Maav maav maav lama banget updatenya

Aku sibuk ngurusin skripsi /cries/

Tapi review kalian membangkitkan semangatku!

Oke, silahkan dibaca, moga suka XD


Persuade

Author: Prissycatice


Pairing: ZoSan – Zoro x Sanji

Disclaimer: They belong to Odacchi, not mine

Genre: Romance? Fail!

Rating: T (Sedikit menjurus)

Warnings: Yaoi. OOC. Alur Kecepetan. Typos. Abal.

You've been warned


.

.

.

Gadis bersurai seindah matahari senja itu mendorong pria dihadapannya dengan jari-jarinya yang mungil. Punggungnya yang bidang bertabrakan dengan dinding dingin dibelakangnya, membuat pria itu sedikit mengerutkan dahinya. Senyuman manis yang tersungging di wajah gadis yang kecantikannya sudah terkenal seantero sekolah itu tidak membuatnya senang, sama sekali tidak. Sebaliknya, rasanya ia ingin cepat-cepat kabur dari sana. Ya Tuhan, andai saja ia bisa.

"Dengar, kau punya hutang sepuluh ribu berry padaku." Mata gadis itu mengerling nakal saat mengatakannya, membuat tubuh sang pria malang menggigil tidak menyenangkan. Dan dengan suara lembut yang manja ia berkata "Tanggal jatuh temponya sudah lewat, dan sejujurnya aku ini wanita malang yang sedang kesusahan keuangan."

Gadis itu pembohong yang luar biasa

"Aku mengerti kalau sikapku ini terkesan jahat karena mendadak memintamu mengembalikannya. Jadi, kupikir begini saja" jemarinya yang lembut dengan kuku berlapiskan warna merah menyala itu menggenggam tangan pria yang masih tidak sanggup mengatakan apa-apa sejak awal percakapan mereka. "Aku akan datang lagi besok, kau siapkan uangnya. Karena aku tahu kau pria yang baik, dan begitu juga aku, jadi aku hanya akan menambahkan denda padamu sebanyak dua ribu berry."

Dan juga pemeras tanpa belas kasihan

"Nah, kalau begitu sampai jumpa besok!" ujarnya sembari berjalan menjauh dan berbelok di lorong. Sungguh pria yang malang.

Gadis bernama Nami itu tersenyum senang sambil mengeluarkan sebuah buku mungil dari saku seragamnya. "Fufufu~ aku dapat tambahan dua ribu berry, lumayan." Gumamnya sembari mencatat sesuatu di buku dengan sampul yang bertuliskan —Harta harian yang semakin bertambah. Buku berharga yang setara dengan nyawanya, karena di sana, tercatat semua hutang sekaligus denda orang-orang kepadanya. Tumpukan harta.

Ia memekik kaget saat merasakan tangannya ditarik begitu saja. "Demi uang-uangku yang berharga!" umpat Nami dengan kesal. Wajahnya menoleh untuk melihat siapa manusia bodoh yang berani melakukannya. Dan ia menemukan sang jenius di sana.

"Kita perlu bicara."

"Kau membuat buku catatanku tercoret, kau tahu! Kau harus membayarnya." Nami mendengus kesal, memperlihatkan bagian bukunya yang tercoret oleh garis horizontal yang cukup panjang kepada Law.

Dan dua ribu berry mendarat indah di tangan Nami. "Kurasa itu cukup." Uang tidak pernah menjadi masalah untuk Law, tentu saja, katakan saja bahwa ayah dan ibunya adalah dokter yang cukup terkenal.

Dengan uang dua ribu berry itu ia bisa membeli sebuah buku catatan baru yang bagusditambah sepotong burger. Nami bersiul dan mengantungkan uang serta bukunya kembali ke dalam kantung seragamnya. Berurusan dengan anak orang kaya memang selalu menyenangkan. "Jadi, kenapa tiba-tiba mencariku?"

Law diam untuk beberapa saat, tidak tahu harus memulai dari mana. "…Kakakmu…" dan diam lagi. Sementara Nami hanya menunggu, ia tidak keberatan, sama sekali tidak. Toh sekarang sedang jam bebas dan mungkin ia bisa mendapatkan uang tambahan lainnya? Siapa yang tahu. "Apa Zoro dekat dengan Sanji?"

