Warning : AU, OOC, semi PoV (huruf italic, tiap PoV kadang berbeda orang tiap chapternya, jadi jeli-jelilah menduga saat itu PoV milik siapa), kayak sinetron Indonesia(mungkin), kalau kagak malah makin kayak shoujo manga… =_=;; Tambah lagi, kekerasan. Hajar saja! *dibekep*. Tambahan, gaya penulisan sudah berubah dibanding dulu, jadi adanya perbedaan pendeskripsian harap dimaklumi, ane juga berusaha semirip mungkin #ngowos. Tambahan, ini chapter terpanjang di Ame ga Furu, maafkan ane yang gak bisa mengatur per-chapter-nya.
Disclaimer : Sampai tipografi(?) ane putusin pun, Digimon tetap punyanya Akiyoshi Hongo-sensei
Fiction Rated : T, no-lemon. Lemon gak hadir, lagi absen. Katanya mau berobat di RSJ dekat kos-kosannya (itu mah kos-kosan ane) *ditabokin rame-rame*
Genre : Romance/ Friendship/ Drama/ Hurt/ Comfort/ Humor, etc… Dipilih-dipilih, seribu tiga~
Chara : TaiTo, no-BL, ane gak mungkin bikin BL-an… *ngelirik tembok* Ane apapun jadi, ding, yuri aja bikin… *ditabok*. Yah, sesuain tema keenam ini aja.
..
..
Dipersembahkan kepada Sanich Iyonni, Sekar. Nasri, ardhan winchester, Ryudou Ai, yang nagih Ame ga Furu mulu dan noiha, ane kangen tulisanmu. Balik, gih.
..
..
"Apa yang kau lakukan?"
Geram menyelimuti jejaka itu. Tangannya mengepal menaikkan kerah kemeja pemuda di depannya. Tatapan penuh amarah hanya tertuju pada laki-laki itu. Segala perasaan melebur, menyatu dalam satu wadah. Terus meluap dengan perbedaan suhu. Dikipasi pandangan syahdu tak melawan. Bekas membiru melekat pada epitel wajahnya.
Di luar sana, tanah telah bertranfromasi menjadi lumpur. Air yang tak terserap menggenang di atasnya, menadahi isakan langit yang semakin kencang. Halilintar terus memukul agar cairan itu tak terhenti. Kodok melompat keluar masuk kolam sembarii menyanyikan lagunya. Hujan mencoba merubah suasana hatinya dengan percik air dan menciptakan buih di dalamnya. Seekor kappa mungkin turut muncul mengguyur tempurung kepala.
Odaiba hari ini tengah bersedih. Angkasa masih saja menghukum semesta.
.
.
.
Kapankah hujan akan berakhir?
.
.
.
/sixth/
Ame ga Furu
.ira.
.
.
.
Isak masih membasuh kaos pemuda itu. Cengkraman gadis itu membuatnya semakin lusuh. Dalam keheningan, mereka tetap bertahan pada posisinya. Jemari lelaki itu tak sekalipun menjamah sang gadis. Ia hanya bisa dirasakannya, secara tidak batin. Ia tidak tahu kenapa gadis itu menangis. Tak mengerti kenapa gadis itu terluka. Dan tak tahu apa yang akan ia lakukan setelahnya. Diam, menunggu. Itulah kebijakannya.
"Kau—tak apa-apa, Sora?"
Reaksi tak kunjung timbul. Gadis itu tak menjawab.
"Bisa—ceritakan apa yang terjadi?"
Sora terdiam. Tak satu kata pun terucap dari bibirnya. Perih itu mencekat pita suaranya. Ia menggigit bibirnya. Ia tahu ini sebenarnya bukanlah masalah besar hingga perlu melelerkan air mata. Tapi, dia adalah dia. Dia adalah dirinya sendiri yang tak menginginkan hal itu sebelum saatnya. Merasakan debaran, perasaan gembira dan semua diakhiri dengan kecupan manis. Itu impiannya.
Namun, nasib berkata sebaliknya. Hidup tak pernah selancar apapun yang dibayangkan, selalu memutar balik apa yang diharapkan.
