"Terima kasih, Itachi-san."

"Siapa dia?"


Title : 14 Dating To Love

Author : Imelda Yolanda (UIniichan)

Genre : Romance & Drama

Rating : T

Length : Chaptered

Disclaimer : This fict is mine, but the casts are Masashi Kishimoto's

Warning : OOC, AU, Straight, Het, Typo(s), Crack Couple

Pairing : ItaIno

[p.s Kalimat italic berarti sedang dalam situasi flashback]

Don't Like Don't Read!

Enjoy!

Karena tak sempat menemui sosok lelaki yang keluar dari rumah Ino tadi, Nagato sedikit mendengus kesal. Jujur, ia sangat penasaran dengan pemuda yang ia lihat itu. Perasaan normal. Semua orang pasti akan merasakan perasaan yang sama ketika melihat seorang pria keluar dari rumah seorang gadis yang bisa dibilang tinggal sendiri terlebih waktu menunjukkan lewat tengah malam.

Pemuda Uzumaki itu masuk ke dalam rumah dan mendapati lampu di seluruh ruangan yang masih menyala dengan terangnya. Sungguh cukup membuat matanya terasa sedikit sakit. Mungkin para asisten rumah tangga di rumah mewah itu terlupa dengan tugasnya untuk memadamkan lampu di malam hari. Bukan, atau mungkin karena ada tamu tadi?

Nagato memperhatikan pintu kokoh yang berada tepat di depan kamarnya. Dengan gerakan yang lumayan ragu, ia membuka pintu itu perlahan takut bila mengganggu sang pemilik. Begitu cukup terlihat bagian ranjang yang ada di dalam kamar, ia mendapati Ino tengah tidur dengan wajah damainya seperti biasa. Kali ini dengan tegas ia membuka pintu itu cukup lebar.

Tanpa mengeluarkan sedikit suara dan gerakan, pemuda berambut merah itu menatap gadis Yamanaka yang bagaikan puteri tidur dengan lembut. Dalam perasaan yang menenangkan karena melihat gadis yang ia sukai tidur dengan tenang, sesungguhnya ia memiliki banyak pertanyaan yang ingin segera diungkapkan. Mungkin besok. Ya, setidaknya Ino harus menjawab pertanyaan Nagato tentang siapa pria yang ia lihat tadi.

Setelah cukup puas memandangi wajah gadis cantik yang menjadi pengisi dalam relung hatinya, Nagato masuk ke dalam kamarnya sendiri. Mata tajamnya menatap ke arah langit malam yang dapat ia lihat dengan jelas melalui jendela kaca besar yang mengarah langsung ke balkon. Langit malam itu memamerkan kelap kelip yang menyediakan keindahan. Karena setiap menatap bintang, Nagato seperti dapat merasakan bahwa kedua orangtuanya tengah mengawasi dirinya dari atas sana.

Secara otomatis, pelupuk matanya kembali memutar sebuah kenangan yang tak mungkin ia lupakan.

'Kau telah mekar sekarang. Tumbuh menjadi bunga yang sangat cantik seperti perkiraanku. Bolehkah aku memetikmu?'

.

.

.

.

.

Seorang bocah berumur sekitar 8 tahun tengah berdiri disana dengan sekuntum bunga yang ia pegang erat dengan kedua tangannya. Ia memetiknya dari tanaman yang ada di sekitarnya. Sedikit tidak peduli dengan pikiran sang pemilik tanaman. Tak ada alasan lain, ia ingin memberikan bunga itu pada gadis cilik yang sedari tadi menjadi fokus dalam pandangannya.

Ia melangkah menyusuri tanah yang dilapisi dengan rerumputan hijau itu. Mata ungu pudarnya tak lepas dari gadis bersurai pirang di depan sana. Sesekali ia semakin mengeratkan pegangannya pada bunga di tangannya.

"Hei!" Ujar bocah dengan rambut merah itu mencoba menyapa sang gadis kecil.

Tak mendapat jawaban dalam lisan, gadis bermata aquamarine itu menoleh ke si pemilik suara. Uzumaki Nagato dan Yamanaka Ino adalah para bocah itu. Dengan tatapan yang sangat polos, Ino melihat tepat ke arah mata Nagato. Ia berumur 1 tahun, apa yang bisa dilakukan oleh anak yang masih dibilang sebagai seorang bayi? Tentu ia tidak mengerti dengan sapaan Nagato tadi.