Mata Nami mengerjap beberapa kali. Ia ingin menjawab 'Tentu Saja', namun ia sadar bahwa pertunangan Zoro dan Sanji harus dirahasiakan, paling tidak, itu permintaan Sanji kepadanya. Oleh karena itu ia memutar otaknya, mencari apa yang sebaiknya ia katakan kepada Law, dan matanya tanpa sengaja menangkap bekas kemerahan di pipi Law saat ia sedang berpikir.

"Wajahmu memar" ucap Nami. Kalau benar-benar diperhatikan dengan sedikit jeli, itu bahkan terlihat bengkak. Law pasti menutupinya dengan semacam obat oles atau obat lain sejenis itu.

Sejujurnya pria jenius itu memiliki cukup banyak pertanyaan di dalam benaknya, mereka rumit, dan menyebalkan. Tapi dari mereka ada beberapa hal yang penting, dan ia harus tahu. Dan Law rasa ia sudah menemukan kata pembuka yang tepat untuk bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan "Kakakmu memiliki tenaga yang hebat."

Pernyataan sederhana itu berputar cepat di otak Nami. Dan satu kesadaran langsung menimpanya. 'Jadi Zoro yang membuatnya begitu? Demi Tuhan, Kau itu memang lelaki brutal, kakakku sayang' batin gadis itu kalut.

Awalnya Nami pikir ia tidak akan menemui masalah di hari secerah ini. Ia menemukan beberapa siswa yang bersedia membeli barang-barang hasil curian yang dijualnya, mendapatkan uangnya kembali dari orang-orang yang membayar hutang, ia bahkan mendapatkan denda tambahan yang akan diperolehnya besok. Tapi rasanya tentu satu hari tidak akan berjalan terlalu sempurna begitu saja.

"Kakakku memukulmu?" tanyanya setelah melepaskan helaan nafas pelan. "Dengar, aku tidak tahu kalau ia membencimu. Kalau kalian punya masalah, —dan aku bahkan tidak tahu apa masalah kalian—, tolong jangan libatkan aku, ok?" kata Nami, memberikan sebuah kebohongan lain pada Law. "Kau harus tahu, kakakku itu orang yang keras kepala dan sangaaatt kuat. Jadi apapun itu masalahmu, sebaiknya segera kau selesaikan." Lanjutnya tanpa sedetikpun melepaskan pandangan dari bola mata hitam legam milik Law.

"Dia bertemu aku dan Sanji di taman hiburan kemarin, menurutmu itu suatu masalah besar sampai ia harus mendaratkan tinjunya padaku?" pertanyaan itu sarkastis, Law bahkan merasa itu sungguh bodoh.

Nami menahan nafasnya untuk beberapa saat. Ia tahu berurusan dengan anak orang kaya memang selalu menyenangkan, tapi berurusan dengan anak orang kaya yang memiliki otak jenius ternyata memberikannya sebuah pekerjaan yang sulit. Law, anak itu selalu berbicara pada intinya, tidak pakai basa-basi dan setiap perkataannya memiliki suku kata yang walaupun sederhana, tapi memiliki makna yang tajam. Dan Nami pun harus memilih kata-kata yang tepat untuk membalasnya dengan tingkat yang setara.

Gadis itu tidak bodoh, sungguh. Bahkan Law sendiri tahu itu. Apa yang diucapkannya pasti sampai. Tapi ia belum menjawabnya. Berpikir, Nami sedang melakukannya. Tapi bukankah pertanyaan yang diajukan Law barusan seharusnya membuatnya kaget? Nami membutuhkan waktu untuk menjawabnya, walau hanya beberapa detik yang mungkin tidak disadari oleh orang lain, tapi Law mengetahuinya. Ia dikatakan jenius bukan tanpa alasan.

"Mood kakakku sedang buruk kemarin."

Law otomatis mendengus. Bukankah itu alasan terkonyol yang pernah ia dengar? "Jadi itu alasan yang tepat untuk bisa memukul orang tanpa sebab?"

Memalingkan wajahnya adalah hal yang dilakukan Nami setelah mendengar pertanyaan itu. "Aku tidak bilang begitu" jawabnya. Ia kalah, Nami tahu ia sudah kalah dalam percakapan ini. "Mungkin ia tambah kesal saat melihat sahabatnya bermain dengan oang lain saat ia membutuhkan lawan tanding."

