Chapter ini telah direvisi terakhir pada tanggal 9 November 2017.

Total isi chapter : 12.949 kata dalam 48 halaman.


Yuhuuu, minnachiii~!

Ketemu lagi nih, mumpung baru tanggal 12 *mumpung?! #dirasengan* Fro mau ngucapin selamat dulu buat Naru-dobe tercinta huehehehe

"Otanjoubi Omedetou, Naruto! Semoga semakin lengket sama Sasuke~!"

maap kalau telat haha :p #dirasengan

anyway, chapter baru nih ^^

Warning : rumit, rumit, dan ruuuumittt...

Disclaimer : Naruto bukan punya Fro tuh, tapi Sasuke punya Fro! #dirasengan

Selamat berumit-rumit ria! hihi


Chapter 7. …And the storm finally comes.


Kelopak putih pucat itu terbuka dengan cepat, memperlihatkan oniks yang terbelalak panik. Sang pemilik oniks itu pun dengan cepat mengeyahkan tubuhnya dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi, saat rasa mual semakin terasa mengaduk-aduk perutnya. Pintu itu pun menjadi korban bantingan pemuda yang berlari dengan tergusa-gusu menuju wastafel dan –Hueeekkkk!— suara muntahan terdengar menggema di antara dinding berkeramik perak dalam ruangan itu.

Satu muntahan bahkan tak cukup. Habis sudah makan malamnya semalam hanyut dalam pusaran air pembuangan wastafel. Perutnya seperti diaduk-aduk, memaksa untuk mengeluarkan seluruh isinya. Napas pemuda itu terengah-engah. Rasa pahit dan menjijikan yang mengecap di dalam mulut membuatnya ingin mengeluarkan isi perutnya sekali lagi.

"Ukh—hah—hhk—!"

Sasuke menelan ludah, napasnya tertahan saat rasa mual kembali menyerangnya. Dengan segera ia mengambil air dari keran dan berkumur-kumur sampai bersih. Lalu mengambil air lagi dan meneguknya rakus. Sasuke mengatupkan bibirnya erat. Tangannya terkepal kencang. Menatap pantulan wajah yang terlihat pucat pasi dari balik cermin di depannya. Dia menggertakan giginya sebelum bergerak cepat menuju kamar mandi.

Air dingin yang jatuh membasahi tubuhnya langsung membuatnya merinding kedinginan. Sasuke memutar keran dan mengganti suhu airnya menjadi hangat. Dia pun mendesah panjang. Tangannya mulai bergerak membersihkan tubuhnya dari kotoran. Gerakan tangannya menjadi semakin cepat dan semakin kasar. Tubuhnya terasa kotor, sangat kotor, rasanya berapa kalipun ia membersihkannya, tubuhnya tetap terasa begitu kotor. Menjalani kesehariannya tanpa seharipun absen dari rasa mual dan muntah yang kini sudah menjadi rutinitasnya beberapa hari terakhir benar-benar membuatnya merasa begitu menjijikkan. Dia hanya akan merasa lega setelah wangi sabun memenuhi tubuhnya menggantikan aroma menjijikan bekas muntahannya sendiri.

Tangannya terhenti saat ia menyentuh perutnya. Sasuke menggigit bibirnya keras. Berapa kalipun ia mencoba mengeceknya, dia tetap merasakan chakra baru yang mulai tumbuh di dalam perutnya. Berapa kalipun ia mencoba mengelak keadaannya, tubuhnya tetap mengingatkannya dengan apa yang sedang terjadi. Sial.

Kenapa…

kenapa hal ini bisa terjadi padanya?

"Sial!" jeritnya entah pada siapa, keningnya terantuk pada dinding, menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada dinding berkeramik di depannya. Matanya terpejam erat, seakan tak ingin melihat kenyataan yang sedang terjadi padanya. Seharusnya ini tidak bisa terjadi, seharusnya hal ini tak mungkin terjadi padanya. Kenapa…

"Kenapa ini harus terjadi padaku…" bisiknya lirih.

.

.

.

"Yang Mulia, sarapan anda sudah siap, Apakah anda ingin kami membawakannya kemari? Atau anda berkenan memakannya di ruang makan, Yang Mulia?" tanya seorang pelayan padanya.

"Hn. Bawakan kemari." Jawab Sasuke singkat, melangkah menuju ruang gantinya. Dia membuka pintu lemarinya, dan memasukinya. Di dalamnya merupakan sebuah ruangan yang cukup luas, dengan begitu banyak dan berbagai jenis pakaian miliknya terjejer rapi disana. Dia melepas jubah mandinya sebelum mengambil salah satu pakaian disana dan memakainya.

Makanan sudah tersaji di sebuah meja makan yang berada di ruang kamarnya saat dia selesai berpenampilan rapi. Dia pun menyuruh para pelayan pergi meninggalkannya sendiri selama ia makan. Sasuke menghela napas pelan dan mendudukan tubuhnya di kursi. Di depannya tersaji begitu banyak makanan dengan berbagai macam menu yang akan membuat orang meneteskan air liur saat melihatnya. Tapi Sasuke, dengan kondisinya sekarang ini, dia—

"Umph!" tangannya dengan cepat terangkat menahan mulutnya yang ingin mengeluarkan isi perutnya yang sudah kosong. Napasnya tertahan. Aroma daging yang seharusnya tercium begitu lezat tiba-tiba saja membuatnya ingin muntah.

Sasuke menahan rasa mualnya, dan memaksa dirinya untuk makan sesuatu. Tapi apa daya, bau makanan di depannya begitu pekat, terasa begitu menjijikan, mengaduk-aduk perutnya dengan kasar memaksanya ingin muntah. "Sial!" geramnya marah dan —Prang!— seluruh menu makanan yang ada di atas meja itu terbanting keras ke lantai.

"Y-yang Mulia?! Apa yang terjadi?!" para pelayan berbondong-bondong masuk dengan panik saat mendengar suara berisik akan bantingan keras itu.

"Umph!" napasnya kembali tertahan saat rasa mual menyerangnya lagi. Tanpa membuang waktu, Sasuke pun berlari menuju kamar mandi. Pelayang di belakangnya langsung mengikutinya dengan panik, saat mendengar suara muntahan dari sana.

"Y-yang Mulia?! A-anda baik-baik saja? Jika anda tidak enak badan, saya akan memanggil dokter keraja—"

"Berisik!" geram Sasuke marah, memotong kalimat pelayannya.

"Pergi!" deliknya tajam.

"T-t-tapi Yang Mulia—" pelayan itu menelan ludah saat tatapan kedua oniks di depannya menjadi semakin tajam. Dia pun menundukkan kepalanya takut dan dengan segera mundur dari tempat itu. Pelayan yang lain pun mengikutinya, mereka dengan cepat membereskan makanan yang sudah menjadi berantakan itu dan bergegas pergi meninggalkan sang pangeran untuk menyendiri.

Tangan Sasuke terkepal erat, giginya bergetar dengan marah. Rasanya ingin menjerit sekeras-kerasnya akan keadaan yang sedang di alaminya itu. Perasaan kesal yang terus menumpuk tiap harinya serasa ingin meledak kapanpun. Dia marah, sangat marah. Begitu marah karena hal ini harus terjadi padanya…

.

.

.

.

Brugh.

Bruakk!

"Damn it!"

Bam.

"Tidak ada."

"Tidak ada."

"Tidak ada! Kenapa tidak ada dimanapun?!" Sasuke menjerit marah, membanting sebuah buku ke lantai dengan keras. Di sekelilingnya buku-buku berserakan dengan berantakan, bahkan ada beberapa yang sobek terkena amukannya. Rak buku yang seharusnya rapi kini berantakan dengan buku-bukunya yang berceceran. Debu bertebangan membuat ruang perpustakan itu semakin pengap.

Sasuke menghela napas berat, mencoba menahan emosinya yang ingin meledak. Dia pun merosot ke lantai dan duduk menyilangkan kaki di tengah-tengah tumpukan buku yang berantakan mengelilinginya. Dia mengambil salah satu buku yang belum dibacanya, dan membuka halamannya. Judul buku itu tidaklah penting, karena pada dasarnya semua buku yang sedang ia cari itu mendeskripsikan hal yang sama. Dia hanya sedang mencari sesuatu. Sesuatu yang mungkin bisa memberinya petunjuk akan kondisi tubuhnya sekarang…

'Marking dilakukan untuk mengikat seorang submissive pada sang dominan. Marking tidak akan membuat seorang submissive hamil. Pembentukan rahim hanya akan terjadi ketika kedua demon terikat dengan sempurna melalui mating, karena itulah—'

Srak!— sebuah bunyi grusukan kertas terdengar saat tangan pucatnya membalik halaman buku yang dipegangnya.

'—Mating akan mengikat dua demon seumur hidup mereka. Dua demon tidak akan bisa terlepas ataupun terpisahkan lagi setelah mereka terikat oleh ikatan tanda. Chakra yang terikat menjadi satu tidak bisa dilepaskan, dan akan mengikat kedua pasangan bahkan sampai mati. Jika seorang mate kehilangan nyawanya, maka pasangannya pun akan ikut mati karena ikatan yang mereka miliki—'

Srak!—kertas itu dibalikan lagi saat matanya masih belum menemukan yang dicarinya.

'Mating juga digunakan untuk menghasilkan keturunan. Tanpa melalui mating, seorang male submissive tidak akan memiliki sebuah rahim untuk mengandung anak dan melahirkannya. Mating—'

Srakk!

'Pembentukan rahim terjadi ketika chakra kedua demon sudah membaur menjadi satu. Janin yang mulai terbentuk di dalam rahim akan membutuhkan chakra kedua orang tuanya untuk menopang hidupnya—'

Srakk!

'Hanya melalui mating submissive bisa—'

Srakk!

'Mating merupaka—'

Srakk!

'Mating—'

Srakk!

Srakkk!

SSRAKK!

"SIAL!" buku itu pun terbanting keras menabrak dinding.

Sasuke menatap garang pada buku yang sudah dibantingnya. Giginya digertakan kencang, sedang tangannya terkepal erat. Dia melirik ke samping, melihat buku-buku berserakan yang juga memiliki nasib sama seperti buku tadi karena ia tidak bisa menemukan apapun di dalamnya. Matanya menyalang ketika ia menangkap kata 'mating' dari salah satu buku yang terbuka halamannya.

"Damn it!" semua buku-buku itu pun dibanting keras entah kemana. Tangannya bergetar marah, napasnya terengah-engah, sebelum akhirnya ia kehilangan tenaganya dan merosot ke lantai.

"Kenapa…" bisiknya entah pada siapa, kepalanya menunduk dan tangannya yang bergetar pun bergerak untuk menyentuh perutnya…

"Kenapa!" kini ia berteriak.

"Kenapa ini bisa terjadi! Kami…kami bahkan…" Matanya mulai memanas, bibirnya bergetar menahan bendungan air mata yang ingin jatuh. "Kami bahkan…"

…belum melakukan mating…

Seharusnya ini tidak bisa terjadi….

Kenapa…kenapa dari sekian kasus hal ini harus terjadi padanya…?

Kenapa dia harus yang menanggung hal ini…?

Kenapa hal itu…janin itu…harus tumbuh di dalam perutnya…

Sebutir air hangat pun mulai menetes di pipinya...

Bahkan dari sekian banyak buku yang ia baca, tak satupun yang menerangkan tentang kondisi tubuhnya. Semuanya sama. Semua isi yang ada didalam buku-buku itu sama. Terus mengulang satu kalimat yang mulai membuatnya muak. Apa yang sebenarnya dilakukan para penulis buku bodoh itu, untuk apa menulis buku dengan isi yang sama begitu banyaknya jika tak satu pun dari mereka yang bisa menolongnya sekarang…!

Sasuke menaikkan tangannya ke depan wajahnya, memperhatikan chakra yang meluap naik turun di tangannya. Kalimat Naruto terngiang di kepalanya. Jika dominannya juga mengalami kondisi chakra yang sama. Apakah hal itu terjadi karena janin yang dikandungnya sekarang? Jika benar lalu…lalu…bagaimana jika Naruto mengetahui kondisinya sekarang…?

Apa yang harus ia lakukan…?

Dia bahkan tidak tahu bagaimana perasaan Naruto padanya…

Cepat atau lambat, Naruto pasti akan segera merasakan janin di tubuhnya. Apa yang harus ia lakukan saat itu terjadi…? Bagaimana jika…jika…

…Naruto membencinya karena hal ini….

Apa yang harus ia lakukan…?

Kenapa…

Bendungan itu pun akhirnya pecah, membasahi pipi pucatnya dengan air hangat…Pandangannya yang mulai blur pun menjadi gelap ketika ia memejamkan kelopak pucatnya. Kepalanya menunduk, dipangkukan pada kedua lengannya yang bertumpu pada lutut.

"Kenapa…" suaranya menjadi serak karena menahan isakan.

"Kenapa hal ini bisa terjadi…?"

.

.

.

.

.

"Haah….merepotkan…" Shikamaru menghela napas panjang, kedua tangannya ia simpan di dalam saku celana. Sedang kakinya melangkah dengan malas mengikuti sebuah kereta kuda yang berjalan dengan lambat beberapa meter di depannya.

Kereta itu diiringi oleh banyak kesatria. Menjaga dan mengawasi kondisi sekeliling kereta agar tak satu pun masalah muncul membahayakan seseorang yang kini berada di dalam kereta itu. Beberapa Anbu Ne terlihat beberapa kali muncul dari hutan yang berada di sekeliling mereka, sesekali melapor pada ketua mereka yang berada tepat di samping kereta kuda.

Demon bertopeng itu berjalan mengiringi kereta kuda, mengawasi dengan ketat kondisi sang tuannya. Banyaknya Anbu Ne yang bertugas melindungi perjalanan kereta itu memberitahu siapapun yang melihatnya akan berpikir seseorang yang tengah duduk di dalam kereta merupakan seseorang yang sangat penting. Bahkan dengan begitu banyaknya Anbu Ne, terasa masih kurang, karena kereta itu masih harus diiringi banyak kesatria kerajaan selama perjalanannya.

Oh apa kau bertanya siapa orang yang sedang duduk di dalam kereta kuda itu?

Well, melihat banyaknya Anbu Ne yang mengawasi kereta itu, siapa lagi yang berada di sana kalau bukan Yang Mulia Raja itu sendiri? Anbu Ne merupakan kesatria pribadi sang Raja, siapa lagi yang mereka lindungi kalau bukan Danzo. Benar, orang yang tengah berada di dalam kereta kuda itu adalah Danzo, sang Raja yang harus mereka lindungi dengan taruhan nyawa apapun yang terjadi.

Perjalanan kereta yang memakan waktu beberapa hari itu sedang menuju ke negara tetangga untuk melakukan beberapa negoisasi kerajaan yang entah apa hanya mereka yang tahu. Mengiring seorang Raja memang pekerjaan yang sangat penting dan terhormat. Para kesatria pasti akan berebut untuk mendapatkan kesempatan itu, tapi Shikamaru? Haah… Dia hanya menghela napas panjang. Yah.. kalian sudah tahu ada banyak alasan kenapa pemuda berambut nanas ini malas melakukan misi, apa lagi mengingat misi itu harus membuatnya melindungi seseorang yang seharusnya akan dia lawan nantinya.

Shikamaru melirik ke sampingnya, kedua matanya terlihat sangat malas dan mengantuk, namun pikirannya berputar menyelidik pada temannya yang juga mendapat misi sama sepertinya. Kepalanya tiba-tiba teringat pembicaraannya dengan Tsunade beberapa waktu sebelumnya.

"Misi?" Shikamaru menaikkan alis pada wanita berambut pirang yang menjadi atasannya itu.

"Hmm, ada sesuatu yang aku ingin kau lakukan…" Tsunade bergumam, seraya mengambil sesuatu dari laci meja.

"Tapi di waktu mendesak seperti ini? Bukankah kita masih harus memikirkan rencana kudeta kita?" Shikamaru bertanya dengan heran.

