Play With The Letter D
Exonoir
Main Cast : Chanyeol; Baekhyun
Romance; Comedy; Drama; Supernatural
Warning ! Yaoi fiction.
Mature; Explicit Content. Don't like, don't read.
.
.
Chapter 7 : SPECIAL WORLD WAR II (part 1)
1945, Juli (date unknown)
Park Chanyeol menatap kedua orangtuanya yang tertidur tanpa alas yang memadai dengan perasaan tidak menentu. Remaja berusia 19 tahun itu menyelinap keluar dari gubuk mereka yang sederhana hanya untuk menatap bulan—seperti yang biasa ia lakukan jika dia tidak dapat tidur.
Ia menutup kedua matanya sembari menarik napas dalam-dalam, merasakan udara sejuk masuk ke dalam kerongkongannya; bukan udara yang bercampur dengan bau anyir darah atau bubuk misiu, "Haahhh…" ia mendesah pelan.
Malam itu bulan terlihat memilukan dengan awan yang menyelimutinya seperti selimut raksasa; seolah dapat merasakan kejanggalan di pikiran Chanyeol.
"Chan-hyung?" sebuah suara membuat tubuh Chanyeol terpanjat kaget. Ia menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang remaja berusia 17 tahun dengan pakaian seadanya mengintip malu-malu dari ambang pintu gubuk mereka. "Oh itu kau, Sehun-ah. Tidak bisa tidur? Kemarilah, temani aku sebentar." Remaja bernama Sehun itu keluar dari gubuk sederhana mereka untuk menghampiri sepupunya.
Begitu Sehun berdiri di samping tubuhnya, Chanyeol segera mengacak rambut yang lebih muda untuk membuatnya tidak khawatir, "Kenapa kau tidak tidur, anak nakal?"
Sehun menyingkirkan tangan yang lebih tua dari kepalanya sambil mengeram kesal, "Kau juga tidak tid—" Chanyeol cepat-cepat membekap mulut Sehun sebelum menarik perhatian tentara Jepang yang berjaga di desa mereka.
"Turunkan volume suaramu," yang lebih tua berbisik memperingatkan.
Lagi-lagi Sehun menyingkirkan tangan sepupunya, "Tanganmu bau, hyung." Desisnya.
Chanyeol menyeringai kecil, "Jadi kenapa kau tidak tidur? Besok kita memiliki tugas yang banyak di ladang, kau tahu itu kan?" Chanyeol mengalihkan percakapan mereka. Yang lebih muda mendongakkan kepala untuk menatap bulan. "Tiba-tiba aku teringat orangtuaku…"
Mendengar penuturan dari Sehun membuat hati Chanyeol sakit. Lelaki yang lebih tua itu mengeraskan rahangnya; ekspresinya berubah. "Orangtuamu pasti baik-baik saja sekarang, Sehun. Kau jangan khawatir."
Chanyeol berbohong, tentu saja. Sehun terlalu kecil untuk mengingat kejadian mengerikan itu. Kedua orangtua Sehun di bunuh dan di saksikan oleh seluruh penduduk di desa mereka oleh tentara Jepang karena mereka ketahuan mencuri roti. Dan secara kurang beruntung, Chanyeol dan Sehun berada di sana ketika kejadian itu terjadi. Sehun di paksa melihat kedua orangtuanya sendiri di tembak mati di depan matanya.
Sehun tersenyum tipis, entah dia harus merasa bahagia ketika mendengarnya atau tidak, "Lalu bagaimana denganmu, hyung? Apa yang mengganggumu?"
Yang lebih tua mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku, "Entahlah. Aku tidak tahu. Terlalu banyak hal yang sedang kupikirkan sekarang…" Mendengar itu Sehun menepuk punggung sepupunya untuk membuatnya lebih baik. "Ceritakan padaku. Aku pendengar yang baik, kau tahu?"
Bukannya ia meragukan keseriusan Sehun yang lebih muda 2 tahun darinya, tapi lelaki itu tidak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya merasa takut akan sesuatu yang bahkan belum terjadi. "Tidak perlu. Mungkin ini hanya perasaanku saja." Ia tersenyum tipis kepada yang lebih muda.
