" Hah?! Masa nggak kenal sih lu sama temen sendiri? "

" Temen? "

" Ini guaaaa, Chou. "

Aku terdiam saja, masih heran. Masa sih Chou kayak gini? Nggak yakin.

" Etdah, pake bengong lagi. Ini, gua ganti model rambut, lu kenal sama anak kelas C yang pinter main anggar itu gak? Yang rambutnya pirang itu, namanya Lancelot. "

" Mana gua tau, kan gua di kelas B. "

" Iya dah yang pinter. "

" Kok rambut lu aneh sih. "

" Ini namanya model, tanya aja sama Lancelot. "

" Kek bakpao ya "

Chou cemberut, lalu berkata sambil mengeluarkan handphone-nya yang sangat tidak canggih, itu handphone kuno, persis seperti handphone papa dulu sebelum kubelikan handphone baru.

" Eh iya, elu tinggal dimana? Kok gua cari di kos-an lu, elu kagak ada sih? Gua juga gak hafal nomor telepon elu, handphone gua ilang, jadi sekarang gua pake handphone butut ini. "

" Di kontrakan sekarang. "

" Udah kaya lu tinggal di kontrakan? Gile, serem juga. "

" Bayarnya patungan kok... "

" ... Sama siapa? "

" Kepo lu, kayak papa gua aja. "

" Ih, lu mah gitu ama temen sendiri. Oh iya, gua liat LINE lu di hapenya si Lance, itu foto profil lu lagi ama siapa tuh? Yang cowo pirang itu? "

" T.. temen.. doang. "

Wajahku sedikit memerah,

" Kok ekspresinya gitu, waaahh, lu bohong ya? " ledek Chou

" Apaan sih?! "

" Waduh, marah, ampun koh. "

Kami terdiam sejenak,

" Oh iya, gua hampir lupa. Ini sebenernya tujuan utama gua nyamperin lu, gua cuma mau bilang kalo gua gak balik lagi kesini. Bapak gua sakit, jadi gua harus pulang, terus karena akhir-akhir ini nilai gua juga jeblokan gitu, gua mutusin berhenti kuliah aja. Kasian nanti biaya tambahannya, masa bapak gua mulu yang nombokin. Jadi mulai besok, gua udah pulang. "

Aku ragu harus bilang apa, jadi aku mikir dulu...

" Ng.. gitu. Cepet sembuh ya, buat bapak lu... nanti gua bantu transfer duit buat bantu biaya rumah sakit. "

Chou tersenyum dan segera memelukku erat-erat.

" MAKASIH BANGET, ELU EMANG TEMEN GUA YANG PALING BAIK "

" AAHHH! GOBLOOOKK NANTI TULANG GUA PATAH! "

Ia melepas pelukannya, " Haha, maaf maaf, gua seneng sih abisnya. " katanya sambil nyengir. " seneng boleh, goblok jangan " kataku dengan nada jutek. Ia melirik ke arah helm yang kugantung di lenganku. " Yang goblok siapa sih? Elu jalan kaki, ngapain coba bawa helm? " tanyanya.

" Ini punya pacar gu- " Aku segera menghentikan perkataanku dan menutup mulutku. " Hayooooo... Punya pacar kan lu? " ledek Chou. Sial! Aku keceplosan! Tenang, tenang, jawab pertanyaan si sableng ini dengan tenang, " Terus, kalo iya, kenapa? " Chou sedikit panik, " Y-ya santai dong jawabnya, gausah sewot gitu. " katanya.

Aku memasang wajah jutekku, " Udah ah, gua pulang. " dan segera pulang.

...

Akhir-akhir ini, Alu sibuk sekali. Pulang kuliah, ngantor, abis itu pulang telat, makan, langsung tidur. Nggak biasanya aja gitu, biasanya kan dia begadang mulu. Kita juga jarang ngomong sih sekarang.

Ya, tapi, aku nggak keberatan amat sih, namanya juga orang sibuk.

