*Disclaimer*
Bungou Stray Dogs just by Asagiri Kafuka Harukawa Sango
WARN : BoysLove, ABO, smut, OOC (saya berusaha sebisa mungkin membuat karakter-karakter ini IC tapi ternyata tetap OOC *cry), Typo (always)
.
.
CHAPTER VII
"Ahh! Hnh.. ahh... Dazai—hh.. lebih! lebih! Kumohon—ahhnn..."
Dazai membuka mata, tak tahan dengan mimpi panas yang diisi oleh Nakahara Chuuya. Pakaiannya basah, dan sesuatu yang sudah seperti batu di bawah sana menuntut untuk dituntaskan.
"Sial."
Tangannya menyapu wajah yang penuh butir keringat, menarik napas panjang hingga tersadar dengan sebuah beban yang menindih lengan kanannya. Berpaling, didapati udara hangat berhembus dari hidung mancung dan mulut berbingkai bibir tipis yang merah muda.
"Sial."
Merasa tidurnya terganggu, Chuuya bergumam sedikit ngelindur. Merenggangkan tangannya dan berakhir dengan memeluk Dazai yang telentang. Kakinya yang tak berdosa tanpa sengaja menyenggol aset alpha itu hingga yang bersangkutan terlonjak hampir berteriak, ditambah tubuh hangat yang semakin menempel padanya, hampir menimpanya, tanpa ampun bernapas di dekatnya, Dazai Osamu hanya bisa meremas seprai menahan hasrat untuk tidak sampai ke klimaksnya.
"Chuuya, kau benar-benar sialan." geram Dazai dengan senyum kekalahan walau yang disebut masih terjebak di alam mimpi. Ingatkan dia untuk tidak pernah tidur dengan Chuuya sebelum hubungan mereka memiliki status jelas, tolong, ingatkan.
Bahu putih yang tersibak hingga tampak belah di dada bidangnya karena leher kemeja hitan yang kebesaran, sungguh tidak tertahankan. Dazai tau ia harus segera pergi dari kondisi ini sebelum benar-benar hilang kendali dan memperkosa omega yang dengan kejam dan kurang ajarnya menaikkan hasrat pria itu.
Perlahan, disingkirkan tangan dan kaki Chuuya yang menimpa. Ya ampun, mekanik itu benar-benar memiliki posisi tidur sangat buruk. "Hnghhh..." Dazai kembali mengutuk karena Chuuya melenguh saat dia memindahkan badan kecilnya. Jemari lentik yang menggenggam udara kosong, ditambah bibir yang bergerak kaku, tidak akan ada yang percaya kalau pria yang tidur bak malaikat kecil itu adalah pria yang memasang bom di acara bangsawan terkemuka hanya untuk senang-senang.
Begitu terlepas dari jebakan manis Nakahara Chuuya, dengan segera Osamu bangkit berjalan cepat dan tergesa-gesa ke kamar mandi. Sungguh disayangkan ini bukan kamar hotel yang punya kamar mandi dalam, Dazai harus menahan lagi hingga ia sampai di toilet umum di ujung lorong.
Ayo kita skip ini dan biarkan Dazai Osamu melakukan tugas mulianya.
Sungguh ini menyiksa, Dazai tidak terbiasa dengan hal seperti bermain sendiri sejak dulu. Mencari mucikari di Distrik 8 gampang, setidaknya bagi Dazai yang dulu berperan dalam dunia itu. Tapi bukan hobinya berhubungan dengan para pelacuran. Dazai lebih memilih mengeluarkan sedikit usaha untuk mendapatkan omega segar. Tapi sialnya di malam penuh ledakan itu, hatinya telah direbut oleh seorang omega sangar.
Sungguh nasib yang berat karena Dazai berpikir tidak tertarik dengan orang selain Nakahara Chuuya. Dan masalah ini bertambah berat karena Dazai tidak berani menyentuh Chuuya. Tidak berani.
Ketika ia kembali ke kamar, pemuda Nakahara masih tenggelam dalam mimpi di tidur lelapnya. Namun kali ini berbeda. Dari cahaya redup lampu dinding, Dazai bisa melihat tangan itu mencengkram seprai. Keringat bercucuran di lehernya, otot tubuhnya menegang.
"Chuuya?"
"Ugh! Hmm!"
Hanya gumaman yang ia dapat. Khawatir mulai menyelimuti hati, Dazai mengguncang tubuh kecil itu. "Hei, Chuuya.."
