PLEASE LEAVE UR REVIEW AFTER READ OR BEFORE U LEAVE THIS PAGE !
.
SORRY FOR MANY TYPO(S) GAESS
.
.
.
HunHan : Brother Conflict
.
Chapter 6
.
.
.
Jemari luhan mengetuk diatas meja makan, selepas makan malam yang lain kembali sibuk dengan urusan masing masing.
Sehun pergi ke kamarnya, ibu dan ayahnya sibuk di meja makan dengan berkas berkas berserakan disana sini, dan luhan hanya duduk memperhatikan keduanya. Sesekali ia membantu ayahnya mencari berkas, atau merapihkan berkas. Tapi kali ini ia berdiam diri.
Membosankan
"Aku butuh beberapa paper clip untuk mengumpulkan berkas berkas yang sudah rapih, sayang apa kau punya?" tanya sang ayah kepada sang ibu yang membalasnya dengan gelengan kepala.
"Ah! Aku pernah melihatnya di meja belajar sehun, aku akan mencarinya dulu" sahut luhan.
"Ah, terima kasih luhan"
Luhan tersenyum kemudian beranjak untuk pergi ke kamarnya, mencari benda yang dimaksud.
Kamar tampak sepi, ia tidak melihat ada sehun didalam, namun pintu kamar mandi tertutup rapat—ah sehun sedang di kamar mandi. Luhan tidak ingin menganggu, jadi ia berinisiatif untuk mencari paper clip sendiri saja. Tidak akan jauh tersimpan dari meja belajar, luhan yakin itu.
Luhan mencarinya disetiap laci meja belajar sehun tetapi ia tidak menemukannya. Ia berkacak pinggang seraya berpikir dimana gerangan sehun menyimpan benda benda semacam paper clip, binder clip, perforator dan yang lainnya. Hingga mata rusanya tertuju kearah sebuah kotak berukuran kecil berwarna putih yang tertutupi tas punggung milik sehun.
Luhan lalu mengambil perlahan kotak putih itu.
"Eh?"
Dasar memang luhan tidak hati hati, ia tak sengaja menyenggol tas sehun saat ia hendak mengambil kotak putih itu sampai tas yang tidak tertutup rapat itu jatuh kebawah, dan alhasil semua isi tasnya keluar berantakan. Luhan yang panik segera merapihkan kekacauan itu sebelum sehun keluar dari kamar mandi dan mengamuk lalau tahu semua isi tasnya berantakan di lantai.
Sampailah matanya berbinar tertuju pada buku komik yang berada dibawah tumpukan buku yang lain.
"Sehun baca komik?" luhan tak yakin itu komik apa, karena penasaran luhan mengambil komik bernote biru langit itu. Luhan segera merapihkan buku buku yang lain kedalam tas sehun lalu menyimpan tasnya ditempat semula. Mata luhan perlahan menilik buku komik di tangannya, dengan seksama ia membaca sebuah tulisan diatas note biru itu.
'Kau harus belajar menjadi seme untuk luhan'
XOXO— Bae Yuki
Luhan mengernyit saat menemukan namanya disebut dalam tulisan itu, karena rasa penasaran nya benar benar sudah maksimal maka luhan memutuskan untuk membuka dan melihat isi komik itu.
"Apa yang sedang kau lakukan disana?"
Crap!
Luhan sesegera mungkin menutup buku komik itu lalu memutar tubuhnya perlahan sambil menyembunyikan buku komik laknat terkutuk itu di belakang tubuhnya.
"A—aku sedang mencari paper clip, ayah membutuhkannya"
Keringat dingin mulai bercucuran, sehun menatapnya curiga.
"Apa yang kau sembunyikan di belakang tubuhmu?" tanya sehun selidik yang langsung dibalas gelengan kepala berulang kali oleh luhan.
"Aku tidak menyembunyikan apapun"
Sehun semakin curiga, ia perlahan mendekati luhan dan langsung di respon luhan dengan menjauh berjalan mundur kebelakang setiap kali sehun melangkah mendekatinya. Sehun tahu luhan sedang berbohong, ia tidak berbakat untuk berbohong, ekspresi wajahnya jelas jelas seperti berkata; aku sedang berbohong, kau tahu?