"Aku… Yamato bilang… dia menyukaiku,"ujarnya dalam isak.
Kini pisau menggores sayatan anyar. Alis pemuda itu mengkerut. Perih menggenggam hatinya.
"Dan dia…"
Dalam ketidaksadaran, ia menunggu hujaman luka.
"Menciumku…"
Kata yang meluncur mencengkramerat. Konsumsi oksigen seakan tak terpenuhi untuk berputar dalam paru-paru. Jalinan huruf serempak menusuk hati. Api amarah membakar perasaannya.
Mengerti, ia paham maksud dari uraian kata yang keluar dari sela bibir gadis itu. Tahu apa kesalahan sahabatnya. Tahu apa alasan gadis itu menitikkan air matanya.
"Yamato… me-memaksamu?" tanya pemuda itu ragu. Ia takut mengetahui kenyataan yang ada. Butiran cair masih mengalir sembari terus menyayat luka.
"Itu… aku… "
Hati pemuda itu tak mampu menampung hasrat.
"Katakan, Sora! Apa dia memaksamu?" Tanya pemuda itu sedikit berteriak. Tangannya menggoncang awak gadis itu. Kepala sang gadis tertunduk dalam-dalam. Pita suaranya berat untuk mengucapkan kenyataan.
"Aku… tak menghindar… Itu terlalu tiba-tiba..," jawab Sora dengan terus terisak, "Tapi, dia tak memaksaku… Aku hanya… kaget… Itu bukan salahnya…"
Genggaman pemuda di bahu sang gadis mengerat. Mengencang hingga menimbulkan erangan. Amarah menyelimuti awak.
"Sa-sakit, Taichi…"
Pemuda itu mengendurkan cengkramannya, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu gadis itu.
"Gomen, Sora…"
Dahinya masih mengkerut. Pikirannya terlalu penat,"Pulanglah, Sora. Tenangkan dirimu di rumah."
Taichi melepas genggaman, ia mengangkat tengkoraknya. Melangkah meninggalkan Sora sendiri di lorong itu. Ia menggerakkan kakinya dan berbelok, menghilang dari hadapan gadis itu.
.
.
.
Hei, apa yang barusan kau lakukan?
Otaknya mengalirkan darah, berputar, menganalisis dirinya sendiri kenapa syaraf tubuhnya tak mampu ia control. Penat memukul keras memikirkan hati yang diburu dosa itu. Mengiris luka dan menginfeksi orang yang ia cintai. Pemuda itu memijit pelan dahinya dan mengistirahatkan bagian tulang ekornya di kursi. Tingkahnya tadi seakan meremas hati yang mulai menyalahkan diri. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa dia sampai melanggar janji itu.
"Di antara kita, tak ada yang boleh membuatnya menangis."
Kali ini, akulah yang salah.
BRAAKK!
Daun pintu berdebam keras memukul dinding. Kemudian engah terdengar dari balik penutup ruangan. Sosok laki-laki yang dikenalnya sebagai teman sedari mereka masih bersekolah di bangku dasar, rivalnya, teman berkelahi juga sahabat baiknya. Paras pemuda itu menegang, mengkerutkan alis, lengkung amarah dan entah mengapa tampak memerah—dibakar amarah.
Jejaka itu menghampiri laki-laki yang bergeming dalam duduknya. Jemari pemuda itu mengepal, memendam seluruh perasaannya. Diangkatnya perlahan dalam detik-detik pemutaran ulang, satu kali menembus pertahanan pipi laki-laki yang terduduk.
BUK!
Laki-laki itu terjungkal dari bangkunya. Kini umpatan meluncur halus berasal dari sela bibir pemuda yang memukul.
"Kenapa kau lakukan itu pada Sora? Hei, Yamato?"
Yamato tak acuh. Kepalanya berpaling dari tatapan pemuda itu. Biru lebam mencoret lapisan epitel pemuda tersungkur itu. Mulutnya tak membuka, terkunci seakan dilumuri pelekat.