Seperti melihat kematian dalam mimpinya, Chuuya hanya bergumam dan mengerang dengan takut. "Hei! Chuuya!" sekali lagi Dazai mengguncang tubuhnya.
"Chuuya!"
Chuuya terbangun, memperlihatkan mata biru yang penuh ketakutan. Ia berlomba dalam napas, pupil matanya mengambil semua cahaya yang bisa ditangkap untuk keluar dari dasar-dasar mimpi yang pudar.
Bangkit, Chuuya meremas rambutnya, tatapannya masih berisikan kabut mimpi buruk. Sebelum tangannya ditangkup oleh tangan lain yang lebih besar, cahaya manik sapphire itu kembali berpendar redup. "Dazai?" Manik kakao yang bertemu pandang dengan kekhawatirannya pun tertular cemas.
Dengan lembut Dazai mengelus sisi-sisi kepala yang tadi dijambak. Menarik Nakahara Chuuya kembali pada ketenangan. "Iya. Ini aku. Kau baik?" Tangan kokohnya turun perlahan, menangkup pundak kecil yang bergetar hingga empunya menjatuhkan kepala dan bersandar di dada si jangkung.
Tentu Dazai terkejut, namun ia tetap bersikap tenang dengan mengelus punggung Chuuya. "Tidak apa-apa. Aku di sini." ucapnya pelan. "Kau mimpi buruk?"
Chuuya bergumam sebagai jawaban iya.
"Tidurlah lagi. Ini masih jam dua." perlahan Dazai menuntun Chuuya untuk kembali berbaring di tempatnya. "Aku di sini, tidak perlu takut."
"Jangan pergi."
Seperti tersambar petir. Dazai tidak menduga akan menerima dua kata mewakili perintah mutlak yang sangat manis dan berat dari Nakahara Chuuya. Wajahnya tidak bersemu malu, melainkan takut dan putus asa. Alisnya turun memohon, tapi matanya menuntut pengabdian. Membingungkan, namun tidak memunculkan rasa tanya.
Dazai mengecup punggung tangan Chuuya. Memberinya jawaban disertai senyum paling jujur yang pernah dia tampilkan, "Aku tidak punya niat pergi darimu, Nakahara Chuuya."
Detik setelahnya ia kembali dikejutkan karena Chuuya yang menenggelamkan kepala di dadanya. Melingkarkan tangan kurusnya di punggung Dazai yang lebar, benar-benar ingin mengikatnya, tidak mengizinkannya menghilang barang sekejap. Tentu, Dazai membalas pelukan itu dengan merengkuh tubuh si mungil.
Efek mimpi buruk yang bercampur sisa mabuk sungguh berakibat buruk untuk mekanik itu, tapi sungguh, Dazai tidak membencinya. Justru sangat menyenangkan bisa melihat sisi lain dari Chuuya, sisi lemah yang ia inginkan untuk mendapat perlindungannya. Karena bagaimanapun juga, Dazai Osamu pun adalah pria yang ingin menjaga kekasihnya.
Ketakutan itu seperti kejadian di perahu, tubuh gemetar Chuuya yang tidak diketahui apa sebabnya. Rasanya pelukan itu begitu lama, begitu nyaman, sampai Dazai bisa merasakan napas yang melembut.
Chuuya menarik kepala dan lingkaran tangannya dari lelaki brunette. "Aku melihat mimpi yang sangat buruk." Pancaran matanya sudah kembali pada Nakahara Chuuya yang angkuh dan super percaya diri, walau garis-garis cemas masih mencoreng biru indahnya, tapi itu cukup.
"Apapun mimpi burukmu, itu hanya mimpi." tangan Dazai dengan perlahan mengusap pipi Chuuya, "Kenyataannya sekarang kau disini, memenuhi undangan pesta di Distrik 4 tempat berlangsungnya perang saudara, dengan kereta api yang baru saja menjadi panggung perampokan, sekamar dengan pria yang tadi membunuh seseorang. Menyenangkan bukan?"
Chuuya melihat senyum lebar itu dan entah kenapa ikut menarik bibirnya dengan hati tanpa beban. "Iya, menyenangkan." dia tertawa. "Maaf, aku seperti anak-anak. Ini memalukan." lanjutnya semakin menjauh dari Dazai.
"Oh tidak. Aku senang kalau kau memelukku dua puluh empat jam. Kau bisa mengandalkanku sebagai bantal seharian penuh, Chuuya."
