YOONMIN VERSION

Aku harus berhenti nonton drama jika ini akibatnya -_-


Park Jimin tidak pernah tahu jika satu jawaban simpelnya akan membawanya pada sebuah cerita yang sangat panjang.

#yoonmin #bts #t #gs featuring #seventeen

Based on drama "Descendant of The Sun"

WARNING!
GS!

.

.

.

PROLOG

A Romance in War
(YoonMin)

"Dokter Park Jimin?" eja perawat yang menjadi petugas resepsionis rumah sakit saat membaca kertas laporan di tangannya, dibalas anggukan oleh gadis berambut sebahu yang berdiri di sisi lain mejanya.

"Hari ini Dokter Park sedang libur..." ujar sang perawat membuat tamu di depannya langsung memasang wajah kecewa. "...tapi biasanya beliau tetap pergi ke rumah sakit—ah, itu dia!" dengan cepat si perawat menunjuk seseorang, acungan jarinya membuat gadis di hadapannya menoleh ke belakang.

"Yang berambut panjang dengan sepatu kets warna biru. Pergilah ke sana," ujar perawat sambil mengembalikan berkas laporan pada gadis muda yang langsung menerimanya dan berlari pergi setelah mengucapkan terima kasih.

Dokter yang dimaksud si perawat sudah melangkahkan kaki masuk ke dalam lift dan tepat ketika pintu lift hampir menutup, jemari lentik si gadis berhasil menyusup di celah sempitnya membuat papan besi tebal tersebut kembali terbuka.

"Selamat siang." Gadis itu buru-buru menundukkan badan dengan sopan. "Apa anda Dokter Park Jimin?" lanjutnya yang dijawab anggukan gamang—dan terkejut—oleh wanita berjubah putih di depannya.

"Anuu, namaku Lee Jihoon. Aku dokter yang ditugaskan di pasukan khusus yang ditempatkan di Urk. Aku kemari atas perintah Ketua tim kami, Dokter Kim Seokjin—"

"Sst—" sebuah desisan pelan dan telunjuk yang diletakkan di depan bibir chubby membuat runtutan kalimat panjang Jihoon terhenti.

"Bisa kau masuk dulu? Kita bicarakan ini di atas," pinta Jimin lalu tersenyum.

Jihoon ikut tersenyum. "Ah, ne," angguknya kemudian melangkahkan kaki memasuki lift dan berdiri di sebelah Jimin yang memencet tombol close.

.

"Jadi kau dari tim medis yang ditugaskan di Urk?" tanya Jimin dalam perjalanan menuju kantornya. Di sepanjang koridor dia sibuk tersenyum dan membalas salam dari para perawat, sesama dokter, maupun beberapa pasien yang berpapasan dengannya.

"Ne, status magangku sudah berakhir bulan lalu dan sekarang aku dokter tetap di sana," jawab Jihoon yang berjalan dua langkah di belakang Jimin.

Mendadak ayunan kaki dokter muda tersebut berhenti, dia membalikkan badan hingga berhadapan dengan gadis berpostur mungil yang mengikutinya, sepasang mata sipitnya nampak menyelidik dan itu membuat Jihoon hanya bisa berkedip tidak mengerti.

"Kau sudah magang? Kapan kau lulus? Berapa umurmu?" tanya Jimin beruntun.

"Aku lulus musim semi kemarin dan sudah menjadi dokter magang hampir 3 bulan. 1 bulan pertama aku ditempatkan di rumah sakit umum Seoul, tapi kemudian ada tawaran untuk menjadi sukarelawan di luar negeri dan aku mendaftarkan diri. Umurku 24 tahun," jawab Jihoon terperinci tanpa diminta.

"Kau masih muda dan masih magang tapi sudah pergi ke medan perang untuk jadi dokter..." Jimin mengakhiri kalimatnya dengan desisan panjang. Alis wanita tersebut mengerut. "...apa kau sedang kabur karena ditinggal pacarmu menikah?" tebaknya.

Di luar dugaan, air muka Jihoon mendadak berubah. Perlahan dia menunduk, "Ne..."

Kali ini giliran Jimin yang membelalakkan mata terkejut. "Benarkah!? Astaga! Maaf, aku tidak bermaksud—maafkan aku...!" dengan panik diraihnya wajah mungil itu dan membawanya mendongak, memeriksa jikalau ada air mata yang jatuh namun Jihoon malah tersenyum.

