Hay Guys! I'm back!

Maaf ya kalo super duper telat updatenya. Kantor lagi mau pindah, jadi sibuk ngurusin acara pembukaan dan bantu-bantu angkatin komputer. Di tambah aku lagi bikin Makalah buat dapet beasiswa dari kantor. Jadi makin tipis deh waktu buat nulisnya. Sekalinya cerita udah kelar, paket internet aku malah abis. Hehe.

Siapa yang udah nonton Fantastic Beast? Sumpah. Film nya oke banget! Aku suka aku suka.

Bales Review dulu kali yaaa.

Almira30 : Haaa gimana yaa. Ini kan ceritanya Athena. bukan ceritanya Draco sama Hermione :p Mungkin nanti di chapter yang akan datang ya? Gapapa kan?

Staecia : Haha iya. Aku sendiri lagi seneng banget nulis. Jadi nya aku usahakan supaya cerita ini cepet abis. Soalnya nanti pengen bikin cerita baru lagi. Hehe.

Dramione Lovers : Update di Wattpadd harus lewat laptop juga gak sih? Aku kemarin sempet coba update lewat Hape, tapi gak ada viewersnya. Maaf kudet :P aku dari dulu makenya Cuma FF doang.

RibkaAprilliaTM : Kayaknya itu kelewat deh T.T maafin akuuuuuuuu.

Anggraini M : Nanti yaa. Aku mau fokusin ke Athena dulu. Asap apa yah? :p maaf nih aku kudet.

AndienMay : Sebenernya sih aku udah berusaha buat ini jadi cerita Athena. aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk ini cerita tuh dari sudut pandangnya Athena (Meskipun di chapter sebelumnya ada part Dramione-nya). Makasih atas sarannya Andien :* POV nya Athena mungkin bisa aku masukin di Chapter selanjutnya. Okeey

Rikun18 : Hahaha tapi maaf jika scene fight-nya tidak terlalu memuaskan yaah. Hehe.

Shieru Aozora : Login dulu ke Pottermore nya. Nanti konfirmasi email, baru deh bisa ikut di sorting. Sorting Asrama Hogwarts, Model tongkat, Patronus, sama Asrama di Ilvermorny.

Liuruna : Hahaha maaf yaa. Masih amatir nihn nulisnya. Wkwkwk. Ada versi PDF nya? Mauuuuuuuu. Email kamu gak kebaca masa. Coba email ke aku dulu deh. Aprilliapadilla22 at gmail dot com.

Selamat membaca. RnR please.

DISCLAIMER : ALL HARRY POTTER WORLD AND CHARACTERS ARE BELONG TO MRS J.K ROWLING. I JUST OWN ATHENA MALFRIDGE.

CHAPTER 7

Wuuzzzz...

Mereka sudah mulai terbang satu persatu. Athena berpegangan erat pada Sirius. Bukan karena Athena takut terbang. Hanya saja, ini seperti kau berada di sebuah medan perang. Kau harus tetap waspada. Musuh bisa saja tiba-tiba muncul dan langsung membunuhmu.

"Kau baik-baik saja, Athena?" Kata Sirius setengah teriak. Mengingat mereka sekarang sedang berada di ketinggian yang cukup tinggi, suara angin sangat terdengar jelas.

Athena terdiam. Dia rasa Sirius sudah tau jawabannya apa. Langit nampak baik-baik saja. Meski tidak terlihat bintang sedikit pun.

Baru saja mereka melewati awan tebal, sebuah kutukan melesat tepat di depan wajah Sirius. Beruntung Sirius dapat menyeimbangi sapunya itu. Athena dengan sigap mengarakhan tongkatnya keudara. Mencari asal kutukan itu. Dan benar saja. Disebelahnya terbang dengan cepat, Rabastan Lestrange. Rabastan sudah mengacungkan tongkatnya.

"Avada Kedavra!"

"Reducto!"

Ledakan keras terdengar saat mantra Rabastan bertabrakan dengan mantra Athena. Rabastan terus mengarahkan mantra ke arah Sirius dan Athena. Kilatan hijau yang keluar dari tongkat Rabastan terus keluar dan dihalau dengan kilatan biru dari tongkat Athena.

"PETRIFICUS TOTALUS!" Kutukan Athena tepat mengenai wajah Rabastan yang seketika itu langsung memucat dan terjun bebas dari atas sapunya.

"Nice job, Thena!" Teriak Sirius dan menambahkan kecepatan sapunya. Didepannya terlihat kilatan kilatan mantra yang berterbangan kesana kemari. Beberapa darinya ada yang meledak di udara.

Athena masih mengacungkan tongkatnya ke berbagai arah untuk jaga jaga. Di samping kanan kirinya kini sudah ada dua pelahap maut. Rookwood dan Mulciber. Mereka berdua mencoba menyamai kecepatan sapu Sirius.

"PEGANGAN ATHENA!" Perintah Sirius. Dia langsung menukikan sapunya kebawah. Mulciber berhasil dihindari namun Rookwood masih tetap membuntuti mereka. Rookwood mengacungkan tongkatnya. Namun Sirius berhasil menukikan sapunya ke arah samping. Mengecoh Rookwood.

"BERHENTILAH MAIN MAIN, BLACK! LAWAN AKU PENGECUT!" Teriak Rookwood dan memandangi Sirius dengan marah. Sirius menoleh dan tersenyum khas. Rookwood mengacungkan tongkatnya lagi dan tiba tiba Sirius menaikan sapunya ke atas. Belum sempat Rookwood bergerak, didepannya ada sapu Mad Eye yang mengarah padanya. Dengan gerakan reflek, Rookwood menukikan sapunya ke bawah dan bertabrakan dengan salah satu Pelahap Maut.

Athena melemparkan mantra peledak, penghancur ataupun pelucut ke para Pelahap Maut yang ia lihat. Tak peduli siapa Pelahap Maut itu.

