensei, guru renang Fiore Academy.

Tukk.

Sesuatu kembali menghantam pelan helaian pirang Lucy. Gadis itu berusaha mengabaikannya dan memfokuskan diri ke papan tulis.

Tukk.

'Sabar, Lucy. Sabar.'

Tukk.

Kali ini Lucy merasa sesuatu berjumlah banyak dilempar dan menempel di rambutnya. Lucy langsung memeriksa rambutnya dan merasa ada sesuatu yang keras keras lembut di rambutnya. Lucy mengambilnya dan menyadari kalau sesuatu itu adalah sepotong penghapus kecil. Lucy langsung menyisiri rambutnya dengan cepat, membuat penghapus-penghapus itu berjatuhan dari rambutnya.

"Natsu! Apa yang kau lakukan?!" jeritnya. Matanya menatap tajam kearah Natsu yang balas menatapnya dengan polos. Atau mungkin sok polos.

"Apa salahku?"

"Jangan bertingkah polos! Kau pasti melempariku dengan penghapus, kan?! Iya kan?!"

"Apa buktinya?"

"'Apa buktinya?'" geram Lucy. "Kau tanya 'apa buktinya?'?!"

"Iya. Aku bertanya seperti itu kepadamu."

"KAU!" Lucy mengacak-acak rambut yang sudah ditatanya dengan susah payah. "Jelas-jelas kau pelakunya! Kau duduk di belakangku. Dan sudah pasti kau yang melempariku dengan penghapus!"

"Kenapa aku? Siapa tahu Muka Besi atau ice princess yang melemparnya."

"Kenapa kau menuduhku?" teriak Gajeel dan Gray bersamaan.

"Jangan menyalahkan orang! Aku yakin 100% kau yang melempariku dengan penghapus!" jerit Lucy.

"Oke, aku mengaku. Aku yang melemparimu dengan penghapus, hime."

"Jangan memanggilku hime!" Lucy bisa saja mendaratkan jitakannya di kepala Natsu jika pemuda itu tidak menghindar. Lucy nyaris terjatuh jika tangannya tidak segera menahan tubuhnya.

"Sini kau, Natsu!"

"Kejar aku kalau bisa," Natsu memeletkan lidahnya, membuat Lucy tambah geram.

Natsu berputar-putar mengelilingi kelas, disusul Lucy yang berusaha mengambah kecepatan larinya.

"Mana mungkin anak klub memasak sepertimu bisa menandingi kecepatan lari anak basket sepertiku!" ejeknya.

"Ini tidak ada hubungannya dengan kegiatan klub, sialan!"

Lucy sudah mulai kewalahan mengejar Natsu. Tapi jika Lucy menghentikan larinya, Natsu pasti akan tambah senang mengejeknya.

Penglihatannya mulai mengabur. Salahkan dirinya yang terlalu bersemangat sehingga lupa sarapan dan ngambek lalu langsung melarikan diri ke perpustakaan saat jam istirahat berlangsung tanpa memakan bentonya terlebih dahulu.

"Luce, sudah capek, ya?"

Mendengar Natsu berkata seperti itu, Lucy menggelengkan kepalanya dan mempercepat larinya. "Sini kau, Natsu!"

Beberapa detik kemudian, secara tidak sengaja kaki Lucy masuk ke kolong meja Lisanna dan membuatnya jatuh terjerembab dengan suara yang lumayan menyakitkan.

"Aduh…"

Lucy mendengar Natsu tertawa girang dan disusul oleh suara tawa dari yang lainnya. Lucy malu bukan main. Saat berusaha berdiri dan berniat mengejar Natsu lagi, pergelangan kaki kanannya berdenyut menyakitkan, membuat Lucy mengurungkan niatnya untuk berdiri. Ia meringis pelan.

"Lu-chan, kau baik-baik saja?"

Lucy menoleh dan melihat Levy yang menatapnya khawatir.

"Aku baik-baik saja, Levy- aaw!" Lucy kembali meringis saat kakinya kembali digerakkan.

"Lu-chan, kakimu terkilir!" Levy berteriak panik.

"I-ini bukan masalah besar, Levy-chan."

"Natsu!" teriak Levy. "Tanggung jawab!"

"Hah?" Natsu menghentikan tawanya. "Tanggung jawab? Aku kan tidak pernah berbuat macam-macam pada Luce."

Levy menjitak kepala pink Natsu dan memberinya deathglare. "Tanggung jawab! Kau sudah membuat Lu-chan terkilir!"

"Itu kan salahnya!" Natsu membela dirinya sendiri.

"Pokoknya tanggung jawab! Antar dia ke UKS!"

