Harry Potter © JK Rowling
The Standard You Walk Past © bafflinghaze
Alih bahasa oleh neko chuudoku.
.
CHAPTER 7
.
Dengan hari Halloween yang makin mendekat di akhir pekan, Hogwarts makin hidup, dan Aula Besar dipenuhi dekorasi memuakkan. Akan tetapi, Draco hanya mengapresiasi makanan pre-Halloween yang diselundupkan para peri rumah untuknya saat dia berada di dapur.
Berkebalikan dengan Hogwarts, mimpi Harry makin parah. Terkadang, semua yang bisa Draco lihat hanyalah kegelapan, dan mimpi itu penuh oleh emosi—rasa bersalah, luka, kesengsaraan—yang meresap ke dalam dirinya. Dia tahu Harry ada di sana, di suatu tempat, tapi Draco tak bisa menemukannya. Dan tak ada lagu yang bisa mencapainya.
Dan pada waktu-waktu dimana Draco berhasil meraih dan menarik Harry ke dalam dekapannya, Harry berhenti menangis, tapi dia tetap diam dan tegang.
Draco mempelajari bahwa Prongs adalah James Potter, Moony adalah Profesor Lupin; Draco mempelajari soal Tonks—lagi-lagi sepupu yang tak pernah ia kenal—dan soal kematian Fred Weasley.
Draco melihat dirinya sendiri, dalam mimpi-mimpi itu. Menyaksikan penyiksaan. Menyiksa.
Dia selalu terbangun dengan kepala Harry berada di bawah dagunya dan wajah Harry basah oleh air mata. Terkadang, Harry tidur-berbisik, maafkan aku.
Itu bukan salahmu, pikir Draco tajam. Bukan salahmu.
xxx
Ketika dekorasi Halloween yang pertama terpasang, pikiran tak nyaman Harry mengenai Draco menghilang dengan cepat. Dia mulai berkelana lagi dan tak pernah bangun cukup dini untuk menemani Draco ke dapur.
Pesta Halloween membuat Harry sakit kepala. Wajah tersenyum semua orang dan ocehan riang mereka membuat Harry jengkel dan marah. Dia melarikan diri, merasakan tatapan khawatir Hermione pada punggungnya. Tapi dia tidak tahan dengan semua kebahagiaan sialan mereka—tidakkah mereka tahu bahwa orang tuanya meninggal pada hari ini, tujuh belas tahun lalu?
Dia menggeram saat dia lagi-lagi harus menghindari murid-murid yang minum alkohol secara ilegal. Murid-murid dan hantu-hantu yang memenuhi koridor menimbulkan terlalu banyak kebisingan, membuat Harry tak punya tempat untuk berkeliaran. Meski begitu, dia memelankan langkah kakinya saat dia memasuki kamar karena tirai kasur Malfoy sudah tertutup. Bahkan pada hari halloween pun, Malfoy tetap setia dengan jadwalnya. Harry menjatuhkan diri ke atas kasur.
Dia tak bisa mengingat banyak soal ibunya—dia takut dia punya ingatan palsu, yang muncul dari mimpi-mimpi dan foto-foto yang pernah dia lihat. Tapi dia yakin bahwa setidaknya satu ingatan itu nyata. Dia merasa aman dan hangat dalam dekapan ibunya, aroma beliau membungkus dirinya. Beliau menyanyikan lulabi dan Harry merasakan dirinya tertidur dalam mimpi—
Dan lalu semuanya berubah kacau balau. Di sana ada Voldemort, dan dia bisa mendengar jeritan ibunya, dan dia bisa melihat kutukan Kematian berwarna hijau menjijikan mengarah padanya, dan "Tidak-tidak-tidak!"
Matanya terbuka. Dia merasakan pelukan hangat mengelilinginya, dan dia pikir mungkin—mungkin ini adalah ibunya yang sedang mendekapnya—dan Perang dan Voldemort hanyalah mimpi—
Tapi semua itu bukan mimpi. Ibunya telah tiada.
Kebasahan mengumpul di matanya. Lengan di sekitar tubuhnya mengerat. Sekilas Harry melihat rambut pirang-putih, dan dia merasa rasa sakitnya berkurang. Dia mendekatkan kepalanya pada tangan yang mengelusnya, wajahnya pada dada yang meringkuk di depannya. Orang ini beraroma teh dan kertas, dan semacam wewangian khas laki-laki. Ini Draco, pikirnya, tapi sisa pikirannya melayang pergi saat dia merasakan dan mendengarkan senandung halus lagu tentang bintang-bintang.
xxx
Mimpi Harry membuat Draco ngeri. Harry mengingat kematian ibunya. Harry mengingat serangan kutukan kematian.
