Aokaga.
Di mata Aomine, menjalin hubungan itu gampang.
Ia adalah orang yang berteguh erat dengan santai dan menurut dia mencintai seseorang dan menjalin hubungannya bukan suatu obligasi. Bahkan dalam kondisi apapun ia akan tetap santai, intinya Cuma satu: percaya.
Jadi, saat suatu malam setelah makan malam, Kagami tengah mencuci piring karena ini gilirannya dan Aomine tengah terlentang di sofa mereka, Kagami menanyakan suatu pertanyaan yang unik:
"Hey, Aomine… kau tau tidak aku punya penguntit?"
Tidak, dia tidak tahu.
Pertanyaan itu mungkin membuat beberapa orang gelisah, kekasihnya mendapat penguntit dan ia tidak tahu siapa atau seperti apa orangnya. "Tidak."jawabnya masih dengan nada santai sembari mencari-cari channel yang ia suka.
"Ya… ada satu orang yang kata Kuroko selalu mengikutiku."
"Hmm…" gumamnya, tidak berbalik badan. Sepertinya Kagami telah selesai mencuci dan tengah menyender di ambang pintu dapur, suaranya terdengar jelas di belakang Daiki dan ia dengar esapan minuman.
"Ugh, kenapa kau santai banget, sih?" gumam kagami, suaranya bergema dalam mug dan Daiki hanya menoleh dengan tatapan datar dan balik untuk berhenti di channel olahraga menonton liga balap (ia tidak menemukan channel yang ia temui tetapi ia butuh suara TV untuk meredam kecanggungan),
"Apa dia dari tim basket juga?"
Kagami hanya melipat tangannya di dada, "Ya."
"Apa dia satu fakultas denganmu?"
Ia melihat bayangan Kagami dari sisi TV, tengah menengadahkan kepala sembari berpikir, "Ya kalau tidak salah aku pernah melihatnya di ruang prodi."
"Ooh… apa dia lebih tinggi darimu?"
"Eng-enggak."
"Apa dia lebih ganteng dariku?"
"…Enggak,"
Aomine balik memperhatikan TV. Ia tidak mengerti balap dan ia akhirnya mengganti channel dengan MTV Asia… mmm, ada Iggy Azalea, tubuhnya bagus—
"Itu saja?!" Kagami terlihat terperangah. Ia segera meletakkan mug-nya di meja, menghadap tubuh malas Aomine. "W-wuh, apa kau tidak cemburu atau… takut atau ingin meninjunya…?" wajahnya terlihat tidak percaya dan sedikit kesal, pacarnya sendiri tidak peka atau sedikitpun merespon dengan sesuatu yang heroik? Bukannya ia ingin diselamatkan tapi kan,
"Dan mengapa aku harus cemburu? Aku posesif tetapi aku tidak cukup buta untuk hal receh seperti itu. Jika dia menyentuhmu, itu kasus lain."Aomine akhirnya mengecilkan suara TV, "Kagami... kau sama kuatnya denganku dan kau takut stalker kecil? Kalau aku mencari masalah kamu mau aku dilarang main basket dengan Akashi atau Kasamatsu?" ia menatap wajah Kagami yang cemberut dengan geli.
Kagami menahan tatapan datar untuk menyembunyikan jantungnya yang berdesir mendengarkan kata-kata pacarnya itu. Mengetahui Aomine bisa posesif terhadapnya membuatnya diam-diam senang. "Ya... iya sih,"
"Kagami... aku mempercayaimu."
Aomine merubah posisinya untuk duduk dan menepuk sisinya untuk Kagami duduk. Ia bersila dan menaruh kepalannya di dagu. Kagami merasa kupingnya merah ditatap langsung seperti itu. Jadi ia menjawab, "Aku tidak takut dijahati atau apa, cuma kadang kau tau betapa menyeramkan kelakuannya apa!"
"Pfft. Separah apa, sih?"