Kini Athena dan Sirius terbang tepat disamping Kingsley dan Hermione. Sirius dan Kingsley sempat menoleh satu sama lain, namun mereka tetap fokus ke arah depan.

Tiba tiba salah satu Pelahap Maut muncul di hadapannya dan mengeluarkan kilatan hijau dari tongkatnya. Untung Hermione sangat sigap dan langsung menghalau kutukan Pelahap Maut. Hermione tertawa, Sirius pun juga terdengar tertawa. Namun tiba tiba ada kutukan dari belakang Hermione yang mengenai tubuhnya. Hermione pun tidak sadarkan diri. Sapu Kingsley pun oleng.

"NO! STUPEFY!" Kutukan Athena tepat menghantam Pelahap Maut yang ada di belakang Hermione. Ia pun mental dari sapunya.

"KITA HARUS TOLONG HERMIONE" Teriak Athena.

"TIDAK ADA WAKTU THENA! RENCANA INI GAGAL TOTAL." Kata Sirius.

Tiba-tiba Remus dan George muncul disamping mereka. George terlihat sangat tenang, begitu juga Remus.

Ada satu Pelahap Maut yang kini ada disamping sapu Remus. Dia mendaraskan mantra ke arah George namun berhasil di tangkisnya. Disebelah sapu Sirius, terlihat juga satu Pelahap Maut tanpa Topeng. Snape! Ia mengacungkan tongkatnya. Bukan ke arah Athena dan Sirius. Namun ke arah Remus dan George. Mata Athena melotot.

"SECTUSEMPRA!" Snape melemparkan kutukan ke arah George.

"PROTEGO HORRIBILIS!" Mantra Athena berhasil menghalau kutukan Snape. Snape memandangi Athena dengan tatapan yang tak dapat dijelaskan. Kini ia mengurangi kecepatannya hingga ia berada tepat di belakang sapu George yang sedang sibuk melempar mantra kesalah satu Pelahap Maut.

"SECTUSEMPRA!" Kini Athena tidak dapat menghalau kutukan Snape.

Bukan George yang roboh, namun Pelahap Maut yang berhadapan dengan George justru terjun bebas dari sapunya. Remus dan Sirius terkesiap saat melihat Snape melemparkan kutukannya pada Pelahap Maut.

Snape kini sudah terbang menjauh dari Remus dan Sirius. Sirius bingung namun mencoba berkonsentrasi pada sapunya.

Tiba-tiba sapunya berhenti mendadak, dan membuat Sirius dan Athena terlempar bebas ke udara. Mereka jatuh dengan kecepatan tinggi. Athena sudah bisa melihat daratan. Matanya melotot. Dia pun mengarahkan tongkatnya dengan gemetar.

"ARESTO MOMENTUM!"

Sirius dan Athena berhenti di ketinggian satu meter. Lalu tiba-tiba terjatuh lagi. Sirius mengerang kesakitan. Athena meringis. Sirius berdiri dan mencoba membantu Athena berdiri.

"Kau baik-baik saja Athena?" Kata Sirius khawatir. Athena hanya memegani dadanya sebentar dan mengangguk pelan. Sirius mengedarkan pandangannya. "Dimana kita..."

Athena pun turut mengedarkan pandangannya. Tempat itu terlihat asing. Terlihat mereka seperti sedang berada di sebuah bukit. Dibawahnya terlihat perumahan-perumahan Muggle.

"Aku rasa kita masih jauh dari The Burrows." Kata Sirius.

"Kenapa kita bisa jatuh?" Tanya Athena.

Jatuh dari sapu memang bukan hal yang baru bagi Athena. Jatuh dari ketinggian hampir lima ribu kaki? Benar-benar hal yang sangat tidak menyenangkan.

"Ada yang memantrai sapunya." Ujar Sirius sambil memandangi langit hitam beserta petir (Walaupun sebenarnya itu adalah ledakan antar mantra). Sirius pun mengeluarkan tongkatnya.

"Accio Firebolt."

Tak lama, sapu terbang Firebolt milik Ginny melesat dan berhenti tepat di hadapan Sirius. Kini ia menaikinya.

"Ayo Thena. Perjalanan kita masih panjang."

Athena langsung menuruti kata Sirius dan langsung terbang dari tempat itu. Kali ini mereka memilih terbang dengan ketinggian yang tidak terlalu tinggi. Mungkin Sirius masih trauma dengan kejadian tadi.

Athena dan Sirius kini sudah dapat melihat The Burrows dari kejauhan. Mereka sudah bisa liat Ginny, Molly, Hagrid, dan Remus yang ada dihalaman The Burrows. Sirius pun menghentikan sapunya. Remus langsung mengarahkan tongkatnya kewajah Sirius. Begitu juga sebaliknya. Athena tidak bisa berkata-kata.

"Apa yang terakhir kali James bilang pada kita terakhir kali kita bertemu?" Tanya Remus pada Sirius sambil terus mengarahkan tongkatnya ke Sirius.

"Berjalan dengan seorang sahabat di kegelapan jauh lebih baik daripada berjalan sendirian dalam terang." Ujar Sirius. Remus menurunkan tongkatnya dan memeluk Sirius.

"Kau baik-baik saja? Dimana George?" Kata Sirius.

George tiba-tiba keluar dengan senyum identiknya. Athena tersenyum lega. Harry muncul dari balik badan George dan berlari memeluk Sirius. Sirius membalasnya.

"Kau tak apa-apa?" Selidik Sirius pada anak Baptisnya itu. Harry menggeleng.

"Aku berada di tangan yang pas." Kata Harry dan mengerling ke arah Hagrid yang berada didepan pintu. Hagrid tersenyum tulus.

"Aku rasa aku tadi melihat Snape..." Sirius tidak melanjutkan perkataannya. Ia tidak percaya dengan apa yang dia lihat tadi.

"Aku juga melihatnya..." Kata Remus.

"Dimana yang lain?" Tanya Athena.

"Harusnya Mad Eye dan Ron sudah kembali."

