UNFORGIVEN HERO (REMAKE)

Chapter 7

Cast:

Zhang Yixing as Elena

Kim Junmyeon as Rafael Alexander

Kang Seulgi as Victoria

Kim Minseok as Donita

Jung Seoyun as ibu Rahma

Genderswitch. OCC

Sorry for the typo. Story milik Santhy Agatha. EXO milik SM kecuali Zhang Yixing #dihajar

WARNING: Rate M, GS, Remake

Yixing tak pernah tahu, ada sosok dibalik kenyamanannya itu. Kim Junmyeon, pria yang sudah membunuh ayahnya. Dia berusaha membayar kesalahannya dengan menjadi guardian angel bagi Yixing. Masalahnya adalah, Junmyeon jatuh cinta pada Yixing. Dia begitu terobsesi pada gadis itu. Hingga dia berusaha membuat sebuah jalan agar Yixing berjalan ke arahnya

.

.

.

SULAY

Cerita remake dari novel Santhy Agatha

.

.

=CHAPTER 7=

"Selamat pagi." Junmyeon menyapa lembut ketika Yixing membuka matanya, sudah hampir setengah jam yang lalu Junmyeon bangun, tetapi tidak bergerak dari ranjang. Dia berbaring miring di sana, bertumpu pada sikunya dan memandang isterinya yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Junmyeon suka memandangi Yixing, dia bisa melakukannya berjam-jam tanpa bosan. Dan kesadaran bahwa sekarang dia bisa melakukan itu sebagai suami Yixing, membuatnya bahagia.

Yixing mengerjapkan matanya. Butuh beberapa lama sampai dia menyadari berada di mana dan apa yang terjadi. Ingatan tentang malam pertama kemarin membanjirinya, dan membuatnya merona malu. Junmyeon sendiri tampak tidak peduli, lelaki itu menelusurkan jemarinya ke sepanjang pinggul Yixing dengan menggoda.

"Apakah tidurmu nyenyak?" Junmyeon menatap Yixing dengan mesra, membuat Yixing kehabisan kata dan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Jemari Junmyeon menelusuri makin berani, dan menyentuh kewanitaan Yixing. "Di sini masih sakit?" Junmyeon mengusapnya lembut.

"Ah, Yixingku yang lugu… maafkan aku karena harus menyakitimu." Napas Junmyeon agak terengah dan karena mereka berdua telanjang bulat, Yixing bisa melihat betapa kejantanan Junmyeon telah menegang keras lagi. Tetapi lelaki itu tampak menahan diri, dia mengikuti arah pandangan Yixing dan tersenyum.

"Seperti yang selalu kubilang, aku selalu mengeras kalau bersamamu, karena kau membuatku begitu bergairah…" Junmyeon mengelus pipi Yixing dengan lembut, "Tapi hari ini kita akan menghormati hilangnya keperawananmu dengan tidak menyentuhmu dulu."

Yixing tersenyum, hatinya terasa hangat menerima kelembutan Junmyeon ini. Lelaki ini tampak bersungguh-sungguh dengan perkataannya, dan sejak pernikahan mereka, dia selalu diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih.

"Terima kasih, Junmyeon."

"Sama-sama isteriku." Junmyeon mengecup ujung hidung Yixing dengan lembut, "Oh ya… mengenai pulau yang diceritakan Seulgi pada saat acara makan setelah pernikahan kemarin…. Maafkan aku tidak membicarakan sebelumnya denganmu, sebenarnya itu akan menjadi kejutan bulan madu kita."

"Kejutan lagi." Yixing menggumam tanpa sadar menatap Junmyeon dengan pandangan menuduh.

Junmyeon terkekeh, menarik Yixing ke dalam pelukannya. Tubuh mereka telanjang, hangat, bahagia dan terpuaskan karena percintaan mereka semalam. Junmyeon memang ereksi tetapi dia tidak peduli. Yang utama bukanlah memuaskan hasratnya kepada Yixing, yang utama adalah berada di dekat Yixing, berdua dan bahagia.

"Pulau itu sangat indah, aku mewarisinya dari ayahku, penduduknya sebagian besar nelayan dan beberapa bekerja kepadaku… kita bisa menikmati waktu berdua di sana, saling mengenal lebih dalam." Tatapan Junmyeon menjadi intens, "Aku yakin, kalau kita saling mengenal lebih dalam, kita akan menyadari bahwa kita adalah pasangan yang cocok."

