Tittle : LIFE
Cast : Cho Kyuhyun, Choi Minho, Shim Changmin, Choi Siwon, Kim Kibum, Lee Jonghyun, others.
Genre : Brothership and Family.
Warning : Typos, OOC, No Yaoi.
Chapter 6
Author POV
"Kyuhyun tidak masuk lagi?"
Suara Changmin menyapa Minho yang baru saja sampai di sekolah dengan memakai motor Kyuhyun seorang diri.
"Ia sakit." Jawab Minho singkat sambil menyampirkan helmnya di motor. Changmin membelalakan matanya mendengar jawaban Minho.
"Sakit apa? Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku?" Tanyanya panik.
"Dia mengeluh sakit pada bagian perutnya. Dan semalam sudah sangat larut, jadi aku tidak bisa memberi kabar padamu." Ucap Minho sambil melangkah menuju kelasnya.
"Aish alasan! Bocah itu selalu saja membuatku khawatir. Kenapa tidak membawanya ke rumah sakit? Itu jauh lebih baik." Saran Changmin.
PLETAK
"Kau itu sudah mengenal Kyuhyun berapa tahun, huh? Kyuhyun itu benci rumah sakit." Changmin mengelus kepalanya yang sakit, akibat jitakan dari seorang Minho.
"Tidak usah memukul bisa kan Min. Aku kan hanya khawatir padanya. Coba saja kau bicara baik-baik padanya, mungkin ia mau kalau hanya untuk sekedar check-up biasa."
Minho terdiam mendengar saran dari sahabatnya itu, ia berpikir tidak ada salahnya juga meminta Kyuhyun baik-baik untuk melakukan check-up. Toh itu juga demi kebaikannya kan.
"Ya! Kenapa diam?! Kau mengacuhkanku." Kesal Changmin.
"Tidak, hanya saja aku memikirkan perkataanmu tadi. Aku akan membujuknya."
Changmin tersenyum senang mendengarnya. Bagaimanapun Kyuhyun adalah seseorang yang sangat berarti bagi Minho, dan ia yakin Minho akan melakukan apapun demi Kyuhyun.
"Bagus. Ayo kita ke kelas." Ajak Changmin sambil merangkul bahu Minho.
….
Kyuhyun memandang langit-langit kamarnya dengan bosan. Dia yang seharusnya berada di sekolah hari ini, justru terbaring di tempat tidurnya.
"Hahh. Bosan!" Gerutunya sambil beranjak bangun dari tempat tidurnya. Sakit di perutnya sudah tidak terasa sakit seperti semalam, namun Minho tetap melarangnya untuk pergi ke sekolah. Dan sekarang ia harus merasakan kebosanan. Di rumah kontrakannya tidak ada hiburan apapun kecuali sebuah TV layar kecil dan ponsel miliknya.
Ingin rasanya berjalan keluar rumahnya dan menghirup nafas segar sesaat, namun perkataan Minho sebelum ia berangkat sekolah masih terngiang jelas di telinga Kyuhyun.
'Berani kau keluar dari rumah ini selangkah saja, aku akan langsung membawamu ke rumah sakit!'
Kyuhyun tidak habis pikir, kenapa dirinya harus menuruti perkataan Minho yang jelas-jelas tidak akan mengetahui apa yang ia kerjakan.
"Bodoh. Dia kan ada di sekolah." Gumamnya sambil menggelengkan kepalanya heran. Kyuhyun mengambil salah satu jaketnya yang tergantung untuk kemudian dipakainya. Pintu rumahnya ia biarkan terbuka, salah satu kebiasaan Kyuhyun yang tidak mau menutup pintunya tidak pernah hilang.
"Sudah lama tidak memutari daerah rumah." Gumamnya sambil mengeratkan jaket yang dipakainya.
"Aish." Kyuhyun harus memegang kepalanya yang terasa pusing, ia gelengkan berkali-kali untuk sekedar menghilangkan pusingnya sedikit. Ia memutuskan untuk berhenti berjalan-jalan dan pulang ke rumahnya, ternyata ia masih butuh istirahat. Sedikit menyesal mengabaikan perkataan Minho tadi pagi.
CKITT
Kyuhyun terlonjak kaget ketika sebuah van hitam tiba-tiba berhenti menghalangi jalannya. Semuanya terasa begitu cepat baginya, tanpa ia sadari ia sudah berada di dalam van tersebut dengan di apit oleh dua orang berpakaian layaknya bodyguard.