"Tadi aku melihat Hermione terkena mantra.." Cetus Athena. Air matanya sudah mengembang di pelupuk matanya. "Tapi aku tidak ..."

Tiba tiba kilatan putih terlihat dari arah rumput tinggi yang ada didepan mereka. Kingsley membopong Hermione yang sudah tak sadarkan diri. Athena berlari kearah mereka dan membantu Kingsley membopong Hermione ke arah sofa yang ada di dalam rumah.

Athena menghela nafas lega. Setidaknya bukan kutukan kematian yang mengenai dirinya. Harry yang ada disampingnya membelai lembut rambut Hermione. Tiba-tiba Ron masuk menerobos orang-orang yang berada di depan pintu. Ia berlari ke samping Harry dan Hermione.

"Kita telah di khianati.." Geram Mad Eye. "Ada yang membocorkan rahasia kita..."

"Itu pasti Snape!" Cetus Arthur.

"Tidak mungkin.." Kata Athena. Bantahannya membuat semua orang yang ada diruang itu menoleh ke arah Athena. Sirius, Remus dan George yang mengetahui insiden itu pun hanya terdiam memandangi Athena.

"Bagaimana mungkin tidak? Aku melihatnya tadi! Topengnya terlepas." Geram Arthur.

"Aku tahu tadi ada Snape disana. Tapi..." Athena terhenti dan memandang Sirius sebentar. "Tapi tadi dia menyelamatkan George.."

Kini semua orang yang diruangan itu melongo. Terlihat sekali mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dari mulut Athena tadi.

"What? Tidak mungkin!" Bantah Harry yang kini sudah berdiri. "Dia Pelahap Maut, Thena! Dia pengikut setia Voldemort. Dan dia membunuh Dumbledore."

"Tapi aku tidak bisa membohongi apa yang aku lihat tadi, Harry." Kata Athena sama kerasnya dengan Harry. "Ada Sirius disana. Dia melihatnya. Ya kan?" Kini Athena berpaling ke Sirius. Meminta bantuan. Sirius hanya menghela nafas, seolah olah memberikan jawaban 'Athena benar, Harry'.

Bill dan Fleur baru saja tiba di The Burrows. Nampaknya mereka sampai yang paling terakhir.

"Ada apa?" Kata Bill bertanya pada orang yang ada disitu. Arthur hanya memberi lirikan mata ke arah Hermione. Bill langsung mengerti, ia menoleh ke arah Hermione.

"Ada apa dengannya?" Kata Fleur.

"Terkena mantra Pelahap Maut. Untung bukan mantra pembunuh." Celetuk Sirius.

"Aaaaah. Syukurlah. Semuanya selamat bukan?" Kata Fleur dan melirik ke semua orang yang ada disitu. Seolah olah mengabsen kehadiran mereka.

"Kita harus membuat perlindungan di rumah ini." Kata Remus. Sirius pun mengangguk menyetujui dan pergi keluar bersama Mad Eye, Arthur, Bill, Fred dan George.

BEBERAPA HARI SETELAHNYA

Hari ini bertepatan dengan hari pernikahan Bill dan Fleur. Suasana The Burrows terlihat sangat sibuk dari biasanya. Para wanita sedang sibuk menghias diri mereka masing-masing, tentu saja di bantu oleh Tonks dalam urusan rambut. Molly biasa menghias rambut Ginny yang lurus. Tapi menghias rambut keriting-megar-panjang milik Hermione atau Athena? Molly langsung mengangkat tangan dan meminta bantuan dari Tonks.

Ginny memakai gaun selutut warna abu-abu. Rambutnya di kepang setengah dan sisanya dibiarkan menjuntai kebelakang. Hermione memakai gaun merah selutut lengkap dengan Heels berwarna merah, rambutnya di ikat kebelakang. Sedangkan Athena memakai gaun milik Fleur berwarna putih. Beruntung Fleur mempunyai ukuran tubuh yang sama dengan Athena. Fleur juga berbaik hati meminjamkan sepatu serta aksesoris-aksesorisnya. Rambutnya di kepang penuh.

Kini Athena memandangi dirinya sendiri di cermin besar. Rambut pirang panjangnya terlihat sempurna. Gaunnya pun membuat Athena terlihat lebih mewah dari biasanya. Athena bisa dibilang adalah cetak biru dari ayahnya. Jika ayahnya adalah seorang perempuan, ya jadi seperti Athena lah wujudnya. Mulai dari rambut, mata, senyuman, dan dagu runcingnya. Hanya bentuk hidung dan rambut gelombangnya yang diturunkan oleh ibunya.

"Kau terlihat sangat cantik, Athena!" Puji Hermione yang kini ikut memandangi Athena dari cermin. Athena pun tersenyum.

"Kau juga terlihat cantik, Mione." Kata Athena.

"Tidak secantik mu. Ayah dan ibu mu sangat beruntung mempunyai anak cantik seperti mu." Kata Hermione yang menggandeng Athena keluar dari kamar Ginny.

"Bisa saja kau." Pipi Athena memerah. "Sebenarnya aku yang beruntung mempunyai orang tua seperti mereka."

Athena dan Hermione kini sudah berada di lantai satu.

"Tetap saja mereka beruntung. Kau cantik, pintar, dan cerdik. Orang tua mu pasti bangga dengan mu." Ujar Hermione.

"Kau memujiku seperti ini, seperti nya kau menginginkan sesuatu dari ku." Cetus Athena dan menaikan sebelah alisnya.

"Well.. Hehe.. Aku..." Hermione gugup. "Aku hanya penasaran. Siapa sih orang tua mu sebenarnya? Kenapa kau tidak mau memberi tahu ku?" Kata Hermione. Kini mereka sudah terduduk di sofa.

"Rahasia. Kalau aku memberitahu mu, bisa ada kemungkinan aku akan mengubah masa depan. "

"Bukan kan itu lebih baik?" Tanya Hermione. Athena menaikan bahunya.

