Harry Potter Belongs to J.K Rowling
I only own the plot and some characters you didnt know
Happy reading!
7
xxx
A/N: Please bear with me. Maybe there's a thought 'When Draco and Hermione will do lemon thingy?' the answer is they will, but not now x)
Actually, write a story when the characters doesnt have any relation before is kinda need time before they could do romantic things. Because i have to focus on develop their feelings first. Step by step. From stranger become closer, then falling in love with each other and do romantic things.
But i'm pouring my best effort to make the process fast ^^
Anggi: Aku yang ngetik juga deg-degan kekeke terimakasih reviewnya!
Staecia: yeah, finally! Kekeke terimakasih reviewnya!
Nara: everybody hates Sophia(?) xD terimakasih reviewnya!
Albavica: Maybe yes, maybe no? x) terimakasih reviewnya!
Guest: makasih sudah like ff sayaa! I will do my best ^^ terimakasih reviewnya!
Azzaynzi: finally Draco Malfoy realize his feelings hohoho terimakasih reviewnya!
Guest2: here i deliver chapter 7! Terimakasih reviewnya!
Ijah: ini sudah next, ijah-san! Terimakasih reviewnya!
xxx
"APA!? Malfoy mencium bibirmu?"
"Pssh, pssh, Gin. Nanti Ron mendengarmu." Hermione meletakkan telunjuknya dibibir lalu mendekatkan handphonenya ketelinga. "Sudah kubilang berapa kali, kenapa kau masih tak percaya?!"
"Dia sedang menemui narasumbernya. Maksudmu Malfoy—Draco Malfoy?"
"Siapa lagi yang memiliki nama marga Malfoy selain Malfoy yang kita kenal?" Hermione memutar bola matanya kesal. Sahabatnya begitu tidak percaya pada ceritanya. Tapi memang bukan hal yang aneh kalau Ginny tidak percaya. Ia menyaksikan bertahun-tahun Draco Malfoy membenci Hermione Granger dan memanggilnya dengan sebutan mudblood. Kini mendengar cerita Draco Malfoy menciumnya, pastilah Ginny tak begitu saja percaya. Disatu sisi, ia tahu Hermione bukan seorang gadis yang suka mengada-ngada cerita. Apalagi soal lelaki.
Setelah lima bulan hidup sebagai muggle, Hermione tidak bisa lagi berpisah tanpa kontak lebih lama dengan sahabat sekaligus teman curhatnya, Ginevra Weasley. Ia tidak punya teman wanita yang benar-benar seperti saudara baginya layaknya Ginny. Bahkan dikampus muggle, Hermione belum memiliki teman dekat kecuali Ethan. Maka dari itu, ia memohon dan memohon pada Ginny untuk mengumpulkan beberapa galleon, lalu Hermione menukarnya dengan mata uang muggle London dibank, dan membelikan Ginny sebuah handphone yang memudahkan komunikasinya dengan gadis Weasley itu. Ginny bisa menghubunginya terlebih dahulu jika ia mau berkunjung atau kebetulan sedang ada di London Muggle. Kebetulan narasumber utama untuk penelitian tugas akhir Ron seringkali datang ke London muggle. Setiap akhir pekan, ia akan beralasan ikut untuk melihat-lihat dunia muggle. Lalu ketika Ron sedang mengurus tugas akhirnya, ia akan menelepon Hermione. Hanya sekedar mengobrol via telepon atau memberitahu Hermione bahwa ia akan mengunjunginya, lalu mereka berdua akan janjian untuk bertemu di apartemen Hermione atau ditempat lain.
"Bagaimana ia bisa menciummu, Mione?"
Hermione mau tak mau kembali mengingat kejadian dimana ia berciuman dengan lelaki pirang yang ia tidak pernah mengira ia akan menciumnya. Benar, Draco Malfoy bukan hanya menciumnya, Hermione Granger juga balas mencium lelaki itu.
"Ma-Malfoy, apa yang kau—" Hermione merasakan bibir Draco mencium bibirnya perlahan, Hermione tidak pernah menyangka akan merasakan bibir Slytherin's God of Sex itu dengan Cuma-Cuma. Gadis-gadis lain harus menggoda lelaki pirang itu dulu sebelum bisa merasakan ciuman seorang Draco Malfoy, sedangkan Hermione tidak berbuat apapun, Malfoy menciumnya dengan sukarela. Haruskah Hermione membanggakan dirinya sendiri?
