Disclaimer © Masashi Kishimoto.
.
.
.
Sasuke dan Sakura duduk saling berhadapan. Sasuke seperti lupa bernafas, posisi ini membuatnya gugup. Sakura mengamati tangan Sasuke dengan teliti. Tingkah gadis itu membuat Sasuke gelisah, bagaimana bisa tenang saat orang yang kau sukai mengamatimu secara intens. Otak Sasuke jadi kelabakan sendiri memikirkan kukunya sudah cukup bersih atau belum. Atau seharusnya dia mengikuti ibunya yang melakukan perawatan di salon. Memikirkan banyak hal dengan posisi yang membuatnya sulit bernafas seperti ini hanya menambah kepanikannya.
"Sakura..." erang Sasuke. Emerald itu mengalihkan perhatiannya dari jemari Sasuke ke wajah tegang Sasuke.
"Hmm?"
"Kau..." Sasuke menelan ludahnya gugup. "Kenapa kau mengamatiku seperti itu?"
"Kenapa? Sasuke-kun juga selalu mengamatiku." Sasuke melengos. Ini dan itu berbeda. Mengamati Sakura membuat umurnya memanjang karna senang. Tapi diamati Sakura membuat umurnya memendek karna gugup dan berpotensi terkena serangan jantung.
Tanpa Sasuke sadari Sakura mengulurkan tangannya menyentuh jemari pria itu. Bersamaan dengan keterkejutan Sasuke yang langsung menatap Sakura, gadis itupun menarik cepat tangannya dengan wajah gugup. Sasuke hanya diam mengamati Sakura yang memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. Setelah beberapa menit gadis itu membuka matanya dan menatap Sasuke. Senyum manis yang perlahan mengembang membuat Sasuke benar-benar lega.
"Apa yang terjadi padamu?" Sasuke sebenarnya tak suka merusak suasana hati gadisnya. Tapi mulutnya sudah terbuka sebelum otaknya bisa memutuskan akan bertanya atau tidak. Sesal memenuhi rongga dada Sasuke melihat wajah Sakura gusar. Gadis itu menutup matanya lagi mangatur irama nafasnya yang tak stabil.
"Dia menyekapku untuk mendapatkan kakakku." Emerald itu meredup dan memburam karna air mata yang mulai menggenang. Perlahan Sakura menatap onix yang bersimpati di depannya. Senyum tipis menenangkan mengembang di bibir gadis itu.
"Ku pikir mengingatnya tak akan menyakitkan lagi setelah empat tahun. Ternyata masih sama saja." Sasuke seolah ikut merasakan luka yang terpancar di emerald Sakura. Gadis itu menghapus air matanya yang meluncur di pipinya dengan cepat. Keingintahuan Sasuke tentang yang terjadi saat Sakuta disekap membengkak. Tapi dia tak bisa meminta Sakura bicara jika menyakiti gadis itu.
"Maaf. Aku tak akan bertanya. Jadi jangan katakan apapun yang menyakitimu." Sakura terkekeh mendengar ucapan Sasuke. Pria itu mengusap ravennya mengalihkan kebingungannya tentang apa yang ditertawakan gadisnya.
"Aku benar-benar ingin memelukmu." Bukan hanya wajah, tapi juga kepala dan seluruh tubuhnya memanas mendengar ucapan Sakura. Otak sialannya terlalu ektrim menafsirkan kata-kata sederhana Sakura hingga bayangan-bayangan aneh yang membuatnya mengutuk Naruto berkeliaran di kepalanya. "Mungkin harus dimulai dengan bergandengan tangan dulu." Sasuke lagi-lagi terkejut saat Sakura menyentuh tangannya. Dia sangat khawatir melihat emerald itu bersembunyi dibalik kelopak matanya dengan nafas memburu. Kurang lebih setengah menit Sakura terdiam sebelum menarik tangannya.
"Sakura, Kau tidak perlu memaksakan diri." Sasuke sungguh khawatir.
"Ada yang bilang jika kita menderita phobia maka sebisa mungkin kita harus sering berhubungan dengan yang menjadi ketakutan kita itu."
