THE PLEASURE SIDES OF PAIN

CHAPTER 7

NARUTO © Masashi Kishimoto

STORY © In My Bla-Bla Mind

Word : 10K+ (Pegel ngetiknya)

RATE : M+ for for Murder, Gory scene and NSFW scene.

WARNING : YAOI, BOYSLOVE, SHOUNEN-AI, SASUxNARU, ADVENTURE, MYSTERY, FICTION, DEAD CHARA, OOC CHARA.

AUTHOR'S NOTE :

Cerita ini mengandung unsur percintaan sesama jenis (homoseksual). Jika anda tidak nyaman dengan hal ini, dimohon untuk tidak membacanya

Latar berada di benua Amerika

Hampir semua nama tempat adalah fiksi, kesamaan nama dan tempat bukan merupakan hal yang disengaja

Sifat dan hubungan karakter yang tidak sesuai dengan komik aslinya


Naruto berhenti di balik deretan terakhir pepohonan. Tanggul setinggi enam meter memisahkan dirinya dengan deretan pepohonan yang lain di baliknya. Naruto menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya duduk bersandar di sebuah pohon besar. Telapak kakinya terasa panas.

Naruto meluruskan kakinya dan mengelap bulir keringat yang membasahi dahi dan pipinya. Ia sudah berlari berkilometer jauhnya dan ia belum mendapati tanda-tanda keberadaan Sasuke. Ia mengutuk Sasuke untuk kesekian ratus kalinya.

Naruto tidak memiliki waktu lebih untuk beristirahat, jadi ia memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri dan meregangkan kakinya. Ia mengingat-ingat gambaran peta yang berada di kepalanya dan berjalan menyongsong matahari yang masih berada di ufuk timur.

Cahaya temaram matahari pecah di balik kabut pagi dan menghasilkan ribuan partikel pelangi yang indah. Tersibak seketika, ketika tubuh Naruto menghempaskannya ke segala penjuru. Bagian bawah celana jeans-nya basah karena dahan-dahan rendah dengan daun-daunnya yang berembun membelai kakinya.

Kabut mulai menguap, meninggalkan udara dingin yang tidak kunjung terhapus walaupun matahari semakin meninggi. Tanah basah di bawah kaki Naruto terciprat setiap kali ia menginjakkan kakinya ke lantai bumi. Hujan semalam lebih deras dari yang ia kira.

Naruto menghentikan langkahnya untuk kembali mengisi paru-parunya dengan oksigen. Berada di tengah rerimbunan pohon, membuat pasokan oksigen melimpah di sekeliling Naruto. Tetapi aroma tanah basah, dedaunan kering yang membusuk dan batu-batuan kapur membuat isi perut Naruto berontak ingin keluar. Naruto mengeluarkan sebuah saputangan yang selalu ada di kantung celananya. Ia melipat saputangan itu dan menutup mulut dan hidungnya dengan itu.

Naruto berpikir bahwa ia akan kehabisan energi dengan cepat jika ia terus berlari. Dengan itu, ia memutuskan untuk melakukan jogging. Ia berusaha menjaga kecepatannya tetap konstan, tetapi mulut dan hidungnya yang tertutup membuatnya sulit bernafas. Perut Naruto sudah kosong semenjak kemarin dan tidak ada isi perut yang bisa ia keluarkan ketika ia muntah, maka Naruto memutuskan untuk membuka penutup mulutnya dan membiarkan hidungnya mengerut kembang-kempis.

Perutnya berteriak kencang, Naruto mengabaikannya. Tungkainya memohon untuk berhenti, Naruto juga mengabaikannya. Naruto belum pernah mengabaikan dirinya sekeras ini sebelumnya.

Naruto berhenti sebentar ketika melewati sebuah tanaman berry liar di tengah semak-semak. Sejauh yang ia tahu, buah tersebut bisa dimakan. Tetapi yang dimaksud 'sejauh' oleh Naruto, adalah sebatas pemikiran warasnya saja. Dan kau mungkin merasa sudah tidak waras jika kau tidak makan apapun lebih dari 24 jam.

Naruto merampas buah-buahan kecil itu dari dahan-dahan kurus tumbuhan semak-semak itu. Tidak peduli jika buah-buahan itu sudah ranum, setengah ranum atau benar-benar berwarna hijau. Naruto tidak memiliki kesempatan untuk memilih-milih makanan sekarang. Naruto yakin, jika ia harus terlibat sebuah petarungan gladiator untuk memenangkan sebuah roti lapis keju, maka itulah yang akan ia lakukan.

Naruto berlutut untuk mengambil buah beri yang berada dibagian bawah, sesekali memasukan satu buah ke dalam mulutnya.

Seketika otak Naruto berteriak. Naruto tidak mengerti kenapa, tetapi ia dapat merasakan bahwa tiba-tiba maut berada sejengkal jauhnya dari dirinya. Naruto belum pernah merasakan kematian sebelumnya, tetapi ia yakin ia tidak pernah ingin merasakannya.

Ada yang mengambil alih ketika kau menghadapi kematian. Otak bagian depan yang menangani logika, pemikiran matematis dan pengaturan rencana dan strategi, mundur, menyerahkan tugas kepada otak bagian belakang yang merupakan bagian tertua dalam dirimu, bagian yang mengatur pemikiran spontan, penanganan bahaya dan detak jantung. Bagian yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan untuk menjaga manusia tetap hidup.

Naruto bangkit, dan seandainya ia membeku satu milidetik lebih lama, ia mungkin sudah memiliki lubang di belakang kepalanya. Hantaman keras menghajar kaki Naruto, sedikit berada di atas lututnya, membuat Naruto kehilangan keseimbangan dan tersungkur. Buah beri yang berwarna merah, yang susah payah ia kumpulkan berhamburan jatuh dari balik jaket tenisnya, meninggalkan noda semerah darah di sekujur tubuhnya.

Angin sepoi-sepoi menerobos rerumputan, nafas panas Naruto di balik umpatannya dan darah yang berdesir di telinganya, hanya itulah yang ia dengar sebelum peluru menghantam kakinya. Orang itu memakai peredam senjata, tidak sulit untuk menyimpulkan hal itu. Orang ini ingin menuntaskan semua ini dengan membuat satu buah tembakan pamungkas. Orang ini profesional, dan itu artinya tidak sulit pula untuk mencari tahu siapa orang ini sebenarnya.

Madara sudah menemukannya.

Naruto bangkit untuk menerjang maju untuk mengambil pistol pemberian Sasuke yang sempat jatuh dari kantung jaketnya ketika ia tersungkur tadi. Beberapa langkah kemudian, tanah berlumpur di depannya meledak, menghujaninya dengan tanah, kerikil dan serpihan ranting kering.

Naruto menyambar pistol itu dan berlari sambil melindungi kepalanya. Tidak lama untuk tembakan ketiga Madara menyerempet lengannya dan menghantam batang kayu di depannya hingga hampir rubuh. Jantungnya berdetak seolah-olah ingin meloncat keluar dari rongga dadanya.

Naruto menoleh ke kanan, ke kiri dan ke belakang, dia tidak dapat melihat Madara. Ia mencoba mendengar langkah kaki berderap membuntutinya, tetapi ia tidak merasakan langkah kaki mengejar di belakangnya. Dimana dia? Kenapa begitu lama? Hingga akhirnya, Naruto menyadari sesuatu:

Madara menggunakan senapan runduk laras panjang. Ya, pasti itu. Mungkin juga ditambah dengan teropong keker kecil di atasnya. Itu artinya, Madara bisa saja berjarak sejauh 800 meter ketika menembaknya tadi.

Darah dan bintang-bintang hitam bermunculan dan berkelipan di depan matanya. Naruto tidak sempat menarik cukup udara ke dalam paru-parunya.

Naruto menunduk dibalik sebuah batu granit besar dan menyiapkan pistolnya, mengecek pelurunya dan meletakan jarinya di depan pelatuk senjata itu. Naruto sadar bahwa pistolnya bukan merupakan tandingan senapan canggih Madara. Dia tahu itu.

Menit-menit berlalu pergi. Naruto mengecek luka yang tembakan pertama Madara buat pada dirinya. Itu hanya sebuah goresan sepanjang empat sentimeter sepanjang pahanya. Tidak membuat Naruto kehilangan satu-satunya kekuatan yang ia punya saat ini. Berlari.

Naruto mengeluarkan sapu tangan yang ia gunakan sebelumnya, membuat ikatan di atas goresannya dan membuat simpul untuk menjaga lukanya tidak terbuka.

Gemetar tidak terkendali. Naruto bercucuran keringat walaupun udara disekitarnya dingin membeku.

Pikir, Naruto. Pikir.

Berpikir. Umat manusia diciptakan untuk itu. Itulah yang membedakan diri mereka dengan makhluk hidup lainnya. Saatnya berpikir, saatnya mencari solusi selain berdoa dengan putus asa dan penuh tangis.

Madara tidak bodoh. Ia pasti akan mengasumsikan bahwa Naruto bersenjata. Madara tidak akan mengambil resiko. Bukankah para pembunuh bayaran tetap peduli apakah mereka hidup atau mati.. atau jangan-jangan mereka tidak peduli? Sama seperti ketidakpedulian mereka terhadap hidup orang lain.

Apakah Madara tidak mengenal rasa takut? Apakah Madara tidak mencintai kehidupan? Dan jika benar mereka mencintai kehidupan mereka sendiri, apakah mereka mencintai kehidupan mereka lebih dari kegemaran mereka merenggut nyawa orang lain?

Waktu mengulur. Semenit terasa lebih lama daripada seabad.

Jika mengambil resiko untuk melarikan diri, Naruto memiliki kesempatan besar untuk tewas tertembak. Jika dia melawan, dia tidak akan memiliki sedikitpun peluang untuk menang. Jika ia tetap disini dan bersembunyi, itu hanya masalah waktu untuk akhirnya Madara menemukannya.

Dimana Madara sekarang? Dia punya waktu cukup lama untuk membuat sisa-sisa hidup Naruto jauh, jauh dan jauh lebih tersiksa daripada menunggu datangnya kematian. Madara ingin segera menyelesaikan ini semua.

Kecuali dia memang sudah selesai.

Pikiran tersebut membuat Naruto terpaku. Selama beberapa detik, Naruto benar-benar lupa bernafas.

Madara tidak akan mengejarmu, Naruto. Dia tidak perlu mengejarmu karena itu tidak diperlukan. Dia tahu kau takkan berani keluar, dan jika kau tidak keluar dan berlari, kau juga tidak akan selamat. Dia tahu kau sudah kelaparan, dehidrasi dan kedinginan. Kematian sudah tertulis di dahimu. Lari, artinya mati. Tidak lari, artinya juga mati.

Naruto mengembuskan nafasnya pelan, menenangkan dirinya yang tanpa sadar gemetar sejak tadi.

Ayolah, Naruto! Dan jika memang malaikat pencabut nyawa sudah berada di depan hidungmu. Kau tidak bisa membiarkan semua berakhir seperti ini. Terjebak dibawah batu besar berlumut yang terkutuk, tertembak tepat di kepala atau mati kelaparan. Beginikah cara kau akan mati?

Enak saja!