"Mau apa kalian?" Tanyanya berusaha keras. Ia tidak bisa banyak memberikan perlawanan mengingat kondisinya yang masih belum baik.
"Diamlah. Atau kami tidak akan segan menggunakan cara kasar."
Dan Kyuhyun benar-benar menyesali telah mengabaikan perintah Minho.
…..
Siwon memandangi sebuah kertas di tangannya dengan raut serius. Dahinya sering kali berkerut ketika membaca deretan-deretan huruf dan angka.
"Kau yakin kali ini kita akan mendapatkannya?" Tanyanya pada pegawai lain di hadapannya.
"80% kemungkinan kita yang akan mendapatkannya." Jawab pegawai tersebut.
"Batalkan." Tegas Siwon. Sang pegawai menatap atasannya dengan bingung.
"Maaf?" Tanyanya sungkan.
"Kubilang batalkan! Kita hanya bersaing dengan perusahaan Kibum, dan aku ingin kali ini dia yang mendapatkannya." Tegas Siwon.
"Ba..Baik Sajangnim." Sang pegawai pun keluar dari ruangan Siwon. Meninggalkan sang atasan yang memasang wajah yang tidak bisa diartikan.
"Hahh." Ia membuang nafasnya lelah. Pikirannya masih penuh dengan bagaimana ia membuat Kyuhyun mau mengakuinya sebagai kakak, setelah kemarin Kyuhyun menolak mentah-mentah untuk tinggal bersamanya. Ia tidak mungkin menggunakan cara kasar ke adiknya itu, ia cukup membuatnya terluka di masa lalu.
KRING KRING
"Ada apa?" Siwon bertanya dengan malas.
'Ini sudah lewat jam makan siang Sajangnim, anda ingin makan apa?' Tanya seseorang melalu telpon kantornya.
"Tidak. Terima kasih." Jawab Siwon sambil menutup telpon. Ia melirik sebentar ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan sangat lewat dari jam makan siang. Entahlah tapi ia sama sekali tidak mempunyai nafsu makan akhir-akhir ini.
DRRT DRRT
Siwon memandang ponselnya yang bergetar dengan datar, ia sungguh tidak ingin diganggu saat ini. Namun matanya membelalak ketika dilihatnya ID dari sang penelpon.
"Minho?" Gumamnya.
"Yobeos.."
'YA Choi Siwon! Kau bawa kemana adikku?!' Belum selesai Siwon berucap, sang lawan bicara telah memotongnya dengan kasar.
"Apa maksudmu Minho?" Tanyanya mencoba sabar. Tangannya yang bebas beralih memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit.
'Kyuhyun tidak ada di rumah. Kau yang membawanya kan?!' Siwon segera bangkit dari kursi kerjanya dan terlihat sangat kaget mendengar perkataan Minho.
"Kau serius? Baiklah, aku akan segera kesana. Kau jangan kemana-mana!" Tanpa menunggu jawaban Minho, Siwon langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak. Di ambilnya jas kerja yang terlampir di kursinya dan bergegas pergi menemui Minho.
"Batalkan semua jadwalku hari ini." Perintah Siwon ketika melewati meja sekretarisnya.
...
Minho memandang ponselnya dengan kesal. Seseorang yang baru saja ia hubungi dengan sepihak memutuskan panggilannya tanpa membiarkan ia berbicara.
"Bagaimana?" Tanya Changmin yang berada tepat di sebelahnya. Minho menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Dia juga kaget dan bilang akan segera kemari." Jawabnya.
Minho yang baru saja pulang dari kegiatan belajarnya dikagetkan dengan pintu rumahnya yang terbuka. Awalnya ia mencoba berpikir positif karena kyuhyun terbiasa tidak menutup pintu. Namun setelah ia masuk dan melihat ke arah kamarnya yang kosong, mau tidak mau membuatnya panik.
Setelah berputar ke seluruh wilayah rumahnya bersama Changmin yang sengaja ikut ke rumah Minho dan Kyuhyun, tetap saja tidak bisa menemukannya. Ponsel milik Kyuhyun pun tergeletak manis di samping tempat tidurnya.
"Kemana sebenarnya dia?"