"Tidak apa-apa, Dokter. Itu cuma masa lalu. Aku tidak menyesal sudah kabur begitu jauh. Urk sangat menyenangkan."

"Benarkah?" tanya Jimin memastikan dan kembali sebuah senyuman manis menjawabnya.

"Ne!" ujar Jihoon dengan suara riang, cukup untuk membuat dokter senior di depannya ikut tersenyum.

"Baguslah kalau kau tidak menyesalinya," desis Jimin lalu mengusap bahu Jihoon. "Kau kuat," pujinya yang membuat kedua pipi gadis muda itu memerah. Jimin membalikkan badan dan kembali berjalan.

"Mana laporannya?" pintanya yang membuat Jihoon terlonjak di tempat dan tergesa-gesa mengimbangi jarak sang dokter yang ternyata sudah cukup jauh meninggalkannya yang entah sejak kapan malah bengong.

"Ini." Jihoon menyerahkan map berisi berkas laporan tepat ketika Jimin membuka pintu kantornya.

.

"Perekrutan untuk menjadi sukarelawan," baca Jimin sembari meletakkan cangkir berisi teh di depan Jihoon yang telah duduk manis menghadap mejanya.

"Biasanya informasi soal perekrutan sukarelawan akan diberikan oleh pihak militer pada pimpinan rumah sakit lebih dulu dan baru disosialisasikan saat meeting. Bukannya mengirim formulir secara personal begini," ujar Jimin sambil memeriksa lembar demi lembar form yang semuanya sudah memiliki stempel militer serta persetujuan dari pihak medis yang bersangkutan.

"Kalau begini caranya, aku bisa langsung mengambil cuti ke sana tanpa harus menunggu tanda tangan kepala rumah sakit." Kalimat Jimin terdengar mengeluh. "Kenapa aku merasa ini seperti penculikan yang legal?"

"Anuu—" Jihoon memberanikan diri bicara. "Sebenarnya tim kami sedang kekurangan dokter bedah. Akibat bencana gempa kemarin dan banyaknya korban di lokasi pembangunan bandara, sebagian anggota tim medis drop karena kelelahan. Dokter Kim juga sedang hamil, jadi—"

Jimin memandang Jihoon yang tidak menyelesaikan kalimatnya karena segan, namun wanita itu tahu kelanjutannya tanpa harus bertanya.

"Aku diminta ke sana untuk meringankan tugas Kim Seokjin sebagai ketua sekaligus merangkap menjadi dokter bedah tambahan sebelum tim sukarelawan yang baru terbentuk dan dikirim untuk membantu kalian."

Jihoon menunduk lalu mengangguk pelan.

"Dan apa kau tidak keberatan dikirim ke sini sebagai tumbal?" tanya Jimin membuat Jihoon mendongak dengan cepat.

"Tum...tumbal?" ulangnya terkejut.

Jimin mengangguk, menyisir poni rambut coklatnya ke belakang dengan jari tangan. "Kau ke sini tidak hanya untuk memberiku ini," wanita itu menunjuk berkas laporan. "Tapi juga untuk membujukku supaya mau ikut denganmu kembali ke Urk. Kalau aku tidak mau dan kau pulang sendirian, kau akan menjadi satu-satunya orang yang disalahkan dan mungkin pihak militer akan menuntutmu supaya melepaskan gelarmu sebagai dokter dengan alasan kau tidak bisa melakukan tugas dengan baik. Kau mungkin orang sipil dan tidak bisa disidang oleh pengadilan militer, tapi sudah ada kesepakatan antara pihak militer dan tim medis jadi mau bagaimana pun gerakanmu, kau tetap kena." Jimin memperlihatkan stempel militer yang bersisian dengan tanda tangan Seokjin di blangko.

Jihoon terdiam sejenak. Wajahnya menegang. Tatapan matanya bergetar. Jimin menduga, otak gadis itu pasti sedang bekerja sekarang, berputar dan mengolah dengan cepat semua informasi yang barusan dia dengar, dicocokkan serta disambungkan dengan logika maupun keinginannya, mencoba mencari jalan pemecahan terbaik, dan beberapa saat setelah membisu, Jihoon mendongak, menatap mata Jimin dengan sorot tegas.

"Kalau Dokter tidak bersedia ikut denganku ke Urk, aku tidak akan kembali ke sana. Aku tidak akan pulang tanpa anda."

"Dan kau akan membiarkan teman-temanmu mati kelelahan di sana?" tanya Jimin.