Seminggu sebelum ini, Kagami tengah selesai mandi di kamar mandi gym, ia hanya berbalut handuk dan sebagian juga seperti itu. Ia melihat Kuroko di balik lokernya tengah memakai deodorant, Kise akhirnya datang ke latihan dan tengah keluar kamar mandi sembari mengibas rambutnya. Rutin, rutin. Ia tidak pernah hapal semua anggota karena banyak sekali mahasiswa baru yang bagus dan lolos tes. Kapten yang baru (tidak heran) adalah sang mantan kapten Kaijou, Kasamatsu Yukio, ada beberapa dari SMA lain seperti temannya Kuroko, Ogiwara. Takao, Himuro (mereka tidak janjian tetapi ternyata seperti ini kenyataannya), Wakamatsu, eh… dan semua Kiseki no Sedai yang ternyata sengaja masuk universitas yang sama. Sudah.
Hanya beberapa orang dekat yang memang dari SMA ia kenal, bukan mahasiswa-mahasiswa yang bahkan dari kota-kota selain Tokyo. Ia pun tidak mengenal cowok di loker sebelah yang bernama Kido Eisuke.
"N-naizu zik."
Ia melirik bingung, menatap sampingnya sembari memasang celana, merasa bingung apa ia diajak omong atau tidak. "Uh… kau ngomong padaku?" tingginya mungkin se-Kise, berbadan lebih kekar tetapi. Bermata coklat, rambut sedikit ikal berpotong low-cut yang sudah sedikit memanjang.
"Naizu zik."
Kagami benar-benar bingung apa itu bahasa lain dan orang ini tidak bisa berbahasa jepang atau apa tetapi setelah benar-benar memahami apa yang ia dengar, ia hanya mengerjap-ngerjap bingung.
Ia meringis sembari mengoreksi, "O-ooh… nice dick?" ia ingin berkata kasar, merasa diperogol tetapi ia tidak mau memulai masalah dan hanya menutupi kakinya (yang sebenarnya sudah memakai celana) dan tertawa gugup.
"Yeah, zat wats ai zed."
Ia ingin mendengus—bahasa inggrisnya seburuk Aomine—tetapi ia hanya menatap alien yang disampingnya. "Eh… ya." Ia buru-buru mengganti baju dan memasukkan barangnya secara asal k etas olahraganya, "aku balik dulu."
Saat ia berbalik, cowok itu melanjutkan, "Aku Kido Eisuke! Kapan-kapan ngobrol lagi, Kagami Taiga!"
Ia hanya melambai ngasal dan mencoba tidak merengut saat melihat tatapan bertanya Kise dan Kuroko, ugh… dia harus menjauh dari Kido Eisuke ini.
Ia salah, ternyata setelah kejadian itu, ia bisa merasakan dan melihat Kido Eisuke dipandangan matanya. Kadang jauh, kadang dekat, kadang sedang mengangkat ponselnya yang Kagami yakin tengah memotretnya. "Kagami-kun harus memberi tahu Aomine-kun tentang ini," ujar sahabatnya suatu saat mereka tengah makan siang.
"Aomine… berhenti ketawa, bego!"
Aomine tidak tahan, ia guling-guling walau ia tahu pacarnya tengah dongkol apa lagi saat ia disamakan kemampuan bahasa inggrisnya kepada orang aneh itu. Ia ingin menyuruh pacarnya untuk berterus terang kepada Kido Eisuke bahwa dia sudah pacaran, tetapi sepertinya pacarnya bukan tipe yang suka menyakiti secara verbal—alasan, menurut Aomine, karena apa salahnya berkata apa adanya walau menyakitkan—"Aku—aku tidak kuat HAHAHA…!" ia segera menghapus air matanya dan segera menepuk pipi pacarnya, "emang dia tidak tahu kita sudah berpacaran?"
"Em, halo, apa kita terlihat seperti pasangan di mata publik?"
Aomine memikirkan waktu-waktu mereka bersama, saat makan siang bersama atau saat latihan… ya, mereka seperti sepasang rival kalau dilihat dari argumen ribut yang sering mereka lakukan. "Eh, tidak."