Draco Malfoy memperdalam ciumannya di bibir gadis Gryffindor itu. Ia sedikit menghisap bibir bawah Hermione dan menggigitnya agar gadis itu membuka bibirnya dan memberi akses lidahnya untuk masuk. Dia mendorong lidahnya masuk kedalam mulut Hermione dan mengeksplorasi rongga mulut gadis itu lebih jauh. Lidahnya menyapu gigi Hermione satu persatu lalu menggoda lidah Hermione. Tangan kanannya terus mengusap pipi gadis itu sementara tangan kirinya memeluk pinggang gadis itu erat.
Hermione yang sudah terbawa suasana, mengalungkan kedua tangannya ke leher lelaki itu dan mengusap tengkuknya, lalu menekannya lembut untuk memperdalam ciuman mereka berdua. Bahkan gadis itu memiringkan kepalanya sedikit.
"Oh, Astaga." Hermione terkesiap kaget begitu bibirnya dan bibir Draco terpisah karena suara handphone Draco yang berbunyi agak nyaring. Hermione lalu terduduk kembali diatas tempat tidur sambil memegangi bibirnya. "Shit, aku berciuman dengan Draco Malfoy." Umpatnya pelan. Masih jelas di bibirnya, bagaimana rasa bibir Draco menciumnya. Bagaimana ia merasakan kupu-kupu berterbangan didalam perutnya ketika Draco menciumnya dengan lembut, sangat lembut.
"Ya, hei Dear. Aku juga merindukanmu. Ya, aku tahu aku sudah melihatmu hari ini.. I think i know why people said 'eventhough i am seeing you, i want to see you again' it happens to me now.."
Hermione bisa saja larut-larut dalam perasaannya atas ciuman mendadaknya dengan Draco, namun obrolan Draco ditelepon membunuh kupu-kupu didalam perut Hermione sekaligus. Pasti Sophia yang menelepon. Pikirnya cepat.
"Gin, aku tutup dulu teleponnya, nanti aku telepon lagi." Hermione cepat-cepat menyentuh gambar telepon merah begitu ia mendengar pintu apartemen terbuka.
"Tunggu, Mione—siapa itu Soph—"
Pik.
"Kau sudah pul—ang?" Hermione tersenyum canggung begitu melihat Draco Malfoy melonggarkan dasinya sambil berjalan masuk keruang televisi.
xxx
"Apa ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Malfoy?" Ethan menatap Hermione yang mendadahi Draco yang mengantarnya dengan canggung. Sangat canggung. Tidak biasanya Hermione terlihat begini canggungnya dengan si pirang Malfoy itu. Ia biasanya keluar dari mobil, lalu sedikit memarahi lelaki itu akan kekacauan yang ia buat diapartemennya dan selalu diakhiri dengan; 'Jemput aku tepat waktu. Angkat teleponku, kalau kau mau mengajakku makan siang, aku sedang ingin makan..' dan ia akan memberitahu lelaki itu makanan apa yang ia ingin makan siang itu. Tetapi hari ini berbeda. Pipi Hermione memerah begitu Draco Malfoy menurunkannya didepan kampus dan memesankan padanya untuk belajar dengan baik. Tentu saja hal ini adalah hal yang baru pertama kali Ethan lihat.
Hermione menggelengkan kepalanya cepat. "Tak ada. Tak ada yang terjadi. Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?"
Ethan mengedikkan bahunya lalu menggenggam tangan gadis berambut cokelat disebelahnya itu perlahan. "Kau terlihat begitu canggung dengannya."
"Be-begitu?"
"Kau terdengar gugup. Kalian bertengkar?" Ethan terkekeh dan mengusap dahi Hermione dengan tisu. Gadis itu berkeringat hanya karena pertanyaannya soal Draco Malfoy. Pastilah terjadi sesuatu diantara mereka berdua, pikir Ethan.
"Tidak. Aku tidak bertengkar dengan siapapun." Hermione menggelengkan kepalanya lagi lalu menenangkan dirinya. "Ngomong-ngomong, kau sudah mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan hari ini?"
xxx
From: Hermione Granger
Lain kali saja, Malfoy.
Aku sedang menyelesaikan tugasku.
