My Silly Oppa


Hunhan's Fanfiction

Present by,

Parkizuna

Whole of this story is belong to me, except the casts, ofcourse.

Warn: Genderswitch, typos is my styles :D, tidak sesuai EYD


My Silly Oppa chap.7


Didalam klub basket sekolah terdapat dua kubu. Kubu pertama yaitu kubu Park Chanyeol, sang ketua klub basket, disana terdiri dari pemuda-pemuda tampan dan kaya. Kebanyakan orang dari kubu Park Chanyeol ada pemuda yang populer, dan juga sombong. Lalu kubu kedua yaitu kubu yang dipimpin oleh Kim Taehyun. Berisikan anak-anak pemain basket yang berbakat, namun sayangnya karena ia kurang populer ia tidak di pilih oleh pelatih menjadi ketua team basket sekolah.

Hal itu yang menyebabkan perselisihan diantara kedua kubu tersebut. Kemudian hal itu di perparah dengan Sojung, adik dari Taehyun yang ditolak oleh Park Chanyeol melakukan percobaan bunuh diri.

Di Lapangan Basket, Taehyun tengah berlatih sendirian, dan Mino menghampiri nya.

"Kudengar kau mengencani Byun Baekhyun ya, Tae?" Tanya Mino salah satu komplotan Chanyeol disana.

Taehyun yang sedang berlatih 3 poin kemudian berhenti sejenak. Kemudian memandangi Mino. "Bukan urusanmu. Huh. Jadi gosipnya sudah menyebar secepat ini ya?"

Mino menghembuskan napas kesal. "Ya! Taehyun asal kau tau saja ya, Baekhyun itu bukan siapa-siapa Chanyeol. Kemarin gadis itu menyatakan perasaannya dan di tolak."

"Lalu mengapa aku harus mengetahui nya? Aku hanya ingin 'bermain' dengan gadis manis itu." Jelas Taehyun acuh.

Mino menghembuskan napas kasar. Sebenarnya yang membuat Mino harus repot-repot datang kesini adalah perasaan bersalahnya pada Byun Baekhyun. Gadis itu baru saja di hancurkan hatinya oleh Park Chanyeol, apa jadinya gadis itu kalau akan di permainkan lagi oleh Kim Taehyun?


"Nona Xi! Kemari lah!" Teriak Baekhyun heboh di koridor sekolah yang tengah padat membuat beberapa orang memandanginya sinis.

Tapi Baekhyun tak ambil pusing oleh tatapan mereka.

Luhan pun yang sedari tadi bersama Jongin dan Taemin menghampiri Baekhyun yang tengah mengandeng seorang pemuda, yang ia identifikasi wajahnya sebagai Taehyun dari aplikasi line Baekhyun.

"Luhan, Jongin, Taemin. Aku ingin memperkenalkan pacarku! Kim Taehyun."

Ketiga orang yang baru datang itu shock mendengar nya.

Dengan santai Taehyun pun menyapa mereka semua. "Hai."

Jongin dan Taemin pun segera mengajak bicara Taehyun, mengintrogasi pemuda itu apakah ia layak dengan sahabat mereka Baekhyun, sedangkan Luhan dan Baekhyun memperhatikan mereka. Dalam hati Taehyun, bersorak, karena rencananya sejauh ini berjalan dengan lancar.


Entah apa yang membuat gadis bermarga Bae itu sumringah pada hari ini. Bunga-bunga tak kasat mata nampak bermekaran disekitar senyumannya. Irene melambungkan senyuman indah nya pada beberapa pemuda yang lewat, tentu saja para pemuda itu merasa beruntung dan gembira karena telah di berikan seulas senyuman dari Dewi Kampus mereka yang terkenal dingin bak es itu. Hal yang membuat Irene senang hari ini adalah Sehun.

Sehun mengajaknya untuk bertemu di Taman Kampus sehabis kelas siang mereka. Sekilas terdengar tidak spesial, namun Sehun hanya mengajaknya seorang diri tanpa Yifan dan Zitao. Hal yang sebelumnya belum pernah terjadi. Dan Irene berharap Sehun mulai menyadari perasaannya, dan ingin memulai pendekatan mereka bukan sebagai sepasang sahabat, melainkan wanita dan pria.