"Jawab, Yamato!" Pemuda itu mendekat ke tubuh sahabatnya. Bagian cokelat matanya melirik ke bawah. Jelas sekali ia terlihat ingin memukul laki-laki yang terjatuh di depannya. Namun ia sadar, ada hal lain yang lebih penting daripada menghajar mati orang itu.
"Kurasa... kau sudah tahu apa yang kulakukan..,"balas Yamato sambil menahan sakit kulit parasnya. Ia merasa bersalah, tapi di sisi lain ia tak tahan dengan hubungan mereka bertiga, terlalu ambigu jika hanya diartikan sebagai persahabatan tiga bocah dari sekolah dasar yang sama. Taichi mencengkram kemeja Yamato, didekatkan dirinya dan memaki temannya itu.
"Tidakkah kau pikirkan perasaan Sora, hah?"
"Aku melakukannya tanpa sadar!"
Sadar, mungkin. Aku tak yakin nafsuku mampu dibendung…
Jejaka berambut cokelat itu memukul kembali sahabatnya. Amarah telah tersulut, berkoar menembus batas. Pesona tarian hujan makin mencekam, menarik perlahan dalam lorong menyesatkan. Roda setan masih berputar, memperlihatkan drama menyesakkan antara dua insan.
"Kenapa kau tak menahan diri? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak membuatnya menangis? Kenapa kau mengingkarinya?"seru jejaka yang tak mengharapkan bulir air mata mengalir di wajah sahabatnya, orang yang dikasihinya.
BUK!
Sang sahabat menghantam balas Taichi, lebih keras daripada usaha si pemain sepak bola itu. Segumpal darah merembes dari pori-pori ujung bibir. Tatapan jengkel tak memudar, terus terpatri di antara kedua pemuda.
"Siapa yang tahan ketika orang yang kau cintai menggumamkan nama laki-laki lain? Dan dia terus berada di sampingnya tanpa tahu perasaan orang mencintainya?"
Yamato berseru, memuntahkan ganjalan yang menyumbat akal sehatnya. Taichi membisu. Sang pemusik melanjutkan usahanya membuang bongkahan pengacau pikirannya.
"Memangnya kau tahan hah?"
Tak ada jawaban.
Hanya baku hantam menari untuk menghias sunyi.
Gemuruh saling bersahutan, dendang sang awan setia menemani bersama butir-butir air yang berkorban. Menembus lapis udara, meremukkan diri pada datar tanah yang tak rata. Koar gerombolan katak tak terdengar, teredam debum sang hujan.
Senja dihias pilu, angkasa masih meratap.
Sang gadis menatap mega, bernyanyi seirama aliran hujan.
.
.
.
Fajar menarik selubungnya, mentari mendaki bukit-bukit waktu dengan pasti. Tapi semangat juang sang nur terhalang gumpalan air kelabu. Langit tak mau menghapus duka, terus menyimpan luka. Denting memilukan tak berakhir, terus berulang tanpa henti. Senandung perih mengalun, perlahan meluluhlantakkan daratan.
Angkasa bermuram durja, memunculkan hawa malas beraktivitas. Ruang kecil itu hanya tampak beberapa orang. Sibuk akan pekerjaan masing-masing, entah berkhayal atau justru menyalin tugas rumah.
"Ohayou!"
Suara teriakan memecah keheningan. Serempak kepala-kepala yang peduli pada dirinya sendiri melengos ke arah sumber suara. Pemuda ceria yang babak belur.
"Ohayou, Taichi! Hei, apa yang terjadi? Kau berkelahi lagi dengan Kanakubo-senpai lagi?"sapa teman sekelasnya yang menyadari perubahan drastis di wajah laki-laki berambut besar itu. Yang ditanya hanya tertawa, gerak bibirnya tak menjawab pertanyaan.
Di satu sudut ruangan, lebam di wajah si laki-laki terpopuler tersembunyi di balik lembaran buku. Tak ada yang menyadari atau memang ditutupi. Kisah pilu antara dua sahabat terukir dalam paras keduanya. Mereka diam, berbicara dalam sunyi. Sepatah kata tak sekalipun meluncur di antaranya.
Sora hanya menatap. Dalam kalbunya ia meratap, haruskah seperti ini?