Naruto bangkit, ia menyiapkan kuda-kuda dan dengan secepat kilat memacu kakinya. Sesuai dugaan, Madara sudah membidik sebelumnya, itu dibuktikan karena tanah di hadapannya kembali meledak, mengirimkan gaya ledak hingga mendorong tubuh Naruto hingga ia terdorong menjauh.

Meleset sebanyak empat kali sudah cukup untuk membuat seorang profesional yang menjadikan menembak sebagai kesehariannya menjadi berang. Terbukti dengan rentetan tembakan selanjutnya yang sedikit mengalami penurunan akurasi. Naruto beruntung sekali karena Madara dapat tersulut api amarah.

Sesekali Naruto membalas tembakan Madara, tetapi yang ia berhasil tembak hanyalah angin kosong dan pepohonan tidak berdosa. Ia benar-benar butuh latihan menembak.

Berhenti, Naruto idiot! Kau tidak tahu bahwa itulah yang dia inginkan, kau menghabiskan amunisimu dengan sia-sia.

Naruto menyadarinya dan memasukan pistol itu kembali ke kantung jaketnya. Lagipula, ia memang memiliki sedikit masalah dengan eksistensi senjata. Dahulu, nenek Tsunade pernah berkata bahwa senjata mungkin tidak pernah membunuh seseorang, tetapi jelas mempermudahkannya.

Madara masih saja menembak. Beberapa kali, peluru melintas di samping wajahnya. Sesekali, Naruto dapat mendengar bunyi derap langkah kaki dengan samar di kejauhan.

Jadi, Naruto melakukan satu hal yang paling masuk akal bagi orang yang berada dalam situasi seperti ini.

Naruto berlari.

Menerabas hutan ditengah udara musim dingin, dahan-dahan tak berdaun, langit biru pucat, daun layu, kemudian menghambur dari sela-sela pohon menuju ke pohon yang lain. Tanah berlumpur setengah membeku, berkecipak di bawah sepatunya, dibawah kubah langit yang tak acuh atas nasib dirinya, tirai putih terang yang membentang menutupi lebih dari lima milyar bintang yang masih tetap disana, masih menatap dirinya. Seorang pemuda yang lari dengan rambut pirang pendek.

Naruto meliuk-liuk di antara pepohonan. Pada sebuah persimpangan, sebuah akar pepohonan mencuat, membuat dia tersandung dan jatuh ke muka bumi. Ketika dia mengangkat kepalanya. Dia dapat melihat sebuah rusa liar sedang menatapnya kebingungan sambil mengunyah rumput. Secepat kejapan mata, sebuah lubang terbentuk di perut rusa gemuk tersebut. Rusa itu berlari tetapi langsung terjatuh setelah beberapa langkah. Rusa itu meringkik kesakitan sebelum akhirnya diam tidak bergerak.

Naruto menyaksikan itu semua. Kematian tidak pernah sedekat ini sebelumnya. Tidak pernah terpampang di depan matanya. Jika ia tidak tersandung dan terjatuh pada saat yang tepat, ia akan memiliki luka yang sama dengan rusa tersebut di punggungnya.

Naruto mendengar teriakan. Begitu dekat dan nyata. Hingga akhirnya ia sadar, itu adalah teriakannya sendiri. Naruto berteriak karena ia melihat sebuah pemandangan yang mengerikan yang membuat seluruh darahnya menggelenyar di bawah kulitnya. Perasaan yang sama seperti ketika ia melihat neneknya, Tsunade tewas didepan matanya.

Naruto bangkit dan melompati mayat rusa liar tersebut. Tidak menoleh ke belakang, ia terus belari dan berlari. Ia bahkan tidak merasakan kelelahan atau kelaparan lagi. Pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi pada dirinya. Dia dapat selamat atau tidak, ia tidak peduli. Lari, lari dan lari.

Hingga tiba-tiba, ia melewati sebuah semak-semak besar setinggi pinggang. Naruto tidak sempat mengelak sebelum sepasang tangan besar menarik tangan kanannya dan membuatnya terjungkal ke dalam kumpulan semak belukar itu.

Naruto merasakan kedua tangannya digenggam oleh satu tangan, dan satu tangan besar lainnya membungkam mulutnya. Punggung Naruto menyentuh dada orang dibelakangnya.

"Hmmffhh.. Huff.."

Naruto berontak, menendang, menyikut dan menggeram, tetapi tubuh dibelakangnya jauh lebih besar dan kuat darinya. Ditambah dengan energinya yang berkurang drastis setelah ia berlari melewati hutan ini. Apa ini adalah akhir dari hidupnya?

"Berhenti berontak, idiot!"

Walaupun seandainya Naruto berumur seribu tahun, ia akan tetap mengingat suara menyebalkan ini. Suara orang yang membuatnya meragukan dirinya sendiri dan kepercayaannya terhadap orang lain. Orang yang diam-diam meninggalkannya dan membuatnya berada di situasi seperti ini. Dimana pistol Naruto? Ia sedang ingin menembak kepala seseorang sekarang.

Cengkraman tangan besar itu mengendur di kedua tangan maupun di mulutnya. Naruto berbalik untuk melihat sosok dibelakangnya dan dugaannya memang benar. Sasuke Uchiha.

"Apa yang-"

Sasuke meletakan satu jarinya di depan mulut dan mendesis, membuat gestur untuk menyuruh Naruto diam. Sasuke mendekat ke telinga Naruto dan berbisik, "Kita bahas ini nanti. Sekarang jelaskan kepadaku apa yang terjadi."

Seketika Naruto teringat akan tujuannya berlari hingga berkilo-kilometer, bukan semata untuk mengejar dan menemukan Sasuke, tetapi juga lari dari kejaran Madara.

"Dia menemukan kita." Tidak perlu penjelasan lebih lanjut agar Sasuke langsung tahu siapa yang dimaksud Naruto.

Sasuke menoleh ke arah datangnya Naruto. Ia mendengar derakan daun dan ranting, lalu sebuah kilatan cahaya dari besi kira-kira tiga puluh kaki dari tempat mereka berada. Refleks, Sasuke menerjang Naruto.

Naruto terkejut bukan main ketika sebuah peluru menyerempet rambut menantang angin milik Sasuke. Satu detik sebelumnya mereka sedang melakukan reuni kecil, dan satu detik berikutnya, tubuh Naruto terbaring di tanah dengan tubuh Sasuke menindih sekaligus melindunginya. Naruto bahkan belum sempat bereaksi ketika kepalanya terdorong ke tanah yang basah, membuat cipratan lumpur mengenai wajah dan rambutnya.

Sasuke berguling ke samping untuk mengambil pistol Naruto yang sempat terjatuh saat Sasuke menarik lengannya masuk ke dalam semak-semak. Sasuke melemparkanya ke arah Naruto, ia menerimanya dengan dua tangan.

"Cepat, bergerak!" ucap Sasuke memerintah.

Naruto mengangguk. Ia sadar bahwa mereka harus bekerjasama. Satu amatir di tambah satu tingkat lanjut melawan satu professional adalah taruhan yang harus mereka ambil saat ini.

Naruto bergerak menjauhi hujan peluru dengan bergerak ke arah samping kiri Sasuke. Berjalan mengendap-endap sambil menunduk agar ia tidak dapat dijangkau mata Madara. Sasuke melakukan pengalihan dengan membalas tembakan Madara dengan pistolnya.

Setelah cukup jauh dan bersembunyi di punggung sebuah pohon besar. Naruto menyipitkan matanya untuk menjangkau Madara. Ia tidak dapat melihat tubuhnya, karena Madara bersembunyi dibalik sebuah semak-semak. Tetapi ia dapat melihat sebuah moncong senjata menyembul keluar dari semak-semak tersebut. Menyemburkan asap mesiu dan timah panas ke arah Sasuke.

Posisi Sasuke sekarang sedang berjongkok di belakang sebuah batu besar. Ia tidak dapat mengambil sebuah tembakan pasti karena Madara tidak dapat ia lihat dari sudut ini. Pandangannya tertutup pepohonan dan rumput-rumput yang tumbuh panjang. Lagi pula, pistol yang ia pakai adalah jenis pistol jarak dekat dan di dengar dari suara tembakannya, Madara berada diluar jangkauan pistolnya.

Naruto menatap Sasuke dari kejauhan. Orang paling bodoh pun akan dapat melihat kalau Sasuke dalam keadaan terdesak dan sulit. Sasuke berada di situasi sulit yang sama seperti yang ia rasakan sebelumnya. Lari = mati, diam = mati. Dan sekali lagi, itu akan menjadi cara mati yang paling bodoh jika kau tidak melawan. Setidaknya jika kau melawan, kau akan mati dengan terhormat. Itu pikir Naruto.

Tetapi apakah ada harga dari kehormatan yang dimiliki orang yang mati? Tidak? Iya?

Naruto memutar otaknya. Menghitung sudut, memperkirakan mata angin dan membaca garis khayal yang ia bentuk dari posisinya menuju tempat persembunyian Madara dibalik semak-semak itu. Jika ia menembak dari posisinya sekarang, ada kemungkinan kecil untuk mengenai target, dan kemungkinannya semakin kecil karena yang menembak adalah Naruto. Naruto berharap Sasuke lah yang berada disini sekarang. Ia memiliki kesempatan lebih besar dari dirinya untuk menembak Madara di kepalanya.

Taruhannya sangat besar. Jika Naruto menembak dan meleset, Madara akan tahu posisi dimana ia berada. Dan itu akan membuatnya jadi sasaran empuk peluru Madara. Apakah Naruto siap mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan orang lain?

Naruto mengangkat tangannya hingga tegak lurus, membentuk sudut 90 derajat sempurna dengan tubuhnya. Bahunya ia tegakan untuk menahan sentakan dari popor pistolnya. Ia mengintip dari bidikan pistol dan mengarahkannya ke arah semak-semak dimana Madara berada. Kesempatannya mungkin tidak lebih dari 0,1 persen untuk mengenai Madara. Tetapi, itu tidak masalah. Sejak awal, Naruto memang sudah berniat untuk menyerahkan semua kesempatan yang ia punya untuk menyelamatkan Kyuubi. Tidak peduli seburuk apa kesempatan itu.

Jari telunjuk Naruto menarik pelatuk. Bahunya sedikit tersentak kebelakang. Naruto merasa ada jarak waktu sekitar seribu abad untuk peluru yang ia tembakan sampai di tengkorak Madara. Ia mengeluarkan seluruh emosinya bersama dengan peluru itu. Aneh rasanya, berada di antara rasa puas dan bersalah.

KRAK

Bunyi retakan terdengar dari balik semak-semak dimana Madara sebelumnya berada. Bersamaan dengan itu, rentetan peluru yang keluar dari senapan Madara berhenti total. Naruto membeku sebelum akhirnya bertanya-tanya. Benarkah ia mengenai Madara? Ia benar-benar berharap bahwa itu adalah suara pecahnya tengkorak Madara. Tetapi, Madara tidak terdengar berteriak atau kesakitan.

Ketika Naruto sibuk dengan pertanyaan yang berada di otaknya. Senapan Madara tiba-tiba bergerak dan terangkat tinggi-tinggi. Sesosok tubuh tinggi besar muncul dari balik semak-semak itu. Tidak terluka atau tergores sedikitpun. Seketika Naruto merasa kecewa dan takut.