Meskipun cuacanya masih dingin, namun beberapa bunga sudah mulai berbunga. Seperti pohon sakura yang indah ini, nampak jauh lebih indah karena terdapat Sehun di dekatnya. Irene menjerit di dalam hati melihat betapa tampannya pemuda yang ia cintai belakangan ini.

Sehun mengenakan kemeja putih polos dengan jeans hitam, membuat ketampanannya nampak ilegal. Dahi Sehun yang biasanya di tutupi oleh sejumput poni, sekarang di atur keatas dengan berantakan. Membuat nya nampak seperti dewa dari Yunani yang tersesat di daratan Asia.

"Irene.." panggil Sehun menyadari keberadaan Gadis paras cantik itu.

Irene pun kini tak kalah cantik sekarang, ia mengenakan black mini skirt memamerkan betis indah nan jenjangnya dipadukan dengan blouse putih polos. Membuat keduanya nampak serasi dari penampilan. Bahkan diam-diam teman-teman mereka menjuluki mereka sebagai Visual Couple. Karena ketampanan dan kecantikannya membuat mereka mendapatkan julukan tersebut.

"Hai Sehun, ada perlu apa memanggilku?" Tanya Irene begitu Sehun menghampiri nya.

Sehun memandangi Irene tajam, dan tatapannya nampak serius. Irene pun mendadak gugup.

"Ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan dengan mu Irene." Ujar Sehun.

Irene menengadahkan wajahnya ke atas untuk memastikan ekspresi Sehun.

"Silahkan bicara Sehun, mengapa kau harus bilang terlebih dahulu?" Tanya Irene merasa geli dengan tingkah Sehun.

"Ini soal Luhan."

Deg!

Irene pun mulai merasakan hatinya kesal. Perubahan sikap Irene nampak begitu nyata di mata Sehun. Yang barusan gadis itu terlihat senang, beda dengan sekarang yang cemberut.

"Ada apa dengan Luhan?" Seloroh Irene dengan ketus.

Sehun pun berupaya untuk menjelaskan, ia tidak ingin salah paham terus berlangsung. "Soal kejadian kemarin,.." ujar Sehun pelan.

Irene pun segera memotong ucapan Sehun dengan cepat. "Saat aku mengatakan pada gadis kecil itu kalau kau tidak bisa di ganggu?" Seru Irene dengan nada sarkas yang kentara seolah tidak ingin di tutupi.

Jadi ucapan Luhan itu benar pikir Sehun.

"Benar." Jawab Sehun singkat,

Irene memandangi Sehun seolah tidak habis pikir. "Memangnya kenapa Sehun? Apa aku salah?" Tanya Irene dengan nada frustasi.

Sehun hanya mengepalkan tangannya erat dan diam saja, ia tidak ingin menjawabnya.

"Kenapa Sehun? Aku merasa kan kalau sifat mu sudah berubah semenjak kedatangan gadis China itu dalam hidupmu."

"Gadis China itu punya nama Irene." Ralat Sehun membuat gadis di hadapannya semakin kesal.

Irene memutar bola matanya malas, "Ya sesukamu saja lah Sehun. Aku malas menyebutkan namanya."

"Kurasa kau tidak menyukai Luhan. Apa yang membuat mu begitu membencinya Irene?" Tanya Sehun keheranan.

"Aku tidak suka padanya, ia telah merebut seluruh perhatianmu pada kita."

Irene terkejut, ternyata Sehun lebih membela Luhan ketimbang dirinya.

Sehun mengembuskan napasnya kasar. "Bukan seperti itu Irene, namun aku memiliki tanggung jawab untuk menjaga anak itu, tidak seharusnya kau berlaku seperti itu."

"Tanggung jawab apa Sehun, ia bahkan sudah hampir berusia 16 tahun. Kenapa kau harus repot segala. Dan kau meninggalkan teman-teman mu membuat mereka kebingungan dengan tingkah mu yang berubah akhir-akhir ini."

Sehun juga tidak mau kalah, "Kalau kalian benar teman ku pasti kalian akan mengerti."

Hal ini yang sudah lama Irene tunggu, tanpa sadar bahkan tanpa otaknya berpikir pun Irene telah mengeluarkan kalimat yang akan di sesalinya nanti.

"Jadi kau hanya menganggap ku teman Sehun?" Lirih Irene kemudian, ia sudah tak sanggup menahan perasaannya.

Otak Sehun seakan berhenti untuk berpikir. Apa yang barusan Irene katakan? Mengapa ia tidak dapat mencerna pertanyaan tersebut.

