MY SECRET OF IDENTITY

By : Krystalaster27

Chapter 7

Mansion itu terlihat berbeda, semuanya terlihat rapi seolah tak ada satupun manusia yang menjamah setiap perabotan. Seingat Kyuhyun, remote, majalah dan koran pasti berserakan di atas meja, tanda jika ruang santai keluarga habis digunakan. Namun kali ini tidak ada sedikitpun yang berserakan.

"Kenapa sepi?" Akhirnya pertanyaan tersebut terlontar juga. Maknae Kim mengernyit saat tubuhnya di angkat dari kursi roda, rasa pening menghujam kepalanya dengan kuat. Tangan kirinya membawa botol infus, sedangkan tangan kanannya diam di atas perut.

Choi Siwon menapaki tangga dengan perlahan. Kedua lengannya mengangkat tubuh Kyuhyun dengan mudah, inilah resikonya jika ia rajin berolahraga sehingga angkat-mengangkat selalu diserahkan padanya. Kakak ipar dengan seenaknya menyuruh mengantar Kyuhyun pulang, tentu saja dokter Kim Jongwoon takkan kuat mengendong putra bungsunya yang bagi Siwon sangatlah ringan. Gengsi tinggi menjadikan dokter bermarga Kim itu menggunakan jadwal praktik sebagai senjata mengelak. Akhirnya setelah ia tidur selama 5 jam, pada pukul 2 siang ini ia harus mengantar Kyuhyun.

"Hyungdeulmu sedang keluar. Mungkin membeli sesuatu." Jawab Siwon asal, baginya kedua keponakannya yang aneh itu terlalu membingungkan untuk dimengerti.

"Ohh..." Kyuhyun hanya ber-oh ria, kini ia sudah berada di atas ranjang king size miliknya yang empuk. Dalam hati ia kagum juga dengan kekuatan pamannya yang bisa membawanya hingga ke lantai dua.

Tangan dokter muda itu bergerak dengan cekatan, menyulap kamar keponakannya menjadi ruang rawat VVIP. Maknae Kim hanya menatap malas Choi appanya yang hilir mudik dari lantai satu ke kamarnya, mengusung tiang infus, dll.

"Choi appa, bisa ambilkan laptop dan ponsel Kyu?" Seru Kyuhyun saat melihat pamannya hampir melenggang pergi dengan jas dokter yang tadi ditanggalkannya.

Dahi Siwon mengernyit heran, permintaan Kyuhyun terlalu tabu untuk didengar. "Untuk apa?" Ia berjalan mendekat, memasang sebuah kain panjang untuk mengikat tubuh Kyuhyun dengan ranjang.

"Emm, Kyu ingin mencari info tentang donor jantung dari daddy. Sekalian mengecek e-mail dan membuka SNS." Hanya itu yang mampu Kyuhyun ucapkan, ia harus pandai mencari alasan agar pamannya tidak curiga.

Bodohnya seorang Choi Siwon adalah terlalu mempercayai orang lain. "Ini. Hati-hati dengan tanganmu!" Sukses ia ditipu oleh keponakannya sendiri. Meletakkan benda yang diminta tepat di pangkuan keponakannya.

Maknae Kim mengukir senyum tulusnya. Keuntungan jika ia sedang bersama pamannya adalah mudah mendapat informasi juga menipu. "Ne. Gomawo Choi appa."

Tangan dokter Choi mengusak rambut Kyuhyun dengan gemas, membenahi letak bantal agar tubuh keponakannya nyaman hingga 4 jam kedepan saat kakak iparnya pulang. "Hemm... kalau begitu Choi appa pergi dulu ya, jangan kemana-mana hingga appamu pulang."

"Ne." Kepala maknae Kim mengangguk, netranya mengamati punggung pamannya hingga menghilang di balik pintu.

Sendiri lagi. Kyuhyun sedikit mendengus melihat bentangan kain yang menahan bagian perutnya agar badannya tetap diranjang. Sepertinya Choi appanya tau jika ia bisa saja berjalan-jalan saat tak diawasi. Meski itu belumlah mungkin dilakukannya karena kedua kakinya masih lemas. Ah, satu lagi. Penampilannya sekarang tidak jauh berbeda dengan pasien RSJ yang diikat agar tidak kabur.

Jari-jari tangan kiri maknae Kim bergerak cepat di atas keyboard, keuntungan dirinya yang bisa menggunakan kedua tangan dengan kelihaian yang sama.

'Prototype software analist & Virus.' Upgrade and option.

Option:

Jenis virus komputer: Level satu, tak terdeteksi, dan penghancuran file secara cepat.

Anti virus: aoximylion by Marcus Kim.

Waktu pencemaran: 2 menit 24 detik.

Algoritma: -

Keyword: -

Jalur: black chat aplication by Aiden Lee

Sertifikat: Individuale by Proffesor KimHyun.K

Expired: 2 jam setelah pencemaran.