Natsu mendengus kesal dan menggendong Lucy seperti menggendong karung beras.

"Masa begitu angkatnya! Yang benar, dong!" protes Levy. "Kau ini nggak gentleman banget, sih."

"Cerewet!"

"Natsu! Yang benar! Kalau tidak akan kulempar kau dari lantai 3 ini!" ancam Levy. Natsu mendengus dan merubah pose gendongannya menjadi bridal style.

"Natsu! Turunkan aku!" Lucy meronta-ronta dalam gendongan Natsu. Telinga serta mukanya memerah saat mendengar anak-anak lain menggoda dirinya dan Natsu.

"Berisik! Diam saja disitu," perintah Natsu. Lucy menggembungkan pipinya. "Kau makan apa sih, Luce? Badanmu berat sekali."

"Kau bilang apa?!" Lucy kembali meronta-ronta. Kali ini ditambah dengan pukulan di dada bidang Natsu.

"Diam atau kucium kau."

Lucy menghentikan rontaannya dan menenggelamkan wajahnya di dada Natsu, berusaha menyembunyikan rona merah yang menodai wajahnya.

Sesampainya di UKS, Natsu mendudukkan Lucy di kasur UKS yang berseprai putih dan mengambil peralatan yang diperlukan untuk mengobati kaki Lucy.

"Ternyata kau pintar juga dalam hal ini," komentar Lucy saat Natsu meliliti perban di kakinya dengan rapi.

"Kadang aku keseleo saat latihan basket, jadi mengobati ini sudah biasa untukku," Lucy membulatkan mulutnya begitu mendengar penjelasan Natsu.

"Sudah selesai," ujar Natsu dengan nada puas. "Akan kubelikan roti sebentar. Jadi anak baik dan tunggu disitu."

Langkah kaki pemuda itu terhenti saat Lucy memanggilnya.

"Ne, Natsu. Kau harus diberi pelajaran karena telah membuat kakiku seperti ini."

"Haaa?" Natsu mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"

"Kau akan kuhukum."

"WHAT?!" suara Natsu naik 2 oktaf saat mendengar 3 kata yang keluar dari bibir Lucy. "Aku sudah menggendongmu, mengobatimu, dan sekarang aku akan membelikan makanan untukmu, dan aku akan dihukum?! Sepertinya kepalamu tadi terbentur sesuatu, Luce!" Natsu mengecek kepala Lucy. Natsu bisa merasakan aroma strawberry menguar dari helaian pirang gadis itu.

"Kepalaku tidak terbentur apapun," Lucy memeletkan lidahnya, mengejek Natsu.

"Awas kalau kau menyuruhku melakukan hal yang aneh-aneh," ancam Natsu waswas.

Lucy tertawa pelan. "Tenang saja. Aku hanya menyuruhmu menjadi supirku selama seminggu kok."

Natsu mendesah lega.

"Besok jemput aku jam 06.15 ya. Jangan sampai telat, lho."

Natsu memamerkan grins miliknya dan membuat pose salute kearah Lucy. "Aye sir!"

.

.

Lucy kira semua sudah berakhir.

Lucy kira teman-temannya sudah berhenti bertingkah aneh.

Lucy kira teman-temannya akan khawatir dan menanyakan apa dia baik baik saja.

Ia sangat kecewa karena saat ia kembali ke kelas, teman-temannya sibuk dengan urusan masing-masing. Semua bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Bahkan Levy sedang asyik bercanda dengan Gray dan Gajeel. Padahal gadis bertubuh mungil itu yang paling panik saat Lucy terkilir barusan.

"Hai, Lu-chan," sapa Levy begitu Lucy duduk di tempatnya. "Sudah baikan?"

Lucy sedikit menaikkan sudut bibirnya. "Lumayan."

"Baguslah."

"Hei, Kecil, kau tahu kalau band Metalix akan konser di Crocus bulan depan?"

"Metalix? Band kesukaanmu ya, Gajeel?"

"Bisa dibilang begitu."

Lucy kembali kecewa saat Levy melupakan dirinya dan sudah asyik mengobrol lagi dengan Gajeel dan sesekali Natsu dan Gray menimpali.

Ini adalah kali pertama Lucy diacuhkan oleh teman-temannya. Rasanya sakit sekali. Lucy sangat ingin menangis.

Ia kira mereka sudah menyukai keberadaan Lucy di Fairy Tail. Tapi ternyata…

Mungkin mereka masih belum bisa menerima kehadirannya dengan lapang dada.

.

.