"T-tentu saja kau adalah temanku Irene. Kau adalah sahabatku kan?" Ujar Sehun terbata, fakta yang menamparnya kini membuatnya kehilangan kendali untuk berkata.

"Aku mencintaimu Sehun!" Teriak Irene dengan penuh penekanan. Ia sudah tak kuasa memendam perasaannya. Biarkan saja semua kalimatnya bermuntahan pada Sehun, berharap pemuda itu mengerti perjuangannya selama ini.

Sehun pun yang tidak menyangka kalau akan begini, ia pun mengingatkan Irene.

"Tapi bagaimana dengan hubungan kita? Persahabatan yang kita jalankan bertahun-tahun Irene? Mungkin kau hanya terbawa perasaan sesaat. Pikirkan perasaan itu baik-baik Irene."

Irene sudah gelap mata, ia sudah terpeleset ke dalam kubangan lumpur, jadi sekalian saja ia menyelami perasaannya yang terkekang dan mengungkapkannya.

"Kau pikir selama ini aku selalu ada untukmu, hanya karena kewajiban ku sebagai seorang sahabat? Aku mencintaimu sejak dulu Sehun, dan aku ingin selalu bersamamu."

Sehun hanya diam saja, disaat yang seperti ini ia merasakan otaknya membeku seolah tidak mau diajak bekerja.

"Aku tidak tahu apakah kau tidak tahu, atau tidak mau tahu tentang perasaanku." Ucap Irene dengan lidahnya yang terasa kelu, saat ia mengerjabkan matanya jatuh juga bendungan air mata yang sedari tadi ia tahan. Namun dengan cepat ia hapus dengan jemari tangannya yang lentik.

Seumur hidupnya, Sehun memegang teguh untuk tidak membuat perempuan menangis. Baru pertamakali nya ia meruntuhkan kepercayaan yang ia pegang selama ini. Yang lebih parah, ia menyakiti perasaan sahabat nya, yang selalu ada untuknya sedari sekolah menengah dulu. Sehun tidak dapat membalas perasaan Irene. Entah kenapa ia merasa ada yang salah dengan dirinya, gadis secantik, sebaik, dan sesempurna Irene mencintainya namun ia tidak dapat membalas perasaannya. Yang hanya dapat Sehun lakukan adalah memeluk Irene namun sebelum kedua lengan panjang pemuda itu meraih tubuhnya, Irene pun berangsur pergi.

Irene pun melangkah menjauhi Sehun yang masih betah dalam keterpakuannya.

Untuk beberapa saat Irene berharap Sehun mengejarnya dan membalas kata cintanya, pada akhirnya Irene pun menoleh ke belakang sesaat dan berkata.

"Begitu menyakitkan untuk mengetahui bahwa kau tidak akan melihatku, seperti aku melihat mu, kau seorang yang ku cinta Sehun bukan hanya sesosok sahabat dimataku."

Irene tak kuasa menahan air matanya. Namun ia lebih tidak sudi kalau menunjukkan kesedihannya pada Sehun. Semenjak kejadian ini, Irene memutuskan untuk menjauh dari kehidupan Sehun selamanya. Percuma saja mengharapkan pemuda yang tidak mencintainya, hanya akan membuang waktu dan menyakiti hati.


Luhan akhir-akhir ini merasa sangat bosan berada di sekolah. Baekhyun terlalu sibuk dengan pacar barunya, sehingga ia merasa kesepian terkecuali saat berlangsungnya pelajaran, selebihnya ia tidak punya teman bicara. Taemin dan Jongin juga sama, mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan Jongin tidak dapat mengantarnya pulang hari ini, kalau tidak salah ia sedang sibuk mempersiapkan suatu acara yang di selenggarakan ekskulnya membuatnya pulang larut malam.

Beruntungnya Luhan sudah mengingat jalan pulang. Ia pun dengan penuh percaya diri berjalan menembus jalanan-jalanan Seoul yang tadinya asing menurut nya dan sekarang mulai nampak familiar. Luhan menyadari ternyata tempat tinggal barunya memiliki kesan tersendiri, berbeda dengan kampung halamannya. Gadis berkuncir dua itu pun mulai merasakan betah di Seoul.