Draco benci dirinya sendiri. Dia membiarkan Harry tidur di kasurnya, mendekap Harry dalam tidur tanpa izinnya. Draco adalah seorang Pelahap Maut terkutuk, salah satu pengikut dari orang yang telah membunuh orang tua Harry. Pangeran Kegelapan adalah penyebab kematian yang menghancurkan Harry dari dalam, dan Draco telah mengikuti orang itu; telah berlutut pada orang itu, dan tanda orang itu terbakar permanen di lengannya.
Dia mengubah air shower sepanas mungkin, tapi sebanyak apapun dia menggosok, dia tak akan pernah bisa menghilangkan rasa jijiknya.
Harry tertidur gelisah saat Draco pergi ke dapur.
xxx
Ketika Harry bangun dan merenggangkan tubuh di atas kasurnya sendiri, matahari menerobos masuk. Dia bermimpi bangun di pelukan Draco, mimpi yang baik. Rasa malu memenuhi perutnya. Dia tidak…tidak. Dia tak mungkin mulai memimpikan hal-hal semacam itu.
Rasa sakit di dadanya terasa fisikal, tapi tak apa; dia tak seharusnya merasa senang pada hari di mana dia hendak mengunjungi kuburan orang tuanya.
xxx
Draco pergi keluar dari Hogwarts secepat dia bisa. Ketika dia meninggalkan lingkaran anti-Apparition, dia langsung ber-apparate ke ruang tamu khusus Manor. Dia bahkan belum sempat rileks saat dia dipeluk dengan segera oleh Pansy yang antusias.
"Draco! Kami sangat merindukanmu. Kau yakin tak akan pindah sekolah?"
Pansy mundur supaya Draco bisa melihat Blaise. Draco pun sangat merindukan mereka, tapi di mana…
Pansy mengikuti arah pandang Draco. "Greg masih di tempat penampungan naga." Dia merengut pada Blaise. "Blaise, jangan cuma berdiri di sana! Merlin, harusnya kau lihat dia waktu di Beauxbaton—"
Blaise memutar matanya saat Pansy menyeret Draco ke arahnya.
"Biarkan laki-laki itu bernapas dulu, Pans," kata Blaise.
Draco merasakan ketegangannya terkuras. Dia aman di sini. Draco membuka mulutnya untuk bicara, tapi tenggorokannya langsung menyempit dan dia tercekik.
Pansy langsung tampak khawatir; bahkan Blaise mengerutkan dahi. "Apa kutukannya kembali?" tanya Pansy. Dia memeriksa dagu Draco, dan Draco membiarkan dia.
"Apa betul?"
Draco menutup mata dan mengangguk.
Pansy merengut dan menyelipkan sejumput rambut Draco ke belakang telinganya. "Kapan itu terjadi? Kenapa kau tidak memberi tahu kami?"
Draco mengangkat tongkat sihirnya, dan melihat anggukan kepala mereka, dia melancarkan mantra modifikasi Legilimens.
Saat aku baru sampai ke Hogwarts. Aku tak ingin membuat kalian khawatir—tak ada yang bisa dilakukan sementara aku masih di Hogwarts.
Pansy mendesah. "Kalau kau bilang begitu. Bibi Cissa menunggu kita di Rumah Kaca Jeruk Utara untuk minum teh."
"Ayahmu ada di sana juga, Draco," Blaise memperingatkan.
Aku akan baik-baik saja.
Pansy tersenyum lemah pada Draco dan dia melingkarkan lengannya ke lengan Draco dan Blaise.
Rumah Kaca Jeruk Utara sangat indah diterangi cahaya matahari, dan mantra atmosfer menjaga ruangan supaya tidak terlalu panas. Draco bisa merasakan senandung sihir ibunya. Father dan Mother duduk di depan meja. Draco mengangguk pada mereka berdua.
"Draco," kata Mother. Beliau berdiri dari kursi dan memeluknya. "Bagaimana kabarmu, sayang?"
Draco menghirup aroma beliau, dan untuk sejenak, perbandingan jauh antara di sini dengan di Hogwarts membuat matanya memanas. Saat dia tidak menjawab, Mother menyentuh pipinya.