"Ironis, omong kosongmu yang menyebalkan malah menghiburku."
"Mungkin itu bakat alamiku?" kemudian dua tawa mengisi ruangan kecil itu.
"Maaf aku mengganggu tidurmu."
Ah, jika yang dimaksud adalah masuk ke mimpi Dazai Osamu dengan seluruh desahan seksi itu, dia tidak akan memaafkan Chuuya. Tapi si brunette tau yang Chuuya maksud adalah perihal mimpi, karena itu dia menjawab "Oh tidak, aku sudah bangun sebelumnya."
"Benarkah? Untuk apa?" si mekanik bertanya di tengah berbaringnya.
"Menyelesaikan masalah yang Chuuya buat." seharusnya Dazai menjawab demikian, namun diurungkan dan memilih jawaban jujur yang ringkas, "Kamar mandi."
Syukurlah Chuuya bukan orang yang berpikir rumit, jadi dia hanya menjawab "Ohh.." sebelum kalimat "Kenapa kau menyelimutiku?" ketika Dazai menarik selimut ungu yang tadi terbuang karena tidur Chuuya yang buruk.
"Kenapa? Tentu saja karena itu perlu."
"Aku tidak biasa pakai selimut, dan bukankah seharusnya kau menyelimuti dirimu sendiri?"
"Chuuya, tidur dengan celana pendek seperti itu sangat berbahaya kau tau?" hazelnya melihat wajah melongo Chuuya, Dazai menghela napas. "Kau masih mabuk yah sampai lupa status alpha-omega kita hm?"
"Hmm? Ohh.." tampak di wajahnya kalau dia tidak peduli dan menganggap hal itu sebagai sesuatu tak penting. "Tapi kan dingin, kau juga pakailah selimutnya." dengan tangannya yang terluka, perlahan Chuuya menarik sisi lain kain lembut itu hingga mencapai perut Dazai.
Berada dalam satu selimut kecil dengan Nakahara yang begitu dekat. Kaki mereka bersentuhan, dan manik coklat Dazai seperti berbicara dengan mata biru penuh kehangatan malam yang begitu dekat menatapnya. Momen seperti ini, bukankah sempurna jika bibir mereka bertemu dalam ciuman selamat malam penuh cinta?
"Jangan coba-coba menciumku ya." Chuuya tersenyum menantang di dalam peringatannya.
"Chuuyaa... Kenapa kau bisa jadi pintar di saat seperti ini?" Dazai membalas dengan dengusan kecewa.
"Hm.. Matamu memberitahuku."
"Beri aku persetujuan..." si brunette memelas.
"Bodoh sekali. Tidak akan terjadi." Chuuya menjawab sombong, namun kalimat berikutnya ia ucap dengan sendu, "Tidak denganku."
Ah, ternyata sifat pesimis itu masih melekat di dirinya. Sifat yang entah kenapa Dazai benci karena dia tidak mengerti, kenapa Chuuya begitu jelek menilai dirinya yang sempurna itu?
"Tapi aku inginnya Chuuya.."
"Idiot. Aku sudah bilang padamu dari awal, nanti kau menyesal."
"Aku tidak keberatan dengan pekerjaan terorismu." ia menjawab dengan ceria, namun Chuuya memutus lagi harapan itu dengan kalimat dan nada bicara yang ambigu.
"Lucu sekali." ia merapihkan kemejanya yang tertutup selimut.
Selama beberapa menit mereka diam. Chuuya yang menghadap langit-langit, sedang Dazai yang melihat siluet sempurnanya.
"Kau tau Chuuya? Dulu aku juga bekerja di dunia gelap." perkataannya memancing si sinoper untuk menoleh. "Aku bekerja di kantor keamanan hampir empat tahun, sebelumnya aku bekerja di berbagai bidang kejahatan terorganisir."
Pembicaraan serius yang tiba-tiba terjadi tanpa aba-aba membuat jantung Chuuya macet untuk berdetak. Refleksnya ingin kembali bangkit pun terhalang karena kaki dan tubuhnya begitu lelah.
"Jangan begitu. Kau yang meminta untuk bercerita tentang diriku kan?" Dazai tersenyum. "Lagipula, aku tidak ingin Chuuya menganggapku seperti orang yang begitu baik dan merendahkan diri sendiri."