Saat menuju perjalanan pulang tanpa sengaja ia menangkap sebuah tempat yang menarik perhatiannya. Sebuah toko permen dan balon. Luhan mengerjabkan matanya saat menatap pemandangan yang hangat di toko tersebut.

Seorang gadis cilik tengah memekik senang saat ayahnya memberikan sebuah permen kapas merah jambu super besar yang di jual oleh toko tersebut, terdapat juga beberapa balon helium beraneka karakter dari beruang, anjing dan kucing. Entah kenapa rasa senang itu menular kepada Luhan.

Ia pun merasa ingin memborong seluruh isi kedai kecil itu, namun ia teringat kalau sudah bukan usia nya lagu untuk menyukai hal hal semacam itu. Remaja sepantar Luhan lebih menyukai brand kosmetik ternama atau outfit-outfit yang sedang in dan brand ternama.

Luhan pun menghela nafasnya panjang saat melewati toko tersebut. Tanpa terasa ternyata sedari tadi ia menatap gadis itu dengan air mata bercucuran.


Hari sudah mulai gelap namun Luhan belum sampai juga di rumah. Luhan masih belum berani berjalan sampai ke daerah jauh, jadi ia memilih untuk berkeliling di sekitar daerah rumah nya saja. Kejadian di toko permen tersebut membuat nya ingin berkeliling sebentar lagi. Menikmati sudut daerah baru yang ia tempati.

Luhan berjalan kemana saja kaki nya membawa. Hingga langkah nya berhenti pada sebuah tempat yang penuh dengan perosotan, jungkat jungkit, ayunan, kotak pasir dan lain lain. Tentu saja itu adalah taman dilengkapi fasilitas bermain untuk anak. Ia terkejut ternyata di dekat kompleks rumahnya terdapat sebuah taman bermain/playground anak.

Pada nuansa malam seperti ini, playground ini nampak sedikit menakutkan. Apalagi saat Luhan mencoba menajamkan penglihatannya ia melihat seorang pemuda sedang duduk di ayunan sendiri sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ia bergidik ngeri saat melihatnya, dan memutuskan untuk segera angkat kaki dari sana.

Namun saat ia mencoba lihat lagi, ia merasakan siluet bahu bidang dan kaki panjang itu nampak begitu familiar baginya. Ia pun mendekat ke arah pemuda yang tampak begitu menyedihkan di ayunan tersebut.

Ia terkejut saat mengenali sosok tersebut. "Sehun Oppa?" panggil Luhan dengan jelas, karena ia yakin tebakannya tidak salah.

Pemuda tersebut terkejut mendengar ada yang memanggil namanya, ia pun melihat ke sumber suara. "Luhan? Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Sehun sedikit terkejut mendapati gadis mungil ini masih berkeliaran bukannya pulang ke rumah dan makan malam.

Luhan nyengir dan beralasan. "Aku habis berkeliling.."

Sehun pun mulai mencair saat melihat senyuman dari wajah gadis bermata rusa itu. Ia pun menepuk bangku ayunan kosong disebelah nya berisyarat agar Luhan duduk di sebelah nya.

Tanpa menunggu ia pun segera duduk di sebelah Sehun, dan mendorong ayunannya dengan kaki dan mulai berayun.

Keadaan mereka sangat canggung. Biasanya Sehun akan meledek nya atau membuat nya kesal sehingga beseteru pada setiap pertemuan mereka. Namun Luhan merasa ada yang ganjil dari sikap Sehun sekarang.

"Oppa, kenapa diam saja.. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Luhan dan menghentikan ayunannya agar dapat melihat ekspresi Sehun dengan jelas.

Suara Luhan memecahkan lamunan pemuda berwajah tampan itu.

Bukannya segera menjawab ia menghela nafas panjang sebelum kemudian menjawab rusa cantik yang kebingungan dengan sikapnya.

"Hmmm.. Tidak ada. Aku tidak memikirkan apa apa." Dusta Sehun. Dan dengan mudah Luhan menebaknya.

"Gotjimal."

Sehun pun tersenyum kearah Luhan, ia mengangkat tangannya seolah menyerah. "Baiklah-baiklah.. Aku menyerah, aku memang tidak bisa berbohong pada mu Lu. Sepertinya kau berbakat sebagai cenayang." gurau Sehun berusaha mencair kan suasana.

Luhan hanya mendengus sebal menanggapi gurauan Oh Sehun. "Cepat katakan apa yang sedang kau pikirkan." tanyanya tidak sabaran.

