A/N : WARNING WARNING! CHANBAEK MOMENTS AREA! Banyak typo? Maaf banget karena author gak sempat baca ulang T^T maklum, bisa punya wkatu luang buat ngetik sebanyak ini aja udah bersyukur banget ^^ Happy read~
SUENO
HUJAN SALJU. Kris tampak berjalan di trotoar dengan tangan kanannya yang memegang payung transparan dan kepalanya yang tampak menoleh kesana kemari mancari sosok Baekhyun yang sangat ia khawatirkan. Jujur saja, ini sangat dingin menusuk karena cuaca yang begitu dingin dengan angin malam yang berhembus di tambah lagi hujan salju sedang deras-derasnya.
"Kemana sih anak itu?"
Kris dari tadi mengatakan hal yang sama dengan sesekali mengumpat saat ia berkali-kali menelpon Baekhyun namun tidak ada jawaban sama sekali—lebih tepatnya tidak aktif.
Setelah sekian lama mencari, Kris kemudian kembali menuju rumah. Ia menguncupkan payungnya sembari membuka pintu rumah dan menepuk-nepuk jaket dinginnya yang sedikit terkena butiran salju.
"Kau menemukannya?"kedatangan Kris di sambut baik oleh pertanyaan khawatir Luhan.
"Aku tidak menemukannya. Apartement kekasihnya tampak kosong, aku sudah berkali-kali menelponnya namun tidak ada jawaban."
"Ponselnya tidak aktif."tambah Kris sebelum Luhan kembali menyuruhnya untuk menelpon Baekhyun lagi. Luhan tampak menghela nafas. Ia sangat khawatir, cuaca tampak tidak baik. Mereka berdua kemudian berjalan memasuki lebih dalam rumah mereka dan mendapatkan Sehun yang tengah sibuk berkutat dengan telepon rumah mereka.
"Eoh, ya, baiklah hyung. Tolong jaga Baekhyun hyung ya? kami sangat mengkhawatirkannya disini."kata Sehun pada telepon tersebut. Setelah itu, Sehun tampak mengangguk-angguk mendengarkan orang yang berada di seberang sana.
"Ah ah, ya hyung. Aku titip Baekhyun hyung. Sekali lagi, maaf jika kami merepotkan mu. Annyeong."ujar Sehun ramah dan menutup teleponnya. Ia kemudian berbalik dan bertemu pandang dengan Kris dan Luhan.
"Ia berada di rumah Chanyeol hyung saat ini."
Title : Sueno
Words : 4350
Author : Yesbyunbaekhee12
Chanyeol telah kembali dengan handuk hangat dan beberapa helai pakaian di ruang tengah apartementnya dan dapat ia lihat bahwa Baekhyun masih duduk menangis di sofa ruangan itu. Ia menghela nafas lalu duduk di samping pemuda mungil itu. Ia kemudian menggerakan jemari kokohnya untuk menghapus tetesan air mata yang terus saja mengalir seperti sudah tidak bisa berhenti lagi. Yah~ Baekhyun terlalu sakit untuk menghentikan tangisnya. Ia tidak pernah ingin seperti ini. Tidak pernah.
"Baekie-ya... tenanglah."Chanyeol kembali mencoba untuk menenangkan Baekhyun, LAGI. Ayolah, Chanyeol terlalu mencintai Baekhyun untuk melihat orang yang dicintai ini menangis sesegukan hingga hidung menjadi merah, mata menjadi bengkak dan nafas yang menjadi sesak. Terlihat begitu rapuh, miris dan sakit. Berlebihan memang, tapi mau bagaimana lagi jika inilah yang tengah terjadi.
Baekhyun masih menangis menunduk dalam merenungi semua yang telah terjadi. Semua tampak sia-sia. Chanyeol masih menatap miris pada sosok Baekhyun di sampingnya. Chanyeol sudah tidak tahan. Lelaki bertubuh tinggi menjulang itu menarik Baekhyun kedalam pelukannya. Mendekapnya dengan erat, mencium pucuk kepala itu berkali-kali dengan begitu lembut. Mengusap punggungnya untuk menenangkan lelaki mungil itu.
Perlahan tapi pasti, Chanyeol merasakan Baekhyun membalas pelukannya dan semakin dalam menanamkan wajah cantiknya di dada Chanyeol—berusaha meredam tangis yang tak kunjung reda.
Cukup lama dengan posisi seperti itu hingga dapat Chanyeol rasakan bahwa bahu Baekhyun tidak lagi begetar seperti tadi. Nafasnya juga terlihat sudah cukup stabil dan suara tangis yang sudah menghilang beberapa detik yang lalu.
Tubuh Baekhyun bergerak membuat jarak di antara dirinya dan Chanyeol. Ia mendongak dan dapat Chanyeol lihat bahwa mata itu tambah begitu redup dan lemah.