Sehun memeluk perut sepupunya dengan erat; menyembunyikan wajahnya yang mungkin berubah menjadi merah sekarang. Sial, dia benar-benar merindukan kedua orangtuanya. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, Sehun-ah…" gumam yang lebih tua ketika ia menempelkan dagunya ke puncak kepala sepupunya.
Sehun berdiri tidak jauh dari Chanyeol ketika yang lebih tua meletakkan beberapa kentang ke dalam keranjang hingga membentuk seperti sebuah gundukan. "Sudah semua?" remaja berusia 17 tahun itu menunggu anggukan dari Chanyeol sebelum ia membopong keranjang itu ke atas bahunya.
"Iya." Jawab Chanyeol tanpa menatap Sehun.
Dengan sigap Sehun mengangkat keranjang itu ke atas bahunya. "Ukhh!" erangnya karena merasakan beban yang melebihi dari yang dia bisa. Beberapa langkah kemudian badan Sehun oleng, kemudian tersungkur ke tanah dan seluruh kentang dalam keranjang itu jatuh berantakan.
Salah seorang tentara jepang yang bersiaga disana menoleh karena mendengar suara yang tidak biasa, "OI!" ia berteriak memanggil Sehun, menarik perhatian beberapa tentara lain.
"M-maafkan aku." Gumam Sehun.
Karena tidak mengerti apa yang telah mereka bicarakan, Sehun memasukkan kentang yang berserakan ke dalam keranjang sambil sesekali melirik mereka.
"Apa yang kau lakukan?!" bisik Chanyeol sedikit membentak. Ia kemudian membantu yang lebih muda untuk memasukkan kentang-kentang itu. "Maaf hyung, mereka berat sekali." Sehun menjawab dengan suara lemah. "Kalau merasa itu berat kenapa tidak bicara?" Lelaki itu menundukkan kepala sembari melirik ketiga tentara Jepang yang sepertinya sedang berunding sesuatu.
Salah seorang dari mereka yang mampu berbicara menggunakan bahasa Korea dengan fasih memberikan gesture tangan pada Sehun dan Chanyeol untuk mendekat. "Hei kau! Kemarilah sebentar."
Chanyeol menatap Sehun dengan mata yang membulat lebar.
Mungkinkah?
Yang lebih tua bangkit dari tanah, "Kau jangan ikut denganku," ia memperingatkan Sehun dengan suara pelan. Sehun mendongakkan kepala untuk menatap Chanyeol dengan tatapan bersala. "Chan-hyung, ini kesalahanku. Aku yang mereka inginkan."
Chanyeol menggelengkan kepala tidak menyetujui, "Diam dan duduk di sini." Ia kemudian menghampiri ketiga tentara itu dengan tangan yang gemetar.
"Apa yang kau lakukan seorang diri? Kami memanggil kalian berdua."
Jantung Chanyeol seperti di remas.
Apakah mereka berdua akan di bunuh?
"Kau! Yang menjatuhkan keranjang! Kemarilah!" ia bertitah menggunakan bahasa Korea dengan fasih.
Sehun menurut. Ia bangkit dari tanah, kemudian menghampiri mereka. Ia berdiri di sebelah kiri Chanyeol tanpa mengatakan sepatah katapun.
Salah seorang dari mereka yang fasih berbicara bahasa Korea bergumam menggunakan bahasa Jepang untuk berbicara kepada kedua temannya yang lain, "Bagaimana menurut kalian? Apakah Atasan akan menyukainya?" ucapnya. Kedua temannya menyernyitkan dahi seolah sedang menimang-nimang sesuatu, "kalian berdua, berbaliklah." Ia berbicara pada Chanyeol dan Sehun menggunakan bahasa Korea.
"Mereka sangat muda." Salah seorang tentara yang paling tinggi meremas lengan Chanyeol dari belakang. Membuat tubuh Chanyeol menegang karena terkejut. "bisepnya juga sudah terbentuk. Dia sudah pasti memenuhi kriteria."
Tentara yang lain menepuk bahu Sehun dengan kedua tangan raksasanya, "Ya, jika mereka tidak mampu, mereka pasti akan—"
Tentara yang paling tinggi memotong dengan suara tinggi. "Hiroshi! Jangan mengatakan hal macam-macam di depan mereka!"