"Ini untukmu, gadis cantik." Nagato menyodorkan bunga yang digenggamnya.

Lagi, gadis kecil itu tak memberikan respon apapun. Mata aquamarinenya yang sebiru laut masih terus seolah menggali ke dalam pendar milik Nagato. Keduanya terus bertatapan tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing untuk beberapa saat.

Nagato menarik lembut tangan mungil Ino untuk kemudian bunga yang ia pegang tadi berpindah tangan. Bocah Uzumaki memberikan sekuntum bunga itu pada Ino. Ya, Nagato dapat memaklumi jika Ino belum mengerti apapun tentang memberi dan menerima. Senyum hangat itu mengembang di wajah rupawannya. Ino hanya memperhatikan bunga yang kini ada di tangan kanannya masih dengan tatapan polos.

Nagato mendekati Ino dan mulai memperhatikan wajah ayu milik gadis Yamanaka itu, membelai sedikit surai pirangnya yang pendek. Kemudian dengan perlahan ia mencium pipi chubby Ino karena gemas. Ino sungguh menggemaskan dengan tubuhnya yang agak gemuk di usia sedini itu.

"Kau sangat cantik ... dan harum seperti bunga. Bolehkah aku memetikmu?"

"Tidak sekarang." Jawab seseorang.

Dua pasang suami istri tengah berdiri tak jauh dari tempat Nagato dan Ino. Mereka adalah orangtua dari bocah-bocah cilik itu. Dan yang tiba-tiba menjawab pertanyaan Nagato tadi adalah Yamanaka Inoichi. Orangtua mereka memang dekat sejak dulu. Pertemuan seperti ini adalah hal yang biasa dilakukan.

"Bunga tak ada artinya sampai saat ketika ia mekar." Tambah Inoichi.

"Paman." Ujar Nagato lirih.

Mereka menghampiri dua bocah itu, Inoichi mengusap rambut merah Nagato dengan lembut. Nagato menunduk karena merasa malu bahwa ucapannya yang di dengar oleh orang lain. Sesungguhnya ia tak berniat untuk mendapat jawaban dari siapapun atas pertanyaan tadi. Insiden seperti ini sukses membuat pipinya bersemu merah.

"Tunggu hingga Ino mekar, ya?"

"Hn?"

"Paman akan memberikannya padamu tanpa kau harus bersusah payah memetiknya."

Pendar ungu Nagato membola begitu gendang telinganya mendengar kalimat dari Inoichi. Otaknya mencerna dengan teliti apa maksud dari kalimat yang dilontarkan Ayah Ino tersebut. Setelah beberapa saat, Nagato tersenyum. Ia mengerti sekarang. Dan sudah dipastikan bahwa Nagato akan menunggu saatnya itu datang. Saat Ino mekar dan tumbuh menjadi gadis cantik.

"Paman, aku akan menagihnya suatu saat nanti." Nagato menatap mantap ke Inoichi.

"Oh, tentu saja. Paman bukan orang yang ingkar janji." Kata Inoichi.

"Pinky promise." Nagato mengacungkan jari kelingkingnya.

"Baiklah." Inoichi memberi respon dan menyatukan jari kelingkingnya dengan milik Nagato.

Mereka semua kemudian tertawa hangat melihat adegan yang sangat akrab dan hangat tersebut. Nagato melihat ke arah Ino tanpa melepas senyuman lebarnya. Ia tak sabar untuk menantikan saat yang dijanjikan Inoichi datang.

'Tunggulah sebentar lagi, Nagato.'

.

.

.

.

.

Ino membuka matanya secara perlahan, mencoba membiasakan dengan cahaya matahari yang membias masuk melalui jendela kaca yang dilapisi dengan tirai berwarna putih tipis. Ia menguap merasakan betapa tidurnya semalam terasa sangat nyenyak dan...

"Oh, semalam ada Itachi-san disini." Gadis itu bangun secara mendadak dari posisi tidurnya.