"Siapa yang bilang?" ucap Sasuke cepat. Entah mengapa Sasuke tak terima. Siapapun itu yang bilang, dia membuat Sakura memaksakan diri. Bagaimana jika hal buruk terjadi pada Sakura?
"Acara petualangan anak kecil di televisi." ucap Sakura seraya mengangkat bahunya acuh. Sasuke mengerang, apa-apaan itu. Dia tak habis pikir bagaimana Sakura bisa mempercayai acara anak-anak.
"Sakura... Itu acara anak-anak..."
"Tapi yang mengatakannya orang dewasa Sasuke-kun." Rajuk Sakura.
"Tetap saja itu acara anak-anak."
"Apa masalahnya? Seperti kau sudah dewasa saja." Sasuke tertohok mendengar ucapan Sakura. Apapun kata-kata yang akan dikeluarkannya menggumpal ditenggorokkannya. Seolah menyumbat dan membuatnya kesulitan bernafas. Sejak kapan Sakura jadi suka menjatuhkannya. Sasuke berdehem menetralkan suaranya.
"Lupakan itu. Bel pelajaran berbunyi, ayo kembali ke kelas." Sasuke beranjak di ikuti Sakura.
Sasuke dan Sakura berjalan beriringan sepulang sekolah. Ada yang mengganjal di pikiran Sasuke. Kenapa akhir-akhir ini mereka hanya berdua? Sejujurnya Sasuke senang. Tapi kemana Temari? saat ini dia sedang ada perlu dengan gadis berkucir empat itu. Sasuke melirik Sakura yang berkutat melihat arah bawah. Senyum Sasuke mengembang saat mengikuti arah pandang Sakura. Sepertinya gadis itu masih penasaran dengan masalah gandengan.
Sasuke membiarkan Sakura yang menarik ulur tangannya berkali-kali sebelum akhirnya menyentuh tangan Sasuke. Sesaat Sakura tampak tak nyaman. Tapi akhirnya gadis itu tersenyum saat perlahan mampu menggenggam pelan tangan Sasuke. Jangan tanya apa yang dirasakan Sasuke sekarang. Pria itu mati-matian bertahan agar tidak balik menggenggam tangan mungil gadisnya. Dia takut gadisnya akan terkejut dan melepaskan tangannya. Sasuke menggigit bibirnya menahan debaran jantungnya yang di luar kendali. Sensasi sentuhan Sakura merambat keseluruh tubuhnya. Pori-pori tubuhnya meremang memacu detak jantungnya hingga bekerja semakin keras. Darahnya terasa mendidih. Mungkin saat ini wajahnya memerah karna terasa sangat panas.
Tapi Sakura melepaskan tautan tangan mereka membuat Sasuke mendesah kecewa tanpa sadar. Dia mengerti saat onixnya menatap Temari berdiri di depan pagar rumahnya. Dengan wajah tanpa dosa Sasuke menyunggingkan senyumnya pada Temari.
"Gaara sudah memasakkan makanan kesukaanmu, masuklah." Sakura mengangguk lalu tersenyum singkat pada Sasuke sebelum akhirnya masuk meninggalkan Sasuke dan Temari. Sasuke sedikit cemberut mendengar ucapan Temari. Ada pria lain di dalam sana yang memasakkan makanan kesukaan Sakura sedangkan dia sama sekali tak tahu apa makanan favorit gadisnya. Sialan.
"Jadi kenapa masih di sini?" Tidak bisakah gadis ini bersikap baik padanya? Gerutu Sasuke dalam hati.
"Kita perlu bicara."
"Aku bukan ibu tiri Sakura kalau kau ingin membahas tentang pesta Karin." Sasuke lagi-lagi cemberut mendengar kesimpulan menjengkelkan Temari. "Dia punya pilihan sendiri. Dan aku menghargainya. Aku tak akan melangnya pergi ke pesta itu seperti aku membiarkannya pulang dan pergi sekolah denganmu." Sasuke terdiam sebentar mencerna ucapan Temari.