Lelaki yang dipanggil Hiroshi itu mendenggus kesal, "Pergilah." Ia mendorong punggung Sehun menjauh darinya. Karena mendapat dorongan itu, kaki Sehun melangkah satu kali. "A-ada apa?" ia bertanya kepada salah satu tentara yang mampu berbicara bahasa Korea dengan fasih.
Chanyeol menoleh ke belakang, menatap wajah ketiga tentara itu dengan sikap siaga. Tapi ke khawatiran Chanyeol sia-sia. Mereka tidak melakukan apapun yang mencurigakan. "Pergilah kalian berdua." Salah satu dari mereka memerintahkan menggunakan bahasa Korea. Masih dengan sikap siaga, Chanyeol menarik lengan Sehun menjauh dari mereka.
"Ayo pergi," gumam Chanyeol pelan.
Dan ketika keduanya di rasa telah cukup jauh dan nyaris dapat mendengar mereka, lelaki bernama Hiroshi membuka pembicaraan, "Kudengar malam ini truknya datang." Ia melipat kedua tangannya di bawah dada, berusaha agar terlihat gagah.
"Benarkah? Kalau begitu waktunya pas sekali." Yang lebih tinggi menjawab dengan seringai menakutkan.
Malam itu Ibunya Chanyeol meletakkan semangkuk kentang rebus diatas alas tempat tidur mereka sehari-hari dengan senyum yang merekah di wajahnya, "Makan malam sudah siap!" ia berseru untuk membangunkan sang suami tercinta dan kedua jagoannya yang tertidur pulas karena telah bekerja terlalu keras di ladang.
Chanyeol mengusap kedua matanya sambil mengerang lembut, "Sudah matang ya?" dia menggoyangkan tubuh Sehun agar yang lebih muda itu terbangun dari tidurnya. "bangun," gumam Chanyeol dengan suara bass-nya.
Sang Ibu membakar sumbu lampu kerosene ketika beliau mendengar Sehun mengerang kesal karena tidurnya telah terganggu. "Ayo makan malam dulu, setelah itu kembali tidur." Setelah berbicara, sang Ibu terbatuk-batuk.
Chanyeol menoleh kearah sang Ibu, "Ibu baik-baik saja? Sepertinya penyakit Ibu semakin memburuk," itu benar. Kesehatan Ibunya akhir-akhir ini semakin memburuk. Beliau kerap kali terbatuk-batuk dengan di sertai suhu tubuh yang tinggi seperti demam.
"Ibu baik-baik saja, Chanyeol. Kau jangan khawatir. Ayo cepat makan,"
Sang Ayah merenggangkan otot-otot di tubuhnya yang kaku, kemudian beliau bangkit dari alas tempat mereka tidur, "Kau sebaiknya istirahat, sayang. Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Kesehatanmu yang terpenting."
Sehun menggigit sepotong kentang rebus, "Hm! Ihu behar, Hu!(Itu benar, Bu!)" ia berbicara dengan mulut yang penuh. Ibunya Chanyeol tersenyum lembut, beliau menghampiri Sehun kemudian memeluknya dari belakang. "Maafkan Ibu sudah membuat kalian khawatir hm?"
Setelah Ibunya mengatakan itu, tiba-tiba pintu rumah sederhana mereka di buka paksa oleh beberapa tentara Jepang saat itu. Mereka berteriak sambil menunjuk Chanyeol dan Sehun secara bergantian.
"Ada apa ini tuan-tuan?" sang Ayah bangkit untuk melindungi keluarganya, sementara sang Ibu memeluk kepala kedua jagoannya ke dalam pelukannya. "Kami semua tidak melakukan kesalahan apapun!" tambah sang Ibu dengan suara yang bergetar.
Salah seorang tentara yang membawa senjata laras panjang memukul kepala sang Ayah hingga beliau tersungkur ke tanah. "Tch! Minggir kau! Dasar pria tua!" tentara itu berseru menggunakan bahasa Jepang.
"AYAH!" teriak Sehun dan Chanyeol secara bersamaan. Mereka hendak menghampiri sang Ayah, tapi sang Ibu menghentikan gerakan mereka agar keduanya tidak merasakan hal yang sama. "Jangan!" seru sang Ibu.