Dan di sini mereka sekarang, kembali ke rumah setelah menyerah mengitari wilayah sekitar. Mereka yakin, Kyuhyun tidak akan pergi jauh seorang diri karena kondisinya pasca sakit. Minho berasumsi bahwa Siwon kembali membawa Kyuhyun ke rumahnya, namun mendengar reaksi dari Siwon membuatnya harus mengakui kalau Siwon tidak tahu menahu tentang hilangnya Kyuhyun.
"Telpon polisi saja, Min." Saran Changmin yang langsung mendapatkan death glare dari Minho.
"Kau ini bodoh atau apa sih, polisi tidak akan menerima laporan hilangnya seseorang sebelum 24 jam." Changmin mendengus sebal akibat diejek bodoh oleh sahabatnya sendiri. "Lalu bagaimana?" Tanyanya gusar.
"Aku juga tidak tahu. Kita tunggu saja sampai Choi Siwon itu datang." Jawab Minho sambil mengamati ponsel Kyuhyun yang kini berada di tangannya. Ia sudah mencoba menemukan petunjuk dari ponsel milik Kyuhyun, namun nihil.
"Apa kau sudah memberi tahu Kyuhyun tentang tantangan Jonghyun kemarin?" Changmin tiba-tiba teringat ucapan rival Kyuhyun di dunia balap liar itu saat di sekolahnya kemarin.
"Bisakah kau membicarakan yang lain? Yang lebih berguna agar kita bisa mendapatkan setidaknya petunjuk dimana Kyuhyun sekarang."
Beberapa saat mereka saling terdiam tidak ingin memulai pembicaraan. Minho saat ini dalam kondisi yang labil, ini sudah keberapa kalinya ia mengkhawatirkan Kyuhyun yang tiba-tiba terus menghilang. Apalagi sekarang Kyuhyun dalam keadaan sakit, Minho tidak bisa jika hanya diam saja. Bagaimana kalau pemuda yang sudah dianggap kakaknya itu terjadi sesuatu atau bagaimana kalau..
"Mungkinkah.." Gumam Minho. "Mungkin apa Min?" Tanya Changmin yang mendengar gumaman Kyuhyun.
"Kyuhyun, mungkin ia..."
"Changmin! Minho!"
Mereka yang merasa namanya terpanggil secara kompak menengok ke asal suara. Seorang pemuda yang baru saja mengunjungi kediaman Minho kemarin, kini tengah berjalan dengan tergesa memasuki rumah kecilnya.
"Ikut aku!" Perintahnya ketika telah berhadapan langsung dengan Changmin dan Minho.
"Cepatlah! Aku tahu di mana keberadaan Kyuhyun." Lanjutnya tegas ketika tidak ada reaksi berarti dari kedua orang di hadapannya.
Tanpa babibu lagi, Minho dan Changmin hampir berlari menyusul pemuda tersebut dan masuk ke dalam mobil mewahnya.
"Kau yakin tahu di mana keberadaan Kyuhyun?" Tanya Changmin ketika telah duduk di kursi belakang mobil mewah tersebut.
"Kim Kibum. Benarkan?" Kali ini Minho yang menjawab. Siwon –sang pemuda- tersebut mengangguk membenarkan Minho.
"Ah benar juga. Tidak terpikirkan olehku." Keluh Changmin. Tidak ada yang merespon keluhan Changmin. Baik Minho maupun Siwon lebih memilih memikirkan kondisi Kyuhyun.
...
"Sudah kuduga."
Kata pertama yang Kyuhyun keluarkan ketika dirinya telah sampai di sebuah rumah yang belum lama ini pernah terjamah olehnya. Matanya menatap tajam seseorang di hadapannya yang justru tengah memandang Kyuhyun dengan lembut.
"Apa yang harus kulakukan agar kalian tidak mengganggu hidupku. Berhentilah. Bersikaplah seperti dulu, seperti saat –saat kalian tidak menginginkanku." Ucap Kyuhyun pelan. Wajahnya terlihat pucat ketika berdiri di antara para pengawal Kibum, suaranya pun tidak bisa ia keluarkan sekeras biasanya.
"Bagaimana caranya agar kau mau memaafkanku, Kyu. Aku benar-benar menyesal dan ingin memilikimu lagi." Kibum berucap melas.
"Jawaban yang sama seperti pertanyaan 'Bisakah kalian mengembalikan kebahagiaan masa kecilku' dan kau tahu sendiri apa jawabannya, Kim Kibum." Sahut Kyuhyun tajam.
Kibum memberikan helaan nafas panjang mendengarnya, ia tidak tahu bagaimana lagi agar Kyuhyun mau mengakuinya sebagai Kakak.
