Oke, setelah selesai UN akhirnya saya bisa update juga. Makasih buat yang sudah baca dan review, serta fave. Saya sangat menghargai semua itu. doakan semoga saya lulus ya. Jangan lupa read dan review!

7. ROXAS DAN NAMINE

Vanitas pulang pada jam sepuluh malam. Dan setelah itu, Xion segera mandi dan mengganti seragamnya dengan piyama. Awalnya Xion ingin langsung tidur, tetapi dua hal yang dia temukan secara tidak sengaja tadi sepertinya akan membuatnya terus kepikiran. Darah... apa benar yang diminum Vanitas dan keluarganya itu darah? Bagaimana mungkin seorang manusia minum darah? Yang meminum darah itu bukannya hanya...

Memikirkan hal itu semalaman sukses membuat waktu tidur Xion berkurang drastis. Biasanya Xion tidur antara jam sembilan sampai jam sebelas, tetapi kemarin dia malah tidur jam... satu pagi! Kalau saja hari ini bukan hari Minggu mungkin dia akan telat bangun. Ketika Xion melihat wajahnya sendiri di cermin, matanya terlihat masih merah. Ekspresi mengantuk juga masih belum hilang dari wajahnya meskipun dia bangun jam sembilan pagi hari ini. Aqua sengaja tidak membangunkannya, karena mumpung hari ini hari libur.

Dengan malas, Xion mengambil sebuah T-shirt abu-abu bertuliskan 'Dream' dan Hot Pant berwarna hitam untuk baju gantinya setelah mandi. Hari ini begitu cerah, terlihat dari cahaya matahari yang menembus kaca jendela dan menyinari meja belajar serta laptop milik Xion. Hal itu wajar karena Land of Departure masih memasuki musim panas. Dua minggu kemudian, barulah musim ini digantikan dengan musim gugur. Yang artinya, semua orang harus siap-siap membeli pakaian dingin untuk antisipasi nantinya.

Setelah mandi, Xion segera turun ke bawah dan melihat kakaknya sedang menonton acara berita di televisi. Baru saja Xion mau bergabung, tiba-tiba saja handphone miliknya bergetar dan melantunkan lagu Simple and Clean, yang juga adalah dering SMS masuk. SMS itu berasal dari nomor yang tak dia kenal.

Hei Xion, ini Riku. Aku dapat nomormu dari Aqua waktu aku berkunjung ke rumahmu. Kau mau jalan-jalan denganku jam satu nanti?

Xion tersenyum, dan setelah itu dia membalasnya, Em, boleh saja. Kau mau mengajakku kemana?

Sambil menunggu SMS balasan dari Riku, Xion berjalan ke sofa dan duduk di sebelah kakaknya. Aqua hanya tersenyum dan kemudian menyodorkan semangkuk sereal yang tidak dicampur dengan susu. Baru saja Xion mau melahap sebuah, SMS balasan dari Riku sudah datang.

Aku mau mengajakmu ke Traverse Town, dekat dari sini. Kau mau kan?

Ngapain kita di sana?

Kan sudah kubilang, kita jalan-jalan. Kebetulan di sana sedang diadakan festival.

Festival jam segini? Setahuku yang namanya festival itu selalu diadakan saat malam.

Tenang, festival itu diadakan mulai jam dua belas siang sampai jam dua belas malam kok. Kurasa bakal seru.

Kok, rasanya Riku ngotot sekali ya mengajaknya ke sana?

Baiklah.

Oke, tunggu aku kalau begitu. Sampai nanti, Xhena =)

Xion tersenyum. Kau masih ingat juga julukanku waktu masih kecil.

Jelas dong.

Xion mengantongi kembali handphone , pandangannya kembali ke televisi yang sedang menyiarkan acara kesehatan. Ternyata Aqua menyukai tontonan seperti ini toh. Atau mungkin, dia menyukai acara ini hanya karena topiknya mengenai 'Mengubah Tubuh Menjadi Langsing dalam Dua Bulan'? Padahal tubuh dia sendiri sudah termasuk langsing.

"Siapa yang SMS?"

"Riku, dia mengajakku ke festival di Traverse Town."

"Traverse Town? Oh, aku pernah ke sana untuk mengadakan fashion show. Waktu itu, bajuku masih belum terlalu dikenal."