Beberapa tentara yang mengepung pintu masuk rumah mereka seketika itu berjajar seperti sedang membukakan jalan untuk seseorang. Mereka kemudian memberi hormat kepada seseorang yang Chanyeol yakini adalah Atasan mereka. "Ah, jadi ini yang kalian maksud?" dengan tatapan yang angkuh, lelaki yang berdiri di hadapan keluarga Chanyeol itu terlihat tidak bahagia. Ia menoleh kanan-kiri, memandangi sekeliling rumah kumuh sepetak yang mereka tinggali.
"Kolonel Nishiwada," salah seorang tentara berlari masuk ke dalam rumah Chanyeol, ia kemudian membungkukkan badan untuk menjukkan sikap hormat kepada Atasannya.
Masih dengan sikap yang angkuh, pria berumur 30 tahunan yang di panggil Nishiwada itu melirik ke belakang, "Ada apa?"
"Mobil Anda sudah siap, Pak." Ia menjawab masih dengan sikap membungkukkan badan.
Butuh waktu lama bagi lelaki berusia 30tahunan itu untuk berpikir sebelum pada akhirnya memutuskan, "Bawa mereka." Begitu ia bertitah ada keempat tentara maju menghampiri Chanyeol dan Sehun; lalu menarik mereka berdua dengan paksa. "Jangan ambil anakku!" sang Ibu menarik ujung baju keduanya, tapi kekuatannya tidak sebanding dengan para tentara itu. Ia tersungkur di ambang pintu, melihat kepergian kedua anak kesayangannya dengan air mata.
"IBUUU! AYAAHH!" Chanyeol dan Sehun berusaha sekuat tenaga untuk memberontak agar lengan mereka lepas dari cengkraman. Tapi itu sia-sia saja.
Chanyeol dan Sehun di masukkan secara paksa ke dalam truk bersama dengan remaja yang lainnya. Mereka tidak bisa kabur karena ada banyak tentara bersenjata yang menunggu di sekeliling truk itu. Jika mereka ketahuan kabur, mereka pasti akan mati.
"H-hyung, kita mau di bawa kemana?" Tanya Sehun dengan suara bergetar.
Chanyeol menatap beberapa remaja yang ada di sana, "Aku juga tidak tahu, Sehun-ah." Dia menjawab dengan suara pelan. "permisi, kita mau di bawa kemana?" ia bertanya kepada salah satu remaja yang duduk di samping kirinya.
Lelaki itu, yang awalnya menundukkan kepala karena takut, seketika itu mendongakkan kepala menatap mereka berdua, "Kau tidak tahu? Mereka akan membawa kita ke Jepang untuk di jadikan tentara tambahan."
"J…jepang?"
Ia menganggukkan kepala menyetujui. "Ngomong-ngomong, namaku Kim Jongin."
"Aku Chanyeol," Chanyeol menunjuk dirinya sendiri, "dia Sehun." Ia kemudian menunjuk Sehun yang duduk di samping kanannya.
Lelaki bernama Jongin itu menatap mereka secara bergantian, "Apa kalian Kakak-Adik?"
"Oh tidak, tidak. Kami hanya sepupu. Tapi keluarga Chanyeol telah mengasuhku sejak kecil." Sebelum Chanyeol menjawab, Sehun buru-buru memotong.
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan di darat dan laut, akhirnya mereka tiba juga di tempat tujuan. Dari ke 5 truk yang berada di sana, hanya ada 3 truk yang mengangkut para remaja dari Korea. Mereka bernasip sama seperti Chanyeol dan Sehun; mereka di paksa ke Jepang untuk menjadi tentara tambahan—seperti yang di katakan Jongin. Karena mereka tidak mungkin akan membunuh tanpa tujuan.
"Keluar!" teriak beberapa orang tentara bersenjata menggunakan bahasa Jepang dengan nada menjulang. Mereka tidak segan-segan untuk memukul, menendang, bahkan meludahi remaja-remaja itu jika mereka bergerak terlalu lambat.
Karena perjalanan dari Korea ke Jepang memakan waktu dua hari melalui perjalanan darat, mereka di bawa paksa pada malam hari, dan tiba di Jepang pada malam hari.
"Hyung, kita dimana?" bisik Sehun sambil menarik ujung baju Chanyeol yang berbaris tepat di depannya. Ia menoleh ke kanan-kiri untuk memeriksa keadaan.