"Aku minta maaf, Kyuhyun. Aku sungguh-sungguh menyesal." Minho masih terus berusaha membujuk Kyuhyun.
"Kembalikan masa kecilku, kembalikan kasih sayang yang harusnya aku dapatkan dari kedua kakakku 12 tahun yang lalu. Kembalikan aku pada masa itu dan setidaknya salah satu dari kalian menginginkanku. Kembalikan masa-masa itu. Kalau kau bisa, sebuah maaf adalah hal yang mudah untukku." Kyuhyun berkata tenang. Tidak ia hiraukan rasa sakit yang mulai melanda perutnya lagi, ia begitu marah saat ini.
"Bawa dia ke kamar." Perintah Kibum yang langsung mendapat respon kaget dari Kyuhyun.
"A...Apa maksudmu? Ya! Lepas!" Kyuhyun terus meronta di antara cengkraman kuat para pengawal yang terus saja menggiringnya paksa menuju sebuah kamar. Ia tidak bisa berbuat banyak karena kondisi tubuhnya yang terasa semakin melemah.
CKLEK
Suara pintu terkunci dari luar ketika Kyuhyun sudah sampai di sebuah kamar yang dulu sempat ditempatinya selama semalam.
TOK TOK
"Ya! Buka pintunya! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" Kyuhyun berusaha berteriak sekeras mungkin, berharap orang yang membawanya bisa mendengar.
"Buka! Keluarkan aku dari sini. Kau tidak mempunyai hak atas semua ini." Suaranya melemah seiring ia merasakan sakit kembali di daerah perutnya. Tubuhnya terduduk lemas bersandar pada pintu yang sedari tadi ia pukul. Dia tahu semua yang dilakukannya akan berakhir sia-sia, sekeras apapun teriakannya, sekencang apapun pukulannya tidak akan membuat Kibum membuka pintunya. Namun Kyuhyun hanya ingin mengutarakan kekesalan dan kemarahannya pada pemuda yang lebih tua 8 tahun darinya itu.
"Haruskah aku menyerah?" Gumamnya pelan sambil terus mengelus perutnya guna mengurangi rasa sakitnya.
Perlahan ia menggeser letak duduknya dari bersandar di pintu menjadi bersandar pada tembok di sampingnya. Ia luruskan kakinya dan mulai memejamkan mata, tangannya masih sibuk memegangi perutnya dan tanpa terasa ia mulai merasakan gelap menyergap.
...
"Dia tidak bisa bertanding malam ini?!"
Suara Jonghyun menggema di sebuah gudang tua tempatnya berkumpul bersama teman-temannya.
"Dia sakit. Hari ini saja ia tidak masuk sekolah." Sahut seorang temannya. Jonghyun menggertakkan giginya keras, entah kenapa tapi ia merasa marah saat ini.
"Hey, tenanglah. Bukankah itu lebih baik, jadi kau bisa mencoba track dan bisa menguasai track?" seorang temannya yang lain mencoba menenangkan.
"Ah benar juga. Akan lebih memudahkanku untuk mengalahkannya. Kali ini aku yang akan menang." Ucapnya sambil menyeringai senang.
"Kapan kau berhenti punya obsesi untuk mengalahkannya? Tidakkah kau merasa malu karena selalu kalah saat bertanding dengannya."
BUAGHH
Tepat setelah salah seorang temannya menyelesaikan kalimatnya, sebuah tendangan keras bersarang di perutnya. Hingga membuatnya terjatuh ke tanah dan merasakan mual pada perutnya.
"AKU TIDAK AKAN BERHENTI SAMPAI AKU MEREBUT KEMENANGAN DARINYA!" Sembur Jonghyun tepat di depan wajah sang korban.
"Kau hanya cukup diam dan turuti semua perintahku." Ucapnya dingin.
...
"Kim Kibum! Ya! Kim Kibum!"
Rumah yang sebelumnya terlihat tenang dan sunyi, kini ternodai oleh teriakan nyaring dari shim Changmin. Tidak diperdulikan para bodyguard yang berusaha mencegahnya untuk masuk lebih dalam, ia terus saja meneriakkan nama sang pemilik rumah.
"Changmin tenanglah." Ucap Minho yang ikut serta bersamanya.
"Panggilkan Kibum." Perintah seorang lainnya yaitu Siwon pada salah satu penjaga rumah adiknya tersebut.
