Naruto © Masashi Kishimoto
LIFE
Warning : Typo, EYD yang tidak tepat, tidak jelas, belibet, gak nyambung dan sebagainya.
Dibutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apapun, akan diterima dengan senang hati :)
Awal
Tokyo
Mobil Itachi yang tengah dikendarai oleh Kakashi mulai memasuki halaman mansion Uchiha. Terlihat oleh oniks Itachi dan Kakashi akan banyak kendaraan roda empat yang terpakir apik dihalaman mansion Uchiha tersebut. Dan Itachi tahu betul siapa pemilik mobil-mobil itu. Itachi Keluar dari dalam mobil bersama Kakashi dan melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam mansion setelah sebelumnya dua orang penjaga didepan mansion membungkuk hormat pada Itachi.
Membuka pintu utama lalu melangkahkan kaki masuk kedalam, yang ditemui Itachi hanyalah beberapa maid yang tengah membersihkan ruang tamu dan tengah membungkuk hormat padanya. "dimana mereka ?"
Salah satu maid yang mengerti maksud dari kata 'mereka' pada pertanyaan tuan mudanya itu langsung menjawab "diatas tuan" tanpa membalas jawaban yang diberikan maid tadi padanya Itachi langsung menuju ke atas lantai dua di mansion Uchiha ini diikuti Kakashi dibelakangnya. Bahkan ketika Itachi dan Kakashi masih berada di undakan tangga tengah mereka berdua mendengar suara tawa juga umpatan yang menyertakan nama gadisnya disana. Itachi menggelutukkan giginya dan kedua tangan dikanan kiri tubuhnya mengepal erat menandakan ia tengah menahan amarahnya yang siap meledak kapan saja.
Kakashi yang melihat tuan mudanya seperti itupun mencoba menyadarkannya untuk tetap tenang "anda harus tenang tuan muda, kita harus mengikuti rencana yang telah anda buat dan disepakati bersama" Itachi hanya melirik Kakashi sebentar lalu menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkan secara berlahan. Tanpa banyak bicara Itachi kembali melanjutkan langkahnya.
Dan ya, pemandangan yang tertangkap netra hitam milik Itachi itu membuat sang pemilik mual juga menjijikan secara bersamaan. Tak perlu diceritakan namun cukup diketahui saja ini sungguh memalukan bahkan kesepuluh orang yang membelakangi Itachi dan Kakashi yang berada didalam ruangan itu tidak merasakan hawa kehadiran mereka berdua yang terlihat mencekam dan menahan penuh emosi apalagi seorang Uchiha Itachi, tidak rela rumah dimana ia dilahirkan dijadikan tempat untuk berbuat pesta seks.
Melihat adanya guci di samping kakinya tanpa banyak bicara Itachi langsung menendang guci tersebut tepat menghantam televisi yang memperlihatkan film biru. Hancur sudah televisi itu beserta gucinya. Tindakkan Itachi itupun mengagetkan mereka semua hingga mereka menghentikan aktifitasnya termasuk dengan salah satu pemiliki rumah ini juga.
"hey apa yang ka.." ucapan Sasuke terhenti ketika ia berdiri dari duduknya dan melihat sang pelaku yang telah menghancurkan kesenangannya juga teman-temannya. Terkejut itulah yang dirasakannya. Teman-temannya merasa aneh dengan tingkah Sasuke langsung berdiri dan menoleh kebelakang. Tentu mereka tak kalah terkejut dengan apa yang mereka lihat sekarang. "kau.." lanjutnya dengan rahang mengeras dan penuh emosi ketika melihat sosok yang dulu sangat dikaguminya namun kini berbanding terbalik menjadi sosok yang dibencinya. Entah karena apa? hanya Sasuke sendiri yang tahu.
Tak memperdulikan ucapan Sasuke, Itachi berbalik untuk menuju kamarnya menenangkan diri juga emosinya saat ini, namun sebelum itu "kau tahu apa yang harus kau lakukan Kakashi" jeda sejenak "aku tak ingin rumah dimana aku dilahirkan menjadi tempat kotor yang dihuni bocah-bocah labil seperti mereka Kakashi" lanjut Itachi sarkastik.