"Chanyeol-ah..."
Good. Suara itu terdengar begitu lemah dan itu kembali mengiris hati Chanyeol tipis-tipis. Chanyeol berusaha menahan air matanya. Sekali lagi, ia benci melihat orang yang d cintainya menangis kesakitan walaupun itu bukan karena dirinya.
"Wae? Ada apa?"Chanyeol kembali berusaha terlihat normal.
"A—Aku—"Chanyeol kembali mendekap Baekhyun dan membuat wajah itu kembali tertanam di dadanya.
"Tenanglah Baek, tenanglah. Aku disini. Kau dan semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah."Baekhyun kembali menangis dan melingkarkan lengannya di tubuh Chanyeol kembali. Tidak menyadari bahwa wajah Chanyeol yang berada di atas kepalanya juga tampak basah dengan mata terpejam erat.
Tidak menyadari pula bahwa lelaki tinggi sudah terlalu cinta padanya
22.45 p.m.—
Chanyeol baru saja keluar dari kamar mandi dan ia dapat melihat Baekhyun terlelap di ranjang miliknya dengan sangat nyenyak. Chanyeol tersenyum saat melihat wajah damai itu benar-benar tampak tenang. Chanyeol hendak meraih bantal dan selimut. Ia akan tidur di sofa sebelum tindakan Baekhyun membuatnya begitu terkejut.
Baekhyun mendadak tak tenang dan gelisah sampai meneteskan air mata lagi lalu tiga detik kemudian membuka matanya dengan perlahan dan basah akan air mata.
Mata Baekhyun kemudian melihat ke arah Chanyeol dengan tatapan yang begitu lemah.
"Chanyeol-ah..."panggilnya dengan suara serak.
"Aku... takut. Jangan tinggalkan aku sendirian."
Maka setelah kalimat itu. Chanyeol meletakan kembali bantal dan selimutnya di tempat semula. Ia kemudian berbaring menghadap Baekhyun dan membawa lelaki mungil itu kedalam pelukannya. Mereka tampak serasi dengan piyama dengan motif sama dan warna berbeda—Baekhyun memakai milik Chanyeol. Ia seperti di telan baju—kepala Baekhyun kini baring dengan lengan berotot Chanyeol sebagai bantal dengan salah satu tangannya yang ia letakan di pinggang Chanyeol.
Ia menyukai ini. Begitu hangat dan aman.
06. 27 a.m.—
Baekhyun baru saja bangun dari tidurnya dan ia melihat kesana dan kemari bahwa Chanyeol tidak ada di sampingnya. Kemana lelaki raksasa itu? Baekhyun keluar dari area ranjang empuk Chanyeol. Membuka pintu kamar dan disuguhi oleh bunyi penggorengan dan aroma yang memanjakan hidung mancungnya. Baekhyun tersenyum. Chanyeol pasti tengah memasak di dapur.
Ia berjalan sedikit lebih dalam dan tadaa~
Chanyeol dengan piyamanya, rambut yang di ikat dibagian puncak kepalanya—ah tampak begitu tampan dan cute—dan celemeknya yang menempel di tubuh tegapnya. Baekhyun tersenyum lembut. Seperti suami idaman saja. Eh? Suami? Baekhyun dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya! Ia merasa bodoh pagi-pagi berpikir seperti itu. Otaknya benar-benar tak beres.
Chanyeol terkejut dan hampir saja melepaskan wajannya. Bagaimana tidak? Saat ini, Baekhyun tengah meletakan dagu indahnya di bahu kanan Chanyeol dengan bibir yang ter-pout-kan. Suplemen Chanyeol di pagi hari—keimutan Baekhyun.
"Bagaimana dengan tidur mu?"tanya Chanyeol.
"Seperti biasa. Terasa seperti tidak tidur kau tahu? Tapi, aku sudah merasa sangat nyaman sekarang. Kau membuatnya terasa lebih baik."
Chanyeol kembali tersenyum menanggapi perkataan Baekhyun barusan.
"Kau memasak telur dadar? Terlihat sangat menggiurkan dengan segala bahan yang kau gunakan."
"Sejak kapan kau pandai memasak seperti ini?"tanya Baekhyun sebagai tambahan.
"Kakak perempuan ku seorang koki di salah satu restoran di Busan. Aku belajar banyak dari 'nya."
Baekhyun melepaskan dagunya dari pundak Chanyeol lalu beranjak menuju tempat minuman. "Aku akan membuatkan susu cokelat hangat untuk kita."ujar Baekhyun dan meraih 2 buah mug untuknya dan Chanyeol. Yang satunya berwarna putih dan yang satunya berwarna pink. Bukankah Baekhyun seorang Sone? Tidak salahkan jika ia memilih warna fandomnya?