"Draco?"
Draco cepat-cepat mengerling Pansy. "Kutukannya," kata Pansy pahit.
"Draco!" Mother menekan tangannya di pipi Draco, mengecek mulut dan tenggorokannya. "Apakah ini kutukan yang sama?"
"Kurasa begitu," Pansy menjawab untuk Draco. "Apa kita masih punya—?"
Mother mengangguk tegas. "Ya." Beliau memandu Draco ke kursi. "Duduk, Draco. Minum sedikit teh."
Draco belum sempat mengangguk saat Mother menciumnya dan mulai berjalan pergi, memerintah Pansy untuk ikut. Mereka keluar dari ruangan, dan dia tahu mereka akan segera kembali membawa buku-buku dan berbagai ramuan. Bahkan Father menyibukkan diri dengan memanggil para peri rumah dan membuka-buka buku tebal dengan cepat.
Sekali, Draco mencoba membantu, tapi Pansy memaksanya duduk lagi.
"Bersabarlah, Draco," goda Pansy.
Setelah itu, Draco duduk dengan (tidak) sabar dan minum teh, dan Blaise yang duduk di sebelahnya sedang memakan kudapan yang disiapkan para peri rumah.
Father mengeluarkan suara penuh kemenangan dan buru-buru berjalan ke arah Draco. Dia melengkungkan alisnya pada Draco, sebagai tanda minta izin, sebelum dia merapal sebuah mantra pada Draco. Mantranya bergelitik, dan Father mengangguk. "Ini memang kutukan yang sama," panggilnya.
"Aku mengerti," sahut Mother dari seberang ruangan.
Father mengangguk sekali lagi pada Draco dan menutup bukunya. Dia menempatkan sebelah tangan ke bahu Draco. Draco tak tahu apa yang harus dikatakan—tidak pula Father, tampaknya. Pada akhirnya, Mother memanggil Father. Father meremas bahunya, hanya sedikit, dan dia lalu berbalik dan berjalan mendekati Mother.
Draco meneguk, dan menaruh cangkir tehnya. Dia merasa kebanjiran perasaan. Setelah dikelilingi oleh murid-murid namun sendirian di Hogwarts, akhirnya ia berada di sekitar orang-orang yang tidak mengabaikannya, tidak menyerangnya—Father, Mother, Pansy, bahkan Blaise. Surat-surat tidak cukup meyakinkan Draco bahwa mereka masih peduli padanya. Tapi ini membuatnya yakin.
xxx
Setelah sarapan, Hermione dan Ron menemani Harry ke Godric's Hollow. Harry benar-benar mengharapkan turun hujan, namun langit tetap cerah dan tanahnya kering.
Mereka memperbaharui mantra pelindung di sekitar makam-makam, dan Harry menaruh sebuket bunga putih—mawar, krisan, dan lili. Pelan-pelan Hermione dan Ron melangkah mundur untuk memberi privasi pada Harry.
Mimpi itu terus berulang di benak Harry sejak dia bangun. Kehangatan ibunya, aroma beliau, suara beliau. Kutukan Kematian.
Draco.
Memimpikan Draco terasa sangat salah. Rasanya seperti…menodai satu-satunya kenangan yang ia miliki tentang ibunya, dan dia merasa mual karena telah menikmati mimpi berada dalam dekapan Draco.
Kenapa mimpi buruknya tidak berhenti setelah Perang berakhir? Setelah semua yang dia lakukan dan korbankan, tidak bisakah dia hanya menjadi anak normal? Pergi ke sekolah, mengeluh soal pelajaran, dan mengkhawatirkan pacar perempuan?
Sebaliknya, dia terus-terusan mimpi buruk, dan Draco muncul dalam mimpi buruk itu, dan dia menjadi teman dengan Draco. Tapi Draco tak pernah bicara padanya, dan para Slytherin diserang—
Pada akhirnya, Hermione menyentuh lengannya. "Kau bilang kau mau makan siang di tempat Mrs. Tonks?" katanya pelan.
Harry mengangguk singkat, masih belum siap membuka mulut.
Hermione mengelus lengannya secara simpatik. "Ron dan aku akan pergi ke the Burrow dulu. Kita kembali bertemu di Hogmeade jam empat, oke?"
"Yeah." Harry memaksa bibirnya untuk tersenyum.