Sasaran: File Eksper, Software analist, dan File X.

Code software: -

"Tinggal membuat algoritma dan merampungkan pengaturan yang lain lalu prototipe ini siap dikembangkan. Step by step membuat software yang serupa sangatlah susah. Hah... Jika empat bulan kedepan aku masih belum mendapatkan donor, maka terpaksa penyerbuan akan aku lakukan sendiri. Yang penting, software penganalisis zat kimia terlebih dulu rampung lalu menyusupkannya lewat aplikasi chat milik Aiden.

Jika aku berhasil mengetahui jenis serta karakteristik makhluk mikro itu, aku baru akan menanam Chip penghancur berisi virus di server inti ITODA saat penyerbuan." Kyuhyun menutup laptopnya dan meletakkan benda itu di samping kirinya, menguap lebar lalu memejamkan mata.

"Kematian bukanlah hal yang perlu ditakutkan lagi. Satu nyawa untuk triliunan penduduk lebih baik daripada membiarkan monster uang meraup keuntungan." Gumaman itu adalah kalimat pengantar tidurnya. Kalimat yang dulunya paling ia hindari karena pikiran labilnya yang takut akan sebuah kematian.

.

.

.

.

.

Krystalster27

Pukul 6 sore. Tuan Kim berjalan menuju dapur untuk menemui kepala pelayan yang sudah berusia setengah abad lebih. Wanita yang juga dulu mengasuhnya saat bayi, kemudian membantunya lagi mengasuh kedua putranya setelah mendiang istri meninggal.

"Jung ahjumah. Bisakah anda bekerja penuh tanpa pulang?" Mohon Jongwoon pada kepala pelayannya.

Keriput di dahi Jung ahjumah bertambah kentara saat mendengar sesuatu yang tak biasanya. "Ada apa tuan?"

"Kyuhyun sakit dan aku membutuhkan seseorang untuk mengawasi serta mengurusi makanannya."

"Baiklah tuan," berhenti sejenak "Maaf tuan Kim. Kalau saya boleh tau, tuan muda Kyuhyun sakit apa?" Lanjut Jung ahjumah. Tuan mudanya memang terlihat lebih pucat beberapa hari terakhir.

Tangan kanan tuan Kim mengusap wajahnya dengan kasar, tatapan dokter Kim terlihat sangat frustasi. "Maaf ahjumah, saya tak bisa mengatakannya. Yang pasti penyakitnya Kyuhyun cukup parah."

Senyuman menenangkan terukir di wajah Jung ahjumah, ia mengangguk. "Saya akan berusaha semaksimal mungkin."

Dokter Kim mengangsurkan sebuah kertas putih yang terlipat dengan banyak tulisan di dalamnya. "Ini daftar bahan makanan yang tidak boleh dikonsumsinya. Tolong olah sayur sedemikian rupa karena Kyuhyun tidak suka sayur. Usahakan warna maupun rasanya tersamarkan dengan bahan makanan lain."

Kemampuan memasak Jung ahjumah tak boleh diremehkan, sekuat apapun Kim Kyuhyun membuat sebuah kesepakatan konyol untuk tidak menelan sayuran. Ia takkan mengabulkannya, sayuran sangatlah bagus untuk dikonsumsi bagi orang sakit. Jadi biarlah kebohongan berupa sayuran hijau tetap menyusup di dalam makanan si maknae.

.

.

.

.

.

My Secret of Identity

Langkah kaki si sulung terlihat bersemangat menuju dapur, ia baru saja pulang dari kampus setelah menemui profesor siang ini. "Ahjumah membuat bubur?" Tanyanya pada wanita yang sudah bekerja puluhan tahun pada keluarga Kim.

"Ne." Jawab Jung ahjumah, tangannya dengan cekatan menaruh beberapa potongan lauk di atas bubur yang tersaji di dalam mangkuk.

Kening Heechul berkerut samar, Kibum yang menyukai bubur belum pulang. "Untuk siapa?"

"Tuan muda Kyuhyun." Jawab Jung ahjumah, kini kepala pelayan itu sedang menyiapkan segelas susu.

Jung ahjumah menyiapkan nampan lalu meletakkan bubur serta susu di atasnya. "Tuan muda Heechul ingin dimasakkan apa?"

"Bulgogi."

"Tuan muda tunggu sebentar ne. Saya harus mengantarkan ini terlebih dahulu." Telunjuk Jung ahjumah mengarah pada nampan yang sudah ditata dengan makanan.

Bibir Heechul sedikit mendumal tanpa suara. "Suruh saja dia kemari." Celetuknya dengan nada kesal.