"Hmm, iya, justru karena itu lah…Oh!" ucapan Tsunade terhenti sebentar saat dia berhasil menemukan berkas yang ia simpan semalam. Ia pun menyerahkan berkas itu pada Shikamaru dan berkata lagi. "Aku ingin kau menyelidiki soal ini. Ada sesuatu yang aku ingin kau pastikan."

Shikamaru menaikkan alis bingung, namun tetap menerima berkas itu. Dia pun membukanya satu persatu. Matanya terbelalak saat melihat apa isi berkas itu. "Ini…"

"Kau masih ingat tugas yang kuberikan untuk menyelidiki si bocah pirang itu?" Tsunade memutuskan bertanya.

"Naruto? soal itu... aku rasa ada sesuatu yang aneh tentangnya. Dia seperti menyembunyikan kekuatannya yang sebenarnya. Aku melihatnya saat melakukan misi, ditambah kejadian latih tanding kemarin…" balas Shikamaru menggantung, seraya menganalisis apa yang ada di dalam kepalanya.

"Benar, Uzumaki Naruto. Dia juga akan ikut dalam misi kali ini. Ada sesuatu yang harus kau pastikan…"

Shikamaru menghela napas lagi. Karena permintaan Tsunage, dia terpaksa mengikuti misi yang cukup membosankan sekarang. Matanya melirik sekali lagi ke arah temannya, atau kau bisa menyebutnya sebagai seseorang yang kini sedang ia selidiki.

Yep, dia adalah pemuda pirang bernama Uzumaki Naruto. Masih belum ada gerakan mencurigakan dari temannya itu, tidak, bukan berarti Naruto bertingkah seperti biasanya—menjadi pemuda yang tidak bisa diam dan terus mengoceh ataupun nyengir kemanapun. Pemuda itu terlihat lebih diam sekarang.

Mungkinkah karena kejadian latih tanding kemarin? Yah, wajar saja, mengingat kejadian kemarin benar-benar membuat heboh, dan sepertinya memang hal itulah yang menjadi penyebab diamnya pemuda pirang itu.

Shikamaru melirik ke sekelilingnya, telinganya bisa mendengar bisikan-bisikan dari para kesatria lain. Dia bisa merasakan begitu banyaknya pandangan-pandangan aneh yang ditujukan pada temannya, dan dia akui ia juga melakukan hal yang sama pada temannya itu. Habis apalagi yang bisa mereka lakukan? Siapa yang tidak penasaran pada seseorang yang seharusnya hanyalah demon lemah yang bahkan tidak bisa melakukan shapeshifting, tiba-tiba saja menjadi seorang demon berekor empat? Bukan salah mereka, jika mereka penasaran setengah mati tentang pemuda pirang itu.

Apalagi pemuda pirang yang sedang mereka bicarakan itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Belum ada satupun dari mereka yang berani memecah rasa penasaran mereka dan bertanya langsung pada pemuda itu. Ada rasa canggung ataupun ragu-ragu saat mereka ingin betanya. Ditambah rasa takut mengingat jumlah ekor yang sekarang dimiliki pemuda itu.

Ada hukum tak tertulis yang mengatakan bahwa demon yang lebih kuat dapat mengatur demon yang lebih lemah, dan semakin banyak ekor yang demon miliki semakin banyak kekuatan demon itu. Hal ini membuat mereka sedikit takut mendekati pemuda pirang itu sekarang.

Jika pemuda itu berkata tidak ingin diganggu, maka mereka pun tidak bisa menganggu. Karena darah demon yang ada di dalam tubuh mereka akan takut dan menuruti kalimat itu seperti insting. Sehingga, yang hanya bisa mereka lakukan sekarang adalah berbisik-bisik dari belakang, yang sebenarnya malah membuat pemuda pirang itu semakin tidak nyaman.

.

.

Naruto menghela napas untuk sekian kalinya. Dia seharusnya tidak mengikuti misi ini. Untuk apa sebenarnya ia melakukan hal ini sekarang? Jika yang ia dapat hanyalah pandangan dan bisikan yang tidak mengenakan. Mereka pikir dia tidak bisa mendengarnya sekarang? Mereka salah besar jika berpikir indra pendengarnya hanya indra pendengaran biasa. Dia sudah berlatih bertahun-tahun untuk melatih kelima indranya dengan matang. Suara yang seharusnya hanya bisikan itu terdengar seperti sebuah percakapan biasa di telinganya.

Ini benar-benar berita buruk untuknya. Dia mungkin masih selamat di mata para demon bodoh itu. Mereka hanya akan berpikir dia baru saja mendapatkan sebuah kekuatan tinggi atau apa, yang membuat kekuatannya meningkat menjadi ekor empat, atau mungkin karena dia sudah berlatih diam-diam untuk meningkatkannya ataupun karena ia memang menyembunyikannya dari awal.

Mereka tidak akan berpikir terlalu jauh seperti dia sedang menyusup ke dalam kerajaan untuk melakukan sebuah kudeta Raja. Tapi bagaimana dengan yang lain? Rumor tentang ekornya pasti akan dengan cepat menyebar ke seluruh kerajaan. Wanita hokage itu pasti sudah mendengarnya sekarang, lalu bagaimana dengan para petinggi kerajaan? Para council? Atau bahkan Danzo sendiri? Dia tidak tahu bagaimana posisinya sekarang di mata para demon itu. Apapun itu, satu hal yang pasti, posisinya sekarang sudah sangat genting. Dia tidak bisa membuang banyak waktu lagi disini. Dia harus segera memikirkan rencana untuk membunuh Danzo sebelum semuanya menjadi terlambat.

Oh, ngomong-ngomong soal demon busuk itu, mungkin karena hal itu lah dia memutuskan untuk mengikuti misi ini sekarang. Menjadi kesatria yang bertugas melindungi Danzo itu sendiri mungkin bisa menjadi kesempatannya untuk mencari hal sekecil apapun sebagai celah dalam melakukan rencanannya nanti.

Naruto melirik ke tangannya saat melihat sebuah ukiran symbol menyala. Simbol-simbol itu muncul dalam beberapa detik pada punggung tangan kirinya kemudian lenyap kembali seperti semula. Chakranya mulai bergejolak lagi. Simbol di tangannya merupakan sebuah segel yang sengaja ia pasang untuk mengendalikan chakranya. Bukan sepenuhnya mengekang chakra yang ada di dalam tubuhnya. Dia masih bisa menggunakannya, hanya saja dalam batasan tertentu. Jika chakranya meningkat sampai melebihi batasan itu, maka segelnya akan bekerja mengekangnya seperti yang barusan terjadi.

Naruto masih belum juga menemukan penyebab ketidakstabilan chakranya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Memang, ada beberapa hal yang bisa dijadikan kemungkinan penyebab ia kehilangan kendali. Tapi ia sudah mencoba beberapa hal itu untuk mengembalikannya seperti semula. Tapi hasilnya? Huh, mengingatnya saja membuatnya ingin berteriak marah.

.

.

.

Kereta berdesain mewah itu pun akhirnya sampai di negeri tetangga. Penyambutan yang cukup meriah dan megah membuat para kesatria sedikit kuwalahan dalam menahan sorak-sorakan yang menyambut mereka. Kereta itu langsung diantarkan menuju istana utama kerajaan itu. Negoisasi yang mereka lakukan tidak memakan waktu yang cukup lama. Mereka hanya menginap selama semalam, sebelum akhirnya kembali ke kerajaan asal.

"Naruto." panggil Shikamaru dengan malas, menghampiri temannya yang sedang berdiri di dekat kereta kuda sang Raja. Danzo sudah selesai melakukan negoisasi, karena itu sekarang mereka sedang menunggu sang Raja kembali dari istana sebelum akhirnya mereka melakukan perjalanan pulang.

Naruto melirik ke samping, sedikit was-was akan hal yang ingin Shikamaru bicarakan. Pemuda berambut nanas itu merupakan demon yang memiliki otak jenius. Dia tak bisa menganggapnya sama seperti demon-demon bodoh yang lain.

Shikamaru menghela napas, kakinya pun berhenti setelah ia berdiri tepat di samping Naruto. Mereka berdiri berjejeran, menghadap ke pemandangan bangunan istana yang ada di depan mereka. Kedua wajah mereka menatap lurus ke depan, namun mereka tahu kalau masing-masing dari mereka dengan sembunyi-sembunyi mencuri lirikan lewat sudut mata untuk mencari tahu ekspresi wajah lawannya.

"Jadi…apa kau berniat menceritakannya?" Shikamaru bertanya tanpa basa-basi.

"'Apa maksudmu?" balas Naruto memasang wajah tak mengerti.

"Tak perlu berpura-pura tak tahu." Shikamaru menghela napas. "Aku benar-benar terkejut saat latih tanding kemarin. Aku tidak tahu kau memiliki kekuatan sebesar itu."

"Tidak. Bukan begitu!" balas Naruto sedikit berteriak, memasang wajah seperti orang kesusahan. Shikamaru yang sedikit kaget akhirnya menoleh ke temannya. "Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi! Kau harus membantuku Shika! Posisiku semakin tidak nyaman karena mereka terus membicarakanku. Kau tidak tahu betapa shoknya aku saat melawan Neji kemarin. Chakra di tubuhnya tiba-tiba seperti meluap! Dan saat aku sadar, aku sudah menendang Neji seperti itu! Aku sama sekali—"

"Tunggu, tunggu dulu. Aku tidak mengerti." Shikamaru terpaksa memotong ocehan temannya yang mulai tidak karuan membingungkannya.

"Sudah kubilang Aku tidak tahu apa yang terjadi, tubuhku tiba-tiba saja bergerak sendiri, dan ekorku sudah jadi empat seperti itu! Aku bahkan belum bisa melakukan shapeshifting! Aku juga—"

"Uh, pelan-pelan, baka. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Merepotkan…" hela Shikamaru, memijit pelipis kepalanya.

"Sudah kubilang aku tidak tahu apa yang terjadi!" ucap Naruto kesal, menggembungkan kedua pipinya dan merengut seperti anak kecil.

Ada sebuah jeda sebelum Shikamaru akhirnya berkata. "Kau tidak tahu…?" ucapnya bingung

'Dia tidak tahu…? Benarkah…? Tapi…' Shikamaru membatin, kepalanya berputar keras mencari tahu jawaban dari hal yang semakin membingungkannya itu.

"Benarkah?!" sebuah suara teriakan tiba-tiba mengagetkan kedua demon itu. Mereka pun menoleh ke arah suara.

"Yep, aku dengar Yang Mulia akan mengundang beberapa tamu penting dari kerajaan lain saat festival nanti. Ahh…aku harap akan ada salah satu kerajaan yang mengirim seorang Putri ke Konoha…" salah satu dari demon yang sedang mengobrol itu berandai-andai.

"Putri? Pfft meskipun mereka benar-benar datang, kau juga tidak akan bisa menemuinya, kita hanya rakyat rendahan, jangan berharap apa-apa.." salah satu demon mengejek.

"Cih, tidak apa kan bermimpi sedikit. Memang kau tidak mau melihat seorang Putri? Konoha hanya memiliki seorang pangeran sekarang." demon tadi membalas.

"Tapi kalau benar akan ada tamu dari negara lain, festival kali ini pasti akan sangat meriah! Aku tidak sabar ingin pulang ke Konoha." Ujar demon yang lain menanggapi.

"Festival?" Naruto tanpa sadar bergumam.

Shikamaru menoleh ke arahnya sebelum menghela napas. "Peringatan berdirinya Kerajaan Konoha. Kita selalu mengadakan festival tiap tahun untuk merayakannya, ingat?"

"Hmm…" gumam Naruto tidak jelas. Dia menoleh ke arah istana saat mendengar suara sorakan dan keributan dari sana. Pintu gerbang yang besar itu pun terbuka, lalu dengan cepat beberapa penjaga berlarian keluar dari pintu itu dan berbaris di depan gerbang dengan rapi, membentuk sebuah jalan seakan sedang menyambut seseorang.

Para kesatria Konoha pun dengan cepat menanggapi, tanpa diperintah, mereka sudah mengambil posisi dan berbaris seperti penjaga tadi. Mengiringi sebuah karpet merah yang menjulang panjang sampai gerbang. Naruto yang sudah berada di dekat kereta berjalan dengan santai untuk mengambil posisinya. Dia menoleh ke gerbang dan menyeringai puas. Sebuah rencana kini mulai terbentuk di dalam kepalanya. 'Festival huh…?' batinnya tersenyum licik. 'Kurasa tidak ada buruknya juga aku menjalankan misi ini…'

Sebuah terompet dibunyikan diikuti pemberitahuan bahwa sang Raja Konoha siap untuk kembali. Sang Raja yang disebut-sebutkan pun akhirnya keluar dari gerbang, diiringi banyak pengawal dan pengantar. Sapah serapah dilangsungkan dengan singkat, sebelum akhirnya Danzo pun siap kembali menuju negara asalnya. Danzo melangkah dengan perlahan namun lantang di atas karpet merah yang dijaga ketat oleh para kesatria, berjalan pasti menuju kereta kuda yang menjadi tunggangannya untuk kembali.

Setelah beberapa menit, Danzo pun akhirnya sampai di depan kereta tunggangannya. Dia pun menaikkan kakinya untuk naik ke tangga yang menghubungkan kereta itu dengan tanah yang dipijaknya. Pintu kereta itu sudah terbuka lebar mempersilahkannya masuk.

"Semoga Anda beruntung dalam perjalanan Anda, Yang Mulia." Sebuah suara tiba-tiba menghentikan gerakan tubuhnya.

Danzo menoleh ke samping. Salah satu alisnya menekuk heran. Tidak pernah sekalipun ada seseorang yang dengan berani bicara dengannya seperti ini, apalagi mereka hanyalah seorang kesatria rendahan yang bertugas menjaganya.

Kesatria yang baru saja berbicara itu menundukkan wajahnya, tangannya mengambang di udara, membuat gerakan seperti sedang mempersilahkan tuan di hadapannya untuk masuk ke dalam kereta, dan kemudian dia pun mendongak, dengan sukses membuat satu-satunya mata milik Danzo yang kelihatan itu terbelalak terkejut, saat melihat…

…dua mata shapire yang sangat familiar menatap langsung padanya. Surai pirang yang sedikit berantakan bergerak mengikuti gerakan angin yang berhembus melewatinya. Bibir merah muda pucat itu pun membentuk sebuah seringai tajam, tiga goresan luka yang ada di kedua pipinya sedikit terangkat membuat wajah berkulit tan itu terlihat semakin liar.

"K-kau…" Danzo tanpa sadar mengeluarkan suaranya.

"Saya harap anda selamat dalam perjalanan, Yang Mulia. " ucap Naruto dengan seringai, kedua safir-nya menatap tajam pada demon yang bertahun-tahun lebih tua darinya itu.

Danzo terpaku kaget melihatnya. Wajah yang sudah bertahun-tahun tak dilihatnya, wajah seseorang yang ia kira sudah mati sebelas tahun yang lalu kini muncul tepat dihadapannya. Danzo tertegun sebentar memahami apa yang sedang dilihatnya sebelum bibirnya membentuk sebuah seringai, mata hitam kecilnya pun membalas tatapan tajam safir didepannya.

"Ah…terima kasih. Kau juga berhati-hatilah. Bahaya bisa muncul kapanpun tanpa kita ketahui" Balas Danzo menyeringai.

"Benar. Bahaya itu bisa mengancam nyawa kita kapan pun." Balas Naruto tak kalah tajam.

Sebuah petir seakan menyambar di antara kontak mata yang sangat tajam itu. Tatapan yang seharusnya hanya berlangung beberapa detik terasa begitu lama di antara kedua demon yang saling membenci satu sama lain. Bibir saling menyeringai, kilatan petir saling menyambar lewat tatapan itu, seakan sedang mendeklarasikan pernyataan perang masing-masing.

Danzo pun akhirnya melepas kontak mereka, dan bergerak lagi memasuki keretanya. Dia dengan segera mendudukan tubuhnya di atas singgasana dalam kereta itu. Pintu yang hanya menutup setengah membuatnya menoleh ke samping. Naruto menyeringai menatapnya, kedua tangannya memegang gagang pintu itu. "Malam bisa datang kapan pun menjemput kita, karena itu berhati-hatilah..."—dan pintu itu pun menutup. "…Danzo." Ucapnya tersenyum dingin.