Bel tanda pulang berbunyi. Lucy memasukkan semua bukunya dengan asal dan berjalan dengan langkah terpincang menuju lorong kelas. Dia ingin pulang secepatnya dan mencurahkan segala unek-unek di hatinya ke boneka kesayangannya, Imitatia. Langkahnya tertahan begitu pergelangan tangannya dipegang oleh seseorang.

"Yo, Luce!"

Seorang pemuda berambut salmon itu memamerkan grins andalannya. "Temani aku beli jus di dekat kantin yuk! Aku traktir, deh!"

"Pergilah dengan dirimu sendiri," Lucy menyentakkan tangannya dan berbalik. Lagi-lagi langkahnya tertahan oleh genggaman Natsu di pergelangan tangannya. "Sekarang apa lagi, Natsu?"

"Kau kenapa sih? PMS, ya? Kau suka susu strawberry, kan? Aku belikan, deh. Mau, kan?"

"Tutup mulut. Aku mau pergi."

"Kemana? Aku ikut, dong!"

"Bukan urusanmu."

"Cie ada yang lagi badmood," Natsu mencubit kedua pipi mulus Lucy dengan gemas.

"Sakit! Sudahlah, aku mau pergi!"

"Luce, cewek ngga boleh pergi sendirian, lho. Aku temani ya!"

"Pergilah dengan yang lainnya! Jangan pedulikan aku!"

"Luce, kau kenapa, sih?" Lagi-lagi Natsu menggenggam pergelangan tangan Lucy, kali ini lebih erat. Nada suaranya mulai terdengar serius.

"Harusnya aku yang tanya begitu. Kali yang kenapa!" Lucy membalikkan badannya. Natsu terkejut melihat mata Lucy yang berkaca-kaca. "Luce, kau menangis? Apa aku mencubit pipimu terlalu keras?"

"Aku tidak menangis!" Lucy membuang mukanya kearah jendela, berusaha untuk tidak menatap mata Natsu. "Aku… hiks.. tidak menangis… hiks."

"Waaa! Luce! Maafkan aku! Kumohon berhentilah menangis!" Natsu sangat panik begitu air mata Lucy jatuh dari pelupuk matanya. "Kau mau memukulku? Cubit? Bantai? Jitak? Tampar? Siksa? Silahkan! Bunuh aku pun juga boleh! Tapi berhentilah menangis!"

"Huweee!" Bukannya menghentikan air matanya, Lucy malah memperkeras tangisannya. Natsu tambah panik. Dia tidak pernah melihat seorang gadis menangis di hadapannya seumur hidupnya, jadi dia tidak tahu harus berbuat apa. Nona Heartfilia ini adalah orang pertama yang beruntung melihat kepanikan seorang Natsu Dragneel dalam menghadapi senjata utama para perempuan di seluruh dunia: air mata. Untung saja lorong sudah sepi. Jika tidak, pasti berbagai pasang mata langsung mencap Natsu sebagai seorang bajingan yang telah membuat seorang perempuan menangis.

"GYAA! Kenapa malah tambah keras nangisnya?!"

"Huaaa! Natsu no baaaka! Baka! Baaaaka!"

"Ya ya ya, aku memang bodoh! Sangat bodoh! Aku ini idiot! Sekarang berhentilah menangis!"

"Huaaa, kalian kejam!" Lucy menubrukkan mukanya ke dada bidang pemuda itu. "Aku juga ingin tertawa dengan kalian. Tapi kenapa kalian malah menjauhiku? Kalian tidak menyukaiku? Dasar jahat! Kejam!" Lucy menyalurkan kekesalannya dengan memukul-mukuli dada Natsu sekuat tenaga. Setelah beberapa menit menangis, Lucy mulai tenang.

"Sudah kan menangisnya?" Natsu mengusap-usap ubun-ubun Lucy dengan lembut. Dia sangat bersyukur dalam hati begitu mendengar isakan pelan Lucy.

Natsu memegang tangan Lucy dan berusaha menariknya. "Nah, karena kau sudah selesai menangis, ayo kita-"

"Jangan lihat mukaku! Mukaku jelek habis menangis!" Lucy makin erat menekan mukanya dengan kedua telapak tangannya.

"Kau tidak jelek. Kau cantik," Lucy merasa mukanya memanas. "Temani aku mengambil tas di kelas, ya? Setelah ini kuantar kau pulang," bujuk Natsu. Lucy mengangguk dan menyembunyikan mukanya dibalik punggung Natsu.

.

.

"Luce, ambilkan tasku dong," pinta Natsu begitu mereka sudah sampai di depan pintu kelas.

"Kenapa kau menyuruhku?" kata Lucy kesal.

"Ayolah. Sekali sekali menolongku kan tidak salah. Hitung-hitung nambah pahala," ujar Natsu santai. Lucy menggembungkan pipinya dan membuka pintu kelas dengan kasar dan...