Tersadar bahwa malam sebelumnya ia membiarkan seorang pria masuk ke kamarnya dan menyentuh tubuhnya; mengusap perut atas permintaannya sendiri, Ino tak lagi ingat apa yang ia lakukan semalam. Tanpa sadar sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum manis. Sedikit rasa bahagia melingkupinya pagi ini dengan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.

Ino menoleh ke arah meja tempatnya meletakkan buku milik Itachi. Semenit setelahnya ia teringat bahwa ia belum melakukan kewajibannya untuk mengirimkan lembar selanjutnya kepada teman kencannya itu. Dengan gerakan cepat seperti biasa, Ino turun dari ranjang dan mulai meraih ponsel serta buku bersampul cokelat itu.

"Terima kasih, Itachi-san."

Gadis Yamanaka itu sedikit terkikik mengingat kejadian konyol yang terjadi malam sebelumnya. Ia menyadari kalau dirinya sangatlah merepotkan seorang Uchiha Itachi, namun entah bagaimana, lelaki tampan itu tetap saja luluh dengan segala permintaan Ino yang kekanakan dan terkesan memalukan.

Setelah membersihkan dirinya, Ino turun menyusuri tangga untuk menuju ke lantai dasar rumahnya. Harum semerbak rasa manis memenuhi hidungnya. Sangat enak. Ya, dua kata itu cukup untuk mengungkapkan aroma yang tercium oleh inderanya. Karena tak sabar, Ino mempercepat langkahnya menuju ruang makan.

"Wah, seperti biasa."

Ino tak lagi heran dengan aroma manis yang kini setiap pagi ia hirup dari arah ruang makan. Siapa lagi jika bukan karena ulah pemuda Uzumaki yang kini tinggal satu atap dengannya. Ada asisten rumah tangga, memang. Namun, mereka tak membuat sarapan jika sang Nona rumah tak menyuruh. Ino sangat jarang sarapan karena setengah dari usianya hidup di dunia, ia selalu sarapan sendiri.

"Duduklah." Kata Nagato mempersilakan.

Ino mengambil tempat duduk tepat di hadapan Nagato. Mata aquamarinenya menatap antusias ke arah makanan manis yang tersedia di depannya. Waffle dengan siraman madu yang sangat menggugah selera. Segera, Ino menyambar garpu dan juga pisau makan.

"Selamat makan." Ujar Ino dengan nada antusias yang sangat kentara.

Lelaki berambut merah itu tersenyum menatap gadis Yamanaka itu. Ia sendiri merasa amat senang dengan setiap perbuatan yang dihargai dengan sangat baik oleh Ino. Apalagi bila menyangkut soal makanan. Kebetulan Nagato cukup menguasai perihal dapur itu, ia tak sungkan membuatkan sarapan setiap hari untuk Ino.

"Aku melihat seseorang keluar dari rumah ini semalam." Nagato membuka sebuah percakapan.

Ino masih mengunyah makanannya dengan lahap, "Siapa?" Tanya gadis itu sedikit terkejut dan terkesan panik.

"Aku tidak mendengar rumor buruk apapun di lingkungan ini." Tambah Ino mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Yamanaka Ino tak memahami kalimat Nagato seutuhnya. Ya, maka dari itu ia menjawab dengan reaksi yang seolah-olah ia tak tahu siapa seseorang yang dimaksud lawan bicaranya. Mungkin karena fokus dengan sarapannya, Ino jadi tak membawa otaknya kembali ke arah semalam.

"Apa maksudmu dengan rumor buruk?"

Sepertinya terjadi missed communication di percakapan mereka kali ini. Sebenarnya, Ino adalah pihak penyebabnya. Salahkan gadis itu yang bertindak gegabah dengan sebuah jawaban tanpa mencernanya di otak terlebih dahulu.

"Maksudku, apa mungkin ada maling yang masuk ke rumahku?" Ekspresi di wajah Ino dibuat menjadi-jadi.

Nagato membuang napas pendek tak percaya. Ia baru paham sekarang, ternyata Ino tak benar-benar menangkap baik kalimatnya tadi. "Maling seperti apa yang menggunakan mobil mewah?" Jelas Nagato.

"Eh? Mobil mewah?" Ino semakin dibuat bingung.