Duk!
Brugh!
Sial
—hingga luhan tak sadar ia terpojok lalu jatuh terduduk di ranjang. Sementara sehun berdiri di hadapannya dengan ekspresi menyelidik.
"Kau berbohong yah?"
Luhan lagi lagi menggelengkan kepala seperti anak kecil.
"Tidak"
"Aku tahu kau berbohong"
"Siapa yang bilang?"
Sehun menghela, "kau"
Luhan menggeleng—lagi, "tidak tidak, aku tidak berbohong"
"Aku tahu kau berbohong, ayo tunjukan apa yang kau sembunyikan di belakang tubuhmu"
"Aku tidak menyembunyikan apapun sehun!"
Dahi sehun berkedut kesal. Ia berusaha menarik tangan luhan yang masih bersikukuh menyembunyikan sesuatu, luhan sekuat tenaga berusaha melawan sehun. Sehun semakin kesal dibuatnya, sampai ia berhasil menarik tangan luhan hingga buku komik itu tanpa sadar jatuh ke lantai, kemudian ia mendorong tubuh luhan kemudian terbaring di ranjang dan mengunci pergerakan luhan dengan menahan kedua tangannya di atas kepalanya.
"Aku sudah bilang aku tidak menyembunyikan apapun"
Luhan mengigit bibirnya ketika sehun menatap wajahnya dengan kedua mata tajamnya yang berkilat.
"Bendanya ada dibawah kakiku" ucap sehun dingin
Glup— luhan menelan salivanya, matilah ia.
Mata sehun tak sedikitpun berpaling dari wajah luhan, luhan sadar wajahnya mulai memanas maka dengan segera ia memalingkan wajahnya ke arah lain—kemana saja asalkan itu bukan wajah tampan milik oh sehun.
Tampan?
Iya sehun tampan, luhan akui itu.
Deg
Deg
Deg
Mata luhan melebar, jantungnya berdetak cepat, wajahnya terasa sangat panas saat merasakan hembusan nafas sehun tepat di lehernya.
Oh sehun sialan!
Oh sehun keparat!
Luhan merasakan deru nafas itu semakin dekat, kali ini disekitar cuping telinganya. Sehun mungkin akan menyadari bahwa wajah luhan kini sudah memerah sampai ke cuping telinganya, maka pemuda oh itu tertawa kecil—menggelikan, sampai luhan mengigit bibirnya kuat kuat.
"Kau mau tahu hukuman apa untuk seseorang yang berbohong padaku hm? Xi luhan"
Luhan sontak memalingkan wajahnya kembali menghadap sehun, kini wajahnya bertemu dengan wajah sehun, pemuda itu juga tampak terkejut dengan kedua matanya yang melebar. Keduanya hanya saling memandang untuk beberapa detik.
Sehun menyeringai, itu sangat tipis tapi luhan menyadarinya dari jarak sedekat ini. Jantungnya berdebar semakin kencang, luhan juga sadar ini adalah posisi yang sangat berbahaya.
"Berhenti menatapku SEPERTI ITU!"
DUAK!
"Aaahhh!"
Detik berikutnya keduanya meringis kesakitan sambil memegangi dahi masing masing, sehun terduduk di lantai meringis sambil mengumpat, luhan juga melakukan hal yang sama. Itu sakit, itu sangat sakit. Ia merasa kepalanya hampir hancur ketika ia dengan sengaja memukul wajah sehun menjauh dari wajahnya dengan memukul telak dahi sehun menggunakan dahinya.
Dalam hati luhan merutuk, tidak adakah cara yang lebih baik dari ini, xi luhan?
"Kau—" keduanya kemudian diam, saling melempar tatapan mengancam satu sama lain.
Lalu keduanya kembali saling memalingkan wajah dan kembali meringis lagi. Sehun melirik kesamping kananya, dimana ada sebuah buku familiar yang tergeletak di sampingnya, sedetik kemudian pikirannya mulai tersambung.