"Dia mengatakan ingin pergi dan pulang denganku?"
"Kau pikir aku akan membiarkanmu mendekatinya jika dia tak menginginkannya?" Senyum Sasuke mengembang. Dia baru tahu jika Temari sangat baik. Biasanya orang yang memiliki sepupu seperti Sakura pasti akan over protektif karna khawatir. Dia akan mengubah kata sebal di otaknya menjadi suka. "Kau mengerikan jika tersenyum terlalu lebar."
"Terima kasih." Kata-kata pedas Temari tak akan bisa mengganggu rasa sukanya pada gadis macho itu. "Ah tunggu." Sasuke segera berlari ke arah mobilnya. Dia kembali mendekati Temari membawa dua kotak berukuran sedang. "Nih, buatmu dan Sakura." Sasuke menyodorkan kotak itu pada Temari.
"Kenapa ada yang untukku juga?" ucap Temari sedikit ketus.
"Shikamaru mengajakmu pergi dengannya."
"Kenapa kau yang mengatakannya?"
"Kau ingin Shikamaru sendiri yang mengatakan?"
"Kapan aku mengatakannya? Dan jangan harap aku akan pergi."
"Kau tidak khawatir pada Sakura?" Sasuke memasang wajah angkuhnya. Cara biasa tak akan mempan.
"Kau mengancamku?!" Sasuke meringis melihat mata Temari yang memicing berbahaya.
"Ku pikir jiwa lelakiku mungkin akan sedikit sulit dikontrol jika hanya berdua bersama Sakura."
"Aku akan memotong burung mungilmu jika kau melakukan hal brengsek." Temari membanting pintu pagar dan disusul bantingan pintu rumah meninggalkan Sasuke dengan senyuman jengkelnya. Memangnya dia pernah melihat milik Sasuke sampai menjulukinya burung kecil?
"Ku anggap itu kata iya" Meski begitu, Sasuke masih bisa tersenyum riang lalu masuk ke mobilnya. Banyak yang dipersiapkannya untuk ke pesta nanti malam. Bukan karna pestanya. Tapi karna dia pergi bersama Sakura. Gadisnya.
Waktu berjalan cepat saat kita tak tahu harus berpenampilan bagaimana. Hampir semua pakaian Sasuke coba dan membuatnya mendesah frustasi. Saat tediam cukup lama dan memperhatikan kamarnya yang berubah menjadi layaknya tempat pembuangan baju bekas, Sasuke terkekeh. Dia tak menyangka bisa bertingkah seabsurd ini karna seorang Sakura.
Akhirnya Sasuke memakai setelan semi formal. Bukankah seharusnya dia tidak telalu memusingkan ini. Toh ketampanannya tetap ada. Sasuke terkekeh lagi mengingat Sakura pernah mengatakan dia tampan. Segala sesuatu yang keluar dari mulut gadis itu menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh baginya.
Pukul enam sore dia dan Shikamaru menjemput dua wanita itu. Dua pria itu memutuskan memakai satu mobil saja. Mereka sepakat hanya berduaan dengan seorang gadis membuat sesuatu dalam diri mereka tersiksa.
Dan mereka ternganga melihat pemandangan di depannya. Indah tapi salah. Temari mengenakan gaun pink sederhana yang di beli Sasuke dan Sakura memakai gaun hijau sederhana di bawah lutut. Dua pria itu kecewa dalam diam.
"Maaf Sasuke-kun gaun dari mu terlalu terbuka. Aku tak sanggup memakainya." lirih Sakura. Sasuke melirik sadis Shikamaru. Gadisnya pasti berpikir bahwa dirinya seorang mesum bajingan.
"Kau bisa bertukar dengan Temari." sahut Sasuke kalem dengan senyum terpaksa.
"Jangan gila. lebih baik aku ke pesta pakai sarung." ucap Temari jengkel. Sasuke semakin jengkel. Seharusnya yang tampak manis mengenakan gaun itu Sakura, bukan Temari.
"Kalian mau pergi atau mempermasalahkan gaun." Kejengkelan Temari makin bertambah.