"Kalau aku memberi tahu mu siapa orang tua ku sebenarnya. Bisa jadi kau akan memberi tahu orangnya. Ibu ku atau ayah ku. Dan jika seandainya ibu ku tiba tiba merasa risih dan malah menjauhi ayah ku? Gimana? Mereka tidak akan menikah bu kan? Dan aku tak akan pernah di lahirkan?" Kata Athena. Hermione memandang dalam mata Athena.

"Sebenarnya aku sudah tahu siapa ayah mu..." Ceplos Hermione.

"Oh yaa? Siapa?"

"Draco Malfoy." Mantap Hermione. "Dia juga merasa kalau kau adalah anaknya."

"Bagaimana kalian bisa berpikiran seperti itu?"

"Well. Dari awal aku melihat mu aku sudah tahu. Mata mu benar-benar sama dengannya. Rambut dan dagu mu juga. Ditambah saat kau menyebutkan namamu saat pertama kali kita bertemu? Kau ingin mengucap Malfoy, kan? Tapi kau malah bilang Malfridge. Wangi khas mu juga sama dengannya. Seringai mu juga persis seperti Draco."

Athena terperanggah mendengar ucapan Hermione.

"Kau benar-benar tahu soal Draco yaa..." Kata Athena dan menaikan alisnya. Pipi Hermione tiba-tiba memerah.

"Ahh.. Umm. Itu..." Hermione gugup.

"Kau menyukainya kan?" Goda Athena dengan tampang menyebalkan Khas Draco.

"Whaaat? Pfftt of course not!" Sangkal Hermione.

"Akui sajalah..."

"No!"

"Kau bohong..." Ujar Athena dan melipatkan tangannya di depan dada.

"What? Aku tidak bohong."

"Kau bohong. Kau mengedipkan mata mu terlalu sering. Tandanya kau bohong." Simpul Athena.

"Dari mana kau tahu soal..."

"Aku tahu semuanya. Kejelekan mu. Kejelekan Harry. Ron. George." Kata Athena. "Jadi akui saja lah. Kau menyukai Draco kan?" Goda Athena dan menaikan alisnya berulang kali. Hermione melihat kanan-kirinya. Ia mendekatkan diri pada Athena.

"Oke mungkin kau benar." Gemas Hermione. "Bagaimana tidak? Siapa sih yang tidak menyukainya? Dia tampan bukan?"

"Jadi kau menyukai Draco karna tampan?" Tanya Athena. Hermione pun menutup mulut Athena.

"Ssssshhh. Jangan keras keras." Kata Hermione yang masih menutup mulut Athena. ia melihat kanan-kirinya. Untung tidak ada orang, batinnya. Athena langsung membuang tangah Hermione yang ada di mulutnya.

"Uggghhh. Make up ku bisa rusak nanti jika kau perlakukan aku seperti itu." Kesal Athena. Hermione cengengesan.

Hari sudah mulai senja. Beberapa tamu sudah terlihat berdatangan. Fleur terlihat sangat cantik. Ia mengenakan gaun putih panjang, rambut pirangnya di kuncir ala bridal, dan di atasnya ada mahkota cantik menghiasi rambutnya. Begitu juga dengan Bill. Ia terlihat lebih tampan walaupun ada segores bekas cakaran di wajahnya.

Monsieur dan Apolline Delacour terlihat disana sedang berbincang dengan Arthur dan Molly. Harry terlihat sedang berbincang dengan Xenophilius Lovegood. Sedangkan Athena, Hermione dan Ginny masih berada di ujung ruangan. Memegang minuman mereka masing-masing. Fred yang sedang berdansa dengan Bibi Muriel tiba-tiba menghampiri para gadis dan menarik tangan Hermione.

"Fred!" Hermione menolak ajakan Fred.

"Ooh C'mon! Aku tidak mau terus menerus berdansa dengan bibi ku yang satu itu." Kata Fred dan menggerakan kepalanya ke arah bibi Muriel.

"Aku tidak bisa berdansa, Fred!" Cegah Hermione.

"Aku bisa mengajari mu.. Ayo!"

Hermione sudah tidak bisa menahan tangannya yang ditarik oleh Fred. Mereka pun terlihat menari bersama. Fred memegang tangan Hermione dan Hermione pun memutarkan badannya.

Kini giliran Ginny yang di ajak berdansa oleh Percy. Athena pun tinggal sendiri di ujung ruangan. Menikmati minumannya dan memandangi wajah-wajah bahagia orang-orang yang ada disitu. Paman George terlihat lebih bahagia. Di masa depan, Paman George lebih sering terlihat murung, bahkan saat ia sedang bersama Fred Jr dan Bibi Angie.

"Sangat sederhana bukan?" Tanya George yang kini ada di samping Athena, ia juga terlihat sedang memegang minuman di tangan kanannya. Tangan kirinya ia masukan ke dalam kantong celananya. Athena memandang George sekekilas.

"Yaa. Tidak terlalu meriah, tapi terasa lebih romantis." Ujar Athena sambil menengok ke arah Bill dan Fleur yang sedang berdansa mesra.

Lagu yang terdengar kali ini lebih melow. Mau tak mau Fred dan Hermione juga berdansa mengikuti musik. Fred terlihat meletakan tangannya di pinggang Hermione.

"Umm. Soal omongan mu, Thena..."

"Omongan apa?"

"Ummm, tentang.. Kau.. dari masa depan?" Kata Fred ragu-ragu.

"Yaa?"

"Kau benar-benar dari masa depan?"

"Sekarang kau baru percaya?" Kata Athena berpuas diri.

"Well, yaa. Bisa dibilang seperti itu..." George kali ini terlihat menghela nafas. "Apa yang kau lakukan di masa ini?" Selidik George.

"Aku sedang dalam sebuah misi.." Mantap Athena. Entah apakah harus bercerita kepada George atau tidak.

"Oh yaa?" Suara George terdengar ragu. Athena menaikan sebelah alisnya.