.

.

.

.

.

Angin malam bersemilir pelan menerpa apapun yang tengah dilewatinya. Malam yang seharusnya sunyi itu menjadi berisik ketika para kesatria berbondong-bondong masuk ke dalam wilayah istana. Usai sudah tugas mereka untuk melindungi sang Raja dalam perjalanannya. Sesampainya di istana mereka langsung menuju ruangan kamar masing-masing, namun ada juga yang memilih pergi untuk minum-minum dan berpesta merayakan keberhasilan misi mereka.

Naruto berjalan dengan santai menuju ruangan kamarnya di akademi kesatria. Kedua tangan ia simpan di dalam saku celananya, mata safir-nya lurus ke depan, dan bibirnya membentuk seringai puas. Ia sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Ada banyak hal yang harus ia pikirkan dan kerjakan sebelum melakukan rencana pemberontakan yang sudah ia tunggu-tunggu setelah sekian lama.

Salah satu tangannya keluar dari kantong saku, mengeluarkan sebuah kunci yang ia gunakan untuk membuka pintu kamarnya. Klak!— kunci pintu itu terbuka. Naruto memutar gagang pintu itu dengan pelan. Pintu mahoni berwarna coklat itu pun terbuka, memberinya ruang untuk masuk ke dalam ruangan yang ada dibaliknya. Namun baru dua langkah ia bergerak, tubuhnya tiba-tiba terhenti saat ia melihat sesuatu yang membuatnya tertegun.

Naruto terdiam sebentar, menatap tak percaya pada 'sesuatu' yang ada di dalam kamarnya itu. 'Sesuatu' itu tak bergerak, mungkin karena tak menyadari kedatangannya sekarang. Setelah beberapa saat, Naruto pun menghela napas. Tangannya yang masih memegang gagang pintu, menutup dengan perlahan pintu mahoni itu, sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara. Ia pun mengunci pintu itu. Sepatu yang ia kenakan ia lepas dengan hati-hati. Entah kenapa ia tak ingin menimbulkan suara sekarang. Setelah menaruh sepatunya dalam rak, ia pun berjalan ke tengah ruangan. Ia berhenti tepat di depan tempat tidurnya, hanya berjarak beberapa langkah dari benda berkasur itu. Kedua safir-nya menatap lurus ke depan, ke arah 'sesuatu' yang kini dengan sangat nyaman terlelap di atas kasurnya. 'Sesuatu' itu bergerak sedikit dan mengeluarkan erangan kecil, namun tak terbangun sedikitpun.

Gerakan tipis itu hampir tak terlihat namun Naruto masih bisa menangkapnya. Sebuah kekehan kecil terlepas tanpa disadarinya. Tiba-tiba saja ia teringat kenapa ia sangat suka memperhatikan 'sesuatu' yang sedang ada di depannya itu. Surai raven yang berantakan itu, terjatuh menutupi kening berwarna putih pucat ketika sang pemilik surai menggerakan kepalanya. Cahaya bulan yang menyusup masuk melalui jendela memantul pada kulit putih susu, membuatnya berkilau sangat indah. Dua manik oniks kini bersembunyi di balik kelopak berkulit pucat. Bulu mata yang lentik nan panjang membuat paras tampan itu semakin cantik. Hembusan napas pelan terdengar begitu merdu memenuhi ruangan.

Pemuda bersurai raven itu terlelap dengan sangat nyaman di atas tempat tidur. Dia mengeluarkan erangan kecil lalu memeluk bantal yang didekapnya semakin erat seakan sedang merasa kedinginan. Naruto dengan setengah sadar menggerakan kakinya maju. Diraihnya selimut yang ada di sisi tempat tidur untuk menutupi tubuh sang raven. Pandangannya terhenti pada paras cantik sang raven. Naruto pun terduduk di atas lantai, kedua safirnya menatap lekat pada sang raven di hadapannya.

Naruto terus menatap tanpa berkedip, seakan memperhatikan wajah yang sangat cantik itu begitu menyenangkan. Tapi, mungkin benar, dia merasa tak akan pernah bosan melihat sang raven. Wajah yang cantik itu, mata hitam kelam yang selalu membuatnya terhanyut oleh keindahannya, bibir mungil cherry yang terlihat sexy ketika bergerak, sifat angkuhnya yang juga kekanak-kanakan, ekspresinya yang begitu manis saat merona, bahkan gerakan sekecil apapun darinya yang terkadang menggemaskan, semuanya, semua tentang sang raven tak pernah sekalipun membuatnya merasa bosan.

"Sasuke…" nama itu terlepas dari bibirnya dengan sangat lirih hampir tak bersuara.

Salah satu tangannya terulur ke depan, meraih helaian surai yang terjatuh menutupi wajah sang raven. Ia membelai lembut surai hitam itu. Halus. Helaian hitam itu terasa begitu halus di jari-jarinya. Mengejutkan jika kau mengingat rambut bagian belakang yang mencuat melawan gravitasi. Sebuah senyum tipis pun terlukis di bibirnya.

'Apa yang ia lakukan disini?' pertanyaan itu terlintas di kepalanya. Mendapati Sasuke tertidur di kamarnya ketika ia kembali benar-benar mengejutkannya. Ia tak mengerti apa yang membuat sang raven begitu suka pergi ke kamarnya. Berbagai pertanyaan terpikir olehnya, namun tak satupun keluar dari bibirnya.

'Kenapa ia ada di sini?'

'Apa ia sudah lama disini?'

'Apa ia terkena mimpi buruk lagi?'

'Apakah ia mencariku?'

'Apakah ia…

"Naru…" nama itu tiba-tiba dipanggil begitu lirih, menghentikan gerakan tangannya yang sedang bermain-main dengan surai sang raven. Tubuh Naruto membeku, ia menatap was-was pada Sasuke, takut akan sang raven yang tiba-tiba terbangun. Napasnya bahkan tertahan tanpa disadarinya.

'Apakah ia…

"Naruto…" panggilnya lagi dengan begitu lirih. Namun tak sedikitpun terlihat Sasuke akan terbangun. Kelopak pucat itu masih tertutup erat. Hanya sebuah gumaman kecil yang terdengar dari bibir mungil itu. Gumaman yang sangat kecil dan lirih namun sanggup membuat kupu-kupu yang ada di dalam perutnya terbangun dan bertebangan. Perasaan menggelitik dan menyesakkan tiba-tiba muncul memenuhi dadanya.

…merindukanku?'

Naruto menelan ludah. Tiba-tiba saja tubuhnya menjadi gatal. Tangannya yang masih mengambang canggung di atas kepala sang raven terkepal erat. Perasaan menggelitik di dalam dadanya semakin terasa, seakan menyuruhnya untuk mengikuti keinginan tubuhnya. Ia ingin menyentuh wajah cantik itu, ia ingin melihat manik oniks itu menatapnya sayu, ia ingin mencium bibir mungil itu, ia ingin memeluk tubuh berkulit pucat itu dengan gemas, ia ingin menghirup aroma manis bercampur mint yang sangat ia sukai itu, ia ingin merasakan leher jenjang yang sangat menggoda itu, ia ingin menyentuhnya, ia sangat ingin…

"Aku menyukaimu…"

…dan semua pemikiran itu langsung buyar ketika satu kalimat itu terngiang di kepalanya. Naruto menggertakan gigirnya kuat. Tangannya yang masih mengambang di udara pun terjatuh kembali ke asalnya. Kenapa…

Kenapa harus sekarang…

Tak bisakah Sasuke menunggu lebih lama…?

Tak bisakah…

Tidak…

Mungkin bukan itu…

Mungkin jika posisi mereka bukan seperti sekarang…

Jika saja…keadaan mereka tidak seperti sekarang…

Mungkin ia…

Mungkin mereka bisa…

"Cih!" umpatan itu keluar dari mulutnya. Naruto dengan segera beranjak dari lantai. Ia pun dengan geram melangkah menuju ruang kamar mandinya. Seperti diburu-buru, ia melangkah cepat menuju tempat shower-nya. Air dingin langsung mengucur deras membasahi tubuhnya. Namun dinginnya air itu seakan tidak bisa menenangkan pikirannya. Pakaian yang masih membalut tubuhnya pun basah kuyup, melekat seperti kulit dengan tubuhnya.

Bugh!

Sebuah tinju menghantam dinding berkeramik biru di depannya. Naruto menghela napas. Ia menempelkan dahinya pada dinding. Tenaga dan emosinya dengan perlahan ikut lenyap bersama air dingin yang mengalir membasahi tubuhnya. Matanya pun menutup. Satu helaan napas terlepas lagi dari bibirnya.

"Apa yang harus aku lakukan…?"

.

.

.

Setelah beberapa menit, Naruto pun keluar dari kamar mandinya, hanya dengan berbalut handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Butir-butir air masih menetes di leher dan dadanya, rambutnya pun tak luput dari air. Ia menghela napas dan melangkahkan kakinya menuju lemari pakaiannya.

"Naruto…?" sebuah suara memanggilnya. Naruto menoleh ke arah tempat tidur, mendapati Sasuke sudah terbangun dari tidurnya. Salah satu tangan yang mengucek mata memberitahunya kalau sang raven masih mengantuk.

"Kapan kau kembali, dobe?" tanya Sasuke padanya. Satu uapan terlepas dari mulutnya.

Naruto terdiam sebentar lalu bergerak lagi menuju lemarinya. Dia pun membuka lemari itu dan mencari baju untuk dipakainya. "Barusan." Balasnya pada Sasuke setelah beberapa saat.

Sasuke yang menyadari pemuda pirang itu hanya memakai handuk, dengan refleks langsung memalingkan wajahnya, pipinya sedikit merona. "Aku tidak mendengarnya…" gumamnya.

Sasuke melirik hati-hati pada Naruto, ia sedikit lega saat melihat pemuda itu sudah berpakaian. Bodoh. Ada apa dengannya, padahal dia sudah pernah melihat tubuh Naruto seutuhnya. Untuk apa ia memalingkan wajah seperti tadi.

Berniat menghilangkan kecanggungan, Sasuke membuka mulutnya lagi, namun terhenti saat ia ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Sasuke menggigit bibir. Ia masih ingat betapa dinginnya kedua safir itu saat marah. Ia tidak tahu apa Naruto sudah tahu kondisinya sekarang. Tak akan heran, jika Naruto mencurigainya sebagai penyebab ketidakstabilan chakra mereka, dan Sasuke juga tak akan bisa mengelak, sebab hal itu… memang benar…

"A-apa kau marah padaku…?" kalimat pertanyaan ini akhirnya terucap dengan ragu-ragu.

Sasuke menggigit bibirnya erat, tak berani mengangkat wajahnya untuk melihat ekspresi wajah Naruto sekarang.

Keheningan terbentuk saat tidak ada satupun dari mereka yang bicara.

Naruto tertegun saat mendengar pertanyaan itu. Dia terdiam sebentar sebelum menghela napas. Ia pun menutup lemari dan mengambil handuk yang ia jatuhkan di lantai. "Tidak." Dia akhirnya menjawab. Dia berbalik dan menatap sang raven.

Sasuke langsung mendongak saat mendengar hal itu, kedua oniksnya berseri dengan lega. "Benarkah?" tanyanya lagi, memberanikan diri untuk menatap safir sang pirang.

Bukannya menjawab, Naruto hanya menatap Sasuke sejenak sebelum melangkah pergi menuju kamar mandinya. Dia menaruh handuk yang dibawanya ke salah satu gantungan di dinding kamar mandi.

"Kau marah padaku!" Sasuke bicara lagi menghampirinya ke kamar mandi.

Naruto menghela napas, lalu berbalik lagi. "Aku tidak marah." Ucapnya pada sang raven, sebelum melangkah menuju lemari es, melewati sang raven yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Dia mengambil sebuah botol air minum dan meneguk airnya dengan rakus.

"Tapi kemarin…" Sasuke mengigit bibir, kepalanya pun menunduk. Pikirannya berkecamuk. Apa Naruto sudah tahu sekarang? Apa Naruto marah karena hal itu? Apa harus ia lakukan jika Naruto sudah tahu? Atau jika dia memang belum tahu? Haruskah dia memberitahu Naruto soal keadaannya? Dan lagi dan lagi begitu banyak pertanyaan terus berputar di kepalanya.

'Apa yang harus ia lakukan sekarang?' hanya satu pertanyaan itu yang sebenarnya ingin ia cari tahu jawabannya. Ia bingung, sangat bingung, dan juga…takut…

"B-bagaimana dengan chakramu…?" Sasuke memutuskan bertanya.

"Kenapa?" tanyanya Naruto. Dia meletakan botol minum itu di meja, lalu menyenderkan tubuhnya pada meja itu, tubuhnya menghadap Sasuke. "Apa kau tahu penyebabnya?" tanyanya lagi, menatap curiga pada kedua oniks.

Sasuke menahan keras tubuhnya untuk tidak panik, menjaga ekspresinya se-normal mungkin. "Sudah kubilang aku tidak tahu apa-apa, dobe."

Naruto masih menatap sang raven sebelum akhirnya menghela napas. "Apa yang kau lakukan disini, Sasuke?" tanyanya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

Bukannya merasa lega, Sasuke malah bertambah semakin panik. "A-aku…" Apa yang dia lakukan disini?! Berpikir! Ayo pikirkan sesuatu Sasuke. "Aku hanya…" Sial. Apa yang harus ia katakan?! Tidak mungkin dia bilang ia kemari karena ingin bertemu pemuda pirang itu.

"Hanya…?"

"Uh…memangnya aku tidak boleh kemari?!" Sasuke akhirnya balik tanya dengan raut kesal.

"Tidak, hanya saja…" Naruto bergumam. "hah lupakan saja…" gumamnya malas, dia beranjak dari tempatnya menuju meja di sudut ruangan.

"Kau benar-benar tidak marah padaku..?" tanya Sasuke lagi menggigit bibirnya.

Naruto menghela napas. "Kenapa aku harus marah? Bukankah kau bilang kau tidak tahu apa-apa?"

"T-tapi...aku dengar dari para pelayan soal latih tanding kemarin…Mereka semua sudah tahu soal kekuatanmu sekarang…" ucap Sasuke sedikit bergumam. "Apa kau akan melakukan sesuatu soal itu?"

"Aku tidak akan melakukan apapun soal itu. Aku tidak bisa mengubahnya jika mereka sudah tahu. Lagipula ada hal lain yang harus kulakukan sekarang." Terang Naruto. Dia membuka lemari kecil yang ada di bawah meja, lalu mengambil sebuah gulungan kertas.

"Hal lain?" tanya Sasuke bingung, ia menghampiri pemuda pirang itu untuk melihat yang dilakukannya.

"Aku akan segera melakukan rencana itu." Ucap Naruto, menatap pada kedua oniks yang memandangnya bingung.

"Renca…na?!" manik hitam itu membola saat ia akhirnya memahami kalimat pemuda pirang dihadapannya.

"Benar. Rencana pembunuhan sang raja kerajaan ini. Aku akan segera melakukannya." Balas Naruto dengan senyum licik.

"K-kapan?" Sasuke bertanya tidak percaya.

"Kenapa? Apa kau akan menghentikanku, Sasuke? Aku tidak akan heran jika kau bilang kau akan menghentikan rencanaku. Aku—

"Aku akan membantumu!" Sasuke tiba-tiba memotong kalimat Naruto dengan cepat.

Kali ini giliran Naruto yang membelalakan safirnya. Dia tertegun menatap Sasuke dengan tidak percaya, dan Sasuke sepertinya memahami itu, karena dia mengulangi perkataannya lagi.

"Aku akan membantumu. Aku sudah memikirkanya baik-baik. Biarkan aku membantu rencanamu, Dobe." Terang Sasuke, keyakinan terpancar jelas di kedua oniks-nya.

"Aku akan membunuh seorang raja." Ucap Naruto seakan ingin membuat Sasuke tersadar.

"Aku tahu. Danzo membuat kerajaan ini semakin hancur. Bukankah kau sendiri juga bilang begitu."

"Aku bisa saja bohong padamu." Ucap Naruto lagi.