Pasangan yang cocok. Mungkinkah? Dia perempuan biasa yang hidupnya serba biasa-biasa saja, dengan Junmyeon yang semua ada pada dirinya begitu luar biasa. Yixing melirik ke arah kejantanan Junmyeon, bahkan 'itu'nya pun luar biasa. Pipi Yixing menjadi memerah karena pemikiran spontannya itu.

.

.

.

Perahu boat membawa mereka mendarat ke anjungan pulau itu. Beberapa orang tampak sudah menunggu di sana. Junmyeon membantu Yixing turun dari kapal dan menggendongnya ketika mereka harus melalui bagian laut yang dangkal sebelum melangkah ke arah pantai berpasir yang luar biasa indahnya.

Ini benar-benar surga pantai tropis yang luar biasa. Warna pasirnya sedikit gelap, tetapi lembut, membuat Yixing tanpa pikir panjang melepas sepatunya dan memilih bertelanjang kaki. Udara pantai yang sejuk meniup rambutnya hingga melambai-lambai di pipinya. Beberapa orang yang sudah menunggu langsung membantu meminggirkan boat dan mengangkat koper-koper mereka.

Seorang lelaki tua berpakaian resmi menyalami mereka dan tersenyum lebar,

"Selamat datang Tuan Junmyeon, senang sekali anda akhirnya bisa berlibur dan pulang kemari." Disalaminya Junmyeon dengan bersemangat. Lalu tatapannya beralih ke Yixing dan dia tersenyum memuji, "Dan ini pasti Nyonya Zhang yang menawan. Selamat datang di pulau kami. Semoga anda menyukainya, nyonya."

Junmyeon tertawa, menepuk pundak lelaki tua itu dan tersenyum lebar ke arah Yixing, "Ini Pak Lee. Dia adalah kepala desa di pulau ini, sekaligus pengurus rumahku."

"Rumah anda sudah disiapkan. Para pelayan sudah merapikan kamar anda hingga tampak seperti tidak pernah ditinggalkan. Dan Alfred sangat senang karena dia bisa memasak masakan-masakan luar biasa lagi untuk tuan dan nyonya. Mari, kita ke rumah utama." Pak Lee melangkah mendahului mereka ke arah jalan setapak berbatu dengan pohon kelapa yang ditata eksotis di kiri dan kanannya.

Pemandangan rumah Junmyeon sangat luar biasa. Rumah itu berdiri tegak menjulang di atas bukit tertinggi di tepi pantai. Bagian belakangnya menyambung khusus ke sisi pantai tersendiri yang dipagari, sebuah pantai pribadi. Cat rumahnya putih bersih, sangat cocok dengan pemandangan birunya laut dan hijaunya pohon kelapa yang mendominasi pulau. Gordennya melambai-lambai di jendela besar bergaya barat di bagian depan rumah.

"Rumah ini peninggalan kolonial belanda jaman penjajahan dulu. Ayah membeli sebagian tanah di pulau ini, hampir 60% tanah di sini adalah milik ayah, dipakai untuk perkebunan rempah-rempah dan area rumah ini, Sisanya adalah perumahan penduduk. Rumah ini sudah direstorasi sepenuhnya oleh ayah. Dia memang suka dengan segala sesuatu yang berbau kuno." Junmyeon tersenyum kepada Yixing dan mengedipkan matanya, "Tetapi jangan khawatir, meskipun rumah ini rumah kuno, tidak akan ada hantunya… yah.. mungkin kalau kau melihat penampakan perempuan-perempuan bergaun lebar jaman pertengahan abaikan saja…

"Junmyeon." Yixing bergumam mengingatkan agar Junmyeon jangan menakut-nakuti dirinya dengan cerita-cerita hantu, meskipun kemudian tersenyum karena tahu Junmyeon sedang berusaha menggodanya. Junmyeon benar. Suasana rumah ini, pulau ini sangat menyenangkan. Yixing tiba-tiba saja merasa begitu ceria dan bahagia. Tidak pernah disangkanya dia akan mengalami ini semua, bersama Junmyeon pula.