Ino sudah bangun dari tidurnya sejak sekitar satu jam yang lalu, tapi sepertinya pikirannya masih belum bangun. Lihatlah bagaimana dirinya yang masih belum juga mengerti kemana arah pembicaraan Nagato. Ya, pemuda Uzumaki itu harus ekstra sabar dalam menghadapi Ino pagi ini.

Ino membulatkan matanya lebar dan juga membuka mulutnya secara refleks begitu teringat sesuatu, "Hah?! Kau melihatnya?" Ungkap Ino sedikit berteriak.

Ya, akhirnya kau mengerti kemana arah pembicaraan ini, Nona Yamanaka.

Nagato menatap santai ke arah Ino yang sepertinya sangat terkejut. Ia masih setia dengan garpu yang terus menusuk benda lunak nan manis di piring itu. Melihat reaksi Ino yang sedikit berlebihan, membuat Nagato sedikit penasaran mengenai apa yang ditakutkan gadis Yamanaka itu hingga membuatnya amat terkejut.

"Apa ada sesuatu yang kau rahasiakan mengenai orang itu?" Tanya Nagato.

"Eh? Tidak ada." Jawab Ino cepat.

"Kalau begitu kau tidak seharusnya terkejut, 'kan?" Nagato sedikit tertawa.

"Aku tidak terkejut. Aku hanya ... emm, aku hanya ... aku hanya sedikit kaget. Ya, aku sedikit kaget." Kata Ino dengan alasan yang aneh.

Bukankah itu kondisi yang sama?

Pemuda berambut merah itu menatap tepat ke arah mata Ino. Ia seperti melihat kebohongan, bukan, sesuatu yang sengaja disembunyikan disana. Seolah terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Ino memanglah sosok misterius seperti perkiraannya. Dirinya sendiri sulit menerka apa yang ada dalam pikiran gadis itu.

Merasa tak nyaman dengan tatapan Nagato yang seolah menelanjanginya, Ino berdeham dan kembali mengalihkan pandangannya fokus ke arah sarapan di depannya. Mengeluarkan beberapa celotehan mengenai betapa lezatnya sarapan yang dibuat Nagato. Mengisyaratkan bahwa ia tak lagi ingin membahas pokok permasalahan tadi. Mengenai orang yang keluar dari rumahnya semalam.

Bukan hanya mengutamakan alasan pribadi Nagato mencoba membahas hal tersebut. Diatas perasaan pribadinya yang sedikit merasa terganggu dengan kedatangan seorang pria yang menemui Ino, ia mendapat amanah untuk menjaga gadis itu dari segala macam gangguan mengingat sang Ayah yang sedang dinas ke luar kota.

"Itu urusan pribadimu. Aku tidak akan membahas lebih jauh lagi." Kata Nagato kemudian.

"Maafkan aku, Nagato-san. Belum saatnya kau mengetahui siapa dia."

.

.

.

.

.

Di meja makan lain dengan tempat yang berbeda pula dari kondisi sebelumnya, seorang Ibu tengah mencoba mengulik informasi dari seorang pemuda tampan. Onyx itu terus berusaha menelanjangi sang putera yang memang beraura dingin nan tenang, tak berpengaruh dengan tatapan tajam dan tatapan yang seolah menaruh curiga atas dirinya.

"Ah, Ibu menyerah. Tidak bisakah kau mengatakan yang sejujurnya, hn?"

Sang wanita paruh baya yang menjadi pihak penuntut disana malah menyerah dengan rasa penasarannya sendiri. Membiarkan ribuan pertanyaan yang sebelumnya ia lontarkan terbang begitu saja tanpa mendapat jawaban jujur satupun. Pertanyaan terakhir yang menjadi harapan mungkin anaknya akan menjelaskan semuanya adalah apa yang tersisa.

"Apa yang harus aku katakan?" Itachi menjawab santai.

Uchiha Mikoto merebut cangkir yang sebelumnya akan diraih oleh tangan Itachi. Lagi, dengan tatapan mengancam ia menerobos ke dalam mata yang menunjukkan sedikit ekspresi terkejut disana. Itachi menelan ludahnya sendiri karena kejadian tersebut. Bisa tersedak jika begini.