Sasuke memperhatikan Madara ketika ia mengangkat senapan laras panjangnya di depan dada, ia memutar-mutar teropong keker kecil diatas senapannya. Madara melepas teropong keker itu dan menjatuhkannya ke tanah. Ketika sampai di tanah, Naruto dapat melihat bahwa lensa teropong keker itu pecah dan terdapat lubang di sisinya. Tembakan Naruto mengenainya.

Seandainya Naruto dapat mengarahkan lebih baik dan bergeser sedikit dari sasaran awalnya tadi, mungkin ia dapat memenuhi keinginannya untuk memecahkan kepala Madara. Tetapi rupanya ia meleset dan mengenai teropong keker Madara. Itu sedikit bagus karena Madara tidak bisa lagi bermain jarak jauh dengan mereka. Tetapi inilah yang kau dapat dari 0,1 persen yang kau miliki.

Madara menoleh ke pohon tempat Naruto bersembunyi. Naruto terlonjak ketika melihat Madara mengangkat senapannya dan mengarahkannya ke tempat ia berada. Madara memang benar-benar dapat membaca musuhnya dari arah datangnya tembakan, seharusnya Naruto tidak terkejut.

Satu mikrodetik setelah Naruto berbalik, Jacob –Naruto memutuskan menggunakan nama itu untuk menamai pohon kesayangan tempat ia bersembunyi- berubah menjadi ribuan partikel yang lebih kecil karena peluru Madara yang menembus batang kokohnya. Sasuke yang melihat Naruto berlari ke arahnya, bangkit dan berlari di sampingnya.

Satu tembakan, dua tembakan dan tiga. Sasuke dapat melihat akurasi Madara berkurang jauh dari sebelumnya. Itu buruk bagi Madara tetapi bagus bagi mereka berdua.

"Cepat,cepat, cepat," bisik Sasuke, mendorong Naruto untuk memacu langkah lebih cepat lagi.

Sebuah pohon kembali meledak di depan mereka, menghujani mereka dengan serpihan kayu dan cabang. Sasuke melingkarkan lengannya di atas kepala Naruto untuk menangkis ranting yang melayang di atasnya. Mereka terus berlari menaiki bukit, melewati deretan pohon yang menyerupai labirin. Naruto mengira ia mendengar suara raungan, tetapi ternyata itu adalah suara paru-parunya.

Sasuke dan Naruto berhenti tepat di tepi tebing. Bebatuannya sangat basah dan licin, bisa saja mereka terpeleset dan jatuh jika tidak benar-benar menjauh dari tebing. Naruto melihat ke bawah tebing itu, ia dapat melihat sungai yang dibicarakan mereka berdua kemarin.

Naruto berbalik dan mengeluarkan pistolnya. Bagus sekali, mereka benar-benar tidak punya pilihan sekarang. Mereka berdua dapat mendengar Madara bergerak menuju ke arah mereka. Tetapi dibawah mereka, terdapat aliran deras sungai. Dan Naruto pikir, mereka akan mendapat kesempatan lebih besar untuk hidup jika mereka melawan Madara.

Pendapat Naruto bukan tidak beralasan. Arus sungai dibawahnya menderu-deru. Sungai itu seharusnya tidak seganas itu, tetapi hujan semalam sepertinya membuat debit air makin besar dan akhirnya membuat arus semakin deras. Tinggi tebing itu tidak terlalu tinggi dan tidak bisa disebut landai, mungkin sekitar 40 kaki.

Sekilas melihat ke arah tebing itu, Sasuke mendekati Naruto dan membuka resleting saku jaket tenisnya. Ia memasukan senjatanya ke dalam saku kanan Naruto dan melakukan hal yang sama dengan senjata Naruto di saku kirinya. Sasuke menutup resleting jaket itu kembali.

Naruto menggeleng, "Aku tahu apa yang kau pikirkan, Sasuke. Menurut pendapatku, kita..."

Sasuke menautkan bibir Naruto dengan satu jarinya, "Siapa yang minta pendapatmu? Ingat siapa kaptennya disini, honey? A-k-u."

Sasuke melingkarkan tangannya ke pinggang Naruto. Memeluknya erat dengan sedikit menariknya ke arah dadanya. Naruto tidak sempat berontak ketika Sasuke melompat dari atas tebing.

"Kau bisa berenang?"


Kyuubi kehilangan kemampuannya untuk menghitung waktu. Ia tidak dapat merasakan apakah hari sudah pagi atau menjelang malam. Ia tidak familiar dengan hari. Ia tidak ingat apapun tentang tetek bengek dunia di luar sana. Dunianya adalah ruangan lima kali lima meter yang gelap ini sekarang.

Beberapa petunjuk yang dapat ia gunakan untuk mendeteksi waktu adalah saat-saat Kushina masuk ke dalam ruangan dimana dirinya berada sambil membawa makanan. Ketika Kushina membawakannya segelas susu berwarna kekuningan dan satu buah roti gandum, itu artinya saatnya sarapan yang mungkin sekitar delapan sampai sembilan pagi. Dan jika Kushina datang sambil membawakannya segelas air dan roti gandum setengah basi, itu artinya saatnya makan malam yang mungkin sekitar tujuh atau delapan malam.

Kyuubi tahu, ini adalah hari kedua sejak ia diculik. Sudah cukup dua hari untuk melihat perangai memuakkan Kushina. Ia sudah jengah dan kesal menghadapinya. Kushina hanya menghabiskan seluruh harinya di dalam rumahnya, dan untuk mengisi waktunya, ia biasa melakukan hobinya, merias diri.

Kushina terkadang datang ke ruangan tersebut untuk mengambil baki tempat ia meletakan makanan untuk Kyuubi sebelumnya. Tidak jarang ia masuk dengan pakaian formal dan rapi, dandanan dan hiasan rambutnya sangat cocok, berlenggak-lenggok dengan sepatu bertumit tinggi bagai model. Tidak salah jika Madara tergila-gila dan terperdaya dengan rayuannya. Kyuubi sedikit merasa kasihan terhadap Madara. Madara dapat melihat, tetapi ia buta. Buta dengan semua topeng yang sedang di pakai Kushina.

Kushina menghabiskan waktu tiga puluh hingga empat puluh menit untuk bercerita kehidupannya di California ketika ia meninggalkan Naruto setelah melahirkan. Kushina bercerita tentang kehidupan malamnya dari satu pub ke pub yang lain, hanya untuk mencari mangsa berduit. Setelah tidak ada lagi yang tersisa dari mangsanya, dia akan mencari mangsa yang lain. Kyuubi tidak sedikitpun tertarik dengan cerita tentang kehidupan malam Kushina. Ia bahkan tidak menanggapi sedikit pun pertanyaan ataupun komentar dari Kushina.

Kushina sering kali marah ketika topik pembicaraan mulai berubah menjadi tentang Naruto. Kushina marah bagaimana Kyuubi mendoktrin anaknya sendiri untuk menganggapnya sebagai seorang bajingan.

"Dia bukan anakmu, Kushina. Sejak awal, Naruto tidak memiliki ibu sepertimu."

Lalu, tamparan dan pukulan menyerbu wajah dan tubuh Kyuubi. Tidak jarang ia menggunakan tongkat untuk memukul Kyuubi. Muka Kushina merah padam dan alisnya tertaut. Wajah asli Kushina dapat ia lihat saat itu. Setelah, Kushina puas dengannya, dia akan melenggang pergi setelah ia merapikan setelan baju dan riasannya kembali. Dasar jalang.

Setelah satu-satunya pintu tempat cahaya masuk itu tertutup, ruangan kembali penuh dengan kegelapan dan sepi. Kyuubi kembali ditemani oleh roti gandum yang setengah basi dan gelas air setengah terisi. Dipandanginya dua benda itu beribu kali dan benda itu akan tetap seperti itu.

Kyuubi kelaparan, energinya sudah habis setelah ia gunakan untuk berusaha melepaskan diri dari ikatan di tangan dan kakinya. Kemarin, ia sempat berteriak dan mencoba melawan ketika Kushina menamparnya, tetapi itu tidak ada gunanya. Ikatan di tangan dan kakinya tidak membiarkan ia bergerak dengan bebas.

Walaupun Kyuubi kelaparan, tidak sedikitpun ia sentuh makanan pemberian Kushina. Kyuubi khawatir, Kushina akan meracuni makanan itu seperti yang sebelumnya Kushina lakukan kepadanya pada dua malam yang lalu.

Kyuubi menghela nafas, ia tidak tahu kapan ini akan berakhir. Kushina tidak akan berhenti sebelum ia mendapat apa yang ia mau, pembalasan dan Naruto. Kushina tidak akan peduli, semua yang menghalangi jalannya menuju keinginannya akan ia singkirkan. Ia lebih kejam dari iblis manapun.

Kyuubi tidak pernah percaya kepada tuhan. Menurutnya tuhan itu tidak ada. Dimana tuhan berada ketika situasi mulai tak terkendali seperti ini? Apakah tuhan sengaja membiarkannya menderita? Jika tuhan benar-benar ada, ia pasti bukan seorang yang bijak bercahaya yang membawa rahmat dan pengampunan di kedua tangannya. Ia pasti orang semena-mena dan bermain-main dengan kekuatannya. Tuhan itu tidak ada, kan?

Tetapi, kau akan merasa bagaimana berharganya sesuatu yang tidak ada ketika tidak ada sesuatu pun yang dapat kau buat untuk bersandar. Kau akan menghargai sesuatu yang tidak ada ketika kau sudah kehilangan semua yang ada dalam dirimu.

"Tuhan, jagalah Naruto bersama-Mu."

Setetes air kristal turun dari mata Kyuubi.


Apakah kau bisa berenang? Berani-beraninya Sasuke bertanya akan hal itu kepadanya ketika dia membawa Naruto melompat dari tebing itu dengan tangannya yang terkunci di pinggang Naruto. Naruto tidak tahu apakah ia berteriak atau tidak. Telinganya berdenging karena desiran darah. Waktu tidak berputar ketika Naruto berada di dekapan Sasuke, kakinya melayang di udara. Apakah sudah terlambat jika Naruto berharap kepada Tuhan agar tidak membiarkan mereka tenggelam?

Mereka masuk kedalam air sedingin es dengan kaki terlebih dahulu. Sensasinya terasa seperti ribuan jarum kecil menembus kulit kakinya dan merayap langsung menuju ke otak mereka. Rasanya sakit sekaligus melumpuhkan.

Dan Sasuke tidak akan pernah melepaskannya. Tidak ketika mereka terhisap kedalam gelombang air yang mengamuk, maupun saat mereka menggapai-gapai permukaan air ketika berkali-kali mereka tertelan aliran arus sungai itu. Ketika Naruto yakin bahwa paru-parunya akan meledak, mereka akhirnya berhasil menyembul ke permukaan, tetapi mereka hanya memiliki waktu untuk mengisi paru-parunya dengan udara sebelum akhirnya arus sungai itu menelan mereka kembali

Naruto ingin sekali selamat. Bukan hanya agar dia bisa hidup, tetapi juga karena ia ingin memberikan bagaimana rasanya neraka kepada Sasuke karena telah mencoba untuk menenggelamkannya.