Keharuman aroma kue yang baru dipanggang langsung menyambut mereka ketika memasuki ruang tamu luas dengan nuansa putih dan cokelat yang berpadu indah. Junmyeon menghirupnya dan tersenyum,

"Itu pasti kue kelapa panggang buatan Alfred." Junmyeon melirik ke arah pintu besar yang sepertinya mengarah ke lorong menuju dapur, "Alfred adalah koki tua setia ayah, yang ketika diajak ke sini oleh ayah, jatuh cinta dengan seorang wanita di pulau ini. Jatuh cinta dengan kehidupan di pulau ini, dan memilih menghabiskan masa pensiunnya di sini. Kau akan menyukai kue kelapa panggang yang dia buat, dan masakan-masakan lainnya yang spektakuler."

Dari aromanya saja sudah begitu menjanjikan, Yixing tersenyum. Junmyeon tampak berbeda, tampak begitu lepas dan bahagia di pulau ini. Dia tampak tanpa beban. Dan Yixing entah kenapa senang melihat lelaki itu tampak begitu ceria.

Dengan lembut Junmyeon menggandeng Yixing melangkah menuju dapur. Mengenalkannya dengan Alfred yang sedang memanggang roti di sana. Alfred lelaki tinggi asal Prancis, berusia enam puluh tahun tetapi masih tampak bugar, wajahnya tampak dingin. Tapi Yixing melihat sinar hangat di matanya ketika memeluk Junmyeon dan Yixing bersamaan dengan lengannya yang besar dan mengucapkan selamat datang kepada mereka.

.

.

.

Ponsel Yixing berdering ketika dia sedang menata pakaian-pakaian mereka di lemari di sebuah kamar indah yang terletak di lantai dua rumah ini. Kamar ini memiliki balkon dengan anjungan yang menjorok ke pantai. Kalau kita berdiri di ujung balkon itu, kita akan bisa melihat pemandangan luas tanpa batas langit dan laut yang berwarna biru berpadu dipisahkan oleh garis cakrawala yang menakjubkan. Sementara di bawah ombak tampak indah bergulung-gulung, seolah-olah memanggil-manggil untuk berenang.

Yixing membiarkan pintu kaca besar yang membatasi kamar mereka dengan balkon membuka sehingga udara laut yang sejuk dan kering bisa mengaliri kamar. Dengan setengah melompat, Yixing menuju meja di samping tempat tidur besar, tempat ponselnya diletakkan. Ada nama Minseok di sana. Diangkatnya panggilan itu.

"Halo Minseok… aku harap kau sehat-sehat saja."

"Aku sehat-sehat saja Yixing." Suara Minseok tampak ceria dan haru, "Aku mau mengabarkan bahwa aku sudah melahirkan putri kecilku semalam, dia sangat sehat dan gemuk."

"Ah, selamat Minseok… maafkan aku, aku benar-benar lupa…" Semua peristiwa yang dialaminya dengan Junmyeon membuatnya lupa menelepon Minseok untuk menanyakan kondisi kehamilannya, "Aku ingin sekali menengok putri kecilmu itu."

"Aku mengerti Yixing sayang, tidak apa-apa kok. Dan aku menelponmu untuk mengucapkan selamat juga." Yixing bisa merasakan Minseok mengedipkan matanya nakal di seberang sana. "Teman-teman kantor datang untuk menengokku di rumah sakit, dan ternyata gossip bahwa kau dinikahi oleh bos kita dan dibawa kabur ke pulau pribadinya menyebar cepat di sini. Benarkah itu Yixing? Wow kau bahkan tidak menunjukkan ketertarikan kepada Mr. Suho dan tiba-tiba saja 'boom' kalian saling jatuh cinta dan menikah? Lalu bagaimana dengan Leo?" Minseok langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.

Yixing tertawa, lalu dengan singkat menjelaskan insiden yang dialaminya bersama Leo. Sejenak dia ragu menjelaskan alasan mereka menikah. Dan memutuskan tidak menjelaskannya kepada Minseok,

"Yah begitu saja. Aku sangat kecewa dengan Leo. Dan kebetulan Junmyeon sangat baik… jadi tiba-tiba saja kami sudah menikah."

Minseok tergelak di seberang sana, "Mungkin itulah yang disebut kemauan Tuhan. Kita sudah berencana dengan yang lain, tiba-tiba Tuhan memberikan jalan untuk bersatu dengan orang yang selama ini tidak pernah kita duga. Meskipun kabar ini masih membuatku shock, tetapi aku menyadari bahwa kalian adalah pasangan yang cocok. Semoga berbahagia Yixing, telpon aku kalau kau kesepian di pulau pribadi itu." Suara Minseok yang terdengar ceria membuat Yixing tertawa geli,

"Pasti, Minseok. Dan segera setelah aku pulang nanti, aku akan langsung menengokmu dan putri kecilmu."

