DISCLAIMER I don't own Fairy Tail and its character. The song below (title: Wasted) belongs to Carrie Underwood.

PREVIOUSLY

Natsu berdeham. "Erza Scarlet." Ketegasan terdengar jelas dari suaranya. "I love you. Would you like to be my first ever and hopefully my last girlfriend?"

Tik tok tik tok. Waktu pasti terasa lama bagi Natsu. Suasana dalam bus sehening kuburan. Dia lalu berkata, "If you love me, say yes."


CHAPTER 7

Entah ini kesialan atau keberuntungan, tiba-tiba bus berhenti. Aku menyibakkan tirai jendela di samping Mira dan melihat keluar. Kami sudah sampai di lokasi lomba, Universitas Fiore.

Erza memberi isyarat untuk Natsu supaya minggir. Dia menarik tangan Levy dan menuruni anak-anak tangga di pintu bus. Ms. Elise dan Ms. Claudia tampaknya sudah turun. Mereka memanggil anak-anak untuk segera keluar dari bus juga.

Natsu mengikuti Erza dan meneriakkan namanya. "Kau belum menjawab pertanyaanku." Natsu kelihatan sebal diabaikan―'dikacangi'―Erza.

Erza menoleh ke arah cowok berambut pink itu ketika anak-anak lain mulai melangkah turun dari bus. "Berikan aku kue itu baru aku kasih jawabannya." Natsu menyerahkan kue berlapis krim stroberi kesukaan Erza dan memberinya tatapan berharap.

Dengan ragu-ragu Erza memakan kue itu sedikit demi sedikit. Aku tahu dia sedang digerogoti perasaan bersalah sekarang karena mengkhianati dietnya. Tapi Erza tidak pernah sanggup menolak rayuan kue krim stroberi, terutama setelah hampir dua minggu tidak memakan―bahkan tidak melihat―kue semacam itu, pasti seakan-akan kue krim stroberi itu menjerit, "Ayo makan aku!" Lumayan bagus tadi dia berhasil menahan hasrat makan kuenya untuk sementara, meski usahanya selama dua minggu belakangan ini sia-sia. Tiba-tiba aku mengerti kenapa muka Erza agak memerah tadi di bus.

Ms. Elise, Ms. Claudia, dan Jellal sedang mengambil kartu peserta untuk kami. Jellal meneriakkan nama kami satu per satu sambil menyerahkan kartu peserta, sementara Ms. Claudia mengabsen.

Universitas ini lumayan hijau. Aku melihat pepohonan mencuat di kiri-kanan jalan menuju fakultas kesenian. Di tengah senandungan Mira, aku mendengar kicauan burung yang sangat merdu, hampir membaur dengan suara Mira. Di asrama belum pernah ada burung yang berkicau seindah itu sebelumnya.

Sialnya wajah muram Natsu benar-benar merusak suasana damai ini. Aku basa-basi berpura-pura tidak tahu, "Apa yang terjadi denganmu?" Setelah dipikir-pikir, pertanyaan ini terdengar konyol mengingat aku duduk tepat di kiri Erza waktu di bus tadi.

Natsu menjawab sambil melemparkan pandangannya ke atas, "Erza baru jawab minggu depan. Yang tadi di bus itu."

Aku mengangguk seolah-olah bersimpati.

Lalu aku melihat seringai Natsu melebar dan dia berkata bangga, "At least she blushed! Aku baru saja memecahkan rekor Erza yang terkenal tidak pernah bereaksi pada cowok, sampai-sampai ada rumor kalau Erza itu lesbian. Tapi sekarang terbukti salah kan."

Aku tertawa―jenis tertawa yang membuat orang-orang menoleh menatapku. Natsu benar-benar ge-er. Dia tidak mengerti arti rona merah di wajah Erza. Aku memastikan Erza tidak berada dalam jangkauan pendengaran sebelum berbicara. "Erza tidak memerah karena kau." Aku mengatakan ini bukan sebagai sahabat yang selalu mendukung temannya, tapi sebagai orang jujur yang berniat baik.

Sebagai sahabat. Dulu aku menginginkan dia lebih dari sekedar sahabat. Tapi sekarang tidak.

"Atau setidaknya menurutku begitu."

"Itu kan menurutmu," ujarnya. "Kau bahkan tidak yakin dengan pendapatmu sendiri."