Jihoon menggeleng cepat-cepat. "Aku diberi waktu tiga hari untuk melakukan tugas ini. Jadi masih tersisa banyak kesempatan untuk membujuk anda."

Jimin menyeringai tipis. "Kau lupa kau ada dimana? Korea. Seoul. Ini rumahmu. Tidakkah kau ingin pergi mengunjungi keluargamu daripada membujukku? Kau tidak tahu kapan kau bisa kembali kemari hidup-hidup untuk melihat mereka."

Permukaan bening mata coklat Jihoon bergetar sesaat, keraguan menyapanya namun dengan tegas dia kembali bicara. "Aku kemari untuk menjalankan tugas, bukan untuk liburan bertemu keluarga maupun yang lainnya. Aku tidak akan kemana-mana."

Jimin diam, hanya memperhatikan Jihoon yang juga menatapnya—dan tanpa dia ketahui sedang meremas kuat tepi celana pendek yang dia kenakan.—Keheningan menyeruak di dalam ruangan berbau obat tersebut. Setelah dua menit lamanya, Jimin tersenyum hingga kedua matanya menghilang terlipat ke dalam lengkungan bulan sabit yang cantik.

"Tegas, keras kepala, dan nekat. Kau akan menjadi asisten yang bisa sangat membantuku," ujar Jimin memunculkan tanda tanya di atas kepala Jihoon.

Hah? Asisten?

Jimin mengambil selembar kertas dengan paragraf panjang dan memiliki tanda tangan Seokjin di bagian bawahnya. Ditunjukkannya surat itu di depan mata Jihoon.

"Unnie memilihmu untuk menjadi asistenku saat bekerja di Urk nanti. Dia bilang dia berani bertaruh karaktermu akan cocok denganku dan sepanjang aku mengenal Seokjin Unnie, dia tidak pernah salah menilai orang." Jimin mengakhiri kalimatnya dengan senyuman. "Maaf sudah membuatmu ketakutan. Aku harus mengetes dulu orang yang akan berkolaborasi denganku nanti."

Jihoon membuang napas panjang seolah beban berat puluhan ton ikut terlepas bersama udara yang dia keluarkan. Mata gadis itu jelas-jelas sudah berkaca-kaca dan ketika dia menyebut nama Jimin, rengekan kecil yang terdengar.

"Dokter sangat keterlaluan..."

"Aigoo, maafkan aku. Maaf~" Jimin tertawa sambil mengusap singkat sebelah pipi halus Jihoon. "Apa aku benar-benar sudah menakutimu, eoh?" tanyanya.

"Tapi kau lulus tesku. Bergembiralah, jangan menangis," hibur dokter muda tersebut sembari meraih pulpen dari tempat alat tulisnya dan mulai mengisi blangko tanpa pikir panjang.

"Aku harus menyerahkan laporan ini ke pimpinan rumah sakit dan berdiskusi sebentar soal dokter yang akan menggantikanku selama bertugas nanti. Aku mungkin agak lama, jadi kau bisa berjalan-jalan selagi menungguku."

"T-tidak perlu. Aku akan menunggu di rumah sakit," tolak Jihoon. "Aku sudah lama tidak melihat rumah sakit modern seperti di Seoul. Aku ingin menikmati suasananya."

"Kh—" Jimin berdecak tidak percaya. "Kau aneh," desisnya yang hanya menuai senyuman dari Jihoon.

-o-

Matahari sudah terbenam ketika Jimin menemukan sosok Jihoon sedang bercanda dengan seorang balita anak salah satu pembesuk pasien di lobi rumah sakit. Gadis itu langsung berpamitan dan melambaikan tangan pada si bocah begitu mendengar namanya dipanggil. Bahkan ketika sudah berada di dekat Jimin, Jihoon masih sempat tertawa memuji aegyo yang dilakukan balita tadi.

"Kau suka anak kecil?" tanya Jimin dengan senyuman lembut menggantung di bibirnya. Wajahnya nampak lelah berbeda dengan sebelum dia berpisah dengan Jihoon tadi, namun senyuman serta sorot lembut matanya masih sama.

"Ne," Jihoon mengangguk. "Apa meeting-nya berjalan lancar?"