Jung ahjumah yang melihat kekesalan tuan mudanya tak ayal tertawa. "Hahahaha, aigoo... Tuan muda pasti sangat lapar sehingga berkata seperti ini. Tapi tuan muda Kyuhyun sedang sakit, tubuhnya juga masih diikat oleh tuan besar agar tuan muda Kyuhyun tidak turun dari ranjang tanpa seijin tuan besar. Mana mungkin saya bisa menyuruh tuan muda Kyuhyun untuk turun sedangkan tangannya saja masih diinfus." Penjelasan panjang itu membuat tubuh Heechul mematung untuk beberapa saat.

Kepala pelayan di mansion Kim rupanya mengira jika tuan mudanya sedang bergurau. Bukan hal yang aneh lagi jika si sulung bisa berkata judes dan kasar. Semua maid sudah faham dengan sikap putra sulung dokter Kim.

'Dia sakit. Baguslah!' Suara tersebut berasal dari hati si sulung.

.

.

.

.

.

Krystalaster27

Sore hari, waktu disaat banyak manusia berbondong-bondong menuju peraduan. Melepaskan penat serta merilekskan pikiran.

'Kim Kyuhyun, jelaskan semuanya!' Lengkingan suara tuntutan berhasil memekakkan telinga Kyuhyun. Ia akhirnya memilih untuk menjauhkan ponsel dan mengloudspeaker.

"Im saem. Saya sungguh menyesal. Tapi semuanya tidak memungkinkan lagi untuk saya."

'Apa Jongwoon sunbae tau?'

"Tidak. Appa tidak tau tentang hal tersebut." Jawab Kyuhyun.

'Sungguh, kau bahkan jauh berada di atasku. Hal ini tentu saja tak boleh disepelekan. Sedari awal masuk ke sekolah, aku tau jika kau bukan murid biasa.'

Pipi tirus Kyuhyun digembungkan, ia tidak setuju dengan pendapat gurunya. "Ayolah Im saum. Saya sudah bersedia memberitahukan rahasia tersebut. Kenapa sekarang saem seperti ini? Jadilah guru yang mendukung muridnya saem!"

'Ralat ucapanmu Kim! Aku bukan lagi gurumu sejak appamu yang bodoh itu menyerahkan surat keterangan berhentinya dirimu dari SSHS.' Penjelasan tersebut membuat Kyuhyun mendengus, memang benar jika ia sudah resmi keluar dari sekolah. Menyisakan tanda tanya banyak murid yang penasaran terhadap alasan pemutusan sekolahnya.

"Saem. Bisa bawa Minsoo ke rumah?" Lebih baik mengutarakan keinginannya segera, sembari mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih aman sebelum ia tersudutkan.

'Untuk apa?' Tanya Im saem dengan penasaran.

"Saya punya hadiah untuk Minsoo."

'Bilang saja kau ingin bermain dengan bayiku Kim!' Setahunya Kyuhyun memang dekat dengan bayinya yang sudah menolongnya dari aksi pembully-an Kim Kibum.

Kyuhyun terkekeh kecil, ia mengangguk-anggukan kepala meski sadar jika gurunya takkan melihat. "Saem memang tau segalanya."

'Baiklah, aku akan berkunjung besok dengan membawa Minsoo. Keuntungan bagimu karena dirawat di rumah, bayiku tidak akan tertular penyakit dari koridor Kim Hospital.'

"Kamsahamnida saem."

'Eoh, cheonma.'

Percakapan dua arah itu berakhir. Kyuhyun merebahkan dirinya di ranjang, meletakkan ponselnya ke atas nakas, lalu membenahi selimut. Terlelap adalah ide yang bagus saat ini, merangkai strategi di dalam kesunyian yang bersifat pribadi. Terlelap sejenak tak ada salahnya sembari menunggu kedatangan appa juga pamannya.

.

.

.

.

.

My Secret of Identity

Waktu berlalu dengan cepat, kondisi Kyuhyun telah membaik sehingga infus akhirnya dilepaskan. Meskipun kondisinya sudah membaik, namun tubuh maknae Kim tetaplah lemas jika digunakan untuk beraktivitas. Berjalan ke luar kamar saja sudah membuatnya kepayahan.

Cklek

Pintu bercat putih itu terbuka, si empunya kamar masih bergeming di atas ranjangnya dengan posisi duduk bersandar.

Sepasang netra Kyuhyun menjelajah setiap lekuk kamar bernuansa klasik milik Kibum, fokusnya berhenti pada siluet tubuh yang masih tenggelam dalam kegiatannya. Meski ragu, Kyuhyun perlahan berjalan mendekat, menyisakan jarak lima langkah. "Bum hyung..." Panggilnya dengan lirih.

Tukk

Suara ketukan itu berasal dari sebuah benda kecil yang diletakkan Kyuhyun ke atas nakas, tepat di bawah lampu tidur yang belum dinyalakan.