Chuuya memiringkan tubuhnya untuk menghadap Dazai. Cahaya bulan terselip dari gorden lembayung yang bergoyang menimpa wajah bingungnya. Senyum Dazai mengatakan dia tidak keberatan bercerita, dengan ragu Chuuya bertanya, "Kejahatan seperti apa?"
"Perdagangan senjata, obat-obatan terlarang, imigran gelap, budak."
Mata Chuuya membelalak kaget, jantungnya yang tadi tercekat dipacu sampai kecepatan maksimal. Ia meneguk ludah, lalu menarik napas untuk menenangkan diri setelah Dazai mengelus lengannya dengan lembut.
"Wajar kau terkejut ya? Itu pekerjaan yang kotor, kejam, kelam, dan jahat, iya kan?"
"Sejak kapan?"
"Dari dulu. Mungkin umur sembilan?" Dazai bertanya pada memorinya. "Sejak umur satu tahun aku tinggal di panti asuhan di sekitar Distrik 8 dan menjalani hidup sebagai anak yang suka membaca buku hingga tujuh tahun ke depan."
"Setahun setelahnya kehidupan di panti mulai sulit. Kami mulai kekurangan dana karena korupsi yang merajalela. Chuuya pasti tau masa-masa itu kan?" yang ia tanya mengangguk. "Kami semua dipaksa melakukan tes untuk disortir sesuai peringkat alpha, beta, omega. Mereka yang berada di urutan terbawah dibuang, sebagian diambil oleh organisasi ilegal untuk mengurangi beban konsumsi. Sebagian besarnya para omega, lainnya anak-anak yang tidak bisa bekerja, lemah fisiknya, dan sulit bergaul. Coba tebak, aku salah satunya."
Bahu Chuuya melemas melihat senyum riang Dazai yang penuh rasa dendam. Tangan yang tadi mencengkram seprai tanpa sadar berpindah membelai pipi si brunette. Pria itu tersenyum, menimpa tangan yang berada di pipinya, ini pertama kali Chuuya menyentuhnya dan tidak ada yang bisa membuat Dazai Osamu menolak kebahagiaan itu.
"Itu hanya masa lalu, kau masih mau dengar?" melihat anggukan, Dazai melanjutkan. "Beberapa dari anak-anak itu, yang aku dengar, dijual ke pasar budak, beberapa diambil organnya untuk diedarkan di pasar gelap, beberapa dilatih menjadi tentara bayaran, dan aku satu-satunya yang beruntung dipungut oleh seorang asisten mafia." ia mengucap kata 'beruntung' dengan berat.
"Aku tidak tau kenapa, mungkin karena aku ini hebat?" tawanya sungguh palsu. "Sejak saat itu mereka melatihku menjadi penjahat. Aku memang bukan orang yang jago bela diri seperti Chuuya, mereka mengajariku berbagai seluk beluk dunia. Cara menyelundupkan barang, menjualnya, mengamankan aset, menghindari hukum, merekrut anggota, merusak moral dunia. Itu pekerjaanku dulu."
"Saat umur enam belas, mereka sudah memberiku satu bidang ilegal. Imigran gelap, penyelundupan manusia, ke Distrik 1." merasa syaraf Chuuya kembali mengencang, giliran Dazai yang membelai lengan kecilnya.
"Mau kulanjutkan? Kau pasti tau kalau Distrik itu adalah pusat industri, pertambangan, pabrik, bordil, Distrik paling lebar dan selalu aktif dengan populasi terpadat. Perbudakan hal yang lumrah sebagai tenaga kerja yang bermacam-macam. Bisnis yang sangat menjanjikan selain perdagangan senjata dan obat-obatan."
"Aku tidak terlibat secara fisik. Pekerjaanku hanya menempatkan pendatang kepada Tuan Tanah yang cocok. Mengelompokkan mereka dalam kelas-kelas untuk dijual ke para pencarinya. Jadi singkatnya, aku hanya bekerja di belakang komputer untuk mengatur segala distribusi."
"Jadi kau tidak tau dari mana dan apa pekerjaan yang dilakukan para budak itu?"
"Tidak tau. Aku hanya mendata dari nomor yang dilabelkan pada mereka saja. Mulai mereka datang, dijual, dan sampai pada pemiliknya. Aku tidak begitu tertarik dengan darimana asal mereka atau apa yang mereka kerjakan. Aku hanya tau, mereka dipaksa bekerja di tambang sebagai pekerja rodi, di bordil sebagai pelacur, atau di rumah orang kaya sebagai budak multifungsi. Menariknya, para pemasok dan penjual budak mendapatkan orang dari penipuan dan penculikan, jadi tidak ada budak di Distrik 1 yang tau kalau mereka akan dijadikan budak. Lucu sekali."