"Ini misiku dengan mu, kau tahu." Ceplos Athena. kini pandangan George benar benar teralihkan ke Athena. Mata George memancarkan keingintahuan. Tapi Athena langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Kau melarang ku untuk memberi tahu mu soal ini." Ujar Athena.

"Well, sekarang aku ada di hadapanmu dan meminta mu untuk memberi tahu ku apa misi mu itu." Ucap George.

"Aku tak bisa.."

"Kenapa?"

"Karena..."

WUUZZZZZZ! Kilatan biru tiba tiba terlihat dan berhenti di tengah ruangan. Para hadirin yang ada disitu pun menghentikan aktifitas mereka dan bergeser menjauh. Memandangi kilatan biru itu dengan ngeri. Dan kini asap hitam terlihat terbang dengan cepat dan memasuki ruangan. Membuat api disekitar ruangan. Para undangan yang datang pun satu persatu menghilang meninggalkan tempat itu.

Athena sekilas melihat Ron, Hermione dan Harry sebelum mereka menghilang dalam sekejap. Asap hitam pun terlihat makin banyak dan berubah menjadi orang yang menggunakan topeng, Pelahap Maut.

Pelahap Maut mulai melemparkan mantra kesana kemari. Memorak porandakan tempat pernikahan itu. Athena mengacungkan tongkat sihirnya. Begitu juga Fred, George, Arthur, Percy, Ginny, Molly, Sirius, Remus, Tonks, Mad Eye, Fleur dan Monsieur.

Kilatan cahaya putih dan hijau terlihat dimana-mana. Beberapa dari Pelahap Maut terlihat melepaskan topengnya. Seorang Pelahap Maut terlihat mendekati Athena dan melemparkan mantra kepadanya. Untung Athena berhasil menangkisnya.

"Kau membunuh adik ku!" Geramnya dan mencoba melemparkan kutukan pada Athena. Arthur berhasil menangkisnya.

"Rodolphus!" Teriak Arthur.

"Minggirlah Weasley. Pertarungan ku dengannya, bukan dengan mu! STUPEFY!" Mantra Rodolphus terkena Arthur dan membuat Arthur terlempar kebelakang.

"Levicorpus!" Mantra Athena dengan mudah di halau Rodolphus.

"Avada Kedavra!"

"Stupefy!"

Mantra Athena dan Rodolphus beradu dan meledak di udara. Rodolphus terus menyerang Athena.

"Expulso!" Mantra Athena meleset dan mengenai meja makanan di belakang Rodolphus dan meledak dahsyat, membuat Rodolphus hampir kehilangan keseimbangan.

"Kurang ajar!" Geramnya.

Dibelakangnya ada Fred dan George yang juga sedang melawan Pelahap Maut masing-masing satu.

Mereka mundur hingga akhirnya bertemu di tengah ruangan dan masih melemparkan mantra ke pelahap maut. Fred dan George menoleh bersamaan dan mengangguk.

"Hitungan ketiga, pegang tangan ku." Bisik Fred yang memunggungi Athena.

"What..." Athena terlihat bingung dan masih berusaha memerangi Rodolphus.

"One..."

"Two..."

"Three..."

Dalam sekejap mereka bertiga terjatuh di lantai kayu. Athena meringis dan coba bangkit. Fred mencoba membantu Athena dan saudara kembarnya itu berdiri.

"Dimana kita..." Athena bingung. Dia sama sekali tidak mengenali tempat ini. Tempat itu terlihat gedung kosong yang sudah lama tidak di tinggali. Terbukti dari debu yang menempel di badan Athena saat ia terjatuh tadi. Di tambah lagi terdengar suara reyot kayu saat Athena melangkahkan kakinya.

"Kita di Shrieking Shack.." Kata Fred.

Athena mengelilingi ruangan itu. Kosong. Berdebu. Hanya ada sofa berdebu dan piano rusak di ujung ruangan.

"Kenapa kita tidak ber-Apparate ke Grimauld Place?" Tanya Athena.

"Tidak ada yang bisa ber-Apparate ke dalam Grimauld Place selain peri rumah dan Sirius." Kata George. Ia mengeluarkan tongkatnya dan mengarahkan ke arah sofa dan membersihkan debu itu dengan sihir. Ia menarik Athena untuk duduk di sofa dan melihat lengan Athena. berdarah. Terlihat goresan panjang yang ada di lengan putihnya itu.

"Kau terluka..." Kata Fred yang kini ikut duduk di samping Athena.

"Terkena serempetan kutukan Rodolphus." Singkat Athena dan meringis kesakitan saat George memegang sekitar lengan Athena. George mengeluarkan sebotol cairan dari dalam jas nya. Athena tahu. Dittany. Obat penyembuh paling ampuh. Ia membuka dan meneteskan sekiranya dua tetes ke arah luka Athena. Perlahan, memar dan sayatan yang ada di lengan Athena sudah terlihat memudar dan lama-lama hilang. Meskipun sakitnya masih terasa.

"Pelahap Maut sialan! Mereka tidak ada habisnya mengejar kita." Kesal Fred. "Dan apa yang diinginkan seorang Rodolphus Lestrange pada mu, Thena?"

"Dia.. Ingin membalas adiknya."

"Rabastan?" Heran George yang baru saja memasukan botol Dittany ke dalam jas-nya.

"Yaa.. Rabastan jatuh dari ketinggian saat kita memindahkan Harry ke The Burrows." Jelas Athena. "Aku melemparkan mantra pembeku ke Rabastan."

George dan Fred saling pandang tidak percaya.

"Wow." Hanya itu yang keluar dari mulut George.

"Pantas saja..." Sambung Fred.

Athena kini berdiri. Menatap ke luar jendela.

"Tadi Arthur..."

"Relax, Thena. Kami yakin Dad akan baik baik saja." Kata Fred menenangkan Athena. Athena pun menghela nafas tenang.

"So? Bagaimana sekarang?" Kata Athena. Fred dan George saling pandang.