"Janji ya, aku tunggu." Minseok tertawa cerita, "Selamat menikmati bulan madumu Yixing."

Yixing masih tersenyum ketika menutup ponselnya. Bulan madu. Kini dia dan Junmyeon pasangan pengantin baru. Junmyeon sedang pergi dengan Pak Lee untuk menengok perkebunan, katanya dia akan kembali sebentar lagi.

.

.

.

Ketika kembali, Junmyeon langsung menggandeng Yixing mengajaknya ke pantai pribadinya.

"Kau akan senang melihat bagian pantai yang ini." Junmyeon mengajak Yixing menuruni tangga putih melingkar yang ternyata ada di bawah balkon mereka, dan merekapun turun di sebuah anjungan pantai pribadi yang dikelilingi tembok dan tanaman untuk menjaga privasi.

"Aku sering berbaring di pantai, dan merenung di sini sendirian, tidak ada yang bisa melihat kita dari sini. Satu-satunya akses adalah dari tangga di balkon kamar kita. Dan tidak ada yang berani kemari kalau tidak kuperintahkan." Junmyeon mengedipkan matanya pada Yixing, "Di sini benar-benar privasi untuk kita."

Pipi Yixing memerah menyadari arti di balik kata-kata Junmyeon itu. Privasi untuk mereka apakah privasi untuk bercinta? Yixing menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran aneh di benaknya. Junmyeon dan aura sensualnya sepertinya telah mempengaruhi Yixing sedemikian rupa.

Lelaki itu menggandeng Yixing ke sisi pantai yang sejuk di bawah tanaman palem dan kelapa. Tempat mereka rupanya telah disiapkan, ada sebuah gazebo kecil yang nyaman di sana, beralaskan karpet lembut berwarna cokelat muda dan bantal-bantal hitam eksotis yang berserakan di sana. Gazebo itu berhiaskan tirai-tirai putih yang menjuntai, tampak begitu indah tertiup angin pantai. Satu sisi gazebo itu terbuka, langsung mengarah ke pemandangan pantai nan luas dan indah dengan warna langit yang mulai jingga, pertanda matahari hampir tenggelam. Lampu kecil di pilar gazebo menyala dengan sinar kuning yang hangat, seakan disiapkan untuk pasangan yang akan melalui malam sambil menatap bintang-bintang di langit.

Junmyeon mengajak Yixing ke gazebo dan duduk di karpetnya yang empuk, bahkan makananpun sudah disiapkan di sana, seperti magic. Kue-kue kecil yang menggiurkan tersaji di nampan perak yang berkilauan. Dan dua botol anggur disiapkan di ember perak kecil yang berisi es, serta dua gelas minuman dingin berwarna orange segar. Ini benar-benar tempat yang menyenangkan untuk duduk sambil memandang matahari tenggelam. Junmyeon merangkul Yixing, dan mereka termenung menatap ke arah matahari tenggelam dalam keheningan. Menyaksikan cakrawala perlahan menelan bulatan yang bersinar orange kemerahan itu. Hingga akhirnya hanya tersisa seberkas cahaya jingga di batas cakrawala.

Suasananya begitu sakral dan intim hingga Yixing takut merusaknya. Dia melirik ke arah Junmyeon, dan melihat siluet lelaki itu. Junmyeon benar-benar tampan, dan lelaki itu adalah suaminya. Yixing merasakan perasaan hangat membanjirinya. Dia merasa begitu dekat dengan Junmyeon, seakan sudah mengenal lama, seakan Junmyeon mengerti apapun yang dia inginkan. Mungkin mereka memang ditakdirkan bersama.

"Yixing." Suara Junmyeon terdengar serak, dan dari jarak dekat, di bawah sorot lampu temaram, Yixing bisa melihat mata Junmyeon memancarkan gairah, "Kau sudah bisa…?"

Ah. Lelaki ini begitu sopan, begitu baik dan perhatian. Bahkan dalam gairahnya Junmyeon sempat menanyakan kesiapan tubuh Yixing untuk bercinta. Yixing sungguh tersenyum. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menatap Junmyeon penuh arti.