Draco merenyitkan Dahinya membaca pesan balasan dari Hermione. Ia mengajaknya makan siang –seperti biasa- tetapi tumben-tumbenan gadis itu menolaknya. Draco lalu menelepon gadis itu.
"Kau dimana?"
"A-aku? Ke-kenapa kau bertanya?"
Draco mengangkat sebelah alisnya mendengar nada bicara Hermione. Sangat canggung—cenderung dipaksakan. Ia tidak paham, sudah empat hari Hermione bersikap seperti ini padanya. Ia bingung memikirkan apa yang terjadi dengan gadis itu. Apakah dia lelah? Atau sedang menstruasi? Atau Draco dengan cerobohnya membuat kesalahan? Ia sudah menanyakan ketiga hal itu pada Hermione dan hanya satu jawaban gadis itu 'Ti-tidak. Bukan begitu.' Dengan nada bicara super canggung.
"Aku mengajakmu makan siang dan tidak biasanya kau menolak."
"Akusedangmengerjakantugasku, ,dah."
Draco bahkan tidak menangkap apa yang Hermione katakan. Gadis itu berbicara dengan sangat cepat-ya, secepat Hogwarts express, lalu menutup teleponnya begitu saja. Membuat Draco menatap heran kearah handphonenya.
Sebenarnya apa yang salah dengan Gadis itu, sih?
xxx
"Zabini? Nott?" Hermione berlari kecil kearah dua Slytherin yang dikenalnya itu. Mereka berdua terlihat sedang memegang fotonya. Hermione segera menghampiri mereka berdua sebelum kejadian yang sama terulang lagi. Ketika satu kampus mengenalnya karena Harry, Ginny dan Ron beberapa bulan yang lalu. Pasti mereka ingin menemui Draco dan lagi-lagi Profesor Mc Gonagall hanya bisa menyebutkan nama kampus Hermione.
Kedua lelaki itu menoleh dan sedikit linglung, tidak begitu mengenali siapa yang mengajaknya bicara. Blaise Zabini dan Theodore Nott hanya bisa memandang Hermione. Mereka berdua merasa seperti mengenal orang yang memanggil nama mereka, tetapi siapa gadis cantik ini?
"This is me, Hermione Granger!"
"Demi kolor Merlin! Granger?" Blaise langsung mencengkram kedua lengan Hermione dan menatap gadis itu dengan seksama. "Benar, kau Hermione Granger.."
"Bagaimana kau bisa—" Theodore Nott bahkan terus saja menatap gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mengagumi betapa cantiknya gadis yang sejak dulu ia selalu ikut mengejek ketika Draco mengejeknya. Gadis itu mengenakan gaun selutut longgar berlengan panjang berwarna rose, rambutnya tergerai indah, ia memakai sedikit riasan dengan lipstick warna peach. Sederhana namun sangat cantik.
Hermione menyeringai. Diam diam ia sangat bangga membuat dua sahabat teman satu rumahnya itu terpesona padanya. "Ada perlu apa kalian disini? Biar kutebak... kalian pasti ingin mengunjungi Malfoy?"
"Y—ya." Nott tidak bisa melepas matanya dari gadis didepannya itu. Jika tahu Hermione Granger akan menjadi begini cantik, ia bersumpah akan mengambil dunia muggle sebagai tema tugas akhirnya dan tinggal satu apartemen dengan gadis itu.
"Apa kalian kesini naik sesuatu?"
"Y-ya. Kami menyewa sebuah mobil.. apa kau mau—mau mengantar kami menemui Draco?" tanya Blaise Zabini terbata-bata.
"Tentu saja! Berikan kunci mobilmu?"
xxx
Hermione memarkirkan mobil sewaan Blaise Zabini dan Theodore Nott diparkiran Malfoy Corps, ia tiba-tiba teringat akan kejadian cium menciumnya dengan Draco tempo hari, keringat dingin bercucuran dikeningnya. Ia terlalu bersemangat memamerkan dirinya sampai lupa, dan mengantarkan kedua lelaki itu menemui Draco.
"Uh-Oh, Ruangan Malfoy pasti disalah satu lantai digedung ini.." Hermione tersenyum agak canggung sembari memberikan kunci mobil ketangan Nott. "Aku harus kembali kekampus, jadi..."