"Bawa dia kemari lusa." Tegas Mikoto.

Bola mata abu-abu gelap itu membulat mendengar kalimat tegas yang dilontarkan oleh Mikoto. Urusannya bukanlah menyangkut soal keluarga dan terkesan tidak penting. Tapi kenapa sang Ibu terus merengek dengan hal yang, ah, bahkan dapat dilupakan dalam kejapan mata? Tidakkah permintaan Mikoto terkesan berlebihan?

"Tidak akan." Kata Itachi.

"Baiklah, kau tidak akan mendapat jatah makanan penutup selama seminggu." Ancam Mikoto.

Semua insan yang tengah berada di ruang makan keluarga Uchiha itu terperangah mendengar kalimat tersebut. Sang kepala keluarga sedikit menahan tawa akibatnya. Tak akan melepasnya secara terang-terangan tentu saja.

"Ancaman macam apa itu?" Ejek si bungsu santai.

Nyonya Uchiha melemparkan tatapan mematikan kepada putera terakhirnya itu. Sasuke membuang muka ke arah lain untuk kemudian meraih cangkir di dekatnya dengan alasan mengalihkan perhatian.

"Bukankah sudah kukatakan, obat itu untuk aku minum sendiri. Jelas, asam mefenamat bukan hanya untuk pereda nyeri haid, eh?" Jelas Itachi.

Uchiha Mikoto sedikit berpikir soal ucapan Itachi. Memang benar jika asam mefenamat bukan hanya untuk pereda nyeri haid, tapi tetap saja. Dimana letak masuk akalnya? Itachi mengambil obat tersebut secara terburu dan pergi melesat meninggalkan rumah. Jika memang untuk dirinya sendiri, kenapa ia tak meminumnya di rumah?

"Terserah. Ibu tidak percaya dan Ibu akan menunggunya lusa." Mikoto membereskan segala perlengkapan makan di atas meja.

Ketiga pria disana hanya dapat memperhatikan kelakuan satu-satunya wanita di rumah tersebut dengan tatapan bingung. Tak berbeda dengan Fugaku yang memberikan tatapan lebih dari kata tak percaya pada sang istri. Ditambah lagi dengan kelakuan asal Mikoto yang membereskan makanan Fugaku tanpa memberikan kesempatan untuk menghabiskannya terlebih dahulu.

Itachi memberi tampang 'aku harus bagaimana?' pada sang Ayah. Pria paruh baya itu hanya menjawab, "Bukankah ini ulahmu? Bersikaplah seperti pria." Lalu bangkit dari duduknya.

Tak mendapat solusi, pemuda berambut panjang itu menatap ke arah adiknya. Dan lagi, Sasuke menjawab, "Act like a man, bro." Mengikuti cara Ayahnya.

Tamatlah kau, Itachi.

.

.

.

.

.

"Hal pertama yang harus kau perhatikan saat pertama kali bertemu dengan orangtuaku ialah jangan bersikap seolah kau adalah kekasihku." Kata Itachi cepat.

Ino membuang napas pendek tak percaya dengan kalimat yang baru saja ia dengan melalui gendang telinganya. Bahkan dari ribuan bahkan jutaan kalimat yang telah ia dengar, mungkin kalimat Itachi adalah pemecah rekor sebagai kalimat paling menyebalkan versi Yamanaka Ino.

"Menyebalkan." Balas Ino.

Gadis pirang itu terus menatap Itachi dengan tajam meski yang menjadi obyek tatapan sama sekali tak melirik padanya. Jika saja Itachi tidak tampan, mungkin Ino sudah sejak tadi memberikan sebuah tanda disana.

Dua hari telah berlalu sejak Mikoto meminta Itachi untuk membawa 'gadis rahasianya' ke rumah. Tak ada alasan baik bagi pemuda itu untuk menolak permintaan sang Ibu yang memang ya keras kepala. Entahlah, mungkin sifat itu memang turun menurun.

Ino kembali memperhatikan penampilannya dan memastikan bahwa tidak ada hal janggal yang dapat menjadi pusat perhatian buruk. Ia telah siap untuk bertemu dengan keluarga Uchiha hari ini. Apa sulitnya? Tinggal melangkahkan kaki untuk masuk ke pintu kokoh itu dan semuanya akan cepat selesai.