"baik Itachi-sama saya mengerti" setelah mendengar jawaban dari Kakashi, Itachi melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti namun harus terhenti lagi setelah mendengar sebuah suara yang terdengar seperti geraman menahan emosi menghampiri pendengarannya.
"apa yang kau lakukan disini ? siapa yang kau maksud bocah-bocah labil ?"
Itachi hanya menyeringai miring lalu kembali melangkah memasuki kamarnya sebelum "apa selama 17 tahun kau hidup hanya ini yang bisa kau lakukan? menjijikan" kalimat itu keluar dari mulut Itachi dengan datar dan penuh tekanan juga sarkastikme lalu Itachi menutup pintu kamarnya.
Semua yang ada disana pun kaget, shock juga menahan malu segera merapikan kembali pakaian mereka kemudian menatap Sasuke yang wajahnya memerah penuh emosi dan kesal. Sasuke membalikan meja dan menghancurkan semua benda-benda yang ada diatas meja tersebut. Membuat semua orang yang berada disana membulatkan mata kaget atas kelakuan Uchiha bungsu itu termasuk Kakashi salah satunya.
"kurasa kalian semua harus pergi meninggalkan tempat ini kecuali anda tuan muda silahkan anda beristirahat hari menjelang malam"
Semua yang mendengar suara Kakashi menolehkan kepalanya untuk melihat kearah Kakashi berada. Mengernyit tidak suka dengan perkataan yang dilontarkan Kakashi. "siapa kau berani menyuruh kami ?" ujar salah satu dari mereka berambut kuning jabrik.
"ah, tentu saya bukan siapa-siapa. Saya hanya melakukan apa yang diperintahkan tuan muda Itachi-sama. Karena perintahnya adalah hal mutlak yang tidak boleh dibantah" kata Kakashi dengan senyuman diwajahnya, yah meskipun tak terlihat karena masker yang menutupi mulutnya namun dengan mata menyipit itu terbukti ia sedang tersenyum bukan.
Mereka pun menggertakan gigi tak suka tapi apa boleh buat mereka harus pergi jika tidak mereka habis nanti oleh Uchiha sulung yang sangat disegani di Jepang ini apalagi Tokyo sendiri. Sementara Sasuke sendiri melangkahkan kakinya meninggalkan Kakashi seorang diri bukan untuk menuju kekamarnya untuk istirahat malah memilih keluar rumah, melihat itu Kakashi hanya menghela nafas panjang atas kelakuan brengsek adik dari tuan mudanya.
Beberapa saat kemudian Kakashi memanggil beberapa maid untuk membereskan kekacauan ini dan melangkah menuju dimana tuan mudanya beristirahat.
Tok..tok..tokk
Tak menunggu lama Itachi membuka pintu kamarnya dan berhadapan dengan Kakashi. Sebenarnya Itachi masih berada dibalik pintu kamarnya sejak tadi. "bagaimana?" Tanya Itachi.
"mereka sudah pergi tuan, tapi Sasuke-sama keluar dari rumah ini"
"aku mengerti, suruh orang untuk mengikuti mereka semua Kakashi. Dan laporkan padaku besok untuk sekarang biarkan mereka bersenang senang sesuka hati mereka. Kita lihat apa mereka bisa bersenang senang esoknya" ujar Itachi dengan menyeringai licik jelas masih ada raut kemarahan dimuka Itachi "aku ingin istirahat Kakashi. Kau beristirahatlah diruang tamu" lanjutnya
Mendengar perintah tuannya Kakashi hanya mengangguk dan membungkuk untuk pergi dari hadapan tuan mudanya. Itachi sendiri kembali masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.
.
.
.
Itachi merebahkan dirinya diatas ranjangnya dengan posisi terlentang, ia tampak kacau sekarang. Pulang-pulang disuguhkan pemandangan menjijikan yang dilakukan seorang remaja yang baru memasuki fase remaja. Sungguh ini memang keterlaluan tingkah adik dan teman-temannya itu, apalagi melakukan hal tersebut dirumahnya saat tak ada siapapun disini, hanya ada beberapa maid saja. Itu pun mereka tak akan berani melarangnya.
Mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya lalu Itachi bangkit dari rebahannya setelah mengingat seseorang yang bisa mengembalikan moodnya kembali baik, ya hanya dia siapa lagi kalau bukan Akasuna Sakura. Gadis yang perlahan kembali ceria dan takut ditinggal olehnya itu membuatnya merasa kalau ia adalah hal berharga yang selalu ditunggu. Dan Itachi senang karena itu secara tidak langsung Sakura mengatakan kalau Itachi adalah sosok yang berharga untuk dirinya selain kakaknya. Terkekeh pelan Itachi kemudian mengambil ponsel disakunya lalu menghubungi Sakura. Sepertinya pembicaraan mereka akan lama dan mereka butuh privasi jadi sebaiknya kita tinggalkan saja dua sejoli yang baru beberapa bulan menjalin kasih itu.
.
.
.
Perempuan bersurai coklat kemerahan sepunggung, sedikit bergelombang dibagian bawah turun dari Porsche merahnya, kacamata hitam bertengger apik dihidung mancung ia lepas memperlihatkan sepasang mata rubi, ditambah bibir tipis merah alami juga tubuh proporsionalnya. Semua mata tercengang memandang kearahnya. Kagum dengan hasrat ingin memiliki yang begitu besar.
Langkah kaki jenjangnya melangkah dengan anggun tanpa terburu-buru karena ia menikmati setiap wajah yang dilewatinya. Wajah-wajah yang dulu tidak pernah memperdulikannya kini berbanding terbalik memuji dirinya. Seringai tipis terukir dibibir, ini akan sangat menyenangkan.
Pintu bertuliskan kepala sekolah ada didepan mata. Perempuan itu tersenyum kecil sebelum membuka pintu bercat coklat itu. Entah, apa yang membuatnya tersenyum hanya dengan melihat pintu. Pintu yang kapan saja bisa hancur, saat dibakar maupun dipatahkan menggunakan alat.
"Tsunade-sama"
Wanita yang dipanggil Tsunade menatap pintu masuk, sejenak ia mengernyit lalu tersenyum saat mengingat sesuatu. "aa, kau murid baru itu?" sang lawan bicara mengangguk dan duduk manis didepan wanita yang kira-kira berusia 45 tahun lebih namun terlihat awet muda. "aku tidak tau, kenapa diawal tahun ajaran baru kenaikan kelas kau lebih memilih untuk pindah sekolah. Bukankah itu sangat disayangkan" raut penasaran tercetak diwajah wanita itu.
"bukan apa-apa, hanya saja…" seringai tecetak diwajah murid baru membuat Tsunade terkesiap "..ada urusan yang harus aku selesaikan"
Tsunade menggelengkan kepalanya "aku tidak tahu apa urusan yang belum kau selesaikan dan aku tidak ingin tahu" wanita itu membuka berkas dalam map berwarna hijau didepannya "jadi.. namamu Akasuna Saki nona.. kau akan berada dikelas XII- 1 dengan wali kelas Sarutobi Asuma, sebentar lagi ia akan kemari" dan benar saja, sesaat saat sudah selesai berbicara pintu ruang kepala sekolah terbuka.
"maaf, Tsunade sama. Apa anda memanggil saya?" pria tegap bersurai hitam berdiri didepan kepala sekolah dengan salah satu tangan disakunya.
"kau kedatangan murid baru Asuma, namanya Akasuna Saki" Saki berdiri dari duduknya dan menatap wali kelas barunya sejenak sebelum kembali teralih pada Tsunade. "bel sudah berbunyi lima menit yang lalu sekarang bawa dia kekelasnya" pria bernama Asuma menganggukan kepalanya.
"baiklah, aku Sarutobi Asuma wali kelas barumu" Asuma menatap Saki, ia cukup kagum dengan murid barunya itu meski tidak menanggapi perkenalannya. "baiklah Tsunade-sama, kita pergi"
Langkah kaki berbeda gender dan berbeda umur melangkah dalam keheningan. Koridor sekolah sudah sepi. Hanya angin yang menemani langkah mereka membuat rambut berterbangan sesuai arah angin dan juga aroma sejuk pagi yang menenangkan.
"apa kau gugup?"
Saki melirik wali kelasnya, "tidak juga" bohong, sejujurnya ia sangat gugup.
"baiklah, berbaurlah dengan mereka"
Mereka sampai ditempat tujuan, Asuma membuka pintu dan meminta Saki untuk menunggu diluar.