"Kau harus mendengarkan orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan orang yang kau sukai, bahkan sekamar dengannya," aku berusaha menjaga agar percakapan ini tetap ringan, jadi aku menyisipkan beberapa tawa. "Asal kau tahu saja ya, Erza itu sedang diet."

"Lalu, apa hubungannya denganku?" Natsu menyahut.

"Kau baru saja membatalkan dietnya," aku menjelaskan. "Di bus tadi, kau baru saja menggoda selera makannya setelah dua minggu menghindari kue seperti itu. Dia memerah karena berusaha menahan diri agar tidak makan dan marah karena kau berniat membatalkan dietnya. Dan akhirnya batal juga."

"Dia kan tidak bilang kalau lagi diet. Mana aku tahu," Natsu mendesah. "Yah... sekarang aku harus berusaha memenangkan kompetisi ini, atau mengalahkan Erza setidaknya. Dengan begitu, mungkin dia akan terkesan."

"Dan melupakan fakta bahwa kau orang yang membatalkan dietnya," aku menimpali.


Aku baru sadar kalau inbox-ku dibanjiri ucapan "semoga beruntung" dari teman-teman: Lisanna, Evergreen, Freed, dan yah... banyak pokoknya.

Kami dipisahkan menjadi tiga grup. Anak-anak dance bersama Jellal berkumpul di depan aula utama, sebentar lagi lomba menari individu akan dimulai, lalu dilanjutkan dengan lomba menari berpasangan. Sedangkan anak-anak band, yaitu Levy, Jet, Droy, Elfman, mengikuti Ms. Elise dan Ms. Claudia ke aula yang lain―aku tidak tahu aula yang mana karena di sini banyak sekali aula. Aku bahkan tidak tahu aula yang akan aku dan Mira tempati saking luasnya tempat ini.

Tapi itu tidak masalah sekarang karena lomba piano dan lomba menyanyi baru dibuka jam sebelas sedangkan ini masih jam delapan kurang tiga puluh menit. Aku, Mira, dan Loki sedang menyerbu kantin. Lebih baik lihat-lihat makanan daripada melihat wajah stres dan gugup peserta lain. Ms. Claudia bilang kami bertiga bisa lakukan apa yang kami mau saat ini asalkan pada jam sepuluh kami berkumpul di taman fakultas kesenian. Katanya dekat dengan aula tempat aku dan Mira akan berlomba.

Hampir sejam kami mondar-mandir di kantin tanpa membeli apapun sehingga si satpam memelototi kami.

Loki berbisik padaku dan Mira, "Ayo cepat pergi dari sini sebelum mata satpam itu copot gara-gara memelototi kita."

Kami beranjak ke taman tempat janjianku dengan Ms. Elise dan Ms. Claudia dengan bantuan Loki. Dia sudah pernah ke Universitas Fiore sebelumnya untuk pameran foto. Suara musik hip hop samar-samar terdengar. Berarti, di luar sana, perjuangan sudah dimulai. Levy dan bandnya juga pasti sedang bersiap-siap―dia bilang bandnya mendapat giliran terakhir. Mayoritas anak-anak Fairy Art mendapat giliran agak akhir-akhir. Aku tekankan lagi, mayoritas.

Aku menurunkan pandanganku ke kartu peserta yang menggantung di leherku. Di situ tertulis nomor urut tampilku―17. Mira nomor 36. "Menurut kalian, apa kali ini kita akan menang?" aku mendengar diriku bertanya. Principal Makarov selalu mengingatkan kami supaya berpikir optimis. Tapi aku tidak pesimis, aku hanya mempertimbangkan kemungkinan yang ada. Saingan kami berat-berat semua; Aku harus menghadapi Juvia dari Phantom Art; Mira dengan seseorang yang bernama Jenny Realight atau siapa gitu.

"Semoga." Mira menjatuhkan dirinya ke kursi taman.

Aku menoleh ke arah Loki yang tidak pernah bisa kubaca perasaannya―kaca mata hitamnya menutupi matanya. Apa dia cemas? Foto-fotonya sudah diserahkan kemarin dan hari ini akan diumumkan hasilnya.

Loki hanya menjawab, "Kita lihat saja nanti." Dia menatap jam tangannya. Jam sebelas akan dibacakan pemenangnya. Aku Sekarang aku mengerti kenapa aku terjebak bersama Loki―aku, Mira, dan dia sama-sama punya kepentingan pada jam sebelas.

Dia bertanya balik padaku, "Kalau menurumu?" Tiba-tiba ponselnya bergetar.