"Zoro terlihat begitu marah, belum pernah kulihat ekspresinya yang seperti itu. Dan tanpa mengucapkan apapun, ia langsung menyeret Sanji begitu saja." Kata Law menjelaskan sekaligus memberikan pancingan untuk melihat reaksi Nami selanjutnya. "Kurasa harus ada dasar yang kuat untuk bisa melakukan hal semacam itu."

Dan saat itu bel pergantian pelajaran berbunyi.

Nami bersumpah bahwa ia mengucapkan ungkapan rasa syukur banyak-banyak dalam hatinya. "Dengar, aku berjanji akan membantumu kencan dengan Sanji. Kau membayarku, dan aku sudah melakukan apa yang menjadi janjiku. Kita impas. Selebihnya kurasa itu bukan urusanku."


…:::…ZoSan…:::…


.

.

.

"Hei Marimo, kau dengar tidak?"

Zoro masih sibuk mengunyah, bukannya dia tidak mau dengar, tapi dia kan sedang makan saat ini. Bisa tidak sih tunangannya itu bicara nanti saja? Pria bersurai hijau itu tahu sedari tadi Sanji sedang mengoceh, demi Tuhan ia tidak tuli, hanya saja Zoro tidak menyimak semua ucapan Sanji, jadi dia tidak tahu persisnya Sanji sedang membicarakan apa.

Sanji menggeram rendah mendapati bahwa tunangannya tidak mendengarkannya sama sekali "Marimo, ini serius! Kau harus dengarkan aku" ditariknya wajah Zoro untuk melihat ke arahnya.

Sebenarnya ia juga tidak mau mengganggu orang yang sedang makan. Sayangnya hanya di jam istirahat seperti inilah Sanji bisa berbicara 'normal' dengan Zoro. Dia tidak mau terlihat sedang bersama dengan ketua OSIS yang diagung-agungkan seantero sekolah ini. Bisa repot kan kalau nanti banyak fans Zoro yang menanyakan ini itu perihal Zoro padanya. Mending menjawab pertanyaan tentang dirinya deh.

"Zorooo" Zoro mendesah pelan. Makanan di dalam mulutnya saja belum habis ia kunyah, tapi tunangannya ini sudah rewel seperti anak kucing yang minta makan. Kotak bekal yang sedari tadi berada digenggamannya ia taruh tepat disamping tempat ia tengah duduk bersila saat ini.

Sekarang mereka sedang berada di atap, dimana yang memiliki akses untuk masuk ke tempat ini hanya Zoro seorang, maksudku, hanya ketua OSIS lah yang memiliki kunci untuk bisa masuk ke sana. Jadi bisa dibilang mereka aman dari gangguan. Contohnya seperti Gangguan dari fans club Zoro yang diketuai oleh gadis manis bernama Perona yang selalu membuntuti Zoro disetiap ada kesempatan. Tidak terkecuali seperti jam istirahat sekarang ini, itulah sebabnya Perona dan para pengikutnya sedang menggerutu sebal sekarang karena mereka tidak pernah bisa menemukan Zoro setiap kali jam istirahat berlangsung.

Sebenarnya mereka selalu bersiap siaga di dekat kelas Zoro sejak bel pertama berbunyi, dan berhasil mengikutinya dari belakang. Tapi entah kenapa setiap kali mereka tiba di koridor yang memiliki empat sisi jalan, pria bersurai hijau itu selalu saja menghilang. Mereka menyebut peristiwa itu sebagai 'Sihir' dan menyangkut pautkannya dengan Nami yang selalu memberikan sebuah senyum misterius setiap mereka menanyakan kebenarannya kepada gadis berambut oranye itu. Membuatnya semakin misterius saja.

Yah… sebenarnya itu bukan karena kekuatan magis yang dimiliki Nami, yang omong-omong hanya sebuah bualan semata. Tapi hal itu murni karena Zoro yang sebenarnya tersesat setiap kali ia berbelok. Eh, bukan, Zoro tidak tersesat, itu pasti kesalahan koridor yang selalu berpindah-pindah seenaknya!