Seolah-seolah seseorang menarik pergelangan kakinya, menyentaknya masuk kedalam air, Naruto kembali tenggelam. Naruto bukan perenang yang buruk, Sasuke tahu itu. Tetapi yang mereka lakukan sekarang tidak bisa disebut berenang sama sekali. Mereka timbul tenggelam seperti sepotong gabus ditengah samudra.

Mereka mencapai permukaan lagi. Mereka megap-megap berusaha mengisi paru-paru mereka dengan oksigen sebanyak mungkin. Di saat itulah, Naruto melihat sebuah batang kayu tua yang besar mengapung di arah kirinya. Naruto mencoba merentangkan tangannya, tetapi ia tidak dapat mencapainya.

Naruto menatap Sasuke langsung ke matanya. Sasuke tahu apa yang ingin Naruto lakukan. Sasuke sedikit ragu untuk melepaskan pegangannya dari pinggang Naruto. Ia takut jikalau Naruto akan terseret arus dan menjauh dari jangkauannya. Tetapi tatapan Naruto membara, tidak sedikit pun keraguan di dalamnya. Sasuke terpaksa mempercayainya.

Ketika Sasuke melepaskan pegangannya. Naruto sempat masuk ke dalam air sebelum akhirnya muncul kembali. Ia mengayunkan kakinya dan berenang ke arah batang kayu tua tersebut. Setelah berhasil memeluk batang kayu tersebut, Naruto berusaha keras untuk berbalik arah untuk mencapai Sasuke. Sasuke berpegangan kepada kayu itu dengan sebelah tangannya sekuat tenaga, satu tangannya lagi ia gunakan untuk menjaga punggung Naruto agar tidak tersentak lepas ketika mereka mencoba melawan arus sungai itu untuk mencoba berenang ke tepi sungai yang lain.

Sungai itu berbentuk zig-zag, tetapi perlahan-lahan mereka mulai mencapai tepi sungai tersebut. Naruto mulai menendang-nendang air dengan seluruh tenaga yang ia punya. Sasuke menjaga kayu tersebut tetap seimbang dan mengemudikannya menuju tepian. Setelah mereka sampai di tepian, Sasuke harus memapah Naruto keluar dari air.

Mereka terbaring terlentang diatas rumput, terlalu lelah untuk bergerak. Naruto menelan ludahnya sendiri dan seketika rasa getir mampir di lidahnya. Perut Naruto sangat penuh, hingga ia berpikir bahwa ia telah meminum setengah dari seluruh jumlah air yang ada di sungai itu.

Sasuke menoleh kepadanya ketika mendengar bunyi gemeretak dari gigi Naruto, ia sangat kedinginan, "Kau baik-baik saja?"

Naruto terlonjak seketika dan wajahnya merah padam, "'Bisakah kau berenang?'. Itukah yang harus kau katakan setelah kau mendorong kita dari atas sana?"

Naruto menunjuk ke atas tebing tempat dimana mereka bermula. Tempat itu tidak terlalu tinggi jika dilihat dari bawah sini. Beruntung Sasuke menariknya jauh dari tepian sungai ke balik deretan pepohonan agar Madara tidak melihat mereka.

Sasuke menegakan tubuhnya dan duduk disamping tubuh Naruto yang masih terbaring, ia menyeka surai panjangnya yang menutupi kedua matanya, "Jadi, kau mendengarnya?"

Naruto mengabaikan Sasuke dan melihat ke arah sungai itu. Tuhan benar-benar membantu mereka keluar dari sana, tidak ada penjelasan yang lebih masuk akal dari itu mengingat bagaimana deras dan berbahayanya sungai tersebut.

Sasuke tidak membuang waktu sedikit pun, ia berdiri dan memerintah Naruto untuk bangkit, "Madara mungkin dapat melihat kita ketika kita lompat dari tebing itu. Tidak butuh lama untuknya menemukan tempat kita berada sekarang."

"Apakah kepalamu terbentur sesuatu? Aku sangat lelah dan tidak bisa berjalan lagi." Naruto mengaduh, Sasuke memutar bola matanya.

"Kalau begitu, kau istirahat sebentar sebelum kita melanjutkan perjalanan kembali. Aku akan mencoba menutupi jejak kita."

Sasuke mondar-mandir di hadapan Naruto sambil membawa ranting dan daun-daun kecil, rambut dan badannya basah kuyup. Sedikit aneh melihat gaya rambutnya yang berbeda dari biasanya yang menantang angin dan menjadi lepek seperti itu. Kemeja putihnya transparan menampilkan otot-otot terbentuk dibawahnya. Naruto tidak bisa berhenti membayangkan otot-otot Sasuke yang terbalut kulit sewarna putih susu itu adalah segumpal marshmallow yang mencair di mulut. Oke, ia tidak peduli entah pikirannya itu erotis atau mengerikan.

Berusaha mengalihkan pikirannya, Naruto bertanya, "Apakah kau tahu dimana kita berada?" Suaranya hampir sepelan angin karena ia mulai gemetar tak karuan.

"Tidak. Tetapi aku tahu kemana kita harus pergi," jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya.

"Kembali ke mobilmu?"

"Tidak, kita akan membuang waktu terlalu lama untuk mencari jalan untuk menyebrangi sungai ini." Sasuke menyebarkan daun-daun kering ke atas jejak langkah yang mereka berdua buat ketika mereka keluar dari sungai. "Lagipula tidak ada yang bisa menjamin bahwa Madara tidak menunggu kita disana."

Sasuke selesai menutupi jejak langkahnya. Ia memeriksa hasil kerja tangannya lalu mengangguk dengan rasa puas. Sasuke berbalik dan mendapati Naruto yang sedang duduk bersandar disebuah pohon, ketika Sasuke mendekatinya, bibir Naruto benar-benar pucat.

"Sial, kau benar-benar kedinginan, Naruto." Naruto hampir tertawa karena Sasuke memanggil dengan namanya, bukan julukan menyebalkan seperti honey, babe dan sugar seperti yang biasa ia lakukan. Sasuke benar-benar khawatir dengan dirinya sekarang.

"Memang kau tidak?"

"Aku baik-baik saja. Darah membeku mengalir dibawah nadiku."

Oh, tentu saja. Naruto dapat melihatnya.

"Kau masih bisa bangkit?" Sasuke membuka resleting saku jaket Naruto dan mengambil pistolnya lalu memeriksanya dengan seksama. Pistolnya sedikit basah, tetapi itu masih bekerja dengan baik. Ia menyelipkannya di belakang ikat pinggangnya. Ia melakukan hal yang sama kepada senjata milik Naruto lalu melemparkannya ke atas pangkuan Naruto.

"Aku pikir aku bisa." Naruto mencoba bangkit dengan berpegangan kepada pohon yang menjadi sandarannya, tetapi kakinya gemetar. Sasuke harus memeganginya agar tidak terjungkal.

"Tubuhmu dingin sekali. Mulailah dengan melakukan jogging, tubuhmu akan menghangat dalam beberapa menit."

Ide yang bagus, Sasuke. Sekalian saja kau menyuruhku untuk terbang dengan sayapku.

Naruto tahu ia harus mengerahkan sisa-sisa tenaganya sekarang dan ini bukanlah waktu yang tepat untuk merengek.

"Ke arah mana?"

"Kita harus menaiki lembah ini untuk menuruni sisi lain bukit ini."

Naruto menoleh ke belakang, ke arah sungai untuk mengucapkan selamat tinggal khayalannya dan memulai jogging melalui barisan pepohonan di hutan. Rasa basah di antara jari-jari kaki Naruto ketika ia berlari tidaklah menyenangkan.

Satu langkah Sasuke untuk dua langkah Naruto. Naruto berusaha mengimbangi kecepatan Sasuke selama lebih dari satu jam. Mereka tidak berhenti atau berbicara satu sama lain.

Sasuke terkesan dengan ketahanan fisik Naruto. Setelah ia telah menyesuaikan irama langkahnya, Naruto tidak melambat. Ia bahkan tidak mengeluh.

Sasuke dapat melihat jelas lubang mata air muncul di balik sebuah kolam dari batu dan berpikir bahwa mereka harus berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

"Ayo berhenti sejenak."

Terima kasih Tuhan, terima kasih.

Di samping kelelahan, Naruto merasa seperti ada seseorang memegang bara di atas dadanya. Naruto meregangkan kakinya agar tidak kram sebelum akhirnya jatuh terduduk di atas rumput di samping kubangan mata air itu. Ia menciduk air itu dengan kedua tangannya, lalu meminumnya dengan rakus. Sasuke memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan Madara tidak ada di belakang mereka sebelum bergabung dengan Naruto.

"Apakah kau berpikir bahwa dia mengikuti kita?" Naruto bertanya semenit kemudian.

"Kemungkinan besar seperti itu," jawab Sasuke. "Tetapi ia membutuhkan waktu untuk mencari jalan untuk menyebrang sungai, jadi kita memiliki waktu yang cukup banyak. Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu sebelum kau bisa bertemu dengannya." Dalam hati, Sasuke mengutuk dirinya sendiri selama beribu kali karena meninggalkan Naruto sendiri.

Naruto berjalan menjauh dari tepi mata air itu lalu duduk bersandar disebuah pohon dibelakangnya, "Aku bangun beberapa menit sebelum fajar dan mendapati kau tidak ada dimobil, jadi aku mencoba mencarimu."

Bahu mereka saling bergesekan ketika Sasuke mengambil posisi disampingnya.

"Aku belum berlari terlalu jauh," Naruto melanjutkan. "Aku sedang mencoba untuk menaiki bukit ketika aku melihat sepasang lampu melalui kabut dan deru mesin mobil. Aku pikir itu adalah regu penjaga hutan yang sedang berkeliling dan aku pun berniat untuk meminta bantuan mereka, tetapi aku tidak sebodoh itu. Aku sadar dan memutuskan untuk menunggu hingga mobil itu lebih dekat."

"Ah," Sasuke berbisik. "Kau bisa saja berlari tepat ke depan mobil itu sebelum Madara..." Dia tidak dapat melanjutkan. Pemikiran tentang apa yang mungkinterjadi kepada Naruto membuat dirinya sakit.

"Mobil itu parkir di balik sebuah pohon di dekat mobilmu, kemudian seseorang keluar dari dalamnya. Dia membawa senter dan senapan di bawah lengannya ketika dia mulai mendekat ke arah di mana mobilmu tersembunyi. Dia pasti medapatkan lokasi kita sebelum kau memindahkan jam tangan itu. Aku tahu itu Madara, jadi aku tersembunyi."

"Kemudian apa yang terjadi?"

"Dia memeriksa mobilmu. Mencari-cari apakah kita berdua masih ada di mobil tersebut."

"Apakah kau melihat wajahnya?"

"Tidak. Aku mungkin dapat melihatnya jika aku berpindah tempat, tetapi aku takut jika akan membuat suara dan dia akan tahu. Dia sedang memakai jubah berwarna cokelat dengan kerah dan topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya."

Seleranya terhadap mode tidak berubah sejak dahulu. Madara selalu memakai jubah dan topi ketika ia beraksi.