Kini mereka berada di sebuah tempat aneh yang di tertimbun oleh pepohonan yang rimbun di sekelilingnya; seolah tidak membiarkan orang lain mengetahui tempat itu seperti sebuah markas rahasia di tengah hutan. Karena minimnya pencahayaan bulan, Sehun tidak dapat melihat dengan jelas tempat itu.
Sehun menarik nepas dalam-dalam ketika melihat seorang tentara berjalan melewatinya. "Menikmati pemandangannya, anak nakal?" tentara itu berbisik tepat di telinga Sehun, lalu ia membenarkan posisi berdiri Sehun agar tubuh lelaki itu tegap. "bersikaplah yang tegas! Sebentar lagi dia akan tiba!"
Mau kau berbicara seperti apapun padaku, aku tetap tidak mengerti apa yang kau katakan, dasar bodoh. Ucap Sehun dalam hati.
Chanyeol melirik ke belakang dari sudut matanya. Napas lelaki itu tercekat melihat tentara sial itu sepertinya sedang mengancam Sehun.
Selang beberapa waktu kemudian tentara itu pergi. Chanyeol mengambil kesempatan itu untuk menoleh ke belakang, "Kau baik-baik saja?" bisiknya.
Sehun mengangguk untuk membalas pertanyaan sepupunya, "Aku baik-baik saja."
Puas dengan jawaban dari Sehun, Chanyeol membuang pandangannya kembali ke depan; di saat yang bersamaan, ia mendengar suara seseorang yang dia yakini adalah suara dari Kolonel Nishiwada. "Selamat malam!" meski ia berbicara menggunakan bahasa Jepang, tapi ada seorang yang menerjemahkan kata-katanya menggunakan bahasa Korea dengan fasih.
"Selamat malam, semuanya." Suara itu terdengar di belakang tubuh kolonel itu.
"Kalian pasti bertanya kenapa Saya membawa kalian ke sini—" ia menghentikan kata-katanya untuk memberi kesempatan si penerjemah untuk melakukan tugasnya.
"Kalian pasti bertanya kenapa kalian di bawa ke tempat ini."
"—itu karena kalian akan menjadi tentara tambahan dalam devisi pasukan utama."
"Kalian akan menjadi tentara tambahan dalam pasukan utama."
"Sebelum itu terjadi, kalian akan melalui segelintir pemeriksaan medis dan melalui tahap-tahap yang menyakitkan."
"Sebelum itu, kalian akan menjalani pemeriksaan medis."
Sehun menarik ujung baju Chanyeol, "Apa maksud mereka hyung?" dengan suara bergetar ia bertanya kepada Chanyeol. Tapi lelaki yang lebih tua tidak menjawab pertanyaannya karena terlalu sibuk mencerna kata-kata yang mereka sampaikan dalam hati.
"Satu lagi, kalian tidak bisa menolak. Atau keluarga kalian yang berharga akan menanggung balasannya."
"Kalian tidak boleh menolak jika kalian ingin keluarga kalian…hidup."
Chanyeol bergumam seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri, "Jadi mereka akan membunuh Ayah dan Ibu jika kami menolak…"
Sial. Chanyeol menggigit bibir bawahnya hingga mereka berdarah.
Tidak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk menyadari keganjilan yang terjadi di markas rahasia itu. Chanyeol mendengar mereka menyebut lokasi itu sebagai sektor 7. Berbeda dengan sektor lainnya, letak sektor 7 berada di tengah hutan Nagasaki. Dan tidak banyak orang yang tahu tentang sektor 7 karena di anggap tidak-pernah-ada oleh Negara.
Begitu tiba, mereka mengambil contoh darah dari para calon tentara tambahan—seluruh remaja sebaya Chanyeol yang di bawa paksa ke sektor 7. Selama satu minggu berada di sana, tubuh Chanyeol tidak berhenti di suntik oleh berbagai cairan yang menyakitkan.
Bukan rahasia lagi jika dari ke seratus calon tentara ada yang tidak berhasil bertahan.
Minggu berikutnya, mereka akhirnya berhenti menyuntikan cairan aneh ke tubuh Chanyeol. Mereka justru melakukan yang paling buruk. Mereka menyiksa satu persatu calon tentara dengan cara yang berbeda setiap harinya.