"Tapi kau tidak. Aku melihat buktinya sendiri." Balas Sasuke dengan yakin, tersenyum puas saat melihat Naruto yang masih tertegun.

"Kau seorang putra mahkota. Ini sama saja sebuah pengkhianatan."

"Ini sebuah kudeta. Aku melakukannya karena aku tahu hal ini hal yang benar." Senyum di bibirnya melebar menjadi seringai.

Naruto membuka mulutnya lagi, namun Sasuke dengan cepat memotongnya. "Tidak perlu bertele-tele, dobe. Aku tahu kau senang mendapat bantuanku. Aku yakin dengan keputusanku. Apapun yang kau katakan tidak akan mengubah pikiranku."

Naruto terdiam, masih menatap kedua oniks itu dengan intens. "Benarkah? Apa kau yakin, Sasuke?" dia akhirnya bertanya dengan senyum meremehkan.

"Hn."

Kedua pasang mata itu bertemu dengan intens. Mereka hanya menatap satu sama lain, mencari kesungguhan dari balik pantulan masing-masing manik. Sasuke dengan penuh keyakinan, sedang Naruto…

…kedua safir-nya sedikit meredup. Sebuah pertanyaan terlintas di kepalanya. 'bahkan jika…aku bilang aku adalah anak sang raja pengkhianat…

…Apa kau juga akan berpikiran hal yang sama, Sasuke…?'

"Ini akan menjadi pertarungan yang sulit, Sasuke." ucapnya pada sang raven, masih menatap kedua manik hitam itu.

"Aku tahu. Karena itu aku ingin membantumu, Dobe." Balas Sasuke menyeringai penuh keyakinan.

.

.

.

.

.

"Apa kau yakin ini tempatnya, Kiba?" sebuah suara terdengar di tengah kegelapan Ibukota.

"Tentu saja! Shika pernah membawaku kemari tahu!" Kiba membalas suara itu dengan kesal.

"Lalu kenapa tidak ada seorang pun disini? Pintunya juga terkunci. Darimana kita bisa masuk?" suara lain ikut menanggapi.

"Benar! Ini sudah tengah malam. Bukankah itu waktu perjanjiannya?" kali ini suara yang bernada lebih tinggi ikut berbicara.

"Memangnya aku tahu! Mereka yang telat, jangan salahkan aku. Aku yakin kita tidak salah tempat!" protes Kiba dengan kesal pada teman-temannya.

"Jangan berisik. Kita tidak ingin ada orang yang mendengar kan?" suara lain lain menanggapi.

"Tapi, Neji! Ini sudah lewat tengah malam! Bagaimana kalau ternyata Shikamaru sudah berbohong?" Tenten berbicara lagi.

"Hey! Ini pacarku yang kalian bicarakan! Dia tidak mungkin bohong!" protes Kiba.

"Lalu kenapa dia masih belum muncul juga?" tuntut Temari.

"Tapi bukankah Shika dapat misi beberapa hari yang lalu? Bagaimana kalau dia belum kembali?" Chouji menanggapi.

"Misi? Kenapa dia buat perjanjiannya sekarang, kalau dia tidak bisa datang?" Kankurou ikut berbicara, beranjak dari tempatnya yang menyender pada dinding.

"Hah…merepotkan…bisakah kalian tidak berdebat meributkanku seperti itu?" sang empunya yang dari tadi dibicarakan akhirnya datang dari arah luar lorong yang remang-remang itu.

"Shika!"

"Shikamaru!"

"Kenapa kau lama sekali, Shika?!" protes Kiba menghampirinya.

"haah…merepotkan…" Shikamaru menghela napas. "Aku baru saja kembali satu jam yang lalu. Kenapa kalian tidak masuk?"

"Jika maksudmu masuk lewat pintu yang terkunci itu, bagaimana kalau kau memberi tahu kami caranya?" tanya Neji menaikkan alis.

"Terkunci?" Shikamaru menaikkan alis bingung. Dia menghampiri pintu itu dan mencoba membukanya, dan memang pintu itu terkunci. Dia menghela napas lagi. "Seharusnya ada seseorang yang menyambut kalian disini…" gumamnya bingung, matanya melirik ke seluruh lorong, mengecek satu-satu wajah temannya. Lorong tempat mereka berada cukup gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang remang-remang. Tapi, sebagai burung hantu, dia bisa dengan mudah melihat dalam kegelapan. Dia mendongak ke arah salah salah satu atap rumah yang tidak begitu tinggi di menutupi lorong itu. Dia pun menghela napas lagi. "Merepotkan…"

"Kakashi-sensei, kenapa kau tidak turun saja kemari?" panggilnya pada seseorang yang bersembunyi disana.

Seluruh pasang mata disana pun dengan refleks menoleh ke arah yang sedang dilihat Shikamaru. Mata mereka melebar kaget saat seseorang tiba-tiba melompat turun dari atap itu. 'Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi?' masing-masing dari mereka memikirkan hal yang sama.

"Ara…kupikir bisa bersembunyi lebih lama, mata milikmu memang jeli dalam kegelapan Shika." Ucap Kakashi dengan cengiran, atau paling tidak seperti itulah ekspresi yang ditunjukan satu matanya.

"Haah merepotkan…" Shikamaru menghela napas lagi. "Jadi bagaimana menurut Sensei? Apa Sensei sudah mendapatkan yang sensei cari? Mereka itu masih bersih bukan?" tanyanya pada demon berambut perak itu tanpa basa-basi, seakan tahu apa yang sedang dilakukan Kakashi dengan bersembunyi tadi.

"Ara…kau memang genius Shika. Tenang saja, teman-temanmu lolos pengamatanku." Balas Kakashi masih tersenyum.

"Tunggu apa yang kalian bicarakan, siapa orang ini?" sela Kankurou kesal.

"Ah…benar juga. Aku lupa mengenalkan diri. Namaku Hatake Kakashi, salah satu kesatria di Konoha. Ini pasti pertama kalinya kita bertemu karena sudah lama aku berhenti menjadi pengajar di akademi." Terang Kakashi dengan mata yang melengkung membentuk 'U' seperti sedang tersenyum senang.

"Hatake Kakashi?! Hatake Kakashi sang Copy Ninja dari Konoha?! Kesatria Anjing yang terkenal dengan kejeniusan dan kehebatannya. Tak kusangka akan ada kesempatan untuk bertemu dengan seorang rival yang mampu mengalahkan Gai-sensei!" teriak Lee tiba-tiba dengan mata berbinar-binar kagum.

"Ah…kau pasti Lee, Gai sering membicarakan tentangmu." Kakashi membalas masih dengan ekspresi senyum di matanya, mengenali penampilan Lee yang memang sangat persis dengan Gai.

"Tunggu, apa maksudmu dengan pengamatan? Apa kau mengintai kami dari tadi?" Neji bicara dengan penasaran, sedikit tidak suka karena tidak sadar telah diamati.

"Haha tenang saja, kalian semua lulus. Aku hanya ingin memastikan kalian benar-benar sesuai yang diceritakan Shikamaru. Pertemuan ini sangat penting, aku tidak ingin ada penyusup yang masuk kemari." Jelas Kakashi dengan nada senang.

Semuanya langsung waspada saat mendengar kata 'pertemuan' dari demon berambut perak itu, beberapa dari mereka tersenyum penuh keyakinan karena bisa ikut serta dalam pertemuan itu, namun ada juga merasa sedikit gugup.

"Merepotkan…bagaimana kalau kita masuk saja sekarang?" ucap Shikamaru dengan malas, dia mengambil kunci dari saku celananya, lalu membuka pintu bar yang terletak di lorong itu.

Pintu itu pun terbuka, menampakan ruangan bar yang gelap tanpa penerangan. Satu per satu para demon itu masuk ke dalam. Kakashi yang masuk paling terakhir, mengecek keadaan luar untuk terakhir kali sebelum mengunci pintunya rapat-rapat dan mengikuti yang lain.

"Akhirnya kalian masuk juga." Sebuah suara tiba-tiba terdengar, menarik perhatian semua demon padanya.

"Haku! Kalau kau sudah tahu kami di luar, kenapa pintunya tidak dibuka?!" protes Kiba menghampiri pemuda berparas cantik yang berdiri di depan pintu dekat meja bar.

"Hi, Kiba-chan." Sapa Haku dengan senyuman indah. "Sayang sekali. Tapi itu tugas Kakashi untuk membawa kalian masuk. Maaf Kiba-chan." Jelasnya.

"Apanya yang tugas! Dia malah bersembunyi sejak tadi! Dan berhenti memanggilku dengan embel-embel 'chan'!" Kiba memprotes lagi.

"Hah…merepotkan…bisakah kita langsung masuk saja?" pinta Shikamaru malas.

"Hihi kau memang tidak sabaran, Shika. Baiklah ayo kita masuk." Ucap Haku berbalik masuk ke dalam ruangan di balik pintu, meninggalkan para demon muda di bar itu terkesima melihat kecantikan penampilan pemuda itu.

"Hey, siapa cewek itu?" bisik Kankurou penasaran pada Kiba.

Kiba terdiam mendengarnya, sebelum ia tertawa terbahak-bahak. "Hahaha cewek? Dia itu cowok!"

"A-apa?! Kau bercanda! Dia cantik sekali, tidak mungkin dia cowok!" sangkal Kankurou tidak mempercayainya.

"Kenapa tidak kau tanyakan saja? Dan sebaiknya kau hati-hati dengan pacarnya." Balas Kiba dengan kekehan, sebelum ia berjalan mengikuti yang lain masuk ke dalam ruangan.

"Pacar?"

Setelah melewati beberapa ruangan, mereka akhirnya sampai di ujung lorong, dimana pintu tersembunyi berada. Para kesatria muda itu memandang heran sekaligus takjub akan bar yang kelihatan begitu kecil dari luar, ternyata memiliki ruangan yang cukup luas dan berliku apalagi ditambah ruangan bawah tanah rahasia yang entah mereka tidak yakin seberapa luas besarnya.

"Kalian lama sekali, Tsunade-sama sudah menunggu." Ucap seorang demon bertubuh jangkung atau bisa disebut juga sebagai sang 'pacar', sudah menunggu mereka di ujung lorong. Langsung ciut sudah keinginan Kankurou untuk mengenal Haku saat melihat betapa garangnya penampilan Zabuza. Pantas saja Kiba memperingatkannya. Huh.

Dinding itu pun berubah menjadi pintu geser saat Zabuza membukakan pintu rahasia di ujung lorong itu. Satu per satu mereka menuruni tangga dan masuk ke dalam ruang bawah tanah. Setelah beberapa menit mereka pun sampai pada sebuah pintu dan memasukinya.

Neji memandang takjub sekaligus terkejut saat matanya menangkap isi ruangan bawah tanah itu. Ruangan itu cukup luas dan lebar, namun hanya diterangi beberapa lampu obor. Namun bukan hal itu yang membuatnya terkejut. Melainkan isinya, mulai dari sudut ruangan itu, sampai ke sudut yang lain, dipenuhi banyak demon yang berjejeran. Yang membuatnya paling terkejut adalah hampir seluruh pengajar di akademi kesatria hadir di ruangan itu. Bahkan Hokage sendiri-lah yang memimpin pertemuan itu.

"Tousan!" panggil Ino berteriak saat mendapati orang tuanya sudah ada di dalam ruangan. Bahkan orang tua kedua sahabatnya, Shikamaru dan Chouji juga berada di sana.

Tsunade berdehem keras menarik perhatian para pendatang baru itu. Semua demon yang ada disana pun diam dan menoleh pada wanita pirang yang menjadi pemimpin mereka.

Tsunade melirik ke seluruh demon yang baru datang tadi dan memastikan wajahnya satu-satu. Mereka sudah berhasil masuk kemari, itu berarti mereka sudah bersih dari pengamatan Kakashi. "Ino, Chouji, Neji, Hinata, Lee, Tenten, Temari, Kankurou, Gaara, Shino." Dia mengabsen mereka satu per satu. "Sebelum aku memulainya, aku punya satu pertanyaan untuk kalian." Ucapnya tersenyum licik, membuat ke sepuluh demon itu menjadi gugup.

"Aku ingin kalian memberitahuku…" Tsunade melirik satu per satu wajah mereka. "…tujuan kalian datang ke pertemuan ini."

Ada sebuah jeda saat tak satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan itu. Setelah beberapa menit, akhirnya salah satu dari ke sepuluh demon itu pun melangkah maju dan dengan berani menjawabnya.

"Klan Hyuuga merupakan sisa-sisa terakhir jejak klan demon naga. Beberapa tahun yang lalu ada sebuah bencana yang menimpa keluarga kami. Hinata-sama, dan beberapa anggota keluarga kami berhasil selamat dari hal itu karena seseorang yang menyelamatkan kami. Orang itu adalah Namikaze Minato-sama." Ucap Neji, tanpa keraguan sedikit pun melafalkan nama yang sudah menjadi tabu di Kerajaan Konoha. "Aku sangat terkejut saat mendengar rumor tentang Minato-sama. Karena itu kami datang ke Konoha untuk mencari tahu hal itu. Tsunade-sama, aku tahu Shikamaru mengajak kami kemari karena suruhan anda, tapi…" dia pun duduk bersimpuh pada satu lutut seraya memberi hormat pada Tsunade. "Minato-sama merupakan penyelamat keluarga kami, kami akan melakukan apapun untuk memulihkan kembali nama Minato-sama. Karena itu, ijinkan aku dan Hinata-sama untuk ikut dalam rencana pemberontakan ini." Ucapnya penuh keyakinan.

"A-a-a-aku j-juga, Ts-tsunade-sama!" ucap Hinata terbata-bata, ikut menunduk hormat bersama kakak sepupunya.

Tsunade sedikit terperangah mendengar permohonan itu. Dia pun tersenyum puas dan menyuruh dua keturunan Hyuuga itu untuk kembali ke tempatnya. "Bagus. Aku senang mendengarnya. Ada yang lain?" dia melirik ke demon yang lain.

Kali ini Temari, diikuti kedua saudaranya yang maju ke depan. Dia melirik ke dua saudaranya dan mengangguk yakin sebelum mulai berbicara. "Aku dan dua saudaraku tidak punya alasan yang khusus untuk ikut dalam rencana kudeta ini. Kami tidak tahu apa yang terjadi pada Raja Minato sebelas tahun yang lalu, ataupun soal Danzo yang berada di pihak jahat. Kami hanya tidak suka dengan kondisi kerajaan ini sekarang. Dalam sekali lihat saja, kami bisa merasakan bahwa penyebab hancurnya kerajaan ini adalah para petinggi di kerajaan ini. Karena itu kami putuskan kalau kami membenci Raja kerajaan ini. Ini kesempatan kami untuk melampiaskan rasa tidak suka kami." Ucap Temari dengan sebuah seringai.

Tsunade menaikkan alis, lalu melirik ke arah sang dua saudara.

"Well, Temari sudah menjelaskannya. Aku hanya ingin Danzo turun dari kursi mewahnya." Kankurou mengedikkan bahunya.

"Bagaimana dengan dia?" Tsunade melirik ke sang adik berambut merah yang hanya diam dari tadi.

"Oh, haha, jangan khawatirkan soal Gaara. Selama kami ada disini, dia tak akan membuat ulah." Ucap Temari dengan seringai, merangkul adiknya dengan enteng.

"Baiklah aku mengerti, bagaimana dengan kalian?" Tsunade melirik sisa pendatang baru yang lain.

Satu per satu mereka pun mengatakan alasan mereka mengikuti pertemuan itu. Mulai dari Lee dengan kalimat masa mudanya, lalu dilanjutkan dengan Ino dan Chouji, Tenten, dan terakhir Shino. Tsunade mengangguk puas setelah mereka semua selesai mengatakan tujuan mereka kemari. Seperti yang sudah diselidiki Shikamaru, mereka cukup dapat dipercaya untuk ikut terlibat dalam rencana kudeta yang akan segera dilakukan itu.

"Tunggu, bagaimana dengan Kiba? Kau tidak menyuruhnya bicara?" protes Kankurou tiba-tiba, melirik ke arah pemuda bertato merah yang berdiri tepat di samping Shikamaru.