"Ia terdiam disana selama beberapa menit. Aku berada di jarak yang cukup untuk menembaknya. Tetapi aku takut ia sedang berusaha mendapatkan petunjuk dengan mencoba mendengar suara-suara disekitarnya. Aku takut ia mendengar suara ketika aku membuka resleting sakuku untuk mengambil pistolku." Naruto menambahkan jeda sebentar. "Aku pikir, wanita itu tidak bersamanya saat itu. Aku sempat melihat ke dalam mobilnya ketika aku mengendap-endap untuk menjauh. Dan wanita itu tidak disana bersamanya."

Sasuke melingkarkan tangannya di atas bahu Naruto, "Aku tak menyangka kau masih memiliki otak untuk berpikir," ucap Sasuke sambil tertawa getir. "Jika kau masih tidur ketika Madara datang..."

Naruto menginterupsi sebelum Sasuke dapat menyelesaikan kalimatnya, "Dia mungkin akan menembakku, bukan? Dan satu hal yang harus kau tahu, Uchiha. Itulah yang akan ku lakukan terhadapmu, jika kau berani meninggalkanku lagi."

Sasuke tertawa kecil sebelum menarik Naruto mendekat untuk bersender ke bahunya. Naruto membaringkan kepalanya di bahu Sasuke, berusaha mencuri sedikit kehangatan tubuhnya.

"Aku memang seharusnya tidak meninggalkanmu sendirian. Sial, sepertinya aku sudah terlalu lama..." Sasuke berhenti, menyadari bahwa ucapannya sudah terlalu jauh.

Naruto mengikuti seringaian yang biasa Sasuke lemparkan kepadanya, "Terlalu lama dari apa, Sasuke? Katakan kepadaku."

"Bukan apa-apa."

Naruto terkekeh, "Dasar duda putus asa."

Sasuke membulatkan matanya dan menautkan alisnya, "Aku tak suka itu, dasar bujang lapuk."

Naruto menjulurkan lidahnya, "Aku memiliki mantan pacar lebih banyak darimu."

Untuk pertama kalinya Sasuke dongkol, "Terserah."

Kehangatan tubuh Sasuke di sampingnya hampir membuat Naruto terbuai. Belaian angin hampir membuat ia terkantuk. Tiba-tiba, puncak kepalanya ditepuk oleh Sasuke.

"Ayo, sugar. Kita harus bergerak."

Naruto bangkit dengan malas. Seluruh tubuh dan kakinya mengalami pegal-pegal. Menggeram, Naruto memegangi punggungnya, tidak peduli jika ia terlihat seperti kakek-kakek.

"Kau tahu apa yang aku perlukan saat ini?"

"Makanan, pakaian kering..."

"Ya, itu juga," katanya. "Tetapi yang aku butuhkan adalah tempat yang tenang dan posisi duduk Lotusku."

"Apa?" Sasuke yakin ia tidak mendengar dengan benar tadi.

Naruto mengulangi. "Kau biarkan pecahan-pecahan ingatan melayang dalam pikiranmu, kemudian bila kau sudah benar-benar rileks, kau menyusunnya satu per satu dan menganalisisnya. Kau tidak dapat melakukannya, hingga kau benar-benar mencapai relaksasi total. Itu membantuku untuk berpikir dan menenangkanku ketika aku stress."

Sasuke mengamati ketika Naruto meregangkan kakinya. "Jadi bagaimana caramu mencapai relaksasi total?" ia bertanya.

"Visualisasi," jawab Naruto. "Aku membayangkan pergi ke sebuah tempat di mana aku merasa benar-benar aman dan bebas, seperti sebuah rumah. Kau tahu, seperti... surga kecil."

"Kau tahu kan bahwa kau terdengar agak... gila?"

"Terima kasih."

Naruto menggoncangkan lengan dan kakinya untuk mengendurkan otot-ototnya dan mulai berjalan lagi, kali ini langkah mereka lebih lambat. Sesekali, Naruto jatuh berlutut dan tertinggal di belakang Sasuke, nafasnya terengah-engah. Mereka tidak tahu seberapa jauh mereka telah menaiki bukit itu, yang mereka tahu bahwa hari sudah mulai senja, dan sejauh ini mereka belum melihat satupun tanda-tanda pemukiman penduduk. Di mana mereka? Atau jangan-jangan mereka masih di pinggiran California?

"Kau baik-baik saja?" Sasuke bertanya kepada Naruto ketika untuk kesekian kalinya, ia harus menunggu Naruto yang tertinggal di belakangnya.

Mengapa Sasuke tidak terlihat kelelahan? Dia juga manusia, bukan?

"Tidak pernah merasa lebih baik dari ini." Naruto mencoba untuk memainkan suaranya agar terlihat sama cerianya dengan anak-anak ketika mereka mendaki bukit untuk melakukan piknik.

Sasuke rupanya bersimpati kepadanya. "Apakah kau ingin beristirahat?"

"Tidak," balas Naruto dengan lemah. Naruto bukan tipe orang yang suka menyusahkan orang lain.

"Baiklah," jawab Sasuke acuh. "Terus berjalan, prajurit."

Semakin naik, udara semakin menipis. Naruto merasakan pandangannya mulai memudar dan kepalanya makin ringan, berangsur-angsur dadanya mulai terasa sakit. Apakah ini yang disebut keadaan Anoksemia? Keadaan dimana darahmu tidak menerima cukup pasokan oksigen.

Naruto mencoba untuk tidak memperdulikan rasa risih karena pakaian dalamnya yang lembab menempel di kulitnya atau bagaimana bisa dia membawa sekitar dua kilogram lumpur di setiap sepatu ketsnya.

Medan di depan mereka mulai semakin curam dan lebih berbahaya. Otot-otot betis mereka mulai terbakar, dan mereka terpaksa memperlambat langkahnya ketika mereka melewati deretan terakhir pepohonan.

Mereka tiba-tiba berhenti. Mereka telah mencapai sebuah deretan batu yang di ada di puncak gunung. Dibentangkan di hadapan mereka adalah sebuah pandangan panoramik dari bukit yang lebih rendah. Padang rumput hijau yang terhampar di antara puncak-puncak pegunungan dengan ratusan bahkan ribuan pohon dengan cabang yang menggapai langit, menyejukan mata sekaligus menyimpan misteri dibaliknya.

Naruto terpaku dengan pandangan di depannya, ia mendekati tepi puncak bukit itu dan merentangkan tangannya, membiarkan tubuhnya dipeluk oleh angin senja, "Bukankah ini pemandangan yang indah?"

Sasuke mengulum senyum ketika melihat punggung Naruto di depannya. "Ya, pemandangan yang mengagumkan," ucap Sasuke.

Ketika Sasuke mendekati Naruto, ia dapat melihat sebuah pemukiman kecil di bawah lereng bukit itu. Ditengah-tengah hutan, mereka dapat melihat atap-atap dari rumah kayu kecil itu tersembul. Cerobong asapnya mengeluarkan wangi remah roti, sup wortel dan bawang goreng.

Sasuke menatap Naruto, Naruto membalasnya.

"Ayo, ini saatnya untuk kita beristirahat."

Hari akan semakin membaik, Naruto dan Sasuke tahu itu.


Sasuke dan Naruto menghabiskan waktu setengah jam untuk turun dari lereng. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan penduduk lokal yang berniat pulang setelah seharian mereka bekerja sebagai penebang pohon. Naruto dan Sasuke naik ke atas truk muatan yang sudah di penuhi potongan-potongan batang pohon. Sesampainya mereka di desa kecil itu, mereka di sarankan oleh pria paruh baya yang mengendarai truk muatan itu untuk pergi ke kantor polisi untuk mencari info lebih lanjut.

Sasuke dan Naruto menyusuri perkampungan itu. Rumah-rumah itu terdiri dari balok-balok kayu yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk dinding dan atap. Di sini, mereka merasa seperti berada di zaman Neolitikum. Mengintip ke jendela yang terbuka, mereka dapat melihat anak-anak bercanda riang di meja makan sambil menunggu ibu mereka memasak makan malam, sendok dan garpu berada di kedua tangannya. Para suami yang baru pulang setelah seharian bekerja keras, disambut oleh anak-anaknya yang berhamburan menghampiri dan langsung mengelayut di lengan ayahnya. Penduduk disini sangat ramah dan bahagia.

Sebuah tanda dari kayu yang menancap di atas tanah menandai bahwa bangunan yang sedikit lebih besar dari rumah-rumah disekitarnya adalah kantor polisi. Mereka cukup terkejut bahwa ada kantor polisi yang cukup layak mengingat seberapa kecil perkampungan ini. Tepat disebelahnya ada bangunan yang lebih kecil yang bertuliskan 'Pemadam Kebakaran'.

Sasuke mengintip dari balik kaca untuk melihat seseorang pemuda paruh baya berada di belakang sebuah meja dengan kertas yang tertumpuk di atasnya. Ia sedang sibuk berkutat dengan kertas-kertas itu tanpa memerdulikan siaran TV 14 inci layar cembung yang menempel di dinding di atas mejanya. Sesekali ia menyesap kopi dari sebuah cangkir bergambar seseorang tentara yang memamerkan ototnya dan gigi yang putihnya memuakkan.

Sasuke dan Naruto masuk kedalam kantor polisi tersebut. Pria itu tidak memperdulikan kehadiran mereka dan tetap berkutat dengan tumpukan kertas dihadapannya. Naruto sengaja berdeham dan akhirnya pria itu melirik ke arahnya.

"Sudah beribu kali aku katakan, jika kalian kehilangan binatang ternak kalian, silahkan melapor ke polisi hutan, bukan kesini."

Sasuke dan Naruto menukar pandangan sebelum berkata, "Maafkan aku mengganggu pekerjaanmu, pak polisi. Kami membutuhkan bantuanmu. Namaku adalah Uzumaki Naruto dan ini adalah Sasuke Uchiha."

Dengan jarak sedekat ini, Naruto dapat melihat tanda nama di atas saku pria itu, Kepala Kepolisian Sai. Pria itu tidak tertarik untuk menerima jabat tangan dari Naruto, ia hanya menatap mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Apa yang terjadi pada kalian," tanya Polisi Sai kepada mereka berdua.

Naruto tidak bisa menjawab. Tentu saja ia tidak bisa memberitahu kepada Polisi Sai bahwa ada seorang pembunuh profesional sedang mengejar mereka. Akibatnya akan serius jika mereka berdua melibatkan orang lain.

Melihat Naruto tidak memiliki kata-kata untuk menjawab pertanyaan Polisi Sai, Sasuke memotong, "Ceritanya sangat panjang."

Sai meletakan pensil yang selama ini ia genggam di atas kertas, kedua tangannya ia letakan di bawah dagunya, "Aku memiliki waktu untuk mendengarkan."

Ada beberapa orang yang sama sekali tidak cocok karena sifat dan perangai mereka masing-masing. Dan tidak perlu waktu lama agar Naruto tahu bahwa Sai dan Sasuke merupakan jenis orang-orang seperti itu. Beruntung, tiba-tiba sebuah polisi wanita berambut pirang panjang masuk ke dalam ruangan dari pintu yang menghubungkan kantor polisi dengan gedung pemadam kebakaran di sebelahnya. Naruto berharap ia tidak perlu menenangkan perang dingin ini sendirian.