"Dad bilang lebih baik kita disini dulu sementara." Ujar Fred.

"Kalian sudah merencanakan ini?" Mata Athena hampir meloncat keluar.

"Tentu saja. Sejak perpindahan Harry ke rumah kami, kami rasa kami harus mempunyai beberapa candangan rencana." Ucap George.

"Kami sudah membawa berapa pakaian." Kata Fred sambil menunjuk sebuah karung yang ada di ujung ruangan.

"Sampai kapan?"

"Besok mungkin. Kita akan berkumpul di Grimauld Place."

"Kenapa kita tidak pergi sekarang?" Kata Athena, sambil mengedarkan pandangannya. Ia merasa risih berada diruangan kotor, pengap dan bau itu.

"Keadaan masih kacau, Thena. Para Pelahap Maut pasti masih berada di luar sana mencari kita. Kalau kita terbang pakai sapu terbang, mereka akan dengan mudah menangkap kita." Gemas Fred.

"Apa gunanya kita? Yang di cari mereka adalah Harry." Kesal Athena.

"Mereka menangkap kita karna mereka tahu kelemahan Harry. Harry tidak akan mungkin rela membuat salah satu dari kita terluka." Kata George.

"Sudah lah, Thena. Lebih baik kau ganti baju dulu." Perintah Fred saat ia melihat gaun putih Athena sudah kotor terkena debu dan ada bercak darahnya. "Di kantong itu ada pakaian mu. Bergantilah disini. Aku dan George akan membereskan ruangan sebelah untuk tempat tidur kita nanti malam."

Athena melirik kantong yang ada di ujung ruangan. Fred dan George keluar dan menutup pintu untuk memberikan Athena ruang untuk berganti pakaian. Athena melepaskan gaunnya dan memakai celana panjang dan kaos panjang. Tak lupa ia memakai jaket, karena memang udara kali ini terbilang cukup dingin meskipun belum memasuki musim dingin.

Athena keluar dan bergegas menuju ruangan yang sedang di bersihkan oleh Fred dan George. Alangkah kagetnya Athena saat memasuki ruangan itu. Ruangan itu terlihat jauh lebih bersih dibanding ruangan tadi. Di ruangan itu terdapat dua buah sofa beserta karpet besar di bawahnya, perapian yang menyala, lemari yang di sandarkan di tembok, beberapa foto yang tergantung di atas perapian, serta bendera besar Gryfindor.

"Tempat apa ini?" Athena takjub.

"Kau mulai menyukai rumah ini kan?" Ledek George.

"Setidaknya ini lebih baik dari pada ruangan tadi." Cetus Athena. George dan Fred terkekeh.

"Beristirahatlah. Besok pagi-pagi sekali kita harus sudah berangkat ke Grimauld Place. Kau tidur di sofa ujung sana. Biar aku dan George tidur di sebelah sini." Kata Fred.

Athena pun menurut. Ia berjalan ke sofa yang ada di depan perapian dan mulai istirahat.

Keesokan harinya Athena, Fred dan George terbang ke Grimauld Place dan mendapati ada keluarga Weasley disana, beserta Sirius, Lupin dan Mad Eye. Tapi Athena tidak mendapati tanda-tanda Harry, Ron dan Hermione. Mereka lebih dulu meninggalkan acara pernikahan.

Sirius terlihat gusar saat mendapati anak baptisnya tidak menunjukan diri di Grimauld Place. Padahal mereka sudah sepakat untuk bertemu disini hari ini. Arthur dan Molly tak kalah gusar. Sesekali mereka beradu teriak hingga membuat kepala Athena terasa pusing.

Athena ingat saat Hermione bercerita di masa depan, kalau mereka pergi berburu Horcrux atau apalah itu namanya. Mereka menghilang selama berbulan-bulan. Dan kembali beberapa saat sebelum perang dimulai. Setidaknya itu versi yang di berikan Hermione padanya.

Athena juga pernah membaca Hogwarts History di masa-nya. Masa-masa ini adalah masa yang paling mencekam. Banyak orang keturunan Muggle di bantai ataupun menghilang. Kementrian pun saat itu sedang di bawah kekuasaan Thicknesse yang notabene nya sedang terkena mantra Imperius oleh Pangeran Kegelapan.

Sudah hampir sebulan Harry, Ron dan Hermione menghilang. Mereka sama sekali tidak memberi tahu kabar apapun. Baik lewat burung hantu atau apapun sejenisnya. Sirius, Arthur dan Molly sangat takut jika ada yang terjadi dengan anak-anak mereka. Hingga akhirnya Ginny dan Athena harus kembali ke Hogwarts untuk melanjutkan sisa-sisa tahunnya di Hogwarts. Sirius melarang Ginny ataupun Athena pergi. Tapi Molly memaksanya. Dia bilang, setidaknya Hogwarts adalah tempat teraman untuk mereka. Mereka tidak perlu berlari ataupun bersembunyi lagi.

HOGWARTS, 1 SEPTEMBER 1997.

Semua murid Hogwarts terlihat sudah berkumpul di Aula Besar. Kali ini terasa Aula lebih longgar dari biasanya. Beberapa dari mereka ada yang tidak kembali ke Hogwarts. Entah apa alasannya. Ditambah lagi, beberapa guru Hogwarts absen dari sana. Seperti Hagrid dan Profesor Burbage tidak terlihat lagi.

Athena duduk di meja Ravenclaw. Ia duduk di sebelah Marcus dan Michael. Athena melirik Luna, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Ditambah ada bekas luka di bibir mungilnya itu. Athena tidak mempunyai cukup keberanian untuk menanyakan hal itu pada Luna. Athena juga melirik ke meja Slytherin. Ia tidak dapat menemui Draco Malfoy disana. Yang ada hanya Theodore, Blaise dan Pansy.