'semuanya akan berawal disini dan akan berakhir ditempat ini. segala rasa sakit yang aku terima, akan mereka terima juga sebentar lagi. Bukan fisik namun..'
"Saki masuklah, perkenalkan dirimu"
'…kita lihat saja nanti'
.
.
.
Suasana ruangan kelas XII-1, terdengar suara dari sana sini. Asuma memasuki kelas dan menyuruh semua murid disana untuk diam. "kita kedatangan murid baru,?"
"murid baru, perempuan atau laki-laki sensei?" Tanya anak laki-laki bersurai coklat dan memiliki dua gigi runcing seperti taring.
"kalian lihat saja sendiri, masuklah" tanpa menjawab pertanyaan dari muridnya Asuma memanggil murid baru untuk masuk kedalam kelas dan memperkenalkan diri.
Beberapa laki-laki menahan nafas, melihat sosok yang kini berdiri didepan kelas. Ada yang masih dalam posisi datar, ada juga yang sok gak perduli padahal perduli. Dan lihat para perempuan yang menatap iri sosok itu.
"Akasuna Saki, salam kenal" senyum terpampang diwajah cantiknya, bukan senyum tulus yang terpampang melainkan senyum dengan sejuta arti. Pasalnya ia bahagia, kembali bertemu orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya. Lihat mereka sekarang, terlihat kecil dimatanya 'masuklah dalam satu lingkaran tali yang ku buat, aku akan menarik tali itu secara perlahan sampai kalian terjerat dan susah bernafas. Oke I'm back' batinnya.
"huaa.. kireeii.. perkenalkan aku Uzumaki Naruto, kau bisa memanggilku Naruto. Apa kau sudah memilki kekasih, kalau tidak kau bisa menjadi kekasihku dan kita akan habiskan waktu indah berdua" sorak-sorakan terdengar, menyoraki Naruto dengan jurus-jurus rayuannya.
"cukup, Akasuna-san silahkan duduk disamping Kirui-san, Kirui-san angkat tanganmu" Saki tahu, ia sangat tahu. Gadis yang bernama Kirui itu adalah teman sebangkunya, sama seperti dirinya dulu tidak ada yang mau berteman dengannya sampai-sampai ia harus duduk sendirian dalam diam. Teman sebangkunya dulu dan kini, ia akan kembali duduk sebangku dengan gadis bernama Kirui lagi. Bukan menjadi Haruno Sakura tetapi Akasuna Saki.
kaki jenjang Saki melangkah menuju bangku yang ditunjuk untuknya, ia tidak memperdulikan tatapan tajam atau tatapan apapun dari siapapun termasuk mata hitam oniks dipojok ruangan yang sedari tadi juga memperhatikannya. Senyum tipis ia torehkan untuk Kirui yang dibalas dengan wajah menunduk. Tidak berani menatap dirinya.
.
.
.
Waktu istirahat telah tiba, Saki lebih keluar dari kelas. Sungguh ia tak suka keadaan ini, kembali ditempat yang sama dan bertemu orang-orang yang sama juga. Ponsel yang sedari tadi dalam tasnya, terus menerus bergetar bahkan disaat pertama kali ia kembali menjejakkan kaki disekolah ini. ia sudah menduga, ini pasti ulah kakaknya yang terlalu mengkhawatirkan dirinya.
Duduk dibawah pohon rindang, bersandar disana. Meraih ponsel di saku dadanya saat benda persegi panjang itu kembali bergetar. Dan benar, sesuai perkiraan nama Akasuna Sasori terpampang disana.. "ck nii-chan" gumamnya.
"hallo nii-chan"
"Saki, bagaimana? Apa mereka mengganggumu. Apa mereka melukaimu? Kau baik-baik saja bukan? Saki, Saki jawab pertanyaanku apa kau baik-baik saja?" ternyata Akasuna Sasori saat dalam mode khawatir lebih cerewet dibanding kebiasaannya. Padahal dirinya kembali kesekolah ini juga atas rencana pemuda merah itu bersama teman-temannya.
"aku baik-baik saja nii-chan, kau tak perlu khawatir. Nii-chan sudah dulu ya.. ada yang harus aku urus" Sakura mematikan telponnya secara sepihak ketika matanya menangkap seorang perempuan tengah dikeroyok tiga orang perempuan. Mengingatkannya akan dirinya dimasa lalu. Buku, kacamata tebal dan rambut kepang satu yang menjadi korban pembullyan.