Hermione tampak tak yakin, tapi dia melepaskan lengannya. "Baiklah, Harry." Dia berjalan ke tempat Ron berada, dan setelah keduanya melambaikan tangan, mereka ber-apparate dari pekuburan itu.
xxx
Butuh waktu cukup lama sebelum Harry merasa siap untuk ber-apparate ke rumah Andromeda.
Dia mendarat tepat di depan pintu masuk, dan dia terkejut mendengar banyak suara dari dalam. Saat dia mengetuk, pintu dengan segera terbuka, menampakkan Andromeda.
Andromeda tersenyum padanya dan melangkah ke samping untuk membiarkan Harry masuk. "Halo, Harry. Tepat waktu untuk makan siang."
"Hai, Andromeda." Harry melangkah masuk hati-hati. "Siapa saja yang…?"
Andromeda tersenyum. "Mereka semua ada di ruang tamu. Kau bisa menggantungkan mantelmu di sini—"
Harry mengikuti Andromeda dengan tidak fokus. Suara-suara ini samar-samar kedengaran tidak asing.
"Narcissa ada di sini bersama putranya, Draco, dan beberapa orang temannya." Andromeda menatap Harry. "Kuharap kau tak keberatan. Aku baca di Koran bahwa kau dan Draco sudah meninggalkan persaingan kalian."
Draco?! Draco ada di sini?
Andromeda tampak tak menyadari krisis mental Harry saat dia menuntun Harry ke ruang tamu.
Teddy, Mrs. Malfoy, Parkinson, Zabini.
Tapi saat dia melihat Draco, rasanya mustahil untuk mengalihkan pandangannya. Tidak seperti Harry, Draco tampak tak terkejut melihat kedatangannya.
"Harry di sini!" Andromeda mengumumkan dengan riang. "Duduklah, Harry, dan aku akan membawakan makan siang."
Harry mengerjap dan menatapnya tak yakin. Andromeda balas menatap menyemangati.
Zabini berdiri. Dia hanya sekilas menatap Harry sebelum menyapa Andromeda. "Izinkan saya untuk membantu."
Andromeda mengangguk, dan mereka berdua mengarah ke dapur.
Parkinson, yang sedang memangku Teddy, paling pertama mendekati Harry. "Potter. Lama tak jumpa."
Harry mengangguk, tak tahu harus berkata apa. Dia menerima Teddy, dan dia lega ketika Teddy mengoceh padanya dan menyambar bajunya dengan penuh semangat. Harry membiarkan tangan kecil Teddy untuk menggenggam jari-jarinya. "Hullo, Teddy," katanya pelan.
"Kenapa kau tak duduk, Mr. Potter?" kata Mrs. Malfoy sambil mengindikasi kursi kosong di seberang Draco.
"Er, yeah. Terima kasih." Harry merona di bawah tatapan mereka semua. Dia menyibukkan diri dengan perhatian Teddy, sambil berusaha sekuat tenaga untuk tak menguping percakapan Parkinson dengan kedua Malfoy.
"Hogwarts itu benar-benar bergaya lama dan ketinggalan zaman," keluh Parkinson. "Harusnya mereka mengizinkanmu keluar dari kampus setiap minggu."
Terdapat jeda ganjil sebelum Parkinson melanjutkan, sambil mendesah dramatis. "Hogsmeade bukan Paris, tapi masih lebih baik daripada terus menatap dinding yang sama sepanjang waktu. Rasanya aku bakal gila!"
"Jaga bahasamu, Pansy," kata Mrs. Malfoy, kegelian mewarnai nada suaranya. "Anak-anak mengingat hal-hal yang paling aneh, tak peduli betapa mudanya mereka."
Terdapat jeda ganjil lagi. Parkinson mendengus. "Draco, kita akan menghabiskan sepanjang Natal keluar dan aku tak menerima tidak sebagai jawaban—hey!"
Harry mendongak tepat waktu untuk melihat Draco mencolek bahu Pansy. Pansy memutar mata pada Draco. Matanya lalu bertemu mata Harry.
Pansy memicingkan mata, hanya sedikit, pada Harry. "Potter. Bagaimana keadaan Hogwarts?"
Harry berkedip, otaknya kosong untuk sementara. "Baik, kurasa. Tak ada yang berusaha membunuhku tahun ini, jadi yeah."