Xion menganggukkan kepalanya. Sepertinya, baju-baju yang diberikan Aqua padanya itu adalah baju buatannya semua.

"Jadi, kau mau ikut dengannya?" tanya Aqua.

"Yep, sekalian jalan-jalan. Untuk mencari tahu mengenai daerah sekitar sini juga."

Aqua menghela nafas. "Dengan begini, kau sudah dua kali kencan dengan dua laki-laki berbeda. Ternyata kau laku juga ya?"

"Kesannya seperti aku ini barang saja."

"Ha ha ha, aku cuma bercanda," tawa Aqua. "Mau pakai dress yang lain lagi?"

Xion langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak mau, diluar panas. Kalau aku pakai dress dan wedges seperti waktu itu bisa-bisa aku pingsan."

Lagi-lagi Aqua tertawa. Sekalinya tomboi memang sulit untuk diubah. Tapi tentu saja Aqua tidak akan menyerah untuk mengubah penampilan Xion seratus delapan puluh derajat.

Aktivitas terus berjalan hingga tanpa mereka sadari, jarum pendek hampir menunjuk tepat ke angka satu. Sambil berlari, Xion menuju ke kamarnya untuk ganti baju. Berhubung nanti hanya akan ke festival, lebih baik dia memakai baju yang santai saja. T-shirt warna hitam bukanlah pilihan yang bagus, karena menyerap panas lebih banyak. Jadi, dia mengambil T-shirt lain berwarna putih, sementara celananya tidak diganti. Untuk bawaan, Xion hanya membawa handphone dan dompet saja.

Selesai ganti baju, terdengar suara klakson motor yang dibunyikan dua kali dari luar. Ketika Xion mengintip dari jendela kamarnya, ternyata Riku. Dia mengenakan kaos berwarna hitam tak berlengan yang dipadu dengan rompi abu-abu tak berlengan juga. Untuk celananya, dia mengenakan celana panjang berwarna biru yang ditambah dengan sneaker. Penampilan kasual yang sungguh pas dengannya. Apalagi dengan motor harley yang memang selalu 'menempel' dengannya itu.

Xion membuka kaca jendelanya. "Aku segera ke bawah!" teriaknya sambil tersenyum. Riku segera menolehkan kepalanya setelah mendengar suara Xion.

"Tak usah dandan!" balas Riku. "Segitu juga cukup!"

"Aku tidak dandan!"

Xion menutup jendelanya kembali dan berjalan menuruni tangga. Sambil mengucapkan selamat tinggal pada kakaknya yang sedang memasak, Xion mengambil alas kaki—sandal jepit bermodel miliknya dan memakainya. Saat Xion berjalan keluar, hawa terasa begitu panas dibandingkan hari-hari sebelumnya.

"Ayo naik," kata Riku. "Sebelum hari semakin panas."

...

Perjalanan ke Traverse Town tidak memakan waktu lama, mungkin hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit, apalagi Riku kan ngebut. Traverse Town adalah kota kecil yang begitu damai dan indah. Festival yang mereka adakan juga bisa dibilang meriah. Banyak sekali para penjual dan pedagang kios di sekeliling mereka, sehingga baik Xion maupun Riku tidak merasa bosan. Meskipun mereka dikelilingi oleh segerombolan orang dan anak-anak yang tengah memegang balon yang bentuknya lucu-lucu.

"Kau mau?" tanya Riku sambil menunjuk ke kios yang menjual takoyaki. "Kudengar, takoyaki buatan kota ini enak."

"Boleh."

Riku meninggalkan Xion dan berjalan ke kios yang sedang dikerumuni orang-orang itu. Sambil menunggu Riku kembali, Xion membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah kursi yang ada di depan air mancur. Tetapi baru saja berjalan, tiba-tiba Xion menabrak seseorang hingga dia sendiri hampir jatuh. Ketika Xion ingin minta maaf, dia sudah dibuat kaget dengan sosok dua orang yang ada di depannya.

"Roxas? Namine?"

"Xion?" tanya Roxas dan Namine berbarengan. "Kau juga datang ke festival toh," kata Namine.

"Oh, tidak. Riku yang mengajakku sebenarnya."

"Riku? Mana dia?" tanya Roxas. "Kebetulan sekali dia ada di sini, aku bisa berdiskusi mengenai pertandingan renang nanti."