PYARR!

"HAPPY BIRTHDAY, LUCY!"

Lucy terkejut bukan main begitu confetti melayang turun kearahnya. Di kelas, para murid Fairy Tail berkumpul di dekat papan tulis. Sebuah gambar Lucy versi chibi dengan topi ulang tahun serta tulisan 'HAPPY BIRTHDAY LUCY HEARTFILIA. WE LOVE YOU' terpampang di papan tulis. Balon tertempel dimana-mana. Sebuah kue ulang tahun dengan lilin berangka 17 menyala di atasnya.

Mirajane membawa kue itu ke hadapan Lucy yang masih shock. "Selamat ulang tahun, my dearest Lucy! I love you!"

Kaki Lucy terasa lemas, sehingga tubuhnya langsung terduduk di lantai dan menangis keras-keras.

"Kenapa menangis? Ayo buat permohonan dan tiup lilinnya," kata Mirajane dengan lembut. Lucy tambah histeris menangis, membuat panik murid-murid kelas Fairy Tail.

"Aku… aku… huaaa!"

"Lucy, kenapa? Kau tidak suka?" gadis berambut silver berombak itu mengelus rambut pirang halus Lucy. Sebelah tangannya masih memegang kue ulang tahun.

Lucy menggeleng kencang. "Tidak! Aku… aku terlalu senang. Ini lebih dari yang kuharapkan. Kalian hanya mengucapkan ulang tahun pun aku sangat senang. Jujur aku tidak pernah mendapat kejutan seheboh ini," Lucy mengusap air matanya dan tersenyum. "Ini tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Terima kasih, semuanya. Aku tidak tahu harus… HUAAA!"

"Oi Bunny Girl, kenapa menangis lagi?!" teriak Gajeel panik.

"Terima kasih banyak, minna-san! Terima kasih!" Lucy berusaha menahan aliran air mata kebahagiaan yang turun dengan deras dari matanya.

"Nah, sekarang, ayo buat permohonan!" teriak Natsu. "Habis itu, kita makan kuenya!"

"Dasar otak api! Apakah di otakmu tidak ada kata lain selain makanan, hah?!"

"Kenapa kau selalu mencari masalah denganku, hah? Dasar stripper!"

"Cengeng!"

"Biang es!"

"Hentikan, Gray! Natsu!"

Jika Erza sudah turun tangan, maka Natsu dan Gray hanya bisa berpelukan dan gemetar ketakutan. "A-aye!"

Lucy tertawa melihat tingkah Natsu dan Gray, membuat semua murid mendesah lega. Dia mulai memejamkan matanya dan membuat permohonan.

'Aku ingin… kebahagiaan ini akan tetap bertahan dan terkenang sepanjang hidupku.'

Fyuh~

Lucy meniup lilin. Semua bersorak girang. Lisanna membawakan sebuah pisau kue dan piring kertas dan menyerahkannya kepada Lucy. Lucy memotong kue itu dan menaruhnya di piring kertas yang sudah disiapkan Lisanna.

"Potongan pertama untuk..."

"NATSUUU!" koor satu kelas kompak. Muka Natsu memerah.

"A-apaan sih kalian! Tentu saja potongan kue pertama itu bukan untukku!" bantah Natsu. "Pasti potongan pertama untuk Levy. Atau mungkin Mira. Atau Juvia. Atau Wendy. Atau Erza. Atau-"

"Untukmu."

Natsu terdiam begitu Lucy berjalan dan tersenyum manis kepadanya. Lucy mencolek hidung Natsu dengan krim kue. "Ini, potongan pertama untukmu," Lucy menyodorkan kue di tangannya kepada Natsu. "Diterima, ya?"

"Ya- ya...," Natsu menerima kue itu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sangat salah tingkah. "Nih, balasan," Natsu mencolek krim kuenya dan memeperkannya ke hidung Lucy. Lucy yang terkejut dan tidak terima berusaha memukul Natsu yang menghindar dengan mudah.

"CIEEEEEE~!"

Beberapa Nalu Shipper menjerit melihat adegan itu. Mirajane, sang ketua dari Nalu Shipper, Gruvia Shipper, Jerza Shipper, Gale Shipper, Albis Shipper dan berbagai macam pasangan lainnya menjerit sangat histeris. Dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk tidak pingsan bahagia. Gadis itu merekam aksi Natsu serta Lucy yang terlihat sangat romantis di matanya dengan handphone miliknya.

"DWREKITERUU~" seorang provokator berteriak dengan sangat keras, membuat yang lain saling meneriakkan hal yang sama kepada Natsu dan Lucy.