"Catatlah hari ini sebagai kencan." Tambah Itachi sebelum membuka pintu rumahnya.

"Apa? Ini adalah permintaanmu, kenapa harus aku mencatatnya sebagai kencan?" Ino tak terima.

Uchiha Itachi berjalan melangkah kakinya untuk sedikit mendekat ke posisi dimana Ino berdiri. Ia semakin mendekat hingga membuat langkah Ino otomatis mundur dan sial ada dinding di belakangnya. Gadis itu terpojok kemudian Itachi memenjarakan tubuh Ino dengan kedua lengannya.

"Hn begitu ya? Kau tidak mau?" Ujar Itachi dengan posisi wajahnya yang sangat dekat dengan Ino.

"I-Itachi-san, apa yang kau lakukan?" Ino mulai gugup.

Pemuda tampan itu menyipitkan matanya seolah menekan ke dalam pandangan mata gadis Yamanaka tersebut, "Baiklah. Aku akan melakukannya." Ino menyerah karena sedikit takut dengan tatapan Itachi.

"Selesai dengan mudah." Itachi mulai mundur dari posisinya yang memenjarakan tubuh Ino.

Gadis dengan mata aquamarine itu hanya mampu bernapas lega sedetik kemudian. Ia masih terus menatap Itachi dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

"Apa yang sebenarnya akan kau lakukan tadi?" Nada suara Ino sedikit membentak.

"Apa yang bisa kulakukan ketika ada yang melihat." Jawab Itachi.

"Apa?" Tanya Ino tak paham.

"CCTV." Itachi sedikit mengangkat kepalanya untuk memberitahukan kepada Ino bahwa maksud ada yang melihat adalah benda mati di ujung sana yang hanya mampu merekam gambar tanpa suara.

Aquamarine itu mengikuti arah pandang Itachi. Ia memperhatikan benda di ujung sana. Ini rumah Itachi, bukan masalah jika ia melakukan hal aneh, 'kan? Lagipula yang melihat melalui CCTV itu pun dirinya paling terbuka adalah keluarganya. Untuk apa risau? Mata itu masih terus memperhatikan benda berwarna putih itu sampai suara pintu terbuka menyadarkannya.

"Masuklah." Itachi mempersilakan sang gadis.

"Selamat datang." Suara gembira Nyonya keluarga Uchiha memecah begitu Yamanaka Ino melangkah masuk ke dalamnya.

Awalnya Ino hanya terperangah terkejut melihat sambutan tersebut. Bahkan keringat dingin sedikit mengalir melalui pelipisnya akibat dari rasa gugup yang terus bergejolak di dadanya.

"Apa kabar?" Kata Ino sopan dengan badan yang ia bungkukkan.

Fugaku dan Mikoto membalasnya dengan senyuman hangat. Sementara Itachi seolah bernapas lega. Setidaknya bebannya sedikit berkurang karena pertemuan ini.

"Namaku Yamanaka Ino. Aku temannya Itachi-san." Ino memperkenalkan diri dengan sedikit penekanan kata 'teman' disana.

Itachi melirik melalui ekor matanya merasa bahwa dirinya disinggung dengan kata penekanan yang keluar dar mulut Ino. Ya, ia sendiri yang menyuruh Ino untuk bersikap seperti itu, bukan?

"Namaku Fugaku, Ayah Itachi dan ini Ibu Itachi, Mikoto." Ujar Fugaku ramah.

"Wah, kau sangat cantik, Ino." Mikoto mendekati Ino dan mencengkeram lembut bahu gadis pirang itu.

Ino hanya membalas dengan senyuman tipis dan sedikit guratan merah di kedua pipi putihnya. Dipuji sering kali ia dengar dari banyak mulut. Tapi entah kenapa kalimat pujian kali ini sungguh membuatnya merasa lebih malu sekaligus bahagia.

Langkah seseorang kembali memecah perhatian empat orang di ruang tamu tersebut. Ia tak kalah tampan dari Itachi dengan penampilan yang sangat mirip.

"Sasuke-kun?!" Kedua iris Ino membola sempurna ketika menyadari siapa sosok tersebut.