Setelah selesai dan meletakan dua gelas cokelat hangat di atas meja makan. Baekhyun kembali membantu Chanyeol menyiapkan keperluan sarapan. Kini, mereka tengah duduk berhadapan menikmati sarapan buatan Chanyeol yang membuat Baekhyun benar-benar termanjakan lidahnya.
"Apa hari ini kita akan kuliah?"tanya Baekhyun.
Chanyeol mengangguk dan menelan makanannya. "Tentu saja, tidak ada alasan untuk tidak kuliah ku rasa."
"Bagaimana jika kita jalan-jalan?"Baekhyun memberi usulan dan Chanyeol menggeleng. "Tidak bisa, kau lupa kita harus mengambil nilai hari ini?"tanya Chanyeol sebagai sanggahan.
"Ayolah Chanyeol~ kita jalan-jalan keliling Seoul."rayu Baekhyun dengan jurus 1 juta aegyo miliknya yang biasanya mampu melawan dan melumpuhkan Chanyeol.
"Jangan ber-aegyo. Itu tidak membantu."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan menambah kadar puppy eyes nya.
Chanyeol menyeringai dan mendapat ide.
"Jika dalam 10 detik kau tidak menghentikan itu. Maka siap-siap saja bibir mu ku jilati."
Maka Baekhyun langsung terdiam kaku dan beku di tempat dan berhasil membuat Chanyeol terkekeh geli di tempat. "Cepat habiskan sarapan mu. Aku akan mengantar mu pulang dan kita akan berangkat kuliah bersama."
SUENO
Mereka pulang lebih awal hari ini. Dosen sakit hingga tidak bisa mengajar di kelas dan kebetulan itu adalah jam terakhir. Sehingga Baekhyun dan Chanyeol mengambil keputusan untuk pergi kampus lebih awal. Soal beberapa minggu lalu, Baekhyun tampak dengan mudah melupakan segalanya. Berbeda dengan Chanyeol, ia sudah sangat panas ingin menghajar Suho. Tapi mengingat statusnya yang hanya seorang sahabat membuatnya untuk mengurung niat itu dengan aman.
"Kemana kita sore ini?"tanya Baekhyun. Ya, mereka bingung akan kemana sore ini. Sebenarnya, mereka selalu pergi berjalan-jalan di sore hari berdua dengan tangan Baekhyun yang berada di gandengan Chanyeol masih tanpa status yang istimewa.
"Bagaimana jika kita ke cafe Buble Tea dulu? Aku ingin rasa coklat saat ini."Chanyeol mulai memberi usul. Baekhyun tampak berpikir, sudah sangat lama ia tidak meneguk minuman itu. Baekhyun mengangguk riang. Ia lalu menggenggam tangan Chanyeol dan menariknya. Tindakan itu terhenti saat ia melihat tangan kiri Chanyeol yang membawa sebuah payung biru tua.
Ia mengangkat alisnya tidak mengerti. Langit tampak indah seperti biasa.
"Kau membawa payung?"
Chanyeol melirik payung di tangannya.
"Kenapa?"respon Chanyeol.
"Langit tampak cerah. Tidak ada yang salah. Aku juga tidak melewatkan siaran ramalan cuaca dan semua tampak baik-baik saja."
Chanyeol tersenyum dan membawa Baekhyun yang memandangnya dengan heran menuju toko Buble Tea langganan mereka bertiga Sehun. Disinilah mereka sekarang, duduk di meja nomor 9 di cafe itu. Memesan 2 gelas Buble Tea dan 2 potong cake cokelat.
"Apa yang kau lihat?"tanya Baekhyun saat Chanyeol terus menatap ke arahnya tanpa celah sama sekali. "Memperhatikan mu."jawab Chanyeol dengan santai lalu meminum sedikit Buble Tea-nya. "Kau bahkan lebih manis dari pada Buble Tea milik ku."puji Chanyeol.
Baekhyun terkekeh geli. "Kenapa? Kau menyukai ku?"
"Uhuk! Uhuk!"Chanyeol langsung tersedak minumannya sendiri saat mendengar penuturan Baekhyun. Lelaki mungil itu hanya terkekeh saat melihat tingkah lelaki tinggi yang tengah menepuk-menepuk dadanya.
"Lain kali, minumlah dengan lebih hati-hati."pesan Baekhyun dan Chanyeol hanya tertawa kaku saat mendapat pesan seperti itu. Sedangkan Baekhyun, ia hanya tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi rapinya.
Puas bertukar candaan dan menikmati menu yang telah di pesan. Saatnya Baekhyun dan Chanyeol harus kembali kerumah masing-masing. Keduanya tengah berjalan menuju pintu keluar setelah membayar pesanan di counter tadi. Baekhyun lebih dulu keluar dan tidak menyadari bahwa langit tampak gelap dengan gemuruh guntur jauh di atas sana. Chanyeol yang melihat itu dengan segera membuka payung besarnya dan berjalan di sisi Baekhyun dengan payung yang menaungi keduanya.