"Dia sudah bergabung kemari lebih lama dari kalian. Shikamaru bersamanya ingat?" terang Tsunade, yang ditimpali oleh Kiba dengan menjulurkan lidahnya dengan sangat kekanak-kanakan pada Kankurou. Kankurou pun mendelik kesal padanya.

Tsunade berdehem keras untuk menaik perhatian seluruh demo di ruangan itu. Setelah mendapatkannya, dia pun berkata. "Selamat datang di pertemuan ini. Aku tahu kalian pasti sudah menunggu-nunggu lama pertemuan ini. Setelah sekian lama, kita akhirnya punya kesempatan untuk melaksanakan rencana kudeta ini."

Tsunade menaikkan tangannya untuk menghentikan keributan dari para demon sekitarnya yang mulai bersorak dan berseru girang. "Kita sudah mendapatkan banyak bukti dan petunjuk. Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mempersiapkan rencana kita sejak tiga minggu yang lalu, dan sekarang akhirnya kita mendapatkan waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana kudeta ini." Terangnya lagi.

Para demon itu pun bersorak senang, menunjukan betapa tidak sabarnya mereka untuk melangsungkan rencana yang sudah disusun bertahun-tahun. Mereka langsung diam saat Tsunade mengangkat tangannya lagi sebelum berbicara. Dia tersenyum dengan bangga, menatap satu per satu anak buahnya—tidak, bukan anak buah, melainkan teman seperjuangan untuk mengembalikan kerajaan mereka seperti semula. Dia pun mengangguk puas dan berkata. "Festival Konoha akan dilangsungkan besok malam, dan malam itu juga akan menjadi malam dimana kita akan mulai mengubah sejarah." Ucapnya tiba-tiba mengejutkan seluruh demon di ruangan itu.

"Kita akan melakukan kudeta besok malam saat festival." Ucap Tsunade dengan menyeringai penuh keyakinan.

.

.

.

.

.

"Aku akan menyerang Danzo saat malam festival."

Kalimat yang keluar dari bibir Naruto itu berhasil membuat Sasuke terbelalak kaget.

"B-besok?!" Sasuke mengulanginya seolah tak percaya. "Tunggu, bukankah saat festival penjagaan akan semakin ketat?"

"Itu benar. Festival Konoha diadakan untuk memperingati berdirinya kerajaan ini setiap tahunnya. Ada banyak sekali kegiatan yang akan dilakukan saat festival besok, dari pagi sampai larut malam. Akan ada beberapa tamu undangan dari negara lain yang juga ikut hadir. Karena itu penjagaan akan semakin ketat. Tapi, apa kau tahu untuk apa penjagaan itu Sasuke?" ucap Naruto pada sang raven.

"Bukankah sudah jelas, festival ini acara yang sangat besar, seluruh konoha akan merayakannya. Tentu saja kita akan membutuhkan penjaga untuk mengatur keamanan festival ini. Karena itu…" ucapan Sasuke terhenti saat ia menyadari sesuatu. Dia menatap kedua safir itu seakan ingin memastikan.

Naruto menyeringai. Sepertinya Sasuke sudah mengerti apa yang ia incar sekarang.

"Tapi, bukankah itu terlalu beresiko?! Bagaimana kalau ternyata Danzo punya penjagaan lebih, kau juga tidak bisa melupakan para Anbu Ne!" ucap Sasuke tidak setuju.

"Tidak. Awalnya aku juga berpikir ini akan terlalu beresiko. Tapi bukankah hal itu yang seharusnya kita incar? Yang seharusnya hitam bisa saja hanya abu-abu. Orang lain pasti akan berpikir menyerang saat festival yang berpenjagaan ketat itu sangat berbahaya. Tapi bukankah karena pemikiran itulah yang akan membuat orang menjadi lengah?" balas Naruto dengan seringai.

"Saat festival, para kesatria akan berjaga dua kali lipat dari seharusnya. Bahkan kadang mereka akan kekurangan orang. Tapi bukan sang Raja yang mereka lindungi, melainkan para rakyat yang melaksanakan festival. Para kesatria harus memastikan festival ini berjalan dengan aman dan lancar. Karena itu mereka akan digerakan ke seluruh Ibukota, bukan hanya berdiam diri di dalam Istana. Selain itu, ada banyak tamu undangan dari negara lain. Sebagai Raja, Danzo tidak bisa membiarkan para tamu tanpa penjagaan. Akan ada beberapa Anbu Ne yang digerakan untuk melindungi mereka. Ini adalah kesempatan yang tepat untuk melakukan penyerangan." Terangnya lagi.

"Tapi…" Sasuke terdiam. "Bagaimana dengan rencananya? Apa kau sudah memikirkannya?" Sasuke memutuskan bertanya.

"Hm, soal itu, aku sudah memikirkannya. Ada beberapa tempat yang harus didatangi sang Raja untuk ikut serta dalam perayaan ini. Aku akan melakukan penyerangan disana. Tapi ada sesuatu yang harus kupastikan terlebih dahulu nanti…" ucap Naruto seraya berpikir.

"Tunggu, Dobe, aku tidak bilang itu rencana yang buruk. Tapi apa yang akan kau lakukan setelah kau berhasil membunuh Danzo? Bagaimana dengan para menteri, daimyo, para bangsawan, dan bahkan council? Mereka tidak akan diam saja jika tahu sang Raja telah dibunuh. Kau tidak bisa membunuh Raja dan pergi begitu saja. Bahkan jika kau berhasil kabur, mereka tidak akan diam saja. Kau hanya seorang diri!" bentak Sasuke tidak setuju.

"Bukankah kau bilang akan membantuku?" balas Naruto dengan sangat enteng, seakan hal yang dibicarakan Sasuke bukan hal yang penting.

"Hanya aku saja tidak akan cukup, idiot! Aku tidak mengerti bagaimana bisa kau menyusup kemari sendirian untuk membunuh Danzo?! Bahkan jika kau berhasil melakukannya, lalu bagaimana setelahnya, para council bisa saja memilih Raja baru, dan mengingat para petinggi kerajaan yang juga sama busuknya dengan Danzo. Kerajaan ini hanya akan kembali seperti semula. Apa yang akan kau lakukan, apa kau mau membunuh mereka satu per satu?!" tuntut Sasuke lagi.

Naruto terdiam. Kedua safirnya menatap dua manik oniks milik Sasuke. "Aku pikir aku memiliki sang Putra Mahkota yang membantuku?"

Sasuke tertegun saat mendengarnya. "Kau…menyuruhku untuk mengambil alih kerajaan ini?"

"Kau tidak ingin melakukannya? Bukankah cepat atau lambat kau akan menjadi Raja Konoha?" balas Naruto masih menatap kedua oniks dengan intens.

"Atau kau takut melakukannya Sasuke?"

Kedua oniks itu pun melebar mendengarnya, sebelum satu detik kemudian berubah menjadi delikan tajam. "Jangan bercanda." Desisnya tajam. "Untuk apa aku takut melakukannya? Sebagai putra mahkota, ini sudah menjadi tugasku untuk memimpin Konoha." Ucapnya dengan tatapan tajam.

"Aku senang mendengarnya, Yang Mulia." Balas Naruto dengan menyeringai. Meskipun dalam lubuk hatinya yang terdalam, tanpa diketahui siapapun, Naruto sedang….berteriak.

Ini sangat bodoh. Benar-benar bodoh. Apa yang sebenarnya ia lakukan sekarang. Rencananya benar-benar seperti pisau bermata dua, yang kapanpun bisa menyerangnya balik. Bahkan jika rencananya berhasil, apa yang harus ia lakukan setelahnya?

Seharusnya dari awal, dia tidak melibatkan Sasuke. Ini benar-benar bodoh. Sangat bodoh. Itu karena Sasuke...membencinya.

Sasuke membenci putra sang Raja pengkhianat. Jika Sasuke tahu siapa dirinya yang sebenarnya, dia pasti akan sangat membencinya dan rencananya…. akan hancur total. Haruskah ia melakukan hal ini? Haruskah Sasuke terlibat dalam rencananya?

Tidak. Untuk apa dia menjadi ragu sekarang? Prioritas utamanya adalah untuk mengembalikan kerajaan ini seperti sedia kala. Bahkan jika bukan dia yang melakukannya nanti, kerajaan ini masih bisa berjalan baik di tangan Sasuke. Benar. Ia yakin Sasuke akan bisa melakukannya.

Sekarang yang perlu ia lakukan sekarang adalah menyingkirkan Danzo dan pengikutnya dari kerajaan ini. Barulah setelah semuanya selesai, ia bisa menyerahkan kerajaan ini pada Sasuke. Hanya itu. Hanya itu misi utamanya sekarang.

"Sasuke." panggilnya pada sang raven. "Apa kau yakin bisa melakukan ini?" tanyanya menatap kedua oniks itu dengan serius.

Sasuke yang merasakan keseriusan itu sedikit tertegun. Tubuhnya tiba-tiba menjadi takut. Tapi, tidak. Dia tak akan takut. Naruto sudah mempercayainya. Ia yakin bisa melakukan hal ini dengan baik.

"Hn. Tentu saja, Dobe. Ini sudah jadi tugasku." Ucapnya menyeringai, kedua oniks-nya menatap penuh keyakinan.

Naruto pun membalas seringai itu, menatap balik kedua oniks itu dengan intens.

Benar. Semuanya akan berjalan baik-baik saja. Rencananya pasti akan berhasil, dan Konoha akan kembali seperti semula. Hanya hal itu yang perlu ia pikirkan sekarang.

Bahkan jika kelak Sasuke membencinya…

Itu…tak akan masalah baginya….

.

.

.

.

.

"Kita akan melakukan kudeta besok malam saat festival." Ucap Tsunade dengan menyeringai penuh keyakinan.

"Besok?!"

"Saat festival?!"

Satu per satu demon di ruangan itu pun bertanya-tanya. Tsunade menoleh ke arah Shikaku, dan mengangguk padanya. Dengan malas Shikaku pun akhirnya melangkah maju ke tengah ruangan, tepat di samping Tsunade berdiri. "Haah…merepotkan…" kalimat khasnya pun keluar dari bibirnya.

Dia menghela napas sebelum melirik satu per satu demon di sekelilingnya, lalu melirik ke arah Tsunade untuk mempersilahkannya memulai.

"Baiklah, aku tahu kalian pasti punya banyak pertanyaan. Shikaku sebagai otak rencana kudeta ini, akan menjelaskan rencana kita dengan rinci." Ucap Tsunade menyuruh pria berambut nanas itu untuk menjelaskanya.

Shikaku mengangguk malas, lalu menggerakan tangannya membentuk segel-segel tangan dengan cepat, lalu ia pun menepukkan kedua telapak tangannya dengan keras dan—

Poof!

Poof!

Poof!

Poof!

Poof!

Bebarapa gulungan kertas muncul secara random di tangan beberapa demon. Mereka tersentak kaget, namun langsung mengerti dan membuka kertas itu dengan cepat.

"Itu adalah denah Istana kerajaan. Aku sudah menandai beberapa tempat disana." Shikaku langsung menerangkan. "Rencana kita terbagi di beberapa tempat. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan. Pertama, menangkap hidup-hidup para petinggi dan menteri kerajaan. Kalian bisa melihatnya di denah, aku sudah menandai tempat yang akan digunakan mereka saat menikmati festival. Saat malam festival, mereka akan berpesta dan minum-minum. Kita bisa menggunakan kesempatan itu untuk menyerang mereka. Beberapa bangsawan juga akan ikut berfoya-foya. Ada beberapa bangsawan yang merupakan pengikut Danzo. Aku ingin kalian menangkapnya hidup-hidup. Tim pertama akan dipimpin oleh Zabuza. Ada pertanyaan?" jelasnya untuk bagian rencana pertama mereka.

Shikaku mengangguk puas saat tidak ada demon yang menyangga untuk bertanya. Ia pun memutuskan untuk melanjutkannya. "Kedua, kita harus menangkap para council dan daimyo kerajaan ini. Ada beberapa dari mereka yang mengetahui kondisi kerajaan ini yang sebenarnya. Kita akan membutuhkan mereka sebagai saksi kejadian sebelas tahun yang lalu. Tim ini akan dipimpin oleh Asuma." Dia berhenti sejenak untuk memastikan tidak ada pertanyaan sebelum ia melanjutkannya lagi.

"Dan yang terakhir adalah menangkap Danzo hidup-hidup. Aku sudah menandai beberapa tempat yang akan didatangi Danzo saat festival berlangsung. Kita akan melakukan penyerangan saat acara festival selesai. Penjagaan akan melemah di saat itu. Renca penangkapan Danzo akan dipimpin oleh Kakashi. Kita akan dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama akan membantu Zabuza, kedua akan ikut dengan Asuma, dan yang terakhir akan membantu Kakashi. Kelompok empat hanya terdiri dari aku sendiri, Inoichi, dan Tsunade-sama. Kami akan memantau rencana ini dari jauh. Apa kalian punya pertanyaan?" Shikaku menghentikan penjelasannya dan melirik satu per satu demon di sekelilingnya. Tersenyum puas, saat tak satupun yang mengangkat tangan.

"Bagus, sekarang aku akan membagi timnya. Detail rencananya akan dijelaskan setelah timnya terbentuk." Jelasnya lagi, sebelum dilanjutkan pembagian tim.

.

"Shikamaru." Tsunade memanggil pemuda berambut nanas itu.

Shikamaru menghela napas, sebelum berjalan menghampiri sang pemimpin dengan malas.

"Bagaimana dengan misi yang kuberikan? Apa kau mendapatkan sesuatu?" Tsunade langsung bertanya ke intinya.

Shikamaru mengangguk malas dan menjawab. "Kurang lebih, ada sesuatu yang ingin kupastikan langsung…"

"Tsunade, bukankah akan lebih cepat jika kita menghampiri anak itu?" Jiraiya ikut berbicara, seraya berjalan menghampiri mereka.

"Hm, soal itu…" gumam Tsunade seraya berpikir. "Shikamaru, aku ingin kau melakukan sesuatu…."

.

.

.

.

.

Naruto menggerakan tubuhnya dengan sangat hati-hati. Berjalan menyusuri bangunan Istana tanpa suara. Kedua safirnya melirik ke sekelilingnya dengan was-was, memastikan tak ada hal sekecil apapun yang terlewat dari penglihatannya. Setelah sampai di salah satu koridor ia pun keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju koridor dengan santai, seolah-olah ia memang ada disitu dari sebelumnya. Koridor itu menghubungkan bangunan Istana dengan Aula besar, tempat dimana sebuah pesta biasa dilangsungkan. Beberapa pelayan dan kesatria terlihat lalu lalang melewati tempat itu. Para pelayan terlihat sedang sibuk menata tempat itu sesempurna mungkin untuk pesta perayaan festival yang akan di adakan nanti malam.

Naruto mengangguk ke salah satu penjaga disana, bersikap senormal mungkin seakan dia memang sedang bertugas di tempat itu. Setelah selesai mengamati aula itu, Naruto pun dengan segera bergerak pergi, menuju koridor lain. Dia berjalan dengan santai, sesekali menyapa penjaga dan pelayan lain yang ada di sana. Festival Konoha sudah mulai sejak pagi tadi. Para kesatria sudah dibagi tugas dan berpencar ke posisi masing-masing. Yang tertinggal di dalam istana hanyalah para pelayan dan penjaga yang sibuk mempersiapkan Istana untuk acara perayaan nanti malam. Naruto menggunakan kesempatan itu untuk menyelidiki tempat yang akan ia serang nanti malam.

Dia berjalan melewati koridor lain, sampai akhirnya dia berada di Istana Utama. Namun baru beberapa menit ia berada di sana, seseorang menemukannya.

"Naruto-kun."

Shit.

Naruto pun berbalik untuk melihat siapapun yang menyapanya barusan. "Sai." Panggilnya dengan sebuah cengiran.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sai berjalan menghampirinya. Sebuah senyum datar khas-nya menempel jelas di wajahnya.

"Aku dapat tugas berjaga disini. Bagaimana denganmu?" ucapnya dengan menyengir, bersikap senormal mungkin.