Tampaknya, hari ini Nott dan Zabini mempunyai pemikiran yang sama. Keduanya lantas menarik tangan Hermione untuk menemani mereka menemui Draco Malfoy. Pesona kecantikan Hermione Granger ternyata mampu membius mata keduanya untuk memandangi gadis itu lebih lama. Mereka tak akan lama didunia muggle, Profesor Mc Gonagall tidak memberi keduanya izin berlama-lama mengunjungi Draco. Pukul tujuh sore, mereka harus segera kembali ke Hogwarts. Jadi mereka ingin memandangi Hermione Granger lebih lama.
"Apa kalian sudah ada janji dengan Mr. Malfoy?" tanya wanita resepsionis begitu Blaise mengatakan mereka ingin menemui Draco Malfoy.
Theodore Nott menggelengkan kepalanya lalu mengedipkan sebelah matanya kearah wanita itu. "Tidak, tapi kami adalah sahabat baiknya. Sebaiknya kau memberi tahu kami dimana ruangan Draco, sweetheart."
Wanita resepsionis itu mendelik galak pada Nott. Air wajahnya seakan tidak percaya bosnya yang begitu berwibawa memiliki teman seorang penggoda seperti ini. Dia lalu mengangkat gagang telepon dan menelepon Draco. "Ya, sir. Baiklah." Gadis itu meletakkan gagang telepon ditempatnya dan menatap kedua lelaki didepannya yang kelihatan fokus kepada gadis ditengah-tengah mereka yang terlihat jengah. "Mr. Malfoy menunggu anda dilantai 9."
Didepan lift dilantai 9, Draco sudah menunggu kedua sahabatnya itu untuk datang dan ia menyeringai melihat pintu lift terbuka perlahan. "Blaise! Theo!" Draco berjalan kearah mereka berdua dan memeluk keduanya bersamaan. "Granger?" wajahnya kembali terlihat serius melihat gadis berambut cokelat itu berdiri tidak jauh dari kedua sahabatnya.
"Siapa yang datang, Drake?" seorang gadis berjalan kearah mereka dan memeluk Draco dari belakang. "Kita kedatangan tamu?"
Hermione sedikit sebal melihat Sophia datang dan langsung memeluk Draco Malfoy dari belakang. Ia ingin pergi. Tidak tahan berada diantara tiga Ular Slytherin dan satu Ular penggoda, tetapi tangan Blaise dan Theo melingkari pundaknya seolah-olah melarangnya pergi.
"Wow, 'Drake'? kau punya kekasih?" Blaise menggoda Draco dan menonjok pundak lelaki pirang itu pelan.
"Soph, pergilah keruanganmu. Biarkan aku menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabatku?" Draco sedikit mendorong Sophia sebelum menarik kedua sahabatnya masuk kedalam ruangannya. Matanya menangkap Hermione menundukkan kepalanya. "Granger, kau akan kembali ke kampus? Ngomong-ngomong, kau kesini naik apa?"
Blaise lalu menjawab, mereka diantar Hermione menggunakan mobil muggle yang mereka sewa. Draco kembali menatap Hermione Granger yang kembali menundukkan kepalanya begitu mata kelabu lelaki pirang itu memandangnya. "Biar kuantar kekampus.."
"Tidak perlu—"
"Soph, bawakan kopi dan camilan untuk teman-temanku dan isi ulang kopiku." Draco menaruh jasnya lalu mengambil kunci mobilnya, sedikit menarik Hermione yang masih menundukkan kepalanya. Menghindari tatapan langsung dengan Draco, juga menghindari tatapan galak dari asisten Draco yang sejak ia tiba memandangnya dengan tatapan tidak suka.
"Kau mau kemana—Drake?" mata wanita itu menangkap Draco yang menyeret gadis penyihir itu masuk kedalam lift. Ia berdecak sebal.
xxx
"Man, kalau tahu Granger secantik itu, aku akan meneliti soal muggle juga agar bisa tinggal dengannya.." Theo lalu memandang Draco yang baru kembali dari mengantar Hermione kekampusnya. Dia menepuk-nepuk pundak Draco keras.
Draco hanya menyeringai lalu duduk disofa, disebelah Blaise yang sibuk dengan kopinya. Setelah meminta Blaise menggunakan Silencing Spell -karena ia tak boleh menggunakan sihir sama sekali-, ia akhirnya agak mengeraskan suaranya ketika berbicara. "Yeah, she is pretty as fuck. Aku tak akan mengelaknya."