Baekhyun terheran-heran melihat semua ini.
"Chanyeol, kau tidak tahu bahwa orang-orang memperhatikan kita? Ini bahkan tidak hujan sama sekali."
Chanyeol tersenyum dan cuek terhadap orang-orang yang melihat mereka. "Berhentilah dulu."ujar Chanyeol dan mereka berdua pun berhenti berjalan. Baekhyun melihat sekeliling.
"Ad—"Baekhyun menghentikan pertanyaannya saat mendengar gemuruh dan melihat beberapa tetes air yang jatuh di jalan. Chanyeol merangkulnya lalu menarik tubuh mungil Baekhyun untuk merapat.
Tes
Tes tes
Tes tes tes tes tes tes
Baekhyun terkejut saat melihat orang-orang berlarian menghindari hujan. Hujan musim dingin mulai turun dengan deras dan indah.
"Kau lihat? Turun hujan kan?"
Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol saat pemuda tinggi itu berbicara. Baekhyun tersenyum kagum. Ini terasa begitu indah. Ia menyukainya. Chanyeol mengeratkan rangkulannya. "Ayo kita pulang."ajak Chanyeol dengan senyumannya yang begitu tampan.
21.09 p.m.—
Baekhyun tengah duduk di ranjangnya saat ini dengan sebuah album foto berjudul The Best di pangkuannya. Ia tengah berbinar-binar melihat setiap foto di album itu. Foto-foto dimana ia sedang berjalan-jalan dengan Chanyeol, Sehun, Kris dan Luhan. beberapa foto mereka berdua saja. Saat mereka tengah bermain salju, ski, membuat orang-orangan sawah, perang bola salju dan yang lainnya. Jemarinya terhenti dan jantungnya memompa lebih cepat saat melihat sebuah foto dimana ia tengah berada di pangkuan Chanyeol dan kepalanya menyandari di dada Chanyeol dan dagu Chanyeol yang terlelat manis di puncak kepalanya.
"Manis..."Baekhyun mengusap foto itu dengan lembut.
Ia ingat saat ini. Waktu itu, ia tengah menikmati liburan weekendnyabersama Sehun dan Chanyeol di salah satu tempat wisata salju di Seoul. Baekhyun terus memandangi foto itu hingga ia menyadari betapa tampannya wajah Chanyeol—Baekhyun terlambat, aku juga tahu kalau Chanyeol sangat tampan—Baekhyun merasa nyaman saat melihat senyum tampan itu. Tapi tunggu dulu? Baekhyun merasa nyaman melihat ketampanan itu? Apa berarti kau menyukainya Baek? Baekhyun merona dan matanya membulat saat itu juga. Ia kemudian menutup album itu dan meletaknya di laci meja nakas.
Ia kemudian berlari menuju kamar mandi. Buang air kecil, menggosok gigi, mencuci kaki dan tangan lalu membasuh buka. Rona merahnya masih terdapat disana. Ia mendadak terkejut dan mengumpat saat ponsel di sakunya berdering. Ia meraih benda itu dan membaca pesan masuk dari nama kontak Yoda—ia baru mengubahnya sekitar 47 menit yang lalu, itu panggilan Chanyeol khusus darinya dan tidak ada yang boleh menggunakannya selain dirinya.
From : Nae Yoda
Selamat tidur. Mimpi indah, atau kau bisa mempimpikan ku. hehehe. Jjaljayo~
Baekhyun hendak membalas pesan itu sebelum ia sadar saat melihat nama kontak tersebut.
NAE YODA
Sejak kapan nama itu berubah menjadi seperti ini? Nae Yoda? Cih, terdengar posesif sekali! Siapa orang bodoh yang merubah kontak ini dari Chanyeol ke Nae Yoda?—Baekhyun bertanya jengkel dalam hatinya.
Hah~ ayolah, aku tengah berbaik hati, kalian mau menjawab pertanyaan bodoh itu?
SUENO
Baekhyun tengah bersiap-siap saat ini. Ia berniat kerumah Chanyeol sore ini. Entah kenapa ia merindukan Chanyeol dan suara beratnya itu. Ah, biasa saja kok—Baekhyun membantah dalam hatinya.
Ia turun dari lantai 2 rumahnya dan ia menemukan Luhan disana. Ia kemudian pamit pada Luhan dan mengatakan bahwa ia akan pulang sebelum makan malam. Luhan menyarankannya untuk membawa payung tapi Baekhyun mengabaikannya. Ia sudah tidak sabar bertemu sahabat raksasanya itu.