"Riku bisa berenang?" tanya Xion balik.

"Yep, dia kan sekelas denganku. Sewaktu pelajaran renang, dia bisa menyaingi kecepatanku dalam gaya bebas."

"Lalu siapa yang menang?"

"Seri."

Xion mengangkat alisnya. "Seri?"

"Xion, maaf menung—Roxas?"

Xion kembali membalikkan tubuhnya untuk melihat Riku yang sedang membawa dua buah kotak putih bergambarkan gurita merah, yang juga adalah takoyaki miliknya dan milik Riku. Tanpa basa-basi, Riku meletakkan salah satu takoyaki di kedua tangan Xion dan langsung melakukan jabat tangan 'khas'nya dengan Roxas. Mereka sudah jadi sahabat toh? Secepat itukah?

"Oke, oke," sela Namine. "Kalian berdua silahkan ngobrol sepuasnya. Sementara Xion, dia akan jalan-jalan denganku."

"Eh, tapi..."

Dasar, belum sempat Xion ingin mengungkapkan protesnya, Riku dan Roxas malah sudah pergi. Xion menggelembungkan pipinya karena kesal, membuat Namine yang ada di sampingnya tertawa. Suara tawanya sungguh terdengar anggun dan feminin. Sangat cocok dengan paras wajah dan penampilannya. Apalagi di cuaca yang panas dan suasana yang ramai ini, Namine mengenakan dress berlengan pendek berwarna putih polos dengan pita berwarna emas yang mengikat pinggangnya. Stilleto berwarna silvernya juga membuat dia semakin cantik. Xion jadi merasa malu dan mati gaya.

"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Namine. "Penampilanku aneh ya?"

"Eh, tidak kok. Kau cantik sekali malah."

Namine tersenyum manis. "Kita belum sempat mengobrol banyak sebelumnya, dan sebenarnya baik aku, Roxas, dan Sora sangat ingin mengobrol denganmu."

"Oh ya? Kok sepertinya aku begitu spesial di mata kalian semua? Padahal aku kenal kalian juga belum lama."

"Soalnya kau berbeda dengan teman Kairi yang lain. Kairi memang akrab dengan banyak orang, tetapi banyak juga dari mereka yang membicarakan Kairi dari belakang. Ditambah kedekatanmu dengan Vanitas, maka lengkaplah alasan keluargaku menyukaimu."

Xion mengangguk sambil memasang ekspresi tak percaya. Tetapi, faktanya memang seperti itu sih.

"Aku juga merasa begitu ketika pertama kali bertemu denganmu. Kau tipe yang tidak banyak omong dan tidak suka membicarakan orang lain. Hal yang paling disukai kami sekeluarga."

"Kau memujiku terlalu tinggi, Namine. Aku cuma perempuan tomboi biasa."

"Tapi kau cocok juga dengan penampilan itu."

Selama mereka berdua berjalan, Namine tak henti-hentinya memuji Xion. Membuat wajah Xion merah padam karena malu meski ada rasa bangga juga di hatinya. Padahal keluarganya sendiri tidak pernah memujinya sampai seperti itu. Tetapi kok, baik Namine maupun Kairi seperti mampu membaca dirinya lebih dalam? Bahkan lebih dalam daripada dirinya sendiri. Kalau saja Xion secerewet Kairi, mungkin dia juga akan memuji Namine habis-habisan.

"Em, Namine."

"Ya?"

"Kalau boleh tahu, Roxas itu orangnya seperti apa?"

Namine mengerutkan keningnya. "Roxas?"

Xion mengangguk. "Iya. Selama ini aku sudah mengenal Kairi, Tifa, Cloud, kau, bahkan Sora yang juga jarang kutemui. Tetapi aku tidak bisa menebak kepribadian Roxas. Terkadang dia seperti... berbeda dari hari ke hari. Kadang ceria, kadang murung."

Mendengar perkatan Xion, Namine langsung menyunggingkan senyumnya lagi. Dengan tangan kanannya yang begitu halus, dia mengajak Xion duduk di kursi yang berada di sebelah toko bunga yang bernama 'Gainsborough'. Wajahnya sedikit murung ketika dia mulai bercerita, lengkap dengan senyum sedihnya.