"Menurutmu bagaimana?" balas Jimin. "Aku punya lumayan banyak pasien dan jadwal operasiku sangat padat. Kepala rumah sakit marah-marah bahkan sampai mau menelpon ke markas militer. Tapi aku bilang kalau sudah ada stempel-nya, berarti pihak militer Korea pun juga sudah tahu jadi akan percuma saja. Dia masih memaki-maki tidak karuan meski akhirnya menanda-tangani semua berkas dan setuju untuk mencarikan dokter penggantiku di sini. Ah, aku sangat lelah. telingaku pekak mendengar kata-kata kotornya berjam-jam," keluh wanita itu sambil memijat dan memukul pelan pundaknya.

"Maaf..." cicit Jihoon merasa bersalah. Tugasnya hanya menjemput Jimin namun entah kenapa dia merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang dialami dokter tersebut hanya untuk bisa ikut dengannya.

Jimin tersenyum, menepuk akrab punggung Jihoon. "Ini bukan salahmu, jangan menangis," ujarnya yang dengan cepat menyambung, "Kau menginap dimana?"

"Aku belum mencari hotel," jawab Jihoon seketika membuat Jimin membulatkan mata. "Dari bandara aku langsung datang kemari."

Jimin memperhatikan penampilan Jihoon yang hanya memakai sepatu kets, celana pendek dengan kaos oversize ditutupi jaket, dan tas ransel. Terlalu simpel untuk orang yang bepergian ke luar negeri.

"Kopermu?" tanya Jimin lagi.

Jihoon menggelengkan kepala. "Tiga hari bukan waktu yang lama. Jadi aku hanya membawa ini." Gadis itu memamerkan ransel di punggungnya.

"Apa kau gila?" cetus Jimin tanpa sadar. "Bagaimana mungkin seorang wanita hanya membawa satu ransel? Mana sepatumu? High heels-mu? Kotak make up? Catok rambut? Aksesoris?"

Jihoon tersenyum kecut dan menggelengkan kepala.

"Aigoo~" Jimin memegang belakang lehernya yang mendadak terasa tegang. "Kau perempuan atau laki-laki, eoh!?"

"Hehe," Jihoon nyengir.

-o-

"Dokter terlihat sangat tahu tentang militer dan langsung menyetujui perekrutan ini. Apa anda pernah menjadi sukarelawan sebelumnya?" celetuk Jihoon dalam perjalanan tenang di dalam mobil menuju rumah Jimin.

"Eum," wanita itu mengiyakan. "Aku pernah bergabung dengan tim medis Urk dua tahun lalu."

Mata kecil Jihoon membulat. "Benarkah!? Di Urk!? Dengan Dokter Kim!?"

Jimin mengangguk. "Waktu itu kapten timnya masih Kim Namjoon—"

"Ne, ne, sekarang juga masih Kapten Kim!" sahut Jihoon penuh semangat, kembali Jimin tersenyum.

"Tapi itu sudah sangat lama. Aku yakin ada banyak hal yang sudah berubah tanpa aku tahu."

"Aku juga tidak tahu banyak soal para tentara. Tapi saat aku masuk, ada banyak tentara baru yang direkrut dan beberapa tentara senior dipindah-tugaskan. Aku dengar ada di antara mereka yang naik pangkat, tapi ada juga yang keluar. Di tim medis tidak ada banyak perubahan, hanya ada beberapa dokter yang pulang ke Korea untuk berganti posisi dengan kami, anak baru," cerita Jihoon.

"Kau suka ditugaskan ke Urk?" tanya Jimin sambil menyalakan lampu sign kanan.

"Ne!" gadis mungil itu mengangguk antusias, membuat poni rambutnya bergerak lembut di depan keningnya.

"Baguslah," Jimin tersenyum, dengan terampil terus menggerakkan stir mobil di tangannya sementara kakinya memainkan pedal gas dan rem.

"...ada banyak tentara baru yang direkrut dan beberapa tentara senior dipindah-tugaskan. Aku dengar di antara mereka ada yang naik pangkat, tapi ada juga yang keluar..."

Mata Jimin meredup, pun dengan kilau cincin yang terpasang di jari manis tangannya.

-next to MONOLOG-


*Lee Jihoon : Woozi Seventeen

Waktu sadar udah bikin ini aja -_-
Makanya Myka gak suka nonton drama, imajinasiku terlalu berbahaya -_-

Mau ikut-ikutan BTS ada Prolog, Monolog, sama Epilog
Wkwkwk

Enaknya mau lanjut gimana yaaa?
Ayo dong ikutan berimajinasi biar greget XD