Parkinson menatap aneh pada Draco. Mungkin Draco mengirim semacam pesan padanya, karena Pansy lalu menegakkan punggung, dan menghadap Harry. "Aku—hanya ingin meminta maaf atas apa yang kulakukan selama Perang. Karena telah mencoba untuk menyerahkanmu pada Pangeran Kegelapan."
"Tidak—itu tak apa. Aku mengerti," kata Harry buru-buru. Tatapan Harry cepat-cepat beralih ke Draco, yang masih belum bicara sepatah katapun.
Mrs. Malfoy mengangkat sebelah alis. "Apa kau ingin bicara dengan Draco hanya berdua saja, Mr. Potter?"
Mata Harry melebar, sementara Draco hanya memutar mata pada ibunya.
"Ti-tidak. Tak usah. Panggil saja saya Harry." Harry memainkan tepian rompinya. "Mr. Potter terdengar agak aneh." Dia bertemu pandang dengan Parkinson, lalu dengan Draco. "Harry," ulangnya.
Mrs. Malfoy mengangguk. "Harry, baiklah. Kalau begitu, panggil aku Narcissa."
Parkinson menghela napas berat. "Baiklah. Karena kau teman Draco. Tapi kalau aku memanggilmu Harry, kau juga harus memanggilku Pansy."
Draco tersenyum dan menepuk bahu Parkinson—Pansy. Pansy mengerutkan kening pada Draco, dan lalu dia memajukan badannya di atas meja untuk bertanya pada Harry.
"Beritahu aku, Harry, bagaimana caranya Draco berhasil meyakinkanmu untuk mengizinkan dia merapal mantra padamu?"
"Apa?" Harry membelalak pada Draco.
Draco memasang tatapan minta maaf pada Harry, dan memalingkan kepalanya dari Pansy dengan kaku.
Pansy mencolek Draco, tampak jengkel. "Apa?"
"D-Draco tidak merapal mantra apapun padaku."
Pansy menatap bolak-balik antara Harry dan Draco dengan curiga. "Kalau begitu bagaimana caranya kalian berdua bicara? Dia tidak menuliskan semuanya, kan?"
Sebuah suara tersedak datang dari Draco. Harry mengenalinya sebagai suara tawa yang ditahan.
"Apa sih? Beritahu aku." Pansy mencolek Draco lagi, tapi Draco menggelengkan kepalanya di atas meja. Tiba-tiba, Pansy menyerah. "Terserah, jangan beritahu aku."
Draco menyentuh lengan Pansy. Sambil mendesah, Pansy berbalik pada Harry lagi. "Draco ingin merapal mantra Legilimency." Mata Pansy berkelip pada Draco lalu kembali ke Harry. "Tapi tak apa kalau kau tak mau. Tapi serius, rasanya aneh jadi mulutmu, Draco," tambah Pansy sambil merengek. "Ini tidak seperti kau tak bisa bicara sekarang."
"Tidak—tak apa," potong Harry. "Kau boleh merapalnya," tambahnya cepat-cepat, sebelum menyadari bahwa dia tak ingin Draco membaca pikirannya. Tapi benaknya terus berputar. Apa dia mendengar Pansy dengan benar? Apa Draco tak bisa bicara sebelumnya?
Draco mengangkat tongkat sihirnya dengan senyuman kecil yang membuat pemikiran Harry terhenti. Mata dan dahi Harry serasa digelitik sejenak, tapi samar-samar, Harry sadar bahwa ini tidak sama dengan Legilimency punya Snape.
Jangan khawatir, aku tak bisa membaca pikiranmu.
Harry kaget. "Wow, barusan itu." Dia merengut. "Aneh."
Pansy melambaikan tangannya acuh. "Kau nanti akan terbiasa. Sekarang datang juga makanannya!"
Mendengar seruan itu, Teddy berputar di lengan Harry hingga Harry harus bergeser supaya bisa melihat Andromeda dan Zabini—Blaise, Harry rasa—memasuki ruangan dengan membawa piring-piring dan mangkuk-mangkuk berisi makanan.
"Silakan ambil sendiri," kata Andromeda hangat. "Aku harus kembali sebentar untuk membawa makan siang Teddy."
"Potter," kata Blaise, saat dia menaruh salad di dekat Harry.
"Sekarang semuanya memanggil dengan nama depan," Pansy bicara lambat-lambat. "Jadi dia Harry dan kau Blaise."