Saat Sasuke membukakan pintu depan bagian penumpang untuk Sakura, Temari langsung menarik gadisnya itu masuk ke kursi belakang bersamanya. Dengan senyum bak orang sembelit Shikamaru masuk ke tempat yang seharusnya untuk Sakura.
"Maaf. Tentang pintu ini dan... Apa kau tak bilang gaun yang mana yang untuk Temari dan yang mana yang untuk Sakura?"
"Masuklah nanas sialan." Sasuke membanting pintu dengan cukup kuat setelah Shikamaru duduk manis lalu memutari mobil dan duduk di belakang kemudi. Dia tak pernah bermimpi mendapatkan kesialan seperti ini.
Pesta yang diadakan cukup meriah. Sebagian besar siswa satu sekolah Sasuke ada di sini. Bukan hal aneh mengingat Karin tipe orang yang mudah bergaul. Sasuke khawatir melihat Sakura yang terlihat gelisah. Dia sedikit lega karna ada Temari yang bertindak bak anjing galak di samping Sakura.
Sasuke bukan tipe yang membenci pesta, tapi dia juga tidak terlalu menyukai pesta ini. Pikirannya selalu tak tenang mengkhawatirkan gadisnya. Terlalu banyak hal yang memicu hal buruk terjadi pada Sakura. Meski mereka sekarang berada di tempat yang cukup sepi -temanya garden party- kekahawatiran tetap ada.
"Hai Sakura-chan, ku pikir kau tak akan mau datang." Sapa Naruto yang menghampiri mereka bersama pasukan perusak mood Sakura. Sekarang Sasuke menyebutnya begitu.
"Siapa yang mengijinkanmu memanggilnya begitu." Sasuke menjitak kepala pirang sahabatnya. Dia saja tidak pernah memanggil Sakura seakrab itu.
"Teme! tak bisakah kau bersikap sedikit lembut? Aku harap Sakura-chan membencimu."
"Kau pikir harapanmu akan terkabul?" Sasuke lagi-lagi menjitak kepala Naruto membuat pria itu merengek manja pada Hinata. Sasuke mencibir kelakuan Naruto.
"Sasuke-kun. Terima kasih sudah datang." ucap Karin sembari tersenyum manis pada pria raven itu.
"Hn." Sasuke melirik Sakura yang diam. Sasuke harap gadis itu tak akan berpikir terlalu banyak tentang ini.
"Ah waktunya potong kue. Ayo ke tengah." Karin menggandeng tangan Sasuke namun segera ditepis pria itu. Tidak kuat, tapi cukup untuk membuat Karin menatapnya kecewa.
Hal itu tak berlangsung lama karna panggilan MC di depan sana untuk memulai acara tiup lilinnya. Lagu selamat ulang tahun dinyanyikan bersama-sama dengan nada ceria. Naruto, Hinata, Sai dan Ino sudah maju ke depan sana menyisakan dirinya, Sakura, Temari dan Shikamaru yang masih berdiri di tempatnya.
"Aku tak akan merasa bersalah, Sasuke-kun." Sasuke menoleh mendengar ucapan Sakura yang menyerupai bisikan. "Aku tak akan merasa bersalah karna kau tak bisa maju ke depan sana." Ulang Sakura tanpa menoleh pada Sasuke. Pria itu terkekeh pelan.
"Itu pilihanku. Tidak ada hubungannya dengan rasa bersalahmu. Aku lebih suka di sini." Sasuke mengalihkan perhatiannya ke depan. Ke arah Karin yang sedang meniup lilinnya.
"Bukan karna sedang membuktikan kau tak akan meninggalkanku?" Perlahan Sasuke merasakan jemari Sakura menyusup ke tangannya.
"Itu salah satu alasannya." Sasuke menggenggam lembut tangan gadisnya. Senyum manis terukir dibibir mereka meski tatapan mata mereka ke arah Karin yang sedang memotong kue.