"Aku sadar jika hyung membenciku. Tapi, bisakah hyung membantuku?" Netra maknae Kim memandang sendu, Kibum tidak menggubris keberadaannya sama sekali.

"Jika suatu hari nanti terjadi sesuatu yang buruk padaku. Di dalam flashdisk ini ada file penting. File yang mempertaruhkan keselamatan seluruh manusia. Mungkin hyung menganggap omonganku adalah lelucon, namun aku tidak berbohong sedikitpun. File ini hanyalah draft kasarnya, di laptopku juga baru terselesaikan 40%. Hyung bisa mempelajari file ini terlebih dulu jika berminat. Bisakah hyung menyelesaikan ini?" Tanya Kyuhyun sekali lagi.

Tarikan nafas putus asa Kyuhyun terdengar jelas ditengah suasana hening yang mendominasi. "Hyung... Mengenai kematian eomma. Aku sungguh menyesal. Apapun akan aku lakukan untuk menebus masa lalu meski harus mempertaruhkan nyawaku. Inilah alasannya aku menyerahkan file ini kepadamu Bum hyung... Karena hanya dirimu yang bisa mengutak-atik software juga merubahnya sedemikian rupa. Aku juga sadar kalau hyung iri denganku, appa memberiku segala peralatan komputer paling mahal dengan kualitas terbaik. Namun appa hanya memberikan hyung sebuah laptop dan printer, appa tidak tau jika akulah yang paling berbahaya, bukan hyung yang sedari dulu diam dan mengikuti segala kursus seni." Tetesan liquid bening mulai berkumpul, siap meluncur kapan saja mengaliri pipi tirus maknae Kim.

Tangan Kyuhyun terkepal di samping tubuh, nafasnya menderu karena lonjakan emosi yang signifikan. "Di Amerika aku diasuh oleh Denis. Dia sahabat baik appa yang rela mengasuhku dengan sepenuh hati tanpa membedakan statusku dengan Aiden yang notabene adalah putra kandungnya. Sejujurnya aku mengharapkan sambutan hangat dikepulanganku yang pertama kalinya. Tapi semua itu hanyalah harapan semu karena yang kudapatkan adalah penolakan. Sungguh, aku tidak menaruh dendam padamu maupun Heechul hyung atas segala sikap dingin kalian. Bagiku dendam hanya akan mempersulit ketentraman menuju kematian. Maaf telah mengganggu waktumu hyung! Adikmu yang tak dianggap hanya ingin mendapat secuil kasih sayang sebelum semuanya berakhir." Inilah puncak dari segala rasa gundahnya, pengharapan semu yang dilalui olehnya telah tersampaikan dengan baik. Sang kakak yang diharapkan bisa menjadi penggantinya malah mengacuhkan kehadirannya, menganggap suara curahan hatinya sebagai angin lalu yang berhembus.

Tap

Tap

Tap

Langkah kepergian Kyuhyun terlihat gontai. Sepasang kaki jenjangnya sedikit oleng karena terlalu lama berdiri tegap, padahal kondisinya masih lemah.

Cklek

Pintu tertutup, menenggelamkan siluet tubuh remaja berkulit pucat.

Kilat kemarahan dari obsidian Kibum menghunus lurus ke depan, terpusat pada sebuah foto keluarga Kim belasan tahun lalu. Foto tersebut tergantung indah di dinding, kenang-kenangan terakhir sebelum sang eomma menghadap Tuhan. "Kau salah jika mengharapkan bantuanku Kim Kyuhyun! Tamparan appa untuk Heechul hyung juga menyakiti hatiku. Kau adalah penyebab hancurnya keharmonisan keluarga Kim. Meskipun kau bersujud hingga menangis darah sekalipun, aku takkan pernah membantumu. Rasa penasaranku yang membuncah sudah menguap sejak appa tega menampar putranya sendiri karena membelamu."

Tubuh maknae Kim membeku di balik pintu, semua kalimat yang dilontarkan Kibum sukses menghujam dadanya. Rupanya dendam klise masih melekat kuat pada kedua kakaknya, ia yang tidak mengetahui apapun harus rela menanggung segalanya.

.

.

.

.

.

Krystalaster27

Ini hari kesepuluh setelah kepulangan Kyuhyun dari Kim Hospital, di tepi ranjang Im seonsaengnim sedang memangku Minsoo.

"Im saem... Kenapa penelitian fosil hewan purba menggunakan metode yang berbeda?" Lontaran pertanyaan tersebut mengawali perbincangan mereka ke arah yang lebih serius.

Im seonsaengnim membenahi posisi Minsoo yang menggeliat dalam pangkuannya. "Semuanya sama saja Kyu. Tergantung dari peneliti yang ingin menggunakan metode seperti apa untuk mendapatkan hasilnya."

Kening Kyuhyun berkerut samar, ia membenahi posisi duduknya. "Sungguh saem. Aku tidak mengerti."