Blaise memutar matanya sambil pura-pura terkejut. "Blaise, hm? Aku sedang bertanya-tanya siapa namaku."
Dia merasakan tawa geli Draco dalam benaknya, dan itu adalah hal paling aneh yang pernah dia rasakan. Blaise, potong kue pai-nya.
"Yeah, Blaise. Aku juga mau salad," tambah Pansy, menyeringai.
Blaise memutar mata, tapi dia melakukan apa yang mereka minta. "Derajatku diturunkan menjadi pelayan," katanya sedih. "Bibi Cissa?"
Narcissa mengangguk. "Terima kasih, Blaise," katanya sambil menerima piring penuh.
"Dan kau, Harry?" tanya Blaise.
Harry mengangguk lemah.
xxx
Setelah Andromeda kembali, percakapan berpusat padanya dan Narcissa. Harry menyibukkan diri dengan makan dan mengurus Teddy. Tapi dia tak bisa menahan untuk mengerling pada Draco, yang tampak mengerling balik padanya.
Ketika makan siang usai, Andromeda mengangkat Teddy dari pangkuan Harry. "Waktunya Teddy tidur siang sekarang," katanya. "Bagaimana kalau kau bicara empat mata dengan Draco?"
"Ke-kenapa?" Harry mundur selangkah.
Andromeda dan Narcissa berbagi tatapan.
"Draco, ajak Harry ke ruang belajar, ya, sayang?" kata Narcissa sambil menyentuh lengan Draco.
Ya, Mother, jawab suara Draco dalam kepala Harry. Ayo, Harry, lebih baik kita melakukan seperti yang mereka suruh.
"Kami akan duduk di ruang santai, Draco," kata Pansy. Dia dan Blaise sudah berdiri.
"Kurasa begitu…" kata Harry. Draco mengangguk.
Di ruang belajar, Draco bersandar ke meja, dan Harry bersandar ke pintu yang tertutup.
Mother dan Bibi Andromeda ingin kita berdua bicara, jadi kurasa kau harus bicara, kata Draco, memecah keheningan.
Tapi Harry malah merengut. "Tapi itulah masalahnya—kenapa kau tak bisa bicara? Apa yang Parkin—Pansy bicarakan?"
Draco tampak menelan ludah. "Tenggorokan perih." Dia meringis, dan begitu pula Harry. Suaranya terdengar kering dan serak.
Harry melangkah menjauhi pintu, bergerak mendekati Draco. "Tapi ini bukan karena kau sakit selama sebulan terakhir, kan?"
Tidak. Aku—
"Yeah?" desak Harry.
Draco meringis. Ini karena kutukan. Setiap kali aku mencoba bicara, tenggorokanku akan langsung menutup.
"Apa?" Harry sudah melintasi ruangan sekarang. Dia berdiri hanya beberapa langkah dari Draco. "Itu—jahat sekali. Siapa yang melakukan itu? Dan bagaimana caranya kau merapal mantra?"
Draco menggedikkan bahu. Aku pakai mantra non-verbal. Tak apa, kutukannya sudah hancur sekarang. Tenggorokanku hanya masih sedikit sakit.
Tapi Harry masih keberatan. "Aku merasa seperti seorang idiot. Harusnya aku tahu kau tak akan diam saja kalau kau bisa—"
Sudahlah!
"—yeah, yeah—dan sepanjang waktu aku pura-pura jadi dirimu—" Harry merona. "Pasti aku terdengar sangat bodoh."
Meski aku benci mengatakan ini, tapi kau bukan seorang idiot. Tidak ada alasan kau harus tahu, dan aku tak pernah memberitahumu. Terdapat kilat aneh di mata Draco saat dia melintasi jarak terakhir di antara mereka. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh Harry pelan. Dan aku—aku sangat menghargai apa yang kau lakukan. Terima kasih.
Harry menatap mata Draco, lebih dekat dari sebelumnya, berkilau kelabu dan perak. Tiba-tiba dia sadar akan tinggi badan Draco—lebih tinggi darinya, membuat Harry harus mendongak untuk bertemu mata Draco.
"Oke," bisik Harry akhirnya.
Draco melangkah menjauh, dan Harry menahan diri untuk tidak mengikuti kehangatannya. Harry berjuang mencari sesuatu untuk dikatakan. "Soal kutukannya…"
Kau benar-benar ingin tahu soal kutukannya?