"Apa yang terjadi disini?" tanya wanita itu. Umurnya tidak terpaut terlalu jauh dari Polisi Sai. Naruto dapat melihat tanda nama diatas saku perempuan itu, Wakil Kepala Kepolisian Ino Yamanaka. Polisi perempuan itu menginspeksi mereka dengan tatapan menyelidik.

"Ya tuhan, apa yang terjadi pada kalian? Kalian seperti baru saja keluar dari neraka."

Entah itu adalah kata yang tepat atau terpaut jauh, Naruto sepertinya hanya ingin setuju dengan kata 'neraka'. Sasuke bergeming melihat Polisi Ino, ia menjauhkan badannya dari meja kerja Kepala Kepolisian Sai, tidak ingin semua ini menjadi lebih rumit lagi. Sasuke tidak ingin membuang-buang tenaganya dengan memancing keributan. Jika, mereka masih punya urusan sebagai laki-laki, besok adalah waktu yang adil. Hari ini ia benar-benar lebih.

"Perkenalkan, namaku adalah Naruto Uzumaki dan ini adalah Sasuke Uchiha," Naruto mengulang perkenalannya. "Kami bukan berasal dari dekat sini."

"Oh, aku bisa melihatnya."

Naruto tidak bisa melanjutkan, ia melempar tatapan kepada Sasuke untuk menyuruhnya mengambil alih. Tetapi Sasuke melemparkan tatapan keluar jendela, tidak berniat sedikit pun memulai kata-kata. Suasana hatinya sedang buruk.

"Bisakah kami meminjam tempat tinggal, mungkin hanya untuk satu malam."

Naruto memeluk tubuhnya karena ia mulai gemetar. Hari sudah semakin sore dan bajunya yang lembab membuat ia semakin mengigil. Di mata Polisi Sai, Naruto hanya melebih-lebihkan tetapi berbeda dengan tatapan yang dilempar Polisi Ino.

Kepala Kepolisian Sai mengetukkan batang pulpen yang ia genggam ke atas tumpukan kertas, "Kau tidak akan bergerak seinci pun dari kantor ini sebelum kau memberikan penjelasan kepada kami semua."

Melihat bahu Naruto merosot turun, Polisi Ino melempar tatapan kesal kepada Polisi Sai, "Apa yang kau pikirkan, babe? Apakah kau tidak melihat mereka sedang kesulitan? Berbelas kasihan lah sedikit."

Naruto sempat terkejut ketika Polisi Ino mengucapkan panggilan sayang kepada Polisi Sai, hingga akhirnya, Naruto melihat cincin di jari manis mereka berdua identik.

"Tetapi..."

"Tidak, tidak ada tapi. Berikan mereka kunci rumah yang dahulu ditempati oleh tuan Jiraiya. Aku akan mengambilkan mereka beberapa pakaian bersih dari loker di gedung sebelah."

Sebelum Sai sempat protes, bayangan Polisi Ino sudah menghilang di balik tempat ia masuk sebelumnya. Wajah Polisi Sai semakin tidak senang menatap Naruto dan Sasuke. Naruto menunduk tidak enak karena menyebabkan mereka bertengkar, Sasuke menyeringai senang melihat lawan perangnya ternyata adalah tipe 'Para Suami Takut Istri'.

Polisi Sai terlihat setengah hati ketika menunduk ke bawah meja kerjanya dan membuka satu-persatu laci meja kerjanya. Mengobrak-abriknya dengan asal sebelum menarik sebuah logam kecil mengkilap dari balik laci ketiga dari atas. Sai melempar kunci itu ke atas meja di bagian yang dapat di jangkau Naruto dan Sasuke tanpa harus mendekati meja kerjanya lebih jauh.

Sekitar tiga menit kemudian, Polisi Ino membawa sebuah bungkusan berwarna hitam.

"Ini beberapa setel pakaian dan peralatan mandi dari kami. Mungkin ukurannya tidak terlalu pas dengan kalian, khususnya Naruto. Kau sangat mungil. Aku jadi ingin memiliki anak laki-laki sepertimu," ucap Ino ketika menyerahkan bungkusan itu ke tangan Naruto. Setelah bungkusan itu berpindah tangan, Ino sempat menepuk puncak kepala Naruto sambil tersenyum. Tinggi Naruto hanya lebih dua sampai tiga sentimeter diatasnya.

"Oh, aku tidak ingin memiliki anak laki-laki seperti itu."

"Apakah aku meminta pendapatmu?"

Polisi Sai terdiam dengan cara yang hampir lucu. Polisi Ino memanggil sebuah nama dan seseorang prajurit berseragam santai muncul dari balik pintu tempat Ino sebelumnya muncul.

"Polisi Junior Rock Lee, antarkan mereka ke rumah yang dahulu ditempati tuan Jiraiya."

"Siap, laksanakan!" Prajurit berpakaian kaos sleeveless berwarna hijau itu berdiri tegak dengan semangat yang menurut Sasuke sedikit berlebihan.

Prajurit Lee berbalik ke arah Naruto dan Sasuke lalu berkata dengan nada yang dibuat-buat lantang, Sasuke hampir tertawa mengingat ia pernah ada di angkatan laut dan standarnya tidak pernah seburuk polisi di daerah ini. Apa yang mereka pertimbangkan dengan memilih kadet seperti ini, melalui undian? Lucu sekali.

Naruto sempat mengucapkan terima kasih dan menunduk 90 derajat kepada Polisi Sai dan Polisi Ino, Sasuke mengulas senyum tipis kepada mereka berdua sebelum bersama-sama mengikuti Polisi Rock Lee.

Sasuke sempat mampir ke sebuah toko serba ada yang jika ia mencoba percaya dengan pernyataan Rock Lee, adalah satu-satunya yang ada di kampung ini. Sasuke membeli beberapa makanan kaleng dan bahan pelengkap lainnya. Rock Lee tidak bisa berhenti mengoceh tentang rumah yang akan mereka tempati, tentang cerita dibalik tuan Jiraiya yang baru beberapa bulan tinggal di daerah ini sebelum ditinggal mati oleh istrinya dan akhirnya mencoba meninggalkan kenangan bersama istrinya dengan pergi dari kampung ini. Naruto mengangguk maklum, orang selalu datang dan pergi, dan itu normal.

Sesampainya di depan sebuah rumah yang tidak berbeda jauh dari rumah di sekitarnya, Rock Lee pamit dan berjalan kembali ke kantor polisi, wajahnya senang bukan main karena mendapat tugas tambahan untuk mengantarkan orang asing.

Rumah –atau lebih cocok jika disebut pondok- itu sangat mempesona dengan bau daging pohon cemara menyeruak di dindingnya. Sebuah perapian dari batu terletak di ruang tamu dengan cerobong asap yang menempel di dinding hingga ke langit-langit. Di samping perapian terdapat sepasang kursi besar berwarna merah dadu. Di belakangnya terdapat sebuah sofa. Naruto tidak dapat menebak apakah warna sofa itu memang lime green atau warna hijau yang sudah luntur karena dimakan usia. Tetapi sejujurnya, itu lebih dari cukup untuk mereka berdua.

Mereka menulusuri pondok satu lantai itu, ada sebuah kamar tamu yang di gabung dengan ruang makan. Di samping perapian terdapat pintu yang mengarah ke sebuah kamar tidur dan kamar mandi. Di seberang sofa terdapat ruangan yang berfungsi sebagai dapur.

Sasuke berjalan ke arah dapur untuk meletakan kantung bahan-bahan makanan di dapur. Naruto meletakan bungkusan berisi pakaian dan peralatan mandi yang masih baru itu ke atas sofa di ruang tamu. Naruto duduk diatas sofa tersebut untuk meluruskan kakinya. Walaupun kulit sofa tersebut agak kasar karena sering di duduki oleh mantan pemilik rumah ini, tetapi sofa itu tetap nyaman.

Sebelum merasa terlalu nyaman dan menjadi malas untuk berbenah, Naruto menghampiri Sasuke yang berada di dapur. Naruto melihatnya menuangkan air ke dalam panci dan mencuci sayuran yang sudah setengah layu.

"Kau langsung ingin makan?"

"Aku sudah berjam-jam tidak memasukan apapun ke dalam perutku. Aku mungkin tidak akan bertahan untuk satu jam lagi. Kau memangnya tidak merasa lapar?"

Naruto membuka laci-laci meja dapur dan mengambil peralatan seperti wajan, spatula dan pisau, ia berniat untuk membantu Sasuke, "Tentu aku lapar."

Sasuke mengambil pisau dan mulai memotong-motong sayuran yang sebelumnya telah ia cuci. Tangannya sangat cekatan hingga sulit untuk melihat bahwa ini adalah pertama kali ia memasak.

"Kau bisa memasak?" tanya Naruto penasaran. Untuk sesaat ia merasa tidak berguna karena ia selalu mengandalkan makanan cepat saji atau masakan restoran.

Sasuke berpikir sebentar sebelum menjawab, "Aku bisa memasak beberapa masakan sederhana."

Naruto tertawa sampai memegang perutnya karena mendengar jawaban Sasuke.

"Apa yang lucu?" tanya Sasuke bingung.

"Bukan apa-apa," Naruto mengusap tepi matanya. "Aku hanya tidak menyangka kau bisa melakukan sesuatu seperti itu. Ceritakan padaku, apakah semua prajurit di angkatan laut di ajari menjahit dan mengarang bunga? Warna apron apa yang kau suka? Merah muda? Dengan polkadot atau corak hati?" Naruto kembali tertawa dengan hebatnya. Sasuke manyun sendiri tetapi tetap berusaha fokus dengan pekerjaannya.

Setelah Naruto berhenti tertawa beberapa menit kemudian, Sasuke bertanya, "Sudah puas?"

"Sama sekali belum," jawab Naruto geli. Naruto tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa semakin lama ia dengan Sasuke, dunia ini semakin menyenangkan. Untuk itu, ia harus belajar lebih banyak tentang Sasuke.

Sasuke membuka kaleng makanan yang ia beli sebelumnya dan menuangkan isinya ke dalam panci, Naruto dapat melihat bola-bola daging meluncur turun dari kaleng itu, "Kau pernah bekerja di FBI, kan? Lalu apa bakatmu hingga bisa diterima di sana?"

Kali ini, Sasuke tidak akan menjawab sesuatu yang membuat harga dirinya jatuh kembali, ia tersenyum sebelum menjawab, "Menembak, aku ahli dalam menembak sasaran. Mereka menjulukiku 'Sang Mata Elang' ketika aku masih berada di FBI. Dan mereka berkata bahwa aku memiliki analisa yang bagus untuk menyelesaikan kasus-kasus sulit."

Naruto tertarik, tetapi ia tidak tahan dengan wajah sombong Sasuke yang menyebalkan. Seharusnya orang tua Sasuke menambahkan kalimat 'sombong' ditengah namanya.

"Oh, aku sudah tahu itu. Kau sudah menunjukan kualitasmu ketika melawan Madara di hutan pagi tadi." Sasuke mencium bau sarkatis di kalimat Naruto.