"Siapa yang berteriak pertama tadi, hah? Jangan menggulung lidahmu seperti itu!" amuk Lucy kepada si provokator yang sudah bersembunyi dibalik kerumunan anak kelas Fairy Tail. Lucy menggembungkan pipinya.

Lucy memotong kuenya dan memberikannya kepada Levy. "Potongan yang kedua untuk sahabat pertamaku di sekolah ini, Levy-chan!"

"Arigatou, Lu-chan!" Levy dan Lucy saling bercipika-cipiki.

"Yang ketiga untuk ketua kelas pecinta cake kita, Erza!"

"Arigatou, Lucy," Erza tersenyum tipis.

"Psstt, aku sengaja memotongnya lebih besar dari yang lain," bisik Lucy sambil mengedipkan sebelah matanya.

Erza memandang Lucy dengan penuh haru. "Kau memang temanku yang paling baik, Lucy! Peluklah aku yang beruntung ini!" Erza menghantamkan muka Lucy ke dadanya. Gadis berambut pirang ini meronta-ronta di pelukan Erza.

Lucy membagi-bagikan kue kepada yang lainnya, hingga tersisa sepotong kue terakhir. "Yang ini untuk siapa, ya–"

"Lucy!"

BRAKK!

Pintu kelas dibuka dengan keras dan menampilkan Sting dengan seragam yang berantakan. Nafasnya terengah-engah.

"Sekarang kau ulang tahun kan? Happy birthday!" Sting segera menghambur ke pelukan Lucy dan memeluknya dengan erat. "Semoga yang kau harapkan akan terkabul. Aku mendoakan yang terbaik untukmu, chubby," Sting menangkupkan kedua tangannya di pipi Lucy dan mengunyel-unyelnya dengan gemas.

"Stwiwiwing! Levassh! (Stiiing! Lepass!)"

Sting tertawa keras dan mengacak-acak rambut Lucy, membuat gadis itu tambah kesal dibuatnya.

"Oh iya, ini kadomu. Kuharap kau suka," Sting menyerahkan sebuah kotak kado berukuran lumayan besar kepada Lucy. "Buka sekarang."

Lucy membuka kado dari Sting dengan tatapan penasaran, ditemani oleh Levy dan Juvia di sampingnya yang juga menatap kado itu dengan tidak kalah penasaran.

"Uwaaa~ Kawaii!"

Lucy memeluk sebuah boneka anjing berwarna abu-abu putih berukuran sedang dengan riang, seperti anak kecil. Selagi asyik memeluk boneka itu, Lucy melihat sesuatu berwarna kemerahan di kotak kado pemberian Sting. "Eh, ada lagi?"

Gadis itu mengambil benda kemerahan –yang ternyata setangkai mawar merah– dan memamerkan senyum manisnya kepada Sting. "Arigatou ne, Sting! Aku sayaaaaaaangg… banget sama Sting!"

Sting tersenyum melihat Lucy yang sekarang sedang memamerkan boneka pemberiannya pada Levy, Juvia, Wendy, dan Mirajane.

"Oh iya, potongan kue terakhir ini untukmu saja, Sting–"

"Luce, aku masih lapar. Tambah kuenya."

Dengan seenak perut, Natsu menyambar potongan kue di tangan Lucy dan memakannya dengan lahap. Lucy melongo.

"Kenapa kau makan kueku?" tanya Sting sebal.

"Karena aku lapar," jawab Natsu dengan sangat santai, membuat Sting menggeram kesal.

"Cih! Kenapa kau selalu mencari gara-gara terus, Natsu?!"

"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya makan kue, itu saja. Memangnya salah kalau aku makan kue? Kalau kau melarang, itu tandanya kau melakukan pelanggaran hak padaku. Kau bisa kutuntut ke pengadilan!"

Sting memutar kedua bola matanya. "Kau berlebihan sekali. Hanya karena secuil kue kau menuntutku?"

"Hei, hentikan!" lerai Lucy. "Kalian ini kenapa tidak pernah akur, sih?"

"Natsu duluan yang cari gara-gara, Kaa-chan!" adu Sting dengan nada kekanakan.

"Sting menuduhku, Kaa-chaaan~" rajuk Natsu.

"Berhenti bertingkah seolah kalian berdua anakku!" teriak Lucy. "Ini salahmu, Natsu! Kenapa kau memakan kue jatah Sting?"

"Lu-chan benar-benar terlihat seperti ibu yang sedang memarahi anaknya," bisik Levy kepada Mirajane yang membalasnya dengan anggukan setuju.

"Ya! Marahi dia terus, Kaa-chan!" teriak Sting dibalik punggung Lucy, membuat yang lain tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya.