"Tuh…" makanya sedikit romantic, dong. Kagami ingin melanjutkan tapi tidak… harga diri sudah cukup tergerus oleh pacarnya.
"Ya, sudah… besok aku akan berbicara kepada si Kido ini dan kau tenang saja, oke, mi idiota?"
"Hmm… ya, tidak apa-apa… hei! Kau panggil aku bodoh?!"
Jadilah, mereka tidak membahas hal stalker-stalker ini dan melanjutkan menonton televisi. Tetapi, sebenarnya Aomine mulai berpikir. Ia menjadi sedikit penasaran, apa Taiga punya stalker selain ini? Apa ada yang naksir dengannya? Apa harus ia bersikap lebih… seperti pasangannya di depan orang-orang?
Ia tidak pernah benar-benar memikirkan tentang orang-orang disekitarnya, ia pikir ia tidak memonopoli. Ia juga bukan orang yang kurang percaya karena ia tahu Taiga tidak akan selingkuh atau apa. Tetapi, ini mungkin menjadi sesuatu yang baru, mengingat ia selalu berpikir apa yang Taiga pikirkan hanya basket, basket, basket. Ia tidak pernah tanya siapa orang sebelum dia yang ia sukai, ia tidak mau dikonsumsi kecemburuan. Daiki tahu bagaimana jika ia cemburu.
"Hei…" ia memulai, "…kalau dia menguntitmu, apa ia tahu apartemenmu?" tanyanya mencoba bernada santai.
"Hm? Ah… mungkin. Maksudku, sudah seminggu dia melakukan itu, kan?"
"Hm…" Daiki segera beranjak, menyalakan lampu mereka karena selama ini mereka hanya diterangi lampu antara dapur dan ruang tamu, yaitu di atas meja makan. Dari luar, terlihat siluet Daiki tengah berdiri, Daiki segera berjalan menuju jendela balkoni.
Ia menyibat gorden itu dan melihat, memang benar, seorang anak muda dengan jaket olahraga dan topi cap tengah duduk di lampu taman seberang parkiran apartemen. Ia tidak mau menunjukkan banyak dan kemungkinan ia mengira itu Kagami yang berdiri, melihat anak muda itu segera menengadah. Aomine sengaja tidak memanggil Kagami bahwa ya, stalkernya sedang menunggunya (Aomine curiga stalkernya juga melihat pacarnya ganti baju, mengetahui jendela kamar Kagami menghadap taman juga. Ia harus menukar dengan kamarnya yang di sebelahnya).
Ia menguap, lalu merenggangkan lengannya, Kagami menengadah bingung, "Sudah mengantuk?"
Aomine mengangguk sembari menunggu Kagami mematikan televisinya dan beranjak dari duduknya. Aomine segera menarik pacarnya itu dan mendekati punggungnya ke jendela itu. Ia tahu ia licik, membuat bayangan dua orang pria tengah berdekatan. Ia melingkari lengannya ke pinggul Kagami dan pacarnya hanya menatap bingung. Kagami membalas melingkarkan lengannya ke leher Aomine, menempelkan seluruhnya kepada pacarnya sembari tersenyum sayang.
Aomine mencium bibirnya sembari menempelkannya ke jendela balkoni, menyibak gorden berwarna beige itu dan menunjukkan sebagian tubuh mereka. Kagami tengah memejamkan mata saat ia merasa tidak nyaman dengan jendela yang terbuka itu.
"Mmm… Aomine, jendelanya…" gumam Kagami, tangannya kirinya melambai untuk menutup gorden itu tetapi Aomine menahannya, memperdalam ciumannya dengan menelengkan kepalanya.
Kagami mengerang pelan dan Aomine membuka matanya, melihat dengan puas saat stalker pacarnya itu berdiri dan berjalan ke arah parkiran dengan pelan, menikmati wajah shok dan kamera yang diturunkan. Menikmati sampai penguntit itu berlari pergi saat sadar atas kelakuan Aomine yang disengaja.
.
.
"Yo…"
Ini bukanlah hari terbaik untuk Kido Eisuke.