Baekhyun hendak berbelok menuju arah rumah Chanyeol sebelum ia mendapatkan sebuah panggilan dari seseorang. Ia tekejut saat itu juga. Orang yang sedikit ia rindukan tengah menelponnya saat ini. Orang yang ia rindukan hembusan nafasnya, sentuhannya, suaranya dan wujudnya.
"Halo Suho hyung..."Baekhyun sedikit munafik jika ia tidak menjawab panggilan itu. Sedikit banyak, ia masih merindukan Suho. Suho adalah cinta pertamanya, ia sudah lama menyukai dan mengagumi pria berbadan tegap itu.
"Baiklah hyung..."
Setelah itu, Baekhyun kembali memutar badan menuju sebuah cafe Buble Tea langganannya dan Chanyeol. Dan disinilah ia sekarang, di sebuah meja bernomor 9—meja yang sama.
Kalian tahu? Suho meminta Baekhyun untuk kembali padanya. Ia terus membujuk Baekhyun semampunya dan berkali-kali meminta maaf. Bahkan kini, ia menggenggam kedua tangan Baekhyun dengan lembut—sentuhan yang sangat Baekhyun rindukan.
Mereka cukup lama berbincang-bincang hingga waktu menunjukan bahwa hari sudah petang.
Baekhyun menarik tangannya dari genggaman Suho yang begitu lembut memabukan.
"Maaf hyung. Aku tak bisa."
"Kenapa? Apa karena lelaki tinggi itu?"
Baekhyun tersenyum maklum dan menggeleng pelan sebagai tanda bahwa perkiraan Suho salah.
"Ada dia ataupun tidak. Semua sama—"
"—bukan aku tak bisa menerima mu atau memaafkan mu. Aku memaafkan mu, lagi pula, aku juga salah dalam hubungan itu. Aku terlalu mengharapkan mu di saat cinta mu benar-benar tak bisa lepas dari sosok lain. Jadi, aku minta maaf juga soal itu dan mari kita lakukan perubahan baru. Kita tidak bisa mengulang masa lalu yang sudah berlalu cukup jauh. Ku rasa kau mengerti hyung."
Pandangan Suho meredup dan dengan berat hati ia mencoba menerima keputusan Baekhyun.
"Aku rasa semua sudah jelas. Bisakah aku pulang? Aku sudah berjanji menampakan batang hidung sebelum makan malam di rumah."
Suho menghela nafasnya pelan dan mengangguk pada Baekhyun. Baekhyun bangkit dengan perlahan dan sedikit membungkuk pada Suho dan Suho juga membalasnya hingga Baekhyun keluar dan pergi menjauh dari area cafe.
Setelah itu, Suho pergi membayar harga pesanan dan pergi dari area cafe dengan arah yang berlawanan dengan Baekhyun.
Saat ini, Baekhyun tengah melepas sepatunya dan memasuki area rumah dan ikut membantu ibunya meyiapkan makan malam. "Tadi Chanyeol mencari mu."ujar Sehun yang tengah menunggu menu makan malam. Baekhyun menoleh pada Sehun dan kembali menyiapkan menu makan malam di atas meja.
Setelah bertemu dengan Suho. Moodnya terasa benar-benar hilang entah kenapa. Ia menjadi sedikit tidak bersemangat karena hal itu. Ia akan bercerita pada Chanyeol besok.
SUENO
Baekhyun kembali menjalani aktifitasnya seperti biasa. Kuliah kuliah dan kuliah. Sebagai tambahan, Baekhyun tidak melihat Chanyeol selama 3 hari ini. Kemana anak itu pun Baekhyun tidak tahu. Ia tidak membalas pesan Baekhyun dan bahkan tidak bisa di hubungi ponselnya. Baekhyun bingung, kenapa Chanyeol tidak bisa di hubungi? Hati Baekhyun merasa gelisah dan takut. Apa Chanyeol sakit? Tapi pasti akan ada pemberitahuan oleh Chanyeol tentunya. Kemana anak itu? Baekhyun benar-benar gelisah. Entah kenapa, Baekhyun takut Chanyeol meninggalkannya.
Baekhyun bahkan tidak bisa fokus pada pelajarannya saat ini, ia terus melamunkan Chanyeol. Teman yang duduk di dekatnya—Mi Young—beberapa kali menegurnya dengan menoel tangan Baekhyun dengan pulpen saat dosen melihat ke arah Baekhyun tengah melamunkan seorang Chanyeol.
Jam pulang datang dan Baekhyun melihat bahwa Taeyeon menghampirinya.
"Baek, bisa ku titip ini pada mu? Ini buku Chanyeol."Baekhyun langsung merasa tidak nyaman saat tahu bahwa buku Chanyeol berada pada Taeyeon.