"Kalian bisa kulaporkan polisi karena membuat keributan di rumahku."
Sebuah suara dingin dan datar tiba-tiba menyeruak di pendengaran ketiganya. Changmin memandang tajam ke arah Kibum, Siwon yang menunjukkan pandangan rindu yang membuncah sementara Minho yang memandangngya sambil tersenyum tulus. Sang pemilik rumah –Kibum- datang dengan kaos simple dan celana panjang jeans ketat yang membungkus kakinya, tidak lupa dengan wajah tanpa expressinya.
"Dimana Kyuhyun?!" Tanya Changmin kasar.
"Apa maksudmu?" Kibum balik bertanya dengan tenang.
"Aku tahu kau yang membawa Kyuhyun kan? Sekarang dimana dia?" Kibum tersenyum meremehkan mendengar pertanyaan Changmin. "Apa buktinya?" Tanyanya sambil memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana jeansnya. Changmin menggeram kesal mendengar penuturan Kibum, menurutnya Kibum sengaja bertingkah layaknya seorang aktor papan atas.
"Chang, tenanglah." Ucap Kibum sambil mengelus bahu Changmin pelan.
"Kibum."
Gumam Siwon. Ia perlahan mendekatkan dirinya pada sosok yang berstatus sebagai adik pertamanya itu. Sebuah tatapan penuh kerinduan ia perlihatkan, tidak perduli dengan tatapan kebencian yang justru Kibum tunjukkan padanya.
"A..Aku.."
"Jangan katakan hal apapun Choi Siwon." Potong Kibum sebelum Siwon menyelesaikan ucapannya.
"Bertingkahlah seperti kita tidak mengenal satu sama lain." Lanjutnya dingin. Siwon memandang kecewa ke Kibum, ia marah pada dirinya sendiri kenapa dua orang yang seharusnya menjadi bagian dari keluarganya harus membencinya seperti ini. Ia merasa gagal menjadi kakak tertua dalam keluarganya.
"Kau yang bernama Kim Kibum?" Minho membuka suara. Kibum menatap Minho dan menganggukkan kepalanya sekali. Minho yang melihatnya langsung tersenyum ke arah Kibum.
"Aku Choi Minho." Ucapnya memperkenalkan diri. "Bisa kau beritahu dimana Kyuhyun?" Lanjutnya bertanya.
"Dia bukan bagian dari keluargamu. Untuk apa kau mencarinya." Changmin yang mendengar jawaban dari Kibum berniat akan menghajar pemuda tersebut sampai sebuah tangan berhasil mencegahnya.
"Aku memang bukan keluarga Kyuhyun. Tapi aku sudah menganggapnya sebagai kakakku." Ucap Minho sambil melepaskan pegangan tangannya pada Changmin.
"Aku hanya ingin tahu keadaannya. Kalau ia bahagia bersamamu, maka aku akan melepaskannya. Tapi tolong beritahu aku keadaanya sekarang." Kedua mata Minho kini sudah penuh dengan air yang bisa jatuh kapanpun.
"Dia bersamaku. Kurasa dia baik-baik saja." Jawab Kibum acuh.
"Benarkah? Bisakah aku bertemu dengannya? Hanya untuk memastikan." Mohon Minho.
"Min, jangan rendahkan dirimu." Ucap Changmin gusar.
"Bukankah sudah kubilang ia baik-baik saja. Jadi kau tidak perlu menemuinya." Siwon menghela nafas panjang mendengar penolakan Kibum. Sepertinya Kibum belum mengerti ucapan Minho.
"Di..Dia sakit. Aku han..ya ingin me..mastikan." Kibum membelalakkan matanya mendengar gumaman Minho. Seingatnya Kyuhyun tadi sama sekali tidak terlihat sakit.
Tanpa aba-aba Kibum langsung berlari menuju tempat di mana Kyuhyun diseret secara paksa tadi.
"Buka pintunya!" Perintah Kibum pada seorang bodyguard yang bertugas menjaga kamar Kyuhyun. Siwon, Minho dan Changmin yang langsung mengikuti Kibum menatap tidak percaya pada Kibum yang menurut mereka sudah keterlaluan.
"Kyuhyun!" Teriak Kibum ketika pintu terbuka. Matanya menjelajah isi ruangan kamar, namun ia tidak menemukan Kyuhyun di pandangannya.