MC mempersilahkan Karin memberikan potongan pertama pada orang spesial. Firasat buruk Sasuke muncul saat melihat Karin membelah kerumunan dan membawa potongan kue itu ke arahnya. Tanpa sadar genggamannya pada tangan Sakura mengerat. Dia merasa hubungannya dengan Sakura yang masih rapuh justru memiliki banyak gangguan.
"Ini untukmu Sasuke-kun." Sasuke mendesah frustasi melihat Karin menyodorkan kue itu padanya.
"Karin... ini terlalu.."
"Kau akan mempermalukannya jika tak menerimanya bung." seorang pria berambut merah memotong ucapan Sasuke. "Lagi pula ini hanya kue. Pacarmu tak akan marah, iyakan pinky?" Pria itu dengan santai melingkarkan lengannya dibahu Sakura dan mengedipkan sebelah matanya menggoda.
Sasuke merasakan tubuh Sakura membeku. Dengan cepat Sasuke menoleh ke arah gadisnya. Wajahnya mengeras melihat tubuh Sakura gemetar. Mata gadis itu membeliak seolah melihat suatu hal yang mengerikan sebelum akhirnya berteriak ketakutan. Menepis secara brutal apapun yang menyentuhnya.
"Sakura!" Panggil Temari dan Sasuke bersamaan saat melihat Sakura berteriak histeris. Dengan panik gadis itu mundur dan terduduk.
"Sakura..." Temari langsung mendekap tubuh gemetar Sakura dan berusaha menenangkan gadis itu. Perhatian Sasuke beralih pada pria berambut merah yang masih terpaku di tempatnya. Tanpa menunggu lama Sasuke langsung melayangkan tinjunya ke wajah pria itu.
"BRENGSEK! SIAPA KAU BERANI MEMBUATNYA SEPERTI ITU?!" Teriak Sasuke di sela-sela pukulannya yang membabi buta.
"Sasori! Sasuke! sudah! lepaskan Sasori!" Karin berusaha memegang tangan Sasuke agar berhenti memukul pria berambut merah itu.
"MINGGIR! AKU AKAN MEMBUNUH BAJINGAN INI!" Dengan sekali sentakan Karin terjungkal ke belakang dan langsung dibantu berdiri oleh Ino dan Sai.
"Tolong Hinata, hentikan Sasuke." Mohon Karin pada kekasih Naruto. Dia sangat ketakutan melihat Sasori bahkan tak sempat membalas pukulan Sasuke yang membabi buta. Pria merah itu hanya bisa melindungi diri menggunakan lengannya. Hinata menatap Naruto dan hanya mendapatkan kedikan bahu dari pria kuning itu.
"Ino... tolong Sasori..." Ucap Karin ditengah tangis pilunya. Sedangkan yang dimintai tolong hanya bisa mendesah. Tak ada yang bisa dilakukannya karna Sai dan Shikamaru mengancam siapapun yang ingin menolong Sasori.
"SASUKE HENTIKAN! Kita harus membawa Sakura pergi dari sini!" Temari membopong tubuh mungil Sakura yang sudah pingsan membawanya, keluar dari tempat itu.
Sasuke segera mengikuti Temari tanpa memperdulikan Sasori yang terkulai penuh luka. Karin dengan cepat mendekap Sasori seraya menjeritkan agar seseorang memanggil ambulans. Naruto mengeluarkan ponselnya dan menghubungi rumah sakit. Setelah itu dia menggeret Hinata menyusul shikamaru yang lebih dulu mengikuti Sasuke.
"Ayo Ino."
"Tidak Sai, Karin butuh seseorang di sampingnya." Sai tersenyum tipis dan mengikuti teman-temannya meninggalkan tempat itu.
Sasuke duduk di samping tempat tidur Sakura. Dia belum beranjak kemanapun sedari tadi. Dia sungguh menyesali kejadian ini. Sangat menyakitkan melihat Sakura histeris karna disentuh pria lain. Keinginannya membunuh pria itu belum hilang.