"Kita lihat saja nanti," aku mengutip ucapannya ketika dia merogoh sakunya dan membaca SMS yang baru masuk. "Aku juga punya rencana."

Rencana.

"Oke," dia melambai ke arahku dan Mira. "Jellal memanggil. Sebentar lagi giliran tampil sekolah kita. Harus foto." Dia juru dokumentasi kali ini.

Aku dan Mira tersenyum ke arahnya.


"Peserta nomor tujuh belas," juri menyebut nomor urutku.

Giliranku tiba. Aku menatap Ms. Elise dan dia tersenyum menenangkan. Dengan jantung berdebar-debar aku berjalan menuju piano besar di tengah panggung, melewati puluhan guru dan murid. Juvia baru saja selesai tampil dan dia menyeringai dengan sombong ke arahku. Mata sinisnya seolah-olah berkata, "Terakhir kali aku menang. Kali ini aku juga pasti menang."

Aku menggelengkan kepalaku. Latihan keras yang kujalani terlintas di benakku seperti adegan film. Lupakan Juvia, fokus ke piano. Lupakan Juvia, fokus ke piano. Kalimat itu terus kukatakan dalam hati seperti mantra.

Deretan tuts piano putih dan hitam menyambutku. Aku memposisikan jari-jariku. Juri yang kelihatan paling tua menanyakan apa aku siap. Aku mengangguk yakin sebagai jawabannya.

"Baiklah, mainkan lagunya." Si juri tua menekan stopwatch.

Jemariku menari-nari di atas deretan tuts, memainkan intro "Gift of A Friend". Saat ini aku merasa seolah-olah hanya ada aku dan piano di ruangan ini. Satu per satu lagu berhasil kumainkan. Aku melakukannya persis seperti waktu latihan subuh tadi. Tiba-tiba, aku sampai di not terakhir "Alright". Aku telah menyelesaikan lagunya tanpa kusadari.

Saat aku menghadap ke arah juri dan penonton, tepuk tangan riuh membanjiriku. Para guru dan peserta dari sekolah lain sepertinya sama terpesonanya seperti aku. Di sudut kursi penonton paling kiri ada orang mencurigakan yang juga bertepuk tangan. Mencurigakan karena dia memakai hoodie hitam yang menutupi hampir seperempat wajahnya. Juri-juri tersenyum sambil menulis penilaian. Apa laguku sehebat itu?

Ketika aku mendatangi tempat dudukku, Ms. Elise dan Ms. Claudia kelihatan histeris. Mereka tak henti-hentinya memuji permainanku sampai-sampai aku tidak mengerti satu pun yang mereka ucapkan.

Jellal menepuk pundakku dan menyalamiku sambil mengucapkan selamat. Dia bilang laguku sukses memukau orang dan layak mendapat gelar juara. Sejujurnya, aku merasa laguku tidak pantas mendapat tepukan tangan semeriah ini.

Lalu aku mendengar jeritan yang tidak asing lagi.

Mereka menyerbuku dan memelukku sambil tertawa.

Levy, Mira, dan Erza.

Tunggu sebentar. Aku baru sadar sesuatu. "Ms. Claudia, Mira, bukannya kalian harusnya ada di aula yang lain. Lomba nyanyi kan sudah dimulai."

Ms. Claudia berkata, "Kami kan juga ingin melihatmu. Jadi, sekarang lebih baik kami kembali ke sana ya."


Semua lomba sudah selesai. Hasilnya akan diumumkan jam tiga. Kami menunggu di cafe dekat universitas sampai dua jam berlalu. Makanan kami sudah habis semua jadi sekarang cuma duduk-duduk nggak jelas. Ini waktu yang tepat untuk menjalankan rencanaku.

"Menurutmu," aku mulai berkata pada teman-teman cewekku, "panggung di pojok sana boleh dipakai nggak ya?" Yang kumaksud dengan 'panggung' adalah tempat di cafe di mana biasanya orang menyanyi sambil diiringi alat musik. Kalau di cafe ini ada piano, keyboard, gitar, biola... Sempurna. Ada piano.

"Boleh-boleh saja sih kayaknya." Levy melepaskan pandangannya dari novel yang sedang ia baca. "Tunggu, apa kau mau menyanyi?"

Erza berkata, "Mungkin maksud Lucy bermain piano. Ada satu kan di sana."