'Kenapa buku Chanyeol ada di tempat gadis ini?'batin Baekhyun merasa tidak suka dengan momen ini. Dan kenapa kau memasang wajah judes saat mendengar bahwa Taeyeon meminjam buku Chanyeol? Kenapa kau tidak suka? Apa kau cemburu hah?
Taeyeon yang merasakan hawa tak nyaman pun langsung mengerti tentang suasana ini.
"Eum Baek, jangan salah paham dulu. Aku 4 hari yang lalu jatuh sakit dan tertinggal banyak materi. Jadi, aku meminjam buku catatan Chanyeol karena milik Chanyeol yang paling lengkap. Jadi, bisa aku titip pada mu?"jelas Taeyeon dengan hati-hati. Baekhyun kemudian mengetahui situasi ini dan dengan cepat membuat raut wajahnya kembali manis.
"Oh tentu, tentu. Sore ini aku akan kerumahnya."
"Terima kasih Baekhyun-ah. Oh iya, aku ingin memberi tahu sesuatu pada mu. 3 hari yang lalu—"
Itu saat hari dimana Baekhyun bertemu Suho di cafe Buble tea.
"Aku dan Miyoung melihat Chanyeol tengah menyaksikan diri mu dan Suho Sunbae tengah berpegangan tangan. Ia... terlihat sangat terluka sekali."
Baekhyun tertegun dan matanya membulat lalu menatap wajah cantik Taeyeon dengan wajah yang seolah berkata "Sungguh?"
"Aku tidak tahu sebenarnya ada apa di antara kalian bertiga. Tapi... aku dan Mi Young yakin dia terluka saat melihat itu di depan matanya. Kami mengawasinya bahkan hingga ia sampai di rumahnya. Takut-takut saja jika dia melakukan hal bodoh. Ia berjalan dengan tatapan sendu di bawah hujan deras saat itu."cerita Taeyeon panjang lebar.
Baekhyun mengalihkan pandangannya, ia merasa sangat khawatir saat mendengar cerita Taeyeon. Apa mungkin, Chanyeol memiliki perasaan yang sama dengan...nya? Eh, dengan siapa? Baekhyun dengan cepat memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan—mencoba tenang—ia berpikir, apa karena itu Chanyeol memilih tidak menampakan diri selama 3 hari ini?
Taeyeon memegang pundak sempit Baekhyun.
"Berbicaralah dengannya. Aku akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Annyeong~"
Taeyeon berhenti di depan papan tulis yang terpampang jelas di muka kelas lalu membalikan badan ke arah Baekhyun lagi. "Aku sering tidak sengaja melihat tatapan penuh artinya pada mu selama ini Baek. Itu sangat tulus."
DEG
DEG
DEG
Jantung Baekhyun berhasil memompa dengan kecepatan tak normal saat ini. Apa Chanyeol merasakan hal yang sama dengannya? Rasa yang berhasil membuat Baekhyun susah tidur selama beberapa minggu ini karena memikirkan kehangatan orang itu?
Baekhyun melihat Taeyeon sudah pergi. Ia sangat berterima kasih pada Taeyeon yang berhasil menyadarkannya dari ketidak pekaan yang ia miliki selama ini. Baekhyun dengan cepat mengemas tasnya lalu berjalan cepat keluar dari area kampus.
Ia berlari di bawah salju yang lebat, tidak memperdulikan angin dingin menusuk yang menerpa kulit putih susunya. Dan sialnya lagi, Baekhyun tertinggal sebuah bus dan jika ia menunggu, itu masih sekitar 30 menit lagi. Ah, tidak ada kata membuang waktu, ia harus bergerak cepat dan lebih cepat untuk sampai ke rumah Chanyeol. Ia takut, sangat takut! Ia takut dengan ke adaan Chanyeol! Ia takut! Takut bahwa Chanyeol akan meninggalkannya setelah lama menunggu.
Baekhyun terus berlari menelusuri trotoar dengan air mata yang menetes di atas permukaan pipinya dan aliran itu berhasil membuat orang-orang menatapnya heran dan bingung. Hujan salju semakin deras turun dan kembali hinggap di beberapa tempat pakaiannya.
Kini, Baekhyun tengah didalam sebuah lift gedung apartement tempat Chanyeol. Ia merasa bahwa lift ini benar-benar lama—entah itu lift yang lama atau karena Baekhyun yang terlalu tidak sabaran.
Ting—
Suara yang Baekhyun tunggu dari tadi. Ia melesat keluar membuat seorang anak umur 7 tahun menatapnya heran dengan es krim yang menempel di hidungnya karena kaget melihat kemampuan lari Baekhyun.
"Apakah dia atlet lari di sekolahnya?"tanya anak itu.