Tangan Zoro melingkari pinggang ramping Sanji dan merangkulnya untuk selanjutnya mengangkat pria blonde itu untuk duduk di atas pangkuannya. Membuahkan sebuah geraman dan pertanyaan bernada kesal dari Sanji yang diabaikan seluruhnya oleh Zoro.

Mendapatkan Zoro mengangkat sedikit dagunya yang seolah menyuruhnya untuk segera bicara, Sanji menyerah dengan sebuah dengusan. Ia tidak senang dengan posisi mereka saat ini, pun bukannya ia tidak ingin segera bangkit dari atas pangkuan Zoro, tapi bocah bersurai lumut itu sudah mengatakan dari gesture tubuhnya kalau ia hanya akan mendengarkan Sanji jika posisi mereka seperti ini. Dan well… sebenarnya Sanji juga sudah terbiasa dengan sifat Zoro yang entah kenapa selalu gatal ingin menyentuhnya, walau hanya sentuhan singkat yang tidak berarti, namun sering. Jadi posisi seperti ini bukan masalah besar.

"Kali ini dengarkan baik-baik." Titah Sanji "Kau harus minta maaf pada Law"

Geraman berat yang berasal dari tenggorokan Zoro terdengar. Apa-apaan? Kenapa pula ia harus minta maaf pada bocah sok cool itu. Jelas di sini harusnya Law yang berlutut minta maaf di hadapan Zoro karena telah berani menyentuh apa yang menjadi miliknya! Lalu kenapa yang terjadi malah sebaliknya?

"Ok ok aku mengerti ia salah, Law sangat salah" Sanji mengoreksi ucapannya ketika melihat raut wajah tidak terima yang diberikan tunangannya saat ia hanya mengucapkan kata 'salah'. "Tapi dengar, kalau kau tidak minta maaf padanya pasti akan ada banyak pertanyaan di dalam benaknya. Demi Tuhan, dia itu jenius Zoro."

"Aku tidak peduli dia jenius atau apa. Aku tidak akan minta maaf atas apa yang kulakukan kemarin." Balas Zoro kesal.

Sanji menggeretakkan giginya kesal. Tunangannya ini benar-benar keras kepala! Tapi ada satu cara, ya, cara yang satu ini selalu berhasil. Pasti berhasil. Sanji menurunkan sedikit tubuhnya agar ia bisa lebih dekat dengan Zoro lalu dengan cepat ia melumat bibir kekasihnya selama sepersekian detik atau mungkin lebih lama sedikit. "Dengarkan aku, ok?"

Dan mendapat anggukan dari Zoro.

Bagus, tunangannya ini memang seperti seekor anjing yang harus dibelai dahulu sebelum disuruh. Anjing besar yang keras kepala dan merepotkan. "Dia pasti bingung karena mendadak kau memukulinya seperti itu. Lagipula kalian sama-sama bergabung dalam OSIS, bisa repot nantinya kalau ada perang dingin kan?"

Dan diusapnya helaian rambut milik Zoro. Sekali, dua kali. "Jadi minta maaf lah padanya. Katakan saja kemarin itu kau kira Law ada hati pada Nami-chan, jadi kau pergi ke taman hiburan untuk memperingatinya dan malah menemukan Law sedang berbuat mesum kepada teman adik kesayanganmu yang membuatmu semakin kesal padanya."

Zoro tidak suka berbohong, dia bukan tipe pria seperti itu. Tapi Sanji kembali melumat bibirnya, membuat Zoro ingin mengangkut Sanji pulang saat itu juga karena ASTAGA, Sanji nya terlalu manis hari ini!

Coba hitung sudah berapa kali tunangannya itu menciumnya hari ini?! Well… hanya dua kali sih, tapi kan jarang sekali Sanji yang menciumnya kalau bukan Zoro yang bergerak terlebih dahulu. Ditambah setelah dua ciuman itu dia mendapati bahwa Sanji memeluk tubuhnya, tepat di atas pangkuannya! Mimpi apa dia semalam…

"Minta maaf padanya, ok?" dan suara itu berbisik di samping telinganya. Gah! Cukup sudah!

Ditariknya kepala Sanji ke arahnya untuk kemudian mengklaim bibir manis itu dengan ganas. "Mphh! ….Ngh… Zo… mmmhhh…." Dan desahan merdu yang mengalun dari bibir Sanji semakin memperindah hari ini.