Rasanya perih sekali hati Chuuya mendengar kalimat per kalimat pria itu. Walau menggunakan nada mendayu dan dihiasi senyum tipis, suaranya yang rendah terdengar begitu sedih saat menceritakan kehidupan yang begitu bejat. Ingin marah, namun Chuuya tidak bisa. Karena mata Dazai menyiratkan begitu banyak penyesalan sejak ia memulai kisahnya.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Chuuya dengan suara parau.
"Oh, itu.. Aku punya seorang teman, dari tempat bercahaya." senyumnya masih tipis, namun auranya berbeda. Yang tadinya begitu pedih dan mengiris-iris hati, sekarang begitu lembut dan menyejukkan. "Dia seperti idola bagiku, aku selalu mengaguminya. Orang pertama yang memperlakukanku seperti manusia saat aku pikir diriku hanya mesin mafia. Dia memberiku banyak motivasi. Banyak hal terjadi hingga akhirnya aku keluar dari kehidupan itu."
"Teman ya.."
"Iya, cuma teman kok. Tenang saja, Chuuya selalu jadi yang nomor satu di hatiku..." candaan Dazai tidak digubris oleh pemuda Nakahara. Matanya kembali melihat langit-langit, seperti menerawang jauh ke pikirannya, ke hidupnya, ke masa lalunya. Dazai memilih untuk melanjutkan, "Itu empat tahun lalu, sekarang aku bekerja di kantor swasta. Aku tidak bisa menceritakan pekerjaanku secara rinci, karena kantor melarangku. Sayang sekali ya? Padahal aku ingin pamer pada Chuuya.." candanya.
"Empat tahun.." tampaknya celoteh itu tidak digubris karena si sinoper hanya berfokus pada kalimat pertama. "Apa kau ingat budak-budak yang kau tangani?"
Pertanyaan mengejutkan sebenarnya. Dazai tidak menduga akan munculnya kalomat itu dari Chuuya. Tapi untuk perihal tanggung jawab, itu adalah hal yang yang memang patut ditanyakan.
"Tidak. Terlalu banyak wajah dan nama. Mungkin kalau aku melihat nomor mereka aku akan ingat. Tapi tidak semua pekerja itu aku yang mengurusnya loh.. Ada satu, atau mungkin dua orang lagi yang melakukan pekerjaan sepertiku. Apa itu penting?"
"Uh? Tidak. Aku cuma penasaran." Chuuya merapihkan lagi pakaiannya yang tidak berantakan, lalu berbalik menghadap tembok. Menutup pembicaraan penting itu dengan hening.
"Kau jadi jijik padaku ya?"
Selama beberapa saat Dazai masih melihat punggung kecil yang tertutup kemeja hitam kebesaran itu. Memang benar, siapapun pasti merasa takut saat tahu orang yang tidur seranjang dengannya adalah mantan mafia yang melakukan beribu kejahatan dan melanggar norma-norma kemanusiaan.
Dazai tau resiko ini begitu dia memulai ceritanya. Mungkin Chuuya akan takut, mungkin hubungan mereka akan canggung, atau mungkin saja Chuuya akan langsung pergi keluar dari kamar ini. Tapi entah setan apa yang merasukinya tadi, Dazai lebih tidak tahan melihat Chuuya yang menghina diri sendiri dibanding membayangkan dirinya yang ditinggalkan oleh pria itu.
Tujuannya hanya ingin mengatakan, 'kau bukan yang paling buruk disini, Chuuya.' — dan berakhir dengan dirinya yang mengharap agar segala kemungkinan yang telah terjadi itu tidak terjadi. Menit berikutnya, tempat tidur berderit. Chuuya untuk sekian kali berganti posisi, kini kembali melihat Dazai.
"Aku hanya terkejut." suaranya muncul. "Aku sungguh tidak menduga hidupmu seperti itu." Chuuya menimpa punggung tangan Dazai dengan tangannya.
"Aku rasa akan lebih baik jika kita berdua setuju untuk mengabaikan itu karena itu hanya masa lalu." ia tersenyum. Ya ampun, bagaimana bisa Dazai jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama?
