Cinta itu perjuangan dan setiap perjuangan butuh pengorbanan.

(Apa itu barusan? -_-)a

#soonhoon #seventeen #yaoi #t

SUNBAE

Sembari bernyanyi-nyanyi kecil, Seokmin membersihkan area piss-pot dengan sikat di tangannya. Sesekali dia akan menyemprotkan cairan pembersih porselen cukup banyak pada area yang mulai berlumut dan menghitam lalu menyikatnya sambil menggerundel, mengomeli siapapun yang tidak bisa menjaga kebersihan dengan baik.

"Perasaan baru minggu lalu kita membersihkan tempat ini. Kenapa sekarang sudah kotor lagi?" celetuk Seokmin berlanjut dengan desisan ngeri 'iyuuh~' begitu menemukan satu spot paling parah di antara yang lain.

Hening.

"Aku curiga mereka bukan manusia." Setengah menutup mata, Seokmin mulai menggerakkan sikatnya. "Manusia tidak mungkin sejorok ini."

Masih tidak ada tanggapan.

Alis namja bermata sabit tersebut mengerut. Ditinggalkannya sikat di piss-pot lalu dia berjalan menuju salah satu pintu WC yang tertutup. Brak, dia membukanya menggunakan kaki dan langsung terlihat sesosok namja berambut perak dengan pipi chubby membengkak lebam yang sedang duduk nongkrong di atas closet yang dibiarkan tertutup. Alat penghisap kotoran ada di tangan kirinya.

Suara pintu yang ditendang tidak membuat Soonyoung terkejut. Dia hanya mengangkat wajah, mempertemukan pandangan matanya yang datar dengan Seokmin yang menatapnya tak percaya.

"Aku tidak tidur." Soonyoung membuat pengakuan tanpa diminta.

"Aku pikir kau mati tenggelam di kloset," dengus Seokmin membalas.

"Aku cuma bingung," desis Soonyoung, sedangkan sahabatnya sudah berbalik, berjalan menuju ke pekerjaan yang sempat terhenti.

"Aku juga bingung!" sahut Seokmin. "Bagaimana cara menyelesaikan hukuman ini sebelum latihan sepak bola dimulai? Membolos memang asik, tapi sepak bola lebih asik!"

"Seokmin-ah." Soonyoung tidak menanggapi satu pun kalimat temannya.

"Hm?" dan sepertinya Seokmin tidak keberatan.

"Menurutmu, kenapa Jihoonie Sunbae bisa begitu marah pada kita?" mata Soonyoung menerawang, mengingat lagi ekspresi merah padam Jihoon, sinar matanya, makiannya, dan ayunan kuat tasnya. Dia mengerikan, Soonyoung tidak menampik itu. Namun juga menggemaskan, caranya marah seperti anak kecil yang mengamuk saat tahu mainannya rusak, dan menurut Soonyoung hal tersebut sangat cute. Tanpa dia sadari, kedua pipinya sudah berwarna pink.

"Karena apa lagi? Tentu saja karena kita memecahkan pot 'kan?" suara Seokmin menyadarkan Soonyoung dari lamunannya.

"Tapi..." namja berambut perak itu menyentuh tepi bibir bawahnya, kebiasaan yang selalu dia perlihatkan jika sedang berpikir.

"Sunbae bukan anggota pengurus sekolah, bukan juga orang kedisiplinan, dia bahkan tidak ikut organisasi pecinta alam. Tapi kenapa dia bisa semarah itu karena kita memecahkan pot? Benar kata guru BP, Sunbae cuma perlu mengadukan kita dan masalah selesai," ujarnya berteori.

Seokmin terdiam sejenak. Ikut memikirkan kata-kata Soonyoung.

"Karena mukamu menyebalkan mungkin," celetuknya kemudian dengan asal.

"Yah—" Soonyoung memberi peringatan.

"Setiap kali sedang mode fanboy, mukamu selalu berubah menggelikan. Merah mirip pantat babon, jadi ingin menendang."

Dengan itu Soonyoung mengetatkan gigi lalu melompat dari tempatnya jongkok menuju ke Seokmin yang sudah lebih dulu kabur ke sudut toilet sambil tertawa puas.