"Sejak kapan kau menjadi gadis manis dan pemaksa seperti ini?" Ledak Sehun, di balas dengan pukulan manja di lengan kokohnya. Luhan memberengut kesal dengan tingkah Oppa nya yang satu ini.

"Segitu ketara nya ya? " tanya Sehun diiringi kekehan masih berusaha mengulur waktu.

"Di dahi mu terdapat sebuah tulisan besar bertuliskan SEDANG BANYAK PIKIRKAN dalam huruf kapital, Oppa." Celetuk Luhan asal.

Sehun pun tertawa sebentar, saat tawa nya memudar nampak sebuah ekspresi yang tidak dapat di deskripsi kan kemudian ia mulai menjawab. "Kuncir dua.." panggil Sehun.

"Ya?"

"Bagaimana perasaanmu saat kau menemukan seekor anak anjing buangan yang malang di jalanan dan kau ingin sekali menolong nya, namun kau tidak bisa membawanya pulang kerumah?" tanya Sehun dengan tatapan menerawang kearah langit.

Apa yang ia maksud kan adalah Vivi? Batin Luhan.

"Aku pasti merasakan sedih, dan juga bersalah karena tidak dapat menolong anjing malang tersebut. Ia pasti kedinginan, kelaparan di pinggir jalan sana." jawab Luhan membayangkan keadaan Vivi apabila tidak di pungut oleh Sehun.

Luhan masih tidak mengerti mengapa Sehun menanyakan hal ini bukannya menjawab pertanyaannya. "Lalu apa hubungannya Oppa?"

"Ya kira-kira aku merasakan sebuah dilema yang sejenis dengan itu.. " jawab Sehun enteng sambil menatap Luhan, namun tatapan pemuda itu seolah kosong.

Saat melihat perubahan ekspresi Luhan menjadi iba menatap nya ia pun segera mengulas sebuah senyuman menyatakan secara tidak langsung kepada gadis itu kalau ia baik baik saja.

"Jadi kau sedang sedih?"

"Yaps."

"Bersalah?"

"Hmm.."

"Kalau begitu kau lebih membutuhkan ini di banding aku." ucap Luhan seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag besar yang ia jinjing selain tas sekolah nya.

Sehun pun melirik ke arah Luhan penasaran apa yang akan gadis bermata rusa itu berikan kepadanya.

Menyembul lah sebuah balon helium ke udara berwarna putih dan pita di tali nya. Dengan sigap Luhan menyerahkan pada Sehun, yang menerimanya begitu tidak menyangka dengan apa yang sedang di genggam nya. Dan kemudian Luhan mengeluarkan sebuah Permen kapas besar berwarna merah jambu besar.

"Disaat aku sedih karena merindukan Mama, Babaku sering membawakan aku balon dan permen kapas untuk menghibur ku. "

Mau tidak mau, Sehun pun tersenyum melihat tingkah laku seorang gadis cantik ini untuk menghibur hatinya.

Sehun secara tidak langsung menceritakan kisah tentang ia menolak Irene dan perasaan bersalah nya karena tidak dapat mencintai gadis sesempurna dia. Ia menggunakan anak anjing buangan sebagai perumpamaan.

Luhan pun teringat kata Sehun sewaktu pemuda itu menyeret dirinya pulang saat ia ingin memungut Vivi.

"Sehun Oppa.. " panggil Luhan lirih.

Sehun yang sedang dengan antusias menerima pemberian Luhan kemudian mulai fokus pada gadis berkuncir dua itu.

"Bukannya kau pernah bilang padaku saat aku tidak bisa membawa Vivi pulang, Kalau Ia akan mendapatkan seorang pemilik yang lebih bisa merawat nya di banding aku. Jadi kau tidak perlu khawatir Oppa, kau cukup berdoa untuk agar anjing itu dapat di pungut oleh pemilik yang baik hati. Dan yang pasti pemilik nya bukan lah kau Oppa.. "

Pemuda itu merasa seperti tersiram air dingin begitu mendengar perkataan gadis berkuncir dua itu. Ia seperti baru tersadar. Ia bangkit diantara perasaan bersalah nya pada Irene. Mungkin seseorang lain akan mencintai Irene sama seperti Irene mencintai nya. Namun pemuda tersebut bukan lah Sehun. Ia pun segera terlepas dari perasaan sedih dan bersalah. Semua itu karena Luhan.