"Ya," kata Harry dengan kuat.
Draco menatapnya curiga. Apa kau janji untuk tutup mulut? Janji untuk tidak lari dan melakukan sesuatu yang heroik dan bodoh setelahnya?
Xxx
Draco bisa melihat Harry berjuang untuk berkata ya. Ada alasan kenapa Draco tidak memberi tahu Harry soal kutukan itu, dan salah satunya adalah untuk menghindari dijadikan proyek rasa kasihan Harry Potter.
"Baiklah," kata Harry. Dia menarik sarang burung di kepalanya. "Aku tak akan bilang siapa-siapa. Dan aku tak akan lari. Kecuali kalau kau mengizinkanku," tambahnya.
Draco merengut. Aku serius. Aku akan memesankan makan malam pribadi untukmu dengan Cumi-Cumi Raksasa kalau harus.
Harry balas menatap penuh tantangan. "Aku juga serius."
Tentu saja kau serius. Draco berbalik dan duduk di sofa. Sofa itu terlalu empuk untuk Draco dan dia berusaha untuk rileks. Setelah beberapa saat, Harry bergabung dengannya.
Waktu itu seusai persidangan. Saat kau mengembalikan tongkat sihirku. Draco terus menatap dinding jauh di depannya. Tidak semua orang menginginkan aku bebas.
Harry bergeser di sebelahnya. "Aku—"
Draco menggelengkan kepala. Kau, Potter, tidak dihitung. Kebanyakan orang tak punya hero-complex.
Draco bisa mengingat kejadian itu dengan jelas. Dia masih linglung setelah diberitahu bahwa dia tidak dikirim ke Azkaban, dan linglung karena kehangatan familiar tongkat sihir di tangannya—tongkat sihir yang masih mengenali dirinya meski telah berada di tangan Potter untuk waktu yang singkat. Potter cepat-cepat pergi, tepat setelah Draco terpaksa mengatakan terima kasih atas permintaan ibunya.
Saat itu terdengar banyak teriakan, dan juga banyak jeritan. Para penjaga mengelilingi dia dan orang tuanya, untuk menemani mereka keluar dari ruang sidang dan menuju Floo terdekat. Tapi para penjaga tidak cukup waspada, atau mungkin mereka sendiri yang merapalkan mantranya.
Setelah kau pergi, seseorang merapal mantra. Mantra itu mengenaiku. Mereka mungkin bermaksud mengenai ayahku, tapi—itu mengenai lenganku. Hanya terasa sedikit menyengat, dan di tengah kekacauan, aku tak merasakan apa-apa lagi. Draco menghembuskan napas. Para penjaga mendorong kami memasuki Floo, dan Mother meneriakkan tempat tujuan. Dan kemudian, saat aku mencoba untuk bicara…aku mulai tercekik.
Draco menoleh pada Harry dan terkejut bahwa tatapan Harry tertanam tegas padanya. Draco mencoba untuk rileks, untuk memecahkan ketegangan. Aku jamin padamu semua itu terasa mengejutkan dan menakutkan. Aku harus menuliskan segalanya, atau harus merapal Legilimency tiap kali aku ingin mengatakan sesuatu. Aku, tentu saja, pada akhirnya menemukan mantra modifikasi-legilimency-terbalik, dan menjadi luar biasa fantastis dalam sihir non-verbal. Draco menatap Harry tajam. Kau boleh tepuk tangan, minion.
Harry nyengir dan bertepuk tangan patuh. "Luar biasa," tambahnya.
Draco mengangguk angkuh, dan melanjutkan saat Harry berhenti tepuk tangan. Kemudian kami—Father, Mother, dan aku—menemukan jenis kutukannya dan mencari penyembuhnya. Jadi aku bisa bicara saat tiba waktunya aku kembali ke Hogwarts pada bulan September.
"Kau berkata 'Potter' padaku saat Pesta Pembukaan," kata Harry pelan-pelan.
Ya.
Mata Harry menggelap. "Itu berarti seseorang mengutukmu lagi. Mungkin orang yang sama—atau mungkin sekelompok orang."
Draco mengangguk enggan. Waktu itu dia hendak menuju sarapan pertamanya di Hogwarts. Sekelompok anak tahun ketujuh muncul dari belakang dan—sisanya adalah masa lalu. Draco memutar bahu dan berdiri. Sekarang kau sudah tahu kisahnya. Kurasa kita sudah cukup bicara.