"Oh, benarkah? Tugasku juga melindungi tempat ini. Bukankah ini sebuah kebetulan yang bagus? Aku sangat senang bisa bertemu denganmu Naruto-kun." Balas Sai tersenyum.

"Oh, b-begitu…" ucapnya canggung, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

'Damn, aku harus segera pergi darinya…'

"Naruto-kun, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Aku dengar soal insiden saat latih tanding. Aku sedikit cemas kalau terjadi sesuatu padamu." Ucap Sai masih tersenyum.

"Haha, tentu saja aku baik-baik saja! Sebenarnya insiden itu benar-benar membuatku panik! Ekorku tiba-tiba saja menjadi empat!" ucap Naruto dengan cerewet.

"Benarkah? Kurasa itu hal yang sangat mengagumkan, Naruto-kun. Jarang sekali ada demon yang memiliki ekor banyak sekarang."

Tunggu, tunggu, ini hanya perasaannya, atau Sai memang berjalan semakin mendekatinya?

"Ehehe terima kasih. Tapi sebenarnya aku masih tidak tahu cara mengendalikannya" balas Naruto, mengusap tengkuk lehernya malu-malu. Meskipun ia sadar Sai bergerak mendekatinya, ia putuskan untuk tidak bergerak, berpura-pura tidak menyadari hal yang ingin dilakukan pemuda berambut hitam itu.

Senyum di bibir Sai melebar saat mendengar jawaban Naruto. "Apa kau mau aku mengajarimu?" ucapnya mengambil kesempatan, salah satu tangannya terulur untuk menyentuh salah satu pipi tan milik Naruto.

.

.

.

.

Sasuke menghela napas berat. Akhirnya ia berhasil kabur dari upacara perayaan yang selalu dilakukan untuk membuka Festival itu setiap paginya. Dia pun berjalan melewati koridor menuju istana utama untuk beristirahat. Tubuhnya terasa lelah sekali. Padahal baru beberapa jam ia mengikuti upacara perayaan itu. Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya, sepertinya tenaganya terkuras oleh sesuatu yang sedang dikandungnya.

Sasuke mengumpat kesal saat sadar apa yang dipikirkannya. Sial. Berapa kalipun ia mencoba melupakannya, tubuhnya selalu mengingatkannya seperti ini. Bahkan tangannya menjadi kebiasaan merasakannya dengan menyentuh perutnya seperti tadi. Ia menghela napas lagi.

Salah seorang pelayan menghampirinya saat dipanggil. Sasuke melepas jubah mewah yang dipakainya, dan menyerahkannya pada pelayan itu. Pelayan itu mengangguk hormat dan segera pergi untuk menyimpan jubah itu di tempatnya semula. Tanpa membuang waktu, Sasuke pun bergegas menuju istana tempatnya beristirahat. Rasanya ia ingin segera berbaring sekarang.

Langkah kakinya berhenti saat ia menangkap sesuatu tidak jauh dari koridor tempatnya berada. Kedua oniks-nya terbelalak, sebelum satu detik kemudian manik hitam itu berubah menjadi delikan yang sangat tajam dan dingin. Dengan segera, ia melangkahkan kakinya menuju pemandangan yang sedang dilihatnya.

.

.

"Dobe."

Naruto menelan ludah saat mendengar suara tak asing yang kini terdengar begitu dingin. Dengan segera ia menyingkir dari Sai yang masih saja mencoba mendekatinya. Belum sempat berkata apa-apa, tangannya sudah di tarik keras oleh pemilik suara itu.

"T-tunggu Sasu—" Naruto menelan kalimatnya sendiri saat kedua oniks itu menatapnya tajam.

Sasuke mendelik garang pada Sai, lalu dengan segera menyeret Naruto pergi dari tempat itu, meninggalkan Sai disana. Mereka berhenti di suatu halaman Istana, tempat yang cukup sepi dan tenang dari gangguan orang lain. Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada, lalu mendelik tajam pada Naruto.

"Apa yang kau lakukan dengan Sai?" kalimat itu keluar dengan begitu tajam.

Naruto menelan ludah. 'Sial. Barusaja lolos dari harimau sekarang masuk ke sarang serigala.'

"Bukankah kau seharusnya ikut perayaan di Ibukota?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan.

"Aku pergi dari sana. Jadi apa yang sedang kau lakukan tadi?"

Damn.

"Kenapa?" tanya Naruto memiringkan kepalanya. "Apa kau cemburu padanya, Sasuke?" tanyanya lagi dengan menyeringai. Dia masih ingat bagaimana reaksi Sasuke sebelumnya saat kejadian yang mirip seperti tadi. Tapi sepertinya kali ini dia salah langkah, bukannya menjadi malu seperti saat itu. Sasuke malah…terdiam. Kepalanya menunduk, seakan ingin bersembunyi.

"Hey, Sasu—

"…nar…" sebuah gumaman terdengar.

"Huh?"

"..itu…benar…" gumamnya lagi. Tiba-tiba, Sasuke mendongakkan wajahnya, menatap Naruto dengan serius, namun ada kilasan marah dan kesal dalam balik langit hitam itu. "Benar. Aku cemburu! Aku menyukaimu, Dobe. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya?!"

Mata safir-nya pun melebar, menatap terkejut pada kedua oniks di hadapannya.

"Tidak bisakah kau—" mengerti perasaanku…

Sasuke menggigit bibirnya, mencegahnya untuk berkata lebih panjang. Sial. Sekarang ia benar-benar membenci tubuhnya. Emosinya menjadi labil karena kondisi tubuhnya, mudah sekali terpancing seperti ini. Tiba-tiba saja ia merasa ingin menangis. Dasar hormon sialan. Dia seharusnya tidak selemah ini.

"Apa kau…tidak menyukaiku?" Sasuke akhirnya bertanya.

Naruto terbelalak mendengarnya. Dia membuka mulutnya namun kembali mengatupkannya erat.

"Aku menyukaimu, Dobe!" ucap Sasuke keras, seakan ingin menanamkan kalimat itu pada sang dominan.

Degh.

"Aku menyukaimu…"

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Wajah Sasuke yang sekarang menatapnya berubah menjadi bayangan wajah Sasuke saat mengatakan perasaannya waktu itu. Mata oniks yang menatapnya sekarang masih sama dengan saat itu, dipenuhi begitu banyak kesungguhan di dalamnya.

"Apa kau tidak bisa membalas perasaanku? Karena itu kau tidak menjawabku waktu itu?!" suara Sasuke kembali menyadarkannya pada kenyataan.

"Kenapa kau diam saja, dobe!" tuntut Sasuke marah.

Aku…

Naruto membuka mulutnya, namun lagi-lagi ia kembali menutupnya.

Apa…

Apa yang harus ia katakan sekarang…

"Tidak…" suara itu terdengar bergetar.

Naruto mengepalkan kedua tangannya erat. Kedua safir-nya meredup, berubah menjadi datar.

"Kau tidak menyukaiku, Sasuke."

Buku-buku jarinya pun memutih, menahan begitu kuat perasaannya sekarang.

"Kau hanya menyukai kekuatanku. Tidak lebih." Naruto mengakhiri kalimatnya dengan dingin, menatap tanpa ekspresi kedua oniks yang melebar saat mendengar perkataannya.

Bibir Sasuke menggangga tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Dia mengatupkan bibirnya erat dan mengerang kesal. Dengan tiba-tiba, ia menggerakan tubuhnya ke depan, menarik kerah jaket milik Naruto dan mendekatkan wajahnya, sebelum…

…bibirnya menyentuh bibir milik Naruto…

Naruto terbelalak shok, kedua safirnya melebar kaget. Tubuhnya tak bisa bergerak, bahkan saat ia dapat merasakan bibir Sasuke yang bergerak memperdalam sentuhan mereka dengan sedikit kasar. Ciuman itu bukanlah cumbuan panas yang biasa mereka lakukan. Hanya sentuhan antara bibir. Sasuke memejamkan matanya erat, bibirnya yang bergerak kasar, kini melembut, memperhalus sentuhan itu dengan penuh perasaan, seakan ingin menyampaikan seluruh isi hatinya lewati sentuhan itu. Tuntutan oksigen pun akhirnya melepas sentuhan bibir itu. Sasuke melepas cengkeraman tangannya, lalu menatap kedua safir itu dengan penuh perasaan.

"Aku menyukaimu. Aku sangat menyukaimu Naruto. Wajahmu, rambutmu, kedua matamu, senyumanmu, karaktermu, sifat dinginmu, kebodohanmu, bahkan sifat pura-pura yang biasa kau lakukan. Aku menyukai semuanya, semua yang ada dalam dirimu. Bukan kekuatanmu, Dobe. Ingat itu. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau meremehkan perasaanku." Ucapnya dengan serius.

Sasuke menjauhkan tubuhnya dari Naruto dan tersenyum penuh percaya diri. "Aku tidak peduli jika kau tidak menyukaiku sekarang. Aku tidak akan menyerah, Dobe. Akan kubuat kau menyukaiku, tidak, bahkan bertekuk lutut di hadapanku. Ingat itu, Baka." Dengan kalimat itu Sasuke pun berbalik, beranjak pergi meninggalkan Naruto yang masih mematung tidak bergerak, kedua safir-nya masih terbelalak lebar.

Setelah beberapa detik, Naruto menoleh, mengikuti ke mana arah Sasuke pergi, menatap sosok itu sampai benar-benar lenyap dari pandangannya. Salah satu tangannya terangkat, menyentuh bibirnya dengan punggung tangannya. Dia pun menggertakan giginya erat, dan—

"Damn it!" rutuknya kesal. Jika seseorang benar-benar memperhatikannya sekarang, ia akan melihat rona merah yang sedikit menempel di pipi tan itu.

Sebuah suara gemerusuk membuatnya menoleh. Dia menyipitkan matanya ke arah suara itu, dengan segera mengesampingkan seluruh pikirannya yang terasa kacau balau. "Keluar dari sana." Ucapnya tajam pada siapapun yang sedang bersembunyi di balik pohon.

Setelah beberapa saat, siapapun itu pun akhirnya keluar. Naruto sedikit terkejut saat melihat seseorang yang sama sekali tidak dikiranya.

"Haah…merepotkan…" seseorang itu menghela napas.

"Shikamaru." Panggil Naruto meyipitkan matanya dengan curiga.

Shikamaru menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sangat canggung dengan posisinya sekarang, tidak hanya sudah ketahuan menguping tapi juga menguping sesuatu yang sepertinya tidak boleh diketahuinya.

"Apa maumu?" tanya Naruto tanpa basa basi.

Shikamaru menghela napas lagi, sebelum akhirnya menjawab. "Dengar, aku tidak bermaksud menguping."

Naruto menaikkan alisnya.

Shikamaru menghela napas lagi sebelum melanjutkan. "Aku benar-benar tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian. Aku bahkan tidak akan menceritakan ke siapapun soal…uh…hubunganmu dengan…Sasuke…" terangnya dengan canggung.

"Dengar, yang jelas aku tidak peduli soal itu. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu. Makanya aku mengikutimu kemari." Ucap Shikamaru menegaskan.

"Kau mengikutiku." Ulang Naruto menyindir.

"Uh, soal itu, haaah ini merepotkan sekali…" Shikamaru menghela lagi. "Dengar aku minta maaf jika ini mengganggumu, tapi ada sesuatu yang sangat penting yang harus kubicarakan denganmu sekarang."

"Kalau begitu bicara saja." Jawab Naruto enteng, sedikit curiga dengan sikap Shikamaru yang tidak biasa.

"Tidak disini, Naruto. kau harus ikut denganku." Ucap Shikamaru, melirik ke keadaan sekelilingnya.

"Kenapa? Apa sesuatu itu harus dibicarakan di tempat lain?" Naruto menaikkan alisnya.

"Itu..oh, ayolah…ini sangat merepotkan. Aku ingin segera menyelesaikannya. Ada orang lain yang juga ingin bertemu denganmu. Ini hanya suatu pembicaraan, aku janji." Ucap Shikamaru dengan sangat malas, atau lebih tepatnya tidak ingin merasa repot.

Naruto menyipitkan matanya, menatap menyelidik akan pemuda berambut nanas itu, sebelum akhirnya ia menghela napas. "Fine."

.

.

.

.

.

"Kau yakin ini hanya sebuah pembicaraan, tempatnya jauh sekali." Sindir Naruto.

"Merepotkan…bersabarlah sedikit. Pembicaraan ini benar-benar penting. Aku yakin kau juga tidak ingin orang lain mendengarnya." Terang Shikamaru sedikit kuwalahan akan temannya yang tidak bisa diam merecokinya selama perjalanan.

"Memang apa yang akan kita bicarakan?" cibir Naruto menggembungkan kedua pipinya kesal.

"Sudah kubilang harus tunggu sedikit lagi…" Shikamaru menghela napas panjang, merutuki nasibnya yang harus melakukan hal ini.

Mereka menyusuri ibukota, melewati jalan kecil sampai berakhir di sebuah lorong. Naruto menaikkan alis heran saat melihat Shikamaru membawanya masuk ke dalam bar.

"Kenapa sepi sekali?" tanyanya melirik ke seluruh ruangan.

Setelah mengunci pintu rapat-rapat, Shikamaru langsung berjalan masuk menuju ruangan lagi, menuntun pemuda pirang itu menuju ruang bawah tanah.

Kecurigaan Naruto mulai terbukti saat ia melihat Shikamaru membuka sebuah pintu rahasia, lalu menyuruhnya masuk ke dalam lorong di dalamnya. Mereka berjalan selama beberapa menit, sampai berakhir di sebuah pintu. Shikamaru mengetuk pintu itu beberapa kali untuk memberi tahu seseorang yang ada di dalamnya sebelum membukanya.

Naruto memandang terkejut ruangan bawah tanah yang cukup luas itu. Pandangannya berhenti pada tengah ruangan, dimana sebuah meja terletak, dengan seseorang yang duduk di balik meja itu. Tapi bukan seseorang itu yang membuatnya berhenti melangkah. Bukan orang itu yang membuatnya tertegun saat melihatnya.

"Shikamaru, akhirnya kau datang juga." Tsunade mengangguk puas melihat kedatangan mereka berdua. Ia pun melirik ke pemuda pirang yang masih terhenti di tengah ruangan. "Naruto." panggilnya pada pemuda itu.

Naruto pun menoleh, dengan berat menyingkirkan pandangannya pada orang yang tadi membuatnya tertegun.

"Selamat datang di tempat persembunyian kami." Ucap Tsunade menyambutnya.

"Persembunyian? Memang apa yang kalian lakukan disini?" balasnya enteng melirik ke seluruh ruangan itu.

Tsunade melirik ke Shikamaru lalu ke sahabatnya yang berdiri di sampingnya. Mereka pun mengangguk setuju.

"Tempat persembunyian para pemberontak yang akan melawan Danzo."

Kalimat itu berhasil membuat Naruto menghentikan langkahnya mengelilingi ruangan itu. Dia pun menoleh ke seseorang yang barusan berbicara.

"Naruto, apa kau tidak mengingatku?" tanya Jiraiya padanya.

Naruto terdiam, lalu berjalan mendekati mereka. "Tidak. Apa kita pernah bertemu?" ucapnya memiringkan kepalanya. Dia menoleh ke arah Tsunade dan berkata lagi.

"Pemberontak? Apa kalian serius?" tanyanya dengan kekehan. "Aku bisa saja melaporkan kalian pada sang Raja soal ini."

"Kau tidak akan melakukannya." Tsunade menyipitkan matanya.

"Kata siapa? Aku bisa saja membuat kalian terbunuh begitu saja dengan melapor pada sang Raja." Ucapnya meremehkan. "Lalu apa tujuan kalian menyuruhku kemari? Jangan bilang kalian ingin membuatku bergabung?"

Tsunade mengepalkan tangannya, merasa mulai kesal akan tingkah pemuda pirang itu. Ini sama sekali di luar rencananya. Bukankah seharusnya anak di depannya itu adalah anak yang sudah mereka cari bertahun-tahun?

Sebuah tangan menyentuh pundaknya pelan. Ia pun menoleh pada Jiraiya, mengirimkan ekspresi tidak mengerti pada sahabatnya.