Baekhyun meraih kenop pintu Chanyeol dan tentu saja itu di kunci. Baekhyun terus menekan bel dan tak ada respon sama sekali. Baekhyun kalang kabut. Kenapa Chanyeol lama sekali?—tanya Baekhyun dalam hatinya yang seperti akan di timpa Tsunami.
Baekhyun memasukan password apartement Chanyeol dengan kalang kabut dan itu gagal. Seperti inilah Baekhyun, kalau sudah panik, pasti bakalan menjadi bodoh seketika. Ia menghentikan usahanya. Ia kemudian memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya dengan santai beberapa kali dengan posisi seperti orang yang ingin bermeditasi.
Ia membuka matanya dan memasukan sandi dengan perlahan dan CLEK—
Baekhyun membuka pintu dan masuk kedalam ruangan dengan cahaya yang begitu minum. Baekhyun menghidupkan beberapa lampu dan semua tampak kosong dan hampa. Dimana Chanyeol?
Baekhyun dengan cepat menggeledah apartement itu, masa bodoh kalau ini tidak sopan. Ia terlalu gelisah. Dapur tidak ada, dan ia paling takut membuka kamar mandi dan disana tidak ada apa-apa. Ia kemudian menuju kamar Chanyeol. Ia meraih kenop pintu dengan tangan bergetar. Takut-takut saja saat melihat hal yang tidak pernah ingin ia lihat!
Ia membuka itu dengan perlahan. Semua gelap.
"Chanyeol..."ia memanggil pria itu dengan nada bergetar dan semua hampa. Ia menghidupkan lampu dan semua benar-benar hampa. Baekhyun menangis, dimana Chanyeol? Ia kemana? Kenapa dia menghilang seperti ini? ia menemukan sebuah kertas di atas tempat tidur. Ia meraihnya dan membacanya—
Jika aku bisa memiliki waktu sebanyak 360.000 hari, maka akan aku gunakan hari-hari itu untuk menunggu mu. Menunggu mu untuk siap menyadari diriku. Menunggu mu, Baekhyun.
Baekhyun menangis di tempat. Air mata sudah seperti aliran Sungai Amazon yang deras.
Ia mendengar suara pintu utama yang di tutup dari luar. Baekhyun bangun dari posisi duduknya tadi lalu beranjak keluar dari kamar Chanyeol dan berdiri mematung disebuah titik.
"Chanyeol..."
Chanyeol disana, ia berdiri dengan tegap dengan tatapan kaget dengan sebuah tas di tangan kirinya. Ia kemudian mendekati Baekhyun yang menangis dan saat itu juga Baekhyun menyatukan bibirnya dan bibir Chanyeol. Mereka berciuman dengan dalam dan panas disana. Tangan Chanyeol yang melingkari di pinggang Baekhyun dan tangan Baekhyun yang mengalungi tangan Chanyeol.
Mereka melepas ciumannya. Kini tangan Baekhyun turun dan menyentuh dada Chanyeol.
"Jangan tinggalkan aku."ujar Baekhyun sambil menangis.
"Tidak pernah. Aku hanya pulang ke Busan 3 hari karena ibu ku sakit. Maaf tidak memberi tahu mu, ponsel ku rusak karena basah terkena hujan tiga hari lalu."
Baekhyun langsung mengingat kejadian itu, kejadian yang di ceritakan Taeyeon.
"Mianhae..."lirih Baekhyun.
"Baek, kau tak seharusnya memin—hhmmpphh"
Baekhyun kembali menyerang bibir Chanyeol. Menempelkannya, melumatnya dan menjilatnya dan itu berhasil membuat Chanyeol bangkit. Mereka berciuman dengan tingkatan yang tinggi sembari bergerak menuju kamar Chanyeol. Dan disinilah mereka sekarang, berciuman di atas ranjang dengan Chanyeol yang menindih Baekhyun.
"Aku mencintai mu."Chanyeol memberikan pernyataan resminya dengan menatap dalam mata Baekhyun. Ada yang tahu bahwa atasan Chanyeol kini hanya sehelai T-shirt hitam saja?
Baekhyun mengangguk sembari tersenyum tulus.
"Apakah aku boleh menghapus jejak namja sebelumnya?"tanya Chanyeol dengan berani dan tiba-tiba saja Baekhyun kembali menyatukan bibir mereka. Baekhyun benar-benar nakal!
Chanyeol dengan kuat merobek kaos hitam miliknya dan membuangnya ke sembarang tempat dan tangannya kembali memanjakan tubuh Baekhyun. Baekhyun melihat tubuh seksi itu dan ia sangat terpesona akan hal itu.