"Tapi—kau tak bisa hanya membiarkannya—" protes Harry, cepat-cepat mengikuti Draco. "Kalau kau tidak sebegitu hebatnya dalam mantra non-verbal, maka kau hampir jadi—jadi tanpa sihir."
Tidak diragukan lagi itu adalah tujuan mereka. Draco menoleh tajam. Dengar, ini sudah berakhir. Aku bisa merapal, aku bisa bicara dan rencana mereka gagal dengan sengsara. Tak ada hal lain yang bisa kuharapkan. Dan kau sudah janji, Harry.
Harry kaget, mata hijau melebar. "Tapi—"
Kau sudah janji.
Harry menciut. "Apa ada hal yang bisa kulakukan?" Bahunya turun dan kepalanya tertunduk cukup lama sampai dia mengintip Draco dari balik bulu matanya.
Draco terjebak oleh gambaran Harry dalam mimpi. Pasrah. Lemah. Sangat jauh dari orang yang kini berdiri di hadapannya, tapi itu adalah pengingat akan masa kecil Harry yang buruk dan Draco kehilangan kekuatan untuk membentaknya.
Dengar, Harry, aku hanya ingin melewati tahun sekolah tanpa masalah. Draco gusar. Tapi kalau ini membuatmu merasa lebih baik, aku tak keberatan memiliki sang Penyelamat-Dunia-Sihir sebagai pengawal pribadiku. Kau harus mengikutiku kemana-mana, selalu setengah langkah di belakangku dan mencegah serangan penjahat. Dan di malam hari, kau harus berdiri di luar pintu dan mencegah lebih banyak serangan penjahat. Dan pada waktu makan, kau harus mencicipi makananku jaga-jaga ada racunnya dan—
Harry tertawa. "Oke, saya mengerti, Yang Mulia."
Draco menyeringai. Kau boleh terus memanggilku Yang Mulia. Atau mungkin Paduka. Atau Draco Malfoy, sang penyihir terhebat di muka bumi.
"Mungkin," kata Harry ragu, tapi dia nyengir lagi.
xxx
Setelah itu, mereka kembali ke ruang bersantai, dimana Andromeda sudah menyiapkan beberapa permainan papan sihir. Harry menikmati waktunya disana, bahkan meski semua orang dibabat habis oleh Andromeda. Sekali Teddy bangun, Andromeda dan Narcissa berisitirahat sementara Harry dan para Slytherin (atau, mantan Slytherin) menghibur Teddy. Pemenang ditentukan oleh warna rambut Teddy, tapi sulit untuk dibedakan karena Harry, Blaise, dan Pansy sama-sama memiliki rambut hitam.
Harry merasa enggan untuk pulang duluan. Lagipula, siapa yang tahu apa yang akan direncanakan oleh tiga orang itu setelah Harry pergi? Tapi pada akhirnya, waktu makin singkat dan Harry harus pergi.
"Kau akan datang berkunjung Natal nanti kan, Harry?" tanya Andromeda, mengantar Harry ke pintu.
Harry tersenyum. "Yeah."
Andromeda balas tersenyum . "Senang bertemu denganmu hari ini. Sekarang, jaga dirimu baik-baik."
"Aku janji," kata Harry, dan dia berputar di tempat, ber-apparate ke Hogsmeade.
xxx
"Harry, kau hampir telat!" Hermione adalah orang pertama yang Harry lihat.
"Tapi dia tidak telat," sela Ron sambil memutar mata.
Hermione mengacuhkan Ron. "Apa kau bersenang-senang di tempat Mrs. Tonk?"
"Yeah." Melihat wajah menunggu Hermione dan Ron, Harry menjelaskan. "Narcissa Malfoy juga ada di sana, bersama dengan Dra…" Bisakah dia memanggil mereka dengan nama depan? Bisa, pikirnya tegas. "Draco, Pansy, dan Blaise."
Ron memerah. "Yang benar? Kalian saling memanggil dengan nama depan sekarang?"
"Mereka tidak sejahat itu saat mereka tidak bermaksud melukaimu. Atau dengan adanya Teddy di tengah-tengah," bela Harry.
Hermione menatapnya tak terbaca, kemudian tersenyum. "Aku senang kau menikmati waktumu. Semua orang sudah menunggu di Hogshead."
Harry mengangguk dan mengikuti tuntunan mereka.
Tbc
.