Theo mengambil biskuit yang tadi disediakan oleh Sophia dan menyeruput kopinya pelan. "Your assistant is a 'bad girl' isn't she?"
"She did something to you before i came?" Draco mengangkat sebelah alisnya dengan pandangan tertarik dan menatap Theo yang masih sibuk dengan kopi dan biskuitnya—mengacuhkan pertanyaannya. Entah apa yang membuat Theo begitu menikmati kopi-dan biskuit yang dihidangkan Sophia. Padahal rasa-rasanya, kopi didunia muggle sama saja dengan kopi yang selalu ia minum di hogwarts. "Theo, come on. Kau tak makan sarapanmu pagi tadi?"
Theo akhirnya menatap Draco dan mengedikkan bahunya atas pertanyaan sahabatnya barusan. "She did nothing, it's just a man's instinct." Lalu lelaki itu kembali sibuk dengan biskuit dan kopinya. "And, yeah. Aku tidak memakan sarapanku. Aku tidak turun ke aula besar untuk sarapan."
"Dia terlalu sibuk bercinta dengan Pans pagi ini." Jelas Blaise membuat Draco menganggukkan kepalanya paham. Sebagai lelaki, ia paham kenapa Theo terlihat begitu lapar. Energinya pasti habis disedot Pansy tadi pagi. "Kami harus kembali pukul tujuh. Sayang sekali, aku masih ingin melihat Granger."
"Bagaimana rasanya hidup dengan Granger?" tanya Theo setelah menghabiskan satu piring biskuit—plus kopi milik Draco yang tak juga diminum oleh lelaki pirang itu.
Draco mengedikkan bahunya lalu mengambil handphonenya dan memesan satu bucket fried chicken untuk Theo yang kelihatan masih lapar. "She is fine. A-kindhearted-roommate.. and—"
"Dan?" tanya Blaise dengan tatapan tertarik melihat Draco terbata-bata menjawab pertanyaan yang ditanyakan Theo barusan. "Jangan bilang kau.."
"What? No—actually yes. Dia semakin cantik setiap hari, dan rasanya semakin sulit untukku mengendalikan diriku sendiri untuk tidak menyentuhnya." Draco mengacak-acak rambutnya. Entah sejak kapan ia menginginkan Hermione Granger dan ia tidak mengelak bahwa akhir-akhir ini agak berat untuknya melihat gadis itu didekati lelaki lain. "Dan ketika aku sudah tidak bisa menahan—"
"When you couldn't hold it anymore, That's when you sleep with your secretary." Tebak Blaise tepat membuat lelaki pirang Malfoy itu mengacak-acak rambutnya. Untuk yang kedua kalinya. "Because that blue eyed lady is a bad girl that you could easily bring to bedroom." Ucap Blaise lagi.
"And Granger is not a girl that i want to sleep with just because i'm horny." Draco menatap kedua sahabatnya dengan tatapan memelas. Tidak tahu apa yang ia rasakan pada gadis itu. "Am I...?"
Theo dan Blaise mengangguk bersamaan. "Obviously, you are, Draco."
xxx
"Granger?" Draco sesekali menoleh kearah Hermione yang sedang sibuk dengan laptopnya diruang televisi. Draco yang sedang memakan steak yang ia beli diperjalanan pulang –setelah Blaise dan Theo berpamitan pulang pukul tujuh- memanggil Hermione yang belum memakan steak bagiannya. "Sudah pukul delapan, kau tak akan makan malam?"
"Y-ya, aku akan memakannya sebentar lagi."
"Ada apa denganmu?" Draco cepat-cepat menyelesaikan makannya lalu duduk dihadapan Hermione yang langsung menundukkan kepalanya menghindari mata Draco Malfoy yang menatap lurus kearahnya. "What did i do?" tanya Draco. Memastikan lagi, kesalahan apa yang ia perbuat kepada gadis itu.
Hermione menggelengkan kepalanya cepat.
"Do we need to talk?"