"Diam kau, Sting! Aku bukan Kaa-chan-mu!" Lucy melirik tajam Sting. "Aku heran kau selalu mencari gara-gara ke sepupumu, Natsu. Sebagai saudara seharusnya kalian akur."

Natsu mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Lucy. "Tahu darimana aku bersepupu dengan lebah sialan itu?"

"Sting sendiri yang memberitahuku."

.

.

Flashback

"Mmm… Lucy, berhubung kau sedang ada disini… ada yang ingin kusampaikan kepadamu."

"Eh? Apa?"

Sting mendekatkan mukanya kearah telinga Lucy. "Sebenarnya…"

"Ya? Sebenarnya?"

"Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu."

"Bantuan apa?"

"Um… Kau dekat dengan Natsu, kan?"

"Yah, bisa dibilang begitu. Kenapa?"

Mata Sting berkilat jenaka. "Kalau begitu, boleh aku minta tolong?"

"Minta tolong apa?"

"Aku minta tolong… cari kelemahan Natsu, ya?"

Lucy menatap Sting seakan-akan pemuda itu adalah seorang alien dari planet antah berantah. "Hah?"

"Tolong carikan kelemahan Natsu, ya," pinta Sting seraya memamerkan puppy eyes-nya untuk meluluhkan hati Lucy.

"Untuk apa?"

Kini Sting memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Tentu saja untuk mengisenginya!"

Lucy menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar. Kau tidak pernah berubah, ya. Selalu iseng dari dulu."

"Mau ya?" pinta Sting dengan nada manja.

"Tidak, ah. Bisa hancur Fiore kalau kau cari gara-gara lagi dengan Natsu. Sudah cukup aku melihat kalian tawuran tempo hari. Aku tidak mau melihatnya lagi," Lucy bergidik mengingat saat-saat 'mengesankan nan tak terlupakan' yang dialaminya di hari pertama sekolah.

Sting memajukan bibirnya. "Aaaa Lucy~ Bantu aku mendapatkan kelemahan sepupu sialan itu ya. Atau rahasia memalukannya juga tidak apa."

"Sepupu sialan?"

"Iya," Sting menolehkan kepalanya kearah Lucy. "Kau tidak tahu aku dan Natsu itu saudara sepupu?"

Lucy nyaris menjatuhkan buku yang dibawanya. "Sepupu?"

"Iya. Sepupu," Sting menganggukkan kepalanya. "Kau pasti baru tahu kalau aku bersepupu dengan Laxus dan Gajeel kan? Dan juga dengan Erik –maksudku Cobra kalau kau tidak tahu– dari kelas Crime Sorciere."

"Hah?"

"Dan kau pasti shock kalau tahu aku juga bersepupu dengan Wendy. Wendy itu adiknya Natsu."

"ADIKNYA NATSU?!" kini Lucy benar-benar menjatuhkan buku-bukunya. Lucy meminta maaf dan mengumpulkan buku-buku itu lagi. "Tu-tunggu, kenapa Wendy itu bisa jadi adiknya Natsu? Maksudku, marga mereka kan berbeda."

"Sebenarnya, ibu kandung Natsu meninggal saat melahirkan Natsu. Lalu, 2 tahun kemudian ayah Natsu menikahi ibu Wendy yang waktu itu sedang hamil Wendy. Suaminya meninggal karena kecelakaan. Wendy tahu cerita ini ketika berusia 10 tahun –kalau tidak salah– dan dia meminta izin ibu serta ayah Natsu untuk merubah marganya menjadi Marvell –marga keluarga ayahnya– untuk mengenang ayahnya atau semacam itu. Entahlah. Aku tidak begitu tahu tentang itu."

Lucy membulatkan bibirnya. "Lalu, kenapa Wendy tidak memanggil Natsu dengan panggilan Aniki atau Onii-chan atau semacam itu?"

"Kalau itu sih, Wendy memanggil Natsu dengan sebutan Onii-chan di luar lingkungan sekolah. Hanya beberapa orang sih yang mengetahui kalau mereka bersaudara. Oh iya, Wendy memanggilku Sting-niichan lho! Kau harus tahu betapa unyunya dia saat memanggilku seperti itu!" pamer Sting. Lucy mendengus geli.

"Lalu kalau soal aku dan Natsu, sebenarnya ibuku itu adik ayahnya Natsu. Lalu kalau Laxus, Gajeel, dan Cobra… agak sulit menjelaskannya. Intinya kami bersaudara," imbuh Sting. Lucy mengangguk paham.

"Aku benar-benar tidak menyangka," gumam Lucy.