" Zilong? Kok bengong? " Kata Alu seraya melepas helmnya. Aku sedikit tersentak, " Sudah sampai, turunlah " katanya. " Hah? Oh iya. " Aku segera turun dan melepas helm. Alu tersenyum dan mencium pipi kananku, " Kenapa? Akhir-akhir ini kamu sering bengong ". " Ng.. Gak apa-apa " jawabku singkat. " Mmm... Yaudah. Aku jalan dulu ya? "

" Tunggu " kataku " Imlek nanti kamu ikut sama aku bisa nggak? Papa mau ketemu kamu katanya. " Alu mengangguk, " Apa sih yang nggak buat kamu? " Aku tertunduk malu, ia terkekeh. " Ng.. Udah itu aja. " Alu menggas motornya dan berlalu. Imlek tinggal empat hari lagi, nggak sabar rasanya mau ketemu papa.

...

" Zilong! Dengar dulu, itu nggak kayak yang kamu pikir! "

" Terserah aja kamu mau bilang apa! Aku nggak percaya! "

" Aku bisa jelasin, k... "

" Aku mau pulang sekarang. Gausah cari aku lagi, aku gak bakal balik kesini. " Aku segera mengemas barang-barangku, tapi Alu menahanku. " Zilong, kamu denger dulu, itu ... "

Dia memegang pipi kirinya yang merah karena baru saja kutampar. Tanganku gemetaran, pandanganku jadi kabur karena air mata yang perlahan mengalir, " Kamu... Egois, Alu. " Kataku dengan suara parau.

Aku segera menyandang tasku dan membanting pintu. Bodoh, seharusnya aku tidak jadian dengannya, kalau akhirnya begini. Percuma menyesal sekarang.

Setelah dua jam terjebak macet, akhirnya aku bisa turun dari taksi. Aku langsung pergi ke bandara tanpa pikir panjang. Bandara tidak terlalu ramai. Kebetulan, penerbangan yang paling cepat adalah satu jam empat puluh tujuh menit dari sekarang.

...

Tidak banyak yang berubah di bandara sejak kutinggalkan kurang lebih setahun yang lalu. Aku segera memanggil taksi untuk menuju rumah. Papa agak terkejut melihat aku datang lebih awal, aku segera memeluknya, " Kangen " kataku singkat.

" Matamu kok agak merah? "

" Kelilipan. "

" Nggak mungkin. Itu kayak habis nangis. "

" ... "

" Kamu abis putus ya sama pacarmu? "

" Udah pa, nggak usah dibahas. "

" Kok gitu sih jawabnya? "

" Nggak penting. Zilong mau tidur dulu, udah mau jam dua pagi. "

Aku merapikan kamarku sebentar dan membaringkan tubuhku diatas kasur yang biasa kutiduri dulu. Kupejamkan kedua mataku, tapi aku tetap tak bisa tidur. Kira-kira Alu ngapain ya? Aku mengambil handphoneku dan mengecek akun sosial medianya. Tidak ada satupun yang berstatus online. Foto profilnya di LINE juga masih foto kami berdua.

Duh, kok jadi ngerasa bersalah sih? Eh... kok jadi mikirin dia?! Ngapain ngerasa bersalah? Kan dia yang salah! Dia yang bikin hubungan rusak, pake jalan bareng ama cewek lain segala.

...

Rasanya terang sekali, padahal kedua mataku tertutup. Aku melihat jam di dinding kamarku. Sekarang jam delapan lewat tujuh belas? Tapi kok udah kayak jam dua belas siang? Eh iya, aku lupa. Kan jam di kamarku baterainya sudah lama nggak diganti. Aku melihat jam di handphoneku, sekarang jam...

HAH?! JAM DUA SIANG?!