'Serahkan padaku.' itulah isyarat yang diberikan lewat remasan lembut tangan yang menyentuh pundaknya. Tsunade pun mengangguk mengerti.

Jiraiya pun melangkah maju, menatap pemuda pirang itu dengan serius. "Naruto, apa kau ingin mendengar sebuah cerita?" tanyanya tiba-tiba.

Naruto mengkerutkan alisnya bingung akan perubahan yang tiba-tiba itu, namun memutuskan untuk tak menjawab.

"Dulu kala, bertahun-tahun yang lalu, hidup sebuah klan rubah yang memiliki kekuatan berkelas tinggi. Klan itu klan yang cukup kuno dan besar. Mereka hidup di sebuah desa bernama Uzushio. Klan mereka merupakan satu-satunya klan yang memiliki ekor sembilan secara genetik. Seluruh bayi yang lahir dari klan mereka pasti akan memiliki sembilan ekor yang diwariskan turun temurun oleh orang tuanya. Bahkan ada rumor yang mengatakan bahwa klan itu merupakan klan yang memiliki kekuatan terhebat sepanjang sejarah. Namun hal itu tidak berlangsung lama, sebuah bencana menimpa klan itu. Satu per satu mereka musnah karena sebuah penyakit." Jiraya berhenti sejenak lalu melirik ke Naruto, melihat reaksi yang sedang ditunjukan pemuda pirang itu saat mendengar cerita ini.

Naruto hanya bersikap biasa, tidak mengeluarkan suara, dengan tidak langsung menyuruh Jiraiya untuk melanjutkan ceritanya.

"Sebelum klan itu musnah total, seorang gadis berhasil keluar dari desa. Seluruh keluarganya menyuruhnya untuk pergi dari desa dan tetap bertahan hidup. Gadis itu pun melakukan perjalanan, sampai ia berakhir di Konoha. Gadis itu memutuskan untuk mengganti nama klannya, agar tak seorang pun tahu soal keluarganya. Selang beberapa waktu, Gadis itu bertemu dengan seorang pria. Mereka saling jatuh cinta dan menjadi sepasang mate. Yang tidak diketahui sang gadis, kalau pria itu adalah salah satu kandidat putra mahkota Kerajaan Konoha. Sampai akhirnya saat pria itu dipilih menjadi penerus tahta, sang gadis sudah mengandung keturunan mereka. Gadis itu pun akhirnya mengerti saat dia tahu siapa sebenarnya kekasihnya. Dia memutuskan mengubah nama klannya menjadi klan kekasihnya. Setahun kemudian, pria itu menjadi raja, dan sang gadis yang sudah melahirkan putra mereka pun menjadi ratu. Selama bertahun-tahun kehidupan mereka sangat bahagia, sampai suatu ketika bencana menimpa Kerajaan Konoha. Sang Raja dan Ratu meninggal dalam bencana itu, meninggalkan putranya yang sekarang hilang entah kemana. Tidak hanya itu, karena suatu alasan, sang raja dan ratu menjadi kambing hitam akan terjadinya bencana yang menimpa kerajaan mereka."

"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" sela Naruto, memasang ekspresi bingung, meskipun dalam hatinya ia merasa panik saat menangkap siapa sebenarnya yang sedang diceritakan oleh Jiraiya.

Jiraiya menatapnya sebentar. Namun bukannya menjawab, dia hanya melanjutkan ceritanya. "Sampai akhir cerita, rakyat masih menganggap sang Raja dan sang Ratu sebagai pengkhianat, sedang putranya kini juga dianggap telah mati. Bahkan sampai sekarang, tidak seorang pun yang tahu siapa nama klan gadis itu. Hanya pria yang menjadi kekasihnya dan beberapa sahabatnya yang mengetahuinya. Bahkan dalam catatat sejarah kerajaan, nama klan gadis itu adalah nama klan kekasihnya. Apa kau tahu siapa nama klan gadis itu, Naruto?" tanyanya lagi.

Naruto mengepalkan telapak tangannya erat. "Paman sendiri yang bilang, kalau tidak ada yang mengetahuinya. Bagaimana caranya aku tahu?" tanyanya balik.

Jiraiya hanya tersenyum tipis, sebelum melanjutkannya lagi. "Satu-satunya klan rubah berekor sembilan yang sudah musnah bertahun-tahun yang lalu, hanya berasal dari desa Uzushio. Nama klan itu adalah Uzumaki, dan nama gadis itu adalah Uzumaki Kushina. Sedang pria itu? Dia adalah Raja keempat kerajaan konoha, Namikaze Minato. Putra mereka yang kini sudah di anggap mati itu bernama Namikaze-Uzumaki Naruto, dan itu…adalah bocah pirang yang sedang bersama kami saat ini." Ucapnya menatap kedua safir dengan intens. "Benar kan, Yang Mulia?"

.

.

.

.

.

Sasuke berdecak kesal, berjalan dengan cepat menuju ke ruangan kamarnya. Dia menghela napas lega saat akhirnya ia menangkap pemandangan pintu kamarnya. Namun belum sempat ia membuka pintu itu, sebuah suara memanggilnya.

"Sasuke-sama."

Sasuke mendelik marah saat mengetahui siapa yang memanggilnya. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mendesis. "Apa maumu, Sai?"

Sai hanya tersenyum datar, lalu berjalan mendekati sang Putra Mahkota. "Dingin seperti biasa, Yang Mulia. Saya merasa sedikit iri pada Naruto yang bisa melihat anda tersenyum."

"Berhenti basa-basi. Apa yang kau inginkan?" desis Sasuke semakin marah.

Masih dengan senyuman datarnya, Sai pun akhirnya menjawab. "Danzo-sama ingin bertemu dengan anda, Sasuke-sama."

Sasuke menekukkan alisnya, lalu berdecak kesal. "Cih."

Tanpa satu katapun dia langsung bergegas pergi menuju ruangan sang Raja.

.

.

"Anda mencari saya, Yang Mulia?" ucap Sasuke menunduk hormat pada raja dihadapannya, kedua kakinya ia tekuk, dengan satu kaki sebagai tumpuan saat ia duduk berlutut.

"Sasuke, aku tidak melihatmu saat perayaan tadi pagi." Tanya Danzo dari tempatnya di kursi singgasana.

"Maafkan ketidakhadiran saya, Yang Mulia. Saya merasa kurang enak badan dan memutuskan untuk kembali lebih cepat." Jelas Sasuke padanya.

"Benarkah? Apa kau sudah merasa baikan sekarang?"

"Berkat Yang Mulia, terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."

"Hmm.." Danzo hanya bergumam menjawabnya.

"Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ada sesuatu yang harus saya lakukan, Danzo-sama." Ucap Sasuke meminta pamit.

"Tidak, tunggu, ada sesuatu yang ingin kutanyakan." Danzo akhirnya berkata, membuat Sasuke menekukkan alisnya bingung sekaligus tidak nyaman.

"Bagaimana dengan latihanmu? Ku dengar sejak masuk akademi kesatria, kau mulai berlatih bersama rekan-rekan timmu." Danzo memulai pembicaraan.

"Hn. Latihan kami baik-baik saja." Jawab Sasuke singkat.

"Benarkah? Siapa nama kedua rekan tim-mu? Kau tidak pernah memberitahuku."

"Uzumaki Naruto dan Sakura Haruno." Jawabnya lagi dengan singkat, meskipun dalam hati ia mulai merasa tidak nyaman dengan topik pembicaraan mereka. Seingatnya Danzo tidak pernah terlalu peduli hal-hal kecil seperti ini.

"Bagaimana mereka? Apa kalian bisa bekerja sama dengan baik?"

"Hn, mereka cukup baik." Jawab Sasuke tidak ingin panjang lebar.

"Hmm, Sasuke, apa kau masih membenci penghianat kerajaan ini?" Danzo bertanya lagi.

Sasuke sedikit tertegun akan perubahan topik pembicaraan yang sangat tiba-tiba itu. "Tentu saja, mereka sudah membunuh seluruh keluarga kerajaan. Aku akan melakukan apapun untuk bisa membalasnya." Ucapnya tajam.

Danzo pun menyeringai mendengar jawaban itu dari Sasuke. "Sasuke, bagaimana jika aku bilang putra raja penghianat itu masih hidup?" tanyanya menyeringai.

Sasuke membelalakan matanya, sebelum kemudian matanya menyipit tajam. "Bukankah sudah jelas? Aku akan membunuhnya." Ucapnya tajam. "Apa Yang Mulia mengetahui sesuatu soal penghianat itu?" tanyanya menjadi tertarik.

Seringai Danzo pun bertambah lebar. "Benar, aku tahu dimana dia sekarang. Karena itulah aku memanggilmu kemari Sasuke."

Sasuke terbelalak terkejut saat mendengarnya. Dia pun menyeringai senang, saat akhirnya dia memiliki kesempatan untuk membalas kematian keluarganya. "Siapa? Apa dia ada di kerajaan ini?"

"Benar." Danzo menyeringai buas. "Dia ada di kerajaan ini, dan bahkan berada sangat dekat dengan kita, Sasuke."

"Siapa? Beritahu padaku, Danzo-sama! Biarkan aku yang membunuhnya!" tanyanya menjadi tidak sabar.

Seringai Danzo menjadi semakin seram, dan kalimat itu pun keluar dari mulutnya…

"Uzumaki Naruto. Itu adalah nama putra raja penghianat Kerajaan Konoha."

Degh.

"S-siapa…?" kata itu terlepas dari bibirnya lagi hampir tanpa suara, tubuhnya membeku dan kedua oniks-nya terbelalak lebar.

"Benar. Bocah itu, bocah pirang yang menjadi rekan tim-mu itu, adalah Uzumaki Naruto. Tidak, mungkin akan lebih tepat jika dipanggil Namikaze-Uzumaki Naruto. Dia adalah orang yang sudah kau cari selama bertahun-tahun, Sasuke." ucap Danzo menyeringai lebih lebar.

A…pa…?

Itu tidak mungkin kan…?

Tidak. Ini tidak mungkin. Dia pasti salah mendengarnya. Tidak mungkin Naruto adalah…

"Terkejut?" Danzo terkekeh pelan. "Aku yakin dia mengatakan sesuatu padamu soal ingin membunuhku. Tidak heran, mengingat kedua orang tuanya telah dieksekusi di kerajaan ini."

Tidak.

Tidak.

Ini tidak benar kan?

Ini pasti cuma bohong…

Ini tidak mungkin…

Naruto tidak mungkin…

"Aku tahu kau tidak akan mempercayainya begitu saja, Sasuke. Tapi aku bisa memastikannya. Uzumaki adalah nama klan ratu keempat kerajaan ini, dan sudah jelas sekali Naruto adalah nama putra penghianat itu, tidak hanya sebuah nama yang mirip. Namun memang dialah putra penghianat yang sudah membunuh keluargamu, Sasuke." ucap Danzo semakin mempengaruhinya.

…yang membunuh keluargaku…

Sasuke mengatupkan bibirnya erat, menatap kosong pada sang Raja yang sedang berbicara dengannya.

…dialah putra penghianat yang sudah membunuh keluargamu, Sasuke.

Naruto adalah…

Tidak.

Giginya bergetak keras.

Ini tidak mungkin.

Kedua tangannya pun terkepal kencang.

Ini pasti bohong.

Naruto tidak mungkin…

"Dia sudah membohongimu Sasuke. Dia menyusup kemari untuk membunuhku, bahkan memanfaatkanmu dengan menyembunyikan identitasnya."

memanfaatkannya…?

Sejak awal…

Naruto memang tidak pernah memberitahu identitasnya yang sebenarnya…

Tapi…

"Dia sudah membohongimu Sasuke…"

Benarkah…

Benarkah hal itu yang terjadi…

Kalau Naruto…

Kalau dia adalah…

Sasuke menggigit bibirnya keras. Kedua tangannya terkepal kencang, dan mata oniks-nya memandang kosong ke depan.

"Dia sudah menipumu, Sasuke."

Tertipu…

Dia sudah tertipu…?

Dia sudah dibohongi oleh Naruto…

Naruto sudah…

"Kau tidak menyukaiku, Sasuke."

"Kau hanya menyukai kekuatanku. Tidak lebih."

Ah…benar…

Mungkin memang benar…

Naruto bahkan tidak menyukainya…

Naruto tidak pernah sekalipun menyukainya…

Dia tidak…

Matanya pun menjadi panas, pandanganya mulai berkaca-kaca.

"Sasuke." Danzo memanggilnya.

"Kau pasti sangat marah sekarang. Aku bisa mengerti. Penghianat hanyalah seorang penghianat Sasuke. Dia pantas mendapat hukuman." Ucapnya menyeringai licik.

Hukuman…?

"Kita harus memberi penghianat itu hukuman, Sasuke. Bukankah kau ingin membalasnya?" seringai Danzo pun semakin lebar.

"Aku tahu dia akan segera melakukan penyerangan padaku. Apa kau mengetahui sesuatu soal ini, Sasuke? Beritahu padaku agar aku bisa membantumu membalaskan dendam kerajaan ini, Sasuke, dendam keluargamu."

Sasuke pun mendongak, memandang kosong pada Danzo

"Beritahu padaku, Sasuke, apa yang sedang direncanakan penghianat itu?"

Benar.

Katakan padanya Sasuke.

Naruto sudah membohongimu.

Dia sudah memanfaatkanmu.

Bahkan dia sudah…

…membuatmu mengandung anaknya…

Penghianat itu sudah menghancurkan hidupmu.

Dia pantas mendapatkan balasan yang setimpal.

Karena itu, apa yang membuatmu ragu sekarang?

Katakan padanya, Sasuke.

Katakan soal rencana penghianat itu.

Cepat katakan.

Sasuke membuka mulutnya namun kembali mengatupkannya rapat, pandangannya yang kosong tiba-tiba menjadi kacau dan panik.

"…Tubuhmu tidak akan mengkhianatiku."

Kalimat itu tiba-tiba teringat olehnya.

Kenapa?

Apa ia merasa takut sekarang?

Takut akan kalimat yang pernah diucapkanya itu?

Tidak.

Jangan bodoh, Sasuke.

Bukankah seharusnya kau malah semakin yakin sekarang?

Dia sudah mengekang tubuhmu, Sasuke.

Mengendalikan tubuhmu agar tidak menghianatinya.

"Apa yang kau tunggu, Sasuke. Beritahu padaku. Aku akan membantumu membunuhnya."

Benar.

Apa lagi yang kau tunggu.

Apa yang membuatmu ragu?

Apa yang sebenarnya kau khawatirkan Sasuke?

Jika dia benar-benar mengekang tubuhmu, bukankah semuanya semakin menjadi jelas?

Dia mengekangmu agar kau tak bisa menghianatinya…

Agar kau tak bisa merusak rencananya…

Bola langit hitam itu pun kehilangannya cahayanya. Sasuke mendongak, menatap kosong pada apapun di depannya. Giginya bergetak kuat saat menyadari betapa bodoh dirinya. Kedua oniks itu pun menjadi penuh dendam. Bibirnya bergerak mengeluarkan suara—

"Dia akan melakukan penyerangan saat malam festival."

—dan kedua oniks-nya melebar saat ia sadar kalimat itu bisa terlepas dari bibirnya…

.

.

.

.