"Kyu.." Minho yang pertama menyadari bahwa Kyuhyun tengah bersandar pada tembok di samping pintu kamar dengan mata yang tertutup sempurna, sementara tangannya masih bertengger manis di perutnya. Ditepuknya perlahan pipi Kyuhyun guna meyakinkan Minho kalau Kyuhyun hanya tertidur. Wajahnya sangat pucat dan nafasnya terdengar tersengal, Kyuhyun tidak lebihnya seperti orang yang sekarat saat ini.
"Kyu.. Jawab aku. Aku mohon." Minho masih terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa Kyuhyun hanya tertidur. Namun seberapa besar usahanya untuk meyakinkan dirinya sendiri, semakin ia sadar kalau pemuda yang hanya beberapa bulan lebih tua darinya ini tidak hanya sekedar tertidur.
"Minggir!" Siwon segera mengambil alih posisi Minho dan menyebabkan Minho sedikit kehilangan keseimbangan. Dengan mudah Siwon segera mengangkat Kyuhyun dan menggendongnya di punggung. Tanpa mengindahkan Minho yang masih shock dan Kibum yang hanya melihatnya dengan pandangan kosong, Siwon langsung membawa adik bungsunya itu keluar dari rumah Kibum.
"Kyu.. Di..a baik-baik saja kan?" Gumam Minho tidak jelas. Wajahnya sudah penuh dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari kedua matanya.
"Dia pasti akan baik-baik saja. Ayo kita susul Siwon." Changmin dengan perlahan menarik Minho berdiri dan memapahnya keluar dari kediaman Kibum. Minho tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat, untuk pertama kalinya ia melihat Kyuhyun dengan kondisi pingsan seperti itu. Hal itu membuatnya takut dan merasa bersalah dalam waktu bersamaan, ia merasa telah gagal menjaga Kyuhyun.
...
Minho, Changmin, Siwon dan Kibum kompak duduk bersebelahan di depan ruangan yang bertuliskan ICU di depan mereka. Tidak ada perbincangan yanh terjadi di antara keempatnya, hanya helaan nafas yang terdengar dari masing-masing mulut mereka.
Minho sibuk menangkupkan kedua tangannya dan tidak berhenti mengucapkan kata doa dari bibirnya. Changmin yang berada di sebelahnya hanya bisa memandang pintu ruangan di hadapannya dengan intens, berharap setidaknya seorang dokter keluar dari ruangan tersebut secepat mungkin.
Siwon masih sibuk memandangi wajah adik pertamanya dengan intens dan tersenyum tipis. Ia begitu merindukan Kibum sama seperti Kyuhyun. Walaupun intensitas pertemuan keduanya bisa dibilang sering, namun pertemuan tersebut tidak pernah berlangsung hangat. Hanya pandangan dingin dan aura persaingan yang selalu tercipta. Dan kali ini Siwon baru menyadari bahwa ia sangat merindukan sifat Kibum yang seperti dulu, walaupun terkesan tidak perduli namun jauh di hatinya ia adalah seorang yang sangat peduli.
"Kibum." Sang pemilik nama menengok ke arah Siwon. "Kita bicara sebentar." Lanjut Siwon sambil mengulurkan tangannya ke arah Kibum. Kibum hanya memandang datar ke arah Siwon dan tanpa menyambut tangan Siwon, Kibum langsung berdiri berjalan mendahului sang kakak. Menangkap sinyal bagus dari sang adik, Siwon langsung mengikuti Kibum dari belakang meninggalkan Minho dan Changmin yang memandang kedua kakak adik itu bingung.
"Bummie tunggu!" Sontak Kibum langsung menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Siwon.
"Jangan pernah memanggilku seperti itu, Choi Siwon." Ucap Kibum datar. Siwon perlahan mendekatkan dirinya pada Kibum.
"Tidak bisakah kita seperti dulu? Aku minta maaf padamu kalau aku bersalah. Tapi aku bersumpah kalau Appa dan aku sama sekali tidak merencanakan pembunuhan pada Eomma. Aku juga kehilangan Appa, Kibum. Dan itu sama sekali tidak menyenangkan." Siwon berkata lembut sambil memegang bahu adiknya tersebut. Perlahan tatapan dingin Kibum berubah melembut walau sedikit.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?!" Sebuah suara menginterupsi perbincangan Siwon dan Kibum. Suara changmin yang berada tidak jauh darinya terdengar sangat keras. Tanpa memperdulikan tentang pembicaraan mereka, kedua kakak adik itu langsung berlari mendekati Dokter.