"Kau juga—" Seokmin menambahi. "Kenapa tidak melawan waktu dipukul? Kenapa tidak menghindar? Hah!?" tuduhnya.

Wajah Soonyoung memerah untuk sesaat. Persis seperti yang dikatakan Seokmin barusan. Mirip pantat babon.

"S-Sunbae begitu kecil, k-kalau nanti aku membalas dia bisa luka—"

"Halah, bilang saja kau cuma mau dipegang-pegang Sunbae," olok Seokmin yang kembali membuat Soonyoung mengejarnya.

"YAH!" Seokmin menghindari pukulan temannya. "Selesaikan dulu pekerjaanmu baru memukulku. Aku tidak mau ketinggalan latihan sepak bola!"

"Aku juga ada latihan basket!" balas Soonyoung.

"KALAU BEGITU SELESAIKAN!" Seokmin ngotot.

"KAU YANG BRENGSEK CARI RIBUT DENGANKU!" tuding Soonyoung tak mau kalah.

"Tapi yang 'ku katakan semuanya benar 'kan!?" Seokmin masih menimpali. "Kau terlalu senang berada di dekat Sunbae sampai rela dipukuli begitu. Harusnya kau juga memikirkan AKU. Aku ikut dipukuli gara-gara kau, KUTU!"

"Berhenti memanggilku kutu, dasar KODOK!" Soonyoung kembali melompat hendak mendapatkan Seokmin yang lagi-lagi dengan gesit menghindarinya. Mereka berkejaran dan saling meloloskan diri dengan mudah seolah sudah hapal dengan gerakan lawan masing-masing.

"Yah, apa kau benar-benar menyukainya? Jihoon Sunbae?"

Soonyoung berhenti mengejar, sebuah senyuman ganti menghiasi bibirnya yang lebam membiru bekas tonjokan. "Dia imut 'kan?" ujarnya bangga.

"Kau mungkin bisa masuk UGD setiap hari," cibir Seokmin.

"Aku ingin melihat dia tertawa."

"Hah?"

"Sejak aku tahu dia, aku jarang melihat Jihoonie Sunbae tertawa," ujar Soonyoung.

"Aku dengar dia cukup pendiam dan serius. Dia hanya dekat dengan beberapa siswa saja. Dan karena dia mudah marah, tidak ada orang yang berani mendekatinya."

Soonyoung mengangguk-angguk. "Seungcheol Hyung juga mengatakan hal yang sama."

Hening sejenak.

"Jadi," gumam Seokmin. "Kau mau membersihkan closet kapan?"

"Bagaimana kalau aku mulai dengan mulutmu?" Soonyoung menyunggingkan senyum sarkastik sembari mengangkat alat penyedot kotoran di tangannya.

"Ha-ha-ha." Seokmin tertawa garing dan tanpa diperintah dua kali, dia langsung melompat kabur menghindari serangan sahabatnya.

"YAH! Berhenti mengejarku dan sedot saja closet-nya!" teriak Seokmin yang dibalas tawa oleh Soonyoung.

"Tidak ada closet yang mampet! Jangan kabur kau! Yah!"

"Ada! Ada! Ada! Yang paling ujung! Yang paling ujung! Yang paling ujung!" Seokmin mengerap sambil menunjuk pada pintu kamar mandi paling ujung yang tertutup. "Dari kemarin pintunya ditutup, katanya closet-nya mampet dan tidak bisa digunakan. Sepertinya juga belum diperbaiki. Coba saja."

Soonyoung berhenti berlari, menatap arah tudingan telunjuk Seokmin.

"Apa yang nyangkut sebesar itu?" desisnya penasaran. "Jangan-jangan bukan kotoran, tapi bayi—" lanjutnya kemudian membuka pintu kamar mandi paling ujung, di belakangnya menyusul Seokmin dan mereka berdua spontan menyeringai ngeri.

"Anjir~"

-part seven-


GAK ADA MOMEN SOONHOON DI KONSER DEMI APA BIKIN LAPERRRRR

Pelit ih -_-