.


to be continued...


fiuhhh, ini adalah chapter terumit yang pernah Fro tulis huhu. Ada begitu banyak emosi dalam chapter ini. Mencampur adukkannya jadi satu benar-benar membuat Fro sangat pusing ahhhh *tepar di lantai*

Bagaimana chapter ini? tambah suram...? kekekeke

Sebelum Fro menjawab pertanyaan dari para reader yang sangat Fro sayangi, sukai, dan cintai *ditimpuk*, ada beberapa hal yang akan Fro jelaskan terlebih dahulu. Nah itu adalahhhh...jeng jeng jeng jang jing jenggggg tarararang~ #plaak

1. Naruto dan Sasuke masih belum melakukan mating. Tapi Sasuke udah hamil duluan. lho kenapa? huehehehe jawabannya harus tunggu beberapa chapter lagi :3 Jika kalian berpikir Naru n sasu bakal mating duluan barulah sasu hamil, hihi kalian salah besar! Itu mah ga asik~! haha *ditabokk* uhuk, Fro ga mau membuat plotnya terlalu klasik dengan membuat narusasu mating dulu baru hamil sesuai aturan konsep yang sudah Fro tulis. Aturan kan ada untuk di langgar! #Bletak *pelisss author, bikin sendiri malah dilanggar sendiri -_-* wkwkwkw, Fro cuma pengin membuatnya bertambah rumit ko, biar kalian pada pusing hahaha #digamparr

Tapi tenang aja, tentu ada alasan kenapa sasuke bisa hamil sebelum mating, dan alasan itu cukup masuk akal, penasaran? hahaha, tunggu satu dua chapter lagi mungkin kekeke :3

2. Kenapa chakra naruto dan sasuke tidak stabil? Fro sudah menjelaskannya bukan, kalau marking tidak bisa membuat submissive hamil, mereka harus mating dulu. Ehh, Sasuke malah udah hamil duluan sebelum mating. Nah, karena hal inilah chakra narusasu tidak stabil, dalam proses mating, dua demon akan saling menandai. Sehingga terbentuk satu tanda di masing2 demon. Tanda ini digunakan untuk mengikat dua demon tadi, dan juga sebagai jalur aliran chakra kedua demon, sehingga chakra mereka bisa bersatu dan terikat, dan juga yang membuat sang submissive hamil. Sang bayi akan mendapat pasokan chakra sebagai penopang hidupnya dari kedua orang tuanya lewat tanda itu.

Nah, narusasu kan belum mating, jadi tandanya cuma ada satu dong? dan otomatis membuat jalan chakranya tertutup satu, makanyaaa...chakra narusasu tidak stabil karena penggunaan chakra pada sang bayi tidak maksimal, tarik ulur dengan tidak stabil. Nah, kenapa chakra naruto lebih parah dari sasuke, karena sasu punya tanda dan sekaligus yang menjadi sang ibu. Dia juga membutuhkan chakra dari sang dominan. jadi beban Naruto jadi dobel deh, apalagi ga maksimal, apa penjelasan ini cukup paham?

3. Fro punya pertanyaan buat para reader sekalian, ada yang bisa menebak kenapa Sasuke bisa hamil? kekeke, silahkan cari hint2 di penjelasan fro di atas, ataupun penjelasan marking dan mating di chapter tiga, jika kalian penasaran :3

.

/-.-.-.-.-.-.-Pojok Diskusi-.-.-.-.-.-.-/

[...dbenarnya kekuatan apa yg disembunyikan? fan klo update nya teratur gk? klo teratur stiap kapan aja update nya?] Fro masih belum bisa menjawab itu kekuatan apa hehehe, nanti jadi spoiler, kan ga asik kekeke, tunggu beberapa chapter lagi, misterinya bakal kebuka satu persatu ko tiap chapternya ^^ dan jadwal apdet huehehehe, Fro ga bisa janji bakal teratur, seharusnya sih, 'seharusnya' Fro apdet tiap minggu, tapi yaahhh, kalian tahu Fro punya kesibukan sebagai mahasiswa, dan Fro ga bisa memperkirakan kesibukan apa aja di masa depan, seperti kemarin saja telat satu minggu huhu :( jadi Fro tetep ga bisa janji bakal apdet teratur, tapi yang pasti silahkan cek saja tiap weekendnya, karena rentang hari itu adalah satu-satunya waktu senggang Fro buat apdet^^

[Ap krna pmbntkn rahim d'prt sasu-chan,cakra mrka bergejolak? Ap naru yg nyelamatin ita-chan? Truz mksd dri 'kekuatan' itu ap?] penjelasan ttg chakra sudah Fro kasih di atas, silahkan di cek^^ Naru yang nyelametin ita? hoho, masih rahasia~ #digampar, dan soal kekuatan juga sudah Fro jawab di pertanyaan sebelumnya.

[apa yg dimaksud danzo tempat naru yang digua itu ya kekuatannya?] Hmmm hmmm mendekati, gua yang naru datengin (pas dichp 2) itu cuma salah satu tempat rahasia yang bisa dibuka Raja dan Pewaris tahtanya.

[kalo buat peran antagonis tambahan, gimana kalo orochimaru dkk? Mereka belum muncul kan?] hmm orochimaru yaa, ada dua pilihan sebenernya buat orochi, peran antagonis dan protagonis haha, Fro masih bingung mau yang mana huhu

[jd apa naru terlalu menahan kekuatannya hingga meluap2? ato gra2 anak yg dikandung sasu? yg ada diperban danzo itu bkn sharingan kan? boleh kasi pendapat bwt anak buahnya danzo? kakuzu,hidan,kisame ama kl boleh oc akashi aja kakuhikisa itu bsa d bilang kuat banget *menurutku btw apa ada orochimaru? kl ada,dia gak jahat kan?] pertama makasih buat sarannya hehe, akan Fro pikirkan, penjelasan ttg chakra silahkan liat diatas, okay? :3 dan soal perban danzo, Fro masih belum memikirkannya hahahaha #ditabokk

[Sasuke hamil kan? Yeyy! Tapi masa Naruto nggak ngerasain ada 'sesuatu' selain Sasuke yang menggunakan chakranya? :D] Yep, Sasu hamil, Yeyy~! wkwkwwk xD Naruto ga ngerasain chakranya karena seharusnya Sasuke memang ga bisa hamil, karena mereka cuma marking. Jadi Naru sama sekali ga curiga ataupun kepikiran kalo sasuke bakal hamil, Karena masih bulan awal, bayinya masih belum bisa dirasakan, jadi naru ga tau huhu

[Wowowowo.. Apa naruto pergi karena tahu hamil atau karena ketidakstabilan cakra juga ternyata dialami sasuke?] Naru pergi karena ga dapet jawaban dari sasuke, dia memilih pergi karena masih emosi, daripada melampiaskannya di depan sasuke huhu :3

[Udah ngisi ya sasuke.. Wah wah belum nikah udah ngasilin duluan.. Iss tapi Sasu bisa langsung tahu,kok naru gk tau..?] Sasu bisa langsung tahu dia hamil, yaa karena dia yang ngalamin sendiri, jadi otomatis dia mengecek kondisi tubuhnya dums, dan kenapa naru ga tahu, pertanyaan ini sudah Fro jawab di atas, silahkan di cek :3

[It sasu kenapa?Hamil ya?Tsunade n jiraya liat naruto wkt keluar kekuatn na dung?Naruto ngak tanggung jawab ya masa sasuke ngk dijawab.. . Btw fro-chan minta jadwal updatena dong?] wkwkwk, apa chapter ini sudah menjawab semua pertanyaan itu? #digamparr, jadwal apdet sudah Fro jawab di atas, silahkan dibaca pertanyaan atas2 ^^

[Eh, sasunya hamil!? What? Kok bisa? Aku yang salah ingat atau salah baca ya? Kalau gak salah di penjelasan antara marking dan mating di chap 3 MARKING ITU GAK BISA BIKIN SUMBSIVE HAMIL, DIBUTUHKAN MATING UNTUK HAMIL entah fro-san lupa atau memang akunya yang salah, sedangkan disini mereka belum mating kan! Tapi itu kenapa ada tanda2 hamil coba!? #maafkalosayasalah] kekekeke 100 point buat anda! Selamat! Selamat! Anda berhasil menganalisis cerita ini dengan baik huahahaha #digamparrrr, uhuk, uhuk, maap, penjelasannya sudah ada di atas, silahkan dibaca ^^

[kenapa sih naruto ga mau langsung nerima sasuke? padahal kyknya dia juga suka sama sasuke, takut di hianati ya] hihi hampir mendekati jawaban anda :3 silahkan tunggu chapter berikutnya, bakal dijelasin disana ^^

[Kok sasuke bisa hamil, kan mereka belum mating?] chapter ini sudah menjelaskannya bukan? kekeke, silahkan liat penjelasan di atas untuk lebih lengkap :3

[pa nanti sasu d jdiin sandra ma Danzo,buat ngmbil kekuatan yg cman bsa d buka sma naru?] hoho liat saja nanti #digamparr

[1. ituu aku penasaran kenapa si bang tachi di kurung? udah gitu kapan dia di selametinya?
2. kapan naru suka sama sasunya? trus kapan naru sadar kalo sasu hamil?
3. apakah bakal ada pair itakyuu? kalo ada lengkap dehh ini cerita serunya :D
sama terakhir kira-kira ini sampe chapter berapa yaa fro-senpai?]

1. wah banyak juga kekeke, itachi dikurung karena punya informasi, nah lebih lanjutnya akan dijelaskan di chapter2 depan haha #ditabokk

2. hm hmmm kapan yaa haha, tunggu chpter depan deh, bakal diungkap nanti :3

3. buat pair itachi kyuubi, Fro no comment kekeke, pair ini akan jadi surprise buat reader hahaha #ditoyor

4. Fro sudah menjawab ini di chp kemarin sebenernya, kalo sesuai plot yang Fro buat, ada 13 chapter + 1 omake

[madara akan muncul tidak? jangan-jangan ia adalah guru naruto.] haha Fro masih belum memikirkannya #digamparr

[Naru belum sadar rupanya,reaksinya gimana ya klo tau keadaan Sasu] kuhuhuhu, reaksi naru bakal something- *ehem* tunggu aja deh :3

[tapi kenapa cuma chakranya naruto yg keliatan ga ke kontrol baik? Trus2 apa tuh yg bakal dilakuin sasuke pas uda tau hamil? Trus kapan naruto tau kalo sasuke hamil?] apakah chapter ini sudah menjawab semuanya? haha #ditabokk

[kapan ada yg tau kalo Ita masih hidup dan ngebebasin Ita? oiya kira2 ff ini bakal sampe berapa chap thor? Kayaknya identitas Naru udah mulai kliatan. Kira2 gimana ya reaksi Sasu kalo tau Naru itu anak Minato?] hm hmmm sudah dijawab di chapter ini belum? kekeke, soal itachi masih rahasia~ #dicekik

[Juubi ad gk d'sni?ap jngan2 kekuatan yg d'mksd itu,kkuatn juubi?gmna kalo bwhnx danzo itu shisui?] hahaha Fro belum kepikiran tuh, dan soal shisui, uchiha kan uda mati semua, apa Fro idupin satu ya? haha

[tp itu nnti ankny bkal diakuin gk ama naru?kok kyakny naru sadis bnget gitu.,] diakuin ga ya wkwkwk, naru ga sejahat itu nyampe ga ngakuin anak ko haha. narunya sadis banget ya? haha :3

[apa yg terjadi sama sasu? apa dy hamil? kn mereka blom melakukan mate? trus apa krn itu cakra mreka bergejolak? sasu jd demon berdarah kerajaan yg tersisa? krn itu dy jd putra mahkota? trus sebener.a apa yg terjadi sebelas thn yg lalu? mengapa minato dblng raja penghianat? mengapa itachi masih hidup apa yg sebener.a danzo cari? kekuatan macam apa? jgn jgn... guru naru itu kurama? krn naru pernah nyebut namanya..] wuittz, banyak amat buk, perlu Fro jawab nih? ato ga usah aja? kekeke :3 #ditoyorr, uhuk, habis, habis, habisnyaaa, kalo Fro jawab sekarang nanti jadi spoilerr, kan ga asikkkk wkwkwk, tenang aja satu persatu bakal terjawab ko tiap chapternya :3 *psst itu separuhnya uda terjawab kan di chapter ini hehe?*

[oya kk fro mau nanya kan wktu itu kk bilngdi pundak naru itu ada tanda kerajaan gtu lah.. lalu wktu naru sama sasu lagi *ehem* ehem itu emang dia gak liat tanda tu?] hahahahaha akhirnya ada yang nanyain ini, sebenernya Fro udah mikirin mau nulis scene dimana sasu tanya soal tanda itu k naru, tapi ahhhh ga tau harus di selipin dimana T_T bingungggg hiuhhh, Fro sudah berpikir keras bt nyelipin scene ini di bagian after sex *ehem* tapi kalian tahu sendiri, pas lemon, terakhirnya begitu, dan Fro ga dapet feelnya buat naruh scene itu, soalnya malah bakal jadi canggung karena reaksi naru bakal buruk pas sasu tanya itu, akhirnya Fro ga jadi masukin deh hahaha, abisnya scene yg sekarang lebih pas dan sesuai plot, kalau Fro ubah, bakal rumit lagi ceritanya huhu, dan sekarang alurnya sudah sampai sini, Fro ga bisa majangin lagi (apalagi cuma bt scene itu) karena nanti jadinya malah kelihatan flat ato ga seru karena konfliknya ga jalan2. Aduh, jadi recok wkwkwkwk, oke jadi jawaban dari pertanyaan ini adalah kemungkinan sasu liat tanda itu emang ada, tapiii, dia ga tau itu tanda apa, karena yang tahu soal tanda 'mahkota' raja cuma yang punya doang, jadi meskipun sasu lihat tanda itu, dia ga tau, dan cuma menganggapnya sebagai tato ato tanda biasa.

[Kpn lnjutinnya?plis jngn kkbnykan nunda nya ya?pngen bngt tw tuch akhir crita.] ini udah dilanjut ko, haha :P

[Terus itu sasu hamil kah?apa kalau belum mating bisa hamil?kalau seandainya sasu sudah hamil sasu nya jangan dibikin jadi lemah ya :( soalnya kalau yang kaya gitu udah terlalu sering hehe mau tau aja sih gimana kalau sasu hamil tapi tetep bisa bertarung hehe :)Apa sasu gak tau tentang tanda kerajaan yang ada di pundak naru?masih bingung soalnya hehe] udah dijawab kan pertanyaannya hehe ? :3 sasunya br ga lemah? haha, oke nti fro pikirin request ini, dia ga bakal lemah ko, yah walopun nti ada sedihnya hiks

/-.-.-.-.-.-.-.-/

Maaf yang reviewnya belum kebalas, dan makasih buat saran2nyaaaa

Fro ucapkan 'Arigatou Gozaimasu' sebanyak-banyak buatnya yang sudah review dan masih setia membaca fic ini *tebar cium peluk* kekeke

Jangan lupa jg review di chapter ini huehehehe ^^ Tanpa review dari kalian, Fro tak akan tahu bagaimana cerita ini di mata reader :)

karena itu, silahkan utarakan pendapat kalian agar fic ini semakin memuaskan bagi kalian huehehehe :3

Sampai jumpa minggu depan! ...ato mungkin minggu depannya lagi...ato minggu depannya lagi...? #DICEKIKK

uhuk, uhuk, maap maap haha, tapi sungguh, Fro ga bermaksud hiatus, Fro tetep bakal nyelesein fic ini, dan buat chapter depan, maaf kalo nanti lama, ada scene pertarungannya haha *uhuk spoiler*

Fro perlu cari bahan2 dulu kekeke, doakan saja Fro senggang dan bisa apdet cepet huehehehehe ^_^

Matta Ne!

Special Thanks to :

Fuyuto Yuuki, Guest, amour-chan, FUJODANSHI, jaeradise, narusasuwookie, CA Moccachino, ai no dobe, Imyourfans, Luca Marvell, Akasaka Kirachiha, Arevi are vikink, amour-chan, Guest, Xilu, Kim Tria, Ao-Mido, Sabachi Gasuchi, Dewi15, yassir2374, sheren, AyaKira SanOMaru, usur saos, A-Drei, Ivy Bluebell, Dwi yuliani 562, Naminamifrid, Lumina Lulison, Ndah D Amay, onyxsapphiretomatjeruk, RevmeMaki, pingki954, iche cassiopeiajaejoong, jungefakim, dokyungsoo, dinda yulianti, aoi ao, Aoki Mikuru, iloyalty1, Kriwil, amalia1993, Guest, Kiyomi Hikari, midorikun, himekaruLI, 306yuzu, Guest, FUJODANSHI, Nick Say FuckerShit For Kagari, ShinKUrai, dean, bluerose, tuteja hikari, driccha, rikarika, onyx night sky, Chantika, Edogawa, michiyo, Septaniachan, Kirisaki Zoldyck, rea