Pintu Aula terbuka lebar. Snape masuk kedalam dan jubah hitamnya terlihat berkibar. Dibelakang nya, Snape diikuti oleh dua orang yang juga berpakaian hitam. Yang satu pria jangkung kurus, dengan hidung bengkoknya, dan rambut kepala yang hitam tipis. Disebelahnya ada wanita pendek dan gendut, rambut hitamnya disanggul rapat-rapat, hidungnya juga terlihat bengkok.

Snape sampai di depan Aula dan menghadap ke murid-muridnya.

"Selamat datang di Hogwarts." Kata Snape sambil memandangi murid Hogwarts. "Dikarenakan ada beberapa insiden beberapa waktu lalu yang menyebabkan kepala sekolah kita tercinta meninggal. Aku ditugaskan oleh Kementrian Sihir untuk menggantikan posisi Albus Dumbledore."

Para murid mengeluarkan kata-kata kaget mereka. Ada yang terdiam juga, ada yang hanya membuka mulutnya lebar lebar, ada juga yang melotot hingga bola matanya hampir keluar. Snape menghiraukan ocehan yang didengarnya.

"Untuk itu, selaku kepala sekolah yang baru. Aku perkenalkan, Amycus Carrow.." Kata Snape dan menunjuk pria jangkung yang ada disamping kanannya. Amycus membusungkan dadanya dengan bangga. "Dia akan menggantikan posisiku, menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam."

Terdengar beberapa dari murid-murid mengeluh. Nama Carrow bukan nama yang asing. Nama itu cukup familiar jika disandingkan dengan nama-nama para Pelahap Maut.

"Dan aku perkenalkan juga, Alecto Carrow.." Kini Snape menunjuk wanita pendek yang ada di samping kirinya. "Alecto dengn senang hati akan menggantikan Profesor Charity Burbage yang sedang pergi. Dia akan mengajar Ilmu Telaah Muggle."

Alecto tidak memberikan ekspresi apa apa. Ia hanya terdiam dan seolah-olah memandang satu-persatu murid-murid disana.

"Dan beberapa peraturan baru akan dibuat. Setiap murid akan berkumpul di Aula Besar tepat jam enam tiga puluh. Dan setiap murid yang hendak pergi ke kelas, akan ditemani oleh seorang penjaga yang sudah aku siapkan. Setiap murid harus kembali ke asrama tepat pada pukul delapan malam. Dan setiap perkumpulan apapun adalah terlarang. Dan bagi siapa saja yang melihat atau berkomunikasi dengan Harry Potter, Hermione Granger dan Ron Weasley, harap melapor ke Profesor Amycus. Bagi siapa saja yang melanggar, akan dikenakan sanksi yang tidak akan pernah kalian bayangkan." Kata Snape perlahan-lahan, membuat mereka mengerti kata-demi kata yang diucapkan Snape.

Ini jauh lebih buruk dari jaman Umbridge, batin Athena. Molly salah besar! Untuk pertama kalinya. Hogwarts terasa seperti neraka.

Hari ini adalah hari pertama kelas tujuh mengikuti pelajaran Ilmu Hitam. Suasana kali ini sedikit berbeda. Sedikit lebih sepi dari biasanya. Tidak ada Harry, Hermione, Ron ataupun Draco. Meskipun Athena bersyukur dapat kembali bertemu dengan Michael dan Marcus. Profesor Carrow tiba-tiba membanting pintu kelas. Kelas terdiam. Ia berjalan perlahan, menatapi murid-muridnya satu persatu.

"Selamat datang di kelas ku." Angkuhnya sambil menaikan dagu. "Pada hari pertama ini. Aku akan mengajarkan beberapa mantera pada kalian. Mantra yang bisa kalian pakai jika sewaktu-waktu bertemu musuh." Amycus kini berjalan lagi. Menatapi murid Ravenclaw yang sedang memperhatikan buku.

"Untuk saat ini. Mungkin kalian bisa menggunakan mantra ini kepada buronan nomor satu di dunia sihir." Amycus kini terhenti di samping meja Athena. "Kau tahu siapa burona itu? Miss...?"

"Malfridge." Singkat Athena.

"Yes..Miss Malfridge"

"Ummm. Tak tahu. Mungkin... Voldemort?" Kata Athena. Ia memandang Amycus dengan beranI. Amycus memandang tajam Athena.

"Harry Potter, Ron Weasley dan Hermione Granger." Kata Amycus pada seisi kelas. "Mereka bertiga telah menjadi buronan Kementrian sejak dua bulan belakangan ini. Siapapun yang mendapatkan mereka, akan di berikan imbalan besar oleh Kementrian."

"Sekarang kau menjadi salah satu bagian dari Kementrian, eh Profesor?" Kata Neville kesal. Kini pandangan Amycus berhenti pada Neville. Tapi ia melanjutkan pembicaraannya.

"Aku akan mengajari kalian bagaimana cara melumpuhkan lawan tanpa harus membunuhnya..." Amycus membelai tongkat sihirnya. "Ada yang tahu mantra melumpuhkan lawan?"

Kelas terdiam.

"Mr Longbottom?" Amycus beralih lagi pada Neville.

"Aku pernah mendengar mantra Crucio dari Profesor Moody waktu tahun ajaran ke tiga." Kata Neville. Amycus bertepuk tangan kencang.

"Well well. Kau sangat tahu soal mantra itu, bukan? Nah. Bagaimana sekarang kau ke depan." Kata Amycus. Neville terdiam namun Amycus menatap tajam, memberikan isyarat agar ia mau pergi ke depan kelas. Dengan terpaksa, Neville pun ke depan kelas.

"Dan.. Aku butuh seseorang lagi..." Amycus terlihat seperti berpikir. "Ah. Miss Malfridge. Bisakah kau kesini untuk menemani Mr Longbottom?"

Athena terdiam sejenak namun langsung bergegas ke arah depan kelas.

"Keluarkan tongkat kalian masing-masing." Perintah Amycus. Neville dan Athena saling tatap sebentar dan mengeluarkan tongkat mereka masing masing.

"Aku mau kalian menyerang satu sama lain."