"Yah, bermain piano sambil menyanyi bisa juga kan. Lucy bisa dua-duanya," Mira menambahkan.

Sekarang semuanya menatapku. "Ng..." Aku menelan ludah. "Kurasa aku mau bermain piano sambil menyanyi?"

Keberuntungan satu lagi untukku, seorang pelayan yang tidak sengaja mendengar ucapanku bilang, "Oh... Silakan nyanyi saja. Kalau siang terbuka untuk umum bagi yang suaranya enak didengar." Aku bisa saja tertawa kalau bukan aku yang akan menyanyi di sana.

Aku mengangguk dan mendekati panggung itu dengan teman-temanku.

Sebenarnya, aku tidak suka ada kamera, tapi Loki langsung ke sini sambil membawa kameranya jadi... Ya sudahlah. Foto Loki tidak menang tapi berhasil menyabet predikat 'Favorit'. Biarkan dia bersenang-senang sekarang.

Aku memencet-mencet tuts dengan asal. Teman-temanku yang masih duduk dibangku mereka mendadak memperhatikanku. Bagus piano ini menghadap ke mereka. Sebenarnya aku tidak peduli apa orang lain memperhatikan, yang terpenting Gray mendengarkan.

Aku mulai bermain.

Lagu ini aku temukan dalam playlist ponselku. Setelah mendengarkan surat rekaman darinya, aku langsung menyambar ponsel dan membaca daftar lagu yang kumiliki. Menurutku lagu inilah yang paling cocok. Seperti gambaran diriku.

Standing at the back door she tried to make it fast

One tear hit the hard wood it fell like broken glass

She said, "Sometimes love slips away and you just can't get it back, let's face it"

Dulu aku lebih memilih Natsu. Kemudian aku diberitahu kalau ia menyukai orang lain, dan buktinya tadi pagi. Aku pun mulai menyadari kalau sikap ramahnya tak lebih dari tindakan sekedar teman atau tata krama.

For one split second she almost turned around

But that would be like pouring rain drops back into a cloud

So she took another step and said, "I see the way out and I'm gonna take it"

Tapi, dulu ya dulu. Sekarang lain ceritanya. Aku sudah menemukan jalan keluar dan aku nggak mau terjebak di satu titik yang sama seterusnya. Aku tidak pernah menyadari hal ini sebelumnya, ternyata jalan yang aku cari-cari selama ini, ada di depan mataku. Sedekat itu namun tak pernah kuhiraukan.

"I don't wanna spend my life jaded, waiting

To wake one day and find that I've let all these years go by wasted"

Aku nggak mau menunggu selamanya, akulah yang akan mendatangi jalan itu. Aku nggak mau jalan itu menjauh, bahkan kalaupun menjauh, sekarang akan kukejar terus. Ingat, penyesalan selalu datang terakhir.

Another glass of whiskey but it still don't kill the pain

So he stumbles to the sink and pours down the drink

He said, "It's time to be a man and stop living for yesterday, gotta face it"

"Cause I don't wanna spend my life jaded, waiting

To wake up one day and find that I've let all these years go by wasted

Oh I don't wanna keep on wishing, missing

The still of the morning, the color of a night

I ain't spending no more time wasted"

She kept driving along 'till the moon and the sun were floating side by side

He looked in the mirror and his eyes were clear for the first time in a while

"I don't wanna spend my life jaded, waiting

To wake up one day and find that I've let all these years go by wasted

Oh I don't wanna keep on wishing, missing

The still of the morning, the color of the night

I ain't spending no more time wasted"

Jantungku berdegup semakin kencang dan rasanya darahku mengalir ke pipiku semua. Ini dia.

"I don't wanna spend my life jaded, waiting

So please let me hear those special three words come out of your lips, baby

Oh, I don't wanna keep on wishing, missing

So please say those words, 'cause I will do do the same

I realize what my heart truly feels, baby"

Ketika aku berhenti memainkan piano aku mendengar Erza bertanya, "Apa kau mengganti liriknya?" ujarnya. "Yang terakhir itu."

Aku mengangguk. Perasaan lega menjalari tubuhku dan sekarang aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.

"Jadi, lagu tadi untuk seseorang?" kata Mira sambil menyeringai. "Karena kelihatannya begitu."

"Ya," jawabku. "Untuk orang yang sangat spesial."


Sorry for the late update guys! Maklum hbs liburan :P

yahh... sekolah udah masuk ._.

Review, please!