"Tidak usah dibahas lagi yah? Aku tau kau yang pria tangguh pun pasti berat menceritakannya." matanya hampir tertutup karena senyum yang menampilkan deretan gigi putihnya. Kalimat yang penuh sindiran namun begitu berarti bagai seorang Dazai Osamu. Begitu berarti, sangat berarti, karena menunjukkan Nakahara Chuuya yang mengerti betul perasaannya.
"Chuuya, kau benar-benar melarangku untuk menciummu? Aku ragu aku bisa menahan diri kalau kau begitu sexy dengan senyum itu."
Kali ini godaan Dazai benar-benar berhasil membuat darah mengalir deras ke kepala Chuuya hingga wajahnya memerah.
"Aku benar-benar akan melemparmu keluar jendela kalau kau berani mencoba."
"Cium sini.. Chuuya~"
"Pergi ciuman dengan pintu saja sana!" tangan Chuuya dengan kasar menahan wajah Dazai yang mendekat ke arahnya. Wajahnya memerah, namun perempatan kesal imajiner terlihat jelas di dahinya. Sementara Dazai semakin manja dan mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil itu. Benar-benar adu kekuatan manis yang terlalu sering merusak momen romantis walau selalu berakhir dengan Dazai yang tersakiti. Iya, seperti saat ini, Chuuya menandang perutnya hingga terguling jatuh ke lantai.
"Gorila." ia menggerutu di tengah sakitnya.
"Biar kau pernah berciuman dengan lantai kereta api!"
"Gorila— aw!"
Chuuya menggeram setelah melempar bantal dengan tepat mengenai kepala Dazai. "Katakan lagi, kulempar lampu tidur itu ke kepalamu."
Dazai hanya bisa memajukan bibir kesal. Susah sekali punya Nakahara Chuuya sebagai gebetan yah? Seperti godaannya yang tak tertahankan, tenaga dan kesadisannya juga sama.
Dengan perlahan Dazai kembali naik ke atas tempat tidur. Chuuya duduk dengan tangan mengepal, mode siaga untuk meninjunya jika macam-macam.
"Iya aku mengerti! Chuuya menyebalkan! Aku benci!" seperti anak-anak, pria yang lebih tua tiga tahun dari Chuuya itu meletakkan bantal dengan kasar dan berbaring dengan kesal. Memberi punggungnya pada Chuuya, iya, dia ngambek.
"Bodoh kau, Dazai."
...dan semakin ngambek.
Larut dalam kesal karena bukannya diberi izin kecup oleh Chuuya —malah ditendang dan disuruh ciuman sama lantai— Dazai tidak punya pilihan lagi selain menarik selimut lalu menutup mata dengan hati kalut dan kecewa. Menyebalkan. Pokoknya besok dia bakal mogok bicara sampai Chuuya memberi kecupan.
Janjinya sih begitu, tapi batal karena beberapa detik kemudian ia merasakan benda kenyal bersentuhan dengan tengkuknya yang tertutup sedikit helai-helai coklat. Matanya refleks terbuka dan kepalanya hendak menoleh— sayang sekali tangan Chuuya lebih dulu menahan wajah Dazai untuk tetap di posisi awal sebelum ia benar-benar melakukannya.
"Jangan berbalik!"
Walaupun gagal menyaksikan wajah Chuuya yang begitu memerah karena kecupan kecil itu, imajinasi Dazai terhadap Chuuya lebih hebat daripada seniman-seniman fiksi profesional.
"Chuuya selalu curang."
"Diam kau! Tidur saja sana! Idiot!"
Dazai tertawa kecil mendengar protes itu. Bagaimana bisa ada manusia yang kesal berapi-api setelah mencium seseorang atas kehendaknya sendiri. Sungguh dia setuju dengan siapapun di semesta yang menyatakan Nakahara Chuuya benar-benar istimewa.
To Be Continued
Saya kembali dengan chapter pendek. Untuk bagian ini kurang ide nih, mungkin chapter selanjutnya bakalan lama yah.. Apalagi lagi sibuk di irl, readers sekalian harus tambah bersabar yah... XD
Saya sangat berterima kasih pada kalian semua yang masih membaca Lovelectry, dan sudah membaca karya-karya saya yang lainnya. Terlebih bagi yang meluangkan waktu untuk review, senang sekali membaca semangat dan komentar dari kalian.
See You~
Cylva