Bibirnya terbuka sungguh mengisyaratkan ekspresi terkejut yang sangat kentara. Sampai saat Sasuke berada tepat di depan matanya, gadis Yamanaka itu belum juga sadar dari jiwanya yang terkejut amat sangat.

"Nah, Ino. Ini adalah Sasuke, adik Itachi." Mikoto memperkenalkan.

Sama sekali tak ada yang berubah dari wajah Yamanaka Ino. Semua orang yang ada disana terlihat bingung dengan sikap Ino. Terlebih Itachi yang mengerutkan dahinya. Bahkan, dapat dipastikan bahwa Ino tak mendengar kalimat Mikoto tadi.

"Apa aku terlalu tampan?" Ujar Sasuke gamblang.

Sulung Uchiha yang tepat berada di samping Ino berusaha menyadarkan gadis itu dengan cara menyenggol Ino dengan sikunya. Dan hasilnya, Ino sadar dengan tingkah kikuknya.

"Ah, ya. Aku Yamanaka Ino. Senang bertemu denganmu." Ucap Ino cepat.

"Bisakah kita berhenti berpura-pura tidak saling mengenal?" Sasuke menatap Ino tepat di matanya.

Sontak kalimat yang dilontarkan Sasuke membuat semua orang yang berada disana merasa terkejut. Yah, banyak kejutan di pertemuan kali ini, bukan?

.

.

.

.

.

"Ah, bibi memiliki sesuatu untukmu." Kata Mikoto tiba-tiba.

Setelah menyelesaikan makan malam dan juga acara minum teh tadi, Uchiha Mikoto memang sengaja mengajak Ino untuk ke ruangan yang memang khusus sebagai tempat mengobrol. Banyak yang mereka bicarakan berdua. Mulai dari bagaimana pertemuan Ino pertama kali dengan Itachi hingga bagaimana Ino bisa mengenal Sasuke.

Mikoto kembali ke ruangan tersebut dengan sebuah kotak berukuran kecil di tangannya. Ia tersenyum untuk kemudian membuka kotak tersebut dan mengeluarkan isinya yang merupakan sebuah gelang dengan hiasan yang sangat cantik.

"Ini pemberian Nenek Itachi. Bibi akan memberikannya pada kekasih pertama Itachi." Mikoto mencoba memakaikan gelang tersebut ke tangan kiri Ino.

"Ah, Bibi, tapi aku bukan kekasihnya." Ino berusaha mencegah Mikoto.

"Maksud Bibi, teman wanitanya." Mikoto tak mau kalah dengan niat awalnya.

"Tapi aku bukan temannya." Tambah Ino lagi.

Mikoto menyunggingkan senyum tipis mendengar ucapan Ino, "Kau bilang tadi kau temannya?" Goda Mikoto.

Ino menyadari sesuatu. Saat perkenalan tadi ia mengatakan bahwa ia adalah teman Itachi. Tak ada alasan untuk menolak kali ini.

Tak butuh waktu lama untuk gelang tersebut terpasang di pergelangan tangan kirinya dengan cantik. Sebenarnya Ino merasa tidak enak dengan pemberian tersebut. Tidak seharusnya ia menerimanya, bukan? Tapi harus bagaimana?

Sementara itu di ruang tamu, para pria Uchiha tengah menikmati teh mereka dengan santai. Tak ada percakapan disana karena ya, ketiganya tak pandai dalam hal obrolan.

"Aku baru ingat, interaksi antara diriku dan Ino bisa dibilang lebih dari sekedar teman." Ucap Sasuke.

Itachi langsung memberi tatapan terkejut sekaligus ada sedikit kilatan marah di mata abu-abu gelapnya. Bukan hanya panas karena ucapan adiknya barusan, Itachi sebenarnya telah menahannya sejak awal tadi.

"Sedikit santailah dengan tatapanmu itu, Itachi." Uchiha Sasuke sadar dengan tatapan mematikan yang dilemparkan sang kakak.

"Hmph." Itachi membuang muka seolah tak peduli.

.

.

.

.

.

Tatapannya lurus ke depan. Tak ada yang membuka suara satupun diantara keduanya. Bahkan sang gadis blonde yang biasa paling banyak bicara kini tak bersua sedikitpun.