Junmyeon membalas senyum itu, lalu dengan lembut menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Yixing lembut. Yixing membalas kecupan itu. Membiarkan Junmyeon merasakan kelembutan bibirnya. Lelaki itu lalu melepas ciumannya dan mereka bertatapan. Senyum Junmyeon malam itu tidak akan pernah Yixing lupakan, senyum itu begitu lembut, begitu penuh haru, dan entah kenapa membuat dada Yixing sesak oleh suatu perasaan yang tidak dapat digambarkannya.

Jemari Yixing bergerak ragu dan menyentuh pipi Junmyeon, lelaki itu menempelkan pipinya di sana dan memejamkan matanya, jarinya meraih jari Yixing dan mengarahkannya ke bibirnya. Junmyeon lalu mengecup telapak tangan Yixing dengan lembut. Mereka bertatapan dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh satu sama lain, dan kemudian bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman lembut.

Kali ini ada yang berbeda. Kali ini ada rasa sayang dalam ciuman ini. Ada perasaan lembut yang mengembang dalam pagutan bibir mereka. Junmyeon melumat bibir Yixing, mencecap seluruh rasa bibirnya, seakan tidak pernah puas. Tangannya menyentuh pinggul Yixing dan dengan gerakan ahli melepaskan celana dalam Yixing di balik roknya, menurunkannya, dan membiarkannya menggantung di salah satu paha Yixing. Lelaki itu lalu membuka kancing celananya dan menurunkan ristletingnya, kejantanannya sudah tegak, menunjukkan betapa bergairahnya dia kepada Yixing.

"Naik ke atasku, sayang." Suara Junmyeon bagaikan perintah mistis yang membuat tubuh Yixing dibanjiri oleh dorongan sensual yang aneh. Dengan hati-hati Yixing naik ke pangkuan Junmyeon. Lelaki itu membimbingnya untuk menyatukan tubuh mereka perlahan, karena hal ini masih baru bagi Yixing. Ketika tubuh mereka menyatu sepenuhnya, Junmyeon menghela napas pendek-pendek, begitupun Yixing, yang masih tidak percaya dia melakukan hal seberani ini bersama seorang lelaki.

Tangan Junmyeon yang kuat merangkum pinggulnya dengan lembut dan membimbingnya untuk bergerak, "Bergeraklah sayang, puaskan dirimu dengan tubuhku…" bisik Junmyeon parau.

Dan Yixing bergerak, senang mendapati bahwa setiap gerakannya membuat Junmyeon menggeram penuh gairah. Dia bergerak dengan sensual, didorong oleh gairah alaminya sebagai seorang perempuan, dengan bantuan Junmyeon.

Mereka becinta sambil berhadapan, dengan posisi setengah duduk. Percintaan itu begitu intens karena mereka bisa menatap mata masing-masing. Melihat betapa nikmatnya gerakan mereka bagi satu sama lain. Ketika tubuh Yixing lelah, Junmyeon menopangnya, meletakkan kepala Yixing di pundaknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.

Dengan gerakan mulus, Junmyeon mendorong tubuh Yixing berbaring di karpet yang lembut tanpa melepaskan tubuh mereka yang bertaut penuh gairah. Ditindihnya Yixing dengan pelan tetapi sensual, diciumnya bibir Yixing lembut. Tubuhnya bergerak dan menggoda Yixing untuk mengikutinya terjun ke jurang kenikmatan yang dalam.

"Lingkarkan kakimu di pinggangku." Bisik Junmyeon serak, "Rasakan aku lebih dalam… ah sayang, kau mencengkeramku dengan begitu kuat"

Lelaki itu mendorong masuk semakin dalam, menggoda Yixing ketika melakukan gerakan seakan ingin melepaskan diri, tetapi kemudian mendorong lagi makin dalam. Mereka larut dalam pusaran gairah, sampai kemudian Yixing melambung tinggi ketika mencapai orgasmenya. Orgasme yang luar biasa, sambil mendongakkan kepala menatap langit penuh bintang, dalam pelukan suaminya yang luar biasa tampan. Junmyeon menyusul orgasmenya, dengan erangan tertahan dan semburan hangat di dalam sana.

Dengan lembut Junmyeon menarik diri, lalu menempatkan dirinya dengan nyaman di sebelah Yixing dan menarik tubuh Yixing terbaring di lengannya, memeluknya lembut dari belakang. Kepala Yixing ada di lekukan lengan dan lehernya. Junmyeon menundukkan kepalanya, dan membisikkan napas panasnya pelan, di telinga Yixing.