Dimulai dari mencambuk tubuh, hingga yang paling buruk menyengat tubuh dengan listrik bertegangan tinggi. Satu persatu siksaan telah di terima; sudah tidak terhitung berapa kali mereka berusaha membunuh Chanyeol dan Sehun bersama mereka yang bertahan.
Dan satu hal yang Chanyeol dan Sehun ketahui, sektor 7 adalah tempat percobaan manusia. Mereka melakukan serangkaian percobaan kepada 100 orang untuk menciptakan senjata baru seperti manusia super.
Mereka tidak pernah lelah, dan mereka tidak akan berhenti. Mereka akan terus menyiksa ke 38 orang yang tersisa hingga tubuhnya bermutasi genetik melalui suntikan yang telah mereka dapatkan, atau mati.
1945, Agustus (date unknown)
Akhirnya Sehun membuka kedua matanya dengan susah payah. Tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak, bahkan berbicara rasanya susah. Konjungtiva matanya berwarna merah karena mengalami peradangan parah.
Rasanya dia sudah tidak memiliki semangat untuk hidup.
Dia akan lebih bahagia jika langsung di bunuh dari pada mendapat siksaan seumur hidup.
"Sehun-ah," panggilan suara itu berasal dari sel di seberang. "Oh Sehun," suara itu kembali terdengar samar-samar di telinga Sehun. Dengan mengerahkan seluruh sisa-sisa tenaganya, Sehun menoleh ke sumber suara dan mendapati Chanyeol merangkak dengan wajah lebam agar dapat melihat Sehun dengan jelas. "syukurlah kau ternyata masih hidup…" yang lebih tua menghela napas lega.
"Hnggg…" Sehun tidak bisa berkata lebih dari ini.
Chanyeol menggenggam teralis besi pada selnya dengan tangan yang gemetar, "Kau harus bertahan Sehun-ah. Tidak lama lagi kita akan keluar dari tempat busuk ini. Aku berjanji…"
Sehun menutup kedua matanya. Dia mencoba untuk tersenyum pada sepupunya meski itu terasa sakit. "Uh-huh. Ahi hyu. (janji hyung.)"
Selang beberapa waktu setelah Chanyeol mengatakan itu, seluruh seluruh tentara berteriak dari luar. Lelaki itu memaksa tubuhnya untuk bangkit agar dapat melihat apa yang sedang terjadi. Karena mereka di kunci di dalam penjara bawah tanah dan hanya mendapat satu-satunya penerangan melalui jendela kecil, ia hanya bisa melihat kaki-kaki para tentara yang berlari untuk menyelamatkan diri dari sesuatu.
"KELUARKAN KAMI!" beberapa dari orang yang tersisa berteriak meminta bantuan.
Chanyeol berjalan menuju teralis besi agar dapat berbicara kepada salah satu dari mereka. "Hei! Apa yang terjadi?" Sehun berusaha untuk bangkit menggunakan sisa-sisa tenaganya.
Beberapa tentara berlari masuk ke penjara bawah tanah sambil membawa katana dalam genggamannya. "KELUARLAH!" ia berteriak menggunakan bahasa Jepang. Di bantu dengan ke lima temannya, mereka membelah rantai yang di lilitkan pada teralis besi pada setiap sel agar mereka dapat menyelamatkan diri.
Tapi karena terlalu banyak penjara yang harus mereka buka, dan dengan waktu yang tidak mencukupi, mereka akhirnya melakukan seppuku untuk mengakhiri hidup mereka.
"Tunggu! Keluarkan kami!" teriak Chanyeol dengan sisa-sisa tenaganya.
Salah seorang dari tentara itu menatap Chanyeol dengan tatapan bimbang. Napas lelaki itu tersenggal-senggal karena . "Maaf." setelah mengucapkan itu ia melemparkan katana miliknya ke arah sel Chanyeol.
Selang beberapa waktu kemudian lelaki itu melakukan seppuku seperti teman-temannya yang lain.
Chanyeol mengambil katana itu lalu memotong rantai yang melilit pada teralis besi pada selnya. Setelah ia berhasil keluar, ia memotong rantai pada sel Sehun begitu ia keluar dari sana. "Ayo pergi, Sehun-ah!" ia membopong tubuh Sehun dengan tertatih-tatih melewati kelima prajurit yang telah bunuh diri.