"Kau tau aljabar?" Senyum tipis menghiasi wajah guru cantik itu, ia meletakkan Minsoo diatas pangkuan Kyuhyun.

"Tentu saja."

Anggukan puas diberikan Im saem saat siswa jeniusnya mulai fokus untuk membahas sesuatu yang lebih rumit. "Bagaimana cara menghitung matematika yang baik dan benar? Terlepas dari aturan kali, bagi, tambah, kurang yang harus diurutkan agar mendapat hasil yang sesuai."

"Matematika mempunyai banyak cara saem. Yang diminta adalah konsep serta penjabaran cara pengerjaannya namun hakikatnya hasil hitungan pastilah sama. Aljabar haruslah sesuai aturan jika tidak ingin mendapatkan hasil yang salah." Kyuhyun menjawab dengan santai.

"Itu juga berlaku untuk ilmu kedokteran dibeberapa bagian Kyu! Contohnya : Ada tiga dokter yang lulus di tahun yang sama, universitas yang sama, juga jurusan yang sama. Jika seorang pasien mengunjungi ketiga dokter tersebut, apakah ia akan mendapat resep yang sama?"

"Tidak." Jawab Kyuhyun mantap.

"Ne. Mereka tidak akan mendapat resep yang sama. Semua resep tersebut diberikan berdasarkan perhitungan dokter tersebut secara pribadi. Tingkat dosis diberikan juga berasal dari analisa mereka, meski begitu tujuannya tetaplah sama yakni menyembuhkan penyakit." Penjelasan yang diberikannya sangat simple, Im Yoona hanya ingin menunjukkan satu sisi yang seringkali menjadi kontroversi kecil dikalangan pasien. Hal yang luput dari pemahaman banyak orang, tak jarang juga bahan argument mahasiswa/i fakultas kedokteran.

Kyuhyun menghela nafas, alur analisanya bergerak ke arah lain. "Apakah rumus tersebut juga berlaku pada analis kimia?"

"Maksudmu?" Alis Im seonsaengnim nyaris bertautan.

Tangan Kyuhyun membenahi posisi Minsoo dalam pangkuannya. "Di dalam ilmu kimiawi, perbedaan ikatan senyawa menentukan karakter serta kegunaan yang berbeda pula. Contohnya senyawa karbon yang digolongkan menurut gugus fungsinya menentukan sifat suatu senyawa. Sedangkan pada ilmu makhluk mikro seperti bakteriologi juga virologi perbedaan bentuk menentukan seberapa berbahaya atau seberapa menguntungkan suatu bakteri." Inilah yang dipikirkannya sejak kemarin. Terlalu banyak poin yang bergentayangan, menyulitkannya untuk merangkai semuanya menjadi satu obyek yang utuh.

"Kau berkata sesuai posisimu Kyu. Seperti fisiologi dan anatomi yang saling terkait satu sama lain. Intinya, perbedaan kecil tetaplah ada namun karakteristik maupun ciri khas sangat menentukan hasil akhir observasi, apakah hipotesis diterima atau ditolak? Mudahkan!" Inilah yang diketahuinya mengenai sains yang sampai saat ini masih dipelajari serta diteliti habis-habisan.

Dengan pelan Kyuhyun menggendong Minsoo, mendekap bayi itu ke dalam pelukannya saat melihat manik mungil tersebut mengerjap. "Ne, bercakap dengan Im saem membuat saya memahami satu celah yang terlewatkan."

"Maksudmu apa Kyu?" Sekali lagi alis Im Yoona harus bertaut, celah apakah yang dimaksud muridnya.

Tatapan Kyuhyun berubah sendu, tangan kirinya mengusap punggung Minsoo dengan lembut. "Ekosistem sedang dipertaruhkan oleh manusia yang ceroboh."

Bibir Im Yoona mencebik, ia membenahi tas selempangnya lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jangan membuatku bingung. Minsoo biarlah di sini dulu, aku akan mengambil bayiku lima jam lagi."

Kyuhyun mengangguk. "Baiklah saem."

"Ingat! Kau masih belum boleh berkeliaran!" Telunjuk Im saem mengacung pada Kyuhyun, tak lupa tatapan tajamnya yang mengintimidasi.

Kekehan kecil meluncur, Kyuhyun mengangguk, mengawasi siluet tubuh gurunya yang perlahan menghilang di balik pintu. "Arraseo..."

Suasana kamar menjadi hening, Minsoo sibuk menjungkir balikkan tubuhnya di atas ranjang setelah Kyuhyun meletakkan bayi itu di sisi kirinya.

Tangan Kyuhyun menundukkan tubuhnya, tangannya menjulur untuk meraih sebuah boneka yang terletak di dalam laci nakasnya. "Minsoo-ya, kau lihat ini?" Mengangsurkan boneka itu di hadapan Minsoo yang terlentang dengan tangan menggapai-gapai udara.