"Aku mencintaimu Yixing." Suara Junmyeon serak dan penuh perasaan. "Aku mencintaimu."

Yixing memejamkan matanya. Mengira dia sedang berada di sebuah mimpi eksotis bersama pangeran tampan di sebuah pulau terpencil.

.

.

.

Mereka terbangun dari tidur mereka, dan Junmyeon mengajak Yixing masuk karena udara mulai dingin dan angin malam bertiup kencang.

"Aku ingin semalaman di sana menatap bintang. Tetapi kita akan terbangun dengan kepala pusing." Junmyeon tersenyum lembut pada Yixing, dan menggandeng jemarinya, melangkah menaiki tangga putih itu.

Mereka sampai di kamar, dan tiba-tiba Junmyeon memeluk Yixing erat-erat di tengah-tengah kamar,

"Apakah kau mendengar pernyataan cintaku tadi?" bisiknya lembut.

Yixing menganggukkan kepalanya, dalam diam.

Junmyeon mendesah dan mengecup puncak kepala Yixing, lalu melingkarkan lengannya makin erat di seluruh tubuh Yixing,

"Aku bersungguh-sungguh Yixing, Pernyataan cintaku itu bukan euphoria dari orgasme yang begitu nikmatnya. Meskipun harus kuakui orgasme yang tadi luar biasa nikmatnya." Junmyeon tersenyum lembut, "Semoga nanti kau bisa membalas perasaanku."

Yixing pasti bisa. Kalau Junmyeon terus menyerangnya dengan sifat lembut dan penuh perhatiannya seperti ini. Bagaimana Yixing bisa bertahan? Dia pasti akan dengan segera jatuh ke dalam pesona Junmyeon Suhoander.

"Dan apapun yang terjadi nanti. Apapun yang akan terpapar di hadapanmu nanti, bagaimanapun buruknya nanti. Ingatlah malam ini, malam di saat aku mengatakan bahwa aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku."

Apa maksud kata-kata Junmyeon? Yixing merenung ketika lelaki itu memeluknya erat.

.

.

.

Perempuan itu sangat cantik bagaikan boneka Barbie. Kakinya begitu panjang dan jenjang, dipamerkan dengan indahnya karena dia mengenakan rok hitam sutra yang elegan membungkus pinggulnya yang bergoyang indah ketika dia sedang berjalan. Bagian atas tubuhnya lebih bagus lagi. Dadanya menggantung indah, membuat semua lelaki yang berpapasan dengannya pasti menoleh dua kali. Kalau bukan karena dadanya, pasti karena kecantikan wajahnya. Rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan panjang dan tebal, hasil dari penata rambut terkenal.

Jemari lentiknya dengan kuku yang di cat warna peach menjepit batang rokok di bibirnya, mengarahkan ke bibir ranumnya dengan warna peach yang sama. Bibirnya menghembuskan asap dengan elegan.

Perempuan yang sedang duduk sendirian di balkon rumahnya itu adalah ASulli. Seorang wanita pengusaha mandiri, dengan beberapa anak perusahaan di bidang desain interior yang sangat sukses. Sulli adalah perempuan bebas dan mandiri dengan aura yang sangat menggoda. Dan sekarang Sulli sedang gundah. Ditatapnya Luna, asisten pribadinya dengan tatapan tajam.

"Kau yakin informasi yang kau dapatkan itu benar?"

Luna menganggukkan kepalanya gugup. Dia telah bekerja bertahun-tahun dengan Sulli, tetapi entah kenapa aura mengintimidasi Sulli selalu membuatnya gugup. Perempuan itu mengingatkannya akan medusa, perempuan cantik yang dengan tatapannya bisa mengubah siapapun yang berani membalas tatapannya menjadi batu.

"Itu info yang saya dapat dari orang di perusahaan Tuan Junmyeon. Mereka mengatakan Tuan Junmyeon menikahi asistennya, Yixing, dalam pernikahan buru-buru di Pulau Dewata, dan sekarang sedang menghabiskan bulan madunya di pulau pribadinya."

Sulli menghembuskan asap rokoknya dengan kesal.

"Pernikahan buru-buru dan rahasia eh?" Senyumnya sangat sinis. "Aku ragu kalau Junmyeon mengingat untuk memberikan undangan kepadaku. Harus diakui aku sedikit sakit hati mengetahui dia dengan mudahnya melupakanku dan menikahi perempuan itu. Kau dapat fotonya?"