Luhan bingung melihat pemuda itu diam dalam beberapa saat, seolah sedang kerasukan atau apapun itu. "Oppa, kau masih disana?" panggil Luhan kebingungan sambil melambaikan tangan nya di depan wajah Oh Sehun yang terdiam.

Sehun pun tersadar dari pikirannya, "Terimakasih, Luhan." ucap Sehun sepenuhnya tulus, ia pun memeluk tubuh mungil Luhan secara refleks.

Luhan begitu terkejut secara tiba tiba Sehun memeluk nya seperti ini. Ia dapat merasakan jantung nya berdebar tidak karuan. Pelukan itu tidak berlangsung lama, namun Luhan yakin wajahnya yang memerah itu akan berlangsung lama. Untung saja mereka berada di tempat yang gelap, sehingga Sehun tidak akan menyadari rona di kedua pipinya sampai ke telinganya.

"B-baiklah, sama-sama Oppa. Kalau begitu, ayo kita pulang. Pasti Eomma sedang menunggu kita."

Sehun pun mengangguk dengan polos, seolah tidak terpengaruh oleh pelukan canggung tersebut, dan berjalan membuntuti Luhan.

Luhan pun menyamakan jarak nya dengan Sehun. Sehun heran melihat Luhan menatap kearah wajahnya terus menerus, "Ada apa kuncir dua?" Tanya Sehun.

"Oh ya, Oppa.. waktu ku kecil dulu, kau sering mengajak ku bermain di taman. Apa kau ingat?"

Sehun mengerutkan alis tanda berpikir keras. "Benarkah? Hmm.. Kapan?"

"Waktu dulu.. sekali.. saat kau belum begitu menyebalkan seperti ini!" Ledek Luhan sambil mencubit kedua pipi Sehun kencang.

"Yak Kuncir dua!" Teriak Oh Sehun sambil memegangi pipinya yang kemerahan.

Luhan berlari agar tidak dapat tersusul oleh Sehun dan pemuda itu bisa membalas kelakuan isengnya.

Pada saat itu juga, aku sangat menyukai mu Oppa.

Sehun malas membalas kuncir dua. Sudah cukup hari ini membuat para gadis membenci nya.

Sehun justru melayangkan pertanyaan. "Oh ya, Luhan dari mana kau dapatkan Balon dan Permen kapas ini? " tanya Sehun kepada Luhan.

"Aku menangis saat melihat seorang anak kecil dibelikan balon dan permen kapas oleh ayahnya."

"Kenapa kau menangis? " tanya Sehun.

"Karena itu mengingatkan ku pada Baba." jawab Luhan

"Lalu?"

"Kemudian, mungkin karena tidak tega.. Ayah dari gadis kecil itu membelikan ku juga.. " jawab Luhan malu-malu.

Sehun tertawa geli mendengar kisah Luhan.

"Bahkan Ayah dari gadis kecil itu bertanya padaku. 'Kamu SD dimana dik?'"

Mereka pun tertawa bersama, hari yang menyenangkan bagi Luhan. Dan walaupun hari ini membuat Sehun sedih, setidaknya memiliki akhir yang indah. Mereka pun melangkah bersama menuju rumah, berhiaskan kerlipan bintang di langit yang begitu indah.


TBC/END?


A/N

Huweeee.. maafkan akuu, susah banget sumpah buat update cerita ini tepat waktu. Fanfict ini terlantarkan karena aku kehilangan mood HunHan. tapi tenang kok, udah balik lagi gegara ngeliat ABS nya Sehun Oppa,wkwk dasar labil. -_-

Special Thanks

buat semua yang tetep ngikutin cerita ini, yang Follow, Favorite, dan terutama yang Review . Btw yang sider fanfict ini lumayan banyak loh.. Semoga setelah updatetan ini, para sider jadi tobat wkwk udah mau tahun baru loh, masih betah aja jadi sider..

Punya unek-unek tentang cerita ini ? Kesel author nya ngaret ? Atau progres HunHan yang lambat ? Ayooo ku tampung semua nya di Review yaa, Chapter depan akan aku balas semua deh, Janji. Hehe.. Sabar aja, soalnya aku emang sengaja buat cerita ini panjang kayak sinetron Cinta Fitri XD, efek kebanyakan baca manga genre shoujo jadi kayak gini, hehe..

.

mind to review?

.