Naruto mengambil beberapa kotak bumbu pelengkap di deretan laci paling bawah dan menyerahkannya kepada Sasuke yang sedang mengaduk makanan di dalam panci, "Bakat apalagi yang kau punya?"

"Yeah," Sasuke mengumam. Dia melingkarkan sebelah tangannya yang bebas ke pinggang Naruto dan mulai menarik Naruto ke arahnya. "Aku cukup ahli dalam beberapa hal yang lain." Seringaiannya kali ini agak berbeda dari biasanya.

Alarm tanda peringatan berbunyi di kepala Naruto, "Seperti apa?"

Sasuke mendekatkan tubuhnya dan menempelkan bibir di telinga Naruto. "Kau tahu benar apa yang kau maksud," bisiknya.

Oh tuhan. Dari jarak sedekat ini, Naruto dapat menbaui tubuh Sasuke seluruhnya. Bau daun kering dan lumpur, keringat dan sedikit bau apak karena lembab. Agaknya Naruto tidak peduli, perpaduan itu menjadi memabukan jika berada di tubuh Sasuke.

Entah siapa yang memulai, tetapi tiba-tiba bibir mereka terpaut. Naruto tidak cukup sadar apakah dia bersandar di bahu Sasuke, lalu Sasuke memiringkan kepalanya kebawah hingga menciumnya. Atau versi yang lebih parah, Naruto menarik kerah leher Sasuke dan menyatukan bibir mereka. Naruto tidak tahu mana yang benar, dan ia tidak terlalu memikirkan hal itu.

Dan, oh, itu terasa sangat menyenangkan. Mulut Sasuke sangat hangat di dalam mulut Naruto, dan, Sasuke benar-benar tahu cara berciuman. Mungkin ia mendapat keahlian itu dari istrinya, Naruto menjadi sedikit merasa bersalah. Tetapi, Sasuke benar-benar membuatnya menginginkan lebih dan lebih lagi. Sasuke sangat lembut, tetapi pada saat yang bersamaan, ia tetap kasar dan menuntut. Tangan Sasuke menangkup dagu Naruto, dan dia menekannya dengan lembut agar ia tahu bahwa Sasuke ingin Naruto membuka mulutnya.

Naruto sedikit berjinjit ketika melilitkan kedua tangannya ke belakang leher Sasuke. Ketika Sasuke mulai memeluk dan membelai punggungnya, Naruto merasa tulangnya menjadi selunak jeli, seribu kupu-kupu beterbangan di perutnya.

Ketika mereka mengakhiri cumbuannya, tangan Sasuke berada di balik kaos Naruto, meraba kulit punggungnya. Naruto dapat merasakan panas tubuh Sasuke menyebar di tubuhnya.

"Lebih baik kita berhenti disini sebelum aku kehilangan kendali dan menunjukan keahlian yang aku bicarakan tadi."

Seringaian Sasuke semakin berbahaya setiap detiknya, memaksa Naruto mengambil jarak aman.

Sasuke menggoda Naruto dengan aksen Eropa-nya yang seksi, "Tetapi, jika kau sebegitunya menginginkanku. Aku bisa mengaturnya, my honey."

Naruto sudah tahu bahwa ini berarti saatnya ia menjauh dari Sasuke sebelum bahaya benar-benar menelannya hidup-hidup. Naruto menepis tangan Sasuke yang berada di pinggangnya, ia berjalan dengan cepat keluar dari dapur sebelum Sasuke menyadari bahwa bulu halus dibelakang lehernya telah berdiri sejak tadi.

Walaupun ia telah masuk ke kamar tidur, ia dapat mendengar suara tawa Sasuke dari dapur. Ia benar-benar butuh mandi sekarang.

Naruto menghabiskan lima belas menit hanya untuk mencoba satu-persatu baju yang Polisi Ino bungkus untuk mereka. Tidak ada satupun yang pas dengan tubuhnya. Yang paling kecil setidaknya dua ukuran diatasnya. Naruto mengenakan sebuah kemeja lengan panjang yang tergerai sampai tiga sentimeter di atas bagian tengah pahanya dan memakai sebuah celana pendek yang menutupi hingga bagian tengah pahanya. Lengan kemejanya ia lipat hingga ke lengan bawahnya.

Naruto tidak ingin repot-repot 'berdandan', tetapi menggosok giginya dan menyemprotkan beberapa wewangian peninggalan mantan pemilik asli pondok itu sepertinya cukup wajar. Oh, tidak. Dia tidak ingin membuat gembira Sasuke atau apa, dia hanya ingin berpenampilan sedikit pantas setelah berhari-hari tidak bisa membersihkan diri. Iya, Naruto yakin itu alasannya.

Naruto keluar dari kamar mandi dan meletakan sisa pakaian yang belum ia pakai di atas ranjang. Sekali lagi, ia mengagumi tuan Jiraiya karena rasa artistiknya. Kamar tidurnya dilengkapi dengan sebuah lampu listrik yang redup, menguatkan kesan harmonis dengan kayu dan perabotan antik di dalamnya. Ranjangnya ukuran king size dan diselimuti dengan seprei warna-warni yang sedikit terlihat kusam.

Entah siapa tuan Jiraiya itu, tetapi jika yang dikatakan Rock Lee benar, ia benar-benar ingin melupakan kenangan bersama istrinya dengan meninggalkan semua barang-barang cantik ini. Jika ditaksir harga barangnya mungkin akan memenuhi kebutuhan hidupmu sepanjang tahun.

Naruto keluar dari kamar tepat ketika Sasuke masuk dari pintu depan, ia menutup dan mengunci pintu tersebut lalu berbalik dan membeku.

"Apa yang terjadi padamu?" tanya Naruto. Sasuke tidak menjawab, ia hanya terpaku menatap Naruto. "Kau terlihat seperti sehabis berguling di lumpur. Apa yang terjadi?" Naruto mengulang pertanyaannya.

Sasuke tidak bisa membuat dirinya berhenti menatap paha Naruto yang terekspos. Kulitnya tampak mulus tanpa bulu dan berwarna kuning karamel. Fantasi aneh menari-nari di dalam pikirannya, tanpa sadar ia meracau, "Aku mengecek garasi disamping rumah, lalu kaleng oli... dan... kaleng oli..."

"Hah, lalu?"

"Ya?"

Akhirnya Sasuke berhasil memaksa dirinya untuk memandang lawan bicaranya, ia tahu, Naruto sadar bahwa Sasuke tengah memandangnya. Sasuke hanya tak bisa menahan diri, paha mulus yang terlihat terawat itu benar-benar memabukan.

"Apa yang terjadi di garasi, Sasuke? Apa yang terjadi dengan kaleng-kaleng oli itu?"

"Yah, begitulah."

Sasuke berkicau seperti orang idiot, dan Naruto bertanggungjawab penuh atas penurunan IQ-nya secara drastis. Sasuke melangkah melewati Naruto ke kamar tidur, ia menggerutu dengan kata-kata yang tidak dapat Naruto dengar ketika ia melangkah ke kamar mandi.

Naruto berjalan ke arah meja makan dimana masakan yang Sasuke masak terhidang di atasnya. Naruto harus mengakui bahwa masakan ini kelihatannya tidak terlalu buruk. Bola-bola daging di dalam kuah saus tomat, ditambah dengan potongan-potongan sayur ringan seperti sawi, daun bawang dan kol. Naruto bisa menghabiskan semangkok penuh untuk dirinya sendiri selama lima menit.

Naruto membawa mangkok kotor itu bersamanya ke dapur dan meletakannya di atas bak cuci piring. Ia melangkah ke arah plastik belanjaan Sasuke dan mengambil sebuah botol minum dari dalamnya. Ia mematikan lampu dapur lalu masuk ke kamar tidur. Naruto dapat mendengar suara air di balik pintu kamar mandi, dan ia berusaha untuk tetap tenang ketika ia mengganti seprei ranjang kusam di kamar itu. Naruto menemukan seprei baru yang masih bersih di dalam lemari dan melapisi kasur dengan itu. Naruto membuka laci lemari yang sama dan menemukan sebuah selimut bersih yang dapat mereka gunakan.

Naruto naik ke atas tempat tidur dan bersila di tengah-tengahnya. Ia meluruskan punggungnya agar berada di posisi Lotus. Naruto mencoba membersihkan pikirannya dan berkonsentrasi untuk mengatur pernafasan. Tepat ketika ia baru saja masuk ke alam bawah sadarnya, sebuah suara menginterupsinya.

"Pergi ke 'surga kecilmu'?"

"Iya," jawab Naruto singkat.

Sasuke berdiri di ambang pintu, tidak memakai apapun kecuali celana pendek selutut, ia bahkan tidak ingin repot-repot memasang kancingnya. Naruto tidak ingin konsentrasinya terganggu. Ia kembali memfokuskan dirinya. Sasuke mencoba menggoda Naruto dengan mendekatinya ketika ia berada di tahap meditasi, tetapi nyatanya, Naruto bergeming. Ia benar-benar serius dengan semua omong kosong tentang penenangan pikiran dan yoga.

Sasuke sedikit menjadi bosan, "Kau tahu kau terlihat seperti apa, Naruto? Kau seperti seorang pendeta yang mengasingkan diri kesebuah bukit untuk tinggal dan bertapa."

Naruto tidak merespon, keningnya berkerut bagaikan ia sedang memikirkan sasuatu dengan serius. Setelah beberapa menit, tiba-tiba Naruto membulatkan matanya hingga ia dapat merasa bahwa bola matanya dapat keluar dari tempatnya.

"Itu dia, Sasuke. ITU DIA." Naruto menatap Sasuke dengan pandangan bergairah.

"Apa?"

"Coba ulangi apa yang kau katakan tadi."

"Apa."

Naruto hampir mengigit Sasuke karena jawabannya, "Bukan itu. Kalimat sebelumnya."

"Tentang mengasingkan diri disebuah bukit?"

"Benar.. Tiba-tiba kau mengingatkanku kepada pesan suara yang ditinggalkan Paman Kyuubi ketika ia berada di Bandara California, sebelum Madara membawanya"

Sasuke tiba-tiba berantusias seperti seorang anak di toko mainan, "Apa yang diucapkannya?"

"Aku benar-benar idiot karena lupa akan hal ini. Kyuubi berkata kepadaku bahwa ada seorang pemuda –Madara- yang akan mengantarnya menuju sebuah penginapan sementara di puncak bukit karena Rovusia Paradise sedang menyiapkan kamar cadangan untuk kedatanganku esok harinya."

Naruto melanjutkan, "Aku ingat nama bukitnya adalah Bukit Filaria. Ya, tidak salah lagi, itu namanya. Aku ingat karena aku sempat tertawa mendengar nama bukit itu. Filaria adalah sejenis cacing benang yang menyebabkan penyakit kaki gajah. Dan itu lucu karena aku pikir sangat aneh untuk menamai sebuah bukit dengan nama cacing pembawa penyakit."

Naruto ingat betapa lucunya ketika ia mendengar nama bukit itu beberapa hari yang lalu, tetapi sekarang, ia tidak bisa sedikit pun tersenyum karena fakta bahwa pamannya berada di sana, sedang berperang melawan bahaya.

Sasuke mengerutkan alis, "Lalu kenapa kau tidak berkata kepadaku tentang ini sebelumnya?"