Pria bersurai hijau itu melepaskan tautan bibir mereka secara tidak rela saat Sanji sudah mulai memukul-mukul bahunya. Jelasnya, setelah ciuman itu sudah terlampau lama dan membuatnya tidak bisa benafas dengan benar.

Zoro berusaha mengatur nafasnya dan ia melihat Sanji yang sedang kesusahan menegakkan tubuhnya dengan mata sayu dan bibir yang setengah terbuka. Geez… pemandangan itu terlalu menggoda. Belum lagi tangan seputih susu yang meremas pelan seragam sekolah Zoro, membuat Zoro secara refleks menarik rambut belakang Sanji yang menghasilkan pemandangan leher jenjang yang indah dan erangan yang menggairahkan. Dijilatnya, untuk kemudian digigit, lalu dihisap seperti orang kelaparan. Dan Sanji memang selalu membuat Zoro lapar.

"…sshhh… ma…rimo… ah…" Sanji memang bukan pria lemah, tapi tubuhnya selalu lemas tak bertenaga kalau Zoro sudah melakukan hal seperti ini. Ia bukannya tidak mencoba menahan suara desahannya, tapi hal itu menjadi pekerjaan yang terlalu sulit. Padahal waktu Law melakukan hal seperti ini padanya kemarin, ia baik-baik saja.

Setelah berhasil membuat beberapa tanda kepemilikan di leher indah Sanji, Zoro menjauhkan wajahnya dan mencoba mengontrol gejolak lain yang sedang menguasai tubuhnya. Ditariknya nafas dalam-dalam agar ia bisa mengeluarkan suaranya kembali "Baiklah, aku akan minta maaf padanya."

Dan Sanji menghela nafas syukur walau Ia masih belum bisa berpikir jernih dan tubuhnya masih menolak untuk mengumpulkan tenaga. Yah, jangankan itu, saliva yang mengalir dari sudut bibirnya saja masih belum ia enyahkan. Tapi secara ajaibnya, tangannya terulur menuju dada Zoro untuk sekedar merabanya, merasakan betapa bidangnya dada kekasihnya yang entah kenapa sekarang ini terlihat begitu menggoda.

Geraman berat Zoro kembali terdengar, namun Sanji tidak peduli. Ia menginginkan lebih. Walau toh ia tidak akan pernah mengakuinya. Jadi yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah meraba tubuh indah milik Zoro.

Tanpa sadar pria bersurai secerah mentari pagi itu menjilat bibirnya saat melihat persimpangan antara leher dan bahu Zoro. Betapa tempat itu terlihat begitu kokoh. Sanji jadi ingin merasakannya.

"Cook, sudah cukup, bel masuk sudah berbunyi dan aku harus ke kamar mandi untuk mengurus sesuatu di bawah sana."

.

.

.


TBC


Makasih banyak yang udah bersedia baca terus review!

Ya ampun ternyata masih ada yang nungguin ff ini, seneng banget loh /Kissu semuanya/


GPEG: Zoro kamu dibilang imut tuh! Makasih loh ya XD

opurple: makasih udah bersedia baca X3

ronsaga275: ini aku udah lanjut, moga suka ^^

Fadhisyalala: posesif!Zoro emang asik buat diliat ya XD

Guest: I'm sorry it get too long for updating this fic! And thank you so much for reading! Lots of love from Indonesia too ^^

Hiria-ka: *peluk-peluk balik* haha. Ace ya, belum nemu saat yang pas ini buat munculin itu anak. Ntar coba diliat lagi deh :D

Rahma Lau137: ciiieeee Zoro emang Mr. Jealous /shush/ makasih ya udah baca ^^

Cheeno: Mereka emang ditakdirkan untuk bersatu! /halah/ WHUT? Nikah? Belom lulus mba XD

Chikamo Victory: Oh Gawd, your review is amazing too! Thank you! Semoga kamu suka ya lanjutannya ^^

Aokeisatsukan: ya ampun review kamu bikin aku seneng tapi mau nangis juga. Hehe makasih ya, review mu juga cetar membahana XD

Ly NWW: belum ending say, jadi mohon diterima XD


With love,

Cndy