Di sela rintih sang mega, setetes air mata mengalir deras.
.
.
.
"Baiklah, kita akhiri pelajaran hari ini. Sampai besok anak-anak."
Suara gaduh mulai terdengar, perpaduan dari bunyi tumpukan buku yang melesat ke dalam tas juga keluhan-keluhan yang menguar di udara. Derak kursi-kursi tua menambah riuh suasana dalam kelas. Satu per satu meninggalkan ruang belajar mereka. Lelaki berambut pirang yang terluka meraih tasnya dan melangkah cepat. Ia tak ingin berlama-lama melihat rivalnya, cukup selama jam belajar mereka tadi.
Sedangkan lawannya masih dalam lamunan, terlalu enggan bangkit menyambut akhir sekolah. Ia lebih memilih menanti hingga jembatan warna tampak di angkasa, yang rintiknya tak jua mereda. Gadis pemain tenis itu mengikuti gerakan si pemusik yang semakin menjauh dari sudut matanya. Kemudian beralih pada sosok pemuda yang tak melakukan gerakan berarti. Ia tak tahu, apa yang harus dilakukannya. Batinnya berselubung bimbang, degup jantungnya menari bagai kesetanan. Remaja itu bangkit, beranjak menuju meja si pemuda.
"Ta-Taichi."
Laki-laki bermarga Yagami itu menoleh, memperlihatkan beku pada parasnya. Hanya terdiam, lidahnya terlalu kelu untuk mengumbar suasana hati. Tak ada hal yang ingin ia ungkapkan untuk pujaan hatinya.
"Apa yang kalian lakukan kemarin?"
Taichi masih bisu, ia tak ingin mendengar apapun tentang kemarin. Tatapannya dibelokkan lagi pada lamunannya.
"Kau bertengkar dengan Yamato kan?"selidik Sora, yang dipastikan adalah pernyataan. Lelaki itu mengerutkan dahi. Pandangannya tak berpindah dari awang-awang.
"Kalau kau tahu, kenapa tanya?"
Perempuan muda tersebut diam. Kata-kata yang telah terangkai rapi tiba-tiba melayang hilang. Pikirannya terlalu ragu menanyakan kebenaran. Otaknya penat hanya untuk satu masalah di antara ketiganya.
"Kenapa kalian bisa seperti ini?"
Pertengkaran hal sepele sudah berlalu di masa mereka masih bocah ingusan yang tak tahu apa-apa tentang dunia. Telah lama dua sahabat itu saling melancarkan pukulan. Hari itu telah usai, semenjak dunia digital tak terbuka lagi untuk mereka.
Sang pemuda termenung. Matanya terbius gemuruh halilintar. Bulir-bulir bening belum mengakhiri lara, terus mengulang lagu sendu.
"Jawab Taichi! Jangan bilang ini karena aku!"
Sora tak mengharapkan ini, persahabatan yang remuk karenanya. Taichi mengubah kembali arah pandangnya, menatap dalam gadis sulung Takenouchi itu. Senyap mengurung sepasang manusia, memenjarakannya dalam sunyi.
"Ya, karena kau."
Sepatah kata memecah sepi.
Di balik jendela, pertunjukan tak kunjung usai.
"Kurasa kau tak punya alasan untuk itu."
Memulai pentas tahap berikutnya. Deru angin memimpin orchestra. Cumulus nimbus bersenandung bagai tokoh utama. Paduan suara sang kodok meramaikan keadaan.
"Tentu saja ada!"
Ruangan itu kembali senyap.
Namun alam masih mengiringi kehidupan.
"Taichi?"
Denting yang timbul membuncah, menyuarakan yang tak seharusnya.
"Aku melakukannya karena…"
Satu bulir memantul, menggemakan bunyi yang selaras.
"Aku suka kamu, Sora."
.
.
.