"Pinguin ini jadi milikmu sekarang. Hyung sudah besar, jadi daripada boneka ini berakhir sebagai pajangan maupun koleksi rahasia. Lebih baik kau saja yang merawat pinguin." Sejak keluar dari Kim Hospital, Kyuhyun sudah memikirkan jika boneka pemberian mendiang eommanya akan diberikan pada Minsoo.

Tangan Minsoo mendekap boneka tersebut dengan riang, "Tatata... yun... tatata..." memainkannya dengan semangat.

"Minsoo-ya, waktuku hanya tinggal menghitung hari. Kibum hyung harus meneruskan tugasku." Kyuhyun mengusap kepala Minsoo dengan lembut, menghantarkan rasa sayangnya pada bayi mungil yang sudah membantunya terbebas dari aksi pembully-an.

"Mumu... gugu... yun..." Celotehan Minsoo meluncur, wajah bayi mungil itu menjadi sedikit murung.

Tatapan Kyuhyun berubah, ia menatap kosong ke depan dengan sorot putus asa. "Aku punya sebuah cara, namun kemungkinannya sangat tipis. Aku bisa berakhir saat itu juga jika terlambat mendapatkan pertolongan. Tapi tak ada cara lain Minsoo-ya."

"Huhuhu... yun... huhu... yun." Seolah mengerti, kedua manik Minsoo berkaca-kaca.

Kyuhyun mengusap pipi Minsoo dengan ibu jarinya, mendekap bayi itu ke dalam rengkuhannya. "Jangan sedih Minsoo-ya. Hidupku memang tidak lama lagi dan kurasa rencanaku ini mempertaruhkan segalanya. Ayo kita tidur! Ini waktunya tidur siang. Jaljayo..."

Perlahan kelopak mata Minsoo terpejam, meninggalkan Kyuhyun seorang diri terjaga dengan berbagai pikirannya. Remaja berkulit pucat itu sedang merangkai sebuah strategi yang mempertaruhkan nyawanya.

.

.

.

.

.

My Secret of Identity

Keadaan maknae Kim sudah jauh membaik namun berbagai alat medis masihlah menghiasi kamar mewah itu. Siang hari yang cukup cerah dengan kicauan burung yang hilir mudik di langit maupun yang bertengger di ranting.

Pipp

Pipp

Pipp

Bunyi ponsel membuat Kyuhyun mendengus, ia menutup novel Sherlock Holmes versus Si Kaki Kayu yang sedang dibacanya. Tangannya terulur untuk mengambil ponselnya di atas nakas dengan sedikit susah payah.

"Yeobseoyo..." Jawab Kyuhyun tanpa melihat ID penelfon.

Kemerusuk terdengar sebelum suara seorang pemuda memulai sapaan. "Marcus Kim. Apa kau sibuk?"

Maknae Kim memutar bola mata saat mendengar nama Amerikanya disebut. "Hentikan basa-basimu Aiden Lee!"

Terdengar kekehan ringan dari penelfon yang tak lain adalah Aiden, putra kandung Denis. "Hehehe... Baiklah, kau mungkin dalam keadaan bad mood hingga seketus ini denganku."

Bibir itu mencebik, maknae Kim membalas dengan santai. "Tidak. Aku hanya kasihan jika Denis daddy bangkrut karena putranya terlalu lama melakukan sambungan telfon internasional."

"Kyu, jangan bercanda! Aku bisa membeli pulsa dengan uangku sendiri." Suara pemuda di sebrang telfon mengomel tidak setuju.

Maknae Kim membenahi posisinya, menyandarkan diri lebih nyaman di atas tumpukan bantalnya. "Nama Korea terdengar lebih baik. Panggil aku seperti itu saja." Sahutnya untuk menghentikan kicauan Aiden yang pasti tidak akan berhenti.

Suara kemerusuk kembali terdengar, seperti kertas-kertas yang a dibuka dengan cepat. "Menurutmu, apa ITODA berhasil melakukan proyek gilanya akhir tahun ini?" Akhirnya topik pembicaraan dimulai juga.

Bahu maknae Kim mengendik, ia meraih novelnya lagi. "Tergantung. Namun prediksiku, mereka mulai mengubah haluan."

"Haluan? Maksudmu merubah rencana?" Kyuhyun yakin saat ini kening pemuda bernama korea Lee Donghae itu tertekuk sedemikian rupa, alis nyaris menyatu, dan bibir yang mengerucut.

"Ne... Tanpa adanya diriku, semua proyek mereka hanya akan menemui titik buntu. Aku lebih senang melakukan penelitian untuk membuat robot yang menyerupai manusia. Meneliti tumpukan mayat untuk dihidupkan kembali terlalu konyol dan hanya akan sia-sia saja."