Luna menyerahkan foto yang dia dapat kepada Sulli. Sulli menerima foto itu, dan meletakkannya di meja.

"Baiklah, kau boleh pergi Luna."

Sepeninggal Luna, Sulli mengambil foto itu. Sebuah foto entah darimana yang bergambarkan Junmyeon sedang berjalan dengan perempuan yang kata Luna tadi bernama Yixing.

Yixing, betapa bencinya Sulli dengan nama itu. Itu adalah nama perempuan yang membuat Sulli merasa muak. Diingatnya malam-malam menyakitkan ketika dia bercinta dengan Junmyeon, dan Junmyeon memanfaatkannya dengan memanggilnya sebagai 'Yixing', membayangkan sedang bercinta dengan 'Yixing' meskipun saat itu dia sedang bercinta dengan Sulli.

Junmyeon tidak bersalah, Sulli memang sengaja membuat dirinya tampak tidak terlalu ingin menjalin hubungan yang mengikat. Karena dia tahu, kalau dia kelihatan ingin mengikat Junmyeon, kalau kelihatan setitik saja perasaannya kepada lelaki itu, maka Junmyeon akan langsung meninggalkannya. Lelaki itu menutup hatinya, dan akan langsung menjauhi siapapun yang memiliki perasaan lebih kepadanya. Karena itulah Sulli berpura-pura. Dan membiarkan Junmyeon berpikir bahwa hubungan mereka adalah hubungan tanpa status, saling memanfaatkan, tanpa ikatan apapun satu sama lain.

Padahal Sulli mencintai Junmyeon, sangat mencintai lelaki itu dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dan ketika Junmyeon memanggilnya sebagai Yixing, memandangnya sebagai Yixing, bercinta dengannya sambil membayangkan Yixing, perasaannya hancur lebur. Hancur, marah, dan terhina. Bukan kepada Junmyeon, dia terlalu mencintai lelaki itu. Tetapi kepada perempuan yang entah siapa dan di mana yang bernama Yixing.

Berani-beraninya perempuan itu mengambil hati Junmyeonnya? Membuat Junmyeon menutup hatinya untuk semua perempuan? Sulli ingin namanyalah yang dipanggil Junmyeon dengan penuh kerinduan, seperti ketika Junmyeon memanggil nama 'Yixing' dengan begitu lembut. Sulli sangat membenci perempuan bernama Yixing itu. Ingin membunuhnya jika perlu. Tetapi bahkan dia tak tahu perempuan itu ada. Dan dia sempat mengira bahwa perempuan itu hanyalah sosok khayalan Junmyeon.

Sampai kemudian kabar bahwa Junmyeon menikahi perempuan bernama Yixing muncul. Semula Sulli tidak percaya. Tetapi ketika Luna menjelaskan bahwa itu benar adanya, kemarahannya menggelegak, luar biasa hingga nyaris membakar hatinya.

Sulli mengamati wajah Yixing di foto itu. Gadis itu terlalu sederhana. Apa sih yang dilihat Junmyeon di sana? Dia merasa dirinya seribu kali lebih baik dari perempuan kecil yang tak bisa berdandan macam Yixing. Benarkah ini Yixing yang selalu dipanggil oleh Junmyeon itu? Atau dia hanyalah perempuan beruntung yang dinikahi Junmyeon secara impulsif karena kebetulan dia bernama Yixing?

Dengan gemas, dicolokkannya rokoknya ke wajah Yixing di foto itu. Menghancurkan wajah Yixing di foto itu dengan kejam. Siapapun perempuan itu, dia membencinya. Dan setiap orang yang dibencinya akan hancur!

Dia harus menyadarkan Junmyeon akan kesalahannya, sebelum terlambat. DIa harus membuat Junmyeon menyesal karena telah berani-beraninya meninggalkannya dan memilih perempuan yang sangat jauh di bawah levelnya.

Jemarinya meraih ponsel keemasan di mejanya, sebuah suara menyahut di sana, dan Sulli bergumam dengan suara serak dan seksinya.

"Aku perlu pergi ke sebuah tempat. Kau bisa mengatur perjalananku ke sana?

.

.

.

=TBC=

.

.

Fiuuuuhh...2 chapter sekaligus...semoga masih ada yang mau baca ya hehehe

Dari chapter 6 dst rated berubah menjadi M, yang dibawah umur silahkan di skip

Selamat membaca dan jangan lupa review

annyeong^^