Ia baru saja patah hati oleh gebetannya yang ternyata sudah punya pacar dan tertangkap basah tengah menguntit apartemen gebetan tersebut dengan pacar gebetannya. Sekarang, saat ia menjauhi kantin kampus, ia dijegat oleh Aomine Daiki, si pacar.
Nama Aomine memang cukup terkenal, walau dari berjibunnya mahasiswa baru di universitas ini. Ia sangat terkenal di kalangan klub basket dan beberapa mahasiswa asal Tokyo karena SMA-nya juga SMA terkenal. Ia tahu Aomine jarang masuk latihan dan ia tahu Aomine dulu SMP di Teikou, satu SMP dengan wakil ketua klub basket universitas dan ketua klub basket fakultas hukum (Akashi Seijuurou) dan salah satu anggota Kiseki no Sedai.
Intinya, saat ia tahu—secara konkret—bahwa Kagami Taiga adalah pacar Aomine Daiki, Kido Eisuke merasa dalam masalah besar.
"Eh…" ia tidak membalas tatapan pria sawo matang di depannya itu dan mencoba melewati lorong kampus yang sesak orang itu.
"Kido, bukan?" pertanyaan itu simpel tetapi membuatnya keringat dingin.
"I-i-iya…" ia terbeku antara dinding dan tatapan angkuh iris biru laut itu.
"Lihat mataku." Suara itu rendah dan superior, Kido segera membalas tatapannya. Ia rasanya ingin kencing di celana dan berjanji untuk mendekati gebetannya dengan cara lebih aman.
Tetapi, melihat wajah ketakutan itu Aomine merasa kasihan, ia tidak menyangka bisa bersandiwara seperti bad-boy yang dulu ia sandingkan tapi ia berhasil membuat takut orang yang mengeceng pacarnya ini.
"Keh, kau takut aku atau apa?" ia menggoda dengan suara remeh.
Kido Eisuke hanya menatap bingung sembari takut-takut menjawab, "Y-ya…"
Mendengar jawaban menyedihkan itu Aomine terbahak, "Ampun, dah." Ia tidak bisa berhenti walau Eisuke terlihat malu dan sakit hati, orang-orang memperhatikan mereka dan beberapa terlihat menatapnya ejek. "Haah… kau suka pacarku?"
Aomine berhenti tertawa, sekarang menatap serius. Eisuke menunduk, ia tidak bisa mengelak lagi, kemarin sudah tertangkap basah dan ya, memang dia suka si rambut merah itu. "Y-ya… aku tidak tahu dia punya pacar."
Aomine menghela nafas, memalingkan pandangan, "tidak ada masalah, sebenarnya." Ia berkata dengan jari kelingking di kuping, "kalau kau suka Kagami atau tidak, itu bukan masalahku."ia lalu menatap Eisuke dengan serius, "tetapi aku akan beri tahu kalau kita sudah berhubungan dan bukan seperti itu jika kau ingin mendekati pacarku. Aku tidak akan biarkan kau mengambil Kagami, tetapi aku tidak akan melarang kau menyukainya. Jangan menakutinya dan aku dengan Kagami… ya, butuh usaha yang lebih jika mau membuatnya luluh. Menguntitnya bukanlah suatu pilihan dan Kagami tidak suka sikap pengecut."
Eisuke terdiam, mencoba menerima apa yang Aomine katakan. Ternyata selama ini yang ia nilai dan lakukan salah, Aomine bukanlah orang yang menyebalkan walau ia terkenal tetapi tidak pernah latihan, Kagami juga ternyata tidak suka dengan caranya mendekatinya.
"…Kau tidak akan memukulku?"
Aomine menaikkan satu alis, "Hah? Tentu saja kalau aku tahu kau memergokinya telanjang, aku habisi kau!"
Mendengar itu, Kido memekik ketakutan dan berkali-kali meminta maaf dan membuat semua orang memerhatikan mereka. Ah… setelah ini tidak mungkin ada yang menguntit Kagami jika mereka tahu Aomine adalah pacarnya.
.