"Pasien menderita penyakit radang usus. Beruntung masih dalam tahap yang tidak berbahaya. Namun sebaiknya ia jangan banyak melakukan hal yang berat dan memikirkan sesuatu yang berat pula." Jelas sang dokter pada keempat pemuda di hadapannya.
"Pasien juga mengalami stress ringan dan sepertinya banyak hal yag dipikirkan olehnya. Saya berharap di usianya yang masih sangat muda, ia bisa menikmati masa-masa mudanya tanpa tekanan. Pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan dan kalian bisa menungguinya di sana." Sang dokter langsung meninggalkan mereka setelah Minho mengucapkan terima kasih dan membungkukkan badan.
"Nah, sekarang kalian paham kan? Kyuhyun tidak pernah mengalami stress sebelum bertemu kalian berdua." Changmin menunjuk ke arah Siwon dan Kibum yang sibuk menundukkan kepala mereka. Sementara Minho mengacak rambutnya kasar, ia tidak tahu kalau Kyuhyun sampai memikirkan masalahnya sejauh ini.
"Aku akan urus administrasi." Ucap Minho sambil berlalu meninggalkan yang lainnya.
"Kibum, bisakah kita memulainya kembali?" Ucap Siwon. Kini ia telah mendongakkan kepalanya dan menatap dalam ke mata Kibum yang juga sedang menatapnya.
"Demi Kyuhyun. Bukan untuk kita. Aku mohon jangan buat Kyuhyun sulit. Kita perbaiki semuanya dengan perlahan." Lanjutnya. Kibum tidak bisa berkata apapun, untuk pertama kalinya Siwon melihat air mata deras mengaliri pipi adiknya tersebut.
"Kita harus mengerti bagaimana perasaan Kyuhyun saat ini. Terlalu sulit untuknya ketika tiba-tiba kita muncul di hidupnya dan menginginkannya untuk melupakan yang terjadi di masa lalu." Siwon tidak dapat menahan air yang sedari tadi bertumpuk di kedua matanya. Namun seulas senyum kini bertengger di bibirnya tatkala Kibum menggerakkan kepalanya ke bawah dan atas secara bergantian.
"Terima kasih." Ucap Siwon sambil memeluk Kibum. Walaupun tidak membalas pelukan Siwon, namun Kibum juga tidak melepaskannya.
"Aku merindukanmu, Bummie." Gumam Siwon di sela-sela pelukannya.
"Aku juga.. Siwon hyung."
...
Seorang namja tinggi nan tampan baru saja memasuki rumah mewahnya dengan santai. Tidak ia perdulikan baju seragamnya yang sudah keluar dari celananya dan tas ia selampirkan sembarang di bahunya. Ia terus berjalan menuju satu-satunya tempat ia bisa beristirahat dengan tenang dan tempat yang sangat berguna untuknya melepas lelah, kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 ketika ia sampai di dalam kamarnya. Dilemparkan tas yang sedari tadi bertengger di bahunya dan langsung menuju kamar mandi yang terletak di dalam. Mandi adalah satu-satunya jalan untuk menghilangkan bau keringat yang menyengat dan dapat menyegarkan badannya kembali.
Setelah membersihkan diri dan kembali merasa segar, kini perutnya yang berteriak meminta sesuatu. Tanpa menunggu lama, Changmin langsung menuju dapur dan melihat apakah ada makanan di meja makan rumahnya. Dan bibirnya mengembangkan senyum saat ia melihat masih terdapat nasi dan beberapa lauk pauk di meja makan.
"Sebaiknya kau pergi ke dokter untuk check-up." Samar-samar Changmin mendengar suara berat khas laki-laki yang sedikit mengganggu kegiatan makan malamnya.
"Tidak apa. Aku tidak ingin kau dan Changmin repot karenaku." Kini sebuah suara lembut yang telah melahirkannya yang terdengar. Awalnya Changmin tidak terlalu perduli, namun karena namanya juga terdengar di telinganya mau tidak mau membuat Changmin sedikit menajamkan pendengarannya.
"Tidak akan ada yang repot, aku tidak mau kalau semua terlambat." Suara berat pria yang Changmin ketahui milik ayahnya terdengar.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Lebih baik kita segera membersihkan diri dan tidur. Aku sudah sangat lelah." Dan itu adalah suara wanita terakhir yang Changmin dengar sebelum terdengar bunyi sebuah pintu dibuka dan ditutup kembali.