"Jangan biarkan ragamu dikuasai oleh makhluk halus." Ujar Itachi.

"Eh?" Ino tersadar dari lamunannya karena ucapan Itachi.

Sejak beberapa menit yang lalu meninggalkan kediaman keluarga Uchiha, Ino terus berdiam diri seolah ada hal yang mengganggu pikirannya yang tak satupun orang pahami, mungkin.

"Ibumu sangat baik hati. Aku jadi berpikir, jika Ibuku masih ada di sisiku sekarang, aku yakin ia memiliki sifat yang sama seperti Ibumu." Aquamarine itu berkaca-kaca.

Itachi memberikan tatapan iba kepada Ino. Rupanya hal tersebut yang mengganjal di otak gadis cantik tersebut. Tak hidup bersama sang Ibu sejak usia enam tahun membuat Ino seolah melupakan sekaligus merindukan kasih sayang seorang Ibu.

Itachi menggenggam tangan Ino lembut. Memberi genggaman semangat kepada gadis Yamanaka itu. Ino mendapati tangannya yang di genggam Itachi, ia mengeluarkan ekspresi tak percaya.

"Ini hanya sebagai penyemangat." Jelas Itachi.

Ino tersenyum kecil menanggapi pernyataan Itachi yang mengungkapkan seolah dirinya akan terbawa perasaan lebih dengan gestur sentuhan itu.

Sesampainya di rumah Ino, tak lagi banyak percakapan sebelum Ino masuk ke rumahnya. Mungkin karena masih teringat denga endiang Ibunya, membuat Ino sedikit kurang bersemangat.

Sebelum Ino melangkah masuk ke dalam rumah, Itachi berujar, "Datanglah ke rumahku kapanpun kau mau." Membuat perasaan Ino bercampur aduk akibatnya.

Ino mengangguk kecil kemudian melangkah maju meninggalkan Itachi di belakang. Sulung Uchiha itu tersenyum lembut. Entahlah, dorongan darimana yang membuatnya dengan mudah mengatakan hal yang tak pernah ia ucapkan sebelumnya.

Ketika hendak membuka pintu mobilnya, sebuah mobil berhenti tepat di belakang. Itachi mengurungkan niatnya begitu melihat sang pengendara melangkah mendekat ke arahnya. Pemuda berambut merah yang entah dimana sepertinya pernah ia lihat sebelumnya. Pemuda itu berhenti tepat di depan Itachi.

"Siapa kau?"

.

.

.

.

.

-To Be Continued-

A/N :

Alohaa~~! Wah, apa kabar kalian? Sudah sekitar empat bulan ya fanfic ini aku biarkan ngangkrak(?) Wkwk XD Sorry banget teman-teman kalo selama ini aku enggak produktif di ffn huhu :"( Aku bukan sengaja kok jarang muncul disini. Cuma karena kemaren-kemaren aku cari kerja dan interview sana sini. Alhamdulillah aku udah kerja sekarang hehe :D Dan artinya aku akan lebih jarang muncul disini lol /ditendang/ Bahkan untuk sekedar berselancar di internet aja aku jarang banget dan bisa leluasa itu hari minggu doang yha :" And sangat mustahil buat aku nulis fanfic dalam waktu satu hari doang /wut/ Palingan bisa nulis satu hari oneshot doang dengan 1k words mentok haha. Hoi, kenapa jadi curhat yak?

Maaf banget ya kalo di akhir-akhir dari chapter ini plotnya rush banget karena aku maksain untuk bisa selesai dan publish hari ini. Yah, semoga masih bisa disukai dan tidak terlalu mengecewakan sih :") Makasih juga untuk semua review kalian yang manis manis. Alu sangat menghargainya. Terima kasih buat yang masih setia menunggu dan baca fanfic ini. Terima kasih banget pokoknya muach :*

Jika sudah membaca dan atau mungkin ada yang ingin ditanyakan, silakan tinggal sepatah dua patah kata di kolom review. Aku akan berusaha menjawabnya. Terima kasih :)

Psst, status aku masih semi hiatus ya, jadi untuk yang request, maaf belum bisa mengabulkan hehe /kabur/ XD

©Imelda Yolanda (UIniichan)