Aku berlari menuju tangga bawah, " PAPAAA! KOK GAK DIBANGUNIN SIH?! "

" Shhh... kamu jangan teriak-teriak, nanti diomelin tetangga. "

" Iya deh, maaf. "

" Papa sengaja nggak bangunin kamu, lagian tadi kayaknya kamu tidur pulas banget. Ntar juga kalo papa bangunin, kamu bilang ' ih papa, kok dibangunin sih?! Kan lagi enak tidur ' " ledek papa sambil meniru gaya bicaraku.

" Yaudah lah, saya tidur lagi aja. "

" Tidur melulu, mau jadi kelelawar? "

" Masih ngantuk. "

" Kamu udah tidur berapa jam? Kemarin kamu kesini pas udah mau jam dua pagi, anggaplah kamu tidurnya jam dua. Sekarang jam dua siang, kamu udah tidur dua belas jam, masih ngantuk juga? Gak sekalian tidur seharian aja gitu? "

" ZILONG BARU TIDUR JAM LIMA PAGI PAH "

" Santai dong jawabnya, terus itu tiga jam kamu ngapain? Mantengin profil pacarmu, hah? "

" K-kok papa t... NGGAK KOK! SAYA CUMA SUSAH TIDUR AJA. "

" Tadi pagi Chou kesini, papa nanya-nanyain soal kamu. Katanya emang kamu punya pacar kok, dia taunya pas kamu bawa-bawa hel.. "

" UDAH AH PA GAUSAH DIBAHAS "

" Denger dulu, ini yang ngomong papamu, papa itu orang tua kamu. "

Ugh, papa pasti ngomong panjang lebar, males dengernya, sumpah.

" Kamu tuh... "

" Ding dong " Ah, nyawaku terselamatkan sama bunyi bel, untunglah. " Sana buka pintunya. " kata papa.

Mataku terbelalak, aku tidak percaya, yang berdiri di hadapanku itu... ALU! Ia tersenyum padaku, " kaget ya? " Aku segera menutup pintu dan berlari ke kamar. Kok dia bisa tau aku disini? Kok dia rela kesini? Dia mau ngapain?!

" Zilong, buka pintunya! " ayah menggedor pintu kamarku.

" NGGAK MAU! "

" KALO NGGAK PAPA DOBRAK NIH! "

Dengan terpaksa, aku membuka pintu kamar. Papa menjewer telinga kananku, " Kamu tuh, harusnya seneng didatengin pacar, dia rela lho buru-buru kesi... "

" Papa kan GAK TAU masalahnya! "

" Siapa bilang papa gak tau? Justru kamu yang gak tau! "

" ... "

" Temuin sana, katanya dia mau ketemu kamu. "

" Nggak mau. "

" Papa jewer lagi nih, kalo nggak mau "

" Maksa. " kataku singkat sambil keluar kamar dan menuruni tangga.

Papa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku yang ' keras kepala ' menurutnya itu.

Aku duduk di sofa kecil yang disamping Alu. Aku tak berbicara apapun, meliriknya saja bahkan tidak.

" Kamu masih marah ya? " tanya Alu sambil mengelus pipiku. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan segera menyingkirkan tangannya. " Kayaknya iya deh. "

Alu tersenyum, " Tadi aku minta izin sama papamu, katanya aku boleh nginep disini beberapa hari. Aku tidur di k... " belum selesai ia bicara, aku sudah memotongnya. " Gak. "

" Terus aku tidur dimana dong? " tanya Alu. " Di ruang tamu " jawabku dengan nada jutek. Aw! Telingaku dijewer lagi sama papa! " Ih, papa apaan sih?! ".

" Dia tidur di kamarmu. Kita kan gak ada kamar tamu"

" Nggak mau! Kok papa ngatur mulu sih?! "

" Ini kan rumah papa, ya gak apa-apa dong kalo ngatur. "

Aku mendengus kesal dan berkata, " Terserah aja lah. " sambil meninggalkan ruang tamu untuk pergi ke kamar. Alu menyusulku, namun aku tak menghiraukannya, sama sekali.