Naruto membela dirinya, "Aku sudah bilang, nama tempat itu sangat aneh, jadi aku pikir Madara memalsukan nama tempatnya. Kau akan dengan mudah melupakan hal-hal yang palsu seperti itu, bukan? Tetapi, Sasuke, bagaimana jika Madara tidak berbohong?"

"Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa Madara tidak memalsukan nama bukit itu?"

"Karena Madara tidak memiliki alasan untuk berbohong, Sasuke. Madara sudah mendapatkan mangsanya –Paman Kyuubi- didepannya. Madara yakin bahwa misinya sudah selesai dengan menghabisi Kyuubi. Tetapi, Madara tidak tahu sebelumnya bahwa aku akan datang. Madara tidak tahu bahwa apa yang ia katakan, tidak akan berakhir di Kyuubi." ujar Naruto.

Dalam beberapa menit, Sasuke terdiam dengan kedua tangan di bawah dagunya, "Bagaimana pendapatmu?" tanya Naruto.

Naruto menatap Sasuke, menunggu responnya. Sasuke menatap balik matanya dan memberinya anggukan, tanda bahwa ia mengerti dengan semua penjelasan Naruto.

"Jika kau minta pendapatku, kita kurang lebih punya kesempatan sebesar lima puluh persen untuk membenarkan hipotesismu."

Oh, ayolah Sasuke, beri Naruto sedikit pujian. "Memangnya kau punya rencana lain?"

Alih-alih menjawab pertanyaan Naruto, Sasuke menambah pertanyaan lain, "Kau tahu dimana tempatnya? Bukit Filaria itu."

Naruto mengangkat bahunya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar tidur. Matanya terhenti di meja rias kecil di sudut ruangan. Meja rias itu mengkilap, membuat Naruto berpikir bahwa meja rias itu terbuat dari keramik.

Naruto setengah berlari ketika menghampiri meja rias itu. Dia membuka laci itu satu-persatu. Bertumpuk-tumpuk alat-alat rias seperti, lipstik, bedak, celak alis dapat Naruto temukan di dalamnya. Istri Tuan Jiraiya pasti sangat suka merawat diri. Naruto menyingkirkan alat-alat kosmetik itu dan meraih sebuah kunci kecil di dasar laci.

Sasuke tidak tahan untuntuk bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan?"

Naruto berbalik, sedikit merapikan alat rias milik nyonya Jiraiya dan menutup laci itu kembali sambil menjawab, "Polisi Rock Lee berkata bahwa Tuan Jiraiya belum lama pindah ke daerah ini sebelum istrinya meninggal. Itu artinya Tuan Jiraiya adalah pendatang baru, ia pasti menyimpan peta disuatu tempat. Dan semua lemari sudah aku buka sebelumnya ketika aku mencoba mencari pengganti selimut dan seprei ranjang itu."

Naruto mendekati meja lampu di samping ranjang, dia memasukan kunci kecil itu ke lubang kunci di laci meja lampu. Sekali putar, laci itu terbuka.

"Hanya tersisa laci ini yang belum aku periksa."

Didalamnya terdapat buka-buku jurnal kecil seukuran saku, Naruto tidak tertarik untuk membuka dan membacanya sekarang. Ia menemukan peta usang di laci kedua dari atas.

Naruto membawa peta itu ke atas kasur dan merentangkannya di depan Sasuke. Sasuke dan Naruto bersama-sama mencari bukit yang bertuliskan Filaria.

Dalam waktu 10 detik, Naruto dapat menemukannya, "Ini dia."

Sasuke melihat ujung jari telunjuk Naruto, itu artinya ucapan Naruto benar. Ia mencoba mengira-ngira jaraknya. "Cukup masuk akal jika pamanmu dibawa ke tempat itu dari Bandara California. Jaraknya tidak terlalu jauh dan berada di tengah-tengah hutan."

Sasuke mengambil sebuah pulpen di laci tempat Naruto menemukan peta itu dan menggambar garis untuk memperkirakan jarak yang akan di tempuh. "Dan kita sudah bergerak ke arah timur laut cukup jauh dari Bandara California. Jika kita langsung menuju bukit ini, kita mungkin hanya akan mengabiskan waktu sekitar enam atau tujuh jam. Kembali ke kota membutuhkan waktu setidaknya lebih dari satu hari."

Naruto menatap Sasuke, ia mengambil keputusan secara sepihak, "Kita tidak punya waktu sebanyak itu. Kita harus langsung menuju bukit Filaria ini."

Sasuke memandang Naruto dengan tatapan kurang yakin, "Kau benar-benar tidak mengerti siapa yang kau hadapi, kan? Apakah kau sudah melupakan kemunculan Madara pagi tadi? Kita hampir saja mati. Kau yakin tidak membutuhkan bantuan polisi?"

"Apa maksudmu dengan 'kau yakin tidak membutuhkan bantuan polisi?'"

Sasuke mengangkat bahu, "Aku pikir kau tidak akan bisa menghadapi semua ini sendirian."

Naruto mengulangi pertanyaannya karena ia pikir ia belum mendapat jawaban yang jelas, "Apa maksudmu? Aku? Memang kau tidak memerlukan bantuan polisi?"

"Ingat ketika aku berkata bahwa aku melakukan semua ini karena ingin membunuh Madara dengan tanganku sendiri? Aku juga berkata bahwa aku melakukan semua ini, -menyelamatkanmu dari Madara, membawamu hingga ke tengah hutan dan melalui ini semua- bukan karenamu atau pamanmu. Aku melakukan ini semua karena aku memiliki masalah pribadi dengan Madara, dan aku tidak perlu melibatkan siapapun."

"Tetapi..."

Sasuke menutup mulut Naruto dengan jari telunjuk kanannya, "Tidak ada tapi, Naruto. Ini kesepakatan kita dari awal. Kau mengurus urusanmu, aku mengurus urusanku."

Naruto mengalihkan pandangannya dari Sasuke, tidak setuju maupun menolak atas penyataan Sasuke sebelumnya.

Sasuke bangkit dari ranjang dan menepuk kedua tangannya tanda menyimpulkan, "Okay, aku pikir aku harus mengecek ke tempat itu besok pagi."

Naruto mengoreksi, "Bukan 'aku', tapi 'kita'."

Sasuke ingin berkata sesuatu, tetapi dia menelan kembali kata-kata yang sudah sampai tenggorokannya.

Ketika Sasuke berniat berjalan ke ruang tamu, ia sempat melirik ke arah Naruto, ia melihat Naruto sedang melamun, pandangannya mengawang ke luar jendela dimana beribu-ribu bintang bertaburan di selimut gelapnya langit. Sasuke tahu persis apa yang ia pikirkan. Setelah Naruto tahu sendiri semua jawaban dari teka-teki ini, itu tidak membuat Naruto merasa lebih baik. Justru yang ia rasakan adalah semakin merasa cemas karena tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan Madara kepada pamannya, Kyuubi, setelah Madara tidak berhasil menangkap Naruto dan Sasuke. Orang seperti Madara tidak suka kekalahan.

Naruto ingin ke tempat itu untuk menyelamatkan Kyuubi, bukan untuk menemukan mayat Kyuubi.

Sasuke mengembuskan nafas panjang, Naruto terlihat sangat rapuh saat ini.

"Kau ingin ditemani?"

Naruto menoleh ke arah Sasuke dengan perlahan, "Apa maksudmu?"

Sasuke bersandar di pintu masuk kamar, lengannya terlipat di depan dadanya yang telanjang. "Aku tidur di sofa atau di kasur?"

Apakah Naruto cukup berani untuk benar-benar berkata jujur kepada Sasuke, untuk memberitahu Sasuke apa yang dia inginkan? Naruto berdeham untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.

Naruto berbisik, "Di kasur..." Naruto cepat-cepat menambahkan, "Umm, itu pun jika kau mau."

Sial, Naruto merasa bahwa suaranya terdengar sangat lemah, mungkin juga sedikit ketakutan. Naruto tidak bisa menatap mata Sasuke. "Jika kau mau," Naruto mengulanginya.

Sasuke tersenyum, "Tentu, aku mau."

CHAPTER 7 – END


NGINTIP CHAPTER SELANJUTNYA YUK :

Naruto berhasil memecahkan semua permainan Madara dan Kushina. Tetapi, itu hanya membuatnya lebih ketakutan. Apakah Naruto dan Sasuke bisa sampai disana tepat waktu sebelum Madara dengan emosi yang meluap-luap berniat untuk menyakiti Kyuubi? Lalu bagaimana reaksi Naruto ketika melihat ibu kandungnya untuk pertama kali?

"Halo, senang bertemu denganmu lagi, agen Sasuke."

...

"Apa kau ingin mengulang kesalahanmu lagi, hah?"

...

"Kau ingin tahu tentang ibu kandungku?" ... "Aku tidak tahu apa-apa mengenainya."


AUTHOR'S NOTE :

Silahkan lakukan apapun yang kalian suka terhadap saya karena saya terlambat update selama satu minggu.. Padahal saya sudah berjanji untuk meng-update fic ini selama dua minggu sekali..

Saya hanya bisa meminta maaf kepada reader semua yang mungkin sudah menunggu sejak minggu yang lalu.. Jika kalian ingin menyalahkan sesuatu, salahkan saja Office Word saya yang tiba-tiba berhenti mendadak ketika saya sudah mengerjakan 3/4 dari fic ini. Saya pikir saya bisa melakukan Recovery pada file yang sebelumnya belum saya sempat save. Eh ternyata, TIDAK BISA. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari file-file yang hilang, tetapi hasilnya nihil. Akhirnya saya harus membuat dari awal, benar-benar dari nol.. (Sedih)

Tetapi, berkat terlambat, saya bisa menghadirkan fic yang lebih baik dari fic yang 'tidak sengaja terhapus' sebelumnya, karena waktunya lebih panjang. Aku harap chapter ini bisa membuat kalian memaafkan aku.

Dan kesempurnaan chapter ini bukan merupakan hasil karya saya sendiri. Ada campur tangan orang lain yang berjasa untuk mengoreksi dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang saya perbuat. Terima kasih sebesar-besarnya untuk teman dunia maya saya, Han Lawrence aka Kohan44 yang sudah membantu saya dalam pembuatan fic ini.. Lain kali boleh lah kita collab.. Hehehe (Go visit his account)

Dan saya tidak punya waktu untuk anda para flamer. Saya tidak akan menyebut nama anda di fic saya lagi. Saya membiarkan anda berkomentar sesuka anda di kolom review karena itu adalah hak anda, saya tidak berniat menghapusnya karena itu bisa menjadi hiburan saya..

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.. Bye...

REVIEW, KRITIK, SARAN, FLAME (YANG BERKUALITAS DAN MEMBANGUN) MAUPUN REQUEST AKAN DITERIMA DENGAN LAPANG DADA OLEH AUTHOR DAN MEMBANGKITKAN SEMANGAT UNTUK MEMPERCEPAT UPDATE DARI FIC INI..

REVIEW SEORANG READER SANGAT BERARTI UNTUK SEORANG AUTHOR.. :)

Note : Mungkin fic ini akan berakhir dalam satu atau dua chapter lagi