"What!" Protes Athena.

"Ini bagian dari pelajaran, Miss Malfridge. Kau tak akan tahu mantra itu benar-benar akan berfungsi jika kau tak mencobanya bukan?" Amycus mencoba berbicara lembut pada Athena. Athena memandang Neville. Neville hanya memberi pandangan 'Its Okay. Lakukan saja'.

Athena mengarahkan tongkatnya ke Neville. Neville memejamkan matanya.

"Expeliarmus!"

Neville terlempar ke belakang. Ia mengaduh sebentar dan langsung berdiri. Amycus memandang Athena dengan kesal. Athena menyeringai.

"Kau bilang mantra yang dapat melumpuhkan lawan tanpa harus membunuhnya bukan?" Kata Athena berpuas diri. Amycus mendengus kesal.

"Mungkin aku harus mengajarkannya sendiri padamu." Amycus kini berdiri beberapa meter di hadapan Athena dan mengacungkan tongkatnnya ke arah Athena.

"Crucio!"

Mantra Amycus tepat mengenai badan Athena. Athena rubuh seketika. Ia merasakan badannya seperti di tusuk ribuan belati. Aneh. Sakit. Tapi tak berdarah. Untuk sekejap Athena menahan nafas supaya tidak merasakan sakit yang ada di badannya.

Amycus tersenyum puas. Neville melotot dan mencoba membantu Athena.

"Biarkan saja Mr Longbottom. Aku yakin Miss Malfridge dapat mengatasi rasa sakitnya." Kata Amycus berpuas diri. "Berdiri Malfridge! Pelajaran mu belum usai!" Amycus mengarahkan tongkatnya lagi ke arah Athena. Belum sempat Athena berdiri, "Crucio!"

Athena berteriak kencang. Air matanya keluar. Rasa sakitnya bertambah berpuluh puluh kali lipat. Ia tidak dapat menggerakan badannya, namun ia masih bisa melihat Neville berdiri di depannya. Mencoba membantunya berdiri. Athena terlihat pucat.

"Itu cara yang tepat untuk melumpuhkan lawan tanpa harus membunuhnya." Ujar Amycus. Neville memandang Amycus kesal. "Aku rasa kau harus membawa Miss Malfridge ke Hospital Wings. Miss Malfridge butuh penanganan." Ucap Amycus dengan nada meledek.

Neville menghiraukan kata-kata Amycus dan segera pergi dari sana.

Hospital Wings

Athena mengerjapkan matanya dan mendapati ada Michael dan Marcus ada disebelah tempat tidurnya. Ia masih merasa lemas. Itu pertama kalinya Athena merasakan kutukan Crucio. Di masa depan, tiga kutukan tak termaafkan sangat dilarang. Bagi siapa saja yang menggunakan, baik dibawah atau sudah cukup umur, mereka akan berurusan dengan Kementrian Hukum. Bisa jadi langsung di bawa ke Azkaban.

"Bagaimana perasaan mu, Thena?" Tanya Michael dengan wajah prihatin.

"Fantastic.." Gumam Athena pelan dan tersenyum pada temannya itu. Michael tersenyum lega.

"Amycus benar-benar kelewatan!" Geram Michael. "Memberi kutukan tak termaafkan pada seorang murid? Sinting!"

Athena mencoba bangun dari tidurnya. Ia kini duduk dan bersandar di kasur.

"Profesor Flitwick sangat marah saat ia tahu kau terkena kutukan itu. Sekarang ia sedang berada di kantor kepala sekolah untuk mendiskusikan hal itu pada Snape." Kata Marcus.

"Dimana Neville?" Kata Athena seolah tidak memperdulikan omongan Marcus. Marcus dan Michael saling pandang.

"Ummm. Dia..." Marcus ragu untuk bicara. Athena terlihat menunggu omongan Marcus.

"Dia ada di ruangan Profesor Carrow.." Kata Michael melanjutkan omongan Marcus. Athena kaget bukan main. Apa lagi yang akan dilakukan Amycus pada Neville?

"Bagaimana bisa?"

"Well tadi setelah dia mengantar mu kesini. Neville kembali kekelas dan mengajak Profesor Carrow untuk berduel..." Ujar Michael.

"Dan?" Athena menatap Michael penuh harap.

"Neville menang. Ia berhasil mengalahkan Amycus." Ucap Michael. Athena menghela nafas lega.

"Tapi rasanya Profesor Carrow tidak menerimanya." Kata Michael. Athena kembali tegang. "Neville disuruh masuh keruangan Carrow bersaudara. Ada beberapa murid yang bilang kalau mereka mendengar teriakan Neville." Jelasnya.

"What! Dasar manusia sinting!" Kesal Athena. Athena kini mencoba bangkit namun ditahan oleh Marcus dan Michael.

"Kau mau kemana?"

"Ke ruangan Carrow Bersaudara tentu saja. Kau pikir aku akan diam saja jika melihat teman ku disiksa oleh dua orang gila?" Geram Athena dan melangkahkan kakinya keluar Hospital Wings.

0-0-0-0-0-0-0-00-0-0

TBC

Oke guys maafkan aku jika chapter ini sangat tidak memuaskan. Scene Athena dan obrolan Athena terlihat sangat dikit. Maafkan aku...

Maaf juga jika scene fightnya tidak terlalu bagus. Aku bukan ahlinya. Haha

Setelah cerita ini selesai, aku pengen bikin cerita lagi. Mungkin cerita tentang Athena yang ada di masa depan bersama saudara-saudaranya. Atau juga cerita baru tentang Dramione. Atau cerita Crossover Harry Potter x Narnia. Atau Harry Potter x Percy Jackson. Saran ya.. Kalian maunya yang mana. Tapi aku akan selesain cerita ini dulu.

Saran, masukan, kritik, cacian, makian akan diterima dengan lapang dada.

Chapter selanjutnya akan di usahakan cepat. Tinggal 2 chapter lagi cerita ini akan kelar.

See yaa.