Hermione menggelengkan kepalanya lagi dan menghela nafasnya. Draco lalu dengan paksa menutup layar laptop Hermione, agar gadis itu menatapnya. Apanya yang tidak apa-apa? Akhir-akhir ini gadis itu tidak mau menatapnya, menghindarinya dan terlihat terlalu canggung. Gadis itu bahkan berhenti mengcereweti atau mengomelinya jika dia berbuat salah. Come on, Draco Malfoy selalu merasa ada yang kurang beberapa hari ini. Ia meneliti, menganalisa apa yang kurang. Ternyata Granger dan omelan-omelannya-lah yang absen beberapa hari ini. Jujur ia lebih suka Hermione Granger yang cerewet ketimbang Hermione Granger yang pendiam seperti ini.
"I've broke rules number two and three, and you say nothing. No complain and no—" Draco kembali menatap kearah Hermione yang mau tak mau menatap kearah lelaki pirang itu. "Apa yang terjadi denganmu?"
Hermione terdiam, tak menjawab. Jari jempolnya perlahan mengelus bibirnya sendiri.
"Apa kau bersikap seperti ini karena ciuman kita beberapa waktu yang lalu?" Draco mengangkat sebelah alisnya, dahinya merenyit heran. Tidak pernah ada gadis yang mempermasalahkan ciuman dengannya. Bahkan ketika mereka tahu Draco hanya memberikan ciuman iseng—dan ciumannya untuk Hermione Granger bukanlah sebuah ciuman iseng. Hermione seharusnya tahu itu. "Granger, ini sudah lewat berhari-hari sejak hari ciuman kita! Aku tak percaya kau masih merasa cangg—jangan bilang?"
Hermione menundukkan kepalanya lagi.
"That was your first kiss?"
xxx
Draco menatap Hermione disebelahnya yang sedang membaca buku. Setelah mereka berdiskusi—berdebat lebih tepatnya—beberapa hari yang lalu, Hermione kini kembali jadi Hermione yang Draco kenal. Tukang ceramah, perfection girl, dan tak jarang gadis itu mengomeli Draco karena ia melakukan kesalahan sepele. Seperti menuang terlalu banyak sabun ketika lelaki itu mencuci piring atau memakan pasta gigi rasa strawberry milik gadis itu.
Draco Malfoy masih tidak percaya kalau dia adalah ciuman pertama Hermione. Hell, Viktor Krum missing a lot of things about her. Bukankah Viktor Krum sangat bodoh?
"Granger."
Hermione mendelik sebentar kepada Draco sebelum kembali fokus pada bukunya. Buku psikologi manusia yang ia pinjam dari perpustakaan dikampusnya. "Hm?"
"How's your first kiss tastes like?" Draco menyeringai lalu menatap Hermione.
Hermione menutup bukunya lalu menatap Draco yang sudah menatapnya sejak lelaki itu memanggilnya. "Now i knew why girls called you with 'Slytherin God of sex' you are a professional kisser and i guess you're a professional on the bed as well.. Tapi aku tak merasa ciuman kemarin spesial. Aku memang canggung. Tetapi itu hanya karena ciuman kemarin adalah ciuman pertamaku. Aku tak akan memungkiri, aku merasa ada jutaan kupu-kupu berterbangan didalam perutku ketika kau menciumku..."
Draco menatap Hermione tidak percaya—gadis itu kini semakin buka-bukaan padanya. Apakah setelah ciuman kemarin Hermione merasa dirinya semakin intim dengan Draco Malfoy?
"Tetapi pembicaraanmu di telepon dengan Sophia—entah bagaimana kupu-kupu di perutku terbunuh seketika.." Hermione tersenyum pada Draco yang masih menatapnya dengan heran. Apa tadi katanya? Apa yang terbunuh? "Excitement yang aku rasakan, hati berdegup kencang seperti aku sedang naik roller coaster, hilang seketika."
"Apa kau mau merasakannya lagi? Akan kupastikan kupu-kupu diperutmu tak terbunuh kali ini."
"No, Malfoy." Hermione menggelengkan kepalanya dan mendorong kedua bahu Draco yang sudah mendekatkan wajahnya kearah wajah gadis itu untuk menciumnya lagi. "Aku akan berkencan dengan Ethan besok.. rasanya berdosa sekali jika aku meladenimu sementara aku menggantung pernyataan cinta darinya. Kau tahu maksudku."
"Kau tak boleh pergi kemanapun besok."
"Malfoy.."
"Kalau kubilang tidak, berarti tidak."
xxx
To be Continued.
So, Read and Review? Let me know your thought about this chapter!