"Kurang sedikit lagi, Sehun-ah!" mereka berdua melihat pintu keluar yang terbuat dari besi terbuka lebar; memperlihatkan asap berwarna hitam yang berbentuk seperti jamur dengan suara gemuruh yang memekikkan telinga.
Melihat sudah tidak ada harapan lagi, Sehun menghentikan langkahnya, "Hyung ada satu hal yang ingin kukatakan padamu."
"INI BUKAN WAKTUNYA BERBICARA!" teriak Chanyeol, mempercepat gerakan kakinya menaiki tangga agar dapat keluar dari tempat itu.
Dan ketika mereka telah berhasil keluar, Sehun melanjutkan perkataannya, "Selama ini aku tahu orangtuaku di bunuh oleh mereka." Mendengar itu tentu saja membuat Chanyeol terkejut. Dia mengira jika Sehun tidak mengingat kejadian mengerikan itu karena usianya masih terlalu kecil.
Melihat sebongkah batu yang mengarah tepat kearah Sehun karena , Chanyeol lantas mendorong tubuh Sehun kembali masuk ke dalam penjara bawah tanah itu.
"AWAS!"
Lalu semuanya berubah menjadi gelap.
Sehun terbangun beberapa hari kemudian dengan rasa sakit yang luar biasa pada sekujur tubuhnya. "Oh astaga…" dia menyingkirkan beberapa potongan-potongan kayu dan tanah yang telah menimbun tubuhnya yang telanjang karena baju dan celananya telah terbakar dalam ledakan itu.
Dia memberanikan diri untuk menaiki tangga untuk mencari sepupunya; tapi dia begitu terkejut ketika melihat seluruh hutan itu telah rata dengan tanah.
Napasnya tercekat. Dia tidak bisa berkata apa-apa.
Bagaimana mungkin dia masih hidup setelah ledakan yang maha dahsyat itu terjadi?
"Uhuk uhuk," tiba-tiba lelaki itu mendengar suara seseorang yang dia yakini sebagai suara sepupunya. Sehun berlari menghampiri sumber suara, dan mendapati Chanyeol terlempar sangat jauh dari pintu penjara bawah tanah. "Hyung!" sama seperti dirinya, Chanyeol juga berada dalam keadaan telanjang.
Lelaki jangkung itu meringkuk sebentar, dia meringis kesakitan karena kakinya tertimpa oleh batang pohon. "Aahhhhh!"
Dalam sekali usaha, Sehun dapat menyingkirkan batang pohon yang sangat berat itu hanya dengan menggunakan kedua tangannya. "Hyung! Aku senang melihatmu baik-baik saja!" tanpa mau menunggu lagi, Sehun segera memeluk sepupunya dengan erat.
"Uuhhh…" Chanyeol mengerang rendah.
"Semuanya baik-baik saja hyung. Kau sudah aman…" Sehun menepuk punggung Chanyeol dengan lembut. Dia tidak mengira jika mereka berdua dapat selamat dari ledakan itu.
Chanyeol mendorong tubuh Sehun menjauh darinya, "Siapa…?"
Hening.
Mungkinkah kepala Chanyeol terbentur hingga membuatnya tidak mengingat apapun?
"Aku sepupumu, hyung. Oh Sehun. Tidakkah kau mengingatku?" Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Tidak." Jawabnya singkat.
Dengan berat hati, akhirnya Sehun menarik napas panjang. "Aku akan menjelaskan padamu, tapi untuk sekarang mari kita mencari orang yang selamat lainnya." Chanyeol mengangguk menyetujui.
Ini tahap pertama cerita di balik kebenaran Chanyeol dan Sehun; jadi maaf kalau kalian menginginkan Chanbaek moment di episode ini harus merasa kecewa T_T
Author sudah bersusah payah membuka Wikip*dia, Blogg*r, dan website yang meyangkut tentang World War II karena author sendiri bukan anak sejarah. Jadi maaf kalau seluruh yang ada di dalamnya tidak-begitu-mirip dengan yang tercatat dalam sejarah *smile*
Maaf buat kalian yang bingung karena membaca chapter 6 kemarin :'D
Author sendiri juga bingung sama yang author tulis :'D
Terima kasih banyak buat yang selalu mendukung author HIKSU
Author terhura membaca review dari kalian; jadi tolong kasih review juseyo…
Review dari kalian sangat berharga buat author :'D
-exonoir