Bertepatan dengan berhentinya ucapannya, tangan Kyuhyun membuka halaman 141 novel Sherlock Holmes bagian 'IX'

'Aku belum pernah melihat Holmes salah, tetapi orang paling logis sekalipun sesekali bisa tertipu.'

-Dr. Watson-

Kalimat yang tercetak di novel itu berputar dalam pikiran maknae Kim. Ia seolah disentak dengan sebuah celah yang terlewatkan dari prediksi nalarnya. Celah fatal yang terlambat ditemukannya.

"Cyborg terdengar lebih logis dibandingkan ramuan pembangkit kematian. Pasti jika kau membuat cyborg, hasilnya akan sekeren di film Terminator." Donghae menimpali dengan antusias, imajinasinya sudah melalang buana ke arah film. Maknae Kim seolah bisa melihat binar mata kakak asuhnya itu yang pasti terlihat menggemaskan.

Helaan nafas jengah berhembus, maknae Kim harus mengikuti pola pikir Donghae yang sedikit unik saat membahas sesuatu. "Terminator itu robot untuk perang karena dirancang dengan strategi perang untuk saling menghancurkan. Skynet yang menjalankan, sehingga robotnya bisa berfikir sendiri tanpa seorang user. Cyborg dalam imajinasiku adalah robot yang bisa berfikir namun menjadi teman hidup yang akan membantu banyak hal."

"Waw. Robot wanita... Kkkkk... Itu terdengar menarik Kyu." Sudah Kyuhyun duga jika ucapannya menghasilkan pemahaman yang berbeda, bahkan melenceng dari topik bahasan.

"Yeah, lebih baik dibandingkan mayat hidup." Jawab Kyuhyun malas. Matanya masih terfokus pada sebuah kalimat tadi, menyelami arti tersebut semakin dalam ke saraf otaknya.

"Kau benar... Aku jadi membayangkan mumi." Imajinasi Lee Donghae kali ini beralih pada film lain.

Maknae Kim mendengus, arah imajinasi Donghae bergeser terlalu jauh. "Aiden Lee. Bukan mumi, tapi lebih kearah zombie! Aku berani bertaruh jika mereka takkan bisa membuat sebuah mayat hidup kembali, meskipun ribuan hingga jutaan sel bakteri, virus, bakteriofage, maupun tumbuhan, hewan, hingga jamur sekalipun yang mereka gunakan sebagai bahan penelitian. Mumi itu jasad yang sudah busuk, jadi tidak mungkin dihidupkan lagi."

Di sebrang telfon, Donghae menyamankan posisi tubuhnya yang sedang duduk pada kursi putar. "Aku mendengarkan. Teruskan penjelasanmu Kyu! Ponselku sudah merekam percakapan kita."

Tarikan nafas dalam terdengar, Kyuhyun masih meresapi kalimat di novelnya. Senyuman tipis terbit saat penjelajahan Kyuhyun pada pikirannya kini menemui titik terang yang ia lewatkan. "Semuanya terkait hukum Tuhan. Seberapa jenius manusia, ia takkan mampu menghidupkan mayat yang sudah tidak memiliki jiwa. Contoh sederhana : Pasien yang mendapatkan donor jantung sekalipun harus bertaruh hidup atau mati. Jika Tuhan memutuskan kehidupan, maka pasien tersebut bisa hidup. Raga dan jiwa adalah satu kesatuan yang tak bisa diganggu gugat. Jiwa itu yang mengisi raga, kalau raganya kosong otomatis mati."

Brakk

Gebrakan terdengar dari sebrang telfon, Donghae pasti menggebrak sebuah meja. "Hei...! Contohmu terlalu mengerikan Kyu! Jangan mengambil contoh dari penyakitmu! Kau seolah mengisyaratkan kematianmu sendiri."

Beruntung Kyuhyun sudah menjauhkan ponsel sehingga teriakan Donghae tidak mendengungkan telinganya. Sudah ia duga jika Donghae akan memprotes contoh awal yang diberikannya.

Setelah memastikan pemuda di sebrang telfon tenang, Kyuhyun mendekatkan ponselnya lagi untuk melanjutkan percakapan. "Intinya, jiwa tidak bisa dibuat. Mayat ya mayat! Tidak ada istilah mayat hidup! Zombie hanyalah tumpahan imajinasi yang terlalu kreatif sehingga menggeser pemahaman publik. Dugaanku, mereka akan menggunakan bakteri pantogen juga virus yang satu level dengan firus flu burung. Sialnya, jika mereka berhasil menggandakan makhluk mikro itu. 30% kemungkinan mereka takkan mendapatkan bakteriofage sebagai penawar."