Oh tidak—
Sehun refleks segera berdiri, melupakan rasa pening di kepalanya kembali menatap luhan yang masih meringis kesakitan karena ulahnya sendiri.
"Kau— apa yang sudah kau baca?"
Luhan mendongak menatap sehun heran, "apa? Apa yang sudah aku baca? Apa maksudmu?"
Luhan mendesis tak percaya kalau sehun masih saja men-interogasinya, tidakkah ia merasa kesakitan? Apa dahi sehun itu baja?
Sret
Sehun menarik leher luhan, mengapit kedua pipi luhan dengan kedua telapak tangannya, luhan yakin ia tampak sangat jelek kali ini.
"Kau yakin kau tidak membaca apapun?"
Luhan menggelengkan kepalanya. Ia sudah terlalu lelah untuk melawan, maka biarlah sehun melakukan apa yang ingin ia lakukan.
"Kalau kau berbohong lagi aku akan—" perkataan sehun terhenti.
Terhenti begitu saja saat melihat wajah luhan yang nelangsa. Jika sehun tidak ingat bahwa kali ini ia tengah men interogasi luhan, mungkin ia sudah tertawa melihat wajah pria cina itu. Jujur saja, luhan tampak sangat menggemaskan, rasanya ia ingin sekali menciumnya.
Eeekk—menciumnya?
Cklek
"Luhan apa ka—"
Sehun dan luhan langsung menoleh kearah pintu, mata keduanya membulat kala melihat sang ibu yang sedang berdiri tertegun di ambang pintu, tampak terkejut. Sehun lantas segera mendorong wajah luhan menjauh, pria cina itu mendengus sebal.
"Sepertinya aku menganggu" ucap sang ibu pelan, dan dengan perlahan sang ibu meraih knop pintu itu lalu menutupnya kembali dengan sangat-sangat-sangat perlahan.
Menyadari sikap sang ibu sehun dan luhan saling bersitatap lalu keduanya bersamaan berlari kearah pintu mengejar sang ibu.
Keduanya bicara secara bersamaan dengan penjelasan masing masing. Sang ibu merasa kebingungan, ia tatap kedua anaknya lekat lekat.
"Aku pikir kalian—"
"AAAHH! TIDAK SEPERTI ITU!"
"Eh?" sang ibu mengerutkan dahinya ketika kedua anaknya berkata secara bersamaan dengan histeris. Kemudian ia tertawa kecil, melihat tingkah laku kedua anaknya.
Memangnya apa yang ingin dikatakan oleh ibunya?
.
Suatu hari di pagi yang cerah dan damai—
"BAE YUKI!"
si gadis berambut pony tail itu hanya bisa meratapi dirinya yang akan habis pada hari ini juga, ketika oh sehun menarik rambut ponytailnya dan menyeretnya tanpa rasa berperi kemanusiaan keluar dari kelas.
Poor bae yuki—semoga ia bisa kembali ke kelas tanpa kurang suatu apapun.
.
.
.
.
READ THIS PLEASE!
Yap! Sebelum gua ngelanjutin ff ini, gua mau kalian review pendapat kalian tentang ff 'brother conflict' ini trs kenapa kalian milih tetep stay jd HHS?
Gua ngerasa kaget aja, ternyata msh ada banyak hhs yg bertahan dan msh ada yg setia nungguin ff ini update. Padahal awalnya gua pikir pecinta ff hunhan di ffn itu udh mulai rare, awalnya jg gua mau hapus semua ff hunhan yg pernah gua buat dan gua post, tp liat antusias kalian di ff ini gua jd mikir 2x dan akhirnya memilih buat ngelanjutin lg ff hunhan. So gua mau tau aja pendapat kalian tentang ff ini, apakah menarik atau B aja, kan biar aku tahu loh isi hati kalian sebagai hhs (halah)
Yash! Soooo...mohon untuk meninggalkan reviewnya, and i'm never tried to say BIG THANKS FOR HHS WHO ALWAYS SUPPORT OUR BELOVED HUNHAN, dan terima kasihhhhh jg buat kalian yg selalu ngedukung author gblk ini ya :') see you at the next chapter :*
With love
—ZhanShuYa—