Flashback on..
Perempuan merah mudah sedang duduk diatas rumput sendirian. Tidak ada yang menemaninya, ia hanya sendiri, duduk bersila dengan buku dipangkuannya dan kaca mata tebal yang setia bertengger dihidungnya juga rambut yang selalu dikepang satu kebelakang.
"lihat, siapa disini? Perempuan nerd yang menjijikan" sebuah suara feminim memasuki pendengarannya namun gadis itu tetap berusaha untuk tidak perduli didibalik rasa takutya. "hei kau apa kau tidak mendengarku, aku berbicara padamu nerd" seorang perempuan pirang pucat berdiri didepannya bersama dua orang lainnya.
Secara tiba-tiba gadis itu dipaksa berdiri hingga menjatuhkan buku dipangkuaannya. Cengkraman kuat ia rasakan pada pergelangan tangannya. Sakit, "a-aku mo-mohon le-paskan a-kku?" suara permohon lirih itu tak didengar, yang didapat malah semakin kuat cengkreman tersebut bercampur kuku yang menusuk kulit.
"ini salahmu, tidak mendengarku saat aku sedang berbicara padamu. Kalian cepat lakukan" perintah perempuan pirang itu pada dua orang yang sedari tadi diam menyaksikan. Keduanya mendekat dan pluk.. pecahan telur itu mengalir dari atas wajahnya berikutnya tepung lalu air. Si pirang menghempaskan tubuh ringkih perempuan merah mudah dan ikut melempari tiga benda itu bersama teman-temannya. Benda yang perempuan merah mudah itu sendiri tidak sadar jika mereka bertiga membawanya.
"hahaha, liha nerd kau semakin menjijikan"
"kau benar Shion, dia memang menjijikan, perempuan menjijikan sepertinya berani sekali mendekati Sasuke-kun kita. Apapun yang dibenci Sasuke-kun berarti kita benci dan kita hancurkan" tawa-tawa itu semakin lebar dank eras. Sosok merah mudah itu meremas rumput dengan keras. Airmatanya tak berhenti mengalir. Dadanya terasa sakit, sangat sakit sekali. Apalagi mendengar nama laki-laki yang disukainya membenci dirinya.
"aahh" jambakan pada rambut sangat kuat diterimanya hingga ia merintih kesakitan, tubuhnya seakan lemah hanya untuk sekedar melawan.
"dengar, perempuan sepertimu adalah sampah yang tidak berguna didunia ini dan pantas dimusnahkan"
Flashback end
"hahaha lihat dirimu Ryuu , sangat menjijikan. Dengarkan, perempuan sepertimu adalah sampah yang tidak berguna didunia ini dan pantas dimusnahkan. Hahaha"
'dengar, perempuan sepertimu adalah sampah yang tidak berguna didunia ini dan pantas dimusnahkan'
'dengar, perempuan sepertimu adalah sampah yang tidak berguna didunia ini dan pantas dimusnahkan'
'dengar, perempuan sepertimu adalah sampah yang tidak berguna didunia ini dan pantas dimusnahkan'
Mata sakura membulat, tubuhnya bergetar. kata-kata itu, kata-kata yang pernah didengarnya juga dari orang berbeda. Tidak, ini tidak bisa terjadi. Ini tidak boleh dilakukan. Apa yang dilihatnya itu tidak benar. Tanpa terasa air matanya mengalir.
"HENTIKAN"
.
.
.
TBC..
Chapter depan mungkin akan update lama, entah berapa lama aku kurang tahu pasti. Maaf yaa.. terimah kasih yang baca, review, follow maupun fav. Ku harap ada yang masih mau membacanya, maaf jika kurang sesuai dan kurang memuaskan.. Sakura tidak mempunyai teman di Paris, aku buat seperti itu. Tidak ada hubungan pertemanan disana, yang ada hubungan pertemanan hanya bersama teman-teman Sasori itu saja, terimah kasih :) . maaf kali ini aku tidak membalas review satu persatu, tapi aku membacanya kok :)
see next chapter.. tunggu ya.. :)