"Sudah, lupakan saja soal itu," Sting tertawa kecil. "Ne, Lucy. Aku boleh ganti permohonanku, tidak?"

" Maksudmu?"

"Tadi kan aku bilang aku minta bantuanmu untuk mencari kelemahan Natsu," Lucy mengerutkan keningnya melihat gelagat Sting yang salah tingkah sendiri. "Aku minta tolong bantuanmu untuk mencomblangkanku dengan seseorang di klub masak."

Mata Lucy berbinar. "Wah, ada yang kau suka di klub masak? Siapa? Mungkin aku mengenalnya!"

Sting makin salah tingkah. Mukanya menampilkan sedikit rona merah. "Sebenarnya, aku dan dia sekelas. Namanya–"

.

.

"Whoa whoa whoaaa! Cukup sampai situ ceritanya, Lucy!" Sting kelabakan sendiri. Mukanya merah padam.

"Kenapa kau memotong di bagian serunya?" protes Mirajane.

"Justru karena itu bagian seru aku memotongnya!"

"Sudahlah…," lerai Wendy. "A-ano… Lucy-san, ini kado dari kelas Fairy Tail. Memang tidak sebagus kado dari Sting-nii– ehm, maksudku Sting-san, tapi kami harap Lucy-san suka."

"Waah, arigatou ne!" Lucy merobek kertas kado dengan senyum manis terukir di bibirnya. Tapi sedetik kemudian, senyum itu luntur begitu menyadari isi kado tersebut.

"Eh, ini kan… buku tadi?" Lucy terperangah melihat sebuah buku pink yang sudah lumayan lusuh dan membuka halaman pertamanya.

LUCY THE EXPLORER: BRING KUROKO BACK TO KONOHA AND DEFEAT ALL THE TITANS!

Lucy ternganga begitu membaca judul yang terpampang indah di halaman pertama. "What the?!"

Gadis itu tambah memelototkan matanya saat membaca paragraf pertama di lembar berikutnya.

Dahulu, negara Fiore hidup dalam damai. Namun, semua berubah saat Negara Api menyerang. Hanya penyihir dengan kekuatan bulan yang mampu menghentikan mereka. Tapi saat dunia membutuhkannya, dia menghilang. 100 tahun berlalu, aku dan saudaraku menemukan seorang penyihir tsundere dengan kekuatan bulan, Lucy Heartfilia. Meski sihirnya masih belum hebat, tapi kami percaya Lucy bisa menyelamatkan dunia. -Alzack

"WHAT THE HELL?!"

Lucy membolak-balikkan halaman buku pink itu dengan cepat dan menyadari bahwa makin lama cerita itu makin ngawur.

Saat akan menyebrangi sungai, sesosok ketam raksasa bernama Yuyu Kangkang muncul dari dalam sungai dan mengatakan bahwa ia bersedia untuk mengantar Lucy hingga ke seberang, dengan imbalan Lucy harus bersedia dicium olehnya. Lucy menolak dan menghantam ketam itu dengan kekuatan bulannya dan membuatnya K.O. Lucy lebih memilih menyebrang sungai bersama si kancil anak nakal suka mencuri ketimun ayo lekas dikurung jangan diberi ampun. -Lisanna

"Apa-apaan ini?!" walaupun begitu, Lucy tersenyum geli saat membaca paragraf demi paragraf yang ditorehkan oleh setiap teman-temannya.

"Hm? 'Lucy segera berlari ke maid café, tempat perjanjiannya dengan tunangannya. Tanpa memperdulikan ucapan manis, "Okaerinasai masen, ojou-sama!" dari sang pelayan, Lucy segera berlari kearah tunangannya dan duduk manis di hadapannya. Tanpa banyak basa-basi, Lucy langsung menjelaskan situasi yang sangat sulit ini sedetail mungkin ke tunangannya, Natsu Dragneel. "Babang Natsu rapopo kan kalo dedek Luce kerja disana?" ujar Lucy dengan nada khawatir. –Mirajane.' DAFUQ?!"

"Hah? Apa-apaan itu?!" Natsu merebut buku itu dan membacanya. "MIRA! KAU…!"

"Fufufu~ Aku senang kau baru mengetahuinya sekarang, Natsu Dragneel," semua sweatdrop mendengar Mirajane yang berbicara layaknya seorang pemeran antagonis. "Sudah kuduga kau tidak mengetahuinya. Kyahahaha!"

"Mana mungkin aku mengetahuinya! Peraturannya kan tidak boleh membaca ceritanya dari awal. Hanya boleh membaca 2 paragraf terakhir yang dituliskan, kan? Jadi aku hanya membaca paragraf yang ditulis Levy dan Muka Besi!"