Sasuke dengar dari percakapan teman-temannya jika pria itu adalah kembaran Karin yang satu sekolah dengan Gaara dan Kankuro. Dan sekarang pria bernama Sasori itu sedang di rawat di rumah sakit. Sasuke berharap pria itu mati saja. Ini pertama kalinya Sasuke merasakan dendam yang terasa mencengkram kuat hatinya pada orang yang baru pertama ditemuinya.
"Pulanglah Uchiha. Ini sudah tengah malam. Di rumah ini ada tiga orang yang menjaganya. Dia akan baik-baik saja." Sasuke menoleh pada Temari dan mendesah lagi melihat tatapan tak mau dibantah gadis itu. Mau tak mau dia beranjak meninggalkan kamar Sakura.
"Jangan jadikan Sakura alasanmu membunuh. Dia akan menderita karna menyalahkan dirinya sendiri." Gaara menepuk ringan bahunya. Sasuke sangat tak suka pada pria yang tahu makanan favorit Sakura ini, tapi dia tak punya cukup tenaga untuk memukuli orang lagi.
Perjalanan pulang mereka sangat hening. Tiga pria itu masih berkutat pada pemikirannya masing-masing. Sedangkan Naruto mengantar Hinata pulang. Malam ini tanpa bicara mereka sepakat menginap di rumah Shikamaru. Naruto akan menyusul.
"Issshhh..." Sasuke mendesis saat Shikamaru membersihkan tangannya dan mengobatin lukanya.
"Kau terlalu bekerja keras." Kekeh Shikamaru ditengah pekerjaannya.
"Kau bercanda? Wajahnya saja mengatakan jika dia belum puas." Sahut Sai yang duduk di depan TV sembari memakan cemilan.
"Jika Temari tak membawa Sakura pergi... ngomong-ngomong Temari kuat ya mengangkat bobot Sakura." Gumam Shikamaru.
"Kau akan kalah perkasa dengannya." Sai berucap dengan mulut penuh.
"Justru itu aku kan bisa tinggal terima bersih di bawah saat di ranjang." Sai menyemburkan makanan keluar dari mulutnya saat mendengar ucapan santai Shikamaru.
"Pemalas gila!" Sai melemparkan bungkus camilan pada Shikamaru hingga isinya berceceran.
"Jangan kotori kamarku!" Sungut Shikamaru tak suka.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Naruto datang dan meletakkan beberapa kaleng minuman beralkohol. Sasuke menyahut satu dan langsung menghabiskan isinya membuat tiga temannya ternganga. Biasanya Sasuke menghindari minuman beralkohol yang kadang Naruto bawa. Trak. Sasuke meletakkan kaleng kosong dengan kuat. Setelah itu dia membanting dirinya di ranjang Shikamaru.
"Dia mulai terlihat aneh." Desis Naruto yang diamini dua temannya.
"Aku dengar itu dobe... Aku..." sekilas onix Sasuke tampak kosong. "...Hanya ingin tidur." Bersamaan dengan selesainya ucapan itu Sasuke memejamkan matanya.
"Apa aku harus menyelimutinya?" Gumam Naruto.
"Dengan tubuhmu?" Naruto melotot mendengar ucapan Sai.
"Aku masih pecinta himeku asal kau tau!" Dengus Naruto jengkel.
"Berisik! Tidurlah. Besok kita masih butuh sekolah." Sasuke melemparkan bantal ke kepala Naruto.
"Teme!" Naruto langsung menerjang Sasuke karna tak terima. Sai ikut membantu Naruto menjatuhkan Sasuke. Shikamaru hanya bisa mendesah melihat pergulatan terjadi di ranjangnya. Mereka membuat keributan di jam dua pagi.
"Sudahlah, untuk kali ini kita jadi bayi." ucap Shikamaru sembari merentangkan selimut menutupi tubuh mereka berempat. Entah karna kelelahan, mengantuk atau mabuk akhirnya mereka pasrah tidur berempat dalam satu selimut.
.
.
tbc~~
.
.
Thanks banget ya buat semua yang mau nunggu dan sabaaaaaar banget. Sampe nanti malam, aku bakalan komplitin revisi BM 1 versi RavencherrY \(^_^)/...
.
.
Keyikarus
25 November 2017