Entah mengapa tapi secara tiba-tiba nafsu makan Changmin langsung hilang setelah mendengar percakapan kedua orang tuanya. Hatinya bergemuruh panik dan perasaannya berharap kalau kali ini ia salah mendengar karena telinganya sedikit bermasalah.
"Aku pasti salah dengar." Gumam Changmin sambil meninggalkan meja makan dan bergegas menuju kamarnya. Ia ingin sekali mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah saat ini.
Namun sepertinya ini diluar dugaan Changmin. Dirinya ternyata mengalami susah tidur akibat berbagai macam pikiran yang menggelayuti otaknya. Masalah sahabatnya yang kini tengah terbaring lemah di rumah sakit, sebenarnya Changmin ingin sekali menemani Kyuhyun malam ini, namun Minho bersikeras menyuruhnya untuk pulang.
Dan yang baru saja ia dengar pembicaraan kedua orang tuanya, mau tidak mau membuat Changmin juga memikirkannya. Ia hanya bisa membuat sugesti pada dirinya sendiri kalau ia salah dengar kala itu, namun ia juga tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa ia dengan jelas mendengar pembicaraan masalah kesehatan sang Ibu.
….
"Kau tidak sekolah hari ini, Minho-ssi?"
Suara husky dari mulut Siwon menghentikan kegiatan Minho yang tengah memandang wajah tidur Kyuhyun. Selama semalaman ia berada di samping ranjang tempat Kyuhyun berbaring, hanya sesekali ia memejamkan matanya untuk sekedar tidur.
"Aku ingin menjaganya." Gumam Minho sambil membenarkan letak selimut Kyuhyun. Selama semalaman pula ia tidak membiarkan Kibum dan Siwon duduk di samping ranjang Kyuhyun, ia tidak perduli kalau dirinya disebut egois atau tidak tahu diri. Yang dia paling inginkan saat ini adalah melihat Kyuhyun membuka mata di depannya.
"Eungh.." Minho membulatkan matanya ketika mendengar lenguhan dari bibir Kyuhyun.
"Min.." Gumam Kyuhyun berusaha menajamkan penglihatannya. Dirinya tersenyum ketika mendapati Minho berada di sampingnya.
"Kyu!" Kompak Kibum dan Siwon langsung menghampiri Kyuhyun di sisi ranjang Kyuhyun yang lain.
"Aku ti..dak di rumah?" Tanya Kyuhyun pada Minho. Minho menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kau ada di rumah sakit Kyu." Bukan Minho melainkan Siwon yang menjawab.
"Kenapa?" Tanya Kyuhyun masih memandang Minho. Ia sama sekali tidak mau menatap kedua hyungnya.
"Kau sakit Kyu. Radang usus dan stress ringan. Kenapa kau tidak pernah mau membagi kesusahanmu padaku Kyu?" Kyuhyun menghelas nafas panjang mendengar ucapan Minho.
"Maaf." Satu kata yang membuat Minho geram.
"Aku tidak butuh maaf. Aku hanya butuh kau mau terbuka padaku." Minho memandang Kyuhyun kecewa dan berdiri meninggalkan Kyuhyun.
"Min! Minho!" Kyuhyun berusaha turun dari ranjangnya, namun dua pasang tangan membuat usaha Kyuhyun gagal.
"Lepas! Biarkan aku menemui Minho!" Kyuhyun berusaha berontak dari kedua hyungnya.
"Kau baru sadar. Tidak boleh banyak bergerak. Nanti biar hyung yang berbicara pada Minho." Ucap Siwon menenangkan.
"Keluar! Keluar dari sini. Aku tidak ingin melihat kalian." Suara dingin Kyuhyun membuat kedua kakaknya sedih, dan dengan lesu mereka berdua meninggalkan Kyuhyun di kamar inapnya.
...
Updateee. Maaf ya lama lagi, koneksi internet lagi ga bersahabat selama seminggu ini. T_T
Chapter ini sedikit lebih panjang dari biasanya..hoho
Oiya Saengil Chukkae Hamnida To My Kyunnie
Semoga Kyu cepat-cepat melamar saya. *dikejarSparKyu*
Updatenya sedikit lama karena saya juga lagi bikin video project buat Kyu
Oke terima kasih buat yang review. Ditunggu reviewnya lagi ya.
Pai Pai ^^ *pergikeKUAbarengKyu*