"Sudahlah, itu kan hanya cerita," lerai Lucy. Gadis pirang itu merebut dan memeluk buku itu lalu menyunggingkan senyum manisnya. "Terima kasih banyak, teman-teman. Ini adalah kado yang paling berharga yang pernah kudapatkan. Aku sangat menyayangi kalian! I love you, Fairy Tail!"

Lucy melebarkan senyumnya begitu mengetahui bahwa mereka tidak benar-benar mengacuhkannya. Lucy bisa merasakan aura persaudaraan yang sangat kental di kelas Fairy Tail ini dan ia sangat bahagia bisa menjadi salah satu bagian diantaranya.

Dia jadi teringat salah satu quote yang pernah dibacanya:

Friendship isn't a big thing — it's a million little things.

And now, she agreed with it.


Sebelum berbacot-bacot ria, Acan ingin mengucapkan:

HAPPY BIRTHDAY LUCY!

Semoga bisa cepet-cepet jadian sama Natsu, ya! *lirik-lirik unyu Mashima-sensei*

Sebenernya, Acan baru tahu Lucy ultah hari ini dari fairytail wikia ._. tapi itu tidak penting! Intinya, Acan bahagia Lucy ultah hari ini, fufufu~

Oh iya, Acan jadi ikutan greget (?) baca review para reader yang pada greget baca chap kemaren. (Readers: bahasa lo ribet amat sih thor!) HAHAHA! Mamam tuh Gray! *dibekuin sama Gray*

Dan buat yang kepo Sting ngomong apa ke Lucy di chap 3, sudah dibeberkan disini :3 dan soal cewek beruntung yang disukai Sting, mungkin sudah banyak yang bisa nebak ya? :D

Daripada bacot-bacot tidak penting Acan makin banyak bertebaran (?) disini, lebih baik Acan balas review dari para reader:

ft-fairytail: Arigatou! X)

Yukiko Arashi: Natsu itu emang terlalu polos :3 Acan jadi kasian sama tembok kamar Yukiko-san *salah fokus* Ini sudah dilanjut, Yukiko-san! Dan untuk soal Juvia putus atau ngganya sama Lyon... kita serahkan hal ini kepada Yang Diatas *plak*

zuryuteki: Kyaa! *ikutan fangirling* tapi chap itu menuai kontra (?) dari gruvia shipper ._. tapi ngga papa! Kan sekali-sekali ini :3 *dihajar Gruvia shipper* Ini sudah dilanjut, Yucchan! ^^

I Love Erza: Acan setuju soal salah Gray ngusir Juvia, gara-gara dia Juvia jadi diambil Lyon. Rasain! *ditendang Gray* Ini sudah dilanjut, Erza-san! ^^

BlaCkPearl. : Aku juga pengen dicium sama Natsu :3 *monyongin bibir* Ini sudah dilanjut, BlackPearl-san! ^^

Rukami Aiko: Kalau soal Jellal... dia baik-baik aja kok di rumahnya ._. (Ruka-san: bukan gitu maksudnya! *dilempar bata*) Jellal jadi galau-galau tak menentu *tsah* tentang Jellal nanti bakal diulas di chap yang akan datang kok ^^ Gray sama Juvia bakal baikan kok :D Tapi kalau buat pacaran...*sok misterius* Lucy sama Natsu pacarannya masih lamaa XD

Ree Luchia: Arigatou ne! X) Juvia lagi dalam fase (?) kecewa berat sama Gray. Dia kira Gray bener-bener benci banget sama dia, jadi dia memutuskan untuk menerima tawaran Lyon buat jadi pacarnya, dengan harapan Lyon bisa bikin dia melupakan Gray *tsahh* btw jangan panggil senpai ya, Acan kan masih belajar di dunia FF ini X3

RedRose-san: Arigatou ne! X)

Ganba-chanEgao SM: Ini sudah diupdate! Mudah-mudahan suka ne ^^

Fani Shuuya: Aaaakk arigatou! XD Ada momen Nalu disini, buat Miraxus menyusul, oke? ^^

Wolfie333: Ini ada momen Nalunya, walaupun ngga banyak banget hehe X) Mudah-mudahan suka ya :D

hikari609: Emang sengaja dibikin sedikit OOC, soalnya menurut Acan kalau dibikin IC malah kurang greget ._. Buat Gruvia... kita tunggu saja fufufu~ Aye sir!

Buat guest, Acan bingung mau jawabnya gimana ._. Yang pasti Acan ucapin terima kasih banyak dan jangan bosan nunggu lanjutan fic ini ya ^^

Sekian dari Acan dan sampai bertemu di chap selanjutnya!

Arigatou gozaimasu :D