"Kyu, jujur saja aku sedikit bingung sekarang. Penjelasanmu terlalu memusingkan, jabarkan saja secara lebih sederhana." Kalimat tadi terlalu memusingkan, Donghae memijit pelipisnya. Si anak jenius selalu berhasil membuatnya memeras pikiran hanya dengan kalimat yang diucapkannya.

"ITODA sedang melangsungkan proyek mematikan. Segala hal yang mereka teliti akan menghancurkan diri mereka sendiri. Makhluk mikro yang tercipta dari tangan yang mencoba melawan garis ketentuan kehidupan hanya akan membawa petaka. Ingat film Jurassic Park? Para peneliti mungkin menghilangkan kromosom Y namun kesalahan mereka adalah mengambil katak sebagai pelengkap eksperimen. Jika ribuan katak betina berkumpul, pasti ada satu yang akan berubah menjadi pejantan. Itulah hukum alam serta ketentuan Tuhan yang terlepas dari penelitian. Mereka berkembangbiak di luar pemantauan laboratorium juga para ilmuwan.

Segala mikrobacteria, maupun virus yang mencoba mereka gandakan akan menyerang mereka lebih dulu, seperti virus HIV yang tertanam dalam tubuh lalu baru menunjukkan gejala beberapa tahun kemudian.

Bukan mayat hidup yang akan mereka hasilkan, melainkan mereka sendiri yang akan menjadi zombie beda versi. Mereka hidup namun hanya sebagai inang dari jutaan hingga milyaran virus juga bakteri. Jika penyebaran bisa melalui udara, maka manusia di belahan dunia akan musnah dalam hitungan hari. Ingat, penerbangan internasional sudah menyeluruh ke semua negara." Inilah penjabaran panjang Kyuhyun yang merupakan titik terang dari renungan singkatnya barusan. Poin mematikan yang terselip dari jutaan hipotesisnya selama ini.

Di sebrang sana Donghae sedang mondar-mandir di kamarnya sambil menghentak-hentakkan kaki. Wajahnya seperti seorang anak kecil yang ketakutan, tangan kirinya memeluk tubuh sedangkan tangan kanannya tetap menggenggam ponsel.

"Itu mengerikan. Seperti film apa itu namanya? Aigooo... Aku lupa. Intinya peneliti membuat virus yang diinjeksi pada manusia. Lalu mereka menggunakan virus itu untuk membunuh para politikus secara tidak langsung. Menyekap seorang bocah yang tak lain adalah anak dari ... aku lupa lagi namanya, seorang peneliti jahat memasukkan virus tersebut. Lalu akhirnya si sopir keren yang bertarung untuk mencari penawarnya. Bukankah penyebaran virusnya juga melalui udara. Aigoo... Otakku tak sanggup membayangkannya."

Kyuhyun menatap langit-langut kamarnya dengan pandangan kosong. "Sama halnya jika penyebaran melalui air. Bukan hanya manusia, namun ikan di laut juga akan mati."

Mendengar binatang kesayangannya disebut, Donghae menggigiti kukunya. "Demi Neptunus! Jangan membawa-bawa ikan Kyu! Ikan terlalu imut untuk kau bawa-bawa dalam pembahasan ini." Ketidak terimaan karena topik yang menyangkut pautkan binatang menggemaskan tersebut.

Kyuhyun beralih memandang novelnya, merancang sebuah pemahaman yang lebih mudah dimengerti. "Aiden... Perubahan haluan yang kumaksud tidaklah mereka sadari, seperti alur film yang kau sebutkan tadi. Mereka tetap mengusahakan untuk menghidupkan mayat, namun virus tersebutlah yang menginfeksi mereka tanpa diketahui. 80% dugaanku, karena para peneliti yang sudah jelas terkontaminasi lebih dulu. Mereka akan mengalami penurunan fokus untuk membuat bakteriofage karena rasa panik akan kematian yang jelas terpampang di depan mata. Alhasil mereka sakit dan sudah terlalu terlambat untuk memberi peringatan pada yang lainnya. Namun ada hal lain yang lebih penting sekarang."

"Apa?" Tubuh pemuda bernama Donghae seketika menegang.

"Berhenti menonton film! Percakapan selalu mengarah pada film karena ulahmu Aiden Lee!" Decakan kesal meluncur dari bibir Kyuhyun, sedari tadi otaknya dibuat bingung karena harus mengikuti pola pikir Aiden yang terlampau aneh.

Donghae mengangakan mulutnya, matanya terbelalak mendengar protes dari adik asuhnya. "Yakk! Panggil aku hyung!"

Kyuhyun memutar bola mata malas, sikap berlebihan Aiden mulai berulah. "Oh... Sepertinya ada hulk yang sedang mengamuk. Bye..."

Pipp

Sambungan telfon diputus oleh Kyuhyun, mengindahkan Donghae yang berteriak sendiri di ruangannya.

"Dasar maknae Kim!"

To be continue...