"Pertemuan pertamaku dengan Roxas tidak begitu baik," kata Namine. "Roxas... dia memiliki masa lalu yang begitu buruk dan kelam. Entah beberapa tahun yang lalu, dia melihat kedua orangtuanya dibunuh di depan matanya. Dibunuh oleh pasukan suruhan raja."

Xion melebarkan matanya, syok. Sambil bingung ketika mendengar kata 'raja'. Xion baru tahu kalau di dunia ini ada negeri yang dipimpin seorang raja.

"Kami tinggal di daerah lain waktu itu. Dan bisa dibilang, raja kami sangat semena-mena terhadap rakyatnya. Roxas tak pernah tahu sampai sekarang apa sebab orangtuanya dibunuh, dan bahkan dia juga sempat akan dibunuh oleh pengawalnya. Tetapi untunglah, Cloud datang di saat yang tepat. Dia bersama Tifa langsung mengalahkan pengawal itu dan membawa lari Roxas."

"Cloud dan Tifa? Kenapa mereka bisa terpikir untuk menolong Roxas?"

"Cloud dan Tifa adalah beberapa dari segerombolan rakyat yang membenci raja," kata Namine. "Waktu itu, aku, Kairi, Sora, dan Vanitas juga ikut. Kalau kau ingin tahu bagaimana cara kami bisa bergabung dengan Cloud dan Tifa, kisahnya hampir sama dengan Roxas."

"Sepertinya akan panjang sekali ceritanya."

"Lumayan panjang," kata Namine. "Masih mau mendengar kelanjutannya?"

"Iya, tapi yang Roxas saja."

Namine mengangguk, dan kemudian dia membetulkan posisi duduknya. Saat Xion menoleh ke menara jam yang ada di taman di depannya, ternyata jarum pendek sudah menunjuk ke angka tiga. Waktu memang selalu berjalan cepat ketika kita sedang menikmatinya.

"Butuh waktu cukup lama untuk mengubah Roxas sampai seperti sekarang. Dan entah kebetulan atau apa, akulah yang paling sering menghiburnya. Yang lain tidak cukup sabar untuk menghibur Roxas, apalagi Sora dan Kairi. Aku terus berusaha menghibur dan membujuknya, baik ketika dia sedang murung maupun saat kesepian. Dan lama kelamaan..."

Namine menaruh tangannya di dadanya. Senyum sedihnya langsung berubah menjadi senyum tulus. Xion sudah bisa menduga jawabannya apa, tetapi dia membiarkan Namine menjawabnya sendiri.

"Aku mencintainya," kata Namine. "Dan yang lebih membahagiakan lagi, ternyata Roxas juga mencintaiku. Bahkan dia yang menyatakannya duluan. Seluruh keluarga juga sangat senang, dan sejak itulah Roxas mulai berubah menjadi lebih ceria. Dan sejak saat itu juga, kami memutuskan untuk pindah ke kota ini. Meninggalkan tempat tinggal kami yang juga menyimpan begitu banyak kenangan buruk."

Cerita Namine bagaikan dongeng untuk Xion. Tetapi dongeng kali ini berbeda, karena jika diibaratkan dengan pangeran dan putri, sang putrilah yang menyelamatkan pangerannya. Menyelamatkan pangeran dari kutukan masa lalu yang hampir mengikatnya mati, dengan kekuatan cintanya. Klise memang, namun kisah seperti itu hampir selalu indah dan takkan pernah mati. Dengan Roxas dan Namine sebagai bukti nyata.

Xion dan Namine terus mengobrol hingga satu jam ke depan. Seumur-umur, baru kali ini Xion bicara selama ini (non stop pula). Dan selagi mereka masih asyik mengobrol, tiba-tiba saja handphone milik Namine berbunyi. Tanda ada telepon masuk (dan tentu saja) dari Roxas. Katanya, Xion dan Namine disuruh kembali ke tempat mereka bertemu tadi. Berhubung Roxas dan Riku sudah selesai dengan 'urusan' mereka. Ditambah lagi, Roxas menyuruh mereka bertiga untuk tetap berada di festival hingga jam tujuh malam nanti. Karena pada jam itu, akan ada pesta kembang api yang sangat meriah.

"Dia benar-benar jadi ceria kan?" tanya Namine.

"Yup."