Baekhyun memejamkan mata erat saat merasakan tangan Chanyeol mencoba menghapus jejak masa lalu di tubuh Baekhyun. Baekhyun masih memejamkan matanya hingga beberapa menit ia dapat merasakan bahwa sentuhan itu mulai menghilang dan hilang, suhu udara mulai berubah, jenis alas tidur yang ia rasakan mulai berbeda, ia dapat merasakan dari balik kelopak matanya yang menutup bahwa tempat ini semakin gelap. Ia tidak merasakan keberadaan Chanyeol sekarang. Semua benar-benar terasa berbeda, tempat yang ia tempati serasa berputar perlahan dan semakin cepat,
Semakin cepat, cepat dan cepat hingga perlahan mulai berhenti dan Baekhyun merasakan bahwa keringat dingin mengalir di wajahnya. Ia masih belum membuka mata. Setelah beberapa detik. Baekhyun mulai membuka matanya.
Ia mengedarkan pandangannya dan ia melihat bahwa ia tidak berada di tempat Chanyeol. Ruangan ini bukan kamar Chanyeol. Baekhyun menyingkapkan selimutnya dan ia masih menggunakan piyama birunya. Ia melirik ke arah gantungan baju dan ia mendapati seragam SMA-nya di gantung disana. Ia melihat ke arah jendela dan dapat dia lihat, langit sore musim panas dengan garis emas yang menembus jendela masuk ke kamarnya. Baekhyun menoleh ke kiri dan ia lihat Sehun tertidur di samping ranjangnya.
Bagaimana bisa dia disini? Baekhyun juga mendapatkan tangannya di imfus. Apa dia sakit?
"Sehun..."lirih Baekhyun dengan suara seraknya khas bangun tidur.
Sehun terbangun dan langsung membulatkan matanya saat melihat Baekhyun yang telah sadar dari tidurnya dari kemarin siang.
"Hyung! Kau sudah bangun?! Ah syukurlah~ aku kira aku akan kehilangan kakak ku lagi."ujar Sehun lalu memeluk Baekhyun dengan erat. Sehun menangis, ia takut kehilangan Baekhyun—kakak satu-satunya.
"Sehun... kenapa aku disini?"tanya Baekhyun bingung. Ia ingat bahwa beberapa menit lalu ia tengah bersama Chanyeol di kamar Chanyeol.
Sehun melepaskan pelukannya. "Aku kemarin menemukan mu di toilet SMA saat kita baru saja mengganti seragam olah raga dengan seragam belajar kemarin siang. Hyung, kau pingsan dari kemarin siang dan baru bangun sore ini."jelas Sehun panjang lebar.
"Aku pingsan?"tanya Baekhyun bingung dan Sehun mengangguk. Ah iya, ia ingat, ia mulai ingat. Ia pingsan di toilet. Dan sebelum ia pingsan, ia menyebutkan 'Suho hyung' dengan lirih. Setelah itu ia terbangun dan memulai kisahnya dengan Chanyeol dan yang lainnya. Tunggu, apa Baekhyun terbangun di alam mimpi?
"Dimana Chanyeol?"tanya Baekhyun dan itu berhasil membuat Sehun mengerutkan keningnya.
"Kita tidak pernah mengenal pria bernama Chanyeol kok hyung."jawab Sehun yakin.
Tunggu dulu, Baekhyun mulai mengerti suasana ini. Ia mulai menyadari semuanya. Ia tidak pernah memiliki kakak bernama Kris, tidak pernah bertemu Chanyeol, tidak pernah menjalin hubungan dengan Suho, dan kakaknya yang bernama Luhan sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu dan Baekhyun... masih seorang siswa SMA kelas 2. Jadi, Baekhyun tahu sekarang, dari awal kisah ini sampai saat ini ia hanya bermimpi... ia telah kembali kedunia nyata.
Baekhyun meneteskan air matanya tanpa sadar, ia bermimpi, ya ia bermimpi, mimpi yang terasa sangat nyata dan panjang ditengah pingsannya yang lama. Baekhyun terisak dan Sehun segera memeluknya dengan lembut.
"Luhan hyung..."lirihnya, karena mimpi itu, ia jadi merindukan mendiang kakaknya dan lelaki tak dikenal bernama Chanyeol di mimpinya.
Baekhyun menyadari, ia hanya bermimpi selama cerita ini. Orang Spanyol menyebut mimpi dengan SUENO.
TBC
Gimana nih Ching? Kalian ngerti gak dengan penjelasan di atas? Kalau kalian gak ngerti coba baca ulang deh ya ._. Kalau kalian masih gak ngerti juga, berarti akunya yang gak berhasil jelasin T^T kalau masih gak ngerti juga silahkan tanya di kotak review ya?
Dan seperti biasa, tolong berikan review ya? review yang bikin semangat, aku sempetin fast up date buat kalian karena FF ini udah lama banget gak fast up date. Review jusseyo~
Dan terima kasih buat review di chapter sebelumnya~ LOVE YOU~
See you on next up date~