/sixth - end/
/next chapter - last sin: gula/
Playlist : Brielle(Sky Sailing)& kazami dori(Depapepe)
Review Reply (pokoknya yang review chapter 5, entah udah ane bales atau belum):
Takano Masamune : taulaaah, Yamato ngapain. Tuh di atas udah dijelasin. Ending maaah… ane gak tau mau yang mana meski cinta TaiOra /dibantai
Pandacchi : err… sepertinya deskripsi yang ini penurunan lagi /kabur. Rating MA=mbahnya rating M. Umm… masalah ending masih ambigu~ /dibacok
Ryudou Ai : dan setelah bertahun-tahun ane apdet nih /kabur
ardhan winchester : lagi-lagi… ane gak tahu menahu soal ending, masih ambigu. Soal typo, emang dasarnya males jadi nilai tipografi ane selalu di ujung tanduk /salah. Deskripsi ente lebih keren deh perasaan… QAQ
Sanich Iyonni : jujur, ane bahkan gak terbayang lagu Yovie&Nuno itu(karena ane menenggelamkan diri ke kegalauan demi kelangsungan ohokapdetanohok fic ini). Dan ane yakin kalau ane bikin novel yang baca pasti pusing dan langsung ngorok di tempat /plak. Untuk bagian dialog dan deskripsi yang timpang sudah ane ganti, hanya mulai chapter ini :DD. Sora POV-nya di chapter besok yaa xDD
Summer Memory : ente gak salah kok, memang seven deadly sin-nya kurang nusuk(emang dasarnya gak cocok bikin yang beginian). Deskripsi ane ambruladul kok, bahkan kadang ane gak ngerti nulis apaan /plak. Masalah monolog dan ke-OOC-an Taichi itu… ane angkat tangan. Karena ini karya lama dan ane baru nonton rampung kemaren, jadi maklumi ya? /garukgarukkakikucing. Ane demen biologi, jadi nyempilin istilah biologi di fic itu asik banget xDD
Yimaana07 : Thanks 8DD. Ane gak yakin versi anime-nya bakal sama kayaknya fic ini, soalnya gombalan ane soal hujan terlalu ngawur, haha. (dan versi anime-nya mungkin bisa lebih galau lagi)(lebih gak yakin lagi bakal ada yang mau bikin anime-nya /plak)
rafael : selamat membaca B))
hmm : anda kejam sekali mereviewnya #plak. Lama karena hiatus dan gak ada lagi deadline yang menghampiri~ *siul-siul dengan tampang innocent*
Sudah berapa tahun ya gak apdet? Entah di fesbuk, tuiter dan infant selalu aja diteror buat lanjut fanfic ini. Apa karena gak bisa ditebak endingnya meski ane demen TaiOra? Beginilah orang yang suka mempermainkan pembacanya #dibantai
Oh, ya. Ane menemukan dua hal tentang masa depan anak-anak terpilih. Satu, Sora masih diragukan benar-benar menikah dengan Yamato. Dalam ending Digimon Adventure 2 gak ada keterangan bahwa mereka telah menikah(meski kalau lihat anak-anaknya… /langsungdespaired). Dua, di movie Digimon yang kedua(Bokura no War Game), Sora itu terlihat suka sama Taichi. Hints-nya banyak yaaaaa (ane demen movie yang ini, Koushiro-nya bego, apalagi Taichi #ngakakgulingguling). Jadi ada kemungkinan TaiOra pernah jadi pasangan #seenaknya(padahal udah liat fanvid yang menjelaskan kalau SoraTo pada akhirnya /makindespaired). Eh ya, Sora manggil Taichi langsung nama sedangkan yang lain-lain pakai embel-embel xDD (tapi cuma di Digimon Adventure doang /sekarat). Sudah ah, masih dinanti tugas yang terlantar #tewas
Yosh! Chapter 6 selesai berarti tinggal satu chapter dan satu epilog yang akan menentukan siapakah yang akan dipilih Sora. Ayo! Voting pasangan yang kalian dukung di ending Ame ga Furu lewat review! 8))
Chapter terakhir dan epilog akan di-post kalau ane sudah rampung ngetik semua, biar jedanya gak terlalu lama.
Dan silakan tunggu sejenak sembari ngeteh di pojok kamar.
PS: Ajib banget, dari page terakhir langsung jadi page pertama
PSS: Ikut polling IFA 2011 ya semua #promo
.
